Disclaimer : I do not own Naruto


Sejak dulu, Itachi begitu ingin menemui adiknya. Ia ingin melihat Sasuke tumbuh dewasa dan bahagia, mengesampingkan berbagai tragedi keluarga yang telah menerornya sejak kecil. Melalui ingatan Kakashi yang sempat dilihat Itachi, pasca perang besar dulu Sasuke telah mampu merelakan kepergiannya dan terus melanjutkan hidup. Kesedihan di masa lalu berhasil ditinggalkan. Sasuke berusaha memperbaiki diri sehingga berhasil untuk kembali mendapatkan kepercayaan teman-temannya.

Itachi begitu bangga pada Sasuke atas semua pencapaiannya, atas keteguhan yang membuatnya mampu berdiri hingga titik ini.

Setidaknya, Itachi mengira bahwa Sasuke akan tetap bertahan seperti itu; menghadapi segalanya dengan tenang seperti yang selama ini ia lakukan.

Adiknya bukan lagi seorang bocah remaja temperamental. Sasuke sudah dewasa dan mengerti akan posisinya.

Keadaan yang menimpanya sekarang takkan menjadi masalah besar bagi Sasuke.

Paling tidak, itulah perkiraan Itachi, hingga—dengan kedua matanya sendiri—ia melihat benteng itu runtuh dalam sekejap. Benteng yang telah dibangun Sasuke selama bertahun-tahun untuk membatasi segala seruak emosi yang dapat mengacaukan pikirannya.

Ribuan kematian tidak menggoyahkan jiwa Sasuke, sama sekali tidak.

Yang mereka butuhkan hanya satu nama—satu nama yang dapat memporak-porandakan pertahanan diri sosok itu dalam sekejap.

Berdiri beberapa langkah di depannya, Itachi melihat Sasuke seolah kehilangan sebagian nyawanya. Pandangan Sasuke kosong dan tubuhnya gemetar. Jiwa dalam figur itu seolah telah ditarik paksa bersama dengan kenyataan yang kembali menamparnya. Sasuke mematung untuk waktu yang tidak bisa dibilang cepat. Itachi mampu mendengar deru napasnya. Jika air hujan tidak sedang mengguyur mereka, Itachi yakin bahwa wajah itu telah dihiasi air mata.

Melihat keadaan Sasuke yang begitu terpukul membuat rasa sesak ikut menerpanya.

Ayah dan ibunya tampak merasakan hal yang sama. Itachi mengerling dan mendapati Fugaku dan Mikoto mematung, kemungkinan besar tengah membayangkan betapa banyak beban yang telah ditanggung putra bungsu mereka—bagaimana perih yang dirasakan Sasuke ketika kembali kehilangan orang terpenting dalam hidupnya.

"Sasuke…."

Panggilan Itachi tak mendapatkan respons apa pun. Sasuke masih diam tak bergerak.

"Kau harus mengobati luka—"

"Di mana Godaime?" potong Sasuke, suaranya sekaku besi. Ia berbalik, menatap Itachi dan sepenuhnya mengabaikan kehadiran orang lain. Ketika menatap Itachi pun Sasuke seperti tak menyadari bahwa yang ditatap adalah Itachi, kakak yang begitu bernilai untuknya.

"Kumogakure."

Sasuke segera berjalan menjauh setelah mendengar jawabannya. Itachi menyipitkan mata. Ia setengah berlari dan menahan lengan Sasuke untuk tak berjalan lebih jauh.

"Mau ke mana kau? Pertarungan sudah usai. Kau terluka parah, kembalilah ke pos pertahanan terdekat untuk memulihkan diri."

Cengkeraman tangan Itachi berusaha dilepas paksa. Itachi, yang merupakan edo tensei, tentunya jauh lebih kuat dari Sasuke yang telah melemah. Ia tetap mempertahankan cengkeraman itu. Keadaan tersebut berhasil menyulut kemarahan Sasuke. Tatapan matanya menajam. Ia membentak, "Memulihkan diri katamu? Siapa peduli?! Aku harus membawa Godaime ke sini dan memintanya memastikan kondisi Naruto."

Mendengarnya berkata semacam itu membuat hatinya ikut ngilu. Sasuke benar-benar rapuh jika sudah menyangkut masalah Naruto.

