Disclaimer : I do not own Naruto
Jemari mengetuk-ketuk meja kayu, mata memindai satu bundel kertas, memeriksa rentetan laporan kerugian perang yang berakhir seminggu lalu.
Kurotsuchi menghela napas pendek. Bundelan kertas itu kembali diletakkan di atas meja. Ia memindai rekan-rekan kerjanya yang juga duduk melingkar di meja bundar ini, sama-sama sedang membaca laporan akhir yang membuat kepalanya berdenyut pusing. Di antara keempat rekan kerjanya, hanya sang pemimpin Konoha yang sama sekali tidak menyentuh kertas laporan itu. Sasuke sedang bersender di punggung kursi dengan kedua tangan terlipat. Ekspresinya datar seperti biasa.
Ketika melihat Kurotsuchi telah selesai membaca semua isi dokumen tersebut, ia berujar, "Rekontruksi dan rehabilitasi desa akan memerlukan waktu lebih dari lima tahun. Kita kekurangan sumber daya, baik manusia ataupun material. Apa lagi alasan kalian untuk menolak bantuan para edo tensei?"
Gaara mengalihkan dokumen yang telah selesai dibacanya, begitu pula Chojuro dan Darui. Mereka mengusap wajah lelah.
Di sisi lain, Gaara dengan terang-terangan berkata, "Kita tidak bisa terlalu bergantung pada mereka, terutama Madara."
Menegakkan diri, Sasuke mengerling pada Gaara.
"Seburuk apa pun tingkah lakunya, Madara tetap dapat diajak bekerja sama. Kalaupun tidak, aku mengontrolnya."
Sorot mata Kurotsuchi tampak sedikit menusuk ketika ia menatap Sasuke lurus-lurus.
"Kau tahu, Hokage? Madara mungkin bukan lagi ancaman besar dengan adanya kau dan Shodaime Hokage. Masalahnya adalah ... kalian—" Kurotsuchi menarik napas dalam. Ia kelihatan ingin membenturkan kepalanya ke atas meja. "Konoha memegang terlalu banyak kontrol. Kekuatan antar desa tidak seimbang."
"Sejak dulu Konoha memang kuat. Apa bedanya?" balas Sasuke datar, tak peduli dengan reaksi keempat rekannya. "Kalau kalian tetap tidak mau mempertimbangkan usulanku, kalian hanya perlu mengusulkan solusi lain yang lebih efektif dari yang kutawarkan."
Darui, Kurotsuchi, dan Chojuro saling pandang. Bekerja sama dengan Sasuke memang tidak mudah. Cara-cara yang diusulkan Sasuke sering kali terlalu ekstrem meski memang tingkat keefektifannya tinggi. Mereka tak mempermasalahkannya kalau konsekuensi dari keputusan itu tidak berdampak besar.
Tapi, sekarang….
"Tidak ada yang menginginkan perang lagi. Sekuat apa pun Konoha, kami tidak akan memulai konflik," tandas Sasuke. Ia menatap lembaran kertas berisi laporan kerugian perang. Detik selanjutnya, ia menatap keempat rekannya lurus-lurus. "Kalian tidak mempercayaiku?"
Dengan kekuatan dan kontrol sebesar itu?
Hukum bahkan tidak mengikatmu sama sekali, Uchiha Sasuke. Kau bisa berbuat sesukamu!
Adalah kalimat yang tersangkut di tenggorokan Kurotsuchi. Insiden seminggu yang lalu masih membuat bulu kuduknya meremang, mengenai Sasuke yang dengan mudahnya mengambil alih kontrol perang—menyuruh seluruh pasukan mundur—dan mengakhiri perang hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga jam saja. Berita mengenai ia yang berhasil melenyapkan lebih dari tiga ribu pasukan lawan juga ikut mengonfirmasi besarnya kekuatan dan kontrol yang dimiliki Sasuke sekarang.
Sejak dulu, Kurotsuchi tahu bahwa tingkat kemampuan Sasuke memang jauh berada di atas para kage yang sekarang memegang jabatan di empat desa besar. Rumor-rumor tentang tingkat kekuatannya yang mengerikan juga sudah terdengar di mana-mana.
Hanya saja, sekarang….
"Bukan kami yang tidak percaya padamu," balas Kurotsuchi. Ia menyenderkan diri pada punggung kursi. "Para daimyo dan para pejabatlah yang takut padamu."
Untuk beberapa saat, Sasuke tak bereaksi. Tapi, pada akhirnya ia mendengkus.
"Omong kosong."
Gaara mengembuskan napas. "Para perwalian desa-desa kecil merisaukanmu. Dewan Desa Sunagakure bermasalah denganku karena mereka merasa Konoha terlalu mendominasi. Mereka pikir, Aliansi Shinobi hanya kamuflase atas kontrol yang kaupunyai."
"Dengan kata lain, para pejabat desa berpikir bahwa Konoha telah mengambil alih kekuasaan secara tidak langsung dan mengira bahwa kami hanya pion-pionmu," sambung Darui. Ia memijat keningnya yang mulai berdenyut nyeri. "Merepotkan."
"Anggapan semacam itu sama sekali tidak menggangguku. Yang menjadi masalah adalah mereka menjadi tidak mau membantu pendanaan rekontruksi karena segala keuntungan berpihak pada Konoha." Gaara menoleh pada Sasuke. "Kami menentang usulanmu untuk menggunakan bantuan edo tensei dari Konoha bukan tanpa alasan."
