Disclaimer :

Naruto © Masashi Kisimoto

Assassination Classroom © Yūsei Matsui

Summary : Setelah kehilangan keluarga yang berharga, Naruto melanjutkan perjalanan kembali menuju Dimensi lain untuk menyelesaikan tugas terakhir Dari Kami-sama sebagai langkah awal menjadi Ni-kami-sama, bagaimanakah perjalanan Naruto.

Naruto : Assassination Classroom : The Last Mission

Pair

Naruto x...

Genre : Adventure, Humor, Fantasy, Sci-fi, Bite Romance, School Theme dll

Rate : M

Warning : Typo, OC, OOC, Multichap, jutsu buatan sendiri, alur berantakan, Semipower!Naruto.

" Halo " berbicara

' Halo ' batin

[" Yo! "] Bijuu berbicara

[' Yo! '] batin Bijuu

.

Konomi Suzuki – Redo

Fix First Music

( Terlihat Naruto yang berbaring dengan luka di perut perlahan bangkit dengan sendirinya dengan luka memulih dan perlahan pakaiannya berganti dengan pakaian berjubah putih lalu menatap tajam ke belakang di mana kamera berada )

jibun no kako ni toraware mayotte

( gambar kembali di ganti dengan gambar Naruto yang berada di sebuah tempat rumput yang luas dengan pakaian jas berjubah putih sambil melipat dada di tangannya )

sou janai yo to iikikasete

( Gambar kembali di ganti dengan Hinata di sebuah tempat yang luas dengan bercahaya di rekam dari samping sambil memandang ke atas dengan sendu )

subete o

( Layar di dikaburkan dengan gambar Setengah mata Hinata yang menutup dan mengeluarkan air mata )

jiyuu ni ayatsureru ka nante

( Layar di kembali di ganti dengan Gambar Menma dan Naruko yang menyamping ke kanan yang berada di atas tempat putih sambil tersenyum )

wakaranai yo to sora wa kasunde seikai wa doko?

( Layar kembali di ganti dengan Rias, Akeno, Asuna, Serafall dan Sona yang membentuk persegi lima dengan saling membelakangi di sebuah tempat bercahaya sambil saling tersenyum )

boku no tenohira ni nokoru daiji na mono

( Layar di ganti dengan gambar Naruto yang menghadap ke arah kamera sambil menutup matanya )

Fix Second Music

( Layar di ganti dengan setengah Mata Naruto yang langsung terbuka lebar dengan memperlihatkan mata dewanya )

wasurenai kioku

( Layar kembali di ganti dengan gambar setengah Naruto dari samping sambil berjalan ke depan di sebuah lorong yang sangat gelap )

nandodemo kimi o mamorinuku to sakende

( Layar kembali di ganti dengan wajah Naruto yang menyamping perlahan bersinar karena sudah keluar dari sebuah lorong gelap )

makimodoshi no naka tsukanda ai wa sou

( Layar di ganti dengan Gambar Naruto yang membelakangi Kamera dengan di hadapan Naruto sebuah kelas yang sangat lapuk, lalu layar diganti kembali dengan setengah mulut Naruto yang perlahan menyeringai )

hanashi wa shinai kara

( Layar kembali di ganti dengan tiga kali dengan beberapa murid kelas 3-E dengan ekspresi membunuh menoleh ke arah Kamera )

chiribameta omoi ima ichidokiri no negai e

( Lalu layar kembali di ganti dengan gambar langit dan kamera bergerak turun sampai memperlihatkan Kelas 3-E, lalu di tambah dengan judul cerita ini )

tsugi eno boku ni takushita yo

( Layar kembali di ganti dengan seluruh kelas 3-E menyerbu Naruto namun Naruto berhasil menghindari seluruh serangan itu lalu merentangkan tangannya dengan lebar ke arah para Murid yang merentangkan tangan mereka ke arahnya )

itsuka no yakusoku hikari no michishirube ni naru

( layar kembali di ganti dengan Naruto yang berjalan santai menuju Kelas 3-E perlahan berhenti dan layar berganti dengan Naruto membelakangi Kamera sambil menghadap ke depan di mana seluruh murid 3-E berbaris bersama Karasuma )

chikai wa saa, kimi no tame

( Layar kembali di ganti dengan Gambar seluruh Kelas 3-E dari samping tersenyum ke arahnya, lalu layar kembali di ganti Naruto yang tersenyum lalu melanjutkan jalannya )

saigo made

( layar kembali di ganti dengan Mata Naruto yang seketika melebar lalu memutar tubuhnya dengan cepat sambil menahan sebuah pedang yang belum di ketahui identitasnya )

namida sae chikara ni kaete kitto egaiteta nozomu mirai e

( Layar kembali di ganti dengan bergerak memutari Naruto dengan latar-latar masa lalu, hingga Naruto memasang wajah Emosi dan kembali membuka matanya hingga bercahaya putih )

tsunagu yo

( Lalu seketika terjadi sebuah ledakan dan layar diganti dengan gambar penampilan Naruto yang berdiri tegak dengan sebuah tongkat putih )

Fix End Music

( Layar diganti dengan setengah wajah Naruto yang tertutup tudung mendongak ke arah kamera dengan Ekspresi marah )

Note For Music : Jika jelek akan di ganti tapi untuk membayangkan seperti Re Zero dia

.

Chapter 45 : Kemarahan

.

"Dari mana kau mendapatkan tentakel itu?!"

Shiro yang mendengar itu menggelengkan kepalanya, "Kami tak memiliki hak untuk menjawab pertanyaanmu, begitu juga kau bukan? Bagaimana bisa kau mendapatkan tentakel itu?"

Naruto yang mendengar itu terdiam, "Kau juga mengeluarkan aura yang mengerikan, apakah kau teringat sesuatu yang tidak enak?" mendengar itu bayangan saat ia mendapat tentakel dan kematiannya Aguri membuatnya tidak senang.

"Sepertinya...," gantung Naruto, "Mungkin setelah ini aku akan memaksa kalian untuk menjawab pertanyaanku."

"Kau tidak akan bisa melakukannya, karena sebentar lagi kau akan mati," ucap Shiro sambil mengangkat tangannya hingga mengeluarkan cahaya ungu yang mengenai Naruto.

Swush!

Itona yang melihat itu mengendalikan seluruh tentakelnya untuk menyerang Naruto, namun Naruto tetap berdiri tenang sambil menyeringai.

"Mati?"

Duak! Duak!

Dengan kecepatan yang sangat gila, Naruto menangkis seluruh tentakel Itona membuat Shiro terkejut, "Aku tidak pernah mendengar kata itu? Apakah arti kata mati itu?"

"..."

"Kau menggunakan cahaya bertekanan tinggi untuk melekatkan sel-sel dalam tubuhku agar meningkat dan tentakelku akan menjadi padat dengan cepat, trik untuk membunuhku seperti itu tidak akan mempan," ujar Naruto. Itona yang melihat itu terus menyerang Naruto dan Naruto berhasil menangkis setiap serangan Itona.

"Jika kau berpikir mengetahui kelemahan ku, coba serangan aku terus seperti ini, itu tidak akan membuahkan hasilnya," lanjut Naruto menghentakkan tangannya di dada.

Bwush!

Hempasan angin seketika terjadi membuat Itona terseret hampir keluar dari ring, Naruto yang berhasil membuat jarak menyembunyikan tentakelnya kembali.

"Sebaiknya aku memberi keringanan huh?" gumam Naruto menyeringai, "Oi, Itona! Ayo serang aku! Kau pikir kau itu kuat?"

"Bagiku kau itu lemah," lanjut Naruto mengangkat dagunya di sertai seringai meremehkan.

Swush! Blar! Blar!

Itona yang mendengar itu menggeram kesal dan mengendalikan tentakelnya untuk menyerang Naruto, namun Naruto menghindarinya dengan mudah membuat serangan Itona hanya menghantam lantai.

"Hahaha! Apa hanya ini?"

Semua murid yang melihat Naruto tampak tenang dan santai dalam pertarungan meneguk ludah mereka, bahkan Itona yang memiliki tentakel seperti Naruto tak bisa membunuhnya.

Sret! Swush! Blam!

Naruto yang melihat Itona melompat lalu berputar menjadi bor dengan tentakelnya hanya diam dan menatap tajam serangan Itona tersebut hingga dia mengeluarkan satu tentakel menghantam jurus tersebut dan membuat Itona terpental.

"Membosankan, bahkan orang yang memiliki tentakel sepertimu tidak bisa membuatku semangat, bahkan dengan satu tentakel ini aku cukup mengalahkanmu," ujar Naruto sambil memasukkan lengannya ke kantong.

"Bukankah kau terlalu sombong, Naruto-sensei? Bahkan kau sudah di beri peringatan untuk tidak menyerang muridmu," ujar Shiro.

"Itu memang benar, tapi menahan serangannya tidak termasuk menyerang muridku," jawab Naruto mengendalikan tentakelnya untuk menantang Itona, "Selain itu kau melupakan satu hal, jika kau hanya tahu kelemahanku apakah itu sudah sempurna?"

"Tentu saja, karena perhitunganku itu sempurna."

Setelah mengatakan itu, Itona kembali melompat dan menyerang Naruto dengan seluruh tentakelnya dalam satu titik, Naruto yang melihat itu menyeringai.

Blash!

Begitu serangan Itona menghantam Naruto, Tentakel Itona seketika hancur membuat semuanya terkejut.

"Hm, sepertinya saat aku menahannya ada barang yang ikut denganku," ucap Naruto dengan wajah bodohnya sambil bergelantungan di atap-atap sekolah. Semua yang melihat Naruto sudah di atas sana terkejut dan mereka melihat ke arah lantai di mana terdapat tiga pisau anti tentakel beralaskan tisu.

'Se-Sejak kapan!' batin semuanya.

Swush! Grep!

Itona yang kehilangan tentakelnya seketika panik, namun dengan cepat Naruto mengurung Itona dalam bola karet, "Jika kau memiliki tentakel sepertiku, artinya kau punya kelemahan sepertiku juga," ucap Naruto sambil mengangkat bola karet yang mengurung Itona.

"Kau mungkin memiliki otot, tapi aku lebih pintar darimu!" lanjut Naruto lalu melempar bola karet tersebut keluar kelas hingga merusak jendela sekolah.

Sret! Tsh! Blash!

Naruto pun mengarahkan jarinya ke bola karet tersebut dan seketika, Bola karet tersebut terbelah dan mengeluarkan Itona dengan wajah kebingungan.

"Aku melindungiku dengan jurus karetku jadi kau tidak akan terluka, tapi kakimu telah keluar dari ring. Ini adalah kemenanganku, dengan begitu kau tidak akan bisa membunuhku," ujar Naruto dengan nada meremehkan membuat Itona menggeram marah.

"Jika kau ingin bisa membunuhku bergabunglah di kelas ini dengan kekuatanmu sendiri, jangan gunakan tentakel itu. Kita akan belajar bersama dan mencoba mencari cara untuk membunuhku," ajak Naruto membuat semua muridnya terkejut karena Naruto masih mau menerima Itona.

'Gawat, Itona benci belajar lalu di ceramahi,' batin Shiro, 'Jika seperti ini...'

Naruto yang melihat Itona bangkit dan mengeluarkan tentakel hitam menyipitkan matanya, "Aku ini kuat! Tidak akan ada yang bisa mengalahkanku dengan kekuatan ini!"

Naruto yang mendengar itu keluar dari kelas, "Kau masih bangga dengan kekuatan itu?" Itona yang mendengar itu menatap marah Naruto.

"Jangan menatapku seperti itu, apakah itu kemarahanmu? apakah kau sangat membenciku?" tanya Naruto dan seketika sembilan Aura keluar dari tubuh Naruto dan membentuk sembilan raksasa yang membuat Itona melangkah mundur dengan kaki gemetar, bahkan tentakel hitamnya seketika menjadi putih kembali.

"Semua itu belum seberapa yang selama ini aku miliki," ujar Naruto menunjukkan sembilan Susano'onya yang menatap garang Itona, "Dengan kekuatanmu itu, apakah kau yakin bisa membunuhku sekarang?"

Itona yang mendengar itu seketika terduduk dengan wajah pucat dan tak sadarkan diri seketika, sementara Naruto hanya diam saja.

"A-Apa yang terjadi? T-Tiba-tiba Itona menjadi tenang!" Naruto yang mendengar respons muridnya menghembuskan nafasnya, ia menggunakan Genjutsunya untuk menakuti Itona agar tenang, jika dia mengamuk di sini dia tidak ada pilihan lain melindungi muridnya dan ia pasti harus mengeluarkan kekuatannya.

Blam!

Naruto yang baru saja ingin mendekati Itona harus terhenti ketika sebuah kurungan tiba-tiba muncul dari tanah. "Maaf tapi aku akan membawanya kembali," ucap Shiro melewati Naruto.

"Tunggu, dia sudah kalah, jadi seharusnya dia bergabung dengan kelas ini," ucap Naruto, "Selain itu aku harus mencabut tentakel tersebut dan menjawab pertanyaanku!"

"Aku sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaanmu, sampai jumpa." Ucap Shiro menjatuhkan granat asap dan meledakkan asap yang tebal membuat Naruto terdiam di tempat.

Greb! Trank!

Setelah cukup lama, Naruto menggenggam satu batang jeruji yang mengurungnya hingga mengeluarkan asap dan detik berikutnya kurungan tersebut hancur berkeping-keping.

"Mereka sudah kabur ya...," gumam Naruto lalu kembali ke kelasnya. "Kau tidak apa, Naruto-sensei?" tanya Nagisa mendekati Naruto.

Sementara Naruto hanya tersenyum tipis dan memperlihatkan keadaannya, "Seperti yang kau lihat sendiri, Nagisa."

"Tadi itu cukup mengejutkan bukan?"

"Itona memiliki tentakel seperti Sensei, dan saat melihatnya... Naruto-sensei tampak sangat kesal."

"Apakah ada hubungannya denganmu?" tanya Karasuma, namun Naruto hanya diam tak menjawab. "Aku belum bisa menjawabnya, yang pasti untuk saat ini kalian semua harus berhati-hati terhadap mereka, aku yakin mereka akan menggunakan kalian sebagai umpan untuk membunuhku," jawab Naruto dengan wajah serius.

"Pelajaran kali ini selesai di sini, sampai bertemu besok," ucap Naruto lalu berjalan keluar meninggalkan para murid yang terdiam mendengar jawabannya.

"Bukankah... Naruto-sensei itu tampak merahasiakan sesuatu?" tanya Sugino meminta pendapat yang lainnya. "Kau benar, dia seperti menjaga jarak dari kita," jawab Layani sambil melihat arah pintu ke mana Naruto keluar tadi.

"Dia orang misterius dengan penuh kejutan dan kekuatan yang sangat besar yang bisa saja menghancurkan bumi kapan saja, jika dia memang ingin menghancurkan bumi kenapa dia tidak lakukan saja secara langsung?" gumam Irina sekaligus bertanya.

"... Sepertinya dia memiliki hutang yang belum dia tebus, hingga dia menebus hutangnya entah apa itu, baru dia akan melakukannya."

.

Naruto yang sudah keluar dari sekolah menghentikan langkahnya ketika melihat Kanade mendekatinya sambil mendorong kursi roda Michella.

"Padahal kalian sudah aku suruh untuk istirahat," gumam Naruto ketika mereka sudah sampai di dekatnya. "Michella-nee bilang terjadi sesuatu di sini," balas Kanade lalu melirik ke arah jendela kelas yang hancur.

"Apa terjadi sesuatu?"

"Ya... Hanya pertarungan kecil saja," jawab Naruto, Michella yang mendengar itu menyentuh tangan Naruto. "Kau tidak apa bukan?" tanya Michella membuat Naruto membungkuk dan tersenyum tipis.

"Ya, aku tidak apa, aku ini kuat jadi jangan khawatir," jawab Naruto sambil mengecup lengan Michella, "Ayo kita pulang, padahal aku sudah menyuruh kalian untuk istirahat sekarang tapi kalian malah kemari."

.

India, Taj Mahal

10.00 AM

.

Sementara itu di India tepatnya Taj Mahal, Bunshin Naruto saat ini tengah membaca buku-buku lama di ruang rahasia dengan cahaya kecil di atasnya. Semenjak kemarin dia mencoba membaca satu persatu buku-buku sejarah yang ada di Taj Mahal tapi belum ada bukti apa pun.

Menghembuskan nafasnya, Naruto melirik ke arah dua Security yang terbaring lalu menghilang dengan cepat hingga ia telah berada di atas atap Taj Mahal.

"Sebaiknya aku istirahat dan mencari makan lebih dahulu," gumam Naruto lalu terbang dengan cepat meninggalkan bangunan Taj Mahal.

Kembali ke ruang rahasia Taj Mahal, dua Security yang di ikat berusaha berteriak untuk meminta tolong dan mereka harus terkejut ketika tiba-tiba muncul seseorang yang tidak mereka kenal.

"sepertinya kalian sangat cocok untuk jadi tumbal."

Blaaaar!

Naruto yang tengah memakan Hamburger seketika terhenti ketika mendengar suara ledakan yang sangat besar dan cahaya yang melambung tinggi.

Dengan cepat Naruto menghabiskan Hamburgernya lalu terbang dengan cepat ke tempat tersebut, 'Kuso! Di saat seperti ini!' batin Naruto

["Grrooaaaaaar!"]

Naruto yang mendengar sebuah aungan keras merapal sebuah segel hingga menciptakan dua puluh Bunshin.

"Kalian! Cepat evakuasi tempat kejadian dan bawa dia ke dimensi lain!"

"Osh!" balas mereka setempat lalu melesat dengan cepat. "W-What is Happening?!" teriak salah satu orang India dengan nada panik.

Bzit! Wush!

Dengan gerakan 40 Mach Sepuluh Naruto telah mengevakuasi di tempat kejadian dan memindahkan warga sangat jauh dari tempat kejadian.

Lima Bunshin pun secara bersamaan membuat Kekkai tak kasap mata dan sisanya merapal segel perpindahan Dimensi.

["Groooaaaar!"]

Dari cahaya yang melambung ke langit pun keluar kepala kuda dengan mata merah mengerikan, namun itu Cuma sesaat karena sebuah lubang hitam menghisapnya serta Bunshin Naruto India yang menciptakan mereka

BLAAAR!

Monster kuda itu pun terjatuh dengan keras ke tanah hingga menghancurkan tempat Dimensi buatan Naruto.

"Tidak aku sangka Monster ini tiba-tiba muncul!" gumam Naruto mendarat dengan keras di atas sang monster hingga membuatnya berteriak.

"BERISIK!" teriak Naruto menggenggam kepala sang monster dengan tangan Susano'o lalu menghantamnya ke tanah dengan keras, "Kali ini akan aku coba membuka isi kepalamu itu."

.

Spanyol

.

"Huft~ menikmati angin di Cafe memang sangat enak bukan, Diriku yang mendapat tugas di Italia?"

"Bos sudah bilang panggil kita dengan kode tempat tugas kita, panggilanmu itu membuatku resah Naruto Spanyol."

Di negara Spanyol tepatnya di sebuah Cafe, terdapat Dua Naruto dengan pakaian berbeda saat ini tengah duduk dengan secangkir Coffe di tangan mereka.

Mereka tampak mencolok membuat beberapa orang yang minum di sana melihat mereka.

"Hahh~ aku rasa tugas kita sebentar lagi selesai jadi kita bisa menikmati waktu kita sebentar lagi," ucap Naruto Spanyol membuat Naruto Italia menaikkan sebelah alisnya.

"Apa maksudmu?"

"Maksudku, orang misterius itu sudah memanggil Monster yang ke empat, bukannya aneh? Dia memanggil Monster itu dengan cepat? Monster ke dua di tempatmu, berikutnya di China, dan yang aku dengar saat ini di India, bukannya aneh?"

Naruto Italia yang mendengar itu terdiam beberapa menit hingga dia mengebrak meja membuat mereka menjadi pusat perhatian.

"A-Ada apa?"

"Sial! Aku tidak menduga ini jebakan!"

"H-Huh?" beo Naruto Spanyol kebingungan, Naruto Italia yang tampak kesal berjalan keluar di susul oleh Naruto Spanyol, "He-Hey! Ada apa?"

"2 Monster yang di kalahkan kita yaitu di Italia dan China hanyalah umpan. 5 Bersaudara Uruki tidak bisa di kalahkan kecuali di segel dengan namanya bukan? Kita mendapat info itu dari dulu, kita sudah terkecoh!"

"Hah?!" kejut Naruto Spanyol sambil mengingat informasi yang dia punya, "Ka-Kau benar!"

"Kuso! Yang di Italia pasti juga umpan! Kita tidak punya waktu bersantai! Bisa saja ia sudah mengumpulkan 3 Saudara Uruki dan Ingat! Kita belum boleh memberitahu Bos hingga kita menemukan buktinya," ujar Naruto Italia terbang dengan cepat di ikuti Naruto Spanyol.

.

Other Place

.

Di sebuah tempat yang sangat luas dengan gunung indah, di bagian bawah kaki gunung tersebut terdapat sebuah gua berukuran besar dan di dalamnya terdapat pria misterius dengan satu monster berkepala kadal, bertubuh iblis tengah berdiri di antara sebuah kaki yang perlahan menumbuhkan bagian tubuh dan kepala.

"Selamat datang kembali, Drestro," ucap pria misterius membuat monster tersebut mengeluarkan suara geraman.

["BRENGSEK! AKAN AKU BALAS PERBUATAN PRIA ITU?! TIDAK AKAN AKU MAAFKAN KARENA MEMBUATKU MERASAKAN RASA SAKIT YANG LUAR BIASA?!"]

["Ghahaha, aku dengar kau kalah dari seorang ningen, Drestro? Kau semakin lemah rupanya,"] ucap monster berbentuk kadal membuat Monster bernama Drestro yang berhasil di kalahkan oleh Naruto di Mesir menggeram.

["TUTUP MULUTMU RAGTT! JIKA KAU MELAWANNYA KAU PASTI AKAN MENGALAMI HAL YANG SAMA SEPERTIKU?!"]

["Kau menantangku?"] tanyanya dengan seringainya, ["baiklah, akan aku lawan dia. Kau lihat saja, aku pasti akan membawakan kepalanya untukmu,"] lanjutnya sambil berjalan keluar.

"Tunggu, Uruki D Ragtt." Monster kadal yang di panggil berhenti dan menoleh ke arah manusia misterius yang meliriknya, "Berikan aku salah satu bagian tubuhmu untuk berjaga-jaga, jika saudaramu saja bisa terluka separah ini, kau mungkin juga bisa... Jika kau mati rencana kita akan gagal."

Ragtt yang mendengar itu terdiam beberapa saat lalu mengeluarkan senjata berbentuk kapak dan memotong ekornya, ["Gunakan itu."] setelah mengatakan itu, Ragtt berjalan keluar.

.

.

Back to India

.

Blaar!

Sementara itu di India, tepatnya di dimensi lain. Monster Kuda yang di lawan oleh Naruto India membentur dinding dengan sangat keras hingga memuntahkan darah ungu.

Naruto India menggeram kesal dan berjalan ke arah Monster kuda tersebut dengan tangan terkepal, "Sungguh mengesalkan ketika Monster seperti kau tidak memiliki penghalang seperti itu."

"Apa aku harus paksa menggunakan salah satu dari darian kekuatan yang aku dapat?"

["Hentikan Naruto!"]

Naruto yang mendengar itu terdiam, ["Aku mendapat kabar dari diriku yang lain di Spanyol, monster yang ada di hadapanmu saat ini bukanlah Salah satu dari lima saudara monster itu, dia adalah monster ciptaan."]

Mendengar itu Naruto menghilang dengan cepat dan memotong kepala Monster kuda tersebut hingga mengeluarkan darah yang sangat banyak, monster itu pun mati sepenuhnya membuat Naruto India terdiam dengan menundukkan kepalanya.

["Mereka tidak bisa di kalahkan kecuali di segel, dan dia mati dengan mudah, kita sudah di tipu."]

Blam!

Naruto meninju tanah di bawahnya hingga hancur, ia menatap nyalang ke atas tepat ke arah lubang dimensi untuk kembali ke India.

"Tidak akan aku maafkan!"

Wush!

.

.

Skip Time

.

.

Real Naruto Side

Minggu, 21 Mei 2017

20.00 PM

.

"Apa kau bilang?!" tanya Naruto dengan wajah menahan marah, dirinya sudah mendapat laporan dari dirinya yang lain dan ia juga baru teringat bahwa saat melawan Uriki dirinya harus melakukan teknik segel dengan bantuan Kagami no Gigan.

Ia juga baru menyadari keganjalan di mana para monster cepat bermunculan dan itu cukup aneh, 'Orang itu... Apa dia memiliki kemampuan khusus?' batin Naruto mengepalkan tangannya dengan kuat.

"SIALAN!" teriak Naruto mengangkat kepalan tangannya lalu menghantamnya ke tanah.

BLAAAAR!

Seketika semua orang yang ada di kota terkejut ketika terjadi ledakan petir di atas bukit padahal tidak ada tanda awan mendung, "Aku harus cepat mencari si brengsek itu!" geram Naruto.

"Ada apa Naruto-kun! Kau membuat semua orang menjadi curiga?" tanya Altair muncul di belakang Naruto, mendengar itu Naruto mengangkat tangan kanannya dan seketika tercipta badai dan langsung menurunkan hujan lebat.

"Dengan itu mereka akan melupakan semuanya... Gomen... Aku sangat kesal karena kita di tipu oleh orang misterius itu," ucap Naruto lalu melirik Altair dengan mata sharingannya.

"Di tipu?"

"Orang itu sepertinya memancing kita berpikir bahwa monster-monster yang kita kalahkan adalah para saudara Uriki, tapi itu salah... Mereka hanyalah monster ciptaan," jelas Naruto sambil mengepalkan tangannya kembali.

"Kita tidak bisa santai saja, kita harus cepat menemukan orang itu."

"Kau berkata seolah mudah menemukannya, walau pun kau Kami-sama tetap tidak menemukannya, kita hanya bisa menunggu hingga waktunya tiba jika kita bertemu dengannya," ucap Altair.

"Aku memang Kami-sama, tapi aku tidak bisa menggunakan seluruh kekuatanku. Aku hanya bisa menggunakan setidaknya separuh kekuatanku," balas Naruto sambil menyentuh dadanya. "Separuh? Dengan menciptakan ledakan petir itu separuh?" tanya Altair tidak habis pikir.

"Ya, itu memang separuh kekuatanku," jawab Naruto membuat Altair terdiam lalu menghembuskan nafasnya. "Jika begitu kau harus menahan emosimu dan menjalankan tugasmu di sini lebih dahulu, sekarang ini keberadaannya bahkan tidak bisa di lacak oleh pemerintah, jika sudah bertemu Bunshinmu pasti mengirim pesan. Kita hanya bisa menunggu," saran Altair membuat Naruto terdiam.

"Kau benar... Aku harus menjalankan tugasku untuk mereka, kemarin mereka sudah senang karena berhasil lolos Exhibition melawan kelas D," gumam Naruto sambil sedikit tersenyum mengingat bahwa tadi pagi mereka mendapat challange Exhibition Baseball.

Dia memberi latihan ekstra pada murid-muridnya dan hasilnya cukup memuaskan bahwa murid-muridnya berhasil mengalahkan mereka, walau pertandingan kemarin muridnya harus melawan rencana kepala sekolah yang sangat ambisius.

"Mengingat hal tadi entah kenapa emosiku berpindah pada kepala sekolah brengsek itu," gumam Naruto, "Dia sangat ambisius, untungnya aku berhasil membuat rencana agar pertahanan mereka runtuh."

Naruto yang melamun tersentak ketika Altair menyentuh lengannya, "Itu sudah menjadi salah satu kelebihanmu, kau harusnya senang dengan semua itu."

"Kelebihan?"

"Kau bisa melakukan apa pun, bahkan kau bisa menghentikan niat jahatku, kau itu penuh kejutan kau tahu."

Naruto yang terdiam lalu melepaskan tangannya sambil mengalihkan pandangannya, "Banyak yang bilang begitu padaku, Arigato, Altair."

Altair yang mendengar itu hanya tersenyum tipis, "Apapun untuk penyelamatku."

"Sebaiknya kita kembali, hujan ini akan hilang nanti pagi, jika kita berlama-lama nanti Kanade akan marah," ajak Naruto sambil membuka telapak tangannya hingga memunculkan payung. "Ya kau benar," jawab Altair lalu kembali bersama Naruto sambil berbagi payung.

"Ne, Altair... Bagaimana hubunganmu dengan Setzuna?" tanya Naruto mengubah topik. "Lancar saja, lalu bagaimana denganmu dan Michella-san?" tanya balik Altair membuat Naruto menggaruk tengkuknya dengan tentakelnya.

"Ya... Normal saja. Lalu bagaimana dengan yang lainnya?"

"Mereka tetap ada di base, mereka juga mencoba hidup normal sambil menunggu kabar."

"Souka...," gumam Naruto mengakhiri pembicaraan. "Besok aku dengar akan ada guru Baru, apa kau sudah tahu?" tanya Altair membuat Naruto meliriknya

"Ya, Karasuma sudah memberitahuku," jawab Naruto dengan nada serius, "Dan aku merasa tanganku akan berdarah besok."

.

.

.

.

Senin, 22 Mei 2017

Kelas 3 E

11.00 AM

.

"Jadi namanya Takaoka?" tanya Naruto sambil membaca data Takaoka. "Ya, dia adalah salah satu teman kerjaku, dia cukup berpengalaman," jawab Karasuma sambil membaca info Takaoka di laptopnya.

Naruto yang sudah membaca data Takaoka melirik Karasuma, "Tadi pagi aku melihatmu melatih murid-murid melatih serangan dan kau memutar Nagisa tanpa sengaja, apa ada sesuatu?"

Karasuma yang mendengar itu menghentikan kegiatannya, dan melirik Naruto, "Entahlah... Susah menjelaskannya dengan kata-kata, tadi itu... Aku merasakan hawa nafsu membunuh yang kuat, tapi mungkin saja itu halusinasi."

Naruto yang mendengar itu diam beberapa detik lalu bertanya kembali, sambil melirik Murid-Murid mereka yang berbincang asik dengan Takaoka "Aku juga melihatmu sedikit murung ketika murid-murid akrab dengannya... Apa kau cemburu?"

"Cemburu? Jangan bercanda," balas Karasuma sambil mengganti foto data Takaoka dan ia seketika terkejut, Naruto yang mendengar derap langkah kaki menoleh dan dia tidak melihat Karasuma.

Ia pun melirik Laptop Karasuma dan ia melebarkan matanya, tangannya mengepal seketika dan menoleh keluar dan dia melihat Takaoka meninju Maehara serta Kanzhaki yang saat ini di lindungi oleh Karasuma.

Kriieet~

"Permisi~," ucap Irina memasuki kantor guru dan langsung menegang ketika melihat Naruto berdiri di dekat jendela dengan tekanan energi yang kuat.

"Apa yang kau lakukan, Takaoka!"

"Karasuma, aku masih menahan kekuatanku loh, sebagai ayah aku harus membuat mereka mandiri dan kuat."

"Ayah kau bilang?" gumam Naruto menarik tangan kanannya dan meninju dinding berisi jendela di depannya hingga terpental membuat semua terkejut.

Wush! Blar!

Naruto pun melompat setinggi mungkin lalu mendarat di depan Takaoka dan mencengkeram kerah Takaoka, "Mereka bukanlah anakmu, mereka adalah muridku."

"Kau pikir apa yang telah kau lakukan hah?!" tanya Naruto dengan nada marah. Altair yang merasakan energi Naruto langsung datang bersama Kanade, Michella dan Setzuna, mereka yang baru sampai tentu terkejut dengan dinding ruang guru yang hilang serta Naruto yang mencengkeram kerah seorang pria yang tidak mereka kenal.

"Hoho, jadi kau monster itu? Kau tampak seperti anak kecil ya?" gumam Takaoka meremehkan, Naruto yang mendengar itu menggeram, "Kenapa? Kau marah? Ini adalah jam pelajaranku, karena kau bukan guru olahraga sebaiknya kau jangan marah dengan metodeku!"

Naruto yang mendengar itu melepaskan cengkeramannya, dan menatap tajam mata Takaoka, "Baiklah... Tapi jika ada yang terluka lagi aku tak peduli lagi yang namanya makhluk hidup, jika kau melukai muridku lagi, kau akan menerima akibatnya."

.

.

Naruto dan Karasuma hanya bisa duduk di belakang Takaoka yang mengawasi para murid yang tengah melakukan Squad Jump 30 kali.

"Murid-Murid bisa hancur jika seperti ini," gumam Naruto sambil mengepalkan tangannya dengan kuat, "Karasuma, sebagai sesama guru olahraga, aku ingin kau menolak metodenya itu."

"Nii-chan, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?" tanya Kanade khawatir dengan murid-murid kakaknya. "Aku bisa saja, tapi aku tak punya hak untuk mengatur ajaran yang bukan pelajaranku, jika tidak aku sudah membuatnya luka fatal sejak tadi," jawab Naruto.

"Ternyata perkataanmu benar."

"Aku sudah membaca datamu dan dirinya, dan pangkat kalian beda satu tingkat, karena kau mengambil tugas ini, kau pasti akan naik jabatan, dan dia ingin menghentikan itu," ucap Naruto membuat Karasuma terkejut.

"Hanya karena itu?"

"Tidak, dia berniat membuatmu menjadi bawahannya, dia tidak peduli dengan mental murid-murid, dia ingin menjadi pahlawan karena dia iri padamu," lanjut Naruto sambil berdiri ketika melihat Kurahashi sudah tidak kuat latihan

Karasuma yang melihat itu juga langsung berdiri dan berlari ke arah Takaoka ketika melihatnya bersiap menyerang Kurahashi.

Grep!

"Hentikan! Jika kau menggunakan kekerasan, kau akan menjadi lawanku!" ancam Karasuma. "Kau tidak apa, Kurahashi?" tanya Naruto muncul di samping Kurahashi membuatnya terkejut akan kemunculan Naruto.

"Na-Naruto-sensei."

"Kalian mundurlah," pinta Naruto singkat dan di turuti oleh para muridnya, "Kau... Jika kau ingin bilang metode ini adalah pembelajaran sebaiknya kau kembali ke rahim ibumu, kau tidak pernah di ajarkan apa yang baik dan buruk kan?"

Wush! Greb!

Naruto yang melihat Takaoka melayangkan tinju ke arahnya, menangkap tinju tersebut dengan tangan kosong dengan mudah, "Kau pikir serangan ini bisa melukaiku? Asal kau tahu saja, aku lebih lama berpengalaman dalam bertarung dari pada dirimu."

"Mulutmu pedas juga ya, monster sialan."

"Kenapa kau tidak menyukainya?" balas Naruto sambil menyeringai lalu melempar Takaoka hingga sampai di samping tasnya.

"Karasuma, pilih salah satu muridmu untuk melawan Takaoka, dia berencana melakukan duel dengan pisau asli di tasnya," ucap Naruto sambil memberikan pisau Cobra di tangannya kepada Karasuma.

"Pisau itu, dan juga... Bagaimana kau..."

"Tahu semuanya? Ini rahasiaku, kau tidak ada hak untuk mengetahuinya," potong Naruto dengan serius, "Kenai dia satu kali saja sudah cukup, jadi Karasuma pilih lah muridmu yang menurutmu sangat cocok."

"Kau tidak perlu memikirkan metodenya itu, jika kau berpikir metode membunuh bisa menyelamatkan bumi kau salah, para murid memang belum mengetahui potensi mereka, tapi suatu saat pasti." Karasuma yang mendengar itu melirik Naruto, yang sejak tadi banyak bicara.

"Kau... Bisa membaca pikiran?" semua yang mendengar itu tersentak, Naruto hanya mengangkat kedua bahunya. "menurutmu?" tanya balik Naruto.

Karasuma menatap pisau di tangannya lalu menoleh ke para muridnya yang ketakutan, "Pilihanmu tidak akan salah, Karasuma... Lakukanlah," ucap Naruto membuat Karasuma meliriknya kembali.

"Kau sangat menyebalkan karena bisa membaca semuanya ya." Mendengar itu Naruto tersenyum tipis.

"Nagisa, apa kau bisa melakukannya?" tanya Karasuma membuat semua terkejut kecuali Nagisa yang tampak tenang.

"Ke-Kenapa Nagisa?" tanya Sugino terkejut karena yang di pilih adalah Nagisa. "Kalian akan tahu jawabannya," jawab Naruto sambil tersenyum lalu melirik Nagisa.

"Sebagai seorang yang mengawasi kalian menjadi pembunuh untuk menyelamatkan bumi... aku menganggap kalian Profesional. Aku berpikir kalian berhak menjalani kehidupan SMP dengan sewajarnya, maka kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk mengambil pisau ini," ucap Karasuma menatap Nagisa dengan sungguh-sungguh.

Nagisa yang mendengar itu menatap pisau di tangan Karasuma lalu kembali menatap Karasuma, 'Aku menyukai mata orang ini, dalam keluargaku tak ada yang memandangku sepertinya, aku yakin dia banyak menyembunyikan sesuatu dari kami, aku bahkan tidak tahu kenapa aku di pilih, bahkan Naruto-sensei sudah mengetahui hal tersebut.'

'Jika Karasuma-sensei memberikan pisau ini padaku, maka aku akan mempercayainya, aku juga tidak bisa memaafkan perbuatannya pada Maehara-kun dan Kanzaki-chan,' lanjut Nagisa menerima pisau Karasuma dan menatapnya intens, "Akan aku lakukan."

"Karasuma, kau buta ya? Kau memilih murid yang tampak lemah?"

"Sebaiknya kau diam dan lakukan duelmu, kau hanya memandang sebelah mata, bahkan kau berpikir dengan tubuhmu itu bisa mengalahkanku? Jangan bermimpi," ucap Naruto sambil mengangkat tangan kanannya yang terkepal.

"Jika semua ini selesai, dan Nagisa pemenangnya, katakan pada pihak rumah sakit "Aku tidak bisa merasakan tubuhku kembali.", camkan itu baik-baik," lanjut Naruto sambil menyeringai.

"Dengar Nagisa! Bagi Takaoka ini adalah pertarungan, kau tidak perlu mengeluarkan seluruh kemampuanmu untuk melawannya, mengenainya sekali saja sudah cukup untuk kemenanganmu."

"Kheh! Kau sangat berisik ya! Maju sini kau Gaki!" ujar Takaoka mengambil posisi bertarung begitu juga Nagisa. "Kenapa kau mendukung pilihan Karasuma?" tanya Irina yang berdiri di samping Naruto.

"Lihat saja dan kau akan tahu."

Beberapa menit berlalu, Takaoka dan Nagisa sama sekali belum melakukan pertarungan hingga detik berikutnya, tubuh Nagisa tersentak dan bersikap santai.

Lalu Nagisa berjalan dengan santainya ke arah Takaoka, semua yang melihat itu kebingungan sementara Naruto hanya diam dengan santai, 'Beberapa hari lalu, aku selalu mengawasinya... Semenjak kejadian rapat sekolah itu dan latihan tadi, dia menyimpan skill pembunuh yang tidak di miliki siapa pun.'

Begitu Nagisa telah di depan Takaoka, dengan tiba-tiba Nagisa mengayunkan pisaunya dan Takaoka menyadari itu langsung menghindar, namun ia harus terjatuh kebelakang karena tubuhnya kurang seimbang.

Nagisa pun bergerak ke belakang Takaoka dan mengunci gerakan Takaoka sambil menutup mata Takaoka dan menodongkannya pisau di lehernya, "Tertangkap juga."

Semua yang melihat itu tentu terkejut termasuk Karasuma dan Irina, 'Apa-apaan itu, dia melebihi harapanku... Kau tidak akan pernah melihat bakat seperti itu di kehidupan sehari-hari, dia menyembunyikan nafsu membunuhnya, menakuti lawannya dan percaya diri untuk menyelesaikannya sendiri,' batin Karasuma.

'Apa yang aku rasakan saat latihan itu, apakah itu niat Membunuh? Haruskah... Aku melatih kemampuannya itu?' batin Karasuma.

"A-Are? Apakah tidak masalah aku menggunakan belakang pisau?" tanya Nagisa dengan wajah kebingungan. "Sudah cukup, pemenangnya sudah terlihat, Karasuma," ucap Naruto sambil mengambil pisau yang di pegang Nagisa dan meremasnya hingga hancur.

Seluruh murid langsung mendekati Nagisa dengan wajah senang karena teman mereka berhasil menyelamatkan mereka dari jam pelajaran pembunuhan yang gila.

Naruto yang melihat Nagisa di kelilingi temannya dan di tanyai bagaimana cara melakukannya hanya tersenyum tipis lalu melirik Karasuma yang terdiam di tempat.

Dengan kecepatannya, Naruto telah berdiri di samping Karasuma, "Kau tampak bimbang sekali hari ini?"

"Apakah masalah?" Naruto yang mendengar itu menggelengkan kepalanya. Mereka pun menoleh secara bersamaan ketika Takaoka berdiri dan menatap garang Nagisa, "Bocah sialan! senang melukai ayahmu sendiri dan menang secara kebetulan?"

Semua murid yang melihat wajah garang Takaoka hanya diam tenang, Karasuma yang melihat itu berniat menahan Takaoka namun di tahan oleh Naruto, "Kenapa? Bukannya kau ingin menghajarnya?"

"Tidak sekarang, biarkan para murid mengucapkan salam perpisahan padanya, jika dia menyerang, tolong pukul saja dagunya dan aku akan mengambil sisanya."

"Jika kita bertarung lagi, aku pasti akan kalah... Tapi yang pasti Naruti-sensei adalah guru kami, dan Karasuma-sensei adalah guru olahraga kami, itu adalah kepastian yang mutlak, di bandingkan dengan pembelajaran Takaoka-sensei sebagai ayah, kami lebih menyukai pembelajaran yang di lakukan oleh Karasuma-sensei... Kami senang anda melatih kami agar menjadi kuat, tapi maafkan kami, tolong pergi dari sini," ucap Nagisa mewakili semuanya sambil menundukkan tubuhnya.

"Momen membahagiakan seorang guru adalah tanpa bimbang memberikan jawaban tegas kepada murid-murid, dan juga karasuma-sensei, seorang guru harus memberikan jawaban yang pasti," ujar Naruto sambil tersenyum lalu menepuk pundak Karasuma dengan.

"Sebaiknya kau bersiap karena dia akan mulai menyerang."

"Aku berada di sini tidak untuk mendengar jawaban kalian para bocah sialan!" teriak Takaoka langsung menyerang Nagisa.

Duak!

Namun dengan cepat Karasuma memukul dagu Takaoka hingga ia tersungkur ke belakang. Naruto yang melihat itu menangkap kepala Takaoka dan menghantamnya ke tanah dengan keras hingga membuat tanah di bawah retak.

"Sesuai perjanjian, kau akan mengatakan apa yang aku katakan pada rumah sakit," ucap Naruto mengangkat kepala Takaoka seolah mengangkat sebuah sampah kecil.

"Kalian semua!" ucap Naruto dengan tegas membuat semuanya menoleh ke arah Naruto, "Aku akan menunjukkan separuh kekuatanku, dan juga Karasuma, kau tidak perlu menyesali apa yang akan aku lakukan padanya," ucap Naruto lalu menyeringai mengerikan.

Sret! Duak!

Naruto pun melepaskan kepala Takaoka lalu memukul dadanya dengan sangat keras hingga membuatnya memuntahkan darah sangat banyak.

Karena kuatnya pukulan Naruto, Takaoka harus terpental ke belakang dan berguling beberapa kali. Tak membiarkan itu, Naruto muncul di dekat Takaoka dan menangkap kaki Takaoka lalu membanting Takaoka ke segala arah hingga membentur batu dan pohon hingga hancur.

Naruto pun menarik Takaoka kembali dan menendang punggung Takaoka hingga terpental ke langit, "Ini belum berakhir!" teriak Naruto langsung memasuki mode Kyuubi dan terbang ke arah Takaoka.

Buagh! Buagh! Buagh! Buagh!

Tanpa ampun Naruto memukul Takaoka dari kepala, tubuh, tangan dan Kaki hingga patah lalu menyatukan kedua tangannya dan memukul wajah Takaoka dengan sangat keras hingga terpental ke bawah dan menghantam tanah dengan keras.

Wush! Jrash!

Sebagai serangan terakhir, Naruto turun dengan cepat dan mendarat di dada Takaoka sambil menusuk kedua lengan Takaoka menggunakan besi hitam hingga tembus.

Takaoka yang sudah tak bisa bersuara hanya bisa melotot kuat ketika merasakan sakit yang sangat hebat ketika Naruto menusuknya tanpa ampun.

"Hahh~ inilah akibatnya karena kau melukai murid-muridku," ucap Naruto sambil turun dari tubuh Takaoka, "Dan karena kau tidak bisa pergi ke rumah sakit, Izinkan aku untuk mengantarkanmu ke sana, dengannya tempat VIP," ucap Naruto memunculkan lengan Susano'o berwarna Kuning dan mengambil tubuh Takaoka.

"Tunggu sebentar." Naruto yang mendengar suara Kepala Sekolah menoleh begitu juga dengan semua yang ada di lapangan.

"Ada perlu apa kau kemari? Tidak lihatkah kau aku sedang mengantarkan orang kesakitan?" tanya Naruto dengan wajah datarnya. "Aku kemari hanya ingin memberikan surat pemecatan kepadanya, bisakah kau memberikan ini padanya?" tanya Asano dengan tenang sambil menyerahkan surat pemecatan Takaoka.

Naruto pun mengambil surat tersebut lalu mengarahkan Takaoka kepadanya dan menyumpal mulutnya dengan kertas pemecatan tersebut.

"Selamat berlibur." Setelah mengatakan itu, Naruto melempar Takaoka dengan Susano'onya hingga ia menghantam kaca rumah sakit dan langsung masuk ruang UGD.

Semua yang melihat itu merinding, ini pertama kalinya mereka melihat Naruto mengamuk dan menghajar seseorang tanpa ampun, jika mereka membuat Naruto marah besar, kemungkinan Naruto akan melakukan hal yang sama dan itu membuat rasa takut mereka meningkat.

"Kalian jangan khawatir," ucap Naruto sambil melirik murid-muridnya, Karasuma dan Irina, "Aku tidak akan melakukan ini pada kalian, aku hanya akan melakukan ini pada mereka yang menyakiti kalian."

"Aku juga sudah sedikit melindunginya agar tidak mati secara langsung, jika tidak dia sudah tewas secara langsung."

"Dan juga, aku tahu kalian pasti berpikir tidak bisa membunuhku ketika melihat kekuatan ini, tapi itu tidak benar... Suatu saat kalian akan terlibat denganku dalam pertarungan besar, aku tahu ini sudah keterlaluan karena membuat anak-anak seperti kalian terlibat, tapi akan aku pastikan kalian selamat hingga nyawaku taruhannya, dan jika aku sudah lemah...kalian bisa membunuhku," ucap Naruto dengan serius.

Altair yang mendengar itu hanya diam, begitu juga Setzuna, sementara Kanade dan yang lain tentu terkejut. Kanade langsung berlari ke arah Naruto dan menggenggam tangan Naruto dengan erat.

"Nii-chan... Apa Nii-chan akan bertarung seperti dulu lagi?"

"Kemungkinan, tapi ini sudah kewajibanku," jawab Naruto sambil tersenyum, "Kau tidak perlu khawatir, aku sudah biasa bertarung."

"Tapi..."

Naruto pun menepuk kepala Kanade dengan pelan dan tersenyum lima jari untuk menenangkan Kanade, "Percayalah, bahkan sampai sekarang tidak ada yang bisa membunuhku, termasuk Altair."

Altair yang mendengar itu mengembungkan pipinya. "Jaa~, sebaiknya kita kembali," ucap Naruto mengajak semuanya untuk kembali, namun saat akan pergi, ia di tahan oleh Kanzaki.

"Sensei... Jika tidak keberatan maukah kau ikut bersama kami makan kue? Anggap saja ini terima kasih kami," ajak Kanzaki membuat Naruto melihat semuanya yang juga menatapnya.

"Bagaimana? Kau mau ikut?" tanya Naruto pada Kanade yang memeluk dirinya, Kanade yang mendengar itu melonggarkan pelukannya dan menatap serius Naruto.

"Nii-chan harus menjelaskan semuanya padaku."

Naruto yang mendengar itu menghembuskan nafas pelan dan tersenyum tipis, "Baiklah, akan aku ceritakan. Yosh, kami ikut."

.

.

.

.

.

TBC

Note : Yo! Kembali Update nih.

Udah 7 atau 8 bulan kagak Update, jadi saya Update kali ini, di sini sudah terlihat bahwa monster-monster yang di lawan oleh Naruto adalah ciptaan dan Monster Uriki bersaudara telah bertambah satu.

Di sini tidak banyak yang bisa aku katakan karena memang saya meniru alur Canon, jadi sampai jumpa di cerita lain.

4kagiSetsu out.