Kelas 6, part 6, seksi 3

Nothing to lose.

Itulah yang Pansy pikirkan setidaknya, saat dia masuk ke aula besar lalu duduk bersama geng Ravenclaw.

Beberapa orang menatapnya heran, beberapa langsung berbisik-bisik seru, beberapa membelalak .

Tapi jelas tak ada yang sekaget geng Slytherinnya. Daphne melongo syok, sementara Tracey tergagap tak percaya.

Yeah, inilah dia sekarang. Terperosok ke lubang terjauh. Berteman dengan cewek-cewek paling sok sesekolah.

"Pans!" Mandy yang paling bersemangat. "Senang kau sungguh mau gabung dengan kami."

Lisa Turpin hanya diam, memakan roti panggangnya dengan angkuh seperti biasa, seperti saat dia masih berkencan dengan Draco.

Draco, yang ternyata tak pernah suka pada cewek itu sama sekali.

Pansy membayangkan menjadi Lisa Turpin. Membayangkan pernah mencicipi Draco dan akhirnya harus kehilangan dia demi cewek yang bahkan tak secantik dirinya.

Tapi Pansy mengenal Draco.

Draco adalah pria yang memiliki segalanya. Dan segala yang Lisa Turpin punya jelas sama sekali tak mengesankan untuknya.

Tapi Harry...

Pansy melihat Harry masuk ke aula besar, menatap sekeliling, mungkin memastikan apakah Pansy ada atau tidak sebelum memutuskan untuk duduk dengan Draco atau tidak. Pansy nyaris memutar bola matanya. Kemunafikan Harry seriusan membuatnya ingin muntah.

Matanya dan Harry bertatapan sekilas.

Mata hijau Harry membelalak kaget melihat Pansy duduk di meja Ravenclaw. Miles, yang berjalan bersamanya, merangkul pundak cewek itu untuk membimbingnya ke meja Slytherin, jelas berpikir bahwa Harry berhenti berjalan karena akan duduk dengan Gryffindor.

Kenapa bukan dengan Miles? Pikir Pansy saat Harry dan Miles berjalan menuju anggota Tim Quidditch duduk, mata Harry masih menatap Pansy. Kenapa Harry tidak naksir Miles saja? Harry memuja Miles sampai pada tahap fangirl sepertinya, tak bisa mendengar satu orangpun bicara buruk soal Miles. Jadi kenapa Harry harus menyukai Draco, yang selalu berantem dengannya? Kenapa Harry tidak jadian dengan Miles saja?!

Harry tak mungkin melakukan itu pada Daphne, jelas. Lagipula, Harry yang menjodohkan Miles dan Daphne sejak awal. Kalau dia menginginkan Miles untuk dirinya sendiri, tak mungkin dia begitu ngotot Miles harus bersama Daphne. Miles dan Daphne tadinya seratus persen orang asing! Tanpa Harry, mereka tak mungkin bersama.

Jelas Daphne merasa sangat sayang pada Harry karena ini. Dia jatuh cinta setengah mati pada Miles, luar dalam. Pansy tak bisa menyalahkannya karena lebih memilih Harry kan? Kalau bukan karena Harry, dia tak akan mengenal Miles yang sangat sangat sangat perhatian dan baik hati, dan memperlakukan Daphne seolah dia cewek paling berharga sedunia. Sejujurnya, Pansy selalu iri pada Daphne karena ini. Dia dulu sering melihat bagaimana Miles terkantuk-kantuk, tapi tetap bertahan duduk di sebelah Daphne untuk menemani cewek itu belajar ujian OWL. Bagaimana semalas apapun, dia selalu menyempatkan untuk pergi ke Hogsmead, karena Daphne tak pernah mau skip sekalipun. Bagaimana Miles selalu mendengarkan dengan sabar segala cerita meaningless Daphne yang panjang lebar...

Daphne benar-benar beruntung mendapatkan cowok seperti Miles. Daphne sendiri tahu itu. Wajar jika dia setengah mati berusaha mendapatkan Miles kembali ke pelukannya, walaupun tampaknya Miles masih menikmati masa singlenya yang bebas-konflik.

Jadi intinya, Daphne akan selalu memihak Harry. Sejak awal. Apalagi dengan adanya Miles. Daphne tak akan melepaskan Harry hanya demi seorang Pansy.

Sedangkan Tracey, sejak awal bertemu, selalu klik dengan Harry. Semua rahasia personalnya selalu dia ceritakan pada Harry. Jadi dia paling dekat dengan Harry kan, mana mungkin melepaskan Harry hanya untuk seorang Pansy.

Pansy menarik napas, menguatkan dirinya.

Tak ada yang kehilangan dia.

Dia melihat teman-teman Slytherinnya mengobrol sendiri, seru sendiri, tanpa merasa kehilangan dia sama sekali.

Dia melihat Draco sedang bercerita penuh semangat seperti biasa, dan semua sibuk menanggapinya. Daphne dan Tracey sesekali menatap Pansy, tapi kemudian terlarut pada keseruan cerita Draco. Satu-satunya yang terlihat merasa terpukul hanya Harry.

Harry hanya diam, memakan sarapannya dengan ekspresi seolah dia siap muntah kapan saja. Menunduk, mengernyit.

Pansy mendengus. Dulu, dia mungkin akan tertipu akting ini. Tapi tidak sekarang.

Dengan pikiran penuh amarah itu, dia mulai ikut mengobrol dengan geng barunya.


"Bagaimana bisa dia terperosok sejauh ini?" Tandas Daphne pelan saat dia dan Harry sudah duduk di kelas Slughorn, menunggu guru itu datang. "Dia benci geng Cho Chang setengah mati!"

"Guess she hates me more than them, right," kata Harry datar, bersandar di kursinya, menatap langit-langit lelah.

Daphne menatapnya yang benar saja. "Kau tahu Cho Chang hanya memanfaatkan dia untuk membalas dendam padamu!" Desisnya.

Harry mengernyit, menatap Daphne. "Dia pasti juga tahu itu kan? Dia tahu persis Cho Chang benci pada kita semua," katanya. "Pansy manusia bebas. Kalau dia mau berteman dengan model cewek-cewek itu..."

Daphne mendengus. Dia bertopang dagu menatap Harry. "Segalanya seriusan jadi tambah kacau ya," desahnya.

Harry menatap langit-langit lagi. "Yeah. Semua sesuai perkiraan juga kan?" Katanya getir.

Daphne menatapnya kasihan. "Oh sudahlah Harry. Kau tahu kau tak sepenuhnya salah. Kau berhak naksir Draco! Dan bukan salahmu Draco juga naksir kau!"

Harry menatap Daphne lagi. "Menurut Draco, Pansy marah padaku bukan karena aku dan Draco saling suka. Tapi karena aku selama ini diam..."

Daphne meringis, tidak menjawab. Jelas dia setuju dengan pernyataan Draco. Harry mendesah panjang, menenggelamkan wajahnya ke tangannya.

"Aku benci diriku!"

"Harry..." Daphne menepuk kepalanya simpati. "Aku yakin Pansy tak akan bertahan lama bersama mereka. Dia tak akan tahan dengan kecualasan luar biasa cewek-cewek itu."

Harry hanya bisa berharap.


Harry Dan draco menghabiskan sore mereka di perpus, duduk menulis proyek Ramuan mereka dengan rajin.

Lebih tepatnya, Harry menulis, sedangkan Draco menidurkan kepalanya di lengannya, menatap Harry dengan sayang.

"I love you," katanya tiba-tiba.

Harry mendesah, tapi tidak menjawab dan tidak berhenti menulis. Tangan Draco yang bebas menusuk-nusuk puting Harry, yang bahkan tak berusaha menyingkirkannya. Dia membiarkan Draco mencubit, meraba putingnya sembari dia menulis terus.

Draco meremas-remas payudara Harry, sedang berpikir apa dia berani menghisapnya di tengah perpus begini, saat terdengar langkah. Harry berusaha melepaskan tangan Draco dari dadanya, tapi Draco hanya terkekeh, tetap melanjutkan usahanya meremas-remas dada Harry juga. Untungnya, hanya Daphne yang datang.

"Kalian di sini rupanya. Har, bantu aku," kata Daphne, tapi kata-kata nya berhenti saat melihat tangan Draco yang sedang mencengkeram payudara Harry. Draco bahkan tidak mendongak dari tidur malas-malasan di lengannya untuk melihat Daphne.

"Sorry about him," desah Harry, meringis pada Daphne. Daphne terbahak.

"Kau menjijikan, Malfoy, benar-benar cowok tak punya malu," katanya, duduk di kursi di depan mereka.

Draco mendengus. "Kata cewek yang memberi pacarnya blow job di rak Transfigurasi yang bahkan bisa di akses anak kelas 1."

Daphne cekikikan. "Seorang cewek harus membuat pacarnya terus tertarik padanya kan?"

Draco nyengir malas pada Harry. "Tiru dia dong Har."

Harry memutar bola matanya. Tangan Draco masuk ke balik kausnya, ke balik bra nya, dan mulai memainkan putingnya lagi. Daphne menggeleng.

"Sekalian saja dihisap, Malfoy."

Draco mendongak, nyengir pada Daphne. "Kau mau melihat?"

Daphne tertawa. "Mungkin kau bisa memberi inspirasi."

"Kalian berdua menjijikan," desah Harry. Daphne menggeleng geli.

"Kau bilang begitu, tapi kutebak sudah basah kuyup," godanya.

Draco terkekeh. "Oh, dia sudah basah kuyup sejak tadi." Lalu seolah untuk memberi efek, dia memegang pipi Harry, lalu menciumnya mesra. Harry melingkarkan tangannya ke leher Draco otomatis, membalas mencium dengan tak kalah semangat.

Daphne mendesah. "Andai saja aku dan Miles sudah balikan..."gumamnya, "Tapi yang bisa kulakukan hanya menyentuh diriku sendiri."

Draco dan Harry berciuman makin panas. Harry mulai mengeluarkan desahan penuh hasrat...

"Stop woi," tawa Daphne, menggeleng. "Cari kamar sana."

Harry melepaskan dirinya, tampak sangat merasa bersalah. "Draco..."

"What? Kau membalas ciumanku!" Tawa Draco, menunjuk Daphne. "Saksi?"

"Yup aku melihat semuanya," Daphne cekikikan. "Oh sudahlah Har, Pansy kan tidak melihat. Nikmati saja..."