Politik benar-benar menjijikan. Inilah alasan Sasuke tidak menyukai jabatannya. Dunia yang berisi jabatan, status sosial, dan kekayaan membuat orang-orang menjadi bodoh dan melupakan berbagai hal yang jauh lebih penting.
Ketika kondisi darurat tengah menerpa seperti sekarang, bagaimana bisa para tikus-tikus elite itu kembali membuat ulah?
Jika Sasuke tidak menyandang status sebagai Hokage, ia dengan mudah akan mendatangi mereka satu per satu dan mengancamnya agar menuruti segala ucapan Kage. Tidak seperti sekarang. Ia tengah menjadi wajah seluruh masyarakat Konoha. Kakashi berulang kali menekankan pentingnya diplomasi.
"Kekerasan akan menimbulkan konflik. Kau ingin merusak perdamaian yang sudah tercipta ini?"
"Pengaruh mereka mencakup para saudagar dan hampir seluruh lapisan masyarakat. Kita tidak bisa mengabaikannya," ungkap Chojuro setelah terdiam beberapa saat. Dalam keadaan krisis seperti sekarang, mereka tidak mungkin membiarkan konflik dan perpecahan tercipta. "Sekarang ini kita akan memakai kekuatan desa masing-masing tanpa melibatkan bantuan para edo tensei. Konoha juga sebaiknya tidak memanfaatkan mereka karena para Dewan Desa akan semakin mencurigai kalian. Bagaimana, Nanadaime?"
"Kami akan berusaha meyakinkan mereka. Kita juga tidak perlu buru-buru. Lagi pula, para edo tensei belum bisa dilepas tanpa keberadaan Orochimaru. Mereka bisa tinggal jauh lebih lama. Bukankah begitu?" Kurotsuchi menimpali.
Sasuke tak punya alasan untuk menolak. Untuk sekarang, mereka hanya perlu mencegah potensi konflik yang bisa menganggu rekontruksi desa. Di dunia ini terlalu banyak manusia memuakkan yang selalu mementingkan kepentingannya sendiri. Mereka tidak peduli dengan kepentingan orang banyak asalkan kepentingan mereka terpenuhi.
Jika kondisi desa sudah stabil, para kage bisa menangani mereka dengan baik, tidak seperti sekarang—saat-saat genting di mana desa ninja membutuhkan bantuan tikus-tikus elite itu.
Mengakhiri pertemuan tanpa hasil memuaskan, Sasuke mengenakan jubah berpergiannya dan segera meninggalkan Markas Aliansi Shinobi menuju Konoha. Dalam pertemuan ini, ia pergi seorang diri karena para Anbu sibuk mengatasi kerusakan di desa. Jumlah shinobi aktif pasca peperangan berkurang drastis karena seperempat dari mereka meninggal dunia dan sebagiannya lagi luka berat. Sisanya luka ringan dan hanya beberapa saja yang masih dinyatakan sehat.
Markas Aliansi Shinobi hanya diisi para chuunin pemegang administrasi yang terus memantau keadaan keamanan dan pekembangan laporan kerugian perang. Mereka juga sibuk memastikan tidak adanya kelompok pemberontak yang menjadi simpatisan lawan mereka—seperti kelompok entah apa yang dulu menggilai ideologi Madara.
Tindakan yang demikian sangatlah bodoh—menciptakan kerusuhan di situasi semacam ini—tapi, orang bodoh tidak ada habisnya. Keputusasaan sering kali menumpulkan rasionalitas dan membuat seseorang bertindak di luar nalar.
Sasuke tengah melewati hutan ketika ia merasakan lemparan batu yang terarah padanya. Desingan angin menerpa wajah begitu batu kerikil tersebut berlalu tepat beberapa senti saja dari wajahnya. Langkah kaki terhenti. Sasuke berpegangan pada dahan pohon dan memindai area sekitar ketika ia mengenali identitas chakra tiga—empat orang.
Melompat dari atas pohon, Sasuke beranjak menghampiri para pemilik chakra tersebut. Ia menyusuri jalan setapak dan sesemakan sebelum akhirnya sampai di area tepi sungai.
Indra penglihatnya segera mendapati keberadaan si pelempar kerikil. Ia tengah bersandar di batang pohon selagi memandangi aktivitas tiga orang lain di dekat air terjun.
"Sudah kukatakan untuk tidak mengajarinya hal-hal aneh." Sasuke berjalan mendekati sosok itu. Ia balas melemparkan kerikil yang tadi diarahkan padanya. "Itachi."
Kerikil lemparan Sasuke mudah saja ditangkap oleh Itachi.
"Apa salahnya menghabiskan waktu dengan keponakanku sendiri?"
Sasuke menatap Sarada yang tengah bermain air dengan Shisui dan Obito. Embusan napas keluar dari mulutnya.
"Kau hanya melihatnya," balas Sasuke datar. Ia berdiri di dekat Itachi, ikut menyender selagi menatap pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sepanjang hidupnya. "Mereka adalah pengaruh buruk untuk Sarada."
"Bagaimana denganmu?"
Mulut Sasuke telah setengah terbuka, hendak menjawab. Akan tetapi, ia kembali mengatupkannya. Matanya beralih dari Sarada.
"Jauh lebih buruk dari mereka." Sasuke berucap dengan pelan. Ia memandang dedaunan yang masih basah akibat guyuran hujan. "Dia lebih baik tidak berada di dekatku. Aku bukan ayah yang baik."
Itachi bergumam, "Seperti Ayah?"
Sasuke menoleh, kembali menatap Itachi. Terdapat humor gelap di mata hitam keruhnya.
Hal tersebut menciptakan seringaian ringan di bibir Sasuke.
"Tidak separah dia."
"Dia memang yang terparah—hampir selalu memaksakkan kehendak dan selalu mengabaikanmu," ujar Itachi tanpa sedikit pun beban. "Tapi, kau selalu menginginkan pengakuan darinya, bukan? Aku pun muak dengannya. Tapi, malam itu, aku bahkan tidak bisa menggerakkan tanganku untuk menyelesaikan misi jika dia tidak memintaku untuk melakukannya. Seburuk apa pun dia, Ayah tetap ayah kita—kita mengakuinya."
Tanpa menunggu Itachi selesai mengatakan maksud ucapannya pun Sasuke sudah tahu inti ucapan Itachi.
Seburuk-buruknya orang tua, mereka tetaplah orang tua kita dan kita akan selalu menyimpan rasa hormat padanya—selagi mereka tidak memperlakukan anak-anaknya dengan kelewat batas.
"Sarada tetap mengakuiku sebagai ayahnya dan aku tidak seharusnya menarik diri dari dia," tukas Sasuke. Ia menatap Itachi datar. "Sejak dulu kau selalu berbelit-belit ketika bicara."
"Aku ingin orang-orang yang bicara denganku menggunakan otak mereka."
Sasuke termenung ketika merasakan betapa ringan dan kasualnya obrolan mereka. Sepanjang hidupnya, Sasuke bisa menghitung saat-saat ia bisa berbicara dengan Itachi seperti ini.
Dulu, sebelum insiden berdarah itu, ia masih terlalu kecil untuk memahami tiap kata yang dilontarkan Itachi. Ucapan Itachi selalu berbelit-belit dan sukar dipahami oleh anak berumur tujuh tahun sepertinya dulu. Terdapat banyak maksud tersembunyi di tiap kalimatnya.
Kemudian, percakapan mereka setelahnya dipenuhi oleh kebencian—dari sisi Sasuke. Satu-satunya interaksi normal antara ia dan kakaknya adalah ketika mereka melawan Kabuto. Saat itu pun keadaannya sedang begitu genting, tak seperti sekarang.
Sekarang….
Itachi menoleh, merasakan Sasuke yang masih belum mengalihkan pandangan darinya.
Seberapa dewasa pun Sasuke, ia tetap adiknya.
Itachi menahan senyum.
"Seakan kita diberi kesempatan kedua, benar?"
Sasuke mengerjap. Di depannya, Itachi menunjuk dirinya dan Sasuke.
"Hidup sebagai saudara normal. Pernah kaubayangkan?"
"Aku tidak percaya kau akan menjadi kakak 'normal' dengan seluruh cara berpikirmu yang rumit itu. Hidup normal akan berarti—kau yang kembali membodohiku demi melindungiku dari kebenaran pahit."
Saat itu, Itachi tertawa—seorang Uchiha Itachi tertawa.
Sasuke hanya mampu menatapnya dengan penuh ketidakpercayaan.
"Kau benar-benar tidak memaafkanku, ya?"
Pertanyaan itu diabaikan Sasuke begitu saja. Ia melipat kedua tangannya di depan dada selagi memalingkan wajah.
"Jika kudeta itu tidak terjadi, kau pasti akan berada di posisiku sekarang—sebagai Hokage."
Sisa tawa Itachi lenyap seketika. Ia melihat kemurungan di wajah Sasuke … penyesalan dan kesedihan.
Selama ini, setelah mengetahui penyebab hancurnya klan Uchiha, Sasuke pasti memikirkan berbagai skenario yang dapat terjadi jika insiden tak menyenangkan itu berhasil dihindari. Di sela lamunannya, Sasuke pasti pernah membayangkan kehidupan yang dapat ia capai jika keluarganya masih utuh.
Pemikiran ini terasa menyakitkan.
Tidak seharusnya Itachi membawa topik ini.
Oleh karenanya, ia tak membalas ucapan Sasuke. Ia membiarkan kesunyian mengisi, membiarkan pikiran Sasuke terlepas dari ide 'bagaimana jika'. Sebab, jika terus dipikirkan, penyesalan demi penyesalan akan kembali muncul. Kesedihan akan mengambil alih.
Suara Sasuke baru kembali terdengar setelah jeda yang cukup lama. Ia tampak memikirkan sesuatu dan sesuatu itu pada akhirnya ia katakan juga.
"Menurutmu apa yang harus kulakukan agar orang-orang percaya bahwa aku tidak menyalahgunakan kekuasaanku?"
Itachi mengerjap.
Kapan terakhir kali Sasuke meminta masukan darinya?
Dua dekade yang lalu.
"Apakah ini berkaitan dengan hasil pertemuan kage tadi?" Itachi bertanya balik. Sebelum Sasuke menjawab, ia menambahkan, "Kembali mendapatkan kepercayaan orang lain setelah kita berbuat ribuan tindakan kriminal bukanlah hal mudah."
Sudut mata Sasuke berkedut.
"Maaf kalau aku pernah menjadi kriminal," tukasnya menahan sabar. Ia menarik napas pelan untuk mengesampingkan kalimat Itachi tadi. "Para tikus-tikus elite desa merasa bahwa Konoha terlalu mendominasi aliansi ini. Mereka mengira aku menjadikan para kage dari desa mereka sebagai pion-pion untuk menguasai dunia ninja."
Itachi menatap Sasuke sesaat. Ia kemudian menganggukkan kepala.
"Ketakutan mereka tidak tanpa alasan."
"Kau membenarkan sudut pandang bodoh mereka?"
Itachi menunjuk Sasuke. "Kau tidak menyadarinya?"
Ekspresi wajah Sasuke telah mengeruh. "Berhentilah berbelit-belit."
Itachi tampak begitu menikmati ledekannya pada Sasuke. Ia menahan senyuman.
"Dengan tingkah lakumu, tidaklah mustahil mereka beranggapan seperti itu."
Sasuke masih dilanda kebingungan. Ia hendak kembali bertanya ketika Itachi—dengan begitu ringan—berkata, "Kau sangat arogan."
Tombak runcing seolah baru saja menusuk dadanya. Sasuke ternganga untuk sesaat. "Apa—"
"Lihat? Kau bahkan tidak menerima kritikan."
Satu lagi tusukan tombak runcing di dadanya. Kapan dia bisa memenangkan argumentasi dari Itachi?
Mulut Sasuke terkatup rapat, ia memilih untuk tidak lagi menyanggah perkataan kakaknya. Itachi sendiri sama sekali tidak tampak bersalah meski telah menyerang ego sang adik.
"Mereka menganggap kau mengontrol segalanya karena watakmu mendukung anggapan mereka, seorang pemimpin yang berkuasa atas segalanya, tinggi hati, tak teraih, berbahaya…." Itachi menjelaskan dengan mudah, seolah mereka sedang membicarakan segarnya cuaca pasca hujan tiba. "Jika ingin menghapus anggapan itu, yang perlu kaulakukan hanya menghilangkan stigma mereka padamu."
"Nama baikku sudah tercoreng sejak pergi dari Konoha dan bergabung dengan Orochimaru."
"Pernahkah kau mencoba memperbaiki nama baikmu?"
Tentu saja Sasuke tak pernah repot-repot mencoba memperbaiki nama baiknya. Anggapan orang padanya tidak pernah ia pikirkan. Ia tidak akan dapat mengubah cara pandang orang padanya karena sebaik apa pun seseorang, ia bisa tetap menjadi orang jahat di cerita hidup orang lain.
Kepala Sasuke terasa pening. Itachi telah mengantarkan Sasuke pada jawaban yang ia inginkan. Sasuke cukup mengerti masukan tersirat yang dikatakan Itachi.
Kakaknya ini memintanya untuk berhenti bersikap arogan—meskipun Sasuke yakin bahwa ia tidak searogan yang diindikasikan oleh Itachi. Dengan kata lain, Itachi memberi tahu agar Sasuke beramah-tamah pada tikus-tikus elite itu, meyakinkan mereka bahwa ia dapat diajak kerja sama dan tidak semata-mata mengontrol mereka semua.
Pantas saja dia pandai berbohong.
Tipu dayanya tak tertandingi.
"Aku akan mengunjungi mereka besok," ungkap Sasuke pada akhirnya.
Perbincangan mereka terhenti ketika suara nyaring Sarada tertangkap indra pendengarnya. Gadis kecil itu tengah berlari ke arahnya dengan pakaian basah kuyup—berbanding terbalik dengan keadaan Shisui dan Obito yang begitu kering meski telah bermain-main di dekat air terjun.
"Jangan melarikan diri dari hukumanmu, Sara-chan!"
"Papa! Tolong aku!"
Seekor katak berwujud air tengah mengejar Sarada dari belakang, meloncat dan menjulurkan lidah panjangnya untuk mengguyur sesosok gadis cilik yang tengah berlari dengan lincah. Tawa Sarada beruraian.
"Aku dicurangi!"
Tiba-tiba saja, Sarada telah memeluk kaki Sasuke, bersamaan dengan melompatnya katak jadi-jadian itu ke arahnya. Di tengah udara—dan sebelum Sasuke sempat menghindar—sang katak kembali menjadi air dan mengguyurnya dengan sempurna.
"Woah! Double streaks!" seru Obito dengan suara tak kalah nyaring.
Sasuke mengerjap, merasakan air yang mengalir turun dari wajahnya, membuat rambut yang telah panjang menutupi kedua matanya sekaligus. Menyugar rambut agar kedua matanya bisa kembali melihat dengan jelas, Sasuke mendapati Obito tengah menyeringai selagi menahan tawa.
Detik itu, Sasuke mematung, tiba-tiba saja bayangan seorang berambut pirang dengan seringaian jahil terputar di kepalanya.
"Ikutlah bermain dengan kami, Sasuke! Kau tidak asik!"
Ia mengerjap. Sosok Naruto menghilang, digantikan oleh ekspresi puas Obito yang cukup mematik kejengkelannya.
Mengembuskan napas pelan, Sasuke berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Sarada. Kacamata Sarada ikut basah seperti rambut dan pakaiannya. Meskipun demikian, mata oniks tersebut berbinar-binar. Bibirnya melengkungkan senyum dan tawanya terdengar renyah.
"Kau ikut basah, Papa," seru Sarada selagi tertawa. Telapak tangan kecilnya hinggap di wajah Sasuke. Ketika menatap mata kiri Sasuke, Sarada melebarkan mata. "*K-kirei…."
Di belakang Sarada, tiga orang Uchiha menahan tawa.
"Kirei…." beo Shisui dengan nada jenaka.
Wajah Sasuke sedikit panas. Ia segera menggendong Sarada dan berbalik pergi. Tak mau repot untuk sekadar meladeni tingkah laku dua kerabatnya.
"Kau harus mengeringkan diri dan mengganti pakaianmu kalau tidak ingin sakit," ungkap Sasuke pada Sarada. Ia membawanya menjauh dari para paman tercinta. "Jangan terlalu sering bermain dengan mereka."
Tangan Sarada berpegangan erat di pakaian Sasuke.
"Hmph, Obito-jisan dan Shisui-jisan menyenangkan!"
"Kenapa kau tidak bermain dengan Hyūga?"
"Miyo sedang bersama Tama-kun dan kalau ada dia pasti juga Takuma. Aku tidak suka dengan Takuma, dia selalu mengejekku," rajuk Sarada. "Obaasan sedang membantu memasak di posko. Aku tidak ingin sendirian."
Sasuke mengusap pelan kepala Sarada. Ia membiarkan putrinya bersender dalam dekapannya selagi ia memutar ulang segala percakapannya tadi dengan Itachi terkait Sarada.
Sebelum berangkat ke medan perang, Sasuke hanya sempat menemui Sarada sesaat. Itu pun ketika Sarada sudah mulai terlelap. Sebelumnya, hubungan antara ia dan Sarada masih belum membaik sehingga ia segan untuk berbicara langsung dengan Sarada. Kemudian, ketika perang usai seminggu yang lalu, ia tidak langsung menemui Sarada karena kondisinya sendiri masih sangat kacau.
Mana bisa Sasuke menemui Sarada jika pikirannya hanya dipenuhi oleh sesosok wanita pirang panjang yang tak lekas membuka mata?
Kematian Naruto begitu mengguncangnya. Harapan yang kembali datang pun serta merta tetap mengacaukan pikirannya karena meskipun nyawa Naruto dapat diselamatkan, kondisinya benar-benar kritis. Entah apa penjelasan logis atas kembalinya Naruto. Namun, yang jelas keadaan Naruto tidak baik-baik saja. Luka organ dalamnya begitu parah dan luka bakarnya memperburuk kondisi tersebut. Ia seolah berada dalam kondisi hidup dan mati.
Bertarung melawan Momoshiki dengan kondisi tubuh yang lemah pasti begitu menyakitkan. Mulai dari ketiadaan Kurama, fakta bahwa ia baru saja melahirkan, dan tubuh yang masih kaku karena menjauhi segala jenis pertarungan fisik selama enam bulan terakhir.
Kemustahilan akan kemenangan tersebut bisa diraih Naruto dengan imbalan yang tidak sedikit.
Sasuke baru bisa beraktivitas normal setelah menjernihkan pikiran sehari penuh. Di hari ketiga pasca perang, ia meyakinkan dirinya untuk menemui Sarada—yang telah dihampiri oleh ibu, ayah, dan kakaknya terlebih dahulu. Tanpa dikenalkan Sasuke, Sarada telah mengenal kakek, nenek, dan pamannya. Suasana hati Sarada mulai membaik dan ia tampak begitu bahagia karena kembali mendapatkan keluarga.
Tarikan tangan Sarada di pakaian Sasuke membuatnya menoleh.
"Kau ingin turun?" tanya Sasuke.
Sarada menggeleng. Sesaat, ia terlihat ragu dan … takut.
Sasuke mengernyit samar. Ia menyisihkan rambut hitam Sarada yang mulai menutupi sebelah matanya.
"Ada apa?" tanyanya sekali lagi, kali ini terdengar lebih pelan.
Sarada tiba-tiba mengalihkan pandangan. Cengkeraman tangannya di pakaian Sasuke mengerat.
"M-mama," bisik Sarada dengan gagap. Matanya masih menghindari Sasuke. "Aku melihatnya."
Jemari Sasuke yang tengah merapikan rambut putri kecilnya ini tiba-tiba terhenti. Ia melanjutkannya selang beberapa saat. Jeda tersebut tidak disadari Sarada.
"Di mana?" Sasuke balik bertanya. Nada suara Sasuke terdengar tenang, kalaupun terdapat sirat emosi tertentu, anak seumuran Sarada tidak akan menyadarinya.
"Di bawah tanah, malam itu." Cengkeraman tangan Sarada semakin erat. "Dia terlihat berbeda. Dia … menyakitiku dan—Naru-san."
Sasuke menatap jalan setapak yang tengah mereka lewati.
"Dia bukan Sakura. Sakura tidak akan menyakitimu."
Isakan kecil terdengar. Sarada menyembunyikan wajahnya dalam rangkulan Sasuke.
"Aku merindukan Mama."
Jantung Sasuke serasa mencelis. Ia tak bisa membalas ucapan Sarada. Yang dapat ia lakukan hanya mengusap pelan kepala gadis kecil itu selagi membiarkannya menangis.
Kondisi ini … Sasuke tidak tahu harus memutuskan apa. Keadaan Sakura sama buruknya dengan Naruto. Sasuke mengharapkan keselamatan mereka berdua. Namun, ia tidak menyangkal fakta bahwa ia hanya ingin Naruto yang dapat kembali ke sisinya.
Jika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi….
Napas dalam diambil. Sasuke merasakan isak tangis Sarada yang mulai reda ketika mereka memasuki wilayah tempat didirikannya posko-posko kesehatan. Tenda-tenda ini masih belum dibongkar karena rumah sakit di bawah tanah tidak mampu menampung pasien yang membutuhkan perawatan. Fokus utama Konoha adalah memulihkan para ninjanya. Setelah sebagian besar ninja pulih, mereka baru bisa kembali membangunan desa.
Dari seluruh shinobi yang bekerja, Divisi Medislah yang paling sibuk. Tsunade tidak tidur selama hampir seminggu dan terpaksa diberi obat tidur oleh Jiraiya pagi tadi. Shizune ketiduran ketika sedang makan sehingga mangkuk berisi sup yang dipegangnya jatuh mengenai kaki dan menciptakan luka bakar ringan. Untung saja luka kecil itu bisa langsung disembuhkan.
Singkat kata, para ninja medis kekurangan tenaga.
Chuunin dan jounin aktif yang tersisa ditugaskan untuk mencari bahan-bahan obat yang mulai menurun. Para juubi berinisiatif membantu desa-desa asal mereka dengan memberi pasokan energi—yang artinya, Konoha tidak mendapatkan bantuan karena sang ekor sembilan tengah terjatuh di dalam kegelapan sana bersama wadahnya.
Satu-satunya kelompok yang bisa diandalkan Konoha adalah edo tensei. Namun, dengan hasil pertemuan kage, Sasuke tidak boleh memberikan perintah besar pada mereka. Ketiadaan Orochimaru—yang sangat membantu dalam proses pembuatan obat—juga turut menambah krisis sumber daya ini. Curse mark dalam tubuh Anko, Suigetsu, Karin, dan Jūgo tidak dapat diaktifkan karena kondisi kritis mereka. Chakra yang digunakan untuk mengaktivasi curse mark secara alami dialirkan tubuh untuk kepentingan bertahan hidup.
Orochimaru belum bisa dibangkitkan.
Sasuke menurunkan Sarada dan hendak mengantarkannya ke desa bawah tanah ketika ia bertemu dengan Mikoto. Langkah Sasuke terhenti, ia menatap sang bunda yang langsung mengalihkan perhatiannya pada Sarada. Mikoto berlutut di depan sang gadis kecil, ia memeriksa keadaan Sarada yang basah kuyup.
"Ara, kenapa kau basah seperti ini, Sarada?" ungkap Mikoto dengan nada heran campur khawatir. "Kau baik-baik saja?"
Sarada melengkungkan senyuman.
"Obaasan!" seru Sarada antusias. "Aku baik-baik saja. "Shisui-jisan dan Obito-jisan menyebalkan, tapi bermain dengan mereka menyenangkan!"
"Eh, bukankah tadi kau bersama Itachi?"
Sarada mengangguk. Ia menyeka sisa air mata yang masih mengumpul di sudut matanya. Namun, bibirnya masih mengulum senyuman.
"Shisui-jisan dan Obito-jisan menemui kami tadi."
Mikoto mengusap rambut basah Sarada. Ketika melihatnya, Sasuke merasakan kecanggungan mulai merambati dirinya. Sejak seminggu lalu, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa pada ... ibunya. Ia yang sekarang jelaslah bukan ia dua dekade lalu. Bertemu dengan sang bunda lagi setelah sekian lama terasa sangat janggal, terlebih dengan catatan hidupnya yang buruk, entah mengenai masa lalunya maupun mengenai masalah ... rumah tangganya.
Sasuke benar-benar kacau.
"Aku akan mengantarnya mengganti baju," ucap Sasuke pada akhirnya. Ia mengulurkan tangan, hendak menuntun Sarada. Tetapi, perkataan Mikoto menahannya.
"Tsunade-san sedang menunggumu di rumah sakit." Mikoto berdiri. Ia menghadap Sasuke dan menatapnya. "Dia ingin membicarakan kondisi ... ibu Sarada," lanjut Mikoto pelan, memastikan bahwa Sarada tidak mendengarnya. "Ibu akan mengantarkan Sarada untuk mengganti pakaian."
Sasuke tak punya alasan untuk menolak. Ia mengangguk kaku, memberi tahu Sarada bahwa ia hendak menemui Tsunade, dan melangkahkan kaki menjauh. Dipanggilnya Sasuke menunjukkan bahwa Tsunade telah menemukan petunjuk atau apa pun itu terkait dengan keadaan Sakura. Selama seminggu ini, Tsunade memang sangat sibuk mengobati banyak orang, tetapi ia tidak melupakan orang-orang yang menjadi prioritasnya. Sakura adalah salah satu dari orang yang diprioritaskan Tsunade.
Sasuke menanyakan keberadaan Tsunade begitu ia sampai di rumah sakit. Setelah diberitahu, ia segera menghampiri kamar pasien yang dikatakan sang perawat. Ia sampai di sana tidak lama setelahnya. Pintu kamar pasien terbuka sebelum Sasuke sempat membukanya. Shizune berdiri di depan Sasuke dengan sebuah papan bantu menulis di tangannya.
"Masuklah."
Sasuke tak perlu diberitahu dua kali. Ia memasuki ruangan sementara Shizune keluar. Di sana, Sasuke mendapati Tsunade tengah berdiri di samping tempat tidur pasien. Ia tampak baru selesai melakukan pengecekan.
"Apakah kondisinya sudah berkembang?" tanya Sasuke selagi berjalan mendekat.
Tsunade masih belum mengalihkan pandangannya dari Sakura yang terlelap.
"Belum. Sejujurnya, aku belum tahu pasti cara untuk mengembalikan kesadarannya," balas Tsunade. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, keningnya mengerut samar. "Tapi, tanpanya, kita mungkin tidak akan bisa memulihkan kondisi Naruto."
Kalimat Tsunade segera menarik perhatian Sasuke. Ia menoleh dan seketika bertanya, "Kenapa?"
Tsunade menghela napas pelan.
"Karena hanya dia yang bisa membuat antidot racun di tubuh Naruto." Ekspresi Tsunade tampak masam. Lelah di wajahnya seolah melunturkan rupa muda itu. "Kemampuan Sakura di ranah medis sudah melampauiku sejak sepuluh tahun terakhir. Dia menciptakan racun jenis baru yang tidak bisa kubuat penawarnya. Racun ini benar-benar merusak tubuh Naruto secara berkelanjutan. Dia tidak akan bertahan lama jika tidak mendapatkan antidot itu."
Berita ini bukanlah berita yang ingin didengar Sasuke. Mulut Sasuke terkatup rapat. Bibirnya membentuk garis lurus.
Tsunade tak perlu melihat Sasuke untuk mengetahui reaksinya, sebab sakit yang dirasakan oleh pria itu juga dirasakan olehnya. Bukan hanya Sasuke yang khawatir dengan keadaan Naruto. Tsunade adalah salah satu orang yang paling terpukul atas kondisi ini. Dulu, ialah yang merawat jasad Naruto. Ia yang menyaksikan segel penyamaran diri sosok itu terlepas, memperlihatkan rupa aslinya yang ternyata seorang perempuan.
Tak seperti Sasuke yang bahkan tidak sanggup melihat tubuh tak bernyawa Naruto, Tsunade berhasil menghadapinya hingga detik terakhir.
Memikirkan bahwa ia harus melalui momen-momen seperti dulu lagi sangatlah menyakitkan. Jika kondisi yang demikian bisa dicegah, Tsunade akan berusaha keras untuk mencegahnya.
"Chakra Momoshiki sepertinya merusak cukup banyak titik chakra di tubuh Sakura. Kerusakannya lebih parah dari ninja biasa karena dia mempunyai Byakugō. Kemampuan penyimpanan chakra Byakugō membuat titik-titik chakranya menjadi lebih banyak dan rumit. Jika titik-titik itu rusak, kerusakannya bisa sangat parah. Untuk mengatasi ini diperlukan operasi besar dengan prosentase berhasil di bawah lima puluh persen."
Tsunade menoleh, ia menatap Sasuke lurus-lurus.
"Hanya operasi ini yang bisa kupikirkan. Aku belum pernah melakukannya pada orang lain karena sebelumnya tidak ada kasus seperti ini. Bagaimana menurutmu?"
"Jika memang tidak ada opsi lain yang lebih baik, kenapa kau harus bertanya padaku?"
Tsunade menghela napas pendek. Ia menatap Sasuke datar.
"Etika ninja medis, Uchiha," tandas Tsunade. "Untuk melakukan operasi besar semacam ini, dibutuhkan persetujuan keluarga pasien. Dalam kasus ini orang tua atau suaminya. Sakura sudah tidak mempunyai orang tua. Tapi, dia masih istrimu."
Sasuke mengerjap, seolah kembali tersadar oleh sesuatu yang sempat ia lupakan. Ia mengalihkan pandangan.
"Aku tidak berhak memutuskan nasib hidupnya."
Jawaban Sasuke membuat Tsunade kembali menghela napas.
"Kalau begitu kami akan melakukan operasinya."
Setelah mengatakannya, Tsunade bergegas keluar. Ia berhenti tepat di ambang pintu.
"Antidot Naruto mungkin bisa kubuat dengan bantuan Orochimaru nanti. Tapi, jika operasi ini gagal, Sakura tidak bisa lagi diselamatkan."
Sesaat setelahnya, Tsunade sudah benar-benar pergi dari sana, meninggalkan Sasuke yang masih menatap kosong sosok perempuan berambut merah muda yang terbaring tak berdaya dengan beberapa alat kesehatan yang menyokong hidupnya.
Jemari Sasuke menggenggam tepi tempat tidur besi itu. Kalimat Tsunade dan ibunya menelusup dalam pikiran Sasuke secara tiba-tiba. Kalimat mengenai Sakura yang masih merupakan istrinya dan Sakura yang merupakan ibu dari Sarada, putri tunggalnya.
Selama ini, Sasuke merasa bahwa ia tidak terlalu memikirkan Sakura. Tapi, bagaimanapun juga, sosok inilah yang telah menemaninya selama sepuluh tahun terakhir. Ialah yang mampu memberi sepercik harapan untuk hidup Sasuke yang telah mati. Dengan menawarkan pernikahan, Sakura memberikan konsep keluarga untuk Sasuke. Ia mengantarkan Sarada ke dunia mereka—memberi Sasuke setitik harapan sehingga dunianya tak lagi segelap dulu.
Kehadiran Sakura mungkin tak berpengaruh besar untuk Sasuke. Selama ini ia mengabaikan wanita itu. Tapi, nyatanya, Sakura tetap bertahan. Tidaklah asing kalau Sasuke mensyukuri kehadiran Sakura. Ia berutang besar pada sosok itu. Sakura bukanlah orang lain di hidupnya. Sakura adalah keluarganya.
Keluarga yang bagaimana?
Menatap tangannya yang telah terulur ke arah perempuan itu, Sasuke segera menariknya. Ia mengerjap sebelum kemudian berbalik pergi. Kedua kakinya membawa ia ke sebuah ruangan lain—ruang pasien yang selama ini selalui dikunjunginya.
Sasuke berdiri di samping ranjang pasien. Netranya mengamati sesosok wanita pirang dengan wajah pucat pasi. Peralatan kesehatan terpasang hampir di seluruh organ vitalnya. Mulai dari selang oksigen hingga peralatan lain yang tidak dikenali Sasuke.
Tujuh hari sudah Sasuke melihat kondisi Naruto. Tetapi, ia masih belum terbiasa melihat Naruto terbaring lemah semacam itu. Ia belum terbiasa melihatnya menutup mata terlalu lama, terlelap dalam kegelapan tanpa mampu menyadari kehadiran orang lain di sisinya. Sebagai seorang ninja dengan kemampuan di atas rata-rata, Naruto akan mampu mengenali kehadiran orang lain meskipun ia tengah terlelap. Refleksnya selalu bagus. Ia selalu awas dan waspada, tidak seperti sekarang—lemah tanpa pertahanan apa pun.
Ia begitu rapuh.
Melihatnya seperti ini membuat Sasuke perih.
Kembalinya Naruto mungkin merupakan keajaiban. Sasuke tidak tahu pasti alasan logis atas kembalinya chakra kehidupan Naruto. Namun, Itachi dan Kakashi berasumsi bahwa semua itu berkaitan dengan Ōtsutsuki Toneri. Toneri mengatakan sesuatu tentang janji yang dibuat olehnya dan Naruto. Janji tersebut mungkin berkaitan dengan kembalinya jiwa Naruto. Satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu hanya dengan mendengar penjelasan langsung dari Naruto sendiri.
Menarik kursi terdekat, Sasuke duduk di samping tempat tidur pasien. Ia mengamati Naruto lamat-lamat, menyadari bahwa kulit pucat itu menandakan bahwa luka bakar di tubuhnya telah membaik. Kondisi Naruto mengalami perkembangan. Luka luarnya berangsur sembuh. Yang menjadi masalah adalah luka organ dalam yang disebabkan oleh racun itu—racun yang menghancurkan organ vitalnya sedikit demi sedikit, racun yang secara perlahan perlahan akan mengantarkannya pada kematian.
Meraih telapak tangan Naruto, Sasuke menggenggamnya pelan. Pandangannya terpatri pada kelopak mata sang wanita yang tertutup rapat, seolah menolak untuk kembali menatap dunia luar. Akan tetapi, Sasuke tahu, Naruto sudah berjanji untuk hidup. Ia sudah berjanji. Oleh karenanya, entah bagaimana caranya, ia akan kembali.
Naruto bisa kembali jika Sakura juga kembali.
Kalau begitu, apa yang akan kaulakukan? Bagaimana dengan Sarada? Bagaimana dengan putra kembarmu yang bahkan belum kauberi nama?
Apakah kau akan bertindak egois lagi dengan mengutamakan keinginanmu?
Genggaman tangan Sasuke sedikit mengerat. Netranya masih menatap Naruto lamat-lamat. Detik berikutnya, ia telah berdiri, menundukkan badan ke arah Naruto, dan mengecup dahinya pelan.
Suara Sasuke selirih angin ketika ia berbisik, "Bangunlah dan beri aku jawaban."
Seseorang yang pantas memutuskan semua kebimbangan Sasuke adalah Naruto. Selama ini, Sasuke selalu memaksakan kehendaknya. Selama ini, ia yang selalu berusaha untuk tetap bersama dengan Naruto. Namun, dengan kehadiran Sakura, Sasuke tak bisa lagi melakukannya. Ia tak bisa lagi mengejar orang lain ketika sudah ada seseorang di sisinya.
Perasaan Sasuke telah terpampang jelas di mata Naruto. Naruto tahu betul apa yang diinginkan Sasuke. Oleh karenanya, nanti, untuk kasus ini … ia akan membiarkan Naruto memilih. Ia akan membiarkan Naruto memutuskan akhir dari hubungan mereka—apakah mereka akan bersama atau tidak, apakah mereka akan melanjutkan ikatan khusus yang telah terjalin atau memutuskannya agar bisa kembali seperti dulu … seperti dulu ketika definisi ikatan di antara mereka berdua hanyalah tali pertemanan belaka.
Naruto akan memutuskan dan Sasuke takkan lagi menentangnya meski jawaban yang diberikan nanti berbanding terbalik dengan apa yang ia inginkan. []
TBC
a/n
halo, makasih banyak yang udah mampir untuk baca dan sempat ninggalin jejak di kolom review! war arc udah kelar di chapter kemarin, sekarang kita memasuki tahap akhir ... yang artinya, ending sudah dekat x')
see u in the next chap!
salam.
