Disclaimer : I do not own Naruto.


Sekembalinya Sasuke dari rumah sakit, ia segera bergegas ke posko kesehatan yang tadi ia tempati. Di sana, Sasuke meraih jubah hitam yang masih cukup basah dan kotor akibat pertarungan. Keadaan tersebut sama sekali tidak ia pedulikan. Ia hanya fokus mengambil barang kebutuhannya; pedang dan peralatan ninja lain. Luka yang masih cukup terasa di paha segera ia babat kencang menggunakan perban. Kantung ninja segera disampirkan di area pinggang, tepat di mana sabuknya berada. Sepasang sarung tangan ninja disambar dan dikenakan. Detik selanjutnya, ia sudah bergegas keluar tenda.

Para petugas medis di sana tergugu ketika berpapasan dengan Sasuke. Mereka hendak menahan kepergian Sasuke, mengingatkan bahwa luka tusuk dan sayatan yang diderita olehnya belum cukup kering. Tetapi, semua kalimat yang hendak diucapkan seolah terkunci dalam tenggorokan. Langkah kaki terhenti, napas tertahan, dan mata sedikit melebar. Para ninja medis terpaku di tempatnya berdiri kala melihat ekspresi dingin di wajah lelaki itu.

Ekspresi dingin dengan mata berkilat merah dan ungu.

Rahang Sasuke mengatup keras, gestur tubuhnya kaku—amat terjaga dan awas, seolah tangan yang mencengkeram pedang itu akan langsung menebas siapa pun orang yang berani menginterupsinya.

Aura lelaki itu … para ninja medis dalam posko tersebut mengembuskan napas dalam-dalam begitu Sasuke pergi. Mereka gemetar akibat merasakan intensi membunuh yang teramat pekat dari diri sang Hokage. Energi dalam diri mereka seolah diserap entah ke mana. Sekelompok ninja medis itu saling bertatapan. Ketika mata mereka bertemu satu sama lain, mereka mengangguk pelan, seolah mengerti bahwa para monster chakra yang masih mengamuk di luar sana akan segera binasa di tangan pemimpin mereka.

Sehebat dan sekuat apa pun para juubi, mereka takkan mampu melawan jiwa Uchiha yang telah terbakar oleh kemarahan.

Kekuatan mata Uchiha bersumber dari rasa sakit yang diderita dari rasa kehilangan. Seorang Uchiha yang tengah dijerat murka akibat kehilangan sosok yang sangat berharga untuknya sudah pasti jauh lebih berbahaya dari para monster chakra sekalipun.

Tak terkecuali Uchiha Sasuke.

oOo

Peperangan telah berlangsung selama hampir dua bulan. Pergerakan lawan begitu terkoordinasi. Taktik yang mereka gunakan juga begitu ampuh sehingga berhasil mengelabui dua senjata utama para shinobi—dua kekuatan terbesar yang mereka punya, Uchiha Madara dan Uchiha Sasuke.

Shikamaru telah berusaha sekeras mungkin untuk menormalkan keadaan. Seluruh kemampuan berpikirnya diperas habis-habisan. Ia telah membuat ratusan strategi yang berhasil menyelamatkan dua puluh ribu pasukan dari jumlah awalnya—lima puluh ribu.

Mencapai pencapaian tersebut tidaklah mudah karena pasukan lawan berjumlah dua kali lipat dari milik para shinobi. Serangan Urashiki untuk kedua kalinya telah memangkas begitu banyak calon pasukan yang hendak mereka gunakan. Oleh karenanya, Shikamaru harus memutar otak mati-matian untuk memanfaatkan sisa sumber daya yang mereka miliki.

Empat puluh ribu orang dikerahkan untuk memepertahankan dimensi ini sedangkan sepuluh ribu yang lain mengikuti Sai menuju dimensi lawan. Sebagai Divisi Strategi, Shikamaru mendapatkan tanggung jawab berat. Ia menopang hidup dan matinya empat puluh ribu orang, mengingat sepuluh ribu orang lainnya telah ia serahkan pada Sai dan Kakashi begitu kontak mereka terputus.

Meskipun begitu, berkurangnya tanggung jawab sama sekali tidak mempermudahnya. Beban yang ditanggung Shikamaru tetap berat. Dua bulan yang berlalu terasa seperti bertahun-tahun.

Berhasil menyelamatkan setengah jumlah pasukan dari keseluruhannya sudah pasti merupakan prestasi besar. Shikamaru sudah hendak bernapas lega sebelum kemudian serangan kejutan datang. Para juubi hadir entah dari mana. Informasi tentang kehadiran Ōtsutsuki di Konoha juga ikut memperkeruh keadaan.

Shikamaru segera memberi arahan agar pasukan menarik diri dari medan perang dan kembali ke desa-desa yang diserang juubi. Mereka bertarung bersama para mantan kage yang memiliki skala kekuatan lebih besar dari shinobi pada umumnya.

Akan tetapi, semua usaha itu sia-sia.

Korban-korban berjatuhan lebih banyak dari sebelumnya—dengan juubi yang menyerang serta pasukan lawan yang seolah tak ada habisnya.

Shikamaru dilanda rasa putus asa—hingga ia berhasil kembali mendapatkan kontak dengan Sasuke.

Pihak shinobi mendapatkan bantuan berupa edo tensei sehingga mereka mampu memukul mundur lawan untuk sementara. Mereka memang mampu menghentikan pertumpahan darah, tapi bukan berarti mereka menang.

Pola peperangan pihak shinobi adalah bertahan ketika lawan bersikeras untuk menyerang. Hasil stagnan ini merugikan mereka, para shinobi. Kekuatan manusia selalu ada batasnya, mereka akan kesulitan bertahan dengan perang yang memakan waktu lama.

Shikamaru telah kehabisan akal meskipun telah mencoba berbicara dengan Kakashi ataupun sang ayah tercinta yang telah dibangkitkan.

Bola besar pemantau pertarungan tampak semakin keruh akibat ledakan-ledakan besar yang terjadi. Ia sendiri telah mendengar kabar dari Konoha, mengenai insiden yang ada di sana, mengenai Naruto yang kembali pergi.

Kala itu, Shikamaru hanya dapat menatap kosong langit-langit ruangan, termenung dan tidak mampu berpikir untuk waktu yang lama.

Harapannya untuk menang mulai memudar dan ia perlu memukul dirinya sendiri agar dapat bangkit kembali .

Momen tersebut bertepatan dengan berdengungnya gema suara Sasuke dalam kepalanya.

Tak hanya ia, tapi juga ratusan shinobi yang bertugas di markas Aliansi Shinobi ini—mungkin juga ribuan orang lain di luar sana.

Shikamaru terpaku dan ia menahan napas ketika mendengar suara tanpa emosi itu.

"Perang telah berada di ujung tanduk, kemenangan akan segera kita raih dengan terbunuhnya musuh utama kita, Ōtsutsuki Momoshiki dan Ōtsutsuki Urashiki. Akan tetapi, perang ini belum sepenuhnya berakhir. Para juubi masih belum dikalahkan dan pasukan musuh diperkirakan masih berjumlah dua puluh ribu orang sedangkan pasukan ninja sudah hampir disapu bersih. Mereka yang bertahan hidup tak lagi mampu untuk bertarung."

Shikamaru menoleh, menatap para anggota Divisi Komunikasi yang juga tengah terdiam bagai patung. Mulutnya menyuarakan pertanyaan tentang cara Sasuke mengambil alih telepati ini, tetapi jawaban yang ia dapat hanya berupa gelengan, beberapa di antaranya menjawab bahwa kemungkinan besar Sasuke berkomunikasi melalui seorang Yamanaka yang ia temui di sana.

"Oleh karenanya, aku—Uchiha Sasuke—tidak ingin lagi kalian membuang-buang nyawa. Atas namaku sendiri, kuperintahkan kalian yang terluka untuk mundur ke garis pertahanan belakang. Bagi yang masih sanggup berjalan, bantu rekan-rekan kalian menuju posko kesehatan terdekat. Tugas kalian sudah selesai."

Sejak dulu, Shikamaru tahu bahwa Sasuke adalah salah satu orang tidak waras yang pernah dikenalnya. Hal tersebut terbukti dengan berbagai keputusan ekstrem yang ia buat, misalnya saja keputusan untuk meninggalkan Konoha demi mendapatkan kekuatan untuk membalas dendam, kemudian keputusan untuk menghabiskan waktu bertahun-tahun di luar sana demi membayar kesalahan yang dulu ia perbuat.