"Dan dia sudah punya teman baru, kan, jadi kurasa tak masalah," kata Draco simpel, memeluk pundaknya, menenggelamkan wajahnya ke leher Harry.

Harry mendesah. "Kau tahu itu aneh kan Draco?"

"Aneh?"

"Cho Chang dkk membenci kita luar dalam, kenapa dia mengajak Pansy join ke gengnya?"

Daphne mendesah. "Kau tahu, makin memikirkan ini, aku makin curiga. Aku takut mereka menyakiti Pansy..."

"Memangnya apa yang bisa cewek-cewek itu lakukan?" Dengus Draco.

Harry dan Daphne menatapnya kasihan. "Kau tak akan tahu apa yang bisa cewek lakukan untuk balas dendam, Draco," kata Daphne, menggeleng.

Draco memutar bola matanya. "Aku dan kamarku tahu persis soal itu," sahutnya, membuat kedua cewek itu tertawa. "Lagian, apa yang mereka dendamkan pada kalian?"

Harry menatapnya tak percaya, tapi sekali lagi Daphne yang menjawab. "Let's see. Cedric Diggory yang di incar Cho Chang? Oh, ternyata suka pada Harry. Applebee yang diincar Edgecombe? Oh, ternyata suka pada Harry. Corner yang diincar Brocklehurst? Oh, ternyata suka pada Harry. Malfoy yang diincar oleh Turpin? Oh, ternyata suka pada Harry." Katanya, menghitung dengan jarinya.

Draco cemberut, menatap murka Harry, seolah itu semua salahnya.

"Bagaimana bisa semua orang itu suka padamu? Kau pasti memberi mereka harapan!" Tandasnya.

Harry memutar bola matanya. "Whatever," tukasnya, malas berdebat, kembali menunduk untuk mengerjakan pr nya. Draco masih terus mengomel, membuat Daphne sangat terhibur.


"Hai love," Draco mengecup pipi Harry, duduk di sebelah cewek itu di meja panjang Slytherin di aula besar.

Harry menatapnya tak percaya. Draco hanya nyengir, mengambil piring, mengisinya dengan roti dan telur.

Harry menarik napas, berusaha sabar. "Draco, can you just... Please... Keep it down?"

"Kenapa?" Tanya Draco santai, menguyah rotinya. "Aku ingin orang-orang tahu kau sekarang pacarku."

Anggota Tim yang lain bersorak. Harry merasakan wajahnya merona.

" Ingatkan aku, sejak kapan aku jadi pacarmu?!"

"Sejak kita tidur bareng tiap hari."

Anggota tim yang lain tertawa dan bersorak makin heboh. Harry tergagap tak percaya Draco mengatakan ini pada semua orang, wajahnya seolah mengeluarkan asap.

"Rileks, Harry," tawa Adrian. "Nobody judge you."

Harry memberi cowok itu tatapan yang benar saja.

Malcolm tertawa. "Kami setidaknya tidak menghakimimu," katanya santai. "Everyone else is nobody."

"So basically everyone beside this damn Tim is freely judging me right" tandas Harry, mendesah panjang. Mereka terkekeh.

"So what? Kau tak bisa menyenangkan semua orang," kata Draco, menepuk kepalanya.

Harry mendesah, kembali memakan sarapannya. Saat itu dia melihat Pansy masuk dengan rombongan geng barunya, menuju meja Ravenclaw. Harry hanya bisa menatapnya penuh penyesalan.

Kenapa bisa jadi sekacau ini?

Draco memeluk pundaknya, lalu seperti biasa mulai makan dari piringnya. Mereka membahas soal final Quidditch lawan Hufflepuff yang sudah pasti mereka menangkan. Semua protes karena Draco membuat mereka tetap latihan seperti biasa.

"Kita potong satu hari saja, please," kata Miles memohon. "Aku butuh waktu tambahan untuk NEWT ini. Kau tahu itu!"

Draco memutar bola matanya tak peduli. "Kalau kau tidak malas-malasan sepanjang tahun kemarin..."

"Oke oke, aku menyesal oke?" Tandas Miles, memutar bola matanya. "Tidak semua dari Kita mendapat orgasme dari sulitnya Aritmancy!" Semua tertawa terbahak. Draco memberinya jari tengah dengan kalem.

"Kau benar-benar nerd, kau tahu Draco," kata Malcolm, menggeleng. "Siapa orang aneh yang punya kencan mingguan dengan PR Aritmancy?!"

"Pasti otaknya terganggu karena bertahun-tahun di tarik ulur oleh Harry," tawa Miles. Harry hanya memutar bola matanya tapi tidak berkomentar. Draco menatap Miles tak terkesan. "What? Benar kan? Kau sangat desperate karena Harry tak mau kencan denganmu, jadi kau beralih ke benda mati..." Semua tertawa lagi.

"Menarik ulur itu seperti apa?" Tanya Evan ditengah-tengah mengunyah brokolinya. Setelan setengah tahun mendapat pantauan dari Harry, akhirnya cowok itu mulai berubah menjadi seperti Harry sendiri. Walaupun selalu mengomel, tapi mereka semua tahu Evan mulai merasa jatuh cinta pada sayur mayur.

"Tolak tolak tolak... Ups, kok dia menjauh... Dekati sedikit lagi... Lalu tolak tolak tolak," miles menjelaskan sambil tertawa terbahak-bahak, di ikuti anggota yang lain kecuali Harry, Draco, dan Evan.

Harry menatap mereka tersinggung. "Aku tidak begitu! Aku tidak..."

"Kau begitu," sahut Draco, memutar bola matanya. Harry tergagap menatapnya.

Evan tampak tersinggung atas nama Draco. "Tapi itu jahat sekali!" Katanya, memelototi Harry.

"Oooohh, dia baru sadar kalau Draco selama ini dipermainkan," kekeh Malcolm geli.

"Aku tidak mempermainkan Draco!" Harry syok.

"Kalau begitu kenapa kau tidak menerima Draco sejak awal? Kita semua tahu kau suka juga pada Draco!" Kata Evan mengernyit dalam.

Harry tampak lebih syok pada nada tajam Evan yang selama ini tak pernah bicara kasar padanya sama sekali. Rupanya dia lebih sayang pada Draco daripada Harry..Harry cemberut melihat fakta ini. Dia mendesah panjang, tapi akhirnya memilih tidak menjawab, kembali melanjutkan makan.

Evan masih menatap Harry penuh perhitungan, seolah dia baru pertama kali melihat Harry...

"Oke, stop," kata Draco menengahi. "Tak Ada yang boleh menghakimi Harry lagi. Itu tugasku. Yang penting sekarang aku dan Harry sudah bersama, and I don't give a damn bout the past okay?"

Semua terkekeh, menggeleng, walaupun Evan masih cemberut. Draco menggeleng. Lalu mereka melanjutkan pembicaraan soal frekuensi latihan lagi...


"Jadi, minggu depan ada pesta ulangtahun Shaun Applebee," kata Cho riang, saat mereka berlima sedang mengaplikasikan make up ke wajah cantik mereka di toilet. "Kau harus datang Pans."

Pansy mengernyit, dia tak pernah ke ruang rekreasi Ravenclaw. Dan tak pernah ingin kesana...

"Well,.entahlah..." Katanya lambat-lambat, melihat reaksi yang lain.

Cho membelalak. "Oh tidak, kau tak bisa menolak. Kau harus tahu betapa serunya kalau Shaun yang membuat pesta. Dia seperti penerus Roger Davies. Dan dia memang penerus Roger Davies, setelah kupikir lagi." Dia tertawa cantik dengan lelucon yang sama sekali tak Pansy mengerti.

Pansy mengangkat bahu. "Tapi Applebee tak mengundangku..."

Marietta mengibaskan tangannya. "Tenang saja, kalau kau bersama kami, semua aman."

Pansy meringis. "Well... Yah.. "

"Great!" Kata Cho riang. "Kau bakal menikmati pesta kami, Pans. Jelas beda dengan pesta liar Slytherin yang tak berkelas."

Pansy mengangkat sebelah alisnya. Cho tertawa.

"No no no, aku tak bermaksud menghina, tapi bahkan kau pasti tahu bahwa pesta kalian lebih ke... Gryffindor type." Katanya, nyengir. "Tapi Gryffindor super parah." Dia bergidik, menggeleng heran karena ada pesta yang bisa penuh dengan kegilaan yang tak pantas.

Pansy hanya bisa tersenyum lemah. Apalagi yang bisa dia katakan?


Daphne menatap sekeliling ruang rekreasi, melihat Harry dan Tracey sedang nongkrong dengan para cowok. Daphne menghampiri mereka, duduk di sebelah Harry dan Draco. Sebelah tangan Draco melingkari pundak Harry, sebelahnya lagi sedang bergerak karena dia sedang bercerita. Draco Malfoy yang ekspresif. Dan Harry sendiri tampak lelah lahir batin, jelas tak punya tenaga untuk menyingkirkan tangan Draco dari pundaknya (atau tak punya keinginan sama sekali untuk melakukan itu). Dia menunduk, tidak mendengarkan Draco bicara, berkonsentrasi pada majalah di pangkuannya (potion today, mungkin).

Daphne mendesah panjang. "Hai guys," katanya, menyandarkan kepalanya ke punggung kursi.

"Hei, what's up?" Tanya Miles, sambil mengunyah biskuit (milik Draco jelas, karena mereka semua sudah belajar untuk tidak membawa makanan apapun. Buat apa, karena milik Draco sudah pasti yang paling lezat dan mewah, dan paling menggugah selera).

Daphne meringis, mengangkat bahu. "This and that," katanya asal.

Harry menoleh dari majalahmya, mengangkat sebelah alisnya. "This and that?" Ulangnya.

Daphne berdeham, menggeleng, menunjukan bahwa dia akan bercerita nanti. Harry mengangkat bahu, lalu kembali membaca majalahnya.

Lalu Evan tiba-tiba masuk ke ruang rekreasi, langsung melompat duduk di space sempit di sebelah Draco.

"Miles! Kau tak akan menyangka apa yang baru saja kulihat! Anak Ravenclaw kelas 7, si keriting yang kau bilang banci itu!"

"Alex Carlos?" Tanya Miles, mengernyit. "Aku tidak bilang dia banci! Aku bilang dia adalah satu-satunya cowok di angkatanku yang begitu sering menguasai buku di perpus..."

"Yeah, yeah, whatever," kata Evan cepat. "Dia mengajak Daphne kencan, coba!"

