The End
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Rating : T+
Warning : AU! Typo(s), agak nganu/?
.
Enjoy guise~
.
.
Di depan cermin, terdapatlah seorang lelaki tinggi yang sedang membenahi setelan jas hitamnya. Senyum di wajahnya tak luput sejak seorang perempuan sedang mendongak menghadapnya dengan tangan yang sibuk mengikat dasi.
Hari ini, Kiba akan pergi ke makam orang tuanya setelah sekian lama tidak berani ke sana sendirian. Oh, tapi kali ini pun ia tidak sendirian, ia akan pergi bersama adiknya. Sakura.
Perempuan itu sedang menunggu di ruang tamu.
"Selesai, keluar sana. Sakura sudah menunggumu sejak tadi." Ino menatap puas pada hasil simpul dasi yang ia buat.
Tapi Kiba tidak bergerak dari tempatnya, membuat Ino memiringkan kepala karena bingung.
"Apa?"
"Cium dulu." Ucap Kiba kalem sembari menutup mata.
Ino ingin sekali rasanya menampar pipi Kiba sekarang ini, tapi ia sadar bahwa mungkin Kiba benar-benar membutuhkannya. Saat di makam nanti, Kiba mungkin bergetar dan menumpahkan kesedihannya selama ini.
Oleh karena itu,
Chu~
Satu ciuman berhasil Ino daratkan di bibir si lelaki.
"Terima kasih, ini benar-benar membantu mengurangi kegugupanku." Kiba mengelus kepala Ino singkat.
Kedua orang itu lantas keluar menuju ruang tamu. Di sana Sakura dan Matsuri sudah berjalan menuju ambang pintu, mungkin karena lelah terlalu lama menunggu.
"Mau satu mobil saja?" Tawar Kiba, namun Sakura menggeleng.
"Aku dan Matsuri saja, kami ada kuliah setelah ini."
"Baiklah."
Kiba menggandeng tangan Ino erat, meminta kekuatan lebih banyak. Mereka akan menyelesaikan segalanya hari ini, dan nanti di kemudian hari, segala beban yang memberatkan pundak akan segera berakhir. Masa depan yang belum jelas akan seperti apa sudah menanti dari jauh-jauh hari.
.
.
.
Di depan dua batu nisan yang bersisian, Kiba dan Sakura berdiri. Sengatan sinar matahari tidak mengganggu mereka sama sekali yang sudah jelas berpakaian serba hitam. Baik Sakura dan Kiba meletakkan buket bunga di masing-masing nisan. Mereka berdiri lagi dan menggandeng tangan satu sama lain, menggenggamnya erat.
"Ayah, ibu, ini aku Kiba. Maaf sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menengok kalian ke sini."
Sakura diam saja mendengarkan Kiba bermonolog, tapi ia bisa dengan jelas merasakan tangan kakaknya ini bergetar.
"Terakhir kali ke sini, aku hanya membawa Ino. Aku selalu membawanya karena aku tahu kalian juga sangat menyayanginya seperti anak sendiri. Tapi hari ini, aku membawa orang lain." Kiba tersenyum singkat sambil menatap Sakura.
"Ayah, aku tidak akan menyalahkanmu karena menyembunyikan Sakura dari aku dan ibu selama ini. Aku tahu perasaanmu dan beban berat yang kau tanggung selama masih hidup." Mata Kiba memerah.
"Tapi sekarang, karena aku sudah tahu bahwa aku ternyata punya adik yang sudah tumbuh jadi gadis cantik seperti dia, aku tidak akan menyembunyikannya lagi."
"Walaupun kami berbeda ibu, aku tidak akan pernah menyingkirkannya. Aku akan melindunginya, karena dia selamanya adikku." Kiba menambahkan.
Sekarang Kiba tersenyum lagi pada Sakura. "Sakura, ucapkan salam pada ayah."
Sakura mengangguk. "Selamat pagi ayah, maaf baru bisa menemuimu sekarang. Aku Sakura, sekarang ini aku sudah dua puluh dua tahun."
Sakura menangis. "Waktu berjalan sangat cepat ya, dan kalian pasti sudah bahagia sekarang. Tapi ayah dan bibi tenang saja, aku akan sering berkunjung agar kalian tidak kesepian."
