Kelas 6, part 6


Pansy nyaris tak sadar apa yang dia lakukan.

Dia mencengkeram erat pinggang Applebee dengan pahanya, merasakan Applebee menyokongnya dengan lengannya yang kekar. Cowok Quidditch jelas istimewa. Pansy merasakan gairahnya makin menggelegak mengingat ini, mengingat otot kuat ini, mengingat bahwa Shaun Applebee menginginkannya...

Applebee menarik napas, matanya berkabut oleh nafsu. Pansy tak membiarkannya kabur terlalu lama, menarik kepala cowok itu lagi untuk melanjutkan ciuman mereka. Applebee berjalan oleng, entah kemana. Pansy tak peduli. Dia hanya ingin cowok itu terus menyentuhnya, hanya ingin cowok itu begitu putus asa menginginkannya.

Brak.

Pansy membuka matanya saat mendengar suara pintu menutup. Dia mengernyit. Mereka sudah meninggalkan ruang rekreasi, masuk ke kamar kosong...

Pansy menarik dirinya, mengernyit.

"Sori berantakan," tawa Applebee, menurunkan Pansy ke salah satu kasur, lalu, tanpa basa-basi lagi, tanpa Pansy sempat memikirkan apapun lagi, dia mendorong Pansy tiduran, naik ke atas cewek itu, lalu melanjutkan aksi ciuman panas mereka.

Pansy tahu alarm mulai berbunyi di alam bawah sadarnya.

Tapi herannya, dia hanya tak peduli.

Dia menginginkan ini. Dan Applebee juga ingin melakukan ini bersamanya.

Semua anak angkatannya mungkin sudah pernah melakukan ini. Hanya Pansy yang sebelum malam ini belum pernah berciuman. Dan di antara geng cewek kelas 6 Slytherin, hanya dia yang masih perawan.

Hanya dia yang tak pernah di inginkan cowok.

Tapi kali ini berbeda. Applebee yang gagah, kapten Quidditch Ravenclaw Shaun Applebee menginginkannya...

Pansy mengerang penuh gairah saat cowok itu meremas-remas payudaranya. Ohhh sungguh luar biasa... Nafsunya mulai membutakannya. Otaknya serasa buntu. Dia tak bisa menolak sentuhan ini...

Terdengar langkah kaki, tapi Pansy hanya tak peduli. Dia merasakan Applebee menarik lepas bajunya, menyisakan bra dan celana dalamnya. Pansy membuka matanya, melihat mata Applebee begitu mengapresiasi dadanya yang besar.

"Wow Parkinson, dada paling besar yang pernah kulihat," terdengar suara dari sampingnya. Dia menoleh, melihat Goldstein nyaris ngiler menatapnya. Dan Matt Allen. Dan Michael corner. Dan Jake Price...

Astaga...

"What the..." Pansy tahu harusnya dia mulai was, tapi... "Ohhh!" Applebee melepaskan bra nya, dan mulai menghisap dan menggigit putingnya. Pansy bergelinjang penuh nikmat. Cairannya mengalir deras...

Pansy merasakan ada orang lain yang duduk di kasur itu...

Dan lalu ada dua mulut yang menjilati payudaranya...

Pansy merasakan nafsunya kembali membutakannya.

Tapi pertahanan dirinya mulai berteriak meminta pertolongan.

Sedangkan yang bisa keluar dari mulutnya hanya desahan dan erangan penuh birahi...

Apa yang dia lakukan?

Kenapa dia bisa ada di sini?

Dia menatap sekeliling. Wajah cowok-cowok itu menatapnya seolah dia adalah daging paling lezat yang tak sabar mereka santap bersama...

Selanjutnya Applebee tidak tampak berniat basa-basi lagi, menurunkan celananya...

Pansy membelalak.

Kini sungguhan ketakutan.

Dia meronta, berusaha melepaskan diri, tapi tak bisa. Goldstein masih menghisap payudara nya seolah dia adalah bayi yang kehausan. Jake Price kini menjilat pahanya, dan Shaun Applebee's makin mendekat...

JEBLAK!

semua terlonjak, menatap ke arah pintu. Pansy bangkit duduk, matanya melebar saat melihat siapa yang datang.

Harry.

Harry...

Harry membelalak menatap Pansy yang telanjang bulat, menatap bergantian kelima cowok yang mengelilinginya, menatap Applebee yang sudah menurunkan celananya dengan sempurna...

"WHAT THE FUCKING HELL!" Jerit Harry, wajahnya merah padam, marah luar biasa. Tangannya mengayun, menonjok Applebee's sekuat tenaga, tapi cowok itu berhasil mundur, membuat Harry nyaris terpelanting karena momentumnya. Tapi Harry tampak tak peduli, bersiap untuk memukul lagi...

"Harry, hei, tenang..." Michael Corner, yang semua orang tahu sudah lama naksir Harry, tampak ketakutan. "Ini tidak seperti yang kau bayangkan..."

Harry mengeluarkan tongkatnya, melontarkan kutukan demi kutukan ke kelima cowok itu. Para cowok itu langsung berusaha menghindar. Goldstein mengeluarkan tongkatnya, jelas siap membalas, tapi berhenti saat melihat Draco masuk, diikuti Daphne yang terengah. Jelas mereka semua habis berlari. Miles yang terakhir masuk, tapi begitu melihat Pansy, dia langsung keluar kamar itu lagi.

Pansy mendadak sadar posisi dirinya yang sedang telanjang. Dia mengambil selimut, buru-buru menutupi tubuhnya, merasakan air matanya mengalir deras.

Malu.

Marah.

Takut...

Tongkat Harry gemetar saking marahnya, vas di sudut pecah karena sihirnya yang hilang kendali. Draco menarik napas tajam saat melihat Pansy dan kelima cowok, mengacungkan tongkatnya, mendekati Harry, memegang tangannya untuk menurunkan tongkatnya.

"Calm down," gumamnya. "I'll handle it."

Harry tampak masih marah, jelas tak mau mundur.

"Harria," kata Draco lagi, nadanya tegas.

Harry mencengkeram tongkatnya, lalu, seolah tanpa jeda, menendang penis Applebee sekuat tenaga, membuat cowok itu meraung kesakitan, berguling langsung di lantai. Keempat cowok yang lain menatap ngeri Harry, mundur teratur.

Harry mundur sedikit, dan Draco akhirnya bisa maju.

"Apa yang kalian coba lakukan disini?" Tanyanya dingin, menatap Michael Corner, yang berjengit, masih menatap Harry was.

"What?! Kalau kau menuduh kami akan melakukan pemerkosaan, kau salah besar! Parkinson yang merayu kami!" Tukasnya.

Pansy menunduk, tak berani menatap teman-temannya... Tak berani menatap Draco...

Tak berani menatap Harry...

Hening sejenak, hanya raungan kesakitan Applebee yang terdengar, lalu, " Pansy, apa dia bohong?" Tanya Draco, nadanya memohon, memohon Pansy untuk berbohong.

Tapi Pansy tak punya tenaga untuk itu. Dia hanya menangis, menenggelamkan wajahnya ke tangannya. Dia tak tahu apa yang trjadi pada dirinya.

Bagaimana bisa dia melakukan ini...

Draco menarik napas panjang, melirik Harry, yang masih berdiri kaku, syok, menatap Pansy tanpa kedip. Draco menjentikkan tongkatnya, dan keempat tongkat cowo Raven itu terbang ke arahnya. Draco menangkapnya tangkas, lalu melemparnya ke Miles, yang menangkapnya juga. Miles rupanya akhirnya berani kembali masuk kamar begitu melihat Pansy sudah menutup tubuhnya, sungguh gentleman.

Kenapa Harry tak bisa mencarikan cowok seperti itu untuk Pansy?

Kenapa harus Daphne yang dia tawarkan pada Miles? Miles yang manis, sopan, and genuinely a good person...

Karena Miles naksir Daphne duluan.

Yeah, tentu saja kan? Siapa cowok yang naksir Pansy? Tak ada...

Tak ada pria yang pernah menginginkan Pansy.

Pansy tidak cantik seperti Daphne

Pansy tidak polos seperti Tracey.

Dan tentu saja Pansy tak akan pernah bermimpi menjadi manusia seperti Harry.

Pantas saja kalau Draco lebih memilih Harry. Harry punya tubuh yang bagus luar biasa. Diinginkan oleh banyak pria karena... Karena bahkan Pansy selalu tahu... Bahwa Harry adalah sedikit manusia yang cantik di luar dan di dalam...

Pansy menangis meraung di tangannya. Merasa jijik dengan dirinya sendiri.

Satu-satunya kesempatan dia mendapatkan cowok hanyalah jika dia menawarkan dirinya seperti ini. Menjadi gadis murahan seperti ini...

Semua hening, sampai Draco bicara lagi. "Kalian semua, pakai baju kalian, lalu keluar."