Evan mengatakan itu bahkan sebelum Daphne sempat meraih cowok itu untuk menjejalkan kertas ke mulut besarnya.

Hening seketika.

Semua menoleh menatap Daphne. Evan mengikuti arah pandang mereka, dan matanya langsung membelalak luar biasa lebar saat melihat Daphne rupanya disana. Jelas dia tidak melihat Daphne sama sekali, terlalu terburu-buru untuk menyampaikan gosip teranyar.

"Daphne! Aku... Maksudku..."

Daphne merasakan wajahnya merah padam. Sialan Evan. Daphne bakal menampar anak itu kalau tidak tahu bahwa Draco akan murka besar karenanya, Evan adalah anak buah favorit Draco. Jadi Daphne hanya bisa menggertakkan giginya geram.

"Gee, thanks Chester," tukasnya. Evan berjengit, lalu terdiam.

"Really?" Tanya Tracey, yang sejak tadi duduk di sebelah Theo. "Lalu kau bilang apa?"

Daphne berdeham, sejak tadi menghindari menatap Miles. Dia menatap Tracey. "Hanya ingin mengetes air. Besok ada pesta di Ravenclaw, dia mengajakku datang. It's not a big deal."

"Ah ha? Dan kau bilang oke?" Tanya Draco, nyengir.

Daphne mengangkat bahu. "Sure. Aku orang bebas kan? Aku belum pernah pesta di asrama lain, jadi, kurasa ini bakal jadi pengalaman untukku."

Draco menggeleng, tapi tidak berkomentar lagi. Daphne tahu apa yang dia pikirkan. Dia setengah tahun pacaran dengan Ravenclaw, dan sama sekali tak pernah mampir ke asrama mereka! Tak pernah berminat sama sekali. Sampai saat ini Daphne masih heran bagaimana bisa Lisa Turpin bisa bertahan lama menghadapi manusia seenaknya macam Draco. Jelas dia tak peduli pada sifat buruk Draco, selama bisa memiliki Draco Malfoy yang sempurna...

Daphne melihat Harry bertukar pandang dengan Draco, lalu mereka kompak menatap Miles. Penasaran, akhirnya Daphne memberanikan dirinya menatap cowok itu. Miles mengernyit, menunduk, rahangnya kaku, jelas menahan diri untuk tidak melampiaskan amarah nya. Daphne cemberut. Dia tak berhak marah! Dia yang selalu ingin kebebasan! Memangnya Daphne melakukan apa sih sampai membuat cowok itu ingin kebebasan?!

Sedikit cemburu bagus untuknya, pikirnya getir.

Suasana jadi agak kaku setelah itu. Mereka melanjutkan ngobrol, tapi Miles tetap diam, menunduk, mengernyit dalam. Daphne berusaha mengabaikannya.

Draco mendesah, membayangkan kalau kencan Daphne sukses, bakal ada drama besar lagi antara Miles dan Daphne. Dia melirik Harry, yang sudah kembali menunduk, membalik majalah potion todaynya...

Saat itu, Draco melihat seseorang masuk ke ruang rekreasi.

Pansy.

Dengan gesit, Draco memeluk pundak Harry, lalu menciumnya mesra.

"Ooohhhh!" Anggota Tim tertawa dan bersorak, Evan berdiri, menyingkir dari sebelah Draco untuk duduk di sebelah Adrian. Adrian mengambil bantal untuk menutupi mata anak itu sambil berseru, "hanya untuk 13 tahun ke atas!" Protes Evan disusul oleh raungan tawa anggota Tim yang lain.

Draco merasakan tangan Harry menyentuh pipinya, membalas ciumannya dengan tak kalah semangat. Nyengir puas, Draco menarik cewek itu untuk tiduran di atasnya. Harry tampak hilang kendali, menciuminya tanpa ampun. Draco terbahak, meraba bagian sampingnya, membuat Harry makin bersemangat...

Entah apa yang Draco pikirkan. Tapi yang dia mau hanya satu. Pansy melihat ini. Pansy melihat Harry yang tak menutupi apa yang dia inginkan. Harry yang juga membalas perasaan Draco. Harry yang penuh semangat membalas ciuman Draco.

Di sudut matanya, Draco melihat Pansy keluar dari ruang rekreasi lagi.

Draco tersenyum puas, membelai punggung Harry, dan akhirnya menutup matanya untuk menikmati ciumannya...

Pansy berjalan cepat ke arah perpus, dimana dia tahu Cho dan Marietta sedang mengerjakan pr mereka. Dia berdiri di depan Cho, yang mendongak menatapnya.

"Oke, aku mau."

"Hmm?"

"Aku akan datang ke pesta Applebee besok," kata Pansy tegas, penuh marah yang susah payah dia tahan.

Cho langsung berseri+seri. "Luar biasa!" Katanya riang, menepuk tempat duduk di sebelahnya. "Say, baju apa yang kau punya..."


"I love you."

Draco mendongak kaget dari bukunya, menatap Harry, yang sedang bertopang kepala menatapnya membaca sejak tadi. Mereka sedang malas-malasan di kasur kamar Draco, selesai mandi berdua tadi.

"Really?" Draco berkata spontan, terbahak, menatap Harry bertanya. Ini pertama kalinya cewek itu mengungkapkan cintanya, sejak mereka jadian lagi (jadian menurut Draco setidaknya).

Harry nyengir malas. "Really? Masih mempertanyakan perasaaanku?"

Draco mengangkat bahu. "Seratus kali aku mengatakannya padamu yang tak pernah kau balas. Wajar kan kalau aku bertanya-tanya." Tapi dia mendekatkan wajahnya, mencium bibir Harry yang Harry balas. Mereka berciuman sejenak, lalu Draco melepaskan diri, nyengir, kembali ke bukunya.

Mereka terdiam sejenak, sampai Harry mendesah panjang. "Aku sungguhan mencemaskan Pansy."

Draco menatapnya lagi. "Heran kenapa aku tak kaget. Kau hanya membahas ini seribu kali..." Dia tertawa saat Harry mencubit pipinya.

"Aku membahas terus karena kau tak pernah serius menanggapi. Pansy kan juga temanmu, Draco..." Kata Harry sebal.

Draco mengangkat bahu. "Karena dia temanku, aku merasa dia pantas mendapat waktu sejenak jauh dari kita. Dia butuh kita. Dia akan kembali pada kita. Kau hanya harus bersabar."

"Dan kalau dia tak kembali pada kita?"

Draco tertawa, menggeleng. "Sejak kapan kau jadi pesimis begini?" Dia mengecup bibir Harry sekilas.

Harry mendesah panjang. "Kurasa aku tak pernah benar-benar optimistik."

Draco tertawa lagi, menutup bukunya, meletakannya di samping tempat tidurnya, lalu tiduran di sebelah Harry lagi untuk memeluknya erat. "Hmm mm. Kalau ada yang tahu persis kebenaran statement itu, jelas adalah aku kan?"

Harry menenggelamkan wajahnya ke dada Draco. "Kau cowok paling luar biasa yang bisa diharapkan seorang cewek, kau tahu."

"Yep. Aku tahu," jawab Draco pede, membuat Harry tertawa.

"Tapi kau juga adalah cowok paling menyebalkan semuka bumi!"

Draco menatapnya tersinggung. "Kau merasa dirimu menyenangkan ya?" Sindirnya.

Harry nyengir menggoda. "Kalau aku menyebalkan, bagaimana bisa kau secara konstan mengejar-kejarku selama enam tahun?"

Draco menggelitiki pinggangnya, membuat mereka tertawa cekikikan tak jelas berdua.

Tawa mereka terhenti saat terdengar ketukan di pintu. Draco melirik jam di mejanya, jam 10 malam. Siapa yang mencarinya di jam segini. Dia berusaha mengabaikan ketukan itu, tapi makin lama makin keras. Dia mendesah, bangkit lalu membukakan pintu, mengangkat sebelah alisnya tinggi saat melihat Miles, rambutnya super berantakan yang menujukan bahwa dia berulang kali menyisirnya dengan tangan karena gugup.

"What's up?" Tanya Draco, masih berdiri di pintu.

Miles bergerak masuk, tapi Draco mengerang. "No Miles! Aku ngantuk sekali oke? Katakan apa maumu di sini."

Miles memberinya tatapan yang benar saja, lalu mendorong pintu dan tetap masuk. Draco mendesah pasrah, melihat Harry bangkit duduk dari tidurannya.

"Well well well pantas saja mendadak kau sudah mengantuk di jam segini," tandas Miles garing, mendudukan dirinya di sebelah Harry. Draco cemberut, duduk di kursi meja belajar. Kenapa harus dia yang duduk di kursi meja belajar?!

"What's wrong?" Tanya Harry penasaran.

"Jadi kau sungguhan tidur di sini tiap malam sekarang?" Goda Miles, membuat Harry memutar bola matanya.

"Kau sudah tahu kan? Draco sudah mengumumkannya ke setiap penjuru kastil..."

"Enak saja! Aku cuma bilang pada anggota Tim!"

"Yeah, dan Evan dengan rajin menyebarkannya ke seluruh penjuru kastil," sahut Harry datar, membuat Miles dan Draco tertawa terbahak.

"Oke, oke, sori, aku keceplosan waktu itu," kata Draco, nyengir lebar.

Harry mendengus. "Aku sangat sangat percaya padamu."

"Oke stop," kata Miles saat dia melihat Draco siap menimpali. "Kalian berdua sudah kembali merajut kasih bla bla bla. Oke, masalah selesai. Yang ingin kutanyakan," dia menarik napas panjang, menatap Harry. "Daphne benar-benar bakal kencan dengan Alex Carlos besok?"

Harry meringis, bertukar pandang sekilas dengan Draco, lalu menatap Miles lagi. "Well, belum tentu kencan ini bakal berjalan lancar juga kan..."

Miles mengerang. "Kenapa dia harus melakukan ini?!"

"Melakukan apa?" Tanya Harry sebal. "Kau berkencan dengan cewek lain seminggu setelah putus darinya. Daphne punya harga diri jauh lebih tinggi darimu."

Miles berjengit. "Aku tahu," desahnya. "Aku benar-benar cowok payah."

Harry mengernyit menatap Miles. "jadi apa yang kau harapkan Miles? Kau tidak mengajaknya balikan, tapi kau juga tak mau dia berkencan dengan cowok lain?"

"Kenapa memangnya kalau aku ingin keadaan seperti ini lebih lama?" Protes Miles, "Kau dan Draco tidak masalah melakukannya selama bertahun-tahun, berteman tapi eksklusif..."