"Untuk sekarang kita sudah memastikan—"

"Dia tidak boleh mati," sela Sasuke, suaranya sedikit bergetar. Ia mengerling sesaat pada Fugaku dan Mikoto, kemudian pada Itachi. Deru napasnya cukup memburu. "Pertama ayah dan ibu, kemudian kau. Selanjutnya, aku kehilangan dia sembilan tahun lalu. Sekarang kau memintaku untuk diam saja ketika dia satu-satunya orang yang tetap bersamaku ketika kalian semua pergi?"

Sasuke mendengkus. Ia tersenyum sinis. Tangannya kemudian menghentak cengkeraman Itachi.

"Jangan menghalangiku, Kak."

Itachi melepaskannya. Tapi, bukan berarti ia tak berusaha untuk meluruskan pemikiran Sasuke.

"Shisui juga sedang berada di Kumo. Aku akan segera memintanya memberitahukan Godaime untuk kembali."

Langkah Sasuke terhenti. Fugaku yang sejak tadi hanya terdiam memutuskan untuk angkat bicara. Ia menatap lekat punggung putra bungsunya, berusaha keras menelan rasa sesal yang menelusup begitu mendengar pernyataan sang putra bungsu beberapa saat lalu.

"Percayakan pada kakakmu, Nak. Para shinobi masih membutuhkanmu sekarang. Kuasai dirimu. Tindakanmu akan berpengaruh pada banyak orang." Ia melangkah mendekati Sasuke, kemudian menepuk pelan pundaknya.

"Kau telah melakukan yang terbaik. Putri Yondaime itu … dia kuat. Selain Uchiha, klan Uzumaki juga diberkahi kemampuan yang luar biasa. Garis hidupnya panjang. Kau sendiri tahu bahwa seseorang meninggal dunia ketika otaknya berhenti berfungsi, tak semata-mata hanya karena jantung yang berhenti berdetak. Pihak medis di sini akan berusaha semaksimal mungkin untuk memeriksanya sebelum Godaime kembali. Harapan itu masih ada."

Setelah mengatakannya, Fugaku melenggang pergi. Mikoto memilih untuk memberi Sasuke waktu dan mengikuti sang suami.

Itachi sendiri masih di sana, menatap Sasuke dengan ragu. Ia tak pandai menenangkan orang lain karena di kehidupannya dulu ia tak pernah melakukan itu. Lagi pula Sasuke sudah bukan lagi adik kecil yang akan langsung berhenti berduka setelah sedikit dihibur. Untuk kasus ini sendiri, Itachi yakin bahwa Sasuke tak butuh bentuk hiburan apa pun.

"Kau bisa menemui aku dan para kage setelah cukup tenang." Itachi bergumam dengan nada rendah. Ia berjalan melalui Sasuke, meninggalkannya yang masih tergugu—merasakan campuran emosi yang tak terdefinisi.

oOo

mana bisa aku membiarkanmu sendirian dan menderita? Sudah susah payah aku meyakinkanmmu untuk pulang. Mana mungkin aku malah meninggalkanmu?

Kita akan menang dan aku akan hidup. Jangan berasumsi buruk. Kita bahkan belum mencoba.

Akan kupastikan semua orang berjuang bersamamu.

Aku mencintaimu, Uchiha Sasuke Sialan. Puas?

Sasuke menatap kosong langit-langit tenda, mencoba menahan sesak kala kumpulan memori itu terus membanjirinya—mengenai tiap kata yang dijanjikan Naruto padanya, mengenai keteguhan diri Naruto, mengenai pertengkaran kecil mereka, hingga mengenai pernyataan itu.

Jika dihitung-hitung, kebersamaannya dengan Naruto tidaklah banyak. Mereka tak sempat menghabiskan waktu bersama karena masalah di dunia shinobi semakin pelik. Sebelum itu, mereka juga tidak dapat bersama karena Naruto masih ragu pada perasaannya sendiri.

Jadi, setelah jalan menuju kebahagiaan terbuka lebar, mengapa mereka masih belum bisa meraihnya? Mengapa hal seperti ini selalu menimpa?

Perkataan Fugaku memang benar, mereka masih memiliki harapan karena keadaan Naruto belum diperiksa secara menyeluruh. Tapi, sebagian besar orang memang meninggal begitu embusan napas dan detak jantung mereka berhenti. Mereka dinyatakan tiada begitu semua indikasi tersebut hadir. Kerusakan otak yang menyebabkan kematian secara otomatis akan mengikuti orang dengan jantung yang telah berhenti berdetak.

Tindakan spontan Sasuke tadi, tindakan di mana ia ingin segera memanggil Godaime secara langsung … hanyalah bentuk keputusasaannya.

Itachi dan ayahnya tahu.