"What?!" Goldstein mendengus marah. "Kau pikir kau siapa?! Ini kamarku?!"

Draco menggertakkan giginya. "Aku punya kekuasaan dan uang puluhan kali lipat dibanding kalian semua digabungkan jadi satu. So, out, atau kalian akan menyesal seumur hidup karena ini," Desisnya.

Cowok-cowok itu menggeram marah, tapi mereka semua tahu Draco benar, jadi mereka memungut pakaian mereka, lalu keluar.

"Kau mau kami keluar juga?" Pansy mendengar Draco bertanya. Dia tak bisa melihat dia bertanya pada siapa, tapi Pansy tahu siapa yang akan menyelesaikan ini.

Harry mungkin mengangguk, karena dia mendengar banyak langkah keluar kamar itu, lalu pintu menutup.

Harry berjalan ke arah Pansy, dan pansy tahu apa yang akan terjadi. Harry akan marah, mengomeli pansy seolah dia peduli pada diri Pansy. Pada kenyataannya dia hanya berpura-pura peduli saja kan? Dia hanya ingin bermain peran, seolah dia sayang pada Pansy. Tapi Pansy kini tahu. Dia kini sadar bahwa Draco selama ini benar.

Tak ada yang lebih munafik dari Harry.

Pansy merasakan Harry duduk di sebelahnya.

Mereka terdiam sejenak. Pansy masih menolak menatap Harry, masih menangis di tangannya.

Lalu Pansy merasakan tangan Harry, membelai rambutnya. Tanpa kata.

Pansy menarik napas tercekat.

Harry membelai rambutnya pelan, mengusap punggungnya, hari-hati, seolah dia takut Pansy akan meledak. Pansy menarik napas lagi, dan, sentuhan Harry seolah membuatnya tersengat, membuat tangisannya makin keras.

Harry hanya diam, dan pansy mendongak, ingin melihat wajahnya, ingin menjerit menyurjhnya pergi. Tapi dia sangat terkejut saat melihat bahwa Harry... Harry yang tangguh... Yang kuat... Sedang menangis.

Pansy membeku melihat air mata Harry mengalir bagai keran. Cewek itu menarik napas tercekat, berusaha menghapus air matanya saat melihat Pansy melihatnya. Pansy masih terlalu syok. Wajah Harry merah padam, meneriakan betapa sedihnya dia...

Harry menggigit bibirnya, menghapus air mata Pansy, mengusap rambutnya.

"Semua akan baik-baik saja," kata Harry serak, air matanya masih menolak berhenti, dia kini tampak kesal pada dirinya sendiri. "Semua akan baik-baik saja..."

Itu yang selalu Harry katakan pada mereka.

Semua akan baik-baik saja.

Harry, yang selalu menjamin itu. Memastikan itu...

Pansy merasakan air matanya kembali menyembur. Dia meraung, lalu, bahkan mengejutkan dirinya sendiri, memeluk Harry erat-erat.

Harry balas memeluknya, dengan pelukan khas Harry, yang hangat dan tanpa penghakiman. Tak pernah enam tahun mereka berteman, Harry menghakimi Pansy karena apapun...

Jadi kenapa...

Kenapa hanya karena seorang pria...

Bisa-bisanya dia mau melepaskan Harry hanya karena seorang pria...


Mereka tidak bicara sama sekali.

Hanya menangis berdua, sesenggukan, berpelukan seolah tak ada hari esok.

Saat akhirnya sudah tenang, Harry mengambil gaunnya yang tergeletak, mengernyit.

"Aku tak mau pakai itu," kata Pansy serak.

Harry mengangguk, lalu melepaskan baju dan celananya sendiri, memberikannya ke Pansy, yang merasakan air matanya mengalir lagi.

Bagaimana bisa...

Bagaimana bisa dia mau menukar Harry dengan Draco. Harry yang baik hati... Selalu baik hati...

Pansy terisak, memakai baju Harry, sementara cewek itu memakai gaun mini Pansy tanpa protes. Dia duduk lagi di sebelah Pansy saat mereka berdua sudah berpakaian.

"Mau kembali?" Tanyanya, meremas tangan Pansy.

Pansy mengangguk, menghapus air matanya. Harry menatapnya lama, seolah memastikan bahwa Pansy sungguhan sudah siap keluar dari kamar itu, lalu menggandeng cewek itu berdiri, dan mereka keluar.

Hanya Draco yang masih berdiri di depan pintu, bersandar di tembok dengan sabar. Dia menatap Harry sekilas, lalu melepaskan jubahnya, memberikannya ke cewek itu. Harry memutar bola matanya, tapi tetap memakai jubah Draco yang sangat kebesaran untuknya. Draco melambaikan tongkatnya, dan jubah itu menciut sampai pas di tubuh Harry. Draco sendiri masih memakai kaus dan celana muggle yang sejak tahun ini kadang-kadang dia pakai jika sedang santai, jelas pengaruh dari Harry.

Lalu mata Draco jatuh ke Pansy, yang langsung menunduk. Malu luar biasa, benci pada dirinya sendiri, dan entah rasa apa lagi yang menggoncang hatinya...

"You okay, pans?" Tanya cowok itu pelan.

Pansy hanya mengangguk tanpa menatapnya. Dia merasakan Harry meremas tangannya menguatkan.

"Aku akan mengantar Pansy tidur. Mana Miles dan Daphne?"

"Kusuruh balik duluan. Tak ingin terlihat seperti sirkus Slytherin saat kita keluar dari sini kan?"

"Trims," kata Harry, meringis, jelas tak berpikir sampai sana. Draco hanya memutar bola matanya, lalu berjalan duluan. Harry menatap Pansy, yang menarik napas panjang, menguatkan dirinya, lalu berjalan turun. Mereka berjalan luar biasa cepat, ingin segera keluar dari sini. Untungnya, pesta masih berlangsung, sehingga tak banyak yang melihat mereka. Pansy menunduk sepanjang jalan, tak ingin melihat siapapun, tak ingin bertatapan dengan siapapun...

Rasanya Pansy baru bisa bernapas lega saat sudah sampai di dalam kamarnya. Harry dan Draco ikut masuk. Pansy duduk di kasurnya, menunduk, menolak menatap cowok itu. Untungnya, Draco sendiri tampak memaklumi.

"Kau... Mau mandi, pans?" Tanya Harry hati-hati. "Untuk... Kau tahu..."

Pansy tahu, jadi dia mengangguk. Lalu berjalan masuk ke kamar mandi, menutup pintunya. Dia membuka bajunya, baju Harry, mendengar Draco dan Harry bicara.

"Aku akan di sini malam ini," kata Harry.

"Aku tahu. Kau mau aku di sini bersamamu?"

"Nah, kau kembali saja. Tapi... Bisa minta tolong Dobby? Coklat hangat? Mungkin dengan kue keju kesukaannya?"

"Tak masalah. Kalau kau perlu apapun, langsung datangi aku, oke?"

"Yeah."

"Dan, aku tak mau kau pergi keluar asrama Harry. Tidak malam ini. Apapun cerita Pansy nanti, oke?"

Pansy bahkan tahu bahwa Harry memutar bola matanya. Cewek itu tak menjawab.

"Your words Harry," kata Draco berbahaya.

"Oke oke," tandas Harry.

"Kalau kau mau balas dendam, aku harus ikut, oke?"

"Merlin, kau menyebalkan, kau kira kau siapa bisa mengatur-atur ku?!"

Kini pasti Draco yang memutar bola matanya. Lalu...

"I love you."

Deg. Jantung Pansy berhenti sejenak mendengar ini. Mendengar Draco Malfoy mengucapkan tiga kata itu. Tiga kata yang rasanya tak mungkin pernah dia ucapkan...

"Hmm love you too," kata Harry. Pansy menutup matanya, menarik napas. Menguatkan dirinya.

Tak lama Pansy mendengar pintu di buka, diam sejenak, yang Pansy tahu persis pasti dipakai oleh Harry dan Draco untuk berciuman, lalu pintu menutup.

Pansy menyalakan shower, menenggelamkan dirinya di kucuran air hangat, menenggelamkan segala pikirannya tentang yang terjadi malam ini...


Sementara itu, di kamar cowok anak kelas 7.

Daphne terengah, tertawa saat Miles roboh di atasnya. Mereka terdiam sejenak, peluh membasahi tubuh mereka yang telanjang bulat. Senyum di wajah mereka yang penuh kepuasan.

"Merlin, aku rindu ini," erang Daphne, membuat Miles tertawa. "No no, jangan bangkit dulu. Aku masih ingin merasakan dirimu, Miles..."

Miles tersenyum, mengangkat tubuhnya sedikit untuk menatap gadis itu.

"Happy?"

"Very."

Miles mengecup bibirnya sekilas, lalu membalik tubuhnya sehingga Daphne yang berada di atasnya. Daphne mendesah kecewa saat cowok itu lepas dari dirinya. Miles terbahak.

