Underworld

Seorang pria yang nampak berada di usia tiga puluh tahunan menatap ngeri bercampur rasa tak percaya pemandangan yang tersaji di hadapannya.

Seonggok kepala terlempar ke arahnya yang tengah menyeret pantat untuk menjauh dari sesuatu. Dia ingin sekali bangkit berdiri lalu berlari, namun perasaan takut sudah menggerogoti hingga ke jiwa sampai kaki tak bisa digerakkan barang sedikit pun.

"Tuan Muda, hentikan!"

Perhatiannya teralihkan oleh suara dua logam yang diseret mendekat. Ketika kepala tadi mulai retak seperti sebuah cermin berwarna keperakan, itu menjadi hancur sepenuhnya oleh injakan.

Injakan dari seorang anak kecil.

"Tuan Muda Naruto, hentikan! Ini kami para pelayanmu, klan Lucifuge!"

" ..."

Pria itu tersentak kaget mendengar gumaman kosong, hampa seperti tak berjiwa dari bocah yang dia panggil Tuan Muda Naruto—Naruto Lucifer, cucu majikannya. Tidak hanya suara, ekspresi Naruto pun hampir sama. Mata violet itu sesekali bergerak melirik ke berbagai arah mencari keberadan orang yang dipanggil Vali.

Mata violet Naruto kemudian terkunci pada satu titik di sebelah kanan. Tubuh kecil yang sudah dipenuhi noda darah segar maupun setengah kering Naruto mulai melangkah ke sana sambil menyeret dua senjata jarak dekat berukuran besar yang tak sepatutnya dibawa anak seumurannya.

Sebuah Scythe yang identik dengan mahluk bernama Grim Reaper dan sebilah Longsword berdesain aneh.

Pria Lucifuge tadi menghela nafas lega ketika Naruto sudah menghilang di samping bangunan besar Mansion keluarga Lucifer. Berpikir bahwa dia sudah selamat dari amukan tanpa sadar Tuan Muda-nya.

Yang nyatanya tak akan lama lagi dia juga mengikuti jejak para Iblis klan Lucifuge yang sudah tewas ditangan bocah ingusan.

Tak lama kemudian, teriakan melengking terdengar dari samping Mansion. Baik itu yang terdengar begitu pilu ataupun peringatan dan kutukan untuk bocah ingusan tersebut.

"Kau monster, Naruto Lucifer!"

"Menjauh dari kami!"

"Naruto Lucifer! Kami mengutukmu atas apa yang kau lakukan!"

"Terkutuklah kau Naruto Lucifer!"

"Matilah, Naruto Lucifer!"

Sensor pria Lucifuge ini juga mulai merasakan satu demi satu tanda kehidupan menghilang hingga menyisahkan beberapa saja.

Memaksakan tubuhnya untuk bergerak, dia sekuat tenaga berusaha berdiri. Tak lupa dalam hati mengutuk dalam-dalam siapapun yang memasang Kekkai (Barrier) Anti-Teleportation Magic di seluruh area mansion sehingga tak ada seorang iblis pun yang bisa kabur dengan mudah.

"Aku harus kabur dari sini!"

Pria itu bergumam dengan suara bergetar ketakutan. Pemandangan tragis yang baru saja disaksikan sepertinya membuat mental pria ini menjadi terganggu walaupun termasuk dari iblis sisa dua perang hebat di masa lalu.

Pemandangan dimana sekuat apapun sisa-sisa iblis klan Lucifuge, mereka semua dengan muda dibantai oleh seorang bocah ingusan yang menurut kabar dari keluarga Lucifer adalah sebuah kecacatan dibanding anak satunya.

"Persetan dengan sumpah dan tradisi keluarga, aku masih ingin hi—Ohoook!"

Hanya saja, baru beberapa langkah dia ambil sekuat tenaga, bilah pedang besar berdesain aneh menembus tepat di tengah dadahnya dari punggung. Menyebabkan semua usaha yang dilakukan untuk kabur selagi menahan rasa takut dari tindakan bringas Naruto Lucifer, justru ikut menjadi korban juga.

Sebelum ajalnya benar-benar menjemput, pria Lucifuge sempat melakukan hal yang sama. Mengutuk keberadaan Naruto Lucifer atas semua tindakan tersebut.