Sasuke sendiri tahu.

Jika Naruto memang benar-benar telah tiada….

Janggalan menyakitkan di tenggorokannya kembali hadir. Sasuke mendesis geram. Ia menatap kedua tangan yang telah dibalut perban.

Kalau saja ia tidak terlambat datang, kalau saja ia bisa lebih cepat menyelesaikan Momoshiki dan segera menghampiri Naruto … semua tragedi ini takkan terjadi.

Sasuke mengusap wajah dengan frustrasi.

Yang kuinginkan hanya hidup bersamanya … apakah aku memang tidak layak untuk mendapatkannya?

Dulu, ialah yang berpaling dari Naruto, ialah yang memberi beban berat di pundaknya. Sasuke tak tahu apa saja hal yang telah dilakukan Naruto demi menyelamatkannya, ia tidak tahu besar penderitaan yang ditanggung Naruto hanya untuk membawanya kembali.

Naruto memberi terlalu banyak untuknya.

Sedangkan ia?

Ia sama sekali belum bisa membuat sosok itu bahagia.

"Hokage-sama … ada yang ingin bertemu denganmu. Apakah kau berkenan?"

Suara feminin seorang ninja medis terdengar dari luar tenda medis. Lamunan Sasuke seketika buyar. Ia terdiam sesaat dan hendak berujar bahwa ia masih ingin beristirahat ketika ia mendengar si ninja medis menyebut nama tamu yang dimaksudnya.

"Beliau adalah Uzumaki Kushina, dia sedang menunggumu di luar."

Kedua mata Sasuke melebar. Ia terpaku untuk beberapa saat sebelum beranjak berdiri dan mengenakan pakaian bersih yang disediakan. Tak sampai dua menit, Sasuke sudah keluar ruangan medis.

"Di mana?" tanyanya pada sang ninja medis.

Beberapa saat lalu, ninja medis bawahan Shizune ini sedikit bersikeras untuk tidak memanggilkan Sasuke. Ia tahu bahwa Sasuke sama sekali tidak ingin diganggu. Bekerja di bawah kepemimpinan orang ini membuatnya cukup mengerti sedikit kebiasaan Sasuke ketika sedang dirundung masalah berat.

Sasuke tak pernah ingin diganggu.

Responsnya sekarang tentu saja mengejutkan.

"E-eh? Di luar tenda. Dia ingin bicara denganmu."

Tanpa mambalas ucapan sang ninja medis, Sasuke sudah melenggang keluar tenda. Ia menyibak kain posko kesehatan itu dan langsung dapat melihat seorang wanita bersurai merah delima yang … begitu mirip dengan Naruto ketika menyamar sebagai Kurona.

Untuk sesaat, Sasuke mematung, benar-benar tidak sanggup untuk memanggil. Ia baru dapat melihat rupa Kushina ketika sosok tersebut membalikkan badan ke arahnya.

Seyuman hangat tersimpul dari bibir sang Uzumaki.

"Apakah aku mengganggumu, Sasuke-kun?"

Sasuke tak tahu mengapa tadi ia tak mempertimbangkan keputusannya untuk menemui wanita ini—Uzumaki Kushina, ibunda Naruto. Tubuhnya seolah bergerak sendiri ke sini sedangkan sekarang ia sama sekali tak dapat bergerak….

Menatap Kushina bagaikan menatap Naruto sendiri. Kemiripan di antara keduanya sangat besar. Sasuke tak bisa melihat sang Uzumaki lama-lama tanpa teringat citra kekasihnya. Jauh dalam dirinya, Sasuke ingin segera enyah dari sana dan kembali ke ruang medis tadi. Namun, pemikiran tersebut begitu irasional.

Lagi pula, ia sudah terlanjur di sini, bukan?

Mencoba menenangkan diri, Sasuke pun membalas ucapan Kushina.

"Tidak sama sekali."

Nada parau Sasuke tampak kentara. Kushina menahan senyuman pilu. "Baiklah. Aku ingin sedikit berjalan-jalan. Kau bisa menemaniku sebentar?"

Sasuke tidak mengerti motif di balik tawaran yang diajukan Kushina. Namun, ia tak punya pilihan selain menerima tawaran tersebut. Kepalanya mengangguk dan detik selanjutnya ia sudah berjalan bersama Uzumaki Kushina, ibunda Naruto.