Harry dan Draco memberinya tatapan yang benar saja. Miles menyembur tertawa.

"Oke, oke, kalian melampiaskan stress karena hubungan disfungsional itu dengan berantem setiap hari, I get it, okay," katanya, lalu mendesah. "Aku ingin balikan dengan Daphne. Aku ingin..."

"Mendapat seks secara rutin?" Sahut Draco, nyengir.

"Yeah," tawa Miles, membuat Harry memutar bola matanya. "Hanya saja, kadang aku masih meragukan diriku. Apa aku sanggup dengan komitmen ini? Apa aku sanggup kembali menjadi pacar yang Daphne harapkan? Apa aku tak akan merusaknya lagi? Kalian tahu betapa melelahkannya saat kami berantem terakhir kali, dan aku tak ingin mengulang itu lagi..."

"So? Kalau kau terlalu pengecut untuk mengambil resiko itu, kurasa memang sebaiknya Daphne move on," kata Harry tajam. Miles dan Draco berjengit. Harry mendesah. "Miles, kau cowok. Kau harus tegas. Kau harus tahu apa yang kau mau. Kau bakal jadi kepala keluarga suatu hari nanti!"

Miles menunduk.

"Setiap hubungan pasti ada resikonya," kata Harry. "Setiap kencan bisa jadi berakhir berantakan. Setiap obrolan bisa jadi berakhir dengan perdebatan. Setiap seks belum tentu berakhir di puncak. Tapi kau harus terus berusaha dan mencoba agar hubunganmu tetap utuh, agar kau dan pasanganmu tetap kompak menjaga komitmen. Kalau kau malas-malasan begini, aku tak heran kenapa Daphne meninggalkan mu."

Miles tergagap. "Aku..."

"Bagaimana kalau kencannya dengan Carlos berakhir luar biasa?" Tanya Harry akhirnya. "Kau akan menyesal seumur hidup mu hanya karena ketakutan tak beralasan."

Miles terdiam, mengernyit, berpikir.

Mereka terdiam lama. Miles tahu Harry dan Draco sedang berkomunikasi dengan mata mereka seperti biasa. Lalu...

"Kau bisa memastikan bahwa kencan mereka berakhir berantakan," kata Draco akhirnya, disambut dengan desahan panjang Harry. Jelas Harry tidak setuju, tapi Draco yang memenangkan perdebatan Mata mereka rupanya.

Miles mengernyit menatapnya. "Apa maksudmu?"

Draco nyengir luar biasa lebar, lalu memberitahu rencananya...


Pagi harinya, Draco dan Harry lari bersama Evan.

"Daphne memberiku tatapan sangar tiap kali aku berada di ruangan yang sama dengannya," rengek Evan pada Draco, yang mengangkat sebelah alisnya.

"Heran kenapa," tandas Draco geli.

"No, really, aku kan hanya menyampaikan ke Miles..."

"Dan seluruh Tim," sahut Harry.

Evan cemberut. "Jadi aku harusnya gimana dong? Memanggil Miles untuk bicara pribadi? Draco pasti menyuruhku bicara langsung di depan semua Tim!" Kata Evan membela diri.

Draco mengangguk.."masuk akal."

"See? Bukan sepenuhnya salahku," kata Evan, menatap Draco sedih. "Aku tak mau dia memelototi ku terus setiap saat, Draco..."

Draco mendesah. "Aku akan bicara padanya nanti."

Evan nyengir lebar. "Kau kapten terbaik!" Dia memeluk Draco sekilas, membuat cowok itu tertawa. Harry menggeleng.

"Kau harusnya maju sendiri ke Daphne, minta maaf padanya. Dia akan memaafkanmu," katanya mencela.

"Gryffindor tak boleh komen," kata Evan, menjulurkan lidahnya, membuat Draco terbahak. Harry menatap cowok itu sebal.

"What?" Kata Draco, ditengah-tengah tawanya. "Dia benar. Dia Slytherin sejati! Dia memanfaatkan apa dan siapa yang bisa di manfaatkan!"

"Kau yang melatihnya jadi anak manja begini," tandas Harry. "Kau mengabulkan semua keinginannya bahkan sebelum dia berusaha sendiri!"

"Dan Graham tak melakukan itu untukmu kan?" Sindir Draco, membuat Harry makin cemberut.

"Tapi aku tak pernah merengek meminta segala macam hal pada Graham! Evan selalu kau manja lebih dari seharusnya. Kunjungan Hogsmead, PR Transfigurasi, coklat mingguan, aku tak akan kaget kalau kau membelikannya Firebolt!"

Wajah Evan merona. "Draco janji akan membelikannya begitu dia 17 tahun dan mendapat seluruh harta warisannya."

Harry tergagap, menatap Draco tak percaya. Jelas walaupun dia bilang tak akan kaget, dia tetap saja kaget. "Firebolt, Draco?!" Pekiknya.

Draco memutar bola matanya. "Kau tahu, Harry, liburan nanti, aku akan mengajakmu ke Gribgotts, lalu kau bisa lihat sendiri tumpukan galeonku, dan aku tahu kau akan sama bingungnya denganku tentang mau di apakan uang sebanyak ini kalau tidak untuk membuat orang yang Kita sayang bahagia," tandasnya. Evan berseri mendengar pengakuan ini, memeluk Draco super erat. Draco menepuk kepalanya sayang.

Harry mendesah kalah. Dia tahu persis Evan sudah Draco anggap seperti adiknya sendiri..Graham memberitahunya bahwa Draco membeli satu unit apartemen lagi di apartemennya, yang Harry bahkan tak perlu bertanya-tanya untuk siapa. Setidaknya Draco cowok yang berpikir luas, tidak mengharapkan Evan tinggal dengannya selamanya. Evan tak akan bisa menolak, tidak dengan perhatian luar biasa Draco padanya. Seperti kata Daphne, tak akan ada manusia yang bisa menolak Draco Malfoy.

"Lagian, kau lebih parah dari Evan, Kau tahu. kalau tak meminta pada Graham, kau akan meminta pada Marcus. Kalau Marcus menolak, masih ada Miles, yang dare I say, tak pernah sekalipun menolakmu untuk apapun!"

"Wow," tawa Evan, nadanya kagum. "Kau lebih Slytherin dari yang selama ini aku bayangkan, Har!"

Harry memutar bola matanya. "Whatever. Intinya, bagaimana saat kita Lulus nanti? Dia bakal sendirian, tak punya teman dekat karena kau memaksanya terus mengekormu..."

Draco mengibaskan tangannya. "Evan tak butuh itu. Dia bisa punya teman-teman Quidditch sampai lulus. Right Evan?"

"Yup," kata Evan santai. "Dan aku punya teman Harry, rileks. Aku tidak sepilih-pilih Draco!"

"Yeah, sekarang, nanti setelah Draco berhasil melatihmu menjadi anak manja, pemilih, rasis..."

"Draco tidak begitu!" Protes Evan tak terima. "Draco tak pernah rasis! Dan dia juga ngga manja! Dia melakukan semuanya sendiri!"

Harry menatap Evan dengan tatapan tak percaya. Separah apa anak ini dicuci otak oleh Draco?!

Draco tersenyum puas, menepuk kepala Evan. "Biarkan saja dia bicara terus. Dia cuma iri karena kau lebih suka padaku daripada padanya."

Evan masih menatap curiga Harry, tapi tidak memperpanjang. Harry menggeleng. Draco benar-benar sudah berhasil mencuci otak Evan.

"Ngomong-ngomong soal Miles dan Daphne," kata Draco lagi. "Kau bisa ikut Miles nanti malam."

"Aku?" Harry kaget. "Tapi kau bilang Applebee..."

"Evan," koreksi Draco, memutar bola matanya melihat ekspresi kecewa Harry.

"Apa yang harus kulakukan?" Tanya Evan penasaran.

"Cari tahu soal kata kunci asrama Ravenclaw," kata Draco. "Mereka pakai teka-teki, kau tahu. Jadi kata kuncinya berubah setiap saat."

Harry dan Evan menatap Draco horor. Draco terbahak.

"Seriusan?" Tanya Evan, menggeleng. "Pantas saja Harry benci pada mereka."

"Aku tidak benci pada Ravenclaw, Evan. Kau yang benci pada Ravenclaw!"

Evan mengernyit. "Kalau seluruh Ravenclaw sok seperti Lisa Turpin, yeah, aku benci Ravenclaw," katanya tegas.

Draco menggeleng geli. "Kalian tahu, Ravenclaw dan slytherin harusnya punya banyak kecocokan..."

"Tidak, setelah Lisa Turpin."

"Lisa Turpin membuat anak ini trauma," tawa Harry, menepuk kepala Evan.

"Dia tidak seburuk itu, tahu," kata Draco, menggeleng. Harry mengangkat sebelah alisnya luar biasa tinggi. "Maksudku, tetap saja dia tak seistimewa dirimu," tambah cowok itu buru-buru. Harry hanya memutar bola matanya. Draco terkekeh, mendekatkan wajahnya, mengecup bibirnya sekilas, tepat di atas kepala Evan, yang mengerang.

"Draco, ingat kata Harry! Keep it down!"

Draco hanya terbahak. "Kau harusnya senang. Aku memberimu pendidikan berciuman gratis..."

"Euuu!" Evan cemberut, lalu menatap Harry sebal. "Kau bilang kau menyimpan dirimu untukku!"

"Kau juga bilang aku harus segera jadian dengan Draco sebelum Draco jadian lagi dengan cewek norak yang lain kan?" Kata Harry geli. "Mana yang benar nih?"

Evan menimbang-nimbang. Lalu dia mendesah. "Oh sudahlah. Kau boleh kabur dengan Draco. Aku tahu aku bakal bunuh diri kalau ada another Lisa Turpin masuk ke hidupku!" Harry terbahak, sementara Draco hanya memutar bola matanya.


Mereka semua berdiri di depan kelas pertahanan. Snape telat datang, dan kelas masih terkunci. Draco berdiri di samping Harry, yang bersandar di tembok.

"Jadi coklatmu sudah ada di kamar kita," kata Draco, memeluk pinggang Harry, mengecup pipinya.

"Coklat?"

"Empat belas February."

"Oh yeah, nyaris lupa," tawa Harry. "Kenapa kau masih memberi ku cokelat? Kukira coklat-coklatmu hanya untuk merayuku."

Draco mengangkat sebelah alisnya. "Bukankah tahun lalu kau marah besar karena aku tidak memberimu cokelat?" Sindirnya.