Jika dibandingkan dengan Naruto, Sasuke sama gilanya.

Namun, berbeda dengan kecerobohan dan kenaifan Naruto, Sasuke tidak demikian. Keputusan-keputusannya memang ekstrem, tetapi masih cukup rasional dan penuh pertimbangan.

Jadi, bagaimana bisa ia memutuskan pasukan untuk mundur di tengah-tengah kondisi genting semacam ini?

Mereka mungkin masih belum bisa memusnahkan juubi. Para ninja juga mungkin sedang dalam kondisi buruk, tetapi merekalah sisa pasokan kekuatan yang dipunyai pihak shinobi. Tanpa menggunakan sisa kekuatan yang ada, mereka secara otomatis akan kalah karena sejak awal mereka memang telah kalah jumlah.

Sekeras apa pun Shikamaru mencari alasan di balik keputusan Sasuke, ia tetap tidak dapat menemukannya. Kecuali jika Sasuke memang benar-benar ingin maju seorang diri dengan memanfaatkan sumber daya terkuat—para edo tensei yang jumlahnya sama sekali tidak sebanding dengan jumlah musuh mereka sekarang; empat buah juubi dan dua puluh ribu pasukan Sora.

"Sedangkan bagi kalian yang sudah tidak lagi hidup tapi tetap bisa bertarung dengan baik—"

Edo tensei, Sasuke menunjuk para edo tensei, para shinobi veteran yang mereka mintai bantuan. Shikamaru mengumpat dalam hati. Kenapa Sasuke tidak langsung menyebutkan istilah edo tensei saja? Kalimatnya tadi berpotensi menyinggung mereka. Shikamaru benar-benar tak habis pikir.

"—aku masih membutuhkan bantuan kalian untuk menghadapi empat juubi dan dua puluh ribu pasukan ini. Nama-nama kalian telah melegenda, jadi kukira kalian tidak akan keberatan menghadapi mereka semua demi menyelamatkan teman-teman kita di sini."

Komunikasi mereka terputus. Keadaan senyap untuk sesaat—setidaknya hingga semua orang berhasil memproses apa yang baru saja mereka dengar.

Hanya dalam kurun waktu sepuluh detik, para regu komunikasi klan Yamanaka segera dibanjiri pertanyaan yang datang secara bersamaan. Mereka semua menginginkan konfirmasi akan pemberitahuan Sasuke yang amat tiba-tiba. Kondisi buruk di lapangan juga mau tak mau mendesak Shikamaru untuk menyetujui segala ucapan Sasuke.

Tetapi, akankah mereka berhasil?

Jumlah edo tensei tidaklah setara dengan pasukan lawan. Jika dihitung-hitung, jumlah mereka tidak sampai lima ratus orang—itu pun karena mereka membangkitkan satu klan Uchiha. Belum lagi menghitung keberadaan juubi yang harus ditangani banyak orang….

Shikamaru mengerutkan dahi dalam-dalam, mencoba mengerti isi pikiran Sasuke; tentang pasukan Uchiha, Shodaime, Nidaime, Sandaime, Yondaime, Madara, Obito, Itachi, Shisui, Uzumaki Kushina, Nagato, Jiraiya, Uchiha Fugaku, Uchiha Mikoto, dan … ayahnya, Nara Shikaku. Beberapa dari mereka mampu menangani seribu pasukan seorang diri, bahkan bisa lebih dari seribu.

Tapi, bagaimana dengan juubi?

Shikamaru memutuskan untuk menghubungi Sasuke, hendak menanyakan alasan di balik semua rencana itu.

Akan tetapi, tiba-tiba ia teringat satu hal yang selama ini telah ia yakini.

Aku sudah memutuskan untuk mempercayai Sasuke.

Kedua mata Shikamaru terpejam. Ia menarik napas dalam dan menepuk bahu Kaiyo, seorang pemuda Yamanaka yang menjadi anggota regu komunikasi.

"Beritahukan semua orang untuk mengikuti perintah Uchiha Sasuke."

Kaiyo mengangguk. Ekspresinya bercampur lega dan bingung. Ketika melihat Shikamaru melenggang pergi, ia berseru, "Kau sendiri mau ke mana, Shikamaru-san?"

Tanpa menoleh, Shikamaru berujar, "Memastikan Sasuke tidak membiarkan dirinya sendiri terbunuh."

Kaiyo tidak mengerti. Yang ia rasakan sekarang hanyalah seruak kelegaan karena dengan begini teman-temannya di medan perang sana bisa segera diberi pertolongan, nyawa mereka telah aman—meskipun ia sedikit khawatir dengan Kiyoshi yang kekuatannya dimanfaatkan Sasuke untuk menyampaikan pesan kepada semua orang. Semoga kakak kembarnya baik-baik saja.

oOo

Ayunan pedangnya terasa ringan, pandangannya terlihat lebih jernih dari biasa. Sasuke mampu melihat mereka semua, kumpulan orang berjubah merah marun yang mendominasi wilayah ini. Tubuh mereka tampak nyata. Sasuke melihat mereka dengan jelas selagi bermanuver cepat bagaikan kilat cahaya. Ia melihat mereka, para prajurit lawan yang dulunya merupakan shinobi. Otak mereka telah dicuci dan mereka dimanfaatkan oleh musuh.

Naruto sempat berpikir bahwa mereka semua masih bisa diselamatkan. Menurut Naruto, jiwa manusia dalam tiap raga itu masih ada. Mereka harus diselamatkan.

Kalimat Naruto tidaklah salah. Jiwa orang-orang ini memang tak sepenuhnya hilang. Binar terkejut di mata mereka, ekspresi takut yang menyergap, serta teriakan putus asa di saat terakhir ketika Sasuke menebaskan bilah pedang tepat di urat nadi mereka adalah bukti kuatnya.

Mereka belum sepenuhnya tertelan kegelapan.

Mereka masih bisa diselamatkan.

Akan tetapi, Sasuke tak bisa menghentikan tindakannya. Ia tak bisa berhenti mengayunkan pedang tiap kali membayangkan tubuh tak berdaya Naruto; dua kelopak mata yang tertutup, wajah dan tubuh yang berlumurkan darah, serta suhu tubuh yang teramat dingin. Semua bayangan tersebut membuat dadanya bergemuruh. Kemarahan tak bisa lagi ia tahan. Yang diinginkannya adalah menyelesaikan semua ini dengan memusnahkan mereka semua. Tak lagi peduli bahwa ribuan orang itu masih memiliki sepercik harapan.

Mencengkeram sepuluh orang musuh sekaligus menggunakan kedua tangan Susanō, Sasuke mengakhiri hidup mereka dalam jerat panas api hitam. Pedang di tangan kanannya segera disarungkan. Chakra keungunan di belakangnya juga dipadamkan. Sasuke berjalan memasuki hutan di perbatasan Sunagakure, meninggalkan ribuan raga yang telah menemui ajal mereka.

Sinar rembulan masih cukup terang di dini hari. Sasuke hanya perlu bergerak kurang dari dua jam untuk menyelesaikan semua ini.

Beberapa saat lalu, setelah memerintahkan seluruh pasukan untuk mundur, Sasuke segera bergerak ke empat desa besar yang tengah diserang oleh para juubi. Menggunakan Susanō, ia mampu mencapai desa-desa tersebut dalam kurun waktu singkat. Di sana ia membuka portal antar dimensi dan menggiring para juubi ke dimensi penghubung yang dulu menjadi tempatnya bertarung melawan Kaguya. Para edo tensei yang tengah menahan juubi pun mau tak mau mengikuti Sasuke. Mereka meminta penjelasan atas rencana yang hendak dilaksanakan.

Beberapa dari mereka tampak tidak senang atas tindakan arogan Sasuke. Tetapi, satu-satunya orang yang bisa mengatasi semua ini memang tinggal Sasuke seorang. Mereka tak punya pilihan.

"Buat penghalang besar untuk masing-masih juubi. Pastikan mereka tidak mampu menembusnya. Hanya itu yang perlu kalian lakukan."

Itulah kalimat yang diucapkan Sasuke. Obito sempat memprotes, begitupula Shisui, Sandaime, dan Nidaime. Mereka sempat berargumen sebelum kemudian Madara berhasil menutup mulut Tobirama, sang Nidaime. Obito dan Shisui ditenangkan oleh Kakashi sementara Sandaime diyakinkan oleh Minato.