" ..."

Dan akhirnya semua menjadi hitam dan kosong bagi pria Lucifuge ini sebagai iblis entah keseratus berapa dibunuh tanpa perasaan bersalah oleh Naruto kecil.

Tubuh yang sudah terkulai lemas mulai hancur menjadi serpihan cahaya keperakan mengikuti warna materialisasi Yōuki keluarga Lucifuge.

Setelah kehilangan tumpuan, ujung Longsword tersebut terjatuh pada permukaan tanah.

Mata violet Naruto terlihat sedikit bersinar oleh cahaya dari tubuh korbannya tadi. Selain daripada pantulan cahaya itu, tak ada perasaan apapun yang terpancar disana. Sedih, takut dan penyesalan ataupun kepuasan yang seharusnya ada pada seorang pembantai.

Tak lama kemudian tubuh kecil Naruto kembali bergerak. Suara besi yang berdenting keras terdengar kala dia berputar ke kanan lalu mendongak ke atas, menuju atap mansion yang disana ada dua sosok lelaki.

Kakeknya dan Euclid Lucifuge yang dalam keadaan memperihatinkan.

"Sudah cukup, Tuan Muda!"

—Dan pembantai klan Lucifuge akhirnya berakhir ketika seorang wanita berambut perak yang memakai seragam maid datang menyerbu Naruto dan mematikan pergerakan anak itu dengan satu kuncian pada kedua tangan dalam keadaan terkurap pada permukaan tanah.


Disclaimer: Semua unsur-unsur Manga, Light Novel dan Game dalam cerita ini milik penciptanya masing-masing. Sekian!


[Arc IV: Nearest Place From Heaven]

.

[Chapter 39]

[Resurrection — To the Next Stage Part II]


Sierra Nevada National Park, Granada, Spain.

Pagi yang indah telah menyambut setiap mahluk hidup di pegunungan terkenal di negara Spanyol. Dari ufuk timur, mentari memberikan sinarnya kepada dunia, termasuk pondok kayu di selatan pegunungan Sierra Nevada.

Pada dapur pondok tersebut, Naruto yang perlahan kondisi tubuhnya mulai kembali seperti biasa tengah membersihkan peralatan makan sehabis sarapan.

Kedua orang yang semalam Naruto temui juga telah kembali ke tempat mereka setelah sarapan. Tidak dipungkiri Naruto cukup senang dengan keberadaan dua orang itu semalam. Dia jadi tak bosan menunggu Starrk yang keluar menyambut tamu tak diundang.

Semalam, sempat Naruto dibuat terkejut ketika Starrk kembali dalam keadaan pakaian penuh debu. Menceritakan singkat apa yang terjadi, Naruto tak menyangka kalau efek dari pengembaliannya dari kematian menciptakan musuh baru. Seorang Malaikat bernama Raziel yang cukup kuat sampai membuat Starrk pulang dengan keadaan wajah dan pakaian penuh debu.

Kalah?

Starrk tidak kalah. Dia justru menang telak karena Raziel seperti terlalu menganggapnya remeh dan akhirnya diberi satu serangan mengejutkan yang langsung mengirim Ten Seraph itu entah kemana. Starrk bertarung cerdas dan membuatnya keluar sebagai pemenang.

Starrk juga berpesan secepatnya mereka harus meninggalkan pondok ini.

Dan siang ini mereka akan bergegas pergi dengan beberapa tujuan Naruto tetapkan setelah memikirkan apa yang sebenarnya Madara inginkan ke dirinya.

Menghela nafas sembari tangannya sibuk membersihkan piring terakhir. Naruto bergumam.

"... Ingin aku menentukan siapa dan apa tujuanku sebenarnya, huh?—Benar-benar Tsundere sialan kau Madara!"

"Ini masih pagi, bodoh! Jangan mengumpat sembarangan dan merusak pagi yang indah ini."

Menoleh ke Starrk yang barjalan masuk ke dapur dan sepertinya baru saja bangun dari tidur indahnya. Dia memberi tatapan nyalang.

"Justru wajah malasmu yang merusak pagi ini, keparat. Sana cepat makan."