Harry menyikutnya malu. "Oh shut up," tawanya lagi.

Tracey, yang mendengarkan percakapan ini, menatap mereka curiga. "Kau selalu mendapat cokelat valentine dari Draco?" Tebaknya.

"Sejak kelas satu," kata Harry, meringis tak enak hati. Pansy belum datang, tapi tetap saja dia selalu merasa malu jika masalah ini dibahas. Dia merasa kini semua orang menganggapnya gadis pembohong paling munafik sedunia. Yah, setidaknya dia membuktikan ke semua orang kalau dia adalah Slytherin sejati.

Tracey memutar bola matanya. "Pantas saja Pansy marah besar Har."

"Aku tahu," Harry mendesah lelah. "Aku benar-benar cewek tak tahu malu, pembohong, yang paling menjijikan..."

Tracey memeluknya. "Oh shut up you. Aku tak masalah misalnyapun kau ternyata sudah punya anak dengan Draco." Dia terbahak saat melihat ekspresi horor Harry.

Draco mengusap punggung Harry sekilas untuk menarik perhatiannya. "Ngomong-ngomong, kau tadi dapat Surat dari Graham kan? Apa dia mengajak kumpul-kumpul lagi?"

"Oh iya, aku tak sempat membacanya," kata Harry, mengeluarkan selembar Surat dari dalam tasnya. Draco melongok untuk ikut membaca. Harry membiarkannya.

"Yah, dia tak bisa datang di Hogsmead maret nanti," desah Harry kecewa, mengernyit.

"Tak masalah kan. Kita bisa atur penyusupan di waktu dia bisa, kalau kau memang ingin bertemu dia," kata Draco, meremas pinggangnya.

"Really?" Harry nyengir lebar pada cowok itu, wajahnya langsung berseri. "Oke, aku akan tanya kapan dia senggang."

"Jangan terlalu dekat dengan NEWT. Bahkan Malcolm juga harus belajar."

"Oke. Noted."

"Jadi, bagaimana reaksi Graham soal kita?" Tanya Draco penasaran.

Harry mendengus. "Kita," ulangnya, menggeleng.

Draco memutar bola matanya. "Please, Harry."

Harry tertawa. "Entahlah. Aku belum bercerita padanya," katanya mengakui.

Draco tergagap menatapnya. "Kenapa?!" Tuntutnya.

"Kenapa? Draco, situasi sedang sangat tidak enak untukku," kata Harry, mengernyit. Di sudut matanya, dia melihat Pansy datang. Harry berusaha melepaskan tangan Draco dari pinggangnya, tapi cowok itu berkeras menolak. "Draco..."

"No," kata Draco, cemberut. "Kenapa kau masih bertekad menutupi ini sih? Kau yang membuat situasi jadi tak enak untuk dirimu sendiri!"

"Draco, aku hanya..." Harry melirik Pansy, yang mengernyit menunduk di sudut terjauh, jelas sudah melihat tangan Draco di pinggang Harry.

"Perhatian semuanya!" Seru Draco lantang, membuat Harry menatapnya horor. Cowok itu meraih tangan Harry, meremasnya, mengangkatnya agar semua orang bisa melihat. "See? Aku dan Harry di sini sudah resmi pacaran. Dia milikku, oke?" Harry hanya bisa tergagap tak percaya menatap cowok tak tahu diri ini.

"Cieee!"

"Suit suit!"

Anak-anak itu mulai heboh, bersorak, meledek, tertawa.

"What?! Draco, aku tidak..."

"Kalau kau mengelak, aku akan bilang pada mereka semua kalau kau tiap malam tidur di kamarku," Desis Draco pelan.

Harry membelalak syok. "Apa kau mengancamku?!" Pekiknya pelan.

"Yes," tandas Draco tanpa celah.

Mereka saling pelotot, mengabaikan seluruh anak yang masih fokus menggoda mereka berdua. Rombongan Gryffindor yang paling parah, merasa di khianati oleh Harry karena berani pacaran dengan bajingan Slytherin seperti Draco Malfoy. Mungkin mereka lupa bahwa Harry sendiri juga Slytherin.

Mereka semua tidak melihat Lisa Turpin yang menatap adegan ini dengan penuh benci dan sakit hati.

Mereka semua tidak melihat Pansy yang berlari pergi dari sana. Kecuali Harry, yang kembali merasa bahwa dirinya adalah manusia paling jahat sedunia.


Harry sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil berjalan keluar dari kamar mandi saat melihat Daphne, berdiri di depan cermin dengan dandanan lengkap,.gaun super mini, super terbuka.

"Sedang dapat panggilan, slut?" Goda Harry. Daphne mendengus.

"Yes. Tapi jelas bayarannya tak semahal yang Draco berikan padamu tiap malam," katanya tanpa jeda.

"Ha ha ha," tandas Harry, memutar bola matanya. "Seriusan, Daph, kau benar-benar berniat merayu Alex Carlos?"

Daphne mendesah, duduk di sebelah Harry di kasur cewek itu.

"Apa yang harus kulakukan Har? Aku tak bisa terus-menerus bergantung pada sikap plin plan Miles."

"Yeah," kata Harry simpati. "Just... Hati-hati, oke. Ravenclaw tak pernah menjadi anak manis. Mereka terlalu logis untuk berpikir bahwa kau juga punya perasaan."

Daphne nyengir. "Kenapa kau jadi berprasangka sih? Seingatku, kau tampak senang jalan dengan Applebee dkk beberapa bulan lalu."

Harry mengangkat bahu. "Oh, mereka baik. Jangan salah menangkap kata-kata ku. Hanya saja, well... Lets say, moral bukan sifat alami mereka."

"Juga bukan sifat alami Slytherin. Yah, slytherin yang asli setidaknya," tambah Daphne, cekikikan. Harry memutar bola matanya.

"Just be careful."

"I will."

"Good."

Daphne berdiri, menarik napas panjang. "Kau yakin tak mau ikut? Aku tahu Applebee akan menyambutmu dengan tangan terbuka. Dan kamar terbuka."dia tertawa mendengar leluconnya sendiri.

Harry nyengir licik. "Oh, Applebee mengundangku," katanya enteng.

Daphne makin terbahak. "Really?!"

"Yup. Sebagai teman, katanya. Aku sih tak masalah. Tapi Draco memberiku ekspresi..." Harry menirukan ekspresi murka Draco dengan sangat akurat, membuat Daphne makin histeris tertawa. "So, nope. Kurasa aku masih waras."

"Jadi sekarang kau membiarkan Draco mengatur-aturmu?" Goda Daphne saat tawanya akhirnya berhenti.

Harry mengangkat bahu. "Draco selalu mengatur-aturku sejak dulu. Hanya saja sejak pacaran dia melakukannya dengan lebih blak-blakan." Dia menidurkan dirinya ke kasur.

"Apa kau sungguhan sudah resmi dengan dia?"

Harry mengangkat bahu.

"Well?"

"Mungkin," kata Harry muram. "Hanya saja, tak pernah menyangka bahwa aku akan bahagia di atas kesedihan Pansy."

Daphne menatapnya simpati.."kau sedih karena bahagia?"

"Saat hanya berdua dengan Draco, aku bisa melupakan segalanya," kata Harry, menutup matanya lelah. "Tapi saat seperti ini, dimana harusnya Pansy juga ada di sini untuk menggodamu bersamaku, aku serasa di gerogoti rasa bersalah."

Daphne menepuk kepalanya. "Pansy akan kembali. Aku tahu itu."

Harry mengangkat bahu, lalu bangkit berdiri. "Well, kau ditunggu oleh kencanmu kan? Dia menjemput?"

"Tentu saja. Mana mau aku naik sampai lantai 7 sendirian dengan gaun ini," kata Daphne.

Harry tertawa. "Kuharap Alex Carlos sadar betapa high maintenance nya kau sebelum terlambat."

Daphne nyengir licik. "Seperti kata Draco, tak akan ada yang sadar dengan sifatku, selama aku masih secantik ini."

Harry hanya bisa tertawa dan menggeleng-geleng. Mereka berdua turun ke ruang rekreasi. Daphne menatap sekeliling, lalu mendesah kecewa.

"Hmm?" Harry menatapnya bertanya.

Daphne tertawa. "Setidaknya aku ingin Miles melihat ini," dia memberi isyarat pada dandanan dan gaunnya. Harry mendengus, tahu persis dimana Miles sekarang, tapi tahu bahwa dirinya tak bisa berkata apapun. Dia melambai pada Daphne, lalu mendudukan dirinya di dekat perapian.

Dia mengeluarkan PR nya, tapi lalu terdiam, mengernyit menatap perapian. Dia dan Draco masih marahan karena aksi tak perlu cowok itu pagi tadi saat mengumumkan ke semua orang kalau mereka pacaran. Mereka tak saling bicara sepanjang hari, menganggap diri sendiri paling benar seperti biasa. Harry cemberut.

Tampaknya dia harus mengambil langkah drastis.

Mengangguk pada dirinya sendiri, dia mengeluarkan selembar perkamen dari file perkamen kosongnya, lalu mulai menulis.


Pansy bersiap-siap untuk pesta nanti malam di kamar Cho Chang dan Edgecombe.

Dia melihat Lisa Turpin sudah siap, sangat sangat cantik seperti biasa,. walaupun ekspresinya datar, jelas sama sekali tak bersemangat. Dia duduk bosan di kasur Cho, membaca majalah Witch weekly.

Pansy sama tak bersemangat nya dengan cewek itu. Dalam hati, dia sadar betul bahwa pesta ini bakal lebih menyenangkan jika setidaknya bersama salah satu dari anggota gengnya. Pansy mengernyit. Anggota geng yang sudah bukan geng nya lagi.

Lagipula, Tracey tak mungkin mau datang. Datang di pesta Slytherin saja sudah merupakan keajaiban untuknya. Daphne, mungkin akan datang kalau ada yang mengajaknya. Harry...

Pansy menggertakkan giginya, tahu persis Harry tak akan datang kalau tanpa Draco mengekornya. Harry dan Draco sejak dulu memang sering sekali bareng kesana kemari. Tapi hari-hari ini, nyaris tak pernah menemukan Harry tanpa Draco. Datang ke pesta Ravenclaw, yang Draco tahu di adakan oleh Applebee, yang sudah mulai tersebar beritanya bahwa dia secara personal mengundang Harry, rasanya jelas tak mungkin. Draco tak akan membiarkan Harry datang tanpa dirinya, dan Draco sendiri, sang supremasis asrama nomer satu, tak akan mau datang ke sini. Tidak saat dia masih pacaran dengan Lisa Turpin, apalagi tanpa alasan jelas.