Meskipun belum bertukar sapa sepatah kata pun, Minato tampak percaya pada Sasuke. Ia tidak mempertanyakan maksud tindakan Sasuke dan segera mengikuti arahannya.

Begitu semua penghalang berhasil terpasang, Sasuke menciptakan Susanō untuk memanggil chakra para bijuu yang tersimpan di dalam sana. Kesiap setiap orang cukup kentara, tetapi Sasuke tak membiarkan keterkejutan tersebut berlangsung terlalu lama karena ternyata terdapat kejutan lain yang lebih besar.

Para bijuu yang dipanggil Sasuke belum terlepas dari kendali Ōtsutsuki, padahal seharusnya jika si pengendali telah tiada maka kekuatan yang mereka tanamkan di substansi lain juga ikut menghilang, bukan?

Kondisi ini menimbulkan sedikit kepanikan.

Tapi, tidak untuk Sasuke.

Ia tetap memegang kendali para bijuu dengan balik mengontrol mereka menggunakan kekuatan rinnegan di mata kirinya. Hanya dalam waktu singkat, mereka segera berada di bawah kendalinya.

"Sembilan bijuu ini hanya memiliki setengah dari kekuatan mereka. Kekuatan itu tidak akan cukup untuk mengungguli empat juubi sekaligus, tapi cukup untuk menarik keluar kekuatan mereka." Sasuke kemudian mengerling pada Nagato dan Itachi. "Akatsuki mengekstrak chakra bijuu dari para jinchuuriki. Kini kita hanya perlu mengekstrak chakra juubi ke sebuah segel dan membuangnya ke tempat asal mereka."

"Jutsu penarikan chakra itu tidak bisa dibalikkan. Selain itu, kami memerlukan waktu berhari-hari untuk mengekstrak seorang jichuuriki. Mereka yang melakukannya juga harus terhubung satu sama lain dengan orang yang dapat memanggil juubi," tukas Nagato. Ia menatap Sasuke dengan sorot ragu. "Mustahil. Kau tidak bisa melakukannya."

"Yang akan melakukan pengekstrakkan adalah sembilan bijuu ini. Kekuatan mereka jauh melebihi anak buahmu dulu," timpal Sasuke datar. Ia menatap sembilan entitas chakra yang berdiri berjejer di sampingnya. "Mereka semua terhubung denganku dan aku sendiri memanggil juubi menggunakan mata kiriku kalau saja mereka sudah tidak berada dalam kendali orang lain."

Kalimat Sasuke kentara sekali bernada final, tak terbantahkan. Ia kemudian meminta Raikage menyiapkan wadah segel untuk menampung chakra para juubi. Wadah itu berupa tungku besar seperti yang dulu digunakan untuk menyegel Hachibi. Begitu selesai menyiapkan segala yang perlu disiapkan, Sasuke meminta bantuan Hashirama untuk menahan pergerakan juubi menggunakan segel kayunya. Pembatas merah yang diciptakan oleh tiap empat orang selevel kage pun dibuka.

Para juubi dibiarkan masuk ke dalam sana. Sasuke membuat mereka melingkari juubi tersebut sebelum menanamkan satu perintah—perintah untuk menarik keluar tiap chakra yang serupa dengan diri mereka dan memasukkannya ke dalam wadah segel yang disediakan. Wadah ini berjumlah sembilan untuk masing-masing juubi sehingga mereka mempunyai 36 wadah sekaligus untuk melakukan penyegelan.

Ketika juubi menciptakan makhluk-makhluk turunan dari tiap fraksi tubuhnya, Sasuke meminta sebagian anggota klan Uchiha untuk menghadapi mereka agar makhluk-makhluk itu tak mengganggu para bijuu yang tengah mengekstrak chakra.

Jadi, saat itu Sasuke memposisikan enam belas orang untuk membuat pembatas juubi—setiap juubi ditangani empat orang—dan menyerahkan proses penyegelan kepada para bijuu. Dengan bantuan empat kage lain seperti halnya Kurotsuchi, maka Madara, Shikaku, dan Mikoto tidak perlu turut serta dalam proses penanganan juubi.

"Madara dan sebagian anggota klan Uchiha akan ikut denganku menyelesaikan sisa pasukan lawan. Penyegelan ini kuserahkan pada kalian."

Sasuke kemudian bersiap-siap pergi. Semua orang tampak mengerti kecuali sang ibunda. Mikoto mencegah Sasuke karena baginya, mustahil Sasuke mampu menghadapi dua puluh ribu orang hanya dengan Madara dan sebagian anggota klan Uchiha. Dibandingkan dengan Madara dan yang lain, Sasuke bukanlah edo tensei. Kekuatannya terbatas dan keadaannya juga belum terlalu pulih.

Akan tetapi, ketika mendengar penjelasan ibunya, Sasuke bersikeras untuk tetap pergi. Mikoto hanya dapat menatap sedih sang putra bungsu, mengamati ketiadaan sinar di kedua mata obsidiannya. Keputusan Sasuke untuk pergi sama sekali tidak berubah. Pada akhirnya, Mikoto menyerah. Ia memberi pelukan pada putra bungsunya. Yang dirasakan adalah tubuh yang teramat kaku.

Mereka semua yang menyaksikan hanya dapat menahan pilu di dalam dada karena tanpa dibicarakan pun semua tahu, penyebab dari kondisi Sasuke yang demikian dikarenakan oleh kematian sosok itu, sosok yang bagi Sasuke takkan pernah dapat digantikan oleh siapa pun.

"Eh, kau berhasil menangani anak-anakku dengan baik, Uchiha Sasuke?"

Mayat seorang anggota Sora dilemparkan dari cengkeraman. Angin malam berembus pelan, menyibak jubah hitam yang telah basah oleh kucuran darah—darah para lawan.

Manik berwarna kontras merah dan ungu mengerling ke depan, menatap seorang pria berkulit putih pucat dengan puluhan cangkok sharingan di kepala dan tangannya.

Bilah pedang masih tergenggam erat di tangan. Warna platinumya dilapisi cairan ketal kemerahan yang menetes ke permukaan tanah, menodai rerumputan, dan meresap ke dalam lapisan paling luar sang ibu bumi.

"Shin," panggil Sasuke. Ia memandang lurus mata kemerahan yang serupa dengannya. Menatap tetapi tidak menatap. Sorot itu kabur. Shin ataupun siapa pun itu tak lagi penting untuknya. "Kau yang memulainya."

Seringaian puas tercetak di bibir pucat 'Uchiha' Shin.

"Bukankah sudah kubilang dipertemuan kita sepuluh tahun lalu? Aku akan menciptakan neraka untukmu," tandas Shin. Ia menunjuk kondisi Sasuke, mengenai mata tanpa binar kehidupan, ekspresi wajah tanpa jiwa yang berarti, dan berbagai tanda yang memperlihatkan bahwa Uchiha Sasuke telah kembali tenggelam dalam lautan darah yang dulu pernah menelannya.

"Keangkuhanmu membawa bencana ini. Kau pikir kau berhak hidup tenang setelah menghancurkan seluruh impianku di labolatorium itu? Setelah kau membunuh seluruh bawahanku hanya karena mereka seorang peneliti rendahan yang kausebut sebagai kriminal?"

Shin mendengkus. Ia tertawa sinis.

"Bahkan mereka tidak merugikanmu sama sekali, tetapi kau membunuh mereka seolah mereka hanya sekumpulan hewan ternak." Shin melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Sasuke sendiri masih berdiri di tempatnya, diam tak bergerak.

"Sekarang, dia sudah mati, sama seperti anak-anak buahku yang kaubantai karena secara kebetulan menjadi bawahanku. Aku masih punya hati nurani, kau tahu? Tidak sepertimu, orang terburuk yang kuketahui—bajingan sialan yang masih bisa mendapatan penghormatan dan kehidupan layak meski telah melakukan ribuan tindak kriminal, tak terkecuali pembunuhan."

Shin melangkah mundur. Ia menatap lurus manik mata Sasuke, merasakan seruak rasa puas ketika melihat bahwa Sasuke telah melihatnya alih-alih menatap tanpa arti.

"Kematian Uzumaki Naruto adalah bayaran atas kematian rekan-rekanku di tanganmu."

