Disclaimer : I do not own Naruto
Sejak berhasil menyempurnakan jutsu terlarang, Orochimaru tidak lagi takut pada kematian. Ia abadi, kekal, dan akan terus bertahan hidup di dunia ini selagi orang yang telah ia cap dengan curse mark masih ada. Tak perlu banyak orang, satu pun cukup. Curse mark yang ia ciptakan dari ribuan eksperimen yang melibatkan chakra alam—senjutsu—berhasil mengantarkannya pada pintu keabadian. Ia takkan punah. Jiwanya telah terpaku pada semesta. Eksistensinya takkan hilang.
Orochimaru tak lagi takut pada kematian—hingga makhuk asing ini mengingatkannya pada mimpi buruk tersebut.
"Kau pikir seranganmu cukup untuk mengalahkanku?!" raung Momoshiki dalam raga Sakura. Tangannya terulur menghadap sang lawan, Orochimaru, secara langsung. Rinnegan berwarana keemasan terbuka lebar dari sana, bersiap menciptakan bola chakra raksasa yang dapat meluluhlantahkan sepenjuru area di sekitar mereka. "Jangan harap, Ular! Posisimu bahkan jauh lebih rendah dibandingkan Rubah itu! Jangan harap kau bisa mengalahkanku!"
Sepuluh kali sudah ledakan setara bijuu-dama dilontarkan. Sepuluh kali pula Orochimaru terkena cidera akibar ledakan tersebut.
Berdecih pelan, sang Sannin Ular mengerling ke sisi kanan dan kirinya. Ia melihat summon kesayangannya—seekor ular putih raksasa—telah tergelepar tak berdaya. Kemampuan pergantian kulit ular tersebut terhenti akibat tusukan puluhan bilah hitam yang telah dimodifikasi dengan racun letal. Si ular juga telah mencapai batasnya setelah terus menerus memaksakan diri untuk melindungi sang tuan dari rentetan ledakan super besar.
Kerugian Orochimaru tak hanya sampai di sana. Hal tersebut dapat dilihat dari ketiga anak buah yang tak lagi berdaya. Jugo telah terlempar beratus-ratus meter dari sini sedangkan Suigetsu dan Karin telah tergeletak akibat serangan bertubi-tubi yang tak dapat diikuti oleh refleks tubuh mereka. Rantai chakra Karin memang sekuat para Uzumaki, tetapi kemahirannya dalam bertarung masih sangat kurang dibandingkan dua Uzumaki lain yang dikenal Orochimaru.
Untuk Suigetsu, ia memang sempat bertahan lebih lama dibandingkan dua patnernya yang lain. Suigetsu mampu menghindari bilah hitam itu dengan baik melalui teknik transformasi diri. Ketika Momoshiki menyerangnya menggunakan bilah beracun, Suigetsu telah lebih dulu mengubah dirinya menjadi air. Ia melebur ke dalam tanah dan akan kembali muncul beberapa saat setelahnya.
Namun, meskipun mampu menghindar, kemampuan yang demikian tidaklah cukup. Suigetsu mungkin mahir dalam menghindar, tapi skala kekuatannya berbanding jauh dari Momoshiki. Ia takkan bertahan dalam pertarungan ketika dirinya tak mampu mendaratkan serangan. Kekuatannya terbuang sia-sia hanya untuk pertahanan diri. Dalam waktu singkat, energinya habis. Ia lengah dan gagal menghindari serangan lain yang didaratkan.
Orochimaru sudah cukup memprediksi keadaan ini. Ia tahu betul bahwa ketiga anak buahnya bukan tipe petarung garis depan. Mereka bukan shinobi pengusung misi. Kemampuan mereka berguna untuk kepentingan penelitian, tetapi tidak untuk kepentingan pertarungan semacam ini—dengan kekuatan lawan yang setara dengan Bapak Shinobi itu sendiri...
Berbicara tentan kekuatan, teknik andalan Orochimaru adalah edo tensei.
Tapi, tampaknya seluruh jiwa shinobi legendaris telah dibangkitkan sehingga Orochimaru tak mampu memanggil mereka.
Orochimaru menahan senyuman jengkel.
Seharusnya kau menyisakan Shodaime untukku, Kakashi.
"Waktuku untuk meladenimu sudah habis. Aku harus segera menyelesaikan kepentinganku. Untuk sekarang, matilah!"
Bola kemerahan dari tangan Momoshiki membesar hingga seukuran tiga buah gedung pencakar langit. Besarnya bola ledakan membuat tanah—yang telah porak-poranda—kembali tergerus. Angin kencang tercipta. Pepohonan dipaksa tumbang karena tekanan dari benda tersebut.