Lega karena tak perlu melihat Harry dan Draco setidaknya, Pansy mulai merasa sedikit positif. Dia memakai gaun mini warna hitam, dengan dandanan bold favoritnya, saling melempar pujian meaningless dengan Cho dan Marietta. Mandy juga sudah siap, dengan dandanan manis yang tak terlalu cetar tapi tetap oke di wajah cantiknya.

Mereka berlima turun ke ruang rekreasi saat pesta sudah sejam berjalan. Musik menyala keras, minuman dan makanan terhidang megah (walaupun jelas tak semewah selera Draco). Applebee adalah salah satu cowok kaya dan populer di Hogwarts. Pansy bisa melihat cowok itu duduk bersama Matt Allen, menyesap firewhiskey, sangat berpuas diri karena di kelilingi gadis-gadis yang memujanya. Pansy mau tak mau memutar bola matanya, sungguh tipikal.

"Ayo kita selamati dia dulu," kata Cho riang, mengajak geng nya menghampiri kedua cowok itu.

"Happy birthday Shaun!" Marietta yang menyapa duluan, memberi Applebee pelukan dan kecupan di pipi.

"Hai kalian, trims sudah datang," kata cowok itu riang. Pansy hanya tersenyum padanya, tak berminat beramah tamah lebih dari itu. "Potter tidak datang?" Tanyanya, nadanya kecewa, pada Pansy, yang hanya mengangkat bahu.

Cho memutar bola matanya. "Kau mengundang dia?" Tanyanya tak percaya.

Applebee nyengir. "Dia seru banget, kau tahu," katanya.

Cho mendengus. "Seru? Si ganjen itu berusaha membuat semua cowok tertarik padanya. Dimana serunya?"

Matt Allen ikut mendengus. "Seperti kau, kalau begitu?" Sindirnya.

Cho menatapnya tersinggung. "Enak saja. Aku tak perlu berusaha untuk efek itu."

Matt Allen menggeleng, lalu menarik Marietta ke pangkuannya, dan mereka berdua mulai berciuman.

Pansy mengangkat sebelah alisnya. Dia tahu persis soal hubungan on off Matt dan Marietta, tapi tetap saja berjengit dalam hati saat melihat betapa mudahnya Marietta jatuh ke pangkuan cowok itu. Matt Allen memang terlihat manis, tapi dia tetap salah satu Playboy anggota tim Quidditch, dan berulang kali tertangkap basah tidur dengan cewek lain. Pansy sangat heran kenapa Marietta masih mau bahkan menghirup udara yang sama dengan cowok itu.

Pansy menyuarakan pikiran ini pada Mandy, saat mereka berjalan ke arah meja untuk makan.

"Oh yeah, Marietta cinta mati padanya," kata Mandy, menggeleng.

"Dia membuang seluruh harga dirinya kalau sudah menyangkut Matt Allen tercinta," tandas Lisa, memutar bola matanya. Lalu dia mengernyit, mendesah. Pansy dan Mandy bertukar pandang, sama-sama tahu bahwa Lisa juga akan bersikap sama jika Draco Malfoy menariknya untuk mengajaknya ciuman.

Tapi Draco Malfoy bukan Matt Allen. Dia bukan cowok murahan yang mengobral dirinya untuk semua orang hanya karena dia bisa.

Dan itulah, yang Pansy rasa, menjadi daya tarik terbesar Draco.

Dan, kini semua tahu bahwa Harria Potter lah penyebab utama cowok itu mengeksklusifkan dirinya.

Pansy heran, bagaimana bisa setiap pikirannya selalu berakhir di Harry dan Draco. Dia datang ke pesta ini untuk melupakan mereka berdua, melupakan seluruh masalahnya! Penuh tekad, Pansy menyambar sebotol firewhiskey, lalu meneguknya banyak-banyak.

Mereka duduk di satu sofa, makan buah di piring mereka, menyesap alkohol, bergosip tentang siapapun yang menarik pandangan mereka. Tak lama, Jake Price datang, mengajak Cho berdansa. Tiga cowok mengajak Lisa, yang bahkan tidak merasa perlu di jawab cewek itu dengan kata-kata. Ekspresi jijiknya mewakili penolakan tegasnya.

"Heran kenapa masih saja ada yang mengajakmu berdansa," kikik Mandy, menyikut Lisa, yang mendengus. Pansy tidak berkomentar. Dia dan Lisa Turpin jelas tak akan pernah bisa menjadi sahabat,.tapi ini, melihat bagaimana Lisa Turpin memperlakukan orang lain seperti ini, jelas hal baru untuknya. Lisa Turpin bukan cewek ramah, tapi dia masih berusaha baik pada mereka slytherin karena ada Draco. Dan saat ini, saat tak ada Draco, benar-benar terlihat sifat aslinya.

Mau tak mau Pansy jadi berpikir pantas saja Draco memutuskannya.

Draco punya sifat yang nyaris sama dengan Lisa. Menganggap rendah semua orang.

Sampai dia bertemu Harry, dan Harry mengajarinya bagaimana cara memperlakukan orang lain. Harry, bagaimanapun Pansy membencinya, sudah berhasil menjadikan Draco manusia yang jauh lebih baik.

Hal yang Pansy tahu tak akan pernah bisa dia lakukan.

Pansy sedang memikirkan ini, saat matanya menatap ke arah pintu masuk, melihat Daphne berjalan masuk. Dengan Alex Carlos?!

Wow.

"Wow," kata Mandy, menyikutnya. "Mereka kencan?"

Pansy mengangkat bahu. "Entahlah. Hanya sekali ini kurasa. Dia masih tergila-gila pada Miles Bletchley."

"Hmm," kata Mandy. "Jujur aku kaget dia dan Bletchley tidak langsung balikan setelah berselingkuh di balik punggung Redival."

Pansy mendengus. "Miles menolaknya. Dia merasa bersalah karena sudah berselingkuh, dan tak ingin menyakiti hati Redival Foster dan Daphne lebih jauh lagi. Jadi dia menarik diri. Sementara setidaknya."

Mandy membelalak. "Really?" Dia bertanya, tampak sangat kaget, lalu matanya berkilat aneh, mengernyit, menggigit bibirnya.

Pansy meringis. Saingan baru untuk Daphne. "Kurasa Miles sedang tak ingin berkencan Mandy..."

Wajah Mandy langsung merona. "What? Aku tidak..."

Pansy nyengir licik. "Tenang saja. Aku tahu miles menarik, tapi kurasa kau jelas tak ingin jadi Redival Foster nomor dua kan? Karena Daphne akan memastikan itu."

Mandy berjengit, lalu mendesah. "Bagaimana bisa cowok-cowok oke akhirnya harus jatuh ke pelukan jalang-jalang macam Potter dan Greengrass?!" Tandasnya, menggeleng. Pansy tidak berkomentar.

Dia melihat Daphne tampak sangat cantik seperti biasa, dengan gaun yang menunjukan dua pertiga tubuhnya. Alex Carlos menatapnya seolah cewek itu menawarinya bulan. Mereka duduk di salah satu sofa, Daphne berbicara panjang lebar, sementara Alex Carlos menatapnya tanpa kedip, terpana pada nasib baiknya.

Pansy mengernyit, menunduk, tahu bahwa seumur hidupnya, dia tak akan pernah mendapat tatapan seperti itu dari cowok manapun...

"Siapa itu?" Tanya Mandy, membuat mata Pansy akhirnya teralih dari Daphne. Dia melihat ke arah yang dilihat Mandy. Seorang cowok tinggi besar, berambut merah afro, dan kacamata super tebal, tampak berdiri kikuk. Di sebelahnya berdiri anak yang rasanya tak mungkin di undang oleh Applebee, karena anak itu kecil, dengan rambut merah panjang dan kacamata tebal juga. Topi rumbai menghiasi kepalanya, menambah kenorakannya. "Aku tak ingat Weasley masih punya saudara lagi."

Pansy mengernyit. Sama sekali tak ingat pernah melihat wajah-wajah ini...

Kedua cowok mencurigakan itu berjalan ke bar, duduk kaku, bahkan tidak menghampiri Applebee untuk mengucapkan selamat.

"Penyusup kali," kata Lisa, bersedekap, tampak sedikit tertarik, matanya turun ke tubuh tegap si cowok pertama, jelas mengapresiasi.

"Really," Mandy mengernyit. "Mereka berdua tak terlihat pintar, bagaimana bisa mereka masuk?"

Pansy mengatupkan rahangnya. Selama nongkrong dengan Ravenclaw, Pansy jadi tahu persis kenapa Harry tak pernah suka nongkrong dengan orang-orang ini. Mereka seriusan menganggap semua anak asrama selain Ravenclaw adalah manusia bodoh yang menyia-nyjakan hidup mereka dan akan berakhir sebagai petugas kebersihan di kementrian.

Menyebalkan.

Untungnya, perhatian mereka teralih oleh suara musik yang makin keras. Cho menghampiri mereka, memberi mereka tiga botol minum satu persatu.

"Let's dance girls!" Serunya.

Lisa menolak tegas, tapi Pansy dan Mandy menerima ajakannya. Pansy bertekad setidaknya dia harus bersenang-senang. Dia harus bisa menikmati malam ini. Harus!

"Ups, habiskan dulu minumanmu Pansy," kata Cho riang. Pansy mengangkat bahu, lalu menenggak minumannya sampai habis.

Dia jelas tidak melihat senyum jahat penuh kepuasan Cho Chang, dan Lisa Turpin yang mendengus, menggeleng.


Miles dan Evan duduk kaku di barstool itu, menerima butterbeer dari prefek Ravenclaw yang memberi mereka tatapan curiga. Evan menatap sekeliling, mengamati ruang rekreasi luas berwarna biru itu. Miles sendiri, tak bisa mengalihkan matanya dari mantan pacarnya tersayang. Daphne tersenyum genit pada Carlos si cowok munafik itu, sesekali menyentuh lengan Carlos, atau menyibakkan rambunya. Mata Carlos membelalak saat Daphne sedikit membungkuk, sehingga belahan dadanya makin terlihat jelas.

Miles menggertakkan giginya.

Sialan memang Daphne. Bagaimana bisa dia tahu persis bagaimana cara merayu cowok! Dia bersama Miles sejak kelas 4 kan?! Kapan dia belajar melakukan ini?!