Rahang Sasuke mengeras begitu mendengarnya. Pandangan Sasuke mengabur, bersamaan dengan ayunan pedang yang hanya mampu menebas udara malam.

Shin menghindari serangan Sasuke dengan baik. Ia melompat mundur dan merogoh saku jubah merah marunnya, mengeluarkan sebuah teknologi ninja berbentuk pistol.

"Aku takkan mati di tangannmu, Uchiha Sasuke. Kalaupun aku mati, aku mati dengan caraku sendiri."

Pistol tersebut ditembakkan ke permukaan tanah, mematik ribuan ranjau ledakan yang telah tertanam di bawah padang rumput tersebut, bersiap menciptakan ledakan besar yang kekuatannya menyerupai tiga tembakan bola bijuu.

Sasuke membeliakkan mata. Ia berdecih, menolakkan kaki dan melompat ke tengah udara guna menciptakan Susanō. Mengontrol para bijuu sudah cukup menguras chakranya, belum lagi dengan pertarungannya melawan Momoshiki dan ribuan anggota Sora. Jangan lupakan juga bahwa ia telah berulang kali membuka dan menutup portal antar dimensi. Persediaan chakranya telah mencapai batas. Sasuke terbatuk dan meludahkan darah begitu chakra keunguan Susanō meliputi seluruh tubuhnya, membuatnya tetap melayang di tengah udara.

Senyuman puas Shin adalah hal terakhir yang ia lihat sebelum cahaya menyilaukan mulai terbentuk di permukaan tanah, memaksanya melaju lebih tinggi ke atas sana agar terhindar dari ledakan.

Debuman keras ledakan tetap terdengar meskipun Sasuke telah menghindar sejauh mungkin. Telinganya berdengung sakit dan ketika rentetan ledakan tersebut selesai, Sasuke pun mendarat. Dari tempatnya berada, ia mampu melihat tubuh Shin telah tergeletak tak berdaya. Warnanya kehitaman, terbakar sempurna oleh ranjau yang ditanamnya sendiri, seolah dia telah puas dengan hidupnya setelah berhasil membalaskan dendam.

Dendam.

Jika Sasuke menginginkannya, kepada siapa ia harus melampiaskan rasa marah ini?

Kalimat Shin terngiang dalam kepalanya, mengenai ia yang tidak lebih baik dari Shin, ia yang berarti sama-sama pembunuh berdarah dingin karena telah menghabisi banyak nyawa orang tak bersalah.

Sengatan sakit menerpa dadanya. Sasuke terbatuk keras hingga ia terjatuh di kedua lututnya. Pedang yang tergenggam di tangan kanan tergelincir jatuh. Ia membekap mulutnya selagi mencengkeram dada yang tetap terasa sakit, nyeri tak terperi.

Adrenalin telah meninggalkannya. Seruak energi itu telah tiada dan kini hanya menyisakan tubuh cidera yang telah mencapai batas.

Sehebat apa pun Sasuke, ia tetap manusia yang akan tetap tumbang jika terus memaksakan diri melebihi batas tertentu.

Mencoba menarik napas dalam, Sasuke akhirnya berhasil meredakan batuk konstan tersebut. Ia menarik tangan dari mulutnya, memandang darah segar yang tercampur dengan darah ribuan orang lain yang mati di tangannya.

Selama perjalanan ke area ini, Sasuke sempat bercakap-cakap dengan Madara mengenai jiwa Ōtsutsuki lain yang masih ada. Madara menjelaskan bahwa jiwa tersebut sangatlah lemah dan tidak bisa bertindak apa pun. Mereka tak perlu mengkhawatirkannya karena sang Ōtsutsuki telah berada dalam 'perangkap' yang aman, sebuah segel kehidupan dengan energi yang amat kuat—segel yang pasti diciptakan oleh Naruto.

Tindakan Naruto seolah menyuarakan bahwa ia tidak bermaksud untuk membunuh Momoshiki.

Ia merelakan nyawanya tanpa membunuh Momoshiki.

Kenapa?

Jawabannya hanya dengan melihat langsung tubuh Momoshiki yang dikalahkan Naruto.

Sasuke berdiri dan mulai kembali bergerak ke tempat Madara dan para Uchiha berada. Sakit di dadanya mulai hilang. Kini ia malah tak dapat merasakan apa pun, mati rasa—dengan kehampaan yang kembali mengambil alih dirinya.

Menyarungkan pedang, Sasuke kembali memanggil Susanō. Ia tiba di tempat Madara tak lama setelahnya, melihat sang legendaris shinobi baru saja menikam jantung korban terakhirnya tanpa usaha yang berarti. Ribuan mayat berceceran di area tersebut. Hanya para edo tensei yang berdiri di sana, berdiri dengan bangga karena dapat kembali merasakan sesuatu yang disebut 'kemenangan'.

"Madara-sama, Anda benar-benar sehebat yang dimitoskan!"

"Kami merasa terhormat bisa bertarung di sisi Anda!"

Kalimat-kalimat tersebut menyambut kedatangan Sasuke. Mereka semua, para Uchiha, tidak tahu bahwa secara tidak langsung kematian mereka dulu juga dikarenakan oleh Madara yang telah memperalat Obito.

"Hah, beginilah Uchiha seharusnya. Klan kita akan tetap terpandang dan masyhur jika saja Konoha tidak mengkhianati kita. Kalau saja Itachi tidak—"

Suara seorang Uchiha berambut kecokelatan segera tertelan begitu menyadari keberadaan Sasuke. Ia menelan ludah dan segera tertawa hambar selagi menepuk pundak temannya. "Maa, sekarang tidak masalah lagi karena seorang Uchiha telah menjadi salah satu hokage."

Sasuke belum sempat merespon begitu Madara mengaktifkan Susanō dan mengangkut seluruh orang—termasuk Sasuke—ke dalam sana. Selagi Susanō mulai meninggalkan permukaan tanah, Sasuke mengerling ke bawah.

"Kau belum membersihkan mayat mereka," gumam Sasuke. "Masih mengaku dirimu shinobi?"

Madara tergelak ringan.

"Aku benar-benar menyesal karena dulu lebih memilih Obito dibanding kau," timpal Madara tiba-tiba. "Sejak pertama kali melawanmu, aku tahu kau adalah orang yang bisa diandalkan."

"Omong kosong."

Kini Madara menyeringai. Ia menepuk pundak Sasuke.

"Klan Uchiha mendapatkan kutukan kebencian karena Zetsu Hitam. Kutukan itu telah berhenti di garis keturunanmu. Jadi, sekarang, pastikan keturunanmu tidak menjadi orang yang sama seperti para pendahulunya." Madara melipat tangannya di depan dada. "Mereka memiliki chakra yang kuat dalam dirinya. Kerjamu cukup bagus. Jangan menyesalinya."

Kalimat Madara memiliki arti yang sama seperti yang diucapkan oleh Kushina. Tapi, Sasuke sedang tidak ingin memikirkannya. Ia sedang tidak merasakan apa pun.

Pembicaraan mereka terhenti karena Sasuke sama sekali tidak mencoba untuk membalas ucapan Madara. Tujuan mereka adalah pintu portal antar dimensi di Konoha. Sasuke sebenarnya bisa langsung membawa mereka ke dalam dimensi penghubung kalau saja chakranya masih kuat. Tetapi, Sasuke telah mencapai batas. Ia hanya mampu membuka pintu portal yang masih cukup kuat eksistensinya sehingga ia tak perlu mengeluarkan banyak energi. Tempat portal tersebut berada di Konoha.

Namun, sepertiya Sasuke tak perlu lagi ke sana.

Para edo tensei dan beberapa shinobi yang berada di dimensi penghubung telah keluar dari sana dengan 36 buah wadah segel dan sembilan ekor bijuu. Kedatangan Madara, Sasuke, dan para edo tensei Uchiha membuat obrolan terhenti. Nagato memberi tahu tentang keberhasilan pengestrakkan serta informasi bahwa mereka keluar dari dimensi penghubung dengan menggunakan kekuatan mata Obito. Dengan kondisi demikian, kini mereka hanya perlu mengembalikan chakra para juubi ke dimensi asalnya.

Nagato belum selesai bicara ketika Sasuke dikejutkan oleh Hashirama yang terisak bahagia.

"Kita akhirnya memiliki cara untuk menangani monster buruk rupa itu! Sasuke, kau benar-benar hokage berbakat."

Tawa Madara kemudian terdengar.

