Clear Heart
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Rating : T+
Warning : AU! Typo(s), agak nganu/?
.
Enjoy guise~
.
.
Ino bangun dengan perut yang agak nyeri. Ini sudah satu minggu semenjak jadwal cek kandungannya, juga sudah tiga hari semenjak ia sering muntah di pagi hari. Rasanya sangat menyiksa, tapi sekaligus tidak enak hati karena harus membuat Hinata ikut terbangun dan memijat leher belakangnya berkali-kali.Harusnya sih Kiba yang bertanggung jawab atas penderitaannya ini.
Begitu selesai dengan semua kegiatan paginya termasuk mandi, Ino beranjak keluar kamar dengan pakaian yang lebih rapi. Dilihatnya sepasang manusia yang sedang sibuk berkutat di dapur, bermain-main dengan tepung dan adonan.
"Kalian sedang apa?" Ino hampir tertawa melihat wajah Naruto dipenuhi tepung.
"Hinata sedang mencoba membuat kue cokelat, tapi dia marah saat aku membantunya. Jadi wajahku ditaburi tepung begini."
"Kau tidak membantuku Naruto-kun, tadi saja kau masukkan cangkang telur ke adonan." Hinata mendelik masih sambil menaburi tepung ke wajah Naruto.
"Aku kan sudah bilang tidak sengaja tadi."
Ino yang mulai ngeri dengan keganasan Hinata menyiksa Naruto agaknya menyesal sudah bertanya.
"Ah baiklah-baiklah, kalian bisa lanjutkan kegiatan kalian. Aku akan ke rumah Kiba dulu."
Sementara itu di rumah sebelah, tersajilah penampakan si tetangga yang tengah tiduran di atas sofa. Matanya tidak lepas dari ponsel. Pikirannya menerawang jauh, ke kejadian hari kemarin dimana ia bicara dengan ibu Sakura.
"Aku minta maaf Kiba, aku sungguh menyesalinya sekarang."
"Justru saya yang harusnya meminta maaf pada anda, saya minta maaf atas nama ayah dan ibu saya yang sudah menghancurkan hidup anda." Kiba tertunduk.
Ibu Sakura tersenyum sembari menitikkan air mata. "Aku sudah memaafkan ayahmu, dan aku berharap dia juga memaafkanku. Keserakahanku membuat hidup Sakura jadi hancur juga, aku merasa sudah tidak punya tempat lagi untuk hidup."
"Ibu jangan bilang begitu." Sakura menggenggam tangan ibunya.
"Tidak apa sayang, hidup seperti ini sudah sebanding dengan perbuatan ibu. Kau hiduplah dengan baik mulai sekarang." Satu tangan ibunya mengusap lembut pipi Sakura.
"Dan Kiba, selama ini aku hanya ingin ayahmu mau menganggap Sakura sebagai anaknya juga. Tapi karena sekarang mungkin tidak bisa lagi, ku harap kau tidak membenci Sakura. Semua ini salahku, Sakura tidak tahu apa-apa."
Kiba mengangguk paham, ia memandangi raut wajah ibu Sakura yang nampaknya sangat menderita. Tinggal di tempat terasing seperti ini pasti juga rasanya menyakitkan.
"Oh iya Kiba, bolehkah aku minta tolong sesuatu padamu?"
Kiba dengan sigap menegakkan tubuhnya. "Tentu saja, saya akan membantu apapun yang anda butuhkan selagi saya bisa."
Sembari mengatupkan matanya perlahan, Kiba tersenyum. Ia baru saja selesai berkirim pesan dengan Sakura. Ia meminta gadis itu membelikan dua buket bunga untuknya dan untuk gadis itu sendiri, karena ia mungkin tidak punya waktu. Mereka akan pergi ke suatu tempat besok pagi. Satu langkah lagi menyelesaikan masalah ini, dan hatinya pasti akan lebih lega nantinya.
"Kiba, kau sedang apa?" Lantunan suara indah milik seseorang yang Kiba kenal baik membuatnya membuka mata.
"Hai sayang," Kiba menyapa Ino yang langsung melemparkan senyum.
"Hai, kau baik-baik saja?" Ino sebenarnya penasaran kenapa Kiba senyum-senyum sendiri semenjak ia menginjakkan kaki di ruang tamu.
"Berbaringlah di sini," Kiba menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Ino menurut, ia baringkan tubuhnya dan membiarkan Kiba bergerak sedikit untuk memiringkan tubuhnya. Mata mereka saling bertatapan.
"Kau baik-baik saja?" Ulang Ino masih penasaran.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Bagaimana dengan kemarin?"
"Baik kok, ibu Sakura sangat baik padaku. Dia terus menerus minta maaf, padahal sudah ku bilang padanya kalau ayahku yang bersalah." Kiba mengendikkan bahu.
Ino tersenyum lembut. "Kau sudah tidak mempermasalahkannya lagi? Orang tuamu yang disalahkan tidak membuatmu marah lagi?"
Kiba mengendikkan bahu lagi. "Siapa saja anak yang mendengar orang tuanya dijelek-jelakkan pasti marah. Tapi kali ini kasusnya berbeda, ayahku memang bersalah karena mengkhianati ibu Sakura."
"Kadang aku berpikir mungkin ada baiknya kalau ayahku tidak usah menikahi ibuku dan meneruskan hidupnya dengan ibu Sakura, dia pasti masih hidup sekarang." Kiba menambahkan.
Ino menggeplak kepala Kiba keras. "Sadarlah, kau tidak akan lahir ke dunia kalau hal itu terjadi."
Kiba mengusap kepalanya sambil cengengesan. "Iya juga sih. Nanti kau tidak akan bertemu orang yang setampan aku di hidupmu."
Tawa Kiba makin menjadi kala Ino mencubit perutnya, kesal sekali dengan kalimat si tetangga yang kelewat percaya diri.
"Hei kalian," Naruto menyembul dari pintu, membuat Kiba dan Ino tersentak kaget. Wajahnya sudah bersih dari tepung.
"Masih pagi sudah mau yang iya-iya. Nanti malam saja kenapa sih?" Sesungguhnya Naruto hanya sedang iritasi melihat temannya bermesra-mesraan, sementara dirinya baru saja dapat hukuman brutal dari Hinata.
"Siapa juga yang mau iya-iya, kami sedang bicara serius sebelum kau datang." Sewot Kiba.
Naruto yang masih tidak percaya hanya mencebikkan bibirnya. "Sudahlah, ayo kita semua ke rumahmu Ino. Sebentar lagi kue yang dibuat Hinata akan segera matang."
Kiba mengernyit bingung. "Aku baru tahu kalau Hinata bisa membuat kue." Ia tersenyum lebar, kebetulan ia sedang lapar sekarang.
"Sebenarnya ini percobaan pertamanya sih. Hinata ingin membuat kue sejak melihat Ino punya semua alatnya di dapur."
Baik Kiba dan Ino saling berpandangan. Semoga mereka bukanlah kelinci percobaan. Ataukah mereka harus kabur saja?
.
.
.
A/N : semoga terhibur dengan cerita ini ya. :D