"Kayaknya Daphne sungguhan menikmati kencannya ya," kata Evan, tidak membantu sama sekali.

Miles cemberut.

Evan bertopang dagu. "Daphne ini seriusan cantik sekali loh. Bagaimana bisa dia kalah di polling cewek Paling cantik sesekolah? Kurasa harusnya dia yang menang. Lisa Turpin..."

"Adalah yang tercantik. Bahkan kau harusnya tahu itu," kata Miles datar, memutar bola matanya. "Kau tahu, mungkin harusnya kau yang jadian dengan Lisa Turpin, mungkin dia bakal berubah jadi lebih baik jika kau mengkritiknya terus..." Dia menyembur tertawa melihat ekspresi horor Evan.

"Amit-amit!" Tandas Evan, bergidik. "Kau tahu bagaimana dia selalu menatapku?"

"Memangnya dia pernah menatapmu? Kukira dia bahkan berusaha menganggapmu tak ada," goda Miles.

Evan tertegun. "Astaga, dan di saat aku berpikir aku tak bisa lebih benci pada cewek itu lebih dari ini..." Katanya syok. Miles kembali terbahak.

"Intinya, aku bersyukur Harry akhirnya menerimaa Draco," kata Evan lagi.

"Yeah,. walaupun Harry bukan menerimanya, tapi mau tak mau menerimanya," kekeh Miles.

Evan menggeleng. "Sampai saat sebelum ini, aku tak pernah percaya pada Draco saat dia bilang Harry adalah cewek paling muna yang pernah dia kenal. Tapi..."

Miles mendengus. "Setiap manusia setidaknya harus punya satu sifat buruk kan?"

Evan nyengir. "Kau benar..Harry yang tak sempurna terlihat makin hot kan?"

Miles memutar bola matanya. "Jangan sampai Draco mendengarmu bicara begitu."

Evan hanya nyengir. Lalu mereka terdiam, kembali mengamati Daphne. Cewek itu di ajak berdiri oleh Carlos, lalu dibimbing berjalan menuju lantai dansa. Miles menggeram saat kedua tangan Carlos secure di pinggang Daphne.

"Apa yang Daphne lihat dari cowok kurus itu?!" Desis Miles murka. "Carlos sama sekali bukan tipenya!"

"Kalau menurut Draco, itu karena Carlos cukup percaya diri untuk maju padanya," kata Evan mengutip. "Dan dia juga pewaris restoran Mexico Carlos yang cabangnya tersebar di seluruh inggris. Dan dia juga salah satu yang paling pintar di angkatannya. Dan..."

"Okay, okay, aku tahu dia jauh lebih baik dariku, oke?!" Tukas Miles, memelototi Evan, yang meringis bersalah.

"Aku tidak bermaksud..."

Miles mengibaskan tangannya, kembali menatap Daphne dan Carlos. Jelas Carlos bisa menawarkan Masa depan yang jauh lebih baik dari apa yang ditawarkan Miles. Kalau dia pacaran dengan Carlos, dia bisa langsung mengenalkan cowok itu pada ayahnya tanpa merasa ketakutan akan ditolak mentah-mentah. Siapa yang akan menolak pria cerdas dari keluarga terpandang yang Kaya Raya?

Dan apa yang Miles punya?

Dia saat ini mungkin lebih dari Carlos, karena tubuhnya lebih bagus, staminanya lebih prima, lebih macho karena dia pemain Quidditch. Tapi saat sudah lulus... Saat memilih pendamping hidup... Siapa orangtua normal yang akan lebih memilih Miles daripada Carlos?!

Saat itu mata Daphne jatuh ke dirinya. Miles ingin berpaling, tapi dia hanya tak bisa. Mereka bertatapan sekilas, Daphne mengangkat sebelah alisnya, lalu berpaling pada Carlos lagi. Jelas dia tidak mengenali Miles dan menganggap Miles hanyalah satu dari sekian banyak pengagum.

Miles berjengit dengan pikiran ini. Dia butuh minuman yang lebih berat.


Pesta makin malam makin meriah. Pansy merasakan mulai mabuk berat setelah menenggak firewhiskey dari Cho tadi. Dia berdansa heboh bersama Mandy, Cho, Marietta,.Matt Allen, Jake Price, dan cowok quidditch lainnya. Applebee bergabung dengan mereka. Lalu Terry Boot, yang Pansy tahu naksir dia. Terry memberi Pansy senyum luar biasa lebar, meraih pinggangnya, menggoyangkan mereka berdua.

Pansy merasakan darahnya, adrenalinnya, atau entah apa yang mengalir di tubuhnya, menggelegak luar biasa. Sentuhan Terry, dan Applebee, dan cowok lain, membuatnya entah mengapa sangat bersemangat. Tubuhnya terus bergoyang, berdansa penuh sensual seperti yang biasa Daphne lakukan (Dan Harry lakukan jika Draco sedang tidak melihat. Pansy merasa bodoh mengingat ini. Tentu saja Draco tak pernah suka melihat Harry memamerkan tubuhnya pada pria lain! Pansy tak pernah benar-benar memikirkan ini, karena Draco juga selalu mencela Daphne karena ini..tapi kalau Pansy sungguhan mau mengingat, yang benar-benar Draco lindungi dari mata pria lain hanyalah Harry!).

Pansy mengangkat tangannya, menggoyangkan pinggangnya, merasakan napas memburu Terry di depannya. Merasakan Mata cowok-cowok itu menatapnya lapar. Perut Pansy serasa diterbangi kupu-kupu, cairan mengalir deras membasahi celana dalamnya...

Pansy merasakan tubuhnya panas, menarik leher Terry, lalu mencium cowok itu luar biasa mesra.

Ciuman pertamanya.

Oh.

Oh.

Sungguh luar biasa. Terry membalas ciuman Pansy tanpa jeda, mendekap Pansy, melumat bibir Pansy habis-habisan, membuat jantung Pansy serasa mau copot...

Astaga ternyata begini rasanya berciuman. Begitu menggairahkan...

Pansy mengeluarkan suara desahan yang membuat Terry mundur sejenak, matanya berkabut saat menatap Pansy.

"Parkinson, aku..."

Tapi Pansy tak membiarkannya mengatakan apapun. Dia menarik kepala Terry lagi, membenturkan bibir mereka, dan mereka kembali bergelut dalam ciuman penuh nafsu...


"Boleh aku minta air?"

Miles menoleh cepat, kaget saat melihat Daphne berdiri di sebelahnya, bicara pada si prefek Ravenclaw. , napasnya terengah, jelas dia sudah mulai mabuk dan habis menikmati dansanya. Miles sejak tadi hanya duduk meratap di kursinya, menolak menatap pasangan itu, merana, membuat Evan akhirnya meninggalkannya setengah jam yang lalu untuk mengobrol dengan cewek cakep kelas 3 (rupanya kebenciannya pada Ravenclaw tidak meliputi cewek yang bisa dikecengin).

Si prefek Ravenclaw mengangguk, wajahnya merona karena di ajak bicara oleh cewek secantik Daphne Greengrass. Mungkin saking gugupnya, cowok itu melemparkan botol air kecil ke Daphne, seperti jika cowok-cowok yang meminta air padanya. Daphne, tak pernah menerima lemparan apapun seumur hidupnya mungkin, membelalak kaget, mengangkat tangannya untuk menutupi wajahnya...

Syut.

Miles menangkap botol itu gesit. Memelototi si cowok prefek yang menatap horor Daphne.

"Maafkan aku!" Cicit cowok itu.

Miles jelas tak bisa menerima itu. "What the fuck?!" Bentaknya, meletakkan botol air itu di atas meja. "Kau harusnya tahu untuk tidak melempar pada cewek! Kau pikir dia siapa?! Chaser?!"

Si prefek tergagap, wajahnya merah padam. "Maaf, aku tidak..."

"It's okay," kata Daphne cepat, menatap sekeliling, jelas berharap tak ada yang mendengar mereka. Untungnya musik sangat keras. Dia menatap Miles tak yakin. "Em, trims," katanya. "Dan aku tak ingat pernah melihatmu sebelum ini. Kau bukan salah satu dari Weasley kan?"

Miles memberi pelototan terakhir pada si prefek, lalu menatap Daphne. Wajah cantiknya tampak bertanya-tanya. Miles hanya mengangkat bahu, lalu kembali duduk untuk minum. Daphne mengangkat sebelah alisnya, masih menatap Miles. Menatap pundaknya, turun ke tubuhnya. Miles nyaris berjengit. Dia tak ingin Daphne mengapresiasi dirinya yang sedang menyamar sebagai orang lain...

"Wanna dance?" Tanya cewek itu lagi, membuat Miles menoleh cepat, menatapnya syok..Daphne nyengir kecil. "Satu dansa sebagai ucapan terimakasih karena sudah menyelamatkan wajahku? Aku tahu kau bolak balik menatapku sejak tadi..."

Miles kembali terpana. Selalu terpana pada betapa percaya dirinya Daphne...

"No," jawab Miles akhirnya, mengangkat bahu. "Kau punya kencan."

Daphne tertawa. "dia sudah teler parah, padahal dia minum lebih sedikit dari aku," katanya, memutar bola matanya. "Ayolah. Satu dansa tak akan melukai siapapun." Tangan Daphne menyentuh lengannya pelan, Mata mereka saling bertatapan.

Miles tak tahu apa yang cewek ini harapkan. Apa yang dia incar.

Dan dia heran kenapa dia masih saja berada di sini, berharap...

Miles akhirnya berdiri. Daphne nyengir berpuas diri, berjalan duluan ke lantai dansa. Miles mengikutinya.

Miles meletakkan kedua tangannya di pinggang Daphne, sekali lagi teringat saat pesta dansa Dua tahun yang lalu. Dia dan Daphne sama-sama tak menikmati dansa mereka saat itu, tapi sekarang berbeda. Miles merasakan jantungnya berdebar menyenangkan saat lengan Daphne melingkari lehernya...

Mereka berdansa pelan, bergoyang pelan di tengah-tengah manusia yang melompat dan berjingkat girang. Mereka saling tatap. Miles bisa melihat Daphne tampak senang, matanya berkilat geli entah karena apa...

"So..." Cewek itu memulai. Miles menatapnya menunggunya melanjutkan. "Feeling nostalgic?"

Miles mengernyit bertanya. "What?"