"Hae hae, kau seperti ibu muda yang lagi dapat saja. Marah-marah nggak jelas."

"Berisik!"

Setelah piring terakhir Naruto selesai bersihkan, dia berbalik menghadap ke Starrk yang duduk membelakangi di kursi sambil menikmati sarapan pagi—Bukan nasi kecap.

"Hoiy, babi. Kau punya ponsel?"

"Nggak."

Starrk menjawab singkat kemudian melanjutkan sarapannya. Di belakang pria ini, Naruto menghela nafas dengan ekspresi 'sudah kuduga' mengingat makan saja lauk seadanya sebelum dia sehat dan menjadi koki dadakan.

Naruto jadi bertanya-tanya, bagaimana Starrk bisa bertahan hidup selama tiga tahun? Apa dia beralih profesi menjadi penculik atau semacamnya? Siapa yang tahu, lagipula dilihat dari sifat Starrk—Ah, sudahlah. Itu tak terlalu penting dipikirkan.

"Dimana kota terdekat dari sini?"

"Pergilah ke selatan pegunungan, kau akan menemukan kota kecil dekat anak sungai. Oh, iya. Jangan sampai mati, bocah."

"Santai, bung. Tuhan bersama hambanya yang santai."

"Tuhan sudah mati, goblok! Pantas saja kau mati waktu itu. Untung ada fitur respawn pakai Sepiroth Graal yang masih—"

"Bacot!"

Naruto segera melengos keluar ruangan tak tahan terus dipojokkan Starrk di berbagai macam topik.

Ketika tinggal Starrk seorang diri di dapur. Setelah menelan sepotong sayuran yang sudah hancur dikunyah, Starrk mengukir senyum kecil. Keberadaan Naruto di sekitar memang membawa perubahan pada dirinya, dan dia tak akan membantah bila seseorang berkata demikian. Entah perubahan macam apa, namun yang pasti bukan hal buruk.

"Oh, iya—"

Naruto kembali muncul di pintu dapur dan ruang makan, cuma memperlihatkan kepala tapi. Starrk tak menoleh sedikitpun karena masih asik dengan pikiran sendiri.

"—Kalau mau tambah, kau bisa ambil makanan yang kumasak tadi pagi di dalam lemari disana. Yang dimeja sebenarnya mau kubuang, itu makanan semalam, mungkin sudah basi. Tapi, karena kau sudah memakannya, ya sudah. Sampaikan rasa terima kasihku ke perutmu karena sudah mengurangi pekerjaan jadi tempat sampah alternatif."

Senyum di wajah Starrk retak bagai cermin. Dia menarik beberapa hal yang sempat dia pikirkan tadi soal Naruto. Menoleh ke pintu, dia sudah tak menemukan siapa-siapa lagi disana.

"Bocah bangsat!"


Naruto tertawa puas telah membalaskan dendam insiden 'Lima piring nasi kecap' semalam. Sebenarnya salah Starrk juga langsung makan begitu saja padahal dia sengaja menaruh makanan sisa semalam untuk dibuang setelah mencuci piring.

Selama perjalanan menyusuri padang rumput di lereng pegunungan Sierra Nevada versi Spanyol ini, Naruto cukup dibuat kagum. Sejauh mata pemandang, kontur tanah naik turun ditumbuhi rerumputan hijau dan berbagai jenis bunga.

Memetik beberapa bunga disini dan menanam di kebun buatan miliknya di kediaman Yasaka sepertinya bagus juga.

Tak luput dari pandangan Naruto, di samping kiri ada sungai kecil yang mungkin adalah anak sungai dimaksud Starrk. Jadi, tinggal mengikuti anak sungai tersebut untuk sampai ke kota terdekat.

Ada sekitar 20 menit Naruto menyusuri lereng pegunungan hingga matanya melihat sebuah kota kecil di arah selatan. Menengok ke atas sekilas, matahari nampaknya sudah mulai tinggi dan dia harus bergegas. Siang ini mereka harus meninggalkan pondok reok yang Starrk sebut rumah tercinta.

.

.

Mecina Bombarón. Nama kota yang sekarang Naruto singgahi.