"Kita masih bisa melakukan nya lagi nanti..." Katanya, mengusap kepala Daphne, yang bersandar manja di dada cowok itu.

"Hmm. I miss you."

"Yeah, me too," desah Miles, mengecup puncak kepalanya Daphne, tangannya mendekap tubuh cewek itu. Mereka terdiam sejenak, lalu... "Apa kau masih mau mencoba lagi?"

"Hmm?"

"Pacaran lagi?"

Daphne langsung mendongak menatapnya, matanya membelalak tak percaya. "Sungguh?"

Miles tersenyum. "Kita coba lagi, yeah?"

Daphne memekik girang, lalu menciumi setiap sudut wajah Miles, yang tertawa terbahak melihat semangatnya.


Pansy keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk. Harry sudah tiduran di kasurnya dengan piyama baru (yang mungkin juga di bawakan oleh peri rumah Draco), dan di atas meja belajarnya sudah siap sandwich keju dan susu coklat hangat.

"Hai love, terasa nyaman?" Tanya Harry, tersenyum kecil, bangkit untuk membawa nampan ke lantai dan duduk di sana.

Pansy mengangguk, memakai piyama yang Harry siapkan untuknya, lalu dia duduk di sebelah Harry di lantai. Harry menyerahkan cokelat hangat untuknya. Pansy menyesapnya, merasakan sensasi hangat... Hmm... Cokelat plus butterbeer ini... Sungguh khas Harry...

Mereka diam sambil makan dan minum cokelat, menikmati hening. Dan Pansy tak bisa berbohong bahwa dia sangat merindukan ini, hanya duduk dengan sahabatnya, yang mengerti dirinya, tanpa perlu bicara hal tak penting untuk membuat suasana nyaman...

"Aku naksir Draco sejak ulang tahunku yang ke 11."

Pansy mendongak kaget, menatap Harry, yang mengernyit sambil memutar cangkir di tangannya.

"Kami bertemu di Madam Malkin. Aku terlalu pemalu untuk menyapa. Kau tahu, sebelum Hogwarts, aku tak pernah punya teman," Harry nyengir kecil pada Pansy, yang memberinya tatapan yang benar saja. "Sungguhan. Kau tahu bagaimana keluarga muggleku. Dudley memastikan bahwa aku tak punya teman. Menghajar siapapun yang mendekat, menjadikan bulan-bulanan. Jadi itulah hidupku sebelum Hogwarts, tak punya orangtua, tak punya teman. Dan aku tak pernah yakin ada yang mau berteman denganku, karena paman dan bibiku selalu berkata bahwa tak ada manusia normal yang mau berteman dengan orang aneh sepertiku."

"What?! Tapi..."

Harry mengangguk. "Itulah kenapa, aku bersumpah pada diriku sendiri saat menerima surat Hogwartsku, bahwa jika aku punya teman, jika ada satu orang saja yang mau menjadi temanku, aku akan memperlakukan dia dengan istimewa, dan tak akan pernah aku lepaskan." Wajah Harry menunjukan tekad kuat, matanya berapi.

Pansy merasakan tenggorokannya kering.

"Jadi saat di Madam Malkin, saat Draco menawarkan dirinya sebagai teman, kau bisa bayangkan betapa senangnya aku," lanjut Harry, tersenyum sendiri, matanya menerawang, jelas mengingat kejadian enam tahun yang lalu itu. "Draco tahu aku sudah tak punya orangtua, jadi dia mengajakku belanja buku bersama. Dia bercerita panjang lebar soal dunia sihir. Aku begitu terpana pada ceritanya, dan mata kelabunya, dan logatnya yang aneh..."

Pansy mendengus. Mereka berdua cekikikan.

"Seriusan. Posh accent Draco benar-benar luar biasa aneh bagiku saat itu, aku tak pernah mendengar orang lain bicara seperti itu. Dia bercerita soal Slytherin, soal betapa hebatnya Slytherin dan betapa tak layaknya asrama lain..." Harry memutar bola matanya. "Saat itu aku sungguhan ingin di Slytherin. Ingin tetap bersama Draco, berteman dengannya. Aku tak tahu bagaimana mereka melakukan seleksi saat itu, dan bertekad akan merayu guru manapun untuk memasukanku ke Slytherin."

"Dan kau memang masuk Slytherin. "

Harry tertawa. "Tapi tidak tanpa merayu topi seleksi."

"What?!"

Harry nyengir lebar melihat ekspresi syok Pansy. "Topi seleksi siap memasukanku ke Gryffindor, tapi aku memaksanya untuk masuk ke Slytherin. Dia bilang aku akan berjaya di Gryffindor, akan punya teman yang lebih membuatku nyaman karena karakter yang sama. Tapi no, aku ingin bersama Draco."

Pansy merasakan rahangnya terbuka lebar.

Seriusan?!

Harry sungguh-sungguh... Dia...

"Jadi kau memang Gryffindor sejati?!" Pekiknya syok.

Harry terbahak. "Luar dan dalam, kurasa. Itulah sebabnya yang membuatku betah bersama para Gryffindor. Topi seleksi benar, aku bahkan tak perlu menyesuaikan diri di sana. Tapi kalau kau bertanya, Slytherin adalah rumahku. Aku cinta Slytherin. Dan aku tak akan menukarnya dengan asrama manapun," katanya, mengangkat bahu. "Aku adalah Slytherin."

Pansy masih tampak sangat tertegun. Selama ini mereka selalu bercanda soal topi seleksi melakukan kesalahan, tapi ternyata memang topi itu tahu persis bahwa Harry adalah Gryffindor. Tapi karena Draco...

Hanya karena Draco Malfoy...

"Aku bertanya pada Draco apa dia akan tetap mau berteman denganku jika aku di asrama lain, dia bilang dia mau," kata Harry lagi. Lalu... "Dan dia menciumku."

"What?!"

"Di toko buku itu. Floris and blotts. Aku menunjukan padanya buku tentang hippogriff, bertanya padanya apa makhluk aneh itu sungguhan nyata, dan si licik itu mendekatkan wajahnya, menciumku cepat," kata Harry, meringis, menatap Pansy, melihat reaksinya.

Pansy hanya bisa tergagap.

"Jadi saat kau bertanya sejak kapan aku tahu perasaan Draco padaku, yeah, aku tahu sejak sebelum Hogwarts," kata Harry pelan.

Mereka terdiam lama setelah itu.

Pansy memikirkan semua kata-kata Harry. Dia dan Draco saling suka pada pandangan pertama. Draco yang kalem, yang cool, yang tak pernah menunjukan perasaannya lebih dari seharusnya, mencium gadis yang belum sejam dia temui, dan Harry memohon topi seleksi karena ingin terus bersama Draco...

Pansy merasakan perutnya mulas.

"Saat aku bertemu kalian di Hogwarts Express," Harry melanjutkan ceritanya. "Aku sungguh terpana pada betapa welcome nya kalian padaku. Keluargaku meyakinkanku bahwa aku tak layak punya teman. Tapi kalian bertiga meyakinkanku bahwa aku layak berada di Slytherin, bersama kalian, berteman dengan kalian..." Harry tersenyum pada gelasnya. "Saat itu aku merasa menjadi manusia paling beruntung sedunia."

Pansy menatapnya, selalu tahu bahwa Harry selalu menganggap mereka semua istimewa di hatinya...

"Lalu kau bilang kalau kau naksir Draco."

Pansy membelalak. "Aku..."

"Aku seriusan kaget saat itu, aku sungguh tak percaya kalau Draco sudah punya pacar. Dia yang menciumku! Dia bilang mataku sangat indah! Aku pikir dia mempermainkanku, kau tahu," kata Harry meringis, lalu menatap Pansy tajam. "Tapi aku hanya diam. Karena aku tahu, satu suara dariku soal Draco, dan kau akan meninggalkanku."

Pansy tergagap. "What?! Aku tidak..."

"Pansy," Harry tersenyum getir. "Kau tahu itu. Aku tahu itu."

Pansy terdiam.

"Kau ingat kata-kataku tadi? Janjiku pada diriku sendiri..." Harry berkata lagi. "Saat aku punya teman, aku akan menjaga mereka. Aku tak akan melepaskan mereka. Dan aku tak akan melepaskanmu."

Pansy merasakan perutnya mulas.

"Semua orang yang tahu tentang perasaaanku pada Draco selalu bertanya, apa yang membuatku takut. Tapi aku tidak pernah takut padamu, Pans. Aku hanya..." Harry menarik napas, matanya berair, menatap Pansy tanpa kedip. "Aku hanya tak mau kehilanganmu. Kau temanku. Aku ingin bersamamu selalu, ingin menjagamu. Aku... Aku manusia paling egois. Saat aku bilang tak mau menyakitimu, aku tahu, dan Draco tahu, bahwa yang aku inginkan bukan tidak menyakitimu. Aku menyakitimu lebih lagi dengan berbohong padamu begitu lama, aku tahu itu. Yang aku takutkan adalah... Adalah menyakiti diriku sendiri karena kehilangan kau sebagai temanku."

Pansy merasakan air matanya tumpah.

"Aku tahu bagaimana kau akan pergi jika tahu tentang aku dan Draco, jadi aku memilih... Aku memilih menolak Draco," Harry menghapus air matanya. "Ron, dia yang tahu semua ceritanya, menganggap aku idiot karena melepaskan kesempatan berbahagia dengan pria yang aku cintai dan balik mencintaiku. Tapi aku hanya... Aku tak sanggup..." Dia terisak.

Pansy mendekatinya, memeluknya.

Harry nya tersayang. Sahabat nomor satunya.

Harry...

"Aku hanya tak bisa melihatmu tak bahagia, bukan karena kau... Bukan karena aku takut kau tak bahagia... Karena aku sendiri tak akan bisa bahagia melihatmu tak bahagia..."

Pansy merasakan air matanya mengalir deras.

Tentu saja. Tentu saja Harry selalu berkata dia sayang pada mereka. Harusnya dia tahu bahwa Harry benar-benar... Sungguh tulus... Sungguh ingin yang terbaik untuk mereka... Karena dia sendiri tak akan bisa berbahagia jika sesuatu terjadi pada mereka...

"Maafkan aku Pans," isak Harry di pelukan Pansy. "Maafkan aku..."

Dan merekapun kembali menangis berdua, menyesali diri mereka...


Mereka tertidur di lantai.

Harry bangun duluan, merasa sangat lega, sangat enteng.

Mereka baikan.

Dia dan Pansy sudah baikan!

Harry tersenyum lebar.

Dia ingin tertawa keras, tapi takut membangunkan Pansy, jadi dia memilih masuk ke kamar mandi, lalu mandi dan sikat gigi, berganti baju yang di bawakan Dobby kemarin. Saat keluar kamar mandi, Pansy sudah bangun.

"Morning!" Sapa Harry riang, membentangkan tangannya lalu memeluk Pansy erat-erat. Pansy tertawa, menepuk kepalanya.

"Morning. Mau sarapan?"

"Yes, tapi tidak di bawah," kata Harry riang, "Dobby "

Ctar!

"Wow," tawa Pansy. "Jadi sekarang kau bahkan bisa memanggil Peri rumah Draco?!"

"Draco memberi izin. Hai dobby, bisa bawakan sarapan?" Mereka menyebutkan menu mereka, laku duduk di bawah lagi saat Dobby sudah pergi.

"Jadi Pans, sekarang saatnya kau cerita soal semalam," kata Harry serius.

Pansy mengerang, menenggelamkan wajahnya ke pangkuannya, kembali merasakan malu dan merana..

Harry mengusap rambutnya. "Apa yang kau pikirkan?" Tanyanya pelan, nadanya tidak menghakimi. Dia hanya ingin tahu, mungkin untuk mengira-ira sejauh apa dia harus balas dendam, pikir Pansy,berjengit.

"Kau tahu, kalau kau bertanya apa yang kupikirkan, aku tidak tahu," desah Pansy akhirnya, menatap Harry. "Aku... Aku merasa, mungkin karena efek alkohol, dan cowok-cowok gagah Tim Quidditch yang mengelilingiku. Aku merasakan tubuhku panas, sangat... Sangat bergairah. Atau entah apa. Aku hanya jngin berciuman... dan Terry Boot adalah yang terdekat..."

Harry melongo. "Are you kidding me?"

Pansy mengernyit. "Aku seriusan tak mengerti Har. Aku berciuman panas dengan Terry. Cowok itu... Meraba tubuhku... Meremas dadaku... Dan aku merasa makin bernafsu..."

Harry tergagap. "Tapi..."

"Lalu aku ingat Terry pergi, dan... Dan aku merasa seperti... Aku merasa sangat desperate. Aku ingin cowok! Siapapun! Jadi saat Applebee duduk di sebelahku, aku langsung menyambarnya, menciumnya seolah tak ada hari esok..."

"Pansy!"

"Aku tahu!" Erang Pansy, menggeleng. "Aku hanya... Tak bisa berpikir! Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Aku hanya minum 2 botol kecil firewhiskey, dan tak merasa mabuk sama sekali! Aku bahkan tak perlu Ramuan hangovermu kan?"

Harry mengernyit. "Yes. Dan kau termasuk salah satu yang paling tahan terhadap alkohol." Harry terdiam sejenak. "Apa yang kau rasakan tadi? Tubuh panas? Nafsu membara?"

"Yes! Nafsu yang tak pernah kurasakan sebelumnya, kau tahu. Seolah hasrat ini sudah kupendam 16 belas tahun hidupku... Dan aku hanya tak peduli siapapun yang menawarkan diri mereka, asal mereka bisa memberiku kepuasa..."

"Pansy..." Harry berbisik horor. "Kau diracuni!"

Hening...

"WHAT?!" pekik Pansy syok.

Harry berdiri, mengernyit, lalu duduk di kursi meja belajar, mengeluarkan selembar perkamen, lalu mulai menulis.

"Ada dua kemungkinan," katanya pelan, penuh konsentrasi. "Ramuan penyubur, yang membuatmu begitu ingin melakukan reproduksi. Atau Ramuan perangsang, yang membantu meningkatkan hasrat, biasanya untuk pasangan suami istri yang mulai kehilangan gairah pernikahan mereka. Oke, kau merasa panas, merasa bergairah, merasa dirimu tak akan pernah puas?"

Pansy masih tergagap syok dengan fakta terbaru ini.

"Tapi meracuniku?!" Pekiknya.

Harry menggertakkan giginya, membanting Pena bulunya ke meja. "Siapapun dia, akan dikeluarkan dari sekolah," Desis nya berbahaya. Dia menarik napas, seolah berusaha mengontrol dirinya. Pansy melihat tangannya gemetar...

"Harry," Pansy menghampiri nya takut-takut. Harry masih mengernyit dalam, tangannya kini mengepal. "Har, tarik napas. Aku baik-baik saja kan? Kau menolongku di saat yang tepat, jadi no big deal..."

Harry menatapnya dengan tatapan yang membuatnya langsung terdiam.

Mereka berdua diam lama, sampai Harry bisa mengontrol marahnya. Lalu dia menarik napas.

"Aku tak bisa berpikir," katanya, bangkit untuk berjalan mondar-mandir, menyalurkan tenaganya. Pansy tahu, Harry adalah girl with action. Pansy tahu persis yang cewek itu inginkan hanya menghajar habis-habisan Applebee dan gengnya, tapi Harry juga tahu persis bahwa semalam bukan seratus persen salah cowok-cowok itu. Harry berhenti, menatap Pansy memohon. "Pansy, maafkan aku, tapi... Tapi kurasa kita harus ke Draco."

Pansy mengerjap.

"Is that okay with you? Dia akan bisa membantu menemukan siapa yang meracunimu lebih baik dari aku," kata Harry lagi.

Pansy masih merasa sangat malu, sama sekali tak ingin bertemu dengan Draco, yang pasti menganggapnya cewek murahan yang...

"Tapi tak apa kalau kau tidak mau ke dia, aku mengerti. Aku akan mencoba menenangkan diri dan mungkin kita bisa menganalisa..."

"Harry," Pansy mendesah pasrah. "Kau benar. Kalau kita ingin tahu kebenaran, kurasa kita harus ke Draco."

Harry tersenyum kecil. Dia duduk di sebelah Pansy, meremas tangannya.

"Draco tak akan berpikir buruk tentangmu. Dia tak bisa menyalahkanmu karena bertindak karena diracuni kan?" Katanya, seolah tahu jalan pikiran Pansy.

Pansy mengangguk. Lalu... "Kau jadian dengannya ya akhirnya?"

Harry mendesah. "Yeah. Kurasa, yeah." Dia menggigit bibirnya. "Maafkan aku."

Pansy memeluknya. "Kau, jauh lebih penting untukku daripada Draco Malfoy," katanya tegas.

Harry tergagap tak percaya. "Sungguh?!"

Pansy nyengir, memutar bola matanya. "Sejujurnya, aku sudah move on, dari sejak dia menolakku," katanya mengakui. "Kurasa aku marah padamu karena aku merasa... Bodoh. Aku merasa kau... Kau tahu, menipuku. Menertawaiku di belakangku..."

Harry menatapnya horor.

"Aku tahu, kau tak mungkin begitu," kata Pansy cepat. "Harga diriku menghalangi ku untuk melihat kenyataan kurasa."

Harry menggeleng. "Pantas saja kau begitu marah padaku..."

"Maafkan aku?"

"Kalau kau memaafkanku."

Mereka saling cekikikan, lalu Harry berdiri. "Ayo. Masih ada tugas menanti."

Mereka keluar kamar, menuju kamar Draco. Harry mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Dia mengecek jamnya.

"Jam 9 di hari sabtu? Kemana dia?" Tanyanya, lalu menggumamkan kata sandi, Pansy bahkan tak merasa perlu bertanya bagaimana Harry bisa tahu kata sandi kamar Draco, dan mereka masuk.

Kamar Draco tentu saja rapi sampai ke karpet-karpetnya. Tapi Harry mengeluarkan tongkatnya, melambaikan tongkat itu ke arah meja Draco, dan buku-buku cowok itu langsung masuk ke dalam susunan rak, lalu tas nya yang di letakkan di atas meja terbang ke gantungan tas di samping lemari, lalu kursi meja belajarnya masuk ke dalam kolong meja.

Pansy menggeleng, teringat dia bangun tidur dengan kondisi kamarnya super rapi tadi pagi. Harry hanya tak bisa menahan dirinya.

Mereka mendengar suara shower masih menyala, jadi mereka duduk di karpet Draco, Harry mengeluarkan stok cokelat Draco dari lemari penyimpanan di bawah meja belajarnya. Tapi belum sempat mereka makan, shower berhenti, lalu Draco keluar. Tanpa handuk. Tanpa selembarpun pakaian menutupi tubuh tegapnya, sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Pansy merasakan jantungnya nyaris copot.

"NO!" pekiknya, buru-buru menutup matanya.

"What the!" Draco memekik kaget, berlari terbirit kembali ke kamar mandi, membanting pintu sambil melontarkan sederet makian untuk Harry, yang tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.

Pansy menatap tak terkesan Harry yang sedang berusaha bernapas di tengah tawanya. "Kau sengaja kan Har?! Kau tahu dia bakal keluar tanpa handuk?!"

Harry masih terbahak, wajahnya merah padam, bangkit berdiri karena Draco berteriak padanya untuk mengambilkan baju untuknya. "Supaya kau melihat betapa tak kerennya dia, lari terbirit-birit begitu," katanya sambil cekikikan, membuka lemari Draco untuk memilihkan bajunya. Bokser dan jubah santainya.

Pansy mengangkat sebelah alisnya. "Aku tak mengerti jalan pikiranmu, bagaimana bisa aku berpikir dia tak keren kalau paketnya seimpresif itu?!" Tandasnya.

"Pansy!" Harry memprotes. Pansy cekikikan.

"Hei, aku tak sengaja melihat! Kau yang menyodorkan dia untuk kulihat!"

Harry memutar bola matanya. "Mesum," katanya geli, lalu dia masuk ke kamar mandi Draco, dimana Pansy mau tak mau tertawa mendengar Draco memarahinya habis-habisan.

"Aku seriusan tak mengerti dimana lucunya," tukas Draco, akhirnya keluar dari kamar mandi dengan pakaian utuh, Harry di belakangnya tampak berusaha keras menahan tawa. Pansy merasakan wajahnya merona saat dia bertatapan dengan Draco. Mereka berdua memutuskan untuk tidak membahas kejadian memalukan tadi.

Draco duduk di atas kursi meja belajarnya, sementara Harry di karpet di sebelah Pansy. Cowok itu menatap Pansy.

"Feeling better?" Tanyanya baik hati.

Pansy memberinya senyum setengah hati. Draco mengangguk.

"Tenang saja,bakal lebih baik setelah kita balas dendam pada mereka..."

Pansy dan Harry bertukar pandang.

"Draco, kurasa Pansy diracuni."

"What?!"

Lalu Harry menceritakan soal analisisnya. Draco mendengarkan dengan kernyitan makin dalam di tiap kalimat Harry.

"Jadi maksudmu ada kemungkinan jika kita tidak menghentikan kejadian semalam, jika Miles tidak kesana, jika Alex Carlos tidak mengajak kencan Daphne, Pansy bakalan hamil?!" Kata cowok itu syok. Harry mengangguk, sementara Pansy merasakan tubuhnya dingin.

Kalau Harry mengabaikan dia...

Kalau Harry tidak peduli apa yang terjadi padanya...

Kalau Harry balas nmarah padanya karena marah padanya...

Pansy bergidik. Harry meremas tangannya, kembali menguatkan.

Mengingatkan Pansy bahwa dia selalu di sini.

Pansy balas meremas tangannya, menarik napas dalam-dalam.

Draco mengernyit, mengetuk-ketuk meja belajarnya, berpikir. Mereka terdiam sejenak, membiarkan cowok itu mencerna informasi ini. Lalu...

"Ramuan ini, apapun jenisnya, punya efek yang sama? Apa yang membedakan?" Tanyanya pada Harry.

"Ramuan perangsang menggunakan ekstrak Belladonna, yang sedikit mempengaruhi alam bawah sadar, sehingga membuat kehilangan kontrol. Ramuan kesuburan lebih kepada merangsang sifat natural manusia untuk berkembang biak, sedikit manis , tiap peramu punya tipe mereka sendiri untuk menentukan..."

"Harry," Draco mendesah geli, menatapnya sayang. Pansy nyaris berjengit melihat ekspresinya. Nyaris.

"Ehm, maksudku, Ramuan kesuburan lebih terkontrol, tapi dengan rangsangan yang baik, keduanya akan tetap sulit dibedakan. Tapi aku bisa..." Harry membelalak menatap Pansy. "Aku bisa mengecek dengan Galpalot! Urin sebelum 24 jam! Aku bisa melakukannya Pans!" Dia tampak bersemangat.

Draco mengernyit. "Berapa lama kau butuh waktu untuk melakukan test ini?"

"Sejam, maksimal."

Draco melambaikan tongkatnya, mengubah satu perkamennya menjadi botol kecil, memberikan nya pada Pansy, lalu mengedik kamar mandinya. Pansy meringis,.menatap Harry sekilas, yang mengangguk menyemangati, lalu masuk ke kamar mandi Draco.

"So, baikan?" Tanya Draco dengan nada menggoda.

Harry tersenyum luar biasa lebar, mengangguk. "Yes."

"Sudah kubilang dia akan kembali, kan?" Katanya, terkekeh. Dia mendudukan dirinya di sebelah Harry, lalu menciumnya mesra.

Pansy keluar dari kamar mandi, melihat Draco sudah duduk di sebelah Harry, malas-malasan menyandarkan kepalanya ke pundak Harry sambil mereka berdua berbicara pelan.

Pansy menarik napas.

"Hei, sudah?" Harry tersenyum padanya, menepuk kaki Draco, lalu cowok itu menegakkan tubuhnya, sehingga Harry bisa berdiri untuk mengambil vial itu. Harry menggoyangnya di bawah cahaya matahari, mengangkat sebelah alisnya.

"Kenapa?" Tanya Draco.

"Hmm, warna ini, jelas Belladonna," katanya, mengangkat bahu. Dia meringis pada Pansy. "Sori babe." Lalu membuka tutup vial itu, menghirup nya.

"Merlin Potter!" Draco terbahak.

"Harry!" Pekik Pansy luar biasa malu.

"What? Kita menghemat sejam," tawa Harry, menutup vial itu. "Definitely Belladonna. Ramuan perangsang, indeed." Dia tampak sangat berpuas diri. "Yah, walaupun kalau kita ingin kepastian lebih..."

"Potter, please," Draco memutar bola matanya. "Kami semua tahu kau Jago ramuan. Bla bla bla bla. Aku dan pansy sudah mendengarnya ratusan kali..."

Harry cemberut, menyodorkan vial itu ke Pansy lagi, lalu berdeham, meringis, berkata, "sori babe." Lalu dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan.

"Astaga Harry, aku sudah mencuci botol ini sebelum membawanya keluar!" Pansy tak terima.

"Sori babe!" Ulang cewek itu dari kamar mandi.

"Freak,"gumam Pansy, memutar bola matanya.

Draco memberinya satu amplop besar yang sudah dia tulisi. "Masukan vial itu ke sini."

"Untuk apa?"

"Kirim ke St mungo. Agar kita mendapat bukti resmi." Mengeluarkan kantong galeonnya, mengecek jumlahnya, lalu memberikannya ke Pansy, yang memasukannya ke amplop itu. Draco melambaikan tongkatnya ke arah vial. "Supaya anti pecah," cowok itu menerangkan. "Oke. Masukan. Tutup. Segel dengan lambang keluargaku. " Sekali lagi dia melambaikan tongkatnya. "Kau bisa pakai Artemis. Dia di kandang burung hantu."

Pansy mengangguk. "Thanks Draco."

Draco hanya mengangguk. Harry keluar dari kamar nandi, tertawa melihat ekspresi sebal Pansy.

"Sudah kubilang sori babe, I can't help myself!"

"Kau benar-benar orang aneh, kau tahu itu Har?"

Harry menjulurkan lidahnya, lalu mereka cekikikan berdua.

"Jadi, ayo kita analisis kembali," kata Draco, kembali duduk di kursinya. Harry dan Pansy duduk di tempat tidurnya. "Ramuan perangsang. Membuat kau hilang kendali. Kapan terakhir kali kau memegang kendali penuh terhadap tubuhmu?"

Pansy mengernyit, mengingat-ingat. "Er, aku datang ke ruang rekreasi Ravenclaw. Aku masih tak merasa aneh saat memberi selamat ultah pada Applebee..."

"Si bangsat itu," geram Harry. "Harusnya aku kutuk hilang sekalian penisnya, nggak besar-besar juga miliknya, jelas tak sebesar ego nya..."

"Kau melihat penisnya!" Draco memprotes.

Harry memberinya tatapan yang benar saja. "Aku menendangnya, Draco, jelas saja aku harus melihat posisinya man?"

Draco memberinya tatapan tak terkesan, tapi Harry buru-buru berkata, "masih lebih impresif milikmu kok. Benar kan Pans?"

"Harry!" Pekik Pansy, wajahnya terbakar, membuat Harry menyembur tertawa terbahak-bahak.

Draco mendengus sebal, lalu berkata lagi, "oke, kembali ke topik. Jadi kau menyelamati Applebee. Setelah itu?"

"Lalu aku mengambil firewhiskey," kata Pansy, melirik kesal Harry, yang masih cekikikan, berusaha menguasai dirinya. "Bersama yang lain. Lalu kami duduk-duduk, minum pelan-pelan. Hanya sebotol. Tak terasa efek apapun..."

"Hmmm," Draco mengangguk. "Berarti tak mungkin firewhiskey botol pertama yang diracun. Setelah itu?"

"Setelan itu Cho Chang mengajak kami turun ke lantai dansa... " Dia mengernyit. "Dia... Dia memberiku sebotol firewhiskey sebelumnya... Menyuruhku menghabiskannya... " Mereka terdiam, menatap Pansy menunggu. Pansy menarik napas, menatap Harry membelalak. ",Harry! Itu botol terakhirku. Botol dari Cho Chang!"

Draco mengernyit. "Apa kau merasa panas dan bergairah setelah itu?"

Pansy merasakan wajahnya merona, tapi menguatkan dirinya untuk menatap Draco. "yes! Aku ingat! Aku ingat berdansa dengan... Dengan gaya Daphne... Membiarkan Terry... Mencium Terry tanpa berpikir ulang sama sekali..." Dia mencengkeram kedua pipinya. "Astaga! Aku sungguhan diracuni!"

Harry dan Draco bertukar pandang, Pansy tahu mereka berkomunikasi dengan mata mereka, lalu setelah sepakat, mereka berdua saling mengangguk.

Draco berdiri. "Oke, pertama, POS amplop itu sekarang," katanya. "Aku akan bicara pada Snape untuk mendukung kita..."

"Apa rencananya Draco?" Pansy cemas.

"Membawa ini ke Dumbledore," kata Draco kalem.

Harry nyengir pada Pansy. "Apa pembalasan yang lebih baik dari menendang si culas itu dari sekolah ini?"


Mereka bekerja cepat setelah itu.

Pansy ke kandang burung hantu.

Draco ke Snape.

Harry ke Miles dan Daphne, meminta mereka berdua sebagai saksi mata.

Tapi Daphne tak ada di kamarnya. Saat Harry masuk ke kamar anak perempuan kelas 6, hanya ada Tracey sedang tiduran malas-malasan sambil membaca novel Roman.

"Harry!" Serunya, bangkit berdiri. "Kemana saja kau?! Aku bertemu Daphne semalam, dia bilang kau bersama Pansy?! Kalian baikan?"

Harry tertawa. "Yep!" Katanya riang. "Baikan semalam!"

Tracey memekik girang, lalu mereka berpelukan senang.

"Syukurlah," desah Tracey. "Tanpa Pansy, aku merasa tak tahu apa yang sedang terjadi di Hogwarts! Mana dia?"

"Sedang mengepos surat. Kau lihat Daphne?"

Tracey memutar bola matanya. "Di kasur Miles," katanya geli.

"Really?" Harry terbahak.

"Yep, rupanya semalam Hari Baikan Sedunia," kata Tracey, ikut tertawa.

"Oke aku harus ke mereka dulu."

"What? Why?"

"Akan kuceritakan semuanya nanti. Sekarang aku sedang diburu waktu. Oke?"

Tracey memberinya tatapan penasaran, tapi mengangguk. Harry buru-buru keluar kamarnya, lalu naik lagi menuju kamar cowok kelas 7.

Harry membuka pintu, mengintip sedikit, lega saat semua kelambu terbuka kecuali satu kasur, yang pasti milik Miles dan Daphne. Harry menggeleng, jam 11 dan kedua orang itu masih saja tidur.

"Miles, oi! Bangun!" Seru Harry. "Miles!"

Daphne yang membuka kelambu. "Harry! Apa yang kau lakukan di sini?!" Tanyanya, turun dari kasur hanya dengan kaus besar milik Miles. "Miles sedang ke kamar mandi. Apa yang terjadi?"

Harry nyengir. "Baikan dengan Pansy!" Katanya riang, membuat Daphne memekik lalu mereka berpelukan seperti dengan Tracey tadi. Lalu wajah Harry berubah serius. "Tapi ada sesuatu yang terjadi."

Saat itu Miles keluar dari kamar mandi, hanya dengan handuk di pinggang. Dia terlonjak kaget saat melihat Harry. "Harry! What the..."

Harry mengibaskan tangannya, lalu duduk di kasur Miles dan mulai bercerita soal kejadian semalam, soal analisis nya dan Draco. Di akhir cerita, Miles dan Daphne hanya bisa tergagap.

"Seriusan? Memangnya Ramuan itu legal?" Tanya Miles syok.

"Legal kalau kau mendapatkannya dari healer," kata Harry, mendesah. "Kalau tidak, atau kalau kau meracuni seseorang dengan itu, kau bisa di keluarkan dari sekolah."

Miles dan Daphne makin syok.

"Makanya kami butuh kalian sebagai saksi mata semalam. Oke?"

Miles dan Daphne mengangguk. Daphne sangat terpukul.

"Bagaimana bisa Ramuan seperti itu bisa jatuh ke tangan anak sekolah?!" Protesnya. "Pansy... Walaupun tanpa Ramuan kesuburan, tetap bisa hamil kan?!"

"Tidak kalau setelah melakukan seks, dia langsung minum Ramuan kontrasepsi buatanku," kata Harry. "Ramuan kesuburan, lain lagi, bahkan ramuanku tak akan bisa menolak efeknya."

Daphne berjengit.

"Oke, aku akan ke bawah. Kalian berdua, siap-siap, yeah?" Tanya Harry, bangkit berdiri, lalu, setelah melihat Miles dan Daphne mengangguk, keluar kamar.

Draco sudah duduk di ruang rekreasi, di spot favorit senior di depan perapian, sedang menulis cepat di selembar perkamen. Harry duduk di sebelahnya. Draco tidak mendongak, hanya bertanya, "Mana Miles dan Daphne?"

"Masih siap-siap," kata Harry. "Mereka tidur bareng semalam."

Draco mendongak sedikit, mengangkat sebelah alisnya, nyengir. "Really? Wow. Akhirnya Miles luluh juga."

Harry tertawa. "Daphne sangat cantik kan tadi malam? Siapa cowok waras yang akan menolaknya?"

"Aku dong," kata Draco, memberi Harry kecupan sekilas di bibir.

"Kau kan memang ngga waras," goda Harry, membuat Draco memutar bola matanya, tapi cowok itu masih menulis cepat. "Surat untuk siapa?"

"Pengacara keluarga, hanya untuk jaga-jaga," kata Draco, mengernyit, membubuhkan tanda tangannya, lalu menggulung surat itu. "Pansy pakai artemis. Hedwig?"

"Sure. Go on."

Draco mengangguk, lalu berdiri. Dia mengulurkan tangannya tapi Harry mengerang. "Ayolah Draco, kau bisa kesana sendiri kan?"

Draco nyengir. "tapi aku ingin bersamamu. Aku kangen kamu, semalaman tidur sendirian..." Dia membungkuk untuk mengecup bibir Harry lagi, yang tertawa, balas menciumnya sekilas, lalu menarik dirinya.

"No, kau jalan sendiri sana. Aku menunggu Miles dan Daphne turun, dan bagainana kalau Pansy kembali nanti?"

Seperti sihir, Pansy muncul saat itu, masuk ke ruang rekreasi. Draco mendesah kalah, lalu berjalan keluar asrama. Harry berusaha menahan tawanya. Clingy Draco selalu membuat hatinya hangat...


