Disclaimer: Semua unsur-unsur Manga, Light Novel dan Game dalam cerita ini milik penciptanya masing-masing. Sekian!


[Arc IV: Nearest Place From Heaven]

.

[Chapter 38]

[Resurrection — To the Next Stage]


Gremory Territory, Underworld.

Salah satu wilayah yang sangat kaya akan industri maju selain Agreas dan Lilith—sebelum dihancurkan. Selain industri yang maju, wilayah Gremory juga dipenuhi kastil megah, dikelilingi hutan lebab dan beberapa gunung besar.

Salah satunya adalah kastil yang dulu dipakai untuk acara pertunangan pewaria klan, Rias Gremory dengan Riser Phenex yang sayangnya harus batal karena beberapa alasan.

Satu malam telah berlalu sejak penyerang Lilith. Pihak Aliansi yang terdiri dari Iblis, Malaikat, Malaikat Jatuh dan Asgard—walau belum resmi tergabung—tengah mengadakan pertemuan di salah satu ruangan kasti tersebut.

Sejatinya, pertemuan ini direncanakan beberapa jam setelah Lilith hancur. Namun karena luka yang dialami Ajuka dan Serafallterpaksa diundur untuk memberi mereka waktu untuk pulih.

Kembali ke pertemuan. Setiap pihak diwakili oleh beberapa orang.

Pihak Iblis tentu saja sudah pasti 3 dari 4 Raja Iblis mereka, Grayfia Lucifuge dan beberapa kepala klan dari 72 Pilar Dunia Bawah yang tersisah, termasuk juga beberapa iblis kelas Ultimate yang bertugas sebagai pengamanan walau itu sepertinya tak terlalu diperlukan.

Pihak Malaikat Jatuh. Shemhazai selaku Gubernur Grigory tentu saja harus hadir. Lalu ada Azazel dan Baraqiel yang mana sejak pertempuran berakhir mereka berdua lebih memilih beristirahat di salah satu Mansion milik Gremory karena tahu akan didiakannya pertemuan ini.

Lalu, pihak Malaikat kini tak hanya dihadiri oleh Michael seorang. Dia kali ini turun bersama salah satu bagian dari Ten Seraph serta [Throne of Heaven].

Dan, terakhir Asgard. Setelah penyerangan Lilith, pihak Asgard langsung dilanda kekhawatiran pada pemimpin mereka dan langsung mengirim dua sosok dari [Valkyrie Squad] yang mana salah satunya berstatus Ketua.

Duduk pada beberapa kursi yang mengelilingi meja persegi besar dimana masing-masing pihak berada di sisi berbeda, pihak aliansi telah menjalani pertemuan hampir sejam lamanya.

Pembahasan mereka dibuka dengan Penyerangan Lilith. Banyak hal tentang kejadian yang akan terekam dalam sejarah kelam fraksi Iblis selain Great War dan Civil War dibahas hingga tuntas. Jumlah kerugian, sebab dan akibat dan lain-lain.

Sejak dimulai, pertemuan sebenarnya berjalan lancar-lancar saja. Hanya saja, satu kalimat dari Azazel yang dikatakan dengan wajah kelewat santai sedikit memancing amarah dari perwakilan pihak Iblis,

"... Percaya atau tidak, bisa dibilang mereka melakukannya hanya karena iseng dan tak ada pekerjaan lain. Ya, tak sepenuhnya iseng sih."

"...?!"

Beberapa pasang mata langsung tertuju ke Azazel, melihat dengan ekspresi berbeda. Ada yang bingung, terkejut dan adapun seperti tak peduli tapi tetap melihat ke Azazel.

Namun, diantara semua ekspresi. Hanya milik Ajuka dan Serafall yang paling mencolok. Mata mereka menyipit tajam, seperti tersulut amarahnya atas pernyataan kelewat santai Azazel.

"... Jadi maksudmu. Bajingan-bajingan itu membantai penduduk Lilith hanya karena iseng, begitu?"

"Kurang lebih, dan sekarang aku mengerti mengapa kau menyuruh kami semua untuk membunuh mereka. Sejujurnya, aku terkejut kau mengatakan hal seperti itu, Ajuka. Setahuku, kau menjadi Maōu hanya karena mengikuti Sirzechs."

"Memangnya salah jika aku berniat membunuh orang yang sudah membantai belasan ribu iblis? Kalaupun aku bukan seorang Maōu, aku tetap akan melakukannya."

"Tak ada yang salah memang."

"Nah, kan! Jadi—"

"Tapi jangan lupa bahwa mereka melakukannya kemungkinan karena alasan yang sama. Hanya saja, untuk satu nyawa yang dibayar belasan ribu sudah benar-benar sudah kelewatan."

Perdebatan itu terus berlanjut dan tak ada yang berani menginterupsi. Ajuka masih dengan ekspresi penuh amarah, dan Azazel cukup dengan wajah santai menghadapinya.

Beberapa pasang mata yang tak tahu terlalu jauh tentang permasalah tertuju pada Azazel. Memandang penuh tanda tanya pada mantan Gubernur Grigory. Seperti dua Valkyrie pengawal Odin, beberapa tetua klan dan Malaikat di samping kiri Michael.

"Jangan lupakan bahwa beberapa dari yang hadir disini turut andil dalam kematian Uzum—Ah, maksudku Naruto Lucifer."

Azazel menjatuhkan bom di ruangan.

Itu seketika membuat Sirzechs, Serafall, Grayfia dan Michael terhenyak sesaat lalu menundukkan kepala. Sekaligus bagi dua Maōu ini berpikir pembunuhan Naruto adalah penyebab Lilith diserang.

Selain daripada yang menyesal tadi, ada juga yang terkejut setelah mendengar nama belakang tersebut. Mereka adalah beberapa tetua klan Underworld dan malaikat yang duduk di samping kiri Michael.

Mengabaikan status Naruto yang dulu mengabdi pada klan Gremory karena memang hanya beberapa iblis saja yang tahu. Tetap saja ini adalah hal yang mengejutkan Lucifer masih tetap berkembang hingga saat ini. Walaupun sudah dibunuh.

"—?!"

"Lu-Lucifer katamu?"

"Maksud anda, Rizevim memiliki keturunan?"

Sejatinya, sejak Civil War berakhir. Sisa-sisa dari 72 Pilar Dunia Bawah secara resmi mengambil kesepakatan untuk tak lagi membahas tentang pihak yang kalah dalam perang yaitu KyūmaŌ-ha (Old Satan Faction)agar bisa fokus membangun ulang Underworld setelah melewati dua perang hebat.

Namun, bagaimana penyerangan Lilith disebabkan oleh seorang bernama belakang Lucifer setidaknya membuat mereka berpikir bahwa ini bisa saja menjadi awal Civil War jilid dua akan terjadi, sebagaimana insiden tempo hari tentang rencana Kokabiel memulai Great War jilid kedua juga.

Selain dari pihak iblis, satu orang dari pihak Malaikat juga tak menyangka hal ini.

"Michael, kenapa kau tak memberitahu kami jika masih ada keturunan darinya selain Rizevim?"

Ditanyai dengan nada sedikit meninggi dan tatapan cukup tajam membuat Michael yang sudah dari awal sudah tenggelam dalam penyesalan, bertambah parah dan hanya menjawab cukup lirih.

"Aku menunggu saat yang tepat."

"Dan parahnya, kau ikut serta dalam pembunuhannya? Demi Ayah, Michael. Apakah kau tak tahu konsekuensi dari tindakanmu menyembunyikannya dari kami?"

"Ya, aku tahu."

"Lalu, kenapa kau tak cepat-cepat memberitahu kami?"

Michael menghela nafas berat. Pandangan terlihat begitu merasa bersalah pada saudara-saudaranya. Tak bisa dipungkiri bahwa Lucifer pernah menjadi saudara mereka juga, dan kemungkinan masih dianggap begitu sampai saat ini walau telah mengambil jalan berbeda.

"Maaf." hanya satu kata itu yang bisa Michael ucapkan mewakili semuanya.

"Oya, oya... Kenapa tiba-tiba jadi begini?"

Suara serak tak bertenaga Odin memecah ketegangan yang terjadi. Baik itu Michael dan saudaranya, para tetua iblis yang tengah berdiskusi, serta Ajuka dan Azazel yang masih saling melempar tatapan berbeda.

Ketika perhatian tertuju pada Odin. Dia mulai berbicara,

"Ya, aku sebenarnya tak tahu jelas permasalahan antara pihak kalian bertiga di masa lalu. Tapi, bukankah sekarang kalian beraliansi? Jangan hanya karena kejadian ini kalian terpecah. Satu lagi, aku juga termasuk korban karena gara-gara tugas Bocah Azazel, encokku kambuh—Aduh, aduh, bahkan masih sakit sampai sekarang."

"O-Odin-sama. Apa anda baik-baik saja? Tunggu sebentar, saya ambilkan balsem buatan Asgard!"

"Astaga, Rossweisse. Pak Tua Odin itu seorang Dewa, kau ingat? Kau pikir encok bisa membunuhnya?"

"Ta-tapi, Senpai—"

"Sudahlah."

Setidaknya, dua tingkah berbeda pengawal Odin bisa membuat ketegangan sedikit mereda. Melihat bagaimana Valkyrie berambut biru sangat panik karena Odin mengerang kesakitan sambil memijit punggung, dan Valkyrie yang satunya seolah tak peduli agaknya merupakan pandangan yang cukup langka.

"Lagipula, sejak kapan di Asgard ada pembuat balsem?"

Oke, yang satu itu sepertinya tak perlu dibahas.

Setelah mendengar ceramah panjang lebar dari Odin ditambah hiburan tak terduga dua Valkyrie bergender perempuan disana, Azazel menoleh ke kanan tempat Ajuka, Serafall dan Sirzechs. Dia mengukir senyum masam di wajah sambil berkata.

"Benar yang dikatakan pak tua Odin. Dan jangan menyela atau mengatakan apapun tentang aku tak akan mengerti rasanya kehilangan beribu-ribu bawahan. Setidaknya kalian tahu walau tak berada di garis depan saat Great War bahwa jutaan Malaikat Jatuh, Malaikat dan Iblis tewas disana."

"..."

"..."

Terdiam.

Ajuka seketika terdiam atas ceramah Azazel.

Memang benar empat Maōu yang sekarang diakui ketika Great War berlangsungtak berada di garis depan. Mereka hanya tahu kengerian dari perang tersebut dari mulut ke mulut saja. Dikatakan bahwa Great War memakan korban tak sedikit dari masing-masing pihak. 70% populasi Malaikat menjadi korban, 60% dari Malaikat Jatuh dan Iblis, dimana dari pihak Iblis termasuk setengah dari 72 Pilar dan empat pemimpinnya.

Walaupun populasi Iblis kembali harus berkurang karena Civil War, tetap tak membuat populasi mereka berkurang drastis jumlahnya dari pihak Malaikat dan Malaikat Jatuh, belum lagi setelah Civil War Ajuka berhasil menciptakan dan mengembangkan Evil Piece untuk menambah populasi selain pernikahan sesama klan ataupun antar klan berbeda.

Adapula Heaven dan Gregory. Setelah Great War, populasi kedua pihak itu tak bisa bertambah pesat terutama Malaikat dan tetap berkurang karena [System] di Heaven mulai mengalami kerusakan dengan ketiadaan Tuhan.

Begitupun Malaikat Jatuh yang juga karena kerusakan sistem Heaven membuat Malaikat disana tak ada yang jatuh. Tapi, setidaknya mereka bisa menambah jumlah walau tak banyak dengan pernikahan, baik sesama Malaikat Jatuh ataupun ras lain.

Beruntung Heaven dan Grigory menutupi kekurangan mereka dengan membentuk pasukan selain daripada ras mereka sendiri. Seperti Malaikat yang mendirikan Pihak Gereja, dan Grigory secara sembunyi-sembunyi mengumpulkan pengguna Sacred Gear sebagai tambahan kekuatan.

"Jadi, mari kita lupakan masa lalu, dan yaaa, aku minta maaf kalau kalimatku menyinggung kalian. Sekarang mari kita bahas langkah selanjutnya. Setelah kejadian ini, Khaos Brigade terutama KyūmaŌ-ha berpikir Dunia Bawahrentang diserang."

Ajuka menghela nafas membuang jauh-jauh emosinya tadi. Dia menoleh ke Sirzechs dan Serafall di samping kanannya dan mengangguk. Setelah dari tadi hanya diam saja, Sirzechs akhirnya mengambil alih.

"Lilith kedua akan kami bangun dekat dengan wilayah Gremory. Bagaimanapun Lilith adalah bukti kemenangan kami di Perang Saudara. Sebagai pencegahan agar kejadian yang sama tak terulang, Ajuka akan mengembangkan Kekkai dan menaruhnya di setiap wilayah di Dunia Bawah, serta beberap tindakan lain seperti mengajarkan iblis berstatus penduduk biasa sihir teleport."

"Hm, hm, hm..."

Azazel mengangguk-ngangguk sambil memegang dagu. Berpikir sejenak, dia tahu pihak iblis akan melakukan ini.

"Jika ingin saran, sebaiknya Kekkai yang kalian kembangkan itu mirip dengan milik fraksi Yōukai di Kyoto."

"Itulah yang kami ingin lakukan dan sekarang sedang menunggu balasan dari pihak mereka akan ikut dalam aliansi ini atau tidak. Jika ikut, kami bisa meminta formula dari Kekkai mereka."

"Kami dari Asgard mungkin bisa membantu. Pelindung milik kami termasuk yang terbaik loh. Anggap saja sebagai bukti bahwa kami ikut serta dalam aliansi."

"Kami akan sangat menghargainya, Odin-dono."

"Kami dari pihak Malaikat untuk saat ini tak bisa menyumbang sesuatu, namun kami ingin meminta satu hal."

Ketika Michael berbicara demikian, masing-masing pemimpin disana langsung mengarahkan pandangan ke arahnya.

"Apa itu, Michael-san?"

"Sistem [Evil Piece] pihak Iblis. Sekarang kami tengah mengembangkan hal yang sama dalam rangka menambah jumlah dan kekuatan kami."

Sirzechs tak langsung membalas. Dia terlebih dulu menoleh ke beberapa orang. Mulai dari Ajuka selalu penemu sistem tersebut, lalu ke Tetua Iblis di belakangnya. Dibalas anggukan oleh mereka semua, Sirzechs tersenyum hangat.

"Tentu saja bisa. Terlebih kita memang membutuhkan banyak kekuatan untuk menghadapi semua yang menentang aliansi ini."

"Terima kasih banyak, Lucifer-dono, Beelzebub-dono."

"Sama-sama."

Kedua pemimpin ini saling melempar senyum. Ketika satu pembahasan kembali selesai, Azazel berniat berpindah ke topik selanjutnya. Sambil meletakkan tangan kiri pada permukaan meja, dan tangan kanan dijadikan tumpuan dagu, dia mengadopsi ekspresi serius di wajah.

"Bagaimana dengan kelompok Uchiha Madara? Dari pihak Iblis selaku korban, aku ingin tahu tindakan apa yang akan kalian ambil selain memperkuat pertahanan?"

Setelah berkata demikian, Azazel bergantiam melihat beberapa pasang mata melirik ke arahnya. Michael dan Baraqiel seperti tahu dia menanyakan itu, sedangkan dari pihak Iblis melirik agak tajam dan terakhir pihak Odin, seperti tak terlalu peduli namun tetap ingin tahu.

Ajuka yang memang sudah menaruh dendam kesumat pada kelompok Madara menjawab dengan balik bertanya.

"Seharusnya kau sudah tahu tindakan kami selain meningkatkan pertahanan. Jadi, untuk apa kau bertanya begitu, Azazel?"

"...Heh... Begitukah...""

"Jangan berpikir kami akan melepaskan begitu saja. Setelah semua, mereka membantai ribuan iblis dan itu tak bisa dibiarkan begitu saja."

Seringai kecil terukir di mulut Azazel. Masih dengan posisi demikian, tangan kanannya yang dipakai sebagai tumpuan dagu menggerakkan jari telunjuk ke arah Ajuka, Serafall dan Sirzechs.

"Dengan kata lain, kalian akan memburu mereka hingga ke ujung dunia, dan tanpa sadar kejadian yang sama akan terjadi?"

"Maksudmu?" alis Ajuka terangkat.

"Ingat yang dikatakan Sirzechs soal pesan Uchiha Madara?—'Ini belum berakhir, bahkan dimulai!'... Bagiku dia berkata demikian bukan bualan atau ancaman saja. Seharusnya dari kata-kata itu saja kalian sudah paham kalau memburu mereka hanya akan membuat kejadian yang sama akan terjadi. Madara dan kelompoknya membenci iblis. Ketika kalian memfokuskan kekuatan mencari mereka, Dunia Bawah kekurangan personil. Walah, selamat! Mungkin giliran wilayah Gremory atau Agreas, bahkan bisa saja Grigory kena amukan mereka dan hancur seperti Lilith ... Berpikirlah lebih jernih, Ajuka. Jangan lupakan kalau mereka tak sekedar gila, namun juga pintar memanfaatkan setiap kondisi yang ada. Dua kali mereka bertindak, dua-duanya terjadi ketika ada pertemuan penting."

Tanpa ada yang berani menyela, semua dengan cermat mendengarkan perkataan panjang Azazel. Terutama pihak Iblis.

Di sisi lain, Malaikat yang menemani Michael dan Pihak Asgard agak terkejut mengenai fakta kelompok yang menyerang Lilith tempo hari. Sebuah kelompok hanya berisikan orang-orang yang jumlahnya bisa dihitung jari mampu membuat Azazel seserius itu.

Terakhir kali Michael melihat Azazel begitu serius ketika di penghujung Great War sebelum gencatan senjata resmi terbentuk.

Sirzechs menghela nafas panjang nan berat. Azazel benar, mereka tak perlu mencari kelompok Madara sampai mengerahkan banyak kekuatan. Mau tak mau, menilik dari pesan terakhir Madara, dalam waktu dekat mereka pasti akan berjumpa lagi dalam medan pertempuran.

"Lalu, apa saranmu Azazel?"

"Hooo, kau meminta saranku, Sirzechs? Tak biasanya."

"Sudah, jangan banyak bicara. Katakan saja jika kau punya saran. Kita sudah beraliansi ingat?"

"Fokus ke Khaos Brigade yang sudah jelas menginginkan kehancuran aliansi dan dunia. Kelompok Uchiha tak perlu terlalu kita kejar. Tujuan mereka tak lebih ingin membalas dendam, bukan menghancurkan dunia."

"Aku setuju dengan Bocah Azazel. Bukan saatnya mementingkan perasaan pribadi seperti balas dendam dan semacamnya. Yang dipertaruhkan sekarang adalah dunia."

"Kami pun sama."

Dimulai dari Odin, disusul Michael mengemukakan pendapat. Azazel tersenyum pada keduanya. Sedangkan Sirzechs, Serafall dan Ajuka diam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk setuju.

Memang benar ancaman dunia saat ini adalah Khaos Brigade milik Ophis. Sejauh ini yang aliansi ketahui adalah Old Satan Faction berada didalamnya. Memiliki tujuan menghancurkan dunia lalu menata ulang dengan mereka sebagai pemimpin, dengan kata lain Revolusi.

Sementara Tim Vali yang sebelumnya juga berada di sana sudah dipastikan keluar setelah di penyerangan Lilith telah beralih pihak ke kelompok Madara.

Dibanding kelompok Madara yang hanya ingin membalas dendam, mereka pasti tak akan bergerak kecuali target utama mereka—Old Satan Fraction menampakkan diri.

Tanpa melupakan pihak aliansi yang telah membunuh sosok Naruto Lucifer, Old-Satan Fraction sendiri sebenarnya bisa menjadi umpan untuk menarik kelompok Madara keluar dari sarang mereka. Kemampuan bersembunyi kelompok Madara diakui Azazel benar-benar mengerikan sampai sedikitpun tanda keberadaan mereka tak bisa ditemukan di belahan dunia manapun.

Jika Old-Satan Fraction bergerak, Kelompok Madara juga sudah pasti melakukan pergerakan. Ketika itu terjadi, kekuatan tempur dua pihak ini yang bisa dibilang masih berada setingkat atau malah dibawah pihak aliansi. Pihak aliansi bisa menjadi Third Party yang tinggal melakukan bersih-bersih dari pertempuran dua pihak ini.

Kurang lebih seperti itu tindakan yang bisa diambil pihak aliansi. Hanya saja seperti kata pepatah. Mahluk hidup merencanakan, sang Pencipta yang menentukan.

Oh, nampaknya sesuatu telah dilupakan disini. Setelah kebangkitan Naruto sebagai Fate Breaker, pepatah maupun maknanya bisa saja berubah menjadi;

Mahluk hidup merencanakan, Sang Pencipta menentukan, dan Naruto Luciferakan merusaknya!

Ngomong-ngomong soal kelompok Madara selain tujuan balas dendam mereka, ada satu hal yang menganggu Azazel. Menoleh ke Michael, dia bertanya.

"Oiy, Michael. Bagaimana dengan perjanjian kalian dengan kelompok Madara. Kalau tidak salah itu menyangkut [Tempat Terdekat Dari Surga], bukan?"

Michael tersentak pada pertanyaan Azazel itu, begitupun Malaikat disampingnya yang lagi-lagi tak tahu menahu tentang Michael telah melakukan perjanjian pada kelompok yang menghancurkan Lilith.

Lebih parahnya lagi, perjanjian tersebut menyangkut salah satu aset penting Pihak Malaikat yang sejak ratusan tahun lalu terjaga rahasianya. Bagaimana bisa diketahui oleh kelompok kecil macam kelompok Madara?

Melirik ke rekan sesama Ten Seraph, Michael melempar tatapan meminta kepastian. Dibalas sebuah anggukan ringan, Michael berujar pelan.

"Sepulangnya ke markas besar, kau harus membantuku menjelaskan semuanya ke yang lain terutama adik kita, Raphael."

"Begitupun denganmu tentang keturunan Lucifer yang dibunuh."

Malaikat yang diketahui bernama Raphael membalas tak ingin kalah. Dia juga ingin tahu siapa dan kenapa keturunan Lucifer bernama Naruto harus dibunuh. Jika memang sejalan dengan Old-Satan Fraction, tak akan jadi masalah.

Namun, bagaiaman jika tidak?

Raphael dan Ten Seraph lainnya perlu meminta kejelasan lengkap kronologis kematian Lucifer muda bernama Naruto itu.

Mengembalikan tatapannya ke depan tanpa harus merespon keinginan Raphel tadi, Michael menarik nafas panjang. Ini akan menjadi penjelasan yang cukup panjang.

"Tadi, aku mengatakan pihak kami belum bisa memberi apa-apa. Itu kutarik dan akan memberitahu sebuah informasi tentang sebuah tempat yang sejak 800 tahun lalu Ten Seraph rahasiakan dari dunia,..."

Semua mata tanpa terkecuali seketika terpaku pada Michael.

Jika sampai selama itu Pihak Ten Seraph merahasiakan sebuah tempat. Bisa dibilang tempat itu sangat penting, terlebih Azazel yang sebenarnya juga penasaran dengan tempat yang dicari-cari Naruto entah apa alasannya.

"Sebelum itu, aku ingin bertanya. Apakah kalian percaya dengan,... Konsep Dunia Lain?"


Human World, Unknown Location.

Denting.

Denting.

Denting.

Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring kaca membangun sosok Naruto Lucifer setelah hampir 24 jam bergelud di alam bawah sadarnya mencari sebanyak mungkin kenangan pada Labirin Langit.

Banyak kenangan masa kecil yang Naruto dapatkan. Sayangnya, tak ada kenangan tentang sang ibu.

Selain daripada kenangan, Naruto juga mendapatkan kabar gembira bahwa Kurama masih hidup entah bagaimana caranya dan tak diberitahukan kepadanya.

Sungguh, Naruto benar-benar bahagia partner pemalas tukang tidurnya baik-baik saja walau tak diberitahukan kenapa bisa hidup padahal mereka adalah dua jiwa dalam satu tubuh yang jika satu mati, yang lain pun ikut mati.

Saking bahagianya Naruto, dia tak bisa menahan diri untuk melompat ke kepala Kurama dan memeluk moncong besarnya dengan linangan air mata yang seketika membangkitkan karakter Tsundere rubah itu sampai dibuat salah tingkah.

Dalam beberapa jam, banyak hal yang Kurama ceritakan atau tepatnya diperlihatkan pada Naruto mengingat setelah kembali bocah itu hanya memiliki ingatan sampai pada kejadian dihimpit balok es Maōu Leviathan dan berpikir selanjutnya yang terjadi adalah kematian.

Naruto dibuat terkejut karena ternyata kejadian tersebut belumlah kematiannya. Ternyata masih ada ingatan selanjutnya yang tak dimiliki dan membuat pertanyaan besar muncul dikepalanya.

—Kemana perginya ingatan tersebut?

—Dan bagaimana bisa menghilang?

Dari ingatan Kurama, Naruto akhirnya tahu bahwa dia hampir mewujudkan keinginan Kurama membunuh Rias Gremory dan Sona Sitri andai kata kakak Siscon kedua iblis muda itu tak muncul.

Berlanjut ke ingatan yang lain, tepatnya kejadian sebelum dia mati, Naruto akhirnya tahu penyebab hati kecilnya berteriak untuk menolak kematiannya. Ternyata dia memang tak ingin nati di akhir, sayangnya dia telat sadar karena dadanya sudah ditembus tombak Light-Based Waepon milik Michael yang dilapisi Power of Destruction Sirzechs Lucifer sebagai pelempar.

Sampai disana, Kurama berhenti berbagi ingatan dan memilih menceritakan semua yang terjadi.

Dimulai dari kemunculan pria yang tiga tahun lalu Naruto temui bernama Starrk mengambil jasadnya dari dimensi Azazel entah bagaimana caranya dan dipindahkan ke tempat mereka sekarang.

Selanjutnya, yang paling mengejutkan adalah...

Ternyata, orang yang meminta pemilik Sepiroth Graal agar dihidupkan kembali adalah Madara, Hashirama, Hilda, adik kandungnya—Vali dan kelompoknya tentu saja.

Jujur, hal tersebut seketika membuat Naruto kebingungan dengan Madara dan Vali yang mati-matian mencari semua hal untuk kebangkitannya kembali.

Bukannya kedua orang itu ingin membunuhnya?

Lantas kenapa justru kebalikannya yang terjadi?

Mereka berdua yang paling berusaha untuk dirinya hidup kembali selain daripada Kurama—yang selama beberapa hari tanpa henti menyuplai Yōuki agar tubuhnya tetap utuh.

Seolah-olah apa yang terjadi di konferensi kemarin tak pernah terjadi. Naruto pun bertanya-tanya, apa sebenarnya yang diinginkan dua orang itu?

Sialannya, Kurama setelah menceritakan bagaimana caranya dia bisa dikembalikan dari alam kematian memilih untuk tidur dan meminta Naruto menyelesaikan masalah itu sendiri.

"Itu masalahmu dengan mereka. Jadi, pikirkan dan selesaikan sendiri. Pergi sana, aku mau tidur!"

Kira-kira begitu pesan Kurama sebelum menyelam-menyelam seperti lumba-lumba di alam mimpi.

Kembali ke awal—

Suara dentingan sendok dan piring mulai mereda.

Membuka mata secara perlahan untuk kali pertama di dunia nyata setelah kembali dari kematian, hal pertama yang dirasakan Naruto adalah nyeri dan kaku di beberapa bagian tubuh, membuat lenguhan pelan keluar dari mulut.

"—Ugh ..."

Perlahan-lahan pandangannya mulai jelas habis mengerjap-ngerjap mata, Naruto memposisikan tubuhnya duduk dengan sandaran kayu sederhana tempat tidur sebagai penahan punggung yang di beberapa bagian masih sakit efek hampir seminggu berbaring.

Pintu kayu di hadapannya terbuka, menampakkan sosok Starrk yang baru saja selesai makan. Tipikal malas dan tak peduli Starrk tercetak jelas dari sisa-sisa makanan di bibir yang tak dibersihkan.

'Hey, ayolah! Hal pertama yang kulihat di dunia setelah kembali dari kematian adalah wajah ingin dihajar pria ini? Setidaknya bersihkan dulu itu sisa makanan, anjing!'

Starrk melangkah ke samping tempat tidur yang dia duduki. Dengan wajah yang sama sekali tak berubah, malas dan mengantuk minta dihajar, Starrk berujar.

"Jangan terlalu mendramatisir keadaan hanya karena baru saja kembali dari kematian. Bagaimana keadaanmu, bocah sialan pengganggu jam tidur orang yang berharga?"

"Tolong jangan memaksaku menjadikan wajah malasmu benda pertama yang kupukul setelah hidup kembali, Starrk."

"Hebat sekali bocah Lucifer ini yang bukannya berterima kasih, malah ingin memukulku. Seharusnya kubiarkan saja tubuhmu jadi kunang-kunang."

"Terima kasih!—Nah, sudah! Sekarang kemarikan wajahmu untuk kupukul!"

"Yare yare. Kau benar-benar berbeda jauh dari tiga tahun lalu. Coba kuingat-ingat kau dulunya seperti apa—Ah iya! Jomblo brengsek yang diperbudak cinta bertepuk sebelah tangan. Sungguh kasihan..."

"Te-teme!"

Naruto hanya bisa mengatai Starrk yang ucapannya tepat sasaran.

Sementara Starrk sendiri setelah puas dengan serangan telaknya tadi berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan. Membukanya secara perlahan dan mengambil satu set pakaian disana, Starrk kemudian kembali ke sisi tempat tidur dan dengan wajah enggan melemparnya ke Naruto.

"Pakai itu, aku tak mau dicap sebagai tempat pelarian seorang laki-laki yang putus asa cinta bertepuk sebelah tangannya mengalami Bad Ending hingga berbelok ke jalan homoseks."

"Bajingan!—Kau—Ah, sudahlah!"

Naruto menghela nafas panjang. Daripada panjang dan akan berujung emosi pada Starrk yang cukup pintar memainkan kata-kata pedas, dia terpaksa mengalah saja.

Turun perlahan dari tempat tidur, Naruto lebih dulu memakai celana training merah untuk menutupi celana boxer hitamnya. Setelahnya menutupi tubuh bagian atasnya dengan baju kaos biru dongker bergambar apalah itu.

Sejenak dia melirik tajam Starrk yang nampak tak peduli dengan penampilannya sebelum berjalan menuju pintu keluar.

Daripada mengurusi orang 'hidup segan, matinya susah' itu, ada yang lebih penting Naruto harus lakukan.

Dia lapar.

Sangat-sangat lapar.

.

.

"Huaaa ... Walau cuma nasi dan kecap. Itu benar-benar enak."

"Nasi dan kecap?"

Naruto menolehkan kepala mendengar suara bertanya Starrk yang baru saja masuk ruang makan dan dapur.

Starrk menggaruk malas kepala bekalang sambil menguap teringat akan sesuatu.

"Aah, aku lupa. Di lemari atas disana ada makanan yang kubeli tadi sore. Sengaja disisakan untukmu sebenarnya, tapi kau lebih memilih nasi dan kecap. Ya, sudah. Nanti kumakan saja lagi."

Naruto langsung menatap nyalang pria sialan itu.

"O-onoreeeee!"

Sungguh?

Ada lauk lebih baik dari penyelamatan hidup anak kos di akhir bulan dan Starrk lupa memberitahunya. Ingin rasanaya Naruto membakas hidup-hidup mahluk malas brengsek nggak niat hidup dan keparat itu andai kata tubuhnya sudah sehat.

Tapi apa mau dikata.

Tubunya masih kaku setelah beberapa hari mati ditambah kekenyangan menghabiskan lima piring nasi dengan lauk teramat sangat ala kadarnya yaitu kecap sampai macam orang hamil yang mengembung perutnya duduk bersandar di kursi kayu.

"Oh, iya. Orang bernama Uchiha Madara menitipkan pesan. Nanti saja kuberitahu soalnya ada dua orang yang dari kemarin menunggumu sadar di ruangan sebelah. Sebaiknya datangi mereka."

Naruto mengangkat alis kirinya.

"Madara? Dua orang? Siapa?"

Ketika pandangannya tertuju ke Starrk. Pria itu mengangkat bahu tak peduli dan tak ingin menjawab kemudian melengos keluar ruangan sambil menguap panjang.

"Hoaaaaamzz, ngantuknyaa ..."

"Bajingan itu..."

Naruto mendesis penuh amarah. Hanya sesaat, tapi.

Setelah di tinggal sendiri membuat Naruto berpikir sejenak siapa dua orang yang menunggunya. Beberapa nama langsung hinggap di pikiran Naruto dan yang paling besar kemungkinan salah satu dari mereka adalah adik angkat kesayangannya, Yuki.

Apalagi dia sama sekali tak merasakan keberadaan dua orang yang dimaksud Starrk semakin memperbesar kemungkinan salah satunya adalah Yuki. Atau, ini hanya karena tubuh dan kemampuan yang belum pulih sepenuhnya terutama High Perceptive Sensoric miliknya dari Senjutsu.

Memaksa tubuhnya yang kekenyangan untuk bergerak, Naruto bangkit dari kursi dan berjalan agak tertatih menuju ruangan yang dimaksud Starrk.

Keluar dari dapur dan ruang makan adalah lorong kabin yang mana ada tiga pintu di sebalah kiri dan dua pintu di kanan.

Dari kiri, pintu pertama adalah pintu yang kemungkinan adalah ruang tamu. Pintu kedua adalah tempat dua orang yang dimaksud Starrk berada, sedangkan pintu ketiga ada ruangan tempat dia tadi beristirahat.

Sedangkan di sisi kanan yang hanya ada dua pintu, yang pertama adalah pintu dapur sendiri dan kedua mungkin kamar milik Starrk.

"Apa mereka sudah tidur?"

Berdiri di depan pintu kedua bagian kiri, Naruto sama sekali tak mendengar suara apapun dari dalam, membuatnya mau tak mau harus melihat secara langsung dua orang di dalam.

Dengan pelan dia membuka pintu. Dilihatnya dua orang tengah tertidur pulas pada tempat tidur.

Menyaksikan wajah damai kedua orang yang sepertinya sudah lelah menunggunya siuman hingga terlelap membuat mata Naruto sedikit berkaca-kaca sambil mengulas senyum.

"Dasar!—Dan maaf membuat kalian khawatir,..."


Di kamar lain, Starrk sepertinya menunda dulu kegiatan paling wajibnya. Berdiri di depan cermin, dia tengah melakukan sesuatu yang tak kalah penting...

Cukur jenggot!

Ada sekitar lima menit berlalu Starrk bercukur dengan wajah enggan. Sungguh, apakah benar ini orang satu niat cukur atau tidak? Padahal masih tersisa sedikit, dia menyudahi kegiatan itu dan beranjak ke tempat tidur kayu disana.

"Kasur tersayang. Aku merindukanmu~"

Sambil melenguh kenikmatan seperti habis menyelesaikan pertarungan malam pertama dengan wanita, Starrk membaringkan tubuh dan memejamkan mata.

Tanpa memperdulikan kasur yang dia tiduri nampak sudah sangat tipis dan tak empuk lagi. Dia bergumam,

"Nikmat kasur mana lagi yang ingin kudastakan! My sleep my adventure..."

"—Fuck!"

Entah karena apa. Starrk mengumpat kasar dan buru-buru bangun dari kasur kemudian berlari keluar kamar menuju ruangan tempat Naruto berada.

Tanpa rasa bersalah, Starrk mendobrak pintu yang seketika dihadiahi tatapan terkejut oleh tiga orang di dalam sana.

"Temeee. Ketuk dulu kenapa?! Jangan asal dobrak!"

"Jangan keluar dari kamar ini apapun yang terjadi!"

Naruto melihat wajah panik Starrk menjadi keheranan pada dua hal. Pertama yaitu ekspresi Starrk, kedua perintah tersebut.

"Memangnya kenapa?"

"Kita kedatangan tamu yang merepotkan!—Pokoknya jangan keluar apapun yang terjadi. Akan kuurus tamu itu!"

Setelah mengatakan itu, Starrk langsung pergi dan sedikit terjadi lonjakan energi misterius berwarna biru dari lorong yang Naruto ketahui milik Starrk.

Ikut panik juga, Naruto memaksakan dirinya untuk masuk ke mode Senjutsu. Walaupun agak sudah dan membuat sakit beberapa bagian tubuhnya, dia berhasil.

Highly Perceptive Sensoric yang sudah aktif seketika membuat setetes keringat dingin mengucur di kening Naruto merasakan energi selain milik Starrk.

Tangeki (Divine Power) yang terasa sangat besar, bahkan melebihi milik Azazel dan Michael yang pernah Naruto rasakan.

"Malaikat?—Tidak! Tangeki ini tak terasa murni, kalau begitu Malaikat Jatuh?"


Di luar kabin kayu yang merupakan sebuah padang rumput indah diterangi cahaya bulan musim panas. Dua sosok tengah berdiri berhadapan.

Starrk dalam mode bertarungnya. Pakaian serbah putih dengan kain hitam terikat di pinggang tempat sarung Katana emas-metalik yang sudah digenggam erat di tangan kiri.

Di sisi lain, pria tanggung di umur 30 tahunan. Rambut hitam pendek runcing yang di setiap ujungnya berwarna putih. Mata hitamnya nampak bersahabat. Dia memakai tuxedo lengkap dengan dua buku yang dijepit tangan kiri di dada.

"Minggirlah, tuan. Saya ada urusan dengan pemuda di dalam gubuk reok belakang sana."

"Saya akan mengabaikan penghinaan anda terhadap rumah tercintaku. Namun untuk perintah minggirnya, maaf saja. Saya tak akan menyanggupi."

"Begitukah?"

Pendar emas menguar seketika di sekitar tubuh pria tersebut. Mata abu-abu Starrk menyipit waspada. Tangeki pria di depannya berada, bahkan diatas level Seraph sekelas Michael.

Merespon lonjakan energi tersebut. Starrk juga melepaskan sejumlah besar aura biru di sekitar tubuh.

Pria berambut hitam dari kedua buku yang dipegang diketahui adalah Raziel terhenyak.

"Tekanan ini. Belum pernah kurasakan sebelumnya. Jika begini, artinya saya harus melewati anda untuk mengambil pemuda di dalam sana, bukan?"

Starrk mendesah malas lalu memberi pembelaan dengan enggan.

"Walau malas berurusan dengan anda di waktu tidur begini. Setidaknya itu lebih baik daripada harus repot-repot mengurusi bocah di dalam sana kalau mati lagi. Sungguh, saya kira tadinya yang datang adalah Malaikat Azriel bersama pasangannya yang punya senjata merepotkan. Nyatanya yang datang justru Malaikat yang digelari [Angel of Mistery] dan [Keeper of Secret],... Raziel."

Raziel tersentak. Tak menyangka Starrk bisa tahu cukup banyak soal Pihak Malaikat.

"Saya kagum, anda mengetahui dua gelar saya. Itu artinya anda bukanlah mahluk sembarangan. Jika berkenan, maukah anda mengatakan siapa diri anda, tuan?"

Tanpa sopan santun sedikit pun. Starrk melakukan sesuatu yang milyaran kali dia lakukan. Menggaruk kepalnya sambil menguap lebar.

"Hoaaaaamz—Maaf tuan Raziel. Saya tak ingin dikenal banyak orang. Terkenal itu merepotkan."

'Bajingan ini... Kata-katanya formal sekali, tapi ekspresinya benar-benar membuatku kesal!'

Wajah Raziel berkendut sampai urat di keningnya menyembul keluar namun mempertahankan ekspresi formal bersahabatnya terhadap respon Starrk.

Sepertinya kemalasan Starrk patut diacungi jempol sampai seorang Malaikat yang dikenal akan kebaikan hati dan tak gampang emosi bisa mengumpat sedemikian rupa dalam hati.

"Anoo, are da, ah ... Kalau tuan Raziel tak ada urusan lagi. Sebaiknya anda undur diri saja. Ini sudah malam, tidak baik berkeliaran dan menganggu tidur orang... Hoaaaaamzz—"

"Maaf! Urusanku bukan dengan anda. Saya sudah cukup sulit melacak energi Sepiroth Graal untuk menemukannya disini. Jadi, tolong minggirlah, tuan!"

'Jadi dia melacak [Sepiroth Graal]. Sepertinya segel tadi bekerja sehingga keberadaan Naruto tak bisa dilacak dengan mudah. Jadi, pihak pertama yang mengambil tindakan adalah pihak Injil.'

Sambil membatin demikian, Starrk menghentakkan kaki kiri pada permukaan tanah.

"Descorrer." (Loosed Void)

Berkat hentakkan kaki Starrk tadi. Area disekitar pada permukaan tanah berubah menjadi hitam dan langsung menghisap dua pria ini.

Raziel dibuat terkejut oleh apapun yang dilakukan oleh Starrk. Sepertinya pria itu memang ingin menghentikan usahanya mengembalikan Naruto Lucifer ke Elysium. Kalau seperti ini, dia harus menyingkirkan Starrk terlebih dulu.

Di tengah-tengah kegelapan yang tak berujung, Raziel tak melepaskan pandangannya dari Starrk yang masih setia dengan wajah malasnya di depan sana.

Baru saja Raziel ingin mengambil tindakan balasan, tahu-tahu mereka berdua telah keluar dari area gelap tadi dan kini berada di atas langit sebuah gurun pasir gersang.

Raziel langsung mengeluarkan beberapa pasang sayapnya untuk melayang, sedangkan Starrk disana berdiri pada udara kosong seolah ada tempat berpijak.

"Kemampuan ruang dan waktu, kah?"

"Begitulah."

"Sepertinya kau memang harus dikalahkan dulu sebelum mengambil kembali Fate Breaker di gubuk tadi."

"Perusak takdir?"

"—Naruto Lucifer."

"Oh..."

Walaupun merespon tak peduli. Sejatinya Starrk agak khawatir Malaikat Aneh di depannya ini tak datang seorang diri. Jika memang begitu, terpaksa dia harus berharap tiga orang gubuk—ah, rumahnya bisa mempertahankan diri sampai dia datang.

Selain itu, Starrk juga sedikit heran pada dirinya sendiri. Selama hidupnya, baru kali ini dia perduli pada sekitar, lebih tepatnya seseorang sampai khawatir begitu.

Ya, mungkin waktu dan Naruto telah merubahnya.

"Aah, maaf. Saya bengong tadi."

"Tidak apa. Bisa kita mulai saja? Saya tak punya banyak waktu untuk mengurusi anda."

"Aah, sungguh rendah hati dan berjiwa besar tak menyerang lawan ketika hilang fokus. Benar-benar seorang Malaikat. Anda akan menyesal tak menyerang tadi."

"Saya tak menyesal karena—"

"Buktikan!"

Tepat setelah Starrk menyela, dengan katana yang terhunus dia menyerbu ke Raziel yang sudah menciptakan pedang emas berbahan cahaya.

Benturan dari katana dan pedang cahaya tersebut mengakibatkan gelombang kejut besar yang seketika menyapu bersih pasir di bawah mereka padahal mereka melayang cukup tinggi dari permukaan.

Pertarungan yang akan menentukan nasib Naruto Lucifer antara Malaikat Penjaga Rahasia melawan Eksistensi Misterius telah dimulai!

Emas dan Biru menjadi pemandangan di tengah pada pasir. Saling beradu membuktikan siapa yang terkuat.


TBC!

[TrouBlesome Cut]