Berada di negara berbeda tak membuat Naruto kesulitan dalam berbahasa untuk menyapa beberapa penduduk kota yang ditemui sepanjang jalan sekaligus bertanya arah—Dia bukan Pendekar Pedang berambut mirip lumut dari Universe sebelah yang tukang nyasar, bahkan di jalan lurus.

Lahir sebagai manusia setengah iblis nampaknya memberi satu Passive Ability untuk Naruto. Ini bukanlah kemampuan spesial, bahkan dimiliki semua iblis. Kemampuan bernama [Language] yang memungkinkan iblis baik murni, setengah dan reinkarnasi bisa mengerti banyak bahasa lalu menggunakannya. Itulah kenapa hampir di belahan dunia manapun, fraksi iblis memiliki wilayah di bawah kendali mereka.

Setelah menanyakan dimana toko ponsel pada seorang penduduk. Dia kini berdiri di depan toko yang dimaksud dengan wajah tertekuk. Dia teringat sesuatu yang cukup penting.

"Ah, sial! Aku tak punya uang."

Menengok kiri kanan, tatapan Naruto langsung tertuju sebuah bangunan di dekat perempatan. Sebuah bangunan yang terdapat tulisan [Banco de la ciudad de Messina Bombarón] yang berarti Bank Kota Mecina Bombarón.

Naruto berpikir sejenak dan itu membuat Sekelebat niat jahat datang menghampiri namun cepat ditepis. Muncul dan ditepis lagi berulang kali. Seolah-olah Iblis dan Malaikat berusaha membujuknya. Walaupun dia sebenarnya setengah iblis.

Di tengah perselisihan sisi jahat dan baiknya, Naruto teringat pada ucapan Madara tempo hari ketika mengeluh soal keuangan.

'Keuangan? Kurampok bank dunia pasti keuanganmu kembali sehat pakai sekali, bocah sableng'

"Ah, sialan! Apa boleh buat! Lagian aku ini iblis. Setengah sih."

Naruto pun beranjak menuju bank tersebut yang agaknya cukup ramai. Meninggalkan dua sosok chibi Naruto. Satu sisi iblis, satu malaikat. Si iblis tertawa jahat, sedangkan sisi malaikat menangis sekencang-kencangnya seperti menyesali sesuatu atas pilihan Naruto.

Di dalam Bank, Naruto mengamati sesuatu, melihat ke dalam pintu besi besar yang tak sengaja dibuka oleh pegawai untuk mengambil sesuatu. Setelah mendapat gambaran singkat ruangan penyimpanan itu dan ditutup kembali, Naruto keluar mencari tempat sepi.

Mengaktifkan Senjutsu dan tehnik teleportnya. Naruto berpindah ke dalam brangkas yang sudah didapatkan gambaran di dalamnya dan tinggal dibayangkan saja untuk membuka portal disana. Di dalam sana, Naruto tertawa jahat sambil mengantongi ribuan dollar Euro.

Selesai melancarkan perampokan di siang bolong, Naruto kembali ke toko ponsel tadi dan membeli telepon pintar merek [Pentolan Tusuk] yang memiliki fitur akun penyimpanan data secara online sehingga bila berganti perangkat, data bisa dipindahkan dengan mudah.

Beberapa data Naruto berhasil ambil termasuk 3 kontak penting dan banyak data tak kalah penting berisikan koleksi R-18. Begini-begini Naruto juga laki-laki yang pernah merasakan cintanya kandas di tengah jalan. Tentu saja dia butuh pelampiasan nafsu birahi.

"Aah, untung nggak hilang. Ini koleksi penting Maria Ozawa dan banyak artis JAV buka segel dari Ero-Sennin. Dia benar-benar pro soal mantap-mantap begini." Naruto bergumam pelan, sangat pelan takut didengar orang-orang.

Berbicara tentang Pertapa Katak Mesum itu, Naruto penasaran dimana gerangan sosok guru yang mengajarkan Senjutsu sekaligus figur ayah baginya terdampar sekarang.

Mungkin dia perlu menghubungi Jiraiya nanti setelah menyelesaikan satu urusan yang menjadi alasan membeli smartphone dengan uang kotor hasil curian. Ya, kemungkinan besar kegiatan Jiraiya saat ini palingan menjalankan penelitian nggak jelas untuk mencari inspirasi novel bejat.

Ya, pria tua bergelar Pertapa Katak itu dan hobi laknatnya.

Naruto kini berada di taman kota yang cukup nyaman. Duduk pada bangku panjang yang dipayungi pohon oak besar. Banyak penduduk kota maupun turis menggunakan taman ini untuk refreshing.

Menggeser-geser jari pada layar handphone sampai akhirnya disana tertera tampilan memanggil seseorang dengan nama Irina Shidō.

Agak cukup lama Naruto menunggu teleponnya diangkat, dan akhirnya kejadian.

[Halo-halo, selamat pagi... Dengan siapa saya berbicara]

Naruto hampir tergelak kala mendengar suara cempreng perempuan yang begitu kaku menggunakan bahasa internasional. Namun, mengabaikan itu, suara nyaring yang Naruto sudah tahu milik Irina seperti tengah menahan sesuatu.

"Selamat pagi juga. Apakah ini dengan Shidō Irina?"

[Ah, iya. Dengan saya sendiri. Kalau boleh tau, dengan siapa saya berbicara?]

Naruto tersenyum pahit. Sepertinya Irina lupa pada suaranya. Atau lebih parahnya mungkin informasi kematian dirinya di konferensi tiga fraksi tempo hari sudah diketahui. Jadi, untuk itu, dia ingin memastikannya dulu.

"Kau mungkin terkejut dan tak percaya jika kuberitahu namaku. Jika iya, tolong tahan semua pertanyaan di kepalamu sampai kita bertemu, ya Irina."

[...]

"Uzumaki Naruto... Itu saya, Uzumaki Naruto—Ah, mungkin Naruto Lu—Eh, halo Irina? Kok diam?"

[...]

[...]

Ketika gadis di ujung telepon terdiam selama beberapa saat, Naruto menjauhkan ponselnya dari telinga kanan untuk berjaga-jaga akan serangan dadakan yang akan terjadi di area telinga.

[...]

[EEEEH?! NA-NARUTO-KUN?! USO DAAA!]

Ekspresi 'Sudah kuduga' langsung Naruto pasang disertai kikikan kecil. Dilihat dari respon Irina, informasi tentang kematian Uzumaki Naruto atau mungkin Naruto Lucifer—Dirinya sendiri sudah diketahui hampir semua mahluk supernatural dalam ruang lingkup Aliansi.

Setelah Irina sudah diam menunggu disana, Naruto kembali menempelkan ponselnya di telinga kanan.

"Aku tahu kau punya banyak pertanyaan. Tahan dulu. Pergilah ke tempat sepi dan sendirian, gudang atau semacamnya. Foto tempatnya lalu kirimkan padaku untuk kupakai berteleportasi. Akan kejelaskan semua yang ingin kau ketahui... Ah, iya... Senang bisa mendengar suaramu lagi, Irina..."

[Ba-baka—Hiks—]

Setelah umpatan disusul isakan kecil tadi, telepon langsung Irina putuskan sepihak. Tak lama setelahnya, ada pesan masuk berisikan lampiran foto sebuah ruangan mirip gudang. Melihat secara detail ruangan tersebut dan mengingatnya, Naruto segera beranjak mencari tempat sepi, lagi.

"—Setelah bertemu dengan Irina, semuanya akan berubah ..."


Kyoto, Japan.

Pukul 19 lewat waktu standar Jepang, kondisi di apartemen para barbarian tengah sepi. Hanya ada dua penghuni yang berada di dalamnya, tepatnya di ruang santai lantai pertama.

Dua orang itu adalah Madara dan Hashirama.

Madara tengah bersantai sambil menonton acara malam pada tv layar datar besar yang terpasang di dinding setelah siang tadi berlatih cukup keras di reruntuhan desa Konoha.

Ditemani Senbei atau kerupuk beras sebagai cemilan, Madara benar-benar fokus menyaksikan acara yang ditampilkan layar televisi entah apa itu.

Di sisi lain ruangan, Hashirama memiliki kegiatan lain. Dia tengah sibuk mengecek sesuatu pada gulungan yang dipegang. Selagi matanya fokus pada tulisan-tulisan disana, Hashirama berbicara kepada sahabatnya.