Mereka berlima duduk di kursi tamu di ruangan professor Dumbledore. Snape sedang berbicara mewakili mereka. Dumbledore mengangguk, mendengarkan dengan serius. Sebelum ini, mereka berlima di minta memberi kesaksian satu per satu, sendiri-sendiri. Dumbledore tampak kaku saat mereka semua selesai.

Tak lama setelah itu, Cho Chang masuk ke ruangan itu. Dia tampak kaget saat melihat rombongan anak Slytherin di sana. Prof Flitwick mengikutinya dari belakang.

Cho Chang menatap Pansy, lalu menatap benci Harry, lalu menatap Draco, yang balas menatapnya dengan sedingin es. Melihat ini, dia mulai tampak takut, tapi berusaha menguasai dirinya. Dia duduk di sebelah Flitwick di sofa itu, menggigit bibirnya.

"Miss Chang," kata Dumbledore memulai. "Apa kau tahu kenapa kau ada di sini?"

Cho menggeleng.

Draco mendengus, memutar bola matanya. "So much for a Ravenclaw," tandasnya.

Cho menatapnya tersinggung. "Dan apa maksudnya itu?!"

"Mungkin kalau kau tidak terus menerus mikirin cowok, kau bakal tahu bahwa ramuan perangsang terlarang di Hogwarts," kata cowok itu dingin.

Cho tampak sangat kaget sekarang, tapi dia segera menguasai diri. "What?! Kau pikir aku memakai Ramuan perangsang?!"

"Kau jelas tak butuh ramuan perangsang, dengan puluhan cowok selalu siap di tempat tidurmu," kata Draco lagi, Harry meringis, menyikutnya karena bicara yang tak perlu. Cho tergagap, wajahnya merah padam.

"Excuse me?!"

"Mr Malfoy, kau tak bisa berkata begitu pada seorang lady," kata Flitwick syok.

"Lady," Daphne mendengus.

"Beraninya kau bicara begitu tentang aku! Kau pria dingin aneh..."

"Dan aku tidak peduli, oke?" Sahut Draco lagi, seolah tanpa interupsi. "Aku tak peduli semisalnyapun kau minum segalon Ramuan perangsang. Kau tahu persis kau di sini karena meracuni Pansy."

Hening sejenak.

Cho memelototinya. "What?! Tuduhan macam APA ini?!"

"Semua tenang," Dumbledore akhirnya mulai bicara. Cho kembali duduk, sedang Draco, yang sejak tadi tetap duduk dengan tenang, tidak bergeming. Di saat seperti ini Pansy selalu beranggapan bahwa tak ada yang bisa lebih keren dari cowok itu...

"Albus, aku tak mengerti," cicit Flitwick. "Kau memanggil kami ke sini karena apa?"

"Jelas apa maksud Mr Malfoy tadi," sahut Snape. "Murid asramamu, miss Chang, sudah meracuni murid asramaku, miss Parkinson, dengan Ramuan Perangsang."

Flitwick menatap Snape tak percaya, Cho Chang melotot garang.

"Aku menolak dituduh seperti ini! Aku tidak melakukannya!"

Dumbledore mengangkat tangannya, dan mereka semua kembali diam.

"Aku sudah mendengarkan kesaksian miss Parkinson dan teman-temannya. Miss Potter sudah mengkonfirmasi bahwa di urin Miss Parkinson ditemukan warna dan aroma Belladonna yang merupakan inti dari Ramuan perangsang..."

"Dan apa?!" Bentak Cho hilang kendali. "Bisa saja Parkinson minum itu sendiri kan? Bisa saja dia pakai obat terlarang atau apapun Kan?! Dia cewek paling nggak laku di angkatan para senior kan, dia mungkin siap mengobral tubuhnya untuk siapapun! Apa hubungannya denganku?!"

Ckiit, Pansy merasakan hatinya sakit. Daphne melongo lebar, syok pada kata-kata cewek itu.

"Pansy bukan orang seperti itu!" Harry tidak terima, mengernyit dalam. "Kau tak berhak bicara begitu soal Pansy, kau pelacur jahat!"

Cho Chang mendengus, menatap Harry penuh benci. "Potter, please, manusia Paling munafik sedunia sepertimu, tidur dengan cowok yang di incar sahabatmu sendiri! Kurasa kau orang terakhir yang berhak mengajarkanku soal moral!"

Draco mengeluarkan tongkatnya, tapi Harry dengan gesit meraihnya sebelum cowok itu siap beraksi. Mereka bertukar pandang sekilas, lalu Draco menarik napas, duduk tenang kembali. Harry mengangguk pada Cho Chang.

"Ya. Aku memang cewek munafik. Dan aku memang jahat. Puas?" Tandasnya, membuat Cho makin menyipit. "Tapi kau, Chang, kurasa sudah cukup kecualasanmu. Kau sengaja berpura-pura berteman dengan Pansy hanya untuk membuat kami semua menderita, kau adalah manusia Paling buruk yang pernah kutemui!"

Cho Chang mendengus. "Slytherin sepertimu bicara soal sifat buruk orang lain, kau pikir Ada yang mau mendengarmu?!"

"Miss Chang," Dumbledore berkata lagi, menatap Cho serius. "Kau tahu persis bahwa ramuan perangsang terlarang di Hogwarts. Ini adalah tuduhan serius yang diajukan oleh Mr Malfoy padamu."

"Profesor, anda percaya pada Malfoy?! Anda tahu bagaimana keluarganya! Anda tahu bahwa dia Slytherin pembohong..."

"Miss Chang, kalau kau secerdas asramamu memberimu kredit, supremasi asramamu jelas tak perlu terus kau ungkapkan di depan enam orang Slytherin disini," kata Snape dingin. Cho langsung menciut. "Kau hanya perlu menjawab beberapa pertanyaan. Apa kau meracuni miss Parkinson?"

"No!" Pekik Cho. "Untuk apa aku melakukan itu?! Apa manfaatnya untukku?!"

"Untuk balas dendam pada Harry, jelas," tandas Daphne. "Kau benci dia setengah mati karena Diggory lebih memilih dia daripada kau kan? Melihatmu seperti ini, harusnya kau sadar diri kenapa Diggory tak akan pernah suka padamu!"

"Beraninya kau..."

"Kau membalas dendam pada Harry dengan menyakiti temannya," kata Miles, mengernyit, menggeleng. "Menjijikan."

Cho tergagap. Keluar dari mulut cowok pendiam macam Miles Bletchley jelas membuatnya kalimat itu bagai menamparnya.

"Dumbledore, apakah ada bukti untuk ini?" Tanya Flitwick cemas.

Dumbledore mengangguk. "Pertama, seperti kubilang tadi, Miss Potter memastikan bahwa rfek yang di rasakan miss Parkinson adalah..."

"Professor," Cho menyela lagi. "Potter benci padaku! Anda lihat sendiri tadi kan? Dan anda percaya padanya?!"

Dumbledore mengernyit. "Harry adalah salah satu peramu paling luar biasa yang pernah kutemui, jadi, ya, kurasa aku percaya dia mengenali efek Ramuan dari ciri-cirinya."

Cho menatapnya seolah guru itu sudah gila. "Tapi dia bahkan belum berkualifikasi! Aku menolak dituduh karena omongan sampah cewek nerdy..."

"Analisa Harry sudah di buktikan oleh lembaga riset St mungo," kata Draco kaku, mengeluarkan selembar perkamen, berdiri untuk menyerahkannya pada Dumbledore, yang mengangguk, membuka segel rumah sakit di perkamen itu. "Aku tidak membuka segelnya. Perkamen itu resmi dari St mungo, dan kita semua tahu lembaga riset St mungo selalu memantrai perkamen mereka agar tidak di ganggu gugat."

Cho tampak syok, menatap perkamen itu tanpa kedip.

Draco mendengus tanpa humor. "Kesalahanmu, Chang, adalah menganggap anak asrama lain tak sepintar dirimu. Kau harusnya tahu untuk tidak menantang Slytherin, tahu bahwa Harry sangat Jago ramuan, tahu bahwa aku, dengan uangku, akan bisa membuat lembaga riset St mungo memprioritaskan urusanku sehingga selesai dalam hitungan jam." Dia tersenyum jijik. "Dan aku akan memastikan kau di keluarkan dari sekolah ini, walaupun itu adalah hal terakhir yang bisa kulakukan."

Cho tampak ketakutan sekarang.

Dumbledore mengangguk. "Jadi kita sepakat bahwa di urin Miss Parkinson ditemukan ramuan perangsang. Dan menurut miss Parkinson, dia merasakan gejala dari Ramuan perangsang segera setelah menerima... Ah... Minuman beralkohol darimu?"

Wajah Flitwick merona. Jelas dia malu karena ketahuan membiarkan murid asramanya menyelundupkan alkohol ke pesta mereka.