Daphne terbahak. "Kau yang hanya diam, dan aku yang berharap kau melakukan sesuatu?" Dia memberi petunjuk.

Miles membelalak.

Daphne kembali tertawa, lalu, tanpa kata lagi, menarik leher Miles, dan mencium cowok itu luar biasa mesra.


Pansy dan Terry menguasai satu sofa, bergelut penuh birahi. Tangan Terry mengusap punggung cewek itu, bergerak naik, meremas payudaranya...

Ohhh... Betapa nikmatnyaaa...

Pansy tak pernah merasakan hal seperti ini. Nafsu seperti ini...

"Parkinson!" Terry terkesiap, tampak berusaha mengendalikan dirinya. "Pansy, hei, kau... Kau mabuk parah yeah? Kurasa sebaiknya Kita berhenti..."

Pansy tak bisa mendengar alasan. Dia berusaha meraih Terry lagi, tapi cowok itu mengelak.

"Pansy, please, aku berusaha..." Dia menarik napas dalam. "Please, tunggu di sini yeah? Aku akan mengambilkan air putih supaya kau tidak..." Dia menelan ludah, lalu berjalan ke arah bar...

Meninggalkan Pansy yang duduk sendiri.

Panas... Tubuhnya panas...

"Yo Parkinson! Akhirnya bisa lepas juga dari..." Tapi Applebee, yang mendadak muncul dan duduk di sebelah Pansy, tak pernah menyelesaikan kalimatnya karena bibir Pansy keburu menemukannya. Dia mencium cowok itu dengan nafsu yang seolah menghajarnya habis-habisan. Applebee tampak sangat kaget, tapi lalu membalas ciuman Pansy dengan penuh semangat.

Sementara itu, Terry menatap pemandangan ini di bar dengan sangat syok. Dia hanya berdiri terpaku, membawa botol air minum, menatap Pansy yang hanya semenit dia tinggalkan dan sudah bergelut dengan pria lain...

"Kau menjebakku! Itu intinya!"

Terry menoleh, melihat Daphne Greengrass berjalan dengan cowok berambut merah, yang jelas bukan Alex Carlos. Terry tergagap. Apa ini semacam tren di Slytherin? Mendepak cowok dengan begitu mudahnya?!

"Aku tidak menjebakmu! Aku tidak tahu bahwa cowok aneh nerdy rambut merah itu adalah kau sampai kau dengan heroic menangkap botol itu," tandas Greengrass. "Miles, aku kenal kau! Kau Kira bisa mengelabuiku dengan wig dan kacamata? Aku mungkin bukan pemain Quidditch, tapi aku tahu bagaimana caramu menyelamatkan gawang. Aku hafal bentuk pundakmu. Bagaimana kau duduk. Dan kau bahkan tak mengubah warna matamu, for Merlin sake!"

Si cowok rambut merah, yang sepertinya adalah Miles Bletchley yang menyamar, kalau Terry menangkap maksud percakapan mereka, hanya mengernyit, lalu duduk di salah satu kursi bar. Greengrass duduk di sebelahnya, tampak sangat geli dengan situasi ini.

"Firewhiskey lagi," tandas Bletchley pada prefek kelas 5 Darren Brown. Lalu dia menatap Greengrass lagi. "Kau senang kan? Girang karena aku berhasil mempermalukan diriku sendiri?"

Greengrass memutar bola matanya. "Tentu saja kan? Aku senang karena dengan ini, aku tahu bahwa kau masih peduli padaku."

Bletchley tergagap. "Aku selalu peduli padamu!" Protesnya.

Greengrass bersedekap. "Miles, Dua kata: Redival Foster."

Bletchley mengernyit. Dia mau mengatakan sesuatu, tapi jelas tak punya argumen untuk melawan Greengrass. Cewek itu kembali memutar bola matanya, lalu berpaling dari Bletchley, dan bertatapan dengan Terry.

"Boot, hei! Tak kuduga kau bisa melepaskan diri dari ciuman panasmu dengan Pansy," katanya, nyengir sambil mengangkat-angkat alisnya menggoda.

Terry mendengus, duduk di kursi di sebelah cewek itu. "Aku dan Parkinson hanya masa lalu," tandasnya. Melihat tatapan bingung Greengrass, dia mengedik ke arah Pansy yang sedang bergelut penuh nafsu di sofa dengan Applebee, tangan cowok itu secara mencurigakan sudah masuk ke dalam gaun Pansy.

Terry merasakan marahnya menggelegak tak tertahankan. Dia menggertakkan giginya, lalu meminta firewhiskey pada Brown, melihat bahwa rahang Bletchley dan Greengrass sama-sama terbuka lebar, jelas kaget melihat aksi liar teman mereka.

"What the..."

"Apa yang dia lakukan?!" Pekik Greengrass syok. "Dengan Applebee lagi!"

Terry mendengus. "Mungkin aku tidak memberinya ciuman yang hebat..."

"No!" Desis Greengrass. "Kau tidak mengenal Pansy. Dia bukan cewek seperti itu!"

Bletchley mengusap rambut merahnya. "Kau mau kita menginterupsi mereka?" Tanyanya.

Greengrass menggigit bibirnya. "Bagaimana kita melakukan itu? Pansy sedang sangat benci padaku. Dia malah akan Makin marah..."

"Kurasa dia mabuk berat," kata Terry, mengernyit menatap Applebee yang bangkit berdiri, menggendong Pansy yang melingkarkan kaki ke pinggang nya, masih tak melepaskan mencium cowok itu.

"Tak mungkin. Pansy bukan tipe yang makin mabuk makin liar," kata Greengrass, nadanya mulai cemas saat melihat kemana arah Applebee membawa Pansy. "Dia akan mengajak Pansy naik?!"

Bletchley bangkit. "Kurasa kita harus menginterupsi ini, Daph..."

"No," Greengrass menggeleng, menatap Bletchley. "Draco. Cuma Draco yang punya hak suara untuk mengatur-atur. Ayo kita panggil dia."

"Astaga," Terry membelalak saat melihat Anthony dan Michael dan Matt... "Mereka... Greengrass, lihat..."

"What..."

Bletchley jelas punya pikiran horor yang sama dengan Terry, mereka bertukar pandang tak percaya.

"Daphne, mereka akan menggilir Pansy!"


Draco masuk ke ruang rekreasi setelah selesai mengerjakan pr di perpus, langsung melihat Harry yang sangat bersemangat menulis di perkamennya yang luar biasa panjang.

"Apa dia sedang menulis novel?" Tanyanya pada Blaise, yang berjalan di sebelahnya. Blaise melihat arah pandangnya.

"Surat? Untuk Graham mungkin?" Blaise nyengir, berjalan naik ke atas.

Draco menghampiri Harry, yang cemberut saat melihatnya duduk di sebelahnya.

"Hai love, lagi ngapain?" Tanya Draco, berusaha mengintip, tapi Harry buru-buru menutupinya, menggulung perkamennya

"Jangan panggil aku love" tandas Harry, jelas masih kesal dengan pertengkaran mereka tadi pagi.

Draco memutar bola matanya. "Kau tak masalah kupanggil begitu saat aku menciummu tadi malam. Apa aku harus menciummu lagi untuk mengingatkanmu?"

"Ha ha ha," kata Harry datar. "Very funny. Aku sibuk, Draco, get lost."

Tapi Draco tidak mendengarkan karena melihat tulisan tangan Harry menulis namanya. Satu, dua... Harry berusaha menjauhkan perkamennya lagi, tapi Draco lebih cepat. Dia menggelitik pinggang Harry, dan saat Harry tertawa dan menggeliat, berhasil mengambil perkamen itu.

Dear Marcus,

Kau tak akan percaya apa yang terjadi padaku! Aku marahan dengan Pansy karena Draco. Setelah bertahun-tahun berusaha menutupi, dan dia menciumku di depan semua orang..aku sudah menonjoknya sekuat tenaga. Tapi dia masih saja mendekatiku. Aku berharap kau di sini dan menonjoknya untukku...

Draco menatap Harry penuh horor.

"Kau mengadu pada Marcus?!"

Wajah Harry merona, merebut kembali perkamennya. "Kenapa memangnya? Itu akan membuatmu kapok kan?"

Draco tergagap, tapi saat akhirnya menguasai dirinya, dia merebut balik perkamen itu, dan berlari ke arah perapian. Harry melompat ke atas punggungnya, berusaha menghentikannya. Draco berusaha melepaskan diri, tapi Harry mencengkeram tangannya kuat. Draco menyeret tubuhnya, menjauhkan Perkamen itu dari jangkauan Harry...

"Harry! Draco!" Daphne yang masuk ke ruang rekreasi tampak terengah,.Miles di belakangnya. Dia berhenti sejenak, tampak heran dengan posisi Harry dan Draco yang aneh. "Apa yang sedang kalian lakukan?"

"Draco merebut suratku!"

"Dia menulis Surat mengadu pada Marcus!"

"Lagian, penyamaran akhirnya ketahuan Miles?"

"Mana Evan?! Kalian tidak meninggalkannya sendirian di sarang manusia-manusia dingin itu kan?!" Draco melotot garang.

Daphne dan Miles tampak tertegun sejenak, tapi Daphne segera menguasai diri.

"Itu tidak penting!" Tandasnya cepat. "Harry, Pansy didekati oleh Applebee!"

Harry mengerjap, lalu mengernyit. "Well, aku tak tahu kenapa kau mengadu padaku. Pansy manusia bebas..."

"Applebee membawanya naik ke kamarnya, Harry!"

Harry melongo. "Dan pansy mau?!"

Miles mengusap rambutnya sendiri ke belakang, tampak gugup, menatap Draco. "Dia... Kurasa Applebee membawa teman."

"Hah?"

"Membawa teman-temannya. Cowok-cowok tim Quidditch Ravenclaw. Naik ke kamarnya. Bersama Pansy."

Draco ternganga. "What?!"

Harry mengernyit. "Dan... Jadi apakah... Apa yang..." Dia tidak terlalu mengerti.

Draco tampak masih sangat syok. Dia menatap Harry penuh ketakutan. "Pansy... Harry, Lima lawan satu..."

Harry merasakan jantungnya berhenti berdegup.


Bersambuuung

Hai guys ketemu lagi! Maaf baru sempat update, tapi chapter ini super panjaaang, nysris 10k words loh, jadi kuharap bisa menjadi pengobat kangen kalian.

Next chapter adalah yang terakhir (mungkin).

Please please masih pada mau reviews Kan?

Love you guys sooooo much muaachh