Di tengah kegelapan malam yang hanya dihiasi sinar rembulan, bola ledakan ciptaan Momoshiki bersinar terang. Orochimaru dapat merasakan sakit yang akan menerpanya hanya dengan menatap. Pedang kusanagi dalam tubuhnya takkan dapat mengimbangi kekuatan mentah sebesar itu. Tubuh ularnya juga takkan memberi bantuan apa pun. Dengan jangkauan ledakan yang amat luas, Orochimaru takkan dapat menghindar dengan mudah.
Aku mungkin takkan bisa menghindar.
Tubuhnya memang masih bisa dibangkitkan selagi Anko aman.
Namun, apakah wanita itu aman? Lagi pula, biskah ia bertahan di medan perang? Jika Momoshiki sudah sampai ke Konoha, keadaan sudah pasti tak dapat dikategorikan aman, bukan?
Sejauh ini Orochimaru telah berhenti menandai orang dengan curse mark. Bukan hanya karena ketiadaan shinobi muda yang dianggap potensial, tetapi juga karena Sasuke melarangnya. Pergerakan Orochimaru tak pernah luput dari pantauan sang Uchiha. Ia mungkin takut jika Orochimaru menyematkan tanda tersebut di diri putrinya. Orochimaru masih belum dipercaya Sasuke secara penuh.
Sial, padahal aku masih ingin melihat dua putra Sasuke-kun yang baru dilahirkan.
Lompatan mundur Orochimaru masih belum bisa menjauhi bayangan bola ledakan tersebut. Awalnya, ia berencana mengalihkan perhatian Momoshiki selagi menunggu bala bantuan. Beberapa saat lalu, Shikamaru memberitahukan bahwa Kakashi dan para edo tensei Uchiha telah mendarat di dimensi ini. Mereka sedang dalam perjalanan kemari setelah menyelesaikan urusannya dengan Urashiki.
Jadi, kenapa mereka begitu lama?
Menurut laporan pula, tewasnya Urasihiki telah melemahkan kekuatan Momoshiki Utama yang sedang dilawan Sasuke. Harusnya lelaki itu bisa menghabisi sang makhluk asing dengan cepat, bukan? Dia bahkan bertarung bersama Madara.
Ekspresi congkak Orochimaru telah lebur bersamaan dengan pemikiran bahwa ia akan mati di sini. Dalam keputusasaan, Orochimaru meraih tubuh Karin dan Suigetsu dan melemparkannya menjauhi jangkauan ledakan.
Tsunade akan berpikir bahwa ia telah melembut.
Aku hanya ingin memastikan bahwa mereka akan kembali membangkitkanku kalau aku mati.
Di depan sana, bola merah tersebut mulai memijarkan sinar yang amat menyilaukan. Orochimaru menyipitkan mata. Pun berdecih. Kematian untuk ke sekian kali mungkin bukan lagi masalah untuknya. Tapi, rasa sakit yang dirasakan begitu tak terperi. Ia sangat tidak ingin kembali merasakannya.
Mata keemasan mengerjap. Sinar menyilaukan itu masih menerpa—menusuk mata. Orochimaru merasakan dengingan familier di telinga, diikuti oleh hawa panas membakar yang membuat kulitnya melepuh. Melalui sudut pandangnya, segala hal melambat. Entah itu ledakan cahaya, gerakan tubuh yang terlempar, ataupun rasa sakit di tiap inci kulit yang mulai terasa.
Meskipun kekal, Orochimaru tak dapat beregenerasi layaknya Naruto. Chakra Uzumaki yang ia ambil dari diri Karin tak berfungsi seoptimal chakra Uzumaki yang dimiliki oleh Uzumaki sendiri.
Riwayat Orochimaru telah tamat.
Kapan terakhir kali ia berjuang demi Konoha?
Aku akan kembali dibangkitkan.
Tapi, sial, sekarat memang sangat menyakitkan.
Apakah Naruto bisa selamat?
Seluruh tubuhnya kebas akibat efek ledakan. Ia terbakar secara harfiah. Tubuhnya mungkin telah gosong, kulitnya mungkin terkelupas.
Masa bodoh, Orochimaru tak terlalu peduli.
Ia hanya merasakan sesak yang menerpa dada, diikuti oleh suara gedebuk dan pandangan yang menggelap.
Kala itu, kesadaran mulai meninggalkan tubuhnya. Ia telah siap untuk meregang nyawa. Ia telah siap untuk kembali menemui ajal. Usahanya jelas-jelas masih kurang. Ia masih harus mengulur waktu hingga bala bantuan datang. Meskipun tak ingin mengakui, ia tetap mengkhawatirkan Naruto, mengkhawatirkan Sasuke yang mungkin akan memilih untuk mengakhiri hidupnya jika kembali mendapatkan fakta bahwa Naruto telah meninggalkan dunia ini untuk kedua kali.
Dibandingkan dengan Tsunade dan Jiraiya, ia memang yang terpayah, bukan?
Rasa sesal yang tak pernah lagi ia rasakan tiba-tiba kembali hadir. Emosi ini begitu asing dan mengganggu. Sesaknya napas seolah bukan lagi dikarenakan efek serangan yang ia dapat, tetapi karena rasa sesal tersebut.
Apakah ia memang benar-benar telah melembut?
Orochimaru tak ingin mengakui, tetapi ketika rantai chakra kemerahan melecut di depan sana, diiringi oleh kilatan keemasan surai panjang seseorang, ia tak dapat menyangkal rasa lega yang memenuhi rongga dada.
Hela napas terakhir Orochimaru ternyata tak begitu sia-sia karena waktu yang diulurnya sudah cukup untuk Uzumaki Naruto.
oOo
Sepanjang hidupnya, Momoshiki tak pernah membayangkan bahwa musuh utamanya—makhluk yang sangat dibenci olehnya—adalah seorang manusia.
Bagi Momoshiki, manusia terlalu rendah untuk mendapatkan kebencian dan kemurkaan darinya. Mereka tak pantas untuk sekadar pendapatkan perhatian. Itulah mengapa ia mengabaikan keberadaan mereka.
Eksistensi mereka tidak penting.
Hingga kemudian berbagai malapetaka yang hadir dalam hidupnya—semuanya—dikarenakan oleh makhluk itu. Mulai dari mereka yang memengaruhi Kaguya, mereka yang menghalanginya kembali mendapatkan buah chakra, hingga mereka yang mengalahkannya.
Secara tidak sadar, kebencian tersebut mulai berkembang dalam dirinya, membuatnya menaruh perhatian lebih pada mereka—makhluk yang jauh lebih rendah dari para budaknya terdahulu, kelompok orang yang tentunya ia perlakukan dengan sesuka hati.
Momoshiki muak pada manusia—pada makhluk yang mengalahkannya lebih dari sekali.
Itulah kenapa ia repot-repot bertindak sejauh ini. Mereka perlu kembali diingatkan pada kelemahan-kelemahannya, pada fakta bahwa yang pantas berkuasa di dunia ini hanyalah ia seorang.
Ia ditakdirkan untuk menang.
Perang ini adalah manifestasi dari kemenangannya.
Jadi, kenapa keinginan utamanya belum juga tercapai?
Kenapa ia masih harus berdiri di tanah sial ini dan menghadapi lawan yang sama untuk ke sekian kali?
Uzumaki Naruto telah meninggal akibat racun letal yang siap untuk meledakkan seluruh pembuluh darahnya.
Uzumaki Naruto telah meninggal begitu ia merenggut salah seorang yang amat berharga untuknya.
Harapan dalam diri itu harusnya telah padam. Jadi, kenapa ia kembali melihatnya? Kenapa ia kembali melihatnya berdiri dengan tegap?
Telapak tangan Momoshiki mengepal erat. Genggaman tangannya pada tongkat hitam yang ia bawa tampak mengencang.
Melihat makhluk rendahan ini membuat darahnya mendidih. Panas di dadanya serasa membakar. Ia menatap Naruto nyalang dan memukulkan tongkat ke atas tanah, seketika menciptakan embusan angin besar yang mampu melemparkan sisa-sisa pepohonan yang telah tumbang.
"Kau benar-benar Monster Rubah Keparat!" raungnya marah.
Ia berdecih jijik selagi mengamati transformasi diri sang lawan, memperhatikan tubuh yang hanya berbalut perban serta onggokan kain yang telah ternoda tanah dan darah. Pakaian Naruto tampaknya telah rusak sepenuhnya dan perban yang membalut dada digunakan untuk menutup luka sayatan bekas pengobatan pengeluaran racun. Ia masih kelihatan pucat. Namun, mata merah berpupil vertikal itu mengubah segalanya. Diikuti dengan dua telinga rubah di atas kepala serta gigi taring yang meruncing. Jika diperhatikan lebih seksama, Momoshiki dapat melihat kuku jemari Naruto yang memanjang.
Memikirkan fakta bahwa Uzumaki Naruto mencoba bertahan hingga kembali menyerahkan tubuhnya pada roh iblis kuno itu benar-benar membuat Momoshiki muak.
Meskipun sempat merasakan kehadiran Naruto, tapi roh rubah itu memang benar-benar menyembunyikan aura eksistensinya.
Jika Momoshiki menganggap dirinya dewa, maka roh rubah ini memiliki posisi yang setidaknya cukup setara dengannya.
Menjengkelkan.
"Tubuhmu takkan dapat menampung kekuatan roh itu. Kau tetap akan mati jika memaksakan diri untuk bertarung menggunakan kekuatannya."
Kalimat Momoshiki tidak digubris.
Naruto hanya menatapnya pasif selagi bersiap untuk menyerang. Ia melambaikan tangan guna mengontrol sembilan julur chakra rantai kemerahan yang bersumber dari pinggangnya. Chakra rantai tersebut melecut lurus ke arah Momoshiki, menyerangnya langsung dari depan, seolah Naruto sama sekali tak memiliki taktik serangan tersembunyi.
"Yang perlu kulakukan sekarang hanyalah membunuhmu. Kau tak perlu mengkhawatirkan keadaanku, Momoshiki."
Ucapan yang terdengar dari mulut Naruto begitu pasif tanpa sedikit pun emosi. Aura diri Naruto berubah secara penuh. Tubuhnya bahkan dilingkupi chakra kemerahan, bukan lagi kebiruan atau jingga—chakra yang biasa dihasilkan oleh dirinya sendiri ataupun oleh sang rubah chakra, Kurama.
Sosoknya yang sekarang bukan keduanya.
"Kau merusak dan merenggut segala yang kupunya. Sekarang, aku benar-benar akan menyelesaikannya."
Momoshiki tak diberi kesempatan untuk menjawab. Naruto mengeluarkan chakra rantai dari telapak tangan dan menggunakannya sebagai pecut. Teknik bertarung melawan Momoshiki adalah taijutsu, bukan lagi ninjutsu. Ia telah menanamkan informasi tersebut dalam ingatannya selagi mulai bergerak melawan sang makhluk asing.
Kecepatannya meningkat jauh dari beberapa saat lalu. Alih-alih kehabisan tenaga, Naruto bergerak seolah ia sedang berada dalam kondisi prima. Rasa sakit di sekujur tubuh sama sekali tak terasa. Padahal, beberapa saat lalu ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya barang sedikit pun, berbeda dengan sekarang.
Serangan yang begitu terang-terangan membuat Momoshiki geram. Ia meloncat menjauhi rantai-rantai chakra yang mengejarnya. Serangan beruntut berupa bola ledakan yang tadi ia luncurkan pada Orochimaru membuatnya tak bisa menciptakan bola ledakan lain dalam waktu dekat. Jujur saja, Orochimaru cukup membuat ia kewalahan sehingga terpaksa menggunakan teknik-teknik besar itu. Pola pertarungan tanpa serangan ofensif ini membuatnya jengkel, terlebih dengan Naruto yang mampu bertarung dalam jarak dekat ataupun jauh.
Terkutuklah roh rubah kuno yang turut memberi sokongan kekuatan untuk Naruto.
Momoshiki bersalto di udara selagi bersiap membuka portal dimensi. Ia meloncat ke dalam sana dan memunculkan diri tepat di belakang Naruto. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat pertahanan Naruto menurun. Ia terkena hantaman di bagian rahang. Tubuhnya terdorong mundur. Mata merah rubahnya membeliak. Respon tersebut membuat Momoshiki menyeringai puas. Ia melancarkan serangan lain, kali ini dengan bilah hitam kesayangannya.
Tangan berupa tinju diarahkan lurus ke depan perut Naruto sedangkan tangan yang lain berada di samping lehernya, terbuka—bersiap menancapkan bilah hitam tepat ke leher lawan.
"Menyerahlah, Rubah!"
Di tengah hentakkan tangan, Momoshiki merasakan pergelangan tangannya kaku. Secara tiba-tiba, ia tak dapat menancapkan bilah yang sudah berjarak beberapa mili dari leher Naruto. Keterkejutan menyergapnya. Ia mengerling, menatap pergelangan tangan yang telah dililit oleh rantai chakra kemerahan.
Mulutnya mengatup, menahan geraman murka.
Ketika bertatapan dengan mata merah delima, rasa sakit yang tak terperi datang dari pukulan yang dilontarkan Naruto di rahangnya. Momoshiki terdorong ke samping. Sebelah tangannya terangkat secara refleks untuk melindungi wajah ketika hantaman lain menyusul. Ia menggertakkan gigi dan menciptakan bilah-bilah hitam di tempat Naruto berdiri. Hal tersebut membuat Naruto melompat menjauhinya, memberinya jarak.
Pertarungan di detik selanjutnya semakin tak dapat diikuti oleh indra penglihat biasa. Momoshiki meluncur ke arah Naruto, tongkat hitam yang dipegangnya berubah menjadi sabit besar berwarna kemerahan—serupa dengan warna rantai chakra Naruto. Sabit tersebut diayunkan ke tengah tubuh Naruto. Ia meleset setelah Naruto menancapkan rantai chakra ke dalam tanah dan menarik dirinya menjauh menggunakan rantai tersebut. Di tengah perjalanan meluncur, Naruto bermanuver sedemikian rupa hingga ia tiba tepat di belakang Momoshiki.
Keberadaannya di belakang sana belum sempat terdeteksi kala ia melayangkan sabetan kaki di punggung lawan. Kuatnya sabetan membuat tubuh Momoshiki terlontar hingga sekian puluh meter. Ia kewalahan dalam mengimbangi taijutsu Naruto dan berbagai bunshin-nya. Menggunakan empat buah cloning, Naruto melakukan serangan dengan amat akurat dan cepat. Ia mengepung Momoshiki dengan mudah dan menahan pergerakannya dengan rantai-rantai chakra.
Kilat emosi sama sekali tak terlihat di ekspresi ataupun sorot mata Naruto. Ia terus bergerak hingga kunai pungutannya berhasil mengenai rinnegan di telapak tangan Momoshiki.
Raungan marah Momoshiki menggema di tengah kegelapan malam. Embusan angin besar menerpa. Lilitan chakra rantai di tangan dan kakinya sedikit retak. Momoshiki menghentakkan kedua tangan di atas tanah selagi merapalkan nama jurusnya.
Tanah yang ditapak oleh mereka tiba-tiba bergemuruh hebat. Tak selang beberapa lama, tiga ekor naga chakra berwarna putih muncul. Mereka menggigit chakra rantai yang melilit diri Momoshiki. Kekuatan rantai yang begitu besar membuatnya tetap utuh meski telah digigit dengan keras. Alih-alih putus, para naga hanya mampu menarik sumber chakra tersebut. Rantai chakra yang tersambung dengan diri Naruto membuatnya ikut terhempas di udara seiring dengan kuatnya tarikan para naga.
Tanpa keberadaan Kurama, Naruto tak bisa menciptkan chakra rubah. Momoshiki tahu betul pola bertarung sosok ini. Ia tahu, dengan mengeluarkan teknik andalannya, nasib Naruto telah ditentukan. Kemenangan akan didapat Momoshiki dan wanita itu akan menemui ajal.
Keinginan untuk bermain-main tak lagi dirasakan Momoshiki. Ia kini bertarung dengan serius. Para naga tersebut ia perintahkan untuk mengincar Naruto selagi ia meloncat ke atas tubuh mereka. Duduk tepat di leher naga, Momoshiki menciptaka magma panas untuk disemburkan oleh makhluk ciptaannya.
Naruto tengah bersimpuh di depan sana. Rantai chakra menari-nari sedangkan keberadaan para bunshin telah menghilang. Pancaran chakra kemerahan di tubuhnya sudah meredup, tak lagi seterang tadi.
Kesepatan Momoshiki untuk membunuh Naruto sedang terbuka lebar.
"Pergilah ke neraka, Jalang!" serunya keras.
Momoshiki mengayunkan tangan untuk memberi perintah pada para naga. Ia menyipitkan mata kala semburan magma meluncur lurus ke arah Naruto berada. Panasnya menimbulkan asap pekat dan membuat tanah-tanah tergerus. Binar kepuasan meliputi manik keemasan Momoshiki. Namun, hal tersebut tak bertahan lama. Sarat waspada tampak dalam sorot matanya ketika ia melihat sebuah barrier kemerahan hadir melingkupi diri Naruto.
Pembatas itu menyerupai kubah. Kekuatannya mampu menghalau ledakan besar magma tersebut.
Rasa muak kembali menyergapnya. Momoshiki melancarkan serangan membabi buta untuk menghancurkan pembatas itu. Kekuatan yang telah pulih membuatnya mampu menciptakan bola ledakan lain sebanyak yang ia mau.
Kala itu, Naruto hanya diam dalam pembatas. Ia masih bersimpuh. Kedua tangannya menekan tanah, menatap tetesan darah yang jatuh mengotori punggung tangannya. Darah itu berasal dari hidung, mengalir tanpa henti, seiring kekuatan yang ia pusatkan pada pembatas yang melindunginya. Kesembilan chakra rantai telah terkubur di dalam tanah, membuat pondasi kuat untuk barrier.
Ia mengernyitkan dahi selagi menggertakkan gigi. Kuku-kuku runcing di jemarinya semakin tertancap ke dalam tanah, menggerusnya. Manik matanya berganti-ganti dari warna merah delima ke warna safir. Kepalanya berdentum-dentum. Rasa sakit familer di tiap inci kulitnya kembali dirasakan setelah sekian lama.
Napas Naruto tersendat.
Di luar sana, Momoshiki kembali memberikan ledakan kuat yang mampu menghanguskan hutan.
Naruto terbatuk. Mulutnya kini merasakan cairan kental beraroma anyir.
Lepaskan aku, Naru-san.
Manik mata Naruto berwarna merah menyala. Kubah pembatas yang melingkupinya kembali bersinar terang.
Selama ini kau hanya meredam kekuatanku melalui pertapaanmu di kuil. Padahal, kau sendiri yang datang dan meminta bantuanku. Kenapa kau tak mau berbagi tubuh lagi denganku? Apakah karena rubah palsu itu?
Naruto menggeleng, berusaha keras mengumpulkan kesadarannya.
Beri aku bantuan terakhir, katamu. Kau mencoba memanggilku lagi dan ketiadaan rubah palsu itu membuatku dapat berkomunikasi langsung denganmu. Tapi, tahukah kau, Naru-san? Bantuanku tidak pernah gratis.
"A-apa yang kauinginkan?" tutur Naruto dengan tersendat. "Kita harus segera menyelesaikan ini tanpa harus membunuhnya. Bualanmu tadi tidak lucu."
Suara tawa melengking terasa menusuk-nusuk kepala Naruto, jauh berbeda dengan suara feminin yang barusan berbicara dengannya.
Tidak bisa. Kehendakku adalah kehendakmu.
Setelah pertarungan ini, aku akan pergi, lawanmu akan mati—bersamaan denganmu, mungkin.
Hantaman besar kembali terasa. Manik safir di mata kanan Naruto mengerling ke atas, melihat Momoshiki yang masih berusaha merusak barrier. Sesak napasnya kian tak terperi. Entah hanya karena hantaman tersebut atau juga karena energi sang roh kuno yang ingin menguasai dirinya.
"T-tidak. Aku harus hidup dan Sakura-chan tak boleh terbunu—"
Kuku di jemari Naruto kian memanjang, diikuti berubahan fisik yang tak lagi dapat dihalaunya.
Energi sang roh rubah kuno menjalari tiap pembuluh darah Naruto. Panas energinya terasa terbakar. Erangan sakit dari tenggorokannya terdengar memilukan. Ia kesulitan bernapas, rongga dadanya serasa ingin pecah.
Tubuhnya tak mampu menerima luapan energi ini secara tiba-tiba.
Beberapa saat lalu, ia merasakan kehadiran Kurama. Namun, kehadirannya kembali hilang seperti ketika dulu mereka menyelesaikan perang besar. Kurama kehabisan chakra dan tertidur dalam jangka waktu yang lama. Alasan Naruto kembali menggunakan kekuatan pinjaman ini karena ia tahu bahwa dirinya takkan mampu menangani Momoshiki dengan skala kekuatan Uzumaki semata.
Keputusannya sudah benar. Ia yakin.
Jadi, kenapa?
Tangannya bukan lagi sepasang tangan manusia. Di sana, ia melihat sepasang tangan—atau kaki?—hewan yang bentuknya serupa dengan Kurama.
Ukurannya membesar seiring dengan panas yang menerpa tubuh Naruto.
Ketika kesadaran meninggalkannya, ketika ia kembali ditelan kegelapan, hal terakhir yang ia dengar adalah suara merdu sang roh rubah kuno.
Berterimakasihlah padaku, Naru-san. Jika kau mati, kita mungkin akan kembali bertemu. Kali ini di duniaku.
Malam itu, hutan Konoha dihiasi oleh warna kemerahan dan hitam yang saling beradu. Dari kejauhan, tampaklah pertarungan antara seekor rubah raksasa berwarna kemerahan melawan naga yang telah bertransformasi menjadi makhluk batu raksasa berinti magma. Embusan angin menerpa sepenjuru hutan dan bahkan sampai ke desa seberang. Getaran tanahnya membuat para hewan penghuni hutan berlari ketakutan.
Semua makhluk hidup akan bertanya-tanya tentang fenomena apa yang sekiranya tengah terjadi. Para dewa yang sesungguhnya kembali menyaksikan bagaimana seorang makhluknya kembali berjuang mati-matian untuk mempertahankan tanah tempat hidupnya. Pengorbanan yang dilakukan sosok tersebut telah terlampau banyak.
Tindakannya sekarang ini bukanlah apa-apa.
oOo
Pijaran cahaya itu sampai hingga perbatasan Kurogakure, tempat di mana Sasuke berada.
"Dia sedang bersama siapa?" serunya di tengah ayunan kaki. Sorot matanya awas, ekspresinya keruh. Sama sekali tak terdapat ketenangan di sana. "Shikamaru, jawab aku!"
"Terakhir kali adalah Orochimaru dan bawahannya, termasuk Kabuto. Tapi, sekarang tidak ada yang bisa kami hubungi."
Sasuke menggertakkan gigi. Hujan membuat dahan pepohonan menjadi lebih licin. Ia tak bisa bergerak lebih cepat dari sekarang jika tidak mau terpeleset secara konyol.
Beberapa saat lalu, ia telah berhasil mengakhiri pertarungannya dengan si Keparat Momoshiki. Segalanya menjadi lebih mudah setelah koneksinya dengan Itachi kembali terhubung. Dengan bersama-sama merancang skema bertarung, Sasuke berhasil mematahkan teknik pembeku waktu sialan yang telah memerangkapnya selama hampir dua bulan. Padahal di sana ia hanya menghabiskan waktu tak sampai satu jam,
Lelucon Momoshiki benar-benar menggelikan.
Ia tahu bahwa kehadiran Sasuke dan Madara akan begitu menghambatnya sehingga ia memutuskan untuk memerangkap mereka berdua.
Tindakan tersebut benar-benar menghasilkan kekacauan. Baik untuk pertarungan di demensi ini ataupun di dimensi markas lawan. Di sini, pasukan berkurang pesat karena ketiadaan Sasuke dan Madara. Gaara dan yang lain kewalahan menghadapi kehadiran juubi yang amat tiba-tiba. Para mantan kage pun terpaksa turun tangan.
Sedangkan di dimensi lawan, mereka kesulitan karena Urashiki menggunakan teknik pembeku waktu yang tak kalah merepotkan. Koneksi antara Itachi dan Sasuke yang terputus juga turut memperburuk keadaan.
Oleh karenanya, setelah koneksi mereka kembali normal, kesulitan yang ada bisa segera diselesaikan. Setidaknya sebelum Sasuke mendapatkan infromasi bahwa terdapat Ōtsutsuki Lain yang tengah menghampiri Konoha.
Sejauh ini, Sasuke tak pernah tahu keberadaan Ōtsutsuki Lain yang dimaksud Itachi.
Seolah segalanya belum cukup buruk, Ōtsutsuki Lain ini tidak datang sendirian. Ia hadir bersama para juubi yang kini tengah mengamuk di empat desa ninja dan desa-desa ninja lain yang lebih kecil. Keadaan ini memaksa Shikamaru memutar otak untuk masalah alokasi pasukan. Jumlah shinobi yang telah berkurang drastis mempersulit keadaan ini, apalagi mereka diharuskan bertarung melawan juubi—makhluk raksasa bermata satu yang dulu tidak bisa mereka kalahkan.
Alhasil, bala bantuan yang dibawa Kakashi segera digunakan untuk menghadapi makhluk ini. Edo Tensei serta sisa pasukan yang datang dari dimensi lawan segera diperintah untuk mengamankan desa-desa yang sedang diporak-porandakan oleh para juubi. Para shinobi level kage disebar dengan sedemikian rupa, termasuk Madara—yang seketika langsung menghilang untuk menghampiri Hashirama.
Itachi, Fugaku, dan beberapa anggota klan Uchiha bergegas ke Iwagakure. Shisui, Kakashi, dan Obito ditugaskan membantu Raikage di Kumogakure. Hashirama, Tobirama, dan Madara menuju Mizugakure. Kemudian, Minato, Kushina, Jiraiya, dan Nagato memutuskan untuk membantu Gaara di Sunagakure. Mereka semua pergi ke sana karena keadaan yang memang sudah sangat parah. Kondisi perang membuat desa-desa shinobi kosong dan hanya dihuni oleh para warga sipil serta beberapa Anbu.
Mereka tak punya pilihan lain, termasuk Sasuke.
Di tengah jalan, ia beberapa kali dihadang oleh makhluk-makhluk yang berasal dari tubuh juubi. Perjalanannya terhambat dan konsentrasinya pudar seiring dengan rasa khawatir yang meningkat.
Bagaimana bisa aku terperangkap dengan sangat sempurna?
Perbatasan Konoha sudah hampir dicapainya. Sasuke masih menatap pijaran cahaya berwarna kemerahan itu. Sesuatu tentang cahaya itu membuatnya was-was.
Selain itu….
Aura ini….
Bukan karena asing, tetapi karena familier.
Sasuke mengenali aura ini, rasa yang dulu berasal dari Kurona—identitas yang digunakan Naruto untuk menyamar.
Naruto telah memberi tahu segalanya, termasuk masalah roh rubah kuno. Tapi, setahu Sasuke, Naruto telah melepas roh tersebut. Jadi, kenapa eksistensinya terasa begitu besar? Apa yang terjadi pada Naruto?
Ayunan kaki Sasuke tak melambat sedikit pun. Rongga dadanya sesak. Jantungnya seolah diremas begitu pemikiran-pemikiran negatif yang merasuki otaknya; tentang ia yang gagal melindungi Naruto, tentang ia yang akan kembali kehilangannya….
"Bagaimana dengan yang lain?" Sasuke kembali bertanya pada Shikamaru melalui telepati klan Yamanaka. "Apakah mereka bisa menangani para juubi?"
"Itachi dan mereka yang berada di Iwa akan segera menyusulmu. Yondaime masih bertarung, tapi dia akan segera ke sana menggunakan Hiraishin. Sekarang di mana posisimu?"
Patung dua pendiri Konoha telah dilewati Sasuke. Dari jarak ini, ia bisa melihat pijaran cahaya tersebut dengan lebih jelas.
Seekor rubah dan sesosok makhluk yang tadi sempat ia kalahkan bersama Madara.
Udara seolah meninggalkan tenggorokannya. Sasuke mengambil resiko untuk mempercepat langkah.
"Konoha," balas Sasuke dengan nada serak.
Kontak tersebut segera ia tutup. Sasuke terus bergerak hingga benar-benar mencapai tempat tujuan. Kedua kakinya sedikit kebas akibat pertarungannya dengan Momoshiki. Tubuhnya basah kuyup oleh air hujan. Berbagai luka di tubuhnya juga belum tertutup, apalagi sembuh. Kucuran darah dari bekas-bekas sayatan dan tusukan masih mengalir deras. Itulah alasan Sasuke meminta informasi kepada Shikamaru terkait keberadaan orang lain. Pasalnya, ia tak yakin bahwa kondisi tubuhnya yang sekarang mampu menghadapi seorang Ōtsutsuki lagi.
Menahan segala rasa nyeri di dalam tubuh, Sasuke memaksakan diri untuk terus bergerak. Ia masih mengayunkan kaki hingga mendapati hutan selatan Konoha yang tak lagi utuh. Alih-alih dipenuhi oleh pepohonan rindang, wilayah tersebut hanya berupa tanah basah dan sisa pepohonan yang tumbang. Kondisinya teramat kacau. Kerusakan yang ada terlihat begitu parah.
Selain itu, pijaran cahaya tadi … Sasuke mendongak, menatap cahaya kemerahan yang amat menyilaukan.
Tanah yang dipijaknya tiba-tiba bergemuruh hebat, diikuti oleh suara ledakan besar yang membuat telinganya berdenging. Sisa pepohonan di sekitar Sasuke pun berterbangan akibat embusan angin yang tercipta. Sasuke sendiri telah menciptakan dinding tanah untuk mempertahankan diri
"Kami mendeteksi ledakan besar di Konoha. Sasuke, kau baik-baik saja?"
Suara Shikamaru tidak mendapatkan respons. Sasuke telah melaju ke sumber ledakan, berusaha keras menyingkirkan berbagai pemikiran negatif yang bersangkutan dengan keselamatan Naruto. Detak jantungnya bertalu-talu. Kedua tangannya mengepal erat di kedua sisi tubuh.
Sasuke sama sekali tak bisa berpikir jernih ketika ia menerjang sisa ledakan besar, mengabaikan rasa panas sisa ledakan yang mampu menghanguskannya. Di pikirannya, hanya terdapat satu nama—nama sosok yang tak lagi ingin ia lepaskan, nama sosok yang telah berjanji untuk tak lagi pergi, nama sosok yang cukup membuatnya kehilangan kewarasan jika ternyata hal yang sangat tidak diinginkan kembali terulang.
Napas Sasuke terengah. Dinginnya air hujan berbenturan dengan hawa panas di area tersebut.
Berdiri di kedua kakinya, Sasuke manatap mimpi buruk yang selalu meneror malamnya. Mimpi buruk tentang kejadian sembilan tahun lalu, mimpi buruk yang membuatnya terus menerus melihat hasil akhir pertarungan yang merenggut nyawa sosok yang begitu berharga untuknya.
Manik obsidian sempat bersinggungan dengan manik safir yang meredup.
Naruto begitu berantakan—dengan kulit berwarna kemerahan dan tampak melepuh, pakaian yang tak lagi layak, serta noda darah yang mengguyur tubuh.
Jika tidak menatap mata safir itu, Sasuke takkan mengenali sosoknya. Jika tak memperhatikan rambut panjang itu, ia takkan mengenali….
Mata safirnya tertutup. Tubuhnya tumbang.
Sasuke merasakan detik-detik saat pandangannya memburam dan tubuhnya bergerak secara refleks untuk meraih tubuh itu. Tangan Sasuke gemetar, ia mencoba memeriksa denyut nadi Naruto, berusaha memastikan bahwa wanita ini masih hidup, berusaha menyangkal fakta bahwa ia sama sekali tak dapat merasakan sedikit pun aliran chakra sang kekasih.
Sekujur tubuh Sasuke kaku. Napasnya tersendat dan ia tak mendengar apa pun ketika rombongan lain berdatangan. Ia tak merasakan apa pun ketika Itachi menariknya untuk berdiri. Ia tak merespons kala tubuh ringkih sang wanita diambil alih dari pelukannya.
Jantung Sasuke serasa berhenti berdetak. Tubuhnya kebas. Seluruh indra dalam dirinya seolah berhenti berfungsi. Sasuke tak merasakan apa pun. Ia tak mendengar apa pun. Ia tak melihat apa pun—kecuali citra terakhir Naruto yang tak lagi mengembuskan napas.
Dalam remang kegelapan malam, Sasuke merasakan panas di kedua matanya, merambat menuruni pipi—seiring dengan remasan dalam jantung yang menciptakan pilu tak terperi. []
TBC