Tapi Cho tak kehilangan akal. "Aku menolak disalahkan!" Tukasnya. "Bisa saja Parkinson meminum ramuan utu sendiri! Bisa saja orang lain yang meracuninya! Memangnya ada yang melihatku melakukannya?!"

"Miss Chang, kau tahu betapa serius nya situasi ini," kata Snape pelan, lalu mengeluarkan vial kecil berisi Ramuan bening. Pansy melihat tulisan Harry di label Ramuan itu. "Veritaserum. Miss Potter membuat ini tahun lalu sebagai pelampiasan stress owl nya. Aku tahu ini sempurna, tapi kurasa percobaan tak akan menyakiti siapapun."

Cho melongo. "Anda tak berhak..."

"Itu, atau aku akan membawa ini ke pengadilan," kata Draco, kembali mengeluarkan segulung perkamen. "Pengacara ku sudah membalas. Dia siap membelaku di jalur hukum. Dan kau tahu persis kasus ini akan tersebar ke daily prophet."

Cho terduduk,.sangat syok.

"Miss Chang, kau masih bisa mengaku," kata Dumbledore. "Tapi jika kau sungguh merasa tak bersalah, kau bisa meminum satu tetes veritaserum, hanya satu pengakuan, aku akan memastikan bahwa tak akan ada pertanyaan yang melenceng dari kasus ini."

Semua terdiam, semua menatap Cho. Pansy merasakan Harry meremas tangannya, menguatkannya.

Memastikan segalanya akan baik-baik saja...


"My, kurasa aku tak pernah setegang itu dalam hidupku!" Kata Daphne, menjatuhkan dirinya di sofa. Miles duduk di sebelahnya, mengangguk.

"Draco, aku bahkan tak tahu lagi harus bicara apa," tawa Miles. "Kau benar-benar orang yang salah untuk di lawan, kau tahu?"

Draco hanya nyengir, mendudukan dirinya di sebelah Harry. "Tentu saja kan. Tanpa aku, tak akan ada yang sadar Pansy di racuni." Semua tertawa, Harry memutar bola matanya.

"Kalian tahu, kurasa kita harus pesta untuk ini," kata Daphne penuh semangat.

Pansy meringis. "Pesta..." Dia jelas tak berminat berpesta lagi setelah kejadian semalam, setelah dia dengan begitu mudah diracuni, nyaris di perkosa oleh lima orang anggota Tim Quidditch yang kasar...

"Oh ayolah Pansy. Kau dan Harry baikan, aku dan Miles baikan, Chang di depak dari sekolah! Semua ini perlu di rayakan!"

Draco mengangguk. "Sounds fantastic."

"Pesta privat saja," kata Harry, tersenyum baik hati pada Pansy, yang membalas tersenyum padanya mengapresiasi. Harry memang yang Paling mengerti semua orang.

"No problem." Draco mengangguk lagi. "Three broomstick? Atau bisa di kamar anak cowok..."

"Tidak menawarkan kamar pribadimu?" Goda Harry.

Draco mendengus. "Not in a million years." Para cewek cekikikan, selalu geli jika teringat tragedi perusakan kamar Draco.

"Bagaimana kalau di kamar pribadiku?" Tanya Pansy riang. "Kurasa cukup untuk kita berlima, Tracey, Theo, dan Blaise."

Semua langsung bersemangat mendengar ini.


Mereka berpesta, minum, tertawa terbahak-bahak, lalu Miles dan Daphne mojok untuk melakukan ritual setelah pesta mereka: berciuman seperti orang kesetanan. Harry mengusir mereka berdua, yang dengan senang hati pergi untuk melanjutkan kegiatan mereka di kamar Daphne (karena kamar Miles terlalu jauh).

Mereka saling bercanda dan tawa Makin keras...lalu satu per satu mulai tumbang. Tracey meringiuk dengan Theo di kasur Pansy, sedang Blaise ngorok keras di bawah meja. Draco tidur di paha Harry seperti orang mati, membuat Harry bolak balik mengecek napasnya saking takutnya.

Hanya tinggal dia dan Pansy.

"Kau tak mabuk sama sekali ya?" Tanya Harry. Pansy meringis

"Benar-benar belum ingin menyentuh firewhiskey lagi," katanya, mengangkat bahu.

Harry mengangguk. "Kalau kau mau menghajar cowok-cowok itu..."

Pansy mendesah. "Kurasa mereka tak sepenuhnya salah, Har. Aku yang merayu mereka Kan..."

Harry mengernyit. "Kau merayu Applebee. Apa hak empat cowok yang lain untuk ikut masuk ke kamar itu?!"

"Kurasa mereka berpikir aku terlalu mabuk untuk sadar, dan mencari kesempatan..."

Harry tampak murka. "Menjijikan," geramnya. "Mereka semua sok-sokan menunjukan betapa berpendidikannya mereka padahal semua sampah. Maksudku, Goldstein, kita tahu dia bajingan. Tapi Jake Price selalu nampak manis dan bersemangat. Dan Michael, Merlin, aku tahunan berteman dengannya! Aku tahu Applebee dan Allen sama-sama tak punya moral, tapi terjerumus sampai seperti ini..."

Pansy mendesah. "Yeah, seperti katamu, Ravenclaw tidak direkomendasikan."

Mereka terdiam sejenak.

Lalu Harry meraih tangan Pansy. "Kau tak perlu terburu-buru, kau tahu," katanya pelan, meremas tangan Pansy. "Setiap orang berjalan di track mereka masing-masing. Kenapa memangnya kalau semua orang sudah tak perawan, artinya kau masih punya sesuatu yang memang milikmu sendiri untuk kau perjuangkan. Kau cewek yang lebih mahal dari yang bisa di harapkan oleh Daphne dan aku jadi satu..."

Pansy terbahak.

Harry tersenyum. "Kau pasti, aku sangat yakin, akan menemukan seseorang yang pas untukmu. Saat itu, kau bisa berbangga hati berkata padanya bahwa dirimu, luar dan dalam, adalah miliknya."

Pansy membuka mulutnya, tapi memilih menutup nya lagi. Memikirkan kata-kata Harry...

"Apa itu yang terjadi padamu?" Tanyanya penasaran, melirik Draco.

Harry tersenyum. "Dan aku bersyukur karena semurahan apapun aku, aku masih berharap, jelas, dalam lubuk hatiku, bahwa pria yang kucintai yang akhirnya akan mendapatkanku. Lagian," dia tertawa. "Kurasa Draco akan membunuhku kalau aku sampai melakukannya dengan orang lain."

Pansy mendesah. "Entah sampai kapan tapi aku harus menunggu..."

"Kalau kau mengizinkanku sedikit ikut campur..." Kata Harry nyengir lebar.

Pansy mengangkat sebelah alisnya. "Ah ha? Bagaimana kalau aku tak memberi izin?"

Harry tertawa. "Don't care, aku akan tetap ikut campur. Jadi aku punya teman..."

"Harry... No..."

"Dia menolak tiap kali aku menggodanya karena naksir kau..."

"Maksudmu Blaise? Harry, kurasa aku tidak berminat...

"Bukan Blaise, bukan," kata Harry riang. "Dia naksir kau sudah sangat lama, kau tahu, selalu mencuri-curi pandang..."

Pansy menatapnya skeptis. "Siapa, Potter? Aku tak mau kau jodohkan dengan cowok random!"

Harry tampak tersinggung. "Miles, apakah dia terdengar seperti cowok random yang kujodohkan untuk Daphne?"

"No..."

"Kau juga tak akan kujodohkan dengan cowok asal-asalan, Pans," kata Harry tegas. Lalu dia menyembur tertawa. "Merlin, aku membayangkan kau punya anak dengan temanku ini..." Dia tertawa terbahak-bahak.

Pansy menatapnya seolah dia sudah Gila. "Harry, no, okay? Kurasa aku masih ingin sendiri..."

Harry mengibaskan tangannya tak peduli. Masih senyum-senyum. "Aku ingin melihat ekspresi Ron saat kubilang kau mau kencan dengannya."

Hening menyusul pernyataan itu.

"WHAT?!" suara jeritan syok Pansy bahkan tak membangunkan semua orang di kamar itu.

Dan Harry pun makin histeris tertawa.


Finish!

Ya ampuuun selelsai juga cerita ini! I'm so proud of myself!

Terima kasih kalian semua yang sudah mengikuti dan selalu mendukung ku untuk menyelesaikan cerita ini!.kalian semua luar biasa, Dan berhak mendapat cowok sekeren Draco Malfoy dalam hidup kalian! Wow wow wow!

Selesai di 34 chapter yuhuuu!

Apa Ada yang masih mau epilog? Please review tentang kesan kalian pada keseluruhan cerita ini ya x)))

Love is in the air.. yuhuuu!

Sampai ketemu di cerita selanjutnya (atau epilog?)

Love you guys so much muaachh :****