"Tentu saja. Dia adalah Uchiha, Hashirama. Jangan samakan dia dengan otak kecilmu."

Di sisi Hashirama, Tobirama menarik napas pelan selagi menutup mata.

"Berhenti mempermalukan dirimu, Anija." Ketika membuka mata, ia telah menatap lurus Madara. "Dan kau, Madara, jangan pernah lupakan bahwa kau dan sebagian klanmu telah berkali-kali mencoba menghancurkan Konoha. Tindakan Sasuke sudah sepatutnya dilakukan. Dia ikut berkewajiban membayar dosa-dosa kalian."

"Tobirama, jangan terlalu menyalahkan mereka. Aku juga ikut bersalah."

"Memang begitu. Kau sangat bodoh, Hashirama. Seharusnya dulu kau membunuhku dengan benar," balas Madara lugas. Detik berikutnya, ia telah menyeringai, "Mau mencoba bertarung ulang? Kulihat, kau belum sepenuhnya dapat mengalahkanku."

Semua orang di sana kontan menganga, sama sekali tidak menyangka bahwa founder father desa tercinta mereka terdiri atas satu orang bodoh dan satu penggila perang.

Sasuke sudah terbiasa menghadapi sikap Madara. Ia mengabaikan mereka berdua dan mencari keberadaan Obito untuk membantunya membuka pintu-pintu portal antar dimensi sehingga mereka bisa segera menyudahi semua ini. Namun, tepat ketika ia hendak bertanya pada Nagato, Kakashi menepuk bahu Sasuke dari belakang, matanya berkilat awas.

"Ikut aku."

Kening Sasuke mengernyit samar. "Ada apa?"

"Tubuh Sa—Momoshiki. Kami sudah menemukannya."

Pandangan Sasuke menajam.

"Tunjukkan jalannya."

Kakashi mengangguk pelan. Mereka berjalan melalui kerumunan orang. Ketika melewati Sandaime, Jiraiya, Kushina, dan Yondaime, Sasuke mengangguk kaku.

"Tolong awasi para juubi. Mereka masih berada di bawah kendaliku."

Sebelum mendengar balasan apa pun, Sasuke telah melesat ke dalam hutan untuk menyusul Kakashi. Mereka meloncati pepohonan yang ada dan berjalan dengan langkah lebar begitu tiba di area hutan yang telah hancur berantakan. Selama berjalan, Sasuke tidak bertanya. Ia hanya mengikuti Kakashi hingga keberadaan Itachi, Shisui, dan Obito mulai terlihat. Ketiganya tengah berlutut di depan sesuatu—atau mungkin seseorang.

Sasuke berlari menjejeri Kakashi.

"Apakah ada masalah? Aku sudah tahu dia hanya disegel."

Kakashi mengalihkan pandangan.

"Kau akan melihatnya sendiri."

Rasa waspada yang tidak ia rasakan selama beberapa saat terakhir tiba-tiba kembali memenuhi dada. Sasuke mengembalikan pandangan ke depan. Ia hendak bertanya pada Itachi ketika citra di depannya membuat ia bungkam. Sesaat, Sasuke hanya dapat menatap, terkejut dengan pemandangan di kedua netranya. Ia mematung, mencoba memikirkan banyak hal sampai pada tahap ia cukup mengerti tentang alasan mengapa Momoshiki hanya disegel oleh Naruto alih-alih dibunuh.

"Sakura?" tanya Sasuke dengan nada hambar. Ia menoleh pada Kakashi yang berdiri di sampingnya. "Dia adalah Momoshiki?"

"Momoshiki memanfaatkan tubuh perempuan ini sebagai wadah." Itachi menjawab pertanyaan Sasuke selagi memeriksa wajah Sakura, memperhatikan Byakugō yang masih menghiasi wajahnya. Secara keseluruhan, Sakura terlihat baik-baik saja, minus jubah putih-hitam yang kotor dan robek di sana sini. Selain itu, tubuhnya normal tanpa luka ataupun cidera parah. "Kami telah melihatnya di dimensi musuh. Dia dikendalikan Momoshiki."

"Momoshiki pasti tahu Naruto takkan membunuhnya kalau dia menggunakan tubuh Sakura. Dia ingin membunuh Naruto, tapi sepertinya dia tidak menyangka Naruto tetap bisa melawan dan menanamkan segel ke dalam tubuhnya, melemahkan dia ke titik terendah tanpa memutus benang hidupnya," tambah Kakashi.

Sasuke berdecih. Rahangnya mengeras.

Segala seruak emosi itu ditahan dengan paksa. Sasuke manarik napas dalam.

"Bagaimana bisa? Kekuatan Ōtsutsuki hanya dapat ditampung oleh mereka yang mempunyai chakra Ōtsutsuki seperti Indra dan Ashura. Sakura tidak memilikinya."

Di sebelah Itachi, Shisui bergumam, "Sepertinya karena segel di dahinya ini. Aku selalu ingin tahu rahasia kekuatan Tsunade-sama. Kita bisa bertanya padanya nanti."

"Segel itu memang serupa dengan segel yang dimiliki para Ōtsutsuki. Mereka menjadi lebih kuat setelah mengaktifkan segel itu, benar?" tanya Obito.

Kakashi mengangguk. "Singkatnya, segel ini digunakan untuk menyimpan chakra dalam jumlah besar dan tanda hitam itu akan terbentuk jika segel tersebut dibuka untuk mengeluarkan sejumlah chakra yang telah disimpan."

Poin-poin yang diajukan mulai terangkai di kepala Sasuke. Kini, sepertinya ia mengerti.

"Momoshiki memerlukan orang yang mampu menampung kekuatan besarnya. Bukan karena orang itu memiliki chakra Ōtsutsuki, tetapi karena dia membutuhkan orang dengan tubuh yang mampu menampung jumlah chakra tersebut. Itulah mengapa Sakura bisa menjadi salah satu kandidat…."

Informasi ini membuat Sasuke geram. Sebelah tangannya telah mengepal.

"Melalui Byakugō, secara tidak langsung Sakura telah melatih tubuhnya untuk menerima chakra dalam jumlah besar. Dia menimbun chakra di dalam segel sehingga jaringan chakra dalam dirinya turut menguat. Itulah mengapa dia bisa menerima kekuatan Momoshiki tanpa merusak tubuhnya sendiri," lanjut Sasuke.

Obito menoleh. Ia mengernyit.

"Tapi, Sakura jelas-jelas sudah lebih dari dua belas tahun. Kenapa dia tetap bisa menerima chakra Momoshiki? Bukankah kaubilang dia tidak menargetkanmu karena kau sudah melebihi batas umur itu?"

Sasuke menarik napas dalam. Ia ikut berlutut di depan Sakura, mengamatinya selagi menuturkan jawaban.

"Karena kasusnya berbeda. Dia bukan aku ataupun … Naruto." Menyebutkan nama Naruto—meskipun hanya untuk kepentingan menjelaskan—tetap terasa pahit di mulutnya. Sasuke berusaha kembali menguasai diri. Ia menyeka rambut merah muda yang tampak sedikit lebih panjang dari terakhir kali ia melihat.

"Penyebab kami tidak bisa lagi diberi chakra Momoshiki setelah batas waktu tertentu dikarenakan chakra Indra dan Ashura akan menolak chakra Momoshiki setelah kami dewasa. Ōtsutsuki Hagoromo dan saudaranya tidak berhubungan baik dengan ibunya, Ōtsutsuki Kaguya, keturunan murni klan Ōtsutsuki. Rasa antipati mereka pada Kaguya mengalir pada keturunannya sehingga chakra mereka secara otomatis menolak jenis chakra yang serupa dengan Kaguya, misalnya chakra milik Momoshiki," jelas Sasuke panjang lebar.

Oniks Sasuke menatap lurus wajah pucat Sakura yang masih menyerupai Momoshiki. Diri musuh mereka terkunci di tubuh ini. Momoshiki belum tiada. Ia masih tinggal di sana—terlelap dalam kegelapan, terperangkap tanpa daya.

Naruto mengorbankan nyawanya untuk ini—sebuah wadah berisi diri musuh mereka.

Ia rela mengorbankan nyawa karena wadah musuh itu adalah Sakura.

Naruto berkorban untuk Sakura.

Bibir Sasuke telah terkatup rapat. Tangannya mencengkeram erat jubah putih Sakura, menahan gejolak emosi yang tak lagi terdefinisi.