Selama melangkahkan kaki menjauhi posko kesehatan, Sasuke menghindari kontak mata dengan sosok di sampingnya. Yang ditatap hanyalah lingkungan sekitar—pepohonan yang telah tumbang dan permukaan tanah yang becek. Sumber energi listrik di sana juga telah padam akibat ledakan besar, mengakibatkan mereka hanya dapat bergantung pada cahaya obor dan rembulan sebagai sumber penerangan.

Kerusakan tersebut sama parahnya dengan kerusakan saat dulu Urashiki menyerang untuk kedua kali—atau bahkan lebih parah?

Sasuke tak dapat membayangkan besar perjuangan Naruto umtuk mengatasi semua ini.

Seruak rasa sesal itu kembali. Ia mengambil napas dalam.

Bagaimanapun juga ia akan tetap kembali memikirkan si pirang.

Kenyataan itu tampak dilihat oleh Kushina. Tanpa harus bertanya langsung, Kushina tahu arti dari air wajah lelaki muda di sampingnya. Berbeda dari kebanyakan Uchiha yang dikenalnya, Sasuke menampilkan ekspresi sendu yang kentara, seolah ia sengaja membiarkan pertahanan dirinya luruh begitu saja—tak lagi peduli bahwa ia harus membentengi diri agar orang lain tak dapat membaca suasana hatinya.

Ketika Sasuke mendekap Naruto erat dengan sorot penuh luka … Kushina tahu bahwa Naruto benar-benar memiliki seseorang yang sangat mencintainya. Hatinya ikut ngilu kala melihatnya. Namun, di sisi lain, ia juga bersyukur karena Naruto memiliki orang yang tepat. Itulah mengapa Kushina memutuskan untuk menemui Sasuke.

"Sebentar lagi kita sampai," tutur Kushina pelan.

Sasuke terdiam sesaat. Tapi, pada akhirnya ia bertanya juga.

"Rumah Sakit Konoha…." Sasuke terdengar ragu. Ia mungkin sudah menahan keinginan untuk bertanya sejak mengikuti Kushina menuju Konoha bawah tanah. "Kenapa Anda membawaku ke sini?"

Kushina hanya tersenyum simpul. Ia lanjut berjalan, otomatis memaksa Sasuke untuk mengikuti. Mereka melewati pintu utama rumah sakit dan koridor yang tampak kosong. Para shinobi yang terluka telah dirawat di posko-posko kesehatan di atas sana sehingga rumah sakit di sini tampak lenggang. Jika Kushina ingin Sasuke melihat kondisi para shinobi, harusnya ia tak membawa Sasuke ke sini, tapi ke posko-posko kesehatan yang lain. Jadi, mengapa mereka berada di sini?

Langkah kaki Kushina berhenti di depan ruang khusus di sebelah ruangan persalinan. Sasuke termangu sesaat. Kemudian, ketika pintu ruangan tersebut dibuka, Sasuke mulai mengerti alasan Kushina membawanya kemari.

Perawat rumah sakit yang tengah berjaga di sana bercakap-cakap singkat dengan Kushina. Raut wajah mereka sama sekali tidak menampilkan rasa terkejut meski mendapati keberadaan seorang edo tensei yang sejatinya adalah mayat hidup. Mereka menganggukkan kepala pada Sasuke ketika hendak beranjak dari ruangan itu.

Kini hanya terdapat dua orang dewasa di sana.

Kushina mendekati dua tempat tidur bayi yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Nyala lampu api dalam ruangan tersebut menyinari senyuman hangat di wajahnya, juga sorot haru di matanya. Sasuke tak perlu bertanya untuk segera mengetahui siapa sosok mungil yang tengah ditatap oleh wanita Uzumaki itu. Hanya dengan melihat reaksi Kushina, ia sudah tahu….

Kedua kaki Sasuke serasa dipaku di tempat.

Bagaimana bisa Kushina membawanya ke sini dengan begitu mudah? Menghadapi Kushina saja ia tidak sanggup. Bagaimana bisa ia menghadapi….

"Rasa sakitmu tidak akan pergi hanya dengan menghindar." Kushina menoleh, menatap Sasuke tepat di manik matanya. Kegamangan Sasuke telah dilihat Kushina. Ia sudah merasakannya sejak melihat Sasuke menghindari kontak mata dengannya. Alasan dari perilaku itu juga tak lagi perlu ditanyakan. Kushina mengerti, itulah alasan ia menemui Sasuke dan menuntunnya kemari. "Jauh dalam hatimu, kau ingin melihat mereka, bukan?"