Diusapkan airmatanya sendiri dengan jemarinya. "Aku juga akan hidup rukun dengan kak Kiba mulai sekarang, aku harap kalian tidak keberatan."
Kiba mengusak kepala Sakura. "Tentu saja mereka tidak akan keberatan, ayah pasti bahagia akhirnya bisa melihatmu sejelas ini."
Selepas memberi penghormatan sebelum pergi ke tempat tujuan masing-masing, Kiba menarik Sakura ke dalam pelukannya. Mereka tidak lagi menangis, hanya ingin menyalurkan rasa sakit di hati mereka yang kurang lebih sama.
"Aku harap sudah tidak ada masalah lagi mulai sekarang, dan kita semua bisa hidup berdampingan dengan tenang."
Sakura mengangguk. "Kalau begitu, aku akan ke kampus dulu. Terima kasih sudah mengantarkanku menemui ayah, kak Kiba."
"Apapun untukmu, adikku." Kiba balas tersenyum.
"Kalau begitu sampai jumpa nanti." Sakura melambaikan tangannya, berpisah mobil dengan Kiba.
Ingatkan Kiba untuk menghentikan Sakura bekerja sambilan nanti, karena mulai sekarang ia yang akan membiayai kuliah dan kontrakan Sakura. Mungkin ia nanti juga akan merekrut adiknya itu untuk bekerja di hotel saja, biar lebih mudah dipantau.
Begitu mobil yang ditumpangi Sakura dan Matsuri pergi, Kiba baru membuka pintu mobilnya. Ia langsung saja tersenyum begitu melihat Ino sudah merentangkan tangan. Kiba jelas menerima pelukan Ino, karena ia sangat membutuhkannya. Bahkan ia lebih membutuhkan pelukan hangat dari tetangga kesayangannya ini daripada Sakura tadi.
Jangan katakan ini pada Sakura.
"Bagaimana? Apa berhasil?"
Kiba mengangguk. "Aku sudah mengatakan semuanya, mereka pasti bangga padaku."
Ino yang mendengar hanya bisa menepuk-nepuk punggung Kiba. "Tentu saja, orang yang paling tersakiti biasanya akan bangkit menjadi yang paling tegar diantara semuanya."
Gemas karena Ino akhir-akhir ini selalu menyisipkan kata-kata bijak, Kiba langsung saja mengangkat dagu Ino dan menariknya ke dalam sebuah ciuman hangat.
Iya awalnya, tapi semua berubah begitu lidah nakal si lelaki menelusup masuk ke dalam mulut si perempuan.
Ino mendorong tubuh Kiba. "Kau sudah gila? Mau apa kita di sini?!"
"Menurutmu?" Kiba mendekatkan wajahnya lagi, seringainya mengesalkan sekali.
"Iya aku tahu apa maumu, tapi jangan di sini. Kau sudah gila ya, orang tuamu bisa saja melihat kita."
Kiba terkekeh. "Baiklah, lalu kau mau dimana? Di kamar? Ah bosan, coba di tempat lain mau?"
"Dasar gila!" Ino memukul brutal kepala Kiba.
Sesampainya di rumah nanti ia mungkin akan merontokkan semua helai rambut di kepala kekasihnya yang sudah tertular virus mesum milik Naruto ini.
.
.
.
THE END
.
.
.
A/N : Selamat Natal dan Tahun Baru untuk semua teman-teman. Semoga di tahun baru nanti, impian, karir, dan cita-cita kita semua dapat terwujud. Yang lagi jatuh cinta, semoga didekatkan. Yang lagi berusaha move on, semoga segera membuka lembar baru. Yang lagi berjuang, semoga segera meraih hasil yang diharapkan. Semoga segala urusan kita dipermudah dan dilancarkan seiring dengan tahun yang berjalan maju. :D
Terima kasih banyak untuk yang sudah membaca fanfik ini. Terima kasih juga sudah ikut meramaikan lapakku. Kalian lah yang membuatku semangat menulis, sampai bisa menamatkannya juga. Tadinya sempat pesimis di tengah jalan, tapi beruntungnya moodku balik lagi. Hehe. Semoga semua tulisanku cukup menghibur kalian semua. :D
Sekali lagi, selamat membuka lembar baru di tahun 2020. Sampai jumpa lagi. See you when I see you. :D