Jika selama ini Sakura memang masih hidup, berarti pernikahan mereka masih bertahan, bukan? Sasuke masih berstatus sebagai suami Sakura. Sakura adalah anggota keluarganya, istrinya, ibu dari anaknya.

Kembalinya Sakura akan membawa kebahagiaan untuk Sasuke.

Tapi, mengapa ia tak bisa merasakan apa pun selain rasa perih yang makin tak terperi? Fakta bahwa Naruto mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan Sakura membuat Sasuke geram. Ia geram karena Naruto begitu mengutamakan orang lain dibanding dirinya sendiri, padahal hidup Naruto adalah prioritas utama Sasuke.

Naruto memang selalu mengutamakan keselamatan orang lain, bukan dirinya. Namun, dengan begini berarti ia juga tidak mengutamakan Sasuke. Ia tidak memikirkan keadaan Sasuke jika kematian menjemputnya, seolah ia tak tahu bahwa Sasuke takkan baik-baik saja jika ia pergi.

Sasuke tidak bisa menyalahkan Naruto—ataupun Sakura. Naruto mungkin percaya bahwa Sasuke akan baik-baik saja tanpa kehadirannya. Ia mempercayainya.

Untuk Sakura, Sasuke juga tak bisa menyalahkannya. Ia hanya dimanfaatkan oleh Momoshiki, tidak lebih.

Sekarang ini, Sasuke bahkan merasa sangat buruk karena tidak merasakan sedikit pun kelegaan atas keselamatan Sakura.

Ia tak merasakan apa pun karena luka atas kepergian Naruto lebih mendominasi daripada seruak bahagia atas kembalinya Sakura. Bukankah perasaan ini membuatnya menjadi suami terburuk sepanjang masa? Ia seolah tak terlalu mempermasalahkan kematian Sakura jika itu berarti keselamatan untuk Naruto.

Mau seburuk apa lagi dirinya ini? Kenapa ia tak merasakan sedikit pun empati pada Sakura meskipun di masa lalu Sakura begitu baik padanya?

"Apa ini?"

Suara Shisui menginterupsi lamunan Sasuke. Ia menoleh, menatap Shisui yang tengah menggenggam sebelah lengan Sakura. Jemarinya menyusuri lengan pucat tersebut, tampak memperhatikan sesuatu dari sana.

Itachi bergeser mendekat, ikut memperhatikan lengan pucat Sakura. Ia mengernyit dan dengan pelan berkata, "Sebuah segel asing."

Shisui mengangguk.

"Bentuknya berbeda dengan Byakugō di wajahnya. Segel ini seperti kunci.…" Shisui meraba permukaan tangan tersebut. Ia mengerjap. Dengan tiba-tiba tangan Itachi segera ditarik untuk melakukan hal yang sama. "Kau mengenali chakra yang tertanam di sana?"

Detik itu, Itachi terdiam. Alih-alih menjawab pertanyaan Shisui, ia menoleh pada Sasuke.

"Apakah Naruto pernah mengatakan sesuatu tentang segel ciptaannya?" tanya Itachi.

Sasuke terpaku untuk sesaat. Ia mengulurkan tangan, hendak ikut memeriksa lengan Sakura, tetapi Shisui menghentikannya.

"Jawab dulu pertanyaan kakakmu, Sasuke."

Kerlingan mata Sasuke terlihat tidak menyenangkan, tetapi Shisui sama sekali tidak terganggu.

"Dia tidak mengatakan apa pun," ulas Sasuke cepat. Shisui tak lagi menahannya ketika ia meraih lengan Sakura, mencoba memeriksa sesuatu yang disebut Itachi sebagai segel. Ekspresi wajahnya kosong ketika ia bergumam, "Chakra Naruto," dengan nada pelan.

Hela napas Kakashi terdengar cukup jelas di kesunyian malam.

"Naruto selalu tidak terprediksi," tukas Kakashi. Beberapa saat lalu ia jelas-jelas terdengar lelah tanpa daya, bukan terdengar tertarik seperti ini. Ia berjongkok di sebelah Obito. Entah ekspresi apa yang tercipta di wajah Kakashi. Tapi, suaranya terdengar lebih ringan. "Pindai segelnya, Sasuke. Semua pengorbanan Naruto tak pernah sia-sia. Dia takkan meninggal tanpa menyelesaikan tugasnya secara utuh."

Dengan kata lain, Naruto menanamkan segel bukan tanpa alasan.

Mungkin memang untuk menyelamatkan Sakura. Namun, terdapat alasan lain.

Ia seolah memberi petunjuk tentang tindakan lanjutan yang harus dilakukan pada tubuh Sakura yang masih memerangkap jiwa Momoshiki.

Tanpa menunggu lebih lama, Sasuke segera melakukan perintah Kakashi. Ia memindai segel di lengan Sakura menggunakan chakranya. Seperti yang diperkirakan, segel tersebut merespons chakra Sasuke, langsung mengenalinya begitu ia memancarkan chakra di permukaan kulit pucat itu. Pola samar segel tampak memekat. Warna hitam pudarnya menjadi lebih tebal dan jelas, menciptakan pola kunci bergerigi panjang yang mirip dengan kunci segel Kyuubi.

Naruto memang tidak pernah menjelaskan sesuatu terkait segel pada Sasuke. Ia tidak menjelaskan, tapi menunjukkan dan meminta Sasuke mempelajarinya.

"Kurama tidak sepenuhnya kulepaskan dari segel meskipun dia bebas pergi semaunya. Alam bawah sadarku, ruang penjara yang pernah kauterobos dengan kurang ajar itu, adalah manifestasi dari segel yang sekarang menjadi tempat tinggalnya. Jenis segel ini akan melemah ketika seorang Jinchūriki melahirkan, seperti kasus ibuku dulu. Jadi, meskipun aku percaya pada Kurama, aku tetap ingin berjaga-jaga kalau seandainya ada salah teknik atau apalah. Enak saja aku mati hanya karena segel terbuka dan Kurama terbawa angin! Kematianku harus heroi—"

"Bisa kaupersingkat?"

"Hei, bersabarlah sedikit, Berengsek. Aku ini mengandung karena ulah—ehm, oke, kulanjut. Jangan menatapku begitu! Aku ingin kau mempelajari komponen kunci segel ini untuk berjaga-jaga kalau segel Kurama terbuka ketika aku melahirkan. Aku sudah memiliki versi alternatifnya, sih. Aku cuma ingin membuatmu sedikit berguna waktu aku melahirkan nanti karena kudengar melahirkan itu menyakitkan! Enak saja kubiarkan kau cuma melihat tanpa susah payah membantuku."

Tarikan napas Sasuke terdengar berat ketika ingatan tentang Naruto terputar ulang di kepalanya.

Ia menarik telapak tangan yang tadi digunakan untuk memindai segel, sesegera mungkin mengalihkan pikiran dengan mencoba mengingat jenis segel Kyuubi yang ia pelajari di sela kesibukan persiapan perang dulu.

Tangan Sasuke segera membentuk segel tangan rumit yang sejauh ini hanya diketahui Kushina, Minato, Jiraiya, Naruto, serta dirinya. Ia tak begitu mengerti maksud tindakan Naruto dengan memasangkan segel kunci di lengan Sakura. Seharusnya Naruto memberi segel Kyuubi, segel yang serupa dengan segel yang tertanam di diri Naruto sendiri. Dengan begitu, Sasuke langsung tahu bahwa ia hanya perlu membuka segel tersebut, bukan seperti ini.

Jika kunci pembuka segel sudah tercipta di lengan Sakura, apa yang harus dilakukan Sasuke?

Kakashi mengamati tindakan Sasuke untuk mendapatkan jawabannya. Ia melihat gerakan tangan Sasuke serta hentakan telapak tangannya di atas lengan Sakura, hentakan tangan yang serta merta menciptakan segel lain di atas segel yang telah ternanam di sana—membuat segel tersebut saling tertimpa satu sama lain.

Untuk sesaat, tidak ada yang terjadi.

Semua mata memandang Sasuke dengan bingung.

"Sepertinya kita harus memanggil Kushina-sa—"

Kalimat Obito menggantung di udara ketika segel berpola melingkar yang beberapa saat lalu diciptakan Sasuke tiba-tiba melebar. Tinta hitamnya seolah meluber hingga menciptakan pola bundar di tengah-tengah bentuk segel kunci. Di sekeliling pola bundar tersebut tercipta pola berbentuk akar yang kemudian menjalar ke sepenjuru tubuh Sakura, menjeratnya.

