As Much As It Hurts.

"Memangnya kenapa kalau aku lebih tua darimu? Kau tidak suka dengan lelaki yang lebih tua?" tanya Jin pada anak lelaki yang lebih muda darinya itu. Wajahnya sudah memerah menahan tangis saat Namjoon, lelaki kecil itu, mengatakan dia tidak bisa menikahi Jin jika mereka sudah besar nanti. Pertama karena Jin lebih tua darinya, dan ke dua karena…

"Aku tidak suka laki-laki," jawab Namjoon kemudian. Membuat Jin terdiam.

xXx

Jin menatap lelaki tinggi yang sedang tertawa terbahak bersama Hoseok tak jauh darinya itu. Entah mereka sedang mentertawakan apa. Jin menyesap sampanyenya hingga tak tersisa, lalu meletakkan gelas kosong itu di atas meja begitu saja. Di sampingnya, Jungkook menatapnya dalam diam.

"Kemari," gumam Jin pelan, meminta Jungkook lebih mendekat. Direngkuhnya tubuh lelaki yang jauh lebih muda itu ke dalam pelukannya. "Hyung akan menikah, Jungkook-ah. Dengan wanita yang bahkan tidak ku kenal dengan baik. Dengan wanita yang jelas tidak kucintai. Aku benar-benar mengubur dalam-dalam diriku sendiri. Hidup-hidup," gumamnya.

"Bukankah ini jauh lebih baik dari pada mencintai Namjoon hyung yang jelas-jelas bodoh itu?" balas Jungkook. Dia mengelus pelan punggung SeokJin . Lelaki dalam pelukannya ini adalah yang paling dia sayang dari mereka semua.

Jin tertawa. "Jungkook-ah, keduanya sama tidak baiknya," jawabnya.

Malam ini adalah hari pertama pesta lajang SeokJin . Mereka bertujuh pergi ke pulau pribadi milik keluarga Jin untuk menghabiskan waktu selama satu minggu di sana sebelum pesta pernikahannya. Hanya mereka bertujuh, tanpa siapa pun.

"Jungkook-ah, jika nanti kau mencintai seseorang, jangan mencintainya terlalu dalam. Lupakan jika memang dia tidak mencintaimu," gumam SeokJin . Dia menyandarkan kepalanya di bahu lelaki yang lebih muda, masih sambil memeluknya.

"Hyung," gumam Jungkook. Ditepuknya pelan punggung SeokJin , menguatkan. "Apa semua orang yang akan menikah menjadi menyedihkan seperti ini?" tanyanya bingung.

Jin tertawa lagi. "Tidak. Aku tidak ingin kau menikah dengan menyedihkan seperti ini. Biar aku saja," jawabnya.

Jungkook tersenyum. Dilepaskannya pelukan SeokJin , ditatapnya lelaki yang kini juga tersenyum padanya. "Katakan padaku apa yang membuatmu sampai sepatah hati ini karena Namjoon hyung?" tanyanya.

Jin diam. Dilihatnya Namjoon dan Hoseok yang mendekat ke arah mereka. "Suatu waktu dia mematahkan hatiku dengan mengatakan tidak menyukai laki-laki. Tapi kemudian dia mengencani Jimin selama bertahun-tahun," jawab SeokJin .

Jungkook terkejut. "Jadi kau sudah mengungkapkan perasaanmu padanya? Ku pikir selama ini kita sengaja menyembunyikan ini dari Namjoon hyung."

Jin hanya tersenyum. "Kita menyembunyikan ini dari Jimin, Jungkook-ah. Aku tidak ingin Jimin tahu tentang perasaanku pada kekasihnya," jawabnya.

Jungkook terdiam. Dia menoleh saat Namjoon menepuk punggungnya. "Namjoon hyung," gumamnya. Entah kenapa ada rasa kesal berkecamuk di dalam dadanya setelah mendengar pengakuan Jin tadi. Bertahun-tahun mereka bersahabat, dia pikir dia sudah paling tahu tentang kisah Namjoon dan SeokJin . Dia pikir Jin memilih untuk diam selama ini karena tidak ingin merusak persahabatan mereka. Dia pikir Yoongi, Hoseok dan Taehyung juga berpikiran hal yang sama. Dia pikir Jimin tahu tentang ini.

"Pergilah bersama Hoseok menyiapkan beberapa bahan untuk barbeque malam ini," katanya pada Jungkook.

Jungkook diam, ditatapnya Hoseok seperti ingin bertanya. Hoseok tersenyum sambil mengangguk dan Jungkook beranjak dari duduknya. Membiarkan Namjoon menggantikan posisinya dan berjalan beriringan bersama Hoseok.

"Hoseok hyung, ku pikir selama ini kita semua tahu tentang Namjoon dan Jin hyung," kata Jungkook begitu mereka sudah cukup jauh.

"Jimin tidak tahu. Jika dia tahu dia tidak akan berkencan dengan Namjoon selama ini." jawab Hoseok.

Jungkook mengangguk membenarkan. "Kau tahu kalau Namjoon hyung pernah mengatakan pada Jin hyung bahwa dia tidak menyukai laki-laki? Dan dia malah berkencan dengan Jimin selama bertahun-tahun?"

Hoseok menghentikan langkahnya. "Jin memberitahumu?" tanyanya.

Jungkook mengangguk. "Apa itu benar?" tanyanya.

Hoseok menghela nafas. "Jin bilang dia tidak ingin kau tahu tentang ini karena takut kau akan marah pada Namjoon. Kau saja marah besar waktu tau ternyata Jin mencintai Namjoon tapi Namjoon malah berkencan dengan Jimin," jawab Hoseok.

Jungkook diam. Amarah merasuki hatinya perlahan. Tapi Jungkook sadar benar tidak ada yang bisa dia lakukan perihal ini. Pernikahan Jin sudah di depan mata. Lelaki itu sudah cukup terbebani dengan semuanya dan Jungkook tidak ingin membuat itu menjadi lebih parah lagi. Jungkook menyayangi lelaki itu lebih dari apa pun. Kebahagiannya adalah nomor satu.

"Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan itu sekarang. Jin hyung akan menikah, semoga saja ini yang terbaik untuknya dan Namjoon," gumam Hoseok sambil menepuk bahu Jungkook pelan.

"Hm…" sahut Jungkook dan mengangguk.


Jin menuangkan lagi sampanye ke dalam gelasnya, lalu di sesapnya pelan. Dia menatap Namjoon yang sejak tadi tak mengalihkan pandangan darinya.

"Kenapa?" tanya Jin sambil tertawa kecil.

"Kau yakin akan menikah?" tanya Namjoon.

"Tidak. Kau pasti tahu benar," jawab SeokJin . "Juga tentang aku yang tidak punya alasan untuk menolak."

Namjoon diam. Sedari awal mendengar berita tentang ini, ada ketidak nyamanan di dalam hatinya. Membayangkan lelaki ini menikah dengan orang lain, ada ketidak relaan yang terselip dihatinya. Dia tahu Jin masih menyimpan perasan padanya, dari dulu hinggan sekarang. Dia tahu benar tentang itu.

"Kau mau menjadi bestmanku?" tanya Jin.

Namjoon masih diam. Dia menatap lelaki yang sedari kecil tidak pernah pergi dari sisinya ini. Meski berkali-kali hatinya Namjoon patahkan. Meski hatinya Namjoon hancurkan hingga berkeping saat Namjoon membawa Jimin ke dalam hidupnya. Dia hanya menghilang selama seminggu penuh lalu kembali seperti tidak ada apa-apa. Kembali menyayangi Namjoon seperti adik kecilnya, sikap yang selalu dia tunjukkan setiap kali Namjoon memiliki kekasih. Namjoon tahu Jin tidak baik-baik saja sejak saat itu.

Jimin adalah lelaki pertama Namjoon. Namjoon selalu yakin dia tidak akan pernah jatuh cinta pada lelaki, itu kenapa dia tidak pernah menanggapi perasaan Jin padanya. Lalu kemudian alam semesta memberinya pelajaran dengan cara yang tidak pernah dia duga. Dia bertemu Jimin, mengagumi kebaikan hati lelaki itu, dan jatuh cinta padanya. Mereka berkencan diam-diam selama beberapa bulan sebelum akhirnya mengaku karena Jungkook mendapati Jimin di apartemen Namjoon pagi-pagi sekali.

Masih Namjoon ingat air mata yang membasahi pipi Jin malam dimana dia mengakui itu. Lelaki itu hanya diam sambil memukul dada Namjoon pelan. Dan Namjoon tidak perlu Jin untuk mengatakan dengan lantang betapa hatinya hancur saat Namjoon memilih untuk mencintai lelaki lain sedangkan ada dia yang berusaha keras mencintainya sejak lama.

"Atau Yoongi saja, ya?" gumam Jin. Dia kembali meneguk sampanyenya hingga habis. "Dia bisa membuat pidatonya dari sekarang. Kita masih punya banyak waktu."

"Kenapa kau tidak berusaha untuk menolak lebih keras?" tanya Namjoon.

Jin terdiam. Ditatapnya Namjoon heran. "Untuk apa?" dia balas bertanya.

"Bukankah kau tidak mencintainya?" Namjoon bertanya lagi.

Jin tersenyum. "Tapi, mungkin nannti aku bisa mencintainya," jawabnya.

Namjoon menghela nafas. Merasa tertampar dengan jawaban Jin. "Hey, aku hanya tidak ingin kau terjebak dalam hubungan yang membuatmu tidak bahagia, Jin."

Jin mengangguk. "Aku tahu, aku tahu kalian semua berpikir aku mungkin tidak akan bahagia dengan pernikahan ini. Tapi kemungkinan aku untuk bahagia sama besarnya, Namjoon."

"Kau mengenal perempuan ini?" tanyanya lagi.

Jin mengangguk. "Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali sebelum ini," jawabnya,

Namjoon kembali diam. Membiarkan semilir angin menyelimuti mereka sejenak sebelum Jin kembali bersuara.

"Ini… lebih baik dari pada harus melihatmu menikah dengan Jimin lebih dulu, kau tahu." Seokjin mengalihkan pandangannya pada lautan luas tak jauh dari tempat mereka sekarang. "Setidaknya, jika nanti kalian menikah, aku tidak sendirian."

Namjoon diam. Sakit hatinya mendengar nada suara Jin saat mengatakan itu.

"Benarkan?" tanya Jin.

Namjoon hanya diam.


Langkah Jimin terhenti di depan jendela kamarnya, saat melihat Namjoon menghampiri Jin dan duduk di sampingnya. Dia melihat lelaki itu menyodorkan gelas pada Jin, meminta lelaki itu mengisi miliknya. Tercekat dia saat melihat Namjoon, kekasihnya, menatap Jin berlama-lama tanpa ada obrolan di antara mereka.

"Aku tahu Jin hyung mencintai Namjoon," kata Jimin saat merasakan ada tangan yang melingkar dipinggangnya. Merapatkan tubuhnya pada si pemilik.

"Mereka pikir kau tidak tahu tentang ini. Mereka mati-matian menjaga perasaanmu," kata lelaki itu. Diciuminya pundak Jimin yang berbalut kaos tipis.

"Aku melihat Jin hyung menangis saat Namjoon mengakui hubungan kami pada kalian. Itu alasan kenapa Namjoon memilih untuk mengatakan tentang hubungan kami pada Jin hyung berdua saja. Sudah bertahun-tahun lalu dan aku masih ingat benar bagaimana raut wajah penyesalan Namjoon," sahut Jimin.

Lelaki itu diam. Dia ikut menatap dua punggung yang duduk bersisian di tepian pantai itu. Dua punggung yang terlihat sama rapuhnya dengan miliknya sendiri.

"Aku tidak ingin melepas Namjoon. Tidak sampai dia mengakui dengan mulutnya sendiri bahwa dia tidak mencintaiku selama ini," gumam Jimin.

Lelaki itu mendengus, kesal. Dilepasnya Jimin dari rengkuhannya. "Andai saja mereka tahu kau tidak sebaik hati yang mereka pikir, Jimin."

Jimin menatap lelaki itu dengan tajam. "Yoongi, tidakkah kau akan melakukan hal yang sama denganku jika ini terjadi padamu? Mempertahankan orang yang kau cintai walaupun dia tidak mencintaimu ku rasa tidak ada salahnya. Lagi pula Namjoon tidak pernah benar-benar mengatakan apa pun tentang perasaannya pada Jin," sahutnya.

Yoongi menatap Jimin. Dibalasnya tatapan tajam lelaki itu dengan lembut. "Kau pikir apa yang sedang aku lakukan setahun belakangan ini, Jimin?"

Jimin tercekat. Tertunduk dia saat menyadari apa yang baru saja dia lakukan. Ini bukan yang pertama, bahkan sudah tidak terhitung berapa kali Jimin melakukannya. "Maafkan aku," gumamnya.

Yoongi tersenyum. "Hm…" sahutnya sambil menepuk puncak kepala Jimin lembut. Ditatapnya lelaki itu sebelum kemudian direngkuhnya lagi. Dipeluknya kekasih sahabatnya itu erat-erat,

"Aku tidak mau melepas Namjoon. Pun melepasmu," bisik Jimin.

Yoongi diam. Satu-satunya kebrengsekan Jimin hanya sifat egoisnya. Yoongi sadar lelaki ini menyakitinya, menyakiti Namjoon, terlebih dirinya sendiri. Tidak sekali dua kali terlintas dipikirannya untuk menyadarkan Jimin tentang tindakannya ini, tapi berkali-kali juga surut niatnya. Sebab dia tidak ingin Jimin pergi darinya jika ternyata ini berakhir tidak seperti yang dia inginkan.

"Kau si egois yang brengsek, Jimin…" bisiknya pelan.

Begitu juga aku…

TBC