Sasuke mengatupkan mulut. Namun, kedua kakinya telah melangkah mendekati tempat dua keranjang bayi itu berada. Ia berdiri di samping Kushina. Ekspresinya sulit ditebak. Tapi, Kushina bisa melihat telapak tangan yang sedikit gemetar ketika menggenggam kayu di keranjang tidur itu.

Di depan mereka adalah putra kembar Sasuke dan Naruto, cucu pertama Uzumaki Kushina. Keduanya tengah tidur terlelap dengan tubuh berbalut selimut. Ekspresinya teramat damai, begitu polos dan murni. Beberapa saat lalu, ketika Kushina dan Minato menyempatkan diri ke sini, ia menangis. Tak sanggup menahan haru setelah memikirkan bahwa Naruto telah benar-benar menjadi wanita dewasa seutuhnya.

Kesenduan yang terasa pun tergantikan dengan rasa syukur meski hanya untuk sesaat. Itulah yang dirasakan Kushina. Jika ia sendiri merasakan hal tersebut, ia harap Sasuke bisa merasakan hal yang sama agar ia bisa melupakan lukanya barang sebentar.

"Mereka sangat tenang. Perasaan itu tersalurkan hanya dengan melihatnya," ucap Kushina pelan. Sudut bibirnya telah membentuk senyum simpul yang samar.

"Kelahiran seseorang di dunia akan memberi harapan baru secara tidak langsung. Mereka, meski belum bisa bertindak apa pun, mengeluarkan aura yang membuat kita ingin melindunginya apa pun risiko yang harus ditanggung. Dulu aku sempat memaksakan diri untuk tetap melindungi Naruto meski sudah berada di ujung kematian. Melihatnya lahir membuatku begitu ingin melindunginya. Kurasa Naruto juga melakukan hal serupa, tak semata-mata karena dia ingin melindungi desa. Tapi, juga untuk melindungi kedua putranya."

Kushina melihat Sasuke yang tengah menunduk. Rambut hitam panjang menutupi sebagian wajahnya, membuat Kushina tak dapat melihat raut wajah sang Uchiha. Ia mengambil napas pendek, kemudian kembali menatap dua sosok mungil yang tengah terlelap. Suara keibuannya mengalun di telinga Sasuke.

"Kurasa, kau juga harus melakukan hal yang sama sepertinya, Sasuke-kun."

Saat itu, Kushina mengira bahwa Sasuke akan tetap diam. Namun, tiba-tiba saja suara berat Sasuke terdengar. Keputusasaan di dalam suaranya cukup kentara.

"Bagaimana?" tanya Sasuke. Ia masih menatap dua putranya lekat-lekat. "Bagaimana caraku melindunginya? Aku bahkan tidak di sini ketika mereka lahir. Aku bahkan tidak mampu melindungi ibunya."

Kushina hendak membalas, tapi Sasuke kembali berbicara. Ia kini menoleh, untuk pertama kali sejak mereka bertemu, Sasuke menatap matanya—dengan terang-terangan menampakkan sesal yang mendalam.

"Aku tak pernah cukup baik untuk Naruto. Aku tak pernah berhasil melindunginya karena tiap kali aku mencoba, pada akhirnya dia tetap berjuang sendiri dan malah berkorban untukku. Bagaimana mungkin aku bisa melindungi mereka?"

Nada bicara Sasuke terdengar menyakitkan. Kushina menawarkan senyuman, terlihat hangat dan menenangkan. Ia menepuk pelan pundak Sasuke dan berujar, "Kau itu kuat, 'kan? Minato dan Kakashi sempat menceritakan segalanya padaku tentang Naruto, mengenainya yang menganggapmu sebagai rival, sebagai orang yang selalu dia jadikan motivasi untuk maju. Pengakuanmu atas kemampuannya adalah hal yang begitu dia dambakan. Baginya, kau adalah role model, orang yang dia jadikan sebagai acuan untuk menjadi yang terbaik."

Kushina menoleh, menatap dua orang bayi yang tengah terlelap.

"Lihat? Mereka adalah keturunanmu dan Naruto. Suatu hari mereka akan menjadikanmu acuan untuk menjadi shinobi yang hebat. Seperti Naruto, mereka akan bangga memiliki orang tua yang telah berjasa banyak untuk dunia shinobi, meskipun aku dan Minato telah meninggalkannya ketika dia baru dilahirkan." Pandangan Kushina tampak menerawang, seolah ia sedang kembali mengingat memori yang cukup menyakitkan.

"Kami meninggalkan Naruto sendiri. Minato memilih untuk mengorbankan nyawanya agar aku bisa bertemu Naruto barang sebentar saja. Padahal, saat itu, aku bisa menanggung segel Kyuubi dan membawanya serta dengan kematianku. Minato tidak berpikir demikian, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya sampai tega mengorbankan diri dan meninggalkan Naruto sendirian seperti itu…."

Senyuman Kushina tampak masam. Ia kembali menatap Sasuke. "Mencintai seseorang memang membuatmu lemah dan kuat secara bersamaan. Minato tidak terkecuali. Dia memilih pergi bersamaku dan mempercayakan Naruto pada orang lain. Dia kira, segala yang dia lakukan adalah yang terbaik untuk Naruto. Tapi, kenyataannya tidak demikian, bukan? Naruto diperlakukan tidak layak oleh para penduduk desa. Yang dipandang sebagai pahlawan hanya kami, orang tuanya. Sedangkan dia tidak mendapat penghormatan apa pun dan malah dicaci maki."

Kalimat panjang Kushina membuat Sasuke bungkam. Tiba-tiba saja ia teringat masa kecilnya, masa kecil nNaruto—tentang mereka yang tumbuh tanpa keberadaan orang tua, tentangnya yang tak tahu arti keluarga dan pada akhirnya terperosok pada jalan yang salah.

Rasa sakit dan trauma di masa kecil mendorong Sasuke untuk memilih jalan gelap itu, membuatnya melakukan banyak dosa yang takkan pernah dapat dibayarnya seberapa besar pun kebaikan yang dia lakukan.

Suara Kushina yang kembali tertangkap di indra pendengarnya berhasil mengembalikan fokus Sasuke.

"Keadaan mereka kurang lebih sama dengan Naruto jika kau memutuskan untuk menyerah. Aku tidak ingin kau melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan Minato. Jika kau menyerah pada hidupmu karena dia pergi, maka anak-anak ini akan menanggung beban yang sama seperti Naruto dulu. Perang ini terjadi untuk melindungi mereka, agar mereka tidak jatuh ke tangan musuh. Tanpamu yang ada di sisi mereka, orang-orang dapat menaruh dendam pada mereka yang bahkan tidak bersalah. Masyarakat awam akan merundung mereka dan menuduh mereka sebagai alasan kematian dua shinobi yang paling berjasa di dunia ini."

Cengkeraman Sasuke pada kayu keranjang bayi itu mengerat. Ia memperhatikan dua sosok mungil tersebut lamat-lamat, membayangkan mereka tumbuh dan diharuskan menerima tuduhan atas kesalahan yang tidak mereka lakukan.

Jika mereka mampu bertahan, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat seperti Naruto. Tapi, jika mereka gagal, mereka akan terjerumus ke jalan yang salah sepertinya. Sasuke sendiri diselamatkan oleh Naruto. Sedangkan mereka? Siapa yang akan menyelamatkan jika mereka jatuh di kegelapan yang sama seperti yang dulu dilalui Sasuke? Dengan potensi kekuatan yang mengalir di diri mereka, orang-orang biasa akan kesulitan menghentikan keduanya jika mereka benar-benar terperosok ke jalan gelap itu.

Berbicara dengan Uzumaki Kushina membuat kepala Sasuke lebih dingin. Kini ia bisa berpikir jernih.

Seyuman masam tiba-tiba telah tersemat di bibirnya.

"Kenapa Anda memberitahuku ini semua? Memangnya, kesalahan apa yang Anda takutkan dariku?"

Kushina bergumam rendah, "Entah. Aku hanya merasa kau akan menyerah pada hidupmu jika tidak kuingatkan tentang ini semua." Ia mengerling pada Sasuke dan menyipitkan mata. "Dulu kau pernah menghadapi kondisi yang sama, 'kan? Beri tahu aku, berapa kali kau berusaha untuk mati agar bisa menyusul putriku?"

Kaku di wajah Sasuke telah memberi jawaban jelas untuk Kushina. Tebakan Kushina begitu mengena hingga tak mampu disangkal Sasuke. Sepanjang hidupnya, yang mampu membuatnya bungkam hanyalah dua orang; Itachi dan Naruto. Merekalah sosok yang seolah bisa membaca keseluruhan pikirannya.

Di hadapan Sasuke, Kushina berucap, "Kebiasaan menceramahi Naruto pasti diwariskan dariku. Aku bisa melihat saat ketika seseorang sedang berkonflik dengan dirinya sendiri. Naruto mungkin dapat melihat hal yang sama." Kushina sedikit memiringkan kepala ketika menatap sosok Uchiha di sampingnya. "Katakan padaku, Sasuke-kun. Dia sangat mirip denganku, bukan?"

Tanpa sadar, Sasuke memalingkan wajah. Tak lagi tahan menatap rupa edo tensei wanita di sampingnya. Ia tak melihat senyum simpul yang telah tersemat di bibir Kushina. Otaknya kembali dipenuhi oleh citra sang kekasih yang telah tiada. Rasa ngilu itu juga masih menerpa jantungnya. Tetapi, ketika menatap dua sosok bayi di depannya, ia pun mengerti bahwa ia tak bisa tumbang begitu saja.

Napas dalam diambil. Sasuke menatap kedua putranya lekat dan berkata, "Aku akan melindungi mereka."

Tugas Sasuke sebagai pemimpin belum usai. Naruto mempercayainya dan ia akan mengemban tugas itu hingga tuntas, sebab sebenarnya meski musuh utama mereka telah tumbang, para juubi yang masih mengamuk di luar sana masih menjadi ancaman besar.

Kepergian Naruto membuat pikiran Sasuke kacau. Ia benar-benar lupa dengan ratusan ribu pasukan musuh yang telah dikerahkan lawan. Belum lagi senjata ampuh mereka, para juubi, makhluk yang dulu tak dapat dikalahkan oleh empat hokage sekaligus, makhluk yang berafiliasi kuat dengan Ōtsutsuki.

"Itachi-kun meminta kami memberimu waktu hingga kau bisa kembali pulih. Dia ingin kau tidak terlalu terbebani oleh para juubi sehingga berkata bahwa pertarungan telah selesai. Nyaranya, para juubi hanya berhasil kami segel. Aku ke sini sendiri sedangkan Minato masih menahan segel di sana. Kemudian, Itachi-kun, Fugaku-san, dan Mikoto-san yang kautemui hanyalah bunshin. Mereka sebenarnya masih berada di Iwagakure. Alasan kami bisa mengalahkan Urashiki dan pergi dari dimensi lawan dikarenakan Obito berhasil sedikit melumpuhkan juubi dengan kekuatan matanya. Di sana kami juga memiliki Nara Shikaku yang dapat menghentikan pergerakan juubi dibantu dengan pasokan chakra Kyuubi. Dengan menggunakan semua sumber daya yang ada, kami bisa meninggalkan dimensi itu."

Rahang Sasuke mengeras. Ia berdecih rendah, "Baka Aniki." Kepalanya menoleh. Ia mengangguk pada Kushina. "Kurasa aku punya cara untuk menangangi mereka. Dulu, aku pernah menyimpan sebagian kekuatan para bijuu—" Sasuke melebarkan mata. "—aku bisa mengendalikannya, para bijuu … Kurama—" Ia menoleh dengan cepat pada Kushina. Tanpa sadar kedua tangannya telah mencengkeram pundak sang Uzumaki. Binar di oniks itu muncul dengan tiba-tiba. "Apa yang terjadi pada Kurama ketika bertarung dengan kalian?"

Kushina memberi tahu Sasuke tentang Kurama yang telah kehabisan energi dan terpaksa kembali pada Naruto. Ia perlu memulihkan diri dengan tidur panjang karena di dimensi lawan, chakra yang mereka punya benar-benar diserap oleh lingkungan di sekitarnya. Menurut asumsi Minato dan Kakashi, chakra para shinobi yang telah diserap di sana digunakan sebagai sumber energi para Ōtsutsuki dan juubi, membuat kekuatan mereka seolah tak ada habisnya.

Meskipun begitu, pada akhirnya mereka mampu mengalahkan para Ōtsutsuki, bukan? Pertarungan menjadi lebih mudah ketika Sasuke dapat terkoneksi dengan Itachi. Sasuke sendiri sempat menyegel portal dimensi tersebut. Dengan dasar pernyataan tadi, bisa diasumsikan bahwa selagi kontrol segel portal masih berada di bawah kendali Sasuke—atau siapa pun shinobi yang sama-sama berjuang—maka mereka bisa menghentikan penyaluran chakra dari dimensi itu.

Sasuke sendiri sudah mendapatkan suatu ide untuk mengatasi para juubi. Yang perlu dipikirkannya sekarang adalah….

Fokusnya kembali pada Kushina yang masih menatapnya bingung.

"Tubuh jinchuuriki yang meninggal akan ditinggalkan oleh para bijuu dan bijuu tersebut akan kembali bersembunyi di alam liar. Benar begitu, Kushina-san?" Kushina mengangguk, masih tidak mengerti tujuan dari percakapan ini. "Tapi, apakah mereka masih bisa diselamatkan kalau kembali mendapatkan chakra bijuu tersebut?"

Kedua mata merah gelap Kushina mengerjap. Ia menatap Sasuke sesaat, melihat sorot permohonan di sana, sorot penuh harap.

Kini Kushina mengerti.

Mulutnya kaku untuk berbicara.

Mana mungkin ia tega memberi tahu bahwa….

"Katakan saja kebenarannya," timpal Sasuke, nada bicaranya terdengar pahit.

Pada akhirnya Kushina menggeleng.

"Bijuu bahkan tidak dapat menolong mereka yang telah pergi."

Cengkeraman di pundak Kushina mengendur. Sasuke memaksakan anggukan. Ia mengucapkan terima kasih dan hendak beranjak pergi ketika Kushina menambahkan, "Kecuali jika jinchuuriki itu masih memiliki setitik daya hidup, energi bijuu yang disalurkan mungkin masih bisa membantunya."

Begitu membawa tubuh Naruto ke posko kesehatan terdekat, Kushina segera tahu bahwa detak jantung putrinya sudah benar-benar berhenti. Seluruh luka bakar dan tusukan di tiap jengkal tubuh juga mustahil membuatnya bertahan. Mereka kemudian memindahkan Naruto ke tenda lain—tenda tempat dikumpulkannya mereka yang telah tiada, sebuah tenda terbuka yang kini telah dipenuhi oleh ribuan orang.

Ucapan Kushina tadi menyiratkan permohonan pada Sasuke untuk terus melangkah maju karena Naruto memang telah tiada. Jadi, kenapa lelaki ini….

Sasuke menghentikan langkah kakinya. Tanpa membalikkan badan pada Kushina, Sasuke berujar, "Ke mana kalian membawanya?"

Mulut Kushina mengatup. Tiba-tiba saja ia segan berbicara. Nada dingin dalam suara itu….

Sasuke mengembuskan napas kasar. Ia menoleh.

"Kushina-san, apakah Anda benar-benar beranggapan bahwa dia sudah mati?"

Anak ini….

"Para medis sudah memastikannya. Tadi aku sudah memberitahumu untuk tidak menyerah pada hidupmu, 'kan?"

"Aku memang sudah meyakinkan diri untuk tetap hidup dengan normal jika dia benar-benar pergi. Tapi, untuk sekarang, aku sangat butuh kepastian. Anda sendiri tahu bahwa Naruto adalah sosok yang kuat, seorang Uzumaki seperti Anda. Kita harus menopang daya hidupnya sebisa mungkin sebelum Godaime—"

"Tsunade-sama sudah kembali sejak satu jam yang lalu. Dia sudah mengonfirmasinya."

Pucat wajah Sasuke semakin kentara di bawah bayangan cahaya api. Batin Kushina benar-benar ikut remuk ketika kembali melihat kekosongan di wajah rupawan itu. Namun, berbeda seperti beberapa saat lalu, Sasuke hanya mengangguk. Ia kembali berujar terima kasih dan melesat pergi.

Kushina menundukkan kepala, menahan sakit dalam dada karena meskipun nantinya ia dan Naruto berada dalam dunia yang sama, ia tetap tidak bisa menemuinya. Dunia setelah mati adalah rahasia semesta. Ia tak tahu apa yang terjadi di sana karena selagi memiliki kesadaran dalam tubuh ini, ingatannya tentang kehidupan pasca kematian benar-benar kosong. Yang dirasakan Kushina hanyalah tidur panjang.

Apakah nanti berarti Naruto akan merasakan hal yang sama? Tidur panjang hingga batas waktu yang hanya dapat ditentukan Tuhan?

Kushina menoleh pada dua individu mungil yang tengah terlelap. Bibirnya menampilkan senyuman simpul.

Setidaknya Naruto bisa beristirahat dengan tenang karena Sasuke telah berjanji untuk terus menjaga mereka. []

TBC

a/n

terima kasih yang udah mengikuti fanfic ini sampai sini. untuk review maaf maaf gak bisa dibalas satu per satu. saya cuma mau ngucapin makasih banyak buat yang masih stay di lapak ini. alasan saya update lama karena yha kesibukan hidup emang banyak x') desember kemaren ada ujian akhir dan tugas akhir yang numpuk TT jd maap kalo ngaretnya nggak karuan.

salam~