Semua orang masih terpaku. Tubuh mereka baru bergerak menjauh ketika jeratan segel di tubuh Sakura mulai memancarkan sinar menyilaukan. Cahayanya amat terang sampai bisa menciderai mata jika ditatap terlalu lama.

Sasuke, Kakashi, Obito, Shisui, dan Itachi melompat mundur. Mereka menyiptkan mata selagi mendongak ke atas langit, mencoba mengikuti arah sinar cahaya yang terpancar ke atas sana—tepat ke arah bulan.

"Kau tahu, Sasuke, kadang aku tidak mengerti dengan pikiran Naruto," gumam Kakashi dengan nada kosong. "Sebagian besar otaknya dipenuhi oleh kau dan ramen. Untuk sisa ruang otaknya—"

"Tutup mulut, Kakashi." Sasuke masih mendongak menatap bulan, kedua matanya berkilat awas, mengamati sinar yang mulai memudar. "Terkadang, aku juga tidak memahaminya."

Kalimat Sasuke seolah ikut tersapu oleh embusan angin kencang yang tiba-tiba menerpa area tersebut. Sisa pancaran cahaya tadi telah memudar, tetapi tak sepenuhnya hilang.

Alih-alih hilang, cahaya yang terkoneksi dengan bulan tersebut malah memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun di sana.

Kelima ninja segera bersiap siaga. Mereka semua telah memasang kuda-kuda di kedua kaki, bersiap jika serangan mendadak muncul bersamaan dengan tibanya sesosok individu yang tengah melayang turun dari atas sana.

Mulut Sasuke terkatup rapat. Sebelah tangannya telah mencengkeram ganggang pedang. Ia memandang awas sosok yang kini telah berada di hadapannya—masih melayang di udara dengan kedua mata tertutup rapat.

Tubuhnya berwarna putih pucat, enam buah magatama tergambar tepat di bawah tulang selangkanya. Ia mengenakan jubah putih bercorak hitam yang merupakan identitas khas sebuah klan asing—Ōtsutsuki.

Jubah itu mungkin tidak semata-mata membuktikan bahwa ia merupakan seorang Ōtsutsuki, tetapi warna kulit serta pola magatama yang terlukis di tubuhnya menyuarakan demikian.

Pria asing ini adalah seorang Ōtsutsuki, anggota klan asing yang menjadi musuh utama mereka dalam peperangan ini.

Angin malam berembus melalui permukaan kulit Sasuke yang masih ternoda oleh darah kering. Dingin embusan angin berhasil menyegarkan indra tubuhnya, menyadarkannya akan luka organ dalam dari hasil pertarungannya dengan Momoshiki—luka yang berdenyut menyakitkan dalam dada serta beberapa bagian lain yang sempat tertusuk oleh bilah hitam sialan makhluk asing itu.

Kala menggenggam ganggang pedang, Sasuke mendengar embusan napasnya sendiri yang mulai memberat, disertai detak jantung yang melambat dan tubuh yang sedikit gemetar. Energi dalam dirinya telah terkuras sejak ia kembali ke tempat ini. Jika dipaksakan lebih jauh, ia akan kolaps dengan menyakitkan.

Apa yang terjadi jika ia tak bisa lagi bertarung di saat-saat genti—

Tepukan tangan Itachi di pundaknya seketika membuat Sasuke tersadar. Ia mengerling ke samping, dengan jelas melihat keberadaan Itachi, Shisui, Obito, dan Kakashi.

Mereka berdiri bersamanya, siap membantu jikalau hal terburuk kembali menimpa.

Sasuke tidak sendirian.

Ia tak perlu berjuang seorang diri.

Tak seperti dulu, kini Itachi di sini—sebagian anggota klan Uchiha di sini.

Mereka akan baik-baik saja.

Sasuke menarik napas dalam. Ia kembali menatap tamu asing yang kini telah menapak di permukaan tanah, berdiri tepat beberapa kaki di depannya.

"Kalau dugaanku tidak salah, kalian adalah shinobi seperti yang dia sebutkan."

Suara sosok itu mengalun pelan di tengah keheningan malam. Ia terdengar tenang, tak terusik, dan tak menyuarakan ancaman.

Meskipun begitu, bukan berarti sosoknya tidak mencurigakan.

Sasuke tidak menurunkan sedikit pun kewaspadaan.

"Siapa kau?" tutur Sasuke pendek. Kedua mata sosok itu masih tertutup rapat, tetapi tampaknya ia mampu merasakan keberadaan Sasuke dan yang lain. Sasuke lanjut bertanya, "Apakah kau berhubungan dengan sinar cahaya tadi?"

Bibir pucat sosok tersebut melengkungkan senyuman. Ia tiba-tiba membungkukkan badan selagi berucap, "Ara, maafkan atas ketidaksopananku karena tidak segera memperkenalkan diri. Aku bernama Ōtsutsuki Toneri, keturunan dari Ōtsutsuki Hamura, satu-satunya anggota keluarga cabang klan Ōtsutsuki dari bulan yang masih bertahan hidup. Kedatanganku ke sini memang dikarenakan sinar cahaya yang kaumaksud."

Toneri menolehkan kepala ke tepat di mana Sakura terbaring. Ia telah kembali menghadap Sasuke ketika lanjut berbicara, "Untuk memperjelas, aku tak bermaksud mengacau seperti yang dilakukan oleh para anggota keluarga utama. Kedatanganku ke sini semata-mata karena janjiku pada … seorang teman."

Kakashi mengernyit. Ia segera bertanya, "Apakah mungkin teman yang kaumaksud adalah Uzumaki Naruto?"

Ulasan senyum kembali menghiasi bibir Toneri.

"Dia tinggal bersamaku selama dua tahun di dimensi penghubung, mungkin akan selamanya tinggal di sana jika dia tidak mendengar kabar bahwa Momoshiki-dono berada di bumi," balas Toneri lugas, sama sekali tak mengindahkan perubahan emosi seseorang yang tengah menatapnya.

"Seratus tahun lalu Urashiki-dono membekukan waktu di istanaku sehingga aku terperangkap dan hanya dapat tinggal di dimensi penghubung. Naruto berjanji untuk membantu membebaskanku dengan membunuh Urashiki-dono. Jadi ketika penjara pembeku waktu terbuka, aku tahu bahwa Naruto telah menepati janjinya. Sekarang giliranku untuk membalas janji itu."

Itachi tidak heran jika Naruto membuat perjanjian semacam ini dengan klan asing yang berada di pihak musuh. Ia tidak heran bahwa Naruto dapat memiliki kenalan seorang Ōtsutsuki. Sebab, bagaimana pun juga, mereka sedang membicarakan Naruto.

"Janji?" tanya Itachi pada akhirnya. "Apa yang dia inginkan darimu?"

Toneri menunjuk tubuh Sakura yang tergeletak lemah tak berdaya di belakang sana.

"Jiwa asali Momoshiki-dono tidak dapat dilenyapakan oleh makhluk fana." Toneri mengibaskan tangan ke arah Sakura, menghilangkan kilau cahaya yang masih bersinar. "Bagaimanapun juga dia tetap anggota keluarga utama klan Ōtsutsuki. Mereka hidup abadi. Kalian mungkin dapat membunuh Urashiki-dono, Kinshiki, dan dua diri Momoshiki-dono yang lain. Tapi, jiwa tunggal yang sekarang tersisa hanya dapat ditangani olehku."

Tubuh Sakura terangkat ke udara begitu Toneri kembali mengibaskan tangan. Ia menarik Sakura dan menurunkannya tepat di hadapan Sasuke dan keempat shinobi yang lain. Toneri berlutut di samping Sakura, menyalurkan chakra tepat ke arah jantung. Dalam cahaya remang bulan, tubuh Sakura kembali bersinar. Kali ini bukan sinar putih menyilaukan, tetapi sinar kebiruan.

Tak berselang lama, cahaya kebiruan pudar itu membentuk sosok yang menyerupai Momoshiki—bagaikan roh yang ditarik keluar dengan paksa. Toneri mencengkeram kerah jubah Momoshiki dan menariknya hingga ia benar-benar meninggalkan tubuh Sakura. Kedua mata Momoshiki tertutup rapat. Tubuh pucat kebiruannya dihiasi oleh segel berpola akar yang tadi sempat menghiasi diri Sakura.

Di sisi lain, Sakura masih terbaring lemah di atas tanah. Kulit pucat abnormalnya telah hilang, digantikan warna kulitnya yang asli. Segel Byakugō dan segel lain yang terpasang di tubuhnya segera menghilang. Jubah putih-hitam bercorak magatama pun turut lenyap, meninggalkannya tanpa balutan pakaian.

Sasuke tak menyadari tindakannya ketika ia melepas jubahnya sendiri dan menutupi tubuh Sakura menggunakan jubah tersebut.

"Cahaya dari segel itu adalah sebuah pesan yang hanya dapat dikirimkan Naruto padaku di waktu genting."

Suara Toneri membuat Sasuke mendongak. Ia kembali berdiri, mengamati jiwa Momoshiki yang terbaring lemah di tangan kerabatnya.

"Bagaimana caramu melenyapkannya?" tanya Sasuke, mencoba memastikan. "Sebaiknya kau menunjukan langsung pada kami."

Toneri tersenyum lugas.

"Tentu saja." Sebelah tangan Toneri memindai energi tubuh itu. Kekuatannya tampak berbeda dari beberapa Ōtsutsuki yang dikenal Sasuke. Toneri tidak memiliki rinnegan. Aura yang melingkupinya juga terasa jernih dan hangat, berbeda dengan keruh kekuatan Momoshiki yang selalu membuat siapa pun yang dilawannya merasa sesak, seolah mereka sedang berada di ambang kematian.

Sasuke dan yang lain memperhatikan tindakan Toneri lamat-lamat. Mulai dari tangannya yang memercikkan cahaya, hingga mulutnya yang menggumamkan puja puji terhadap Hamura-sama. Begitu menggumamkan rangkaian kalimat yang tak dapat dimengerti Sasuke dan yang lainnya, jiwa Momoshiki mulai terbakar oleh api jernih berwarna biru terang. Api tersebut melahapnya hingga keberadaan Momoshiki benar-benar hilang.

Toneri melangkah mundur dan mendongak untuk kembali menatap kelima shinobi.

"Terima kasih atas jerih payah kalian menangani anggota klan kami. Para bijuu yang telah kalian tangkap akan segera kukembalikan ke tempat asal mereka."

Keraguan Sasuke pada Toneri pun sirna seiring dengan tindakan yang diperlihatkannya. Mereka kembali ke tempat di mana para bijuu berada. Toneri benar-benar menepati janjinya dengan membuka portal dan mengembalikan 36 bijuu ke masing-masing tempat asal mereka, empat buah planet lain yang juga ditumbuhi pohon dewa. Para shinobi dan edo tensei menyaksikan itu semua. Mulut mereka terkunci rapat akibat merasakan aura jernih dari diri Toneri.

Aura tersebut terasa agung dan entah mengapa membuatnya seolah patut dihormati.

Ketika segalanya telah selesai, Toneri membalikkan badan. Ia menatap para bijuu bumi yang telah dibebaskan oleh Sasuke, kemudian mengangguk pada seekor bijuu di sana. Gestur tersebut hanya sekilas dan tidak disadari oleh siapa pun kecuali sang bijuu sendiri.

Sasuke menarik napas pendek. Ia menghampiri Toneri dan mengucapkan terima kasih. Kepergian Toneri berlangsung begitu saja karena entah mengapa keberadaannya terasa tidak nyata.

Sekarang, dengan selesainya segala persoalan, pihak shinobi secara resmi dapat dikatakan menang. Berita tersebut disampaikan oleh Shikamaru kepada seluruh masyarakat melalui kanal komunikasi Yamanaka. Di sepenjuru desa, hela napas lega dan ucapan syukur terdengar. Tangis kebahagiaan pecah dengan serempak. Para ibu dan anak memeluk anggota keluarga mereka yang berhasil bertahan hidup dari peperangan. Mereka yang kehilangan teman, kerabat, dan sanak saudara, turut menangis bahagia karena perjuangan orang-orang berharga mereka tidaklah sia-sia.

Di sela kerumunan orang, Kurotsuchi tengah memeluk Chojuro. Air mata mengucur deras dari kedua matanya, begitu kontras dengan senyuman haru yang menghiasi wajah. Kemudian, tak hanya mereka yang masih hidup, para edo tensi entah mengapa juga ikut menyerukan kemenangan. Mereka, para anggota klan Uchiha yang seharusnya telah tiada, menyerukan sesuatu mengenai solidaritas ninja, tiba-tiba terbawa suasana dan melupakan kebiasaan buruk yang hanya mengagung-agungkan klannya saja.

Kakashi telah menghilang untuk membawa Sakura ke posko kesehatan. Shisui ber-high five dengan Obito sementara Jiraiya menepuk pelan kepala Nagato.

Keriuhan tersebut begitu nyata, tapi tidak bagi Sasuke.

Segala energinya seolah telah terkuras habis. Kehampaan itu kembali menyesaki dada, lagi-lagi menjeratnya ketika ia mengharapkan kehadiran seseorang yang seharusnya ikut hadir di sini, ikut merayakan kemenangan mereka—kemenangannya.

Pandangan Sasuke kosong, menatap lurus ke depan.

Ingatan sepuluh tahun lalu kembali menerpa, kala ketika ia berada di titik yang sama, mendapatkan kemenangan tapi tak berarti apa-apa.

Pada akhirnya, tak ada yang berubah.

Pada akhirnya, ia tetap tak merasakan kebahagiaan.

Kedua netra Sasuke sempat bertubrukan dengan Gaara. Ia segera mengalihkan pandangan selagi menjauh, hendak menghampiri para bijuu untuk meminta mereka kembali tinggal di luar sana seperti dulu ketika mereka tak lagi mempunyai seorang Jinchūriki.

Orang-orang mulai berhamburan pergi ke posko-posko kesehatan dan garis pertahanan. Fugaku mengurus para Uchiha sedangkan Madara telah menghilang bersama dengan Hashirama dan Tobirama. Sandaime serta Yondaime hendak membantu Shikamaru yang masih memegang tanggung jawab atas pembersihan sisa kerusakan perang. Jiraiya, Nagato, dan Kushina bergerak ke perbatasan desa untuk memperbaiki segel keamanan.

Itachi, Shisui, dan Obito telah menghilang bersama kerumunan.

Tinggal Sasuke seorang di sana. Ia berjalan mendekati para bijuu dan hendak berbicara dengan mereka ketika ia—dengan kedua matanya sendiri—melihat eksistensi Kurama menghilang secara perlahan.

Mulut Sasuke terasa kering.

"A-apa yang terjadi?" ungkapnya terbata. Ia memandang Hachibi yang tengah bergelung malas di antara tentakelnya.

Alih-alih Hachibi, Sasuke mendapatkan jawaban dari Nibi, sang energi chakra berbentuk kucing besar.

Suara feminin bergema di sepenjuru hutan.

Kurama tidak menghilang. Dia tertarik kembali ke tubuh utamanya yang berada di ambang kepunahan.

Ichibi menimpali.

Ha! Kurama sialan itu sangat beruntung! Dia memiliki jiwa cadangan sehingga bisa memperkuat diri dengan jiwa yang satunya.

Hachibi yang mulai terlelap ikut menjawab dengan malas.

Kedengkianmu pada Kurama tidak ada habisnya, ya. Hanya karena kau tidak bisa kembali bersama Jinchūrikimu bukan berarti dia juga tidak bisa. Tegarlah sepertiku meskipun sudah kehilangan Bee.

Kembali pada Jinchūrikinya?

Jantung Sasuke seolah berhenti berdetak.

Ia belum bisa menafsirkan maksud ucapan Hachibi ketika pusaran angin tercipta di udara, memunculkan Obito yang segera menarik tangannya dan membawanya berteleportasi ke area pengumpulan jasad para shinobi.

Di sana, telah tercipta kerumunan lingkaran yang terdiri atas Hinata dan kawan-kawan.

Sasuke tak dapat melihatnya, tapi ia tahu bahwa Yamanaka Ino berada di tengah kerumunan itu, tengah menangis dan berseru dengan sesenggukan, "Panggilkan Tsunade-sama kemari! Pusat chakranya tiba-tiba kembali! Dia masih hidup! Uzumaki Naruto masih bisa diselamatkan!" []

TBC