"Madara, kau yakin bisa mencapai tingkat ini kurang dari seminggu? Dilihat darimana pun, waktunya sangat terbatas. Elit Jounin di desa saja butuh waktu bertahun-tahun lamanya—Tidak, aku pun sama."

Madara melirik sekilas Hashirma lalu mengambil remot tv yang tergelatak pada permukaan sofa dan mematikannya. Dengan wajah datarnya yang tak pernah hilang, dia berjalan menuju sahabatnya dan duduk melantai.

Dia kemudian merebut paksa gulungan yang dipegang Hashirama, mulai membaca bagain yang mana disana tertulis status chakra miliknya setelah dua hari berlatih keras.

"... Tak ada yang tak mungkin untukku sekarang—Cih! Hanya segini. Kukira sudah jauh berkembang dari pertarungan melawan Iblis Merah itu."

Madara jadi kesal sendiri melihat perkembangannya dalam dua hari. Hanya naik beberapa persen padahal selama dua hari bersama Hashirama melakukan latih tanding seharian tanpa menahan diri sedikitpun.

Tingkat yang ingin Madara capai saat ini adalah kekuatan Chakra miliknya mampu menahan kemampuan penghancur klan Bael tanpa bantuan Dragon Power Ophis.

Madara adalah tipe yang tak ingin selalu dibantu seseorang, dia adalah laki-laki dengan harga diri tinggi yang ingin seminimal mungkin tak memakai kekuatan orang lain untuk menyelesaikan masalah atau pertarungan. Daripada diberi, Madara lebih memilih bekerja sama. Itupun terkadang butuh dua sampai tiga kali berpikir.

"Hn, sepertinya lawan latih tandingnya harus ditambah. Melawan kau saja tak akan sempat."

"—A-apa?"

"Hn, apa juga?"

"Kau mau mati ya, Madara? Melawanku saja kau sampai tak bisa berdiri beberapa jam. Untung ada Le Fay-chan dan sihir penyembuhnya, kalau tak ada mungkin kau sudah tiduran seharian penuh."

"Bukan mau mati, tapi mencegah kematian dari kemampuan penghancur beberapa mahluk sialan diluar sana."

Hashirama memberi pandangan 'apa kau gila' pada sahabatnya yang hanya dibalas wajah datar sambil membeberkan alasan ingin meningkatkan kekuatan chakra sampai tingkat Divine. Untuk sekarang mungkin Chakra milik Madara hanya setingkat iblis kelas Ultimate, dan Hashirama berada cukup jauh di atas, mendekati Divine.

Madara mengalihkan pandangan dari Hashirama. Mata beriris hitam legam itu menyipit tajam.

"Orang yang kemungkinan kulawan selanjutnya memiliki kemampuan menghancurkan apapun dalam waktu singkat, bahkan bisa dikatakan melebihi milik iblis merah itu..."

"?!—Jangan bilang kalau orang itu—"

"Hn."

Mata Hashirama melebar sempurna ketika Madara memberi jawaban yang bisa diartikan bahwa tebakannya benar. Aah, jalan pikiran sahabatnya ini memang terkadang cukup sulit ditebak di beberapa situasi.

Jika sudah seperti ini situasinya, Hashirama tak bisa lagi melarang Madara. Setelah konferensi tempo hari dimana Madara memberitahukan harapan dan tujuannya kepada Naruto, dia berusaha mencari jalan keluar. Namun, hal yang dia lakukan tak menghasilkan apa-apa kecuali akhir yang diinginkan Madara.

Terlebih dia yang paling tahu bagaimana Madara. Sahabatnya itu sangat sulit, bahkan mustahil diluluhkan hanya dengan kata-kata. Hanya tindakan nyata yang bisa, dan dalam masalah internal ini yang bisa melakukannya tentu saja Naruto seorang.

Dengan kata lain, masa depan antara mereka semua tanpa terkecuali kini berada di tangan Naruto. Harapan besar pun Hashirama tanamkan pada sosok muridnya yang sekarang berada di pegunungan terkenal negara Spanyol.

Sebuah harapan Naruto bisa memberikan jawaban ke Madara, serta tak membuatnya tewas untuk kali kedua.

Setelah melihat tindak-tanduk Madara pada Naruto setelah Konoha hancur, Hashirama jadi teringat pada insiden Kokabiel. Dimana dia berpikir kalau keduanya adalah pasangan kakak beradik saling mengakui yang aneh.

'Aah, mereka memang sama-sama gila sih. Tak mengherankan lagi.'

Ekspresi wajah Hashirama kemudian berubah prihatin ketika menatap Madara sekali lagi. Sambil berekspresi demikian, dia berkata dengan niat sedikit menyindir.

"Pantas saja kau sangat sulit membentuk ikatan dengan orang-orang di desa, Madara... Aku tak heran lagi nanti kalau kau mati perjaka. Aku turut prihatin, sungguh!"

"Pergilah bercermin dan lihat siapa yang akan mati perjaka, Dobe."

"Mau taruhan?"

"Hah?"

Hashirama mengukir senyum menantang.

"Taruhan, siapapun yang mati perjaka, pada batu nisannya akan ditulis 'Perjaka Abadi'. Bagaimana, tertarik?"

"Dengan kata lain, kau ingin kita semua mati, begitu?"

"Semua mahluk akan mati, Madara. Waktunya saja yang tak diketahui sebagai misteri untuk setiap mahluk hidup di dunia ini."

"Terserah kau saja, Dobe."

Karena tak mau berkutat dengan kebodohan Hashirama yang kumat lagi, dia hanya mengiyakan saja sambil memasang wajah tak peduli. Dia tak punya waktu mengurusi segala macam bentuk kebodohan Hashirama yang mungkin dilakukan agar bisa melupakan sejenak berbagai masalah mereka, sekarang dia harus fokus pada pelatihan untuk mencapai tingkat yang dibutuhkan di masa depan nanti.

'Mungkin Vali bisa menjadi pilihan yang bagus menambah lawan latih tandingnya.'

Ketika berpikir tentang pemuda yang menempati posisi kedua paling banyak menimbulkan kerusakan dan kekacauan dalam penyerangan Lilith kemarin, Madara bertanya-tanya kenapa Vali dan Tim-nya belum pulang, begitupun Le Fay bersama Hilda, Yuki dan Ophis yang ke kediaman Yasaka sejak siang tadi.

Sore tadi Vali bersama Tim-nya kecuali Le Fay izin keluar karena kebosanan. Mereka memang dalam mode bersembunyi, namun itu bukan berarti mereka hanya akan diam di Kyoto sampai melakukan pergerakan lain.

Mereka tetap bisa keluar dari Kyoto dengan satu hal yang harus dihindari. Jangan sampai ketahuan apalagi diikuti pihak manapun.

Itulah yang dilakukan Tim Vali sekarang.

Selain untuk menghilangkan kebosanan, Tim Vali juga memiliki alasan lain. Mereka meluar dengan misi pengumpulan informasi yang dibutuhkan. Untuk misi seperti ini mereka bisa dibilang ahlinya, ditambah keberadaan Arthur yang bisa keluar masuk Celah Dimensi menggunakan kemampuan Pedang Caliburn benar-benar sangat membantu ketika mencari informasi ataupun kabur apabila ternyata keberadaan mereka tercium beberapa pihak.

Tindakan Vali murni keinginan sendiri, bukanlah permintaan ataupun misi dari Madara ataupun Hashirama.

Tindakan yang murni bertujuan menambah kepercayaan Madara bahwa dia bersama Tim-nya benar-benar adalah bagian dari mereka.

'Sepertinya sang adik lebih dulu mendapatkan kepercayaan penuh dibanding kakaknya,...'


Muncul dengan tehnik teleport berbasis Senjutsu miliknya, hal pertama yang dilihat Naruto ketika tiba adalah tatapan bertanya dari Starrk yang duduk bersilah pada ranjang reok.

"Kau darimana?"

"Menemui seseorang untuk memastikan sesuatu."

Starrk berkedip beberapa kali memandangi Naruto, mencari keanehan apapun yang bisa ditemukan pada keturunan Lucifer. Tak menemukan apapun yang bisa dilihat dengan mata telanjang, Starrk menajamkan sensornya dan menemukan sesuatu.

"Di sekitar tubuhmu ada bekas energi suci. Kau pergi menemui pemegang Excalibur Mimic—Tidak! Ini pedang suci lain, bukan?"

Naruto tersentak sesaat sebelum mengangguk. Belum sempat dia menjelaskan alasan dan tujuan menemui Irina, Starrk kembali berbicara,

"Kau terlalu gegabah, bocah. Ingatlah, kau sekarang buronan pihak Injil setelah kita membawamu kembali dari alam kematian. Setelah semuanya, keberadaanmu saat ini merupakan sebuah ancaman serius."

Dengan wajah lurus, Starrk menjelaskan secara garis besar tanpa mengungkapkan status Naruto sebagai Fate Breaker. Status yang sudah Starrk ketahui persis maksud dan betapa berbahayanya itu.

Dalam pertarungan melawan Raziel selain saling bertukar serangan, mereka juga menyempatkan diri larut dalam percakapan serius. Beruntung bagi Starrk lawannya cukup koperatif untuk menjelaskan banyak hal sehingga sudah lebih dari cukup untuk menarik kesimpulan mengenai status Narutp yang sekarang.

"Setelah ini, jangan pernah bepergian sendiri. Akan sangat merepotkan kau harus ditarik lagi dari alam kematian."

"Sejak kapan kau begini, Starrk? Seperti pengawal pribadiku?"

Mata Naruto menyipit penasaran. Bahkan orang bodoh pun bisa melihat tindakan Starrk benar-benar menyerupai pengawal pribadi. Mulai dari kedatangan Raziel yang Naruto hanya disuruh bersembunyi dan dia sendiri yang meladeni Malaikat tak Berstatus jelas itu. Lalu sekarang, setelah Naruto pulang Starrk langsung memberinya peringatan keras.

Tentu saja hal ini membuat Naruto penasaran bukan main. Starrk yang tiga tahun lalu bertemu dengannya, seorang pemalas tak tertolong dan tak memiliki kemaungan melakukan apapun bertingkah seperti pengawal.

Tidak mungkin bukan semuanya gara-gara kematian Naruto?

"Dua atau tiga tahun lalu."

"Permisi, apa?"

"Ucapanmu dua atau tiga tahun lalu. Dari sini kau sudah pasti paham, bukan."

Kening Naruto mengkerut mencoba mengingat pertemuannya dengan pria ini. Walau itu dalam memori kelam ketika membuang semua yang dia miliki hanya untuk Rias Gremory, seperti yang dilakukan ketika di perbatasan hidup dan mati, terdapat beberapa hal yang tak bisa dibuang begitu saja ketika mengejar Rias Gremory.

Beberapa menit mengingat dan kebetulan Starrk juga cukup sabar menunggu, Naruto akhirnya mendapatkan sesuatu.

"Aaah, itu—Eh, kau setuju?"

Starrk hanya memberi satu anggukan pelan.

"Kau serius?"

Starrk mendengus. "Jika tidak, mana mungkin aku harus capek-capek mengumpulkan informasi untuk menghidupkanmu ataupun mencari keberadaan keluargamu, bocah."

Bahkan setelah menjelaskan hal tersebut, Starrk masih bisa melihat raut wajah tak percaya dan meminta jawaban dari Naruto, dan sesaat pada bagian akhir ada perubahan ekspresi disana entah karena apa. Menghela nafas panjang sejenak, Starrk kembali berbicara, kali ini dengan wajah lurus.

"Dengarkan baik-baik. Jangan melewatkan apapun karena ini terlalu aneh untuk diceritakan sebenarnya..."

"Sudahlah. Jangan banyak bacot. Katakan saja alasanmu, brengsek!"

"Meh..."


Unknow Realm, Elysium.

Raziel duduk bertumpu lutut diatas sebuah batu dekat satu-satunya pohon di dataran Elysium. Di samping kiri Raziel masih ada dua tumpukan buku, yang bisa dilihat tumpukan pertama mungkin telah dibaca dan satunya belum.

Tak jauh di depannya ada Scheherazade yang tengah asik bermain dengan para Rukh. Seperti biasa, mata Scheherazade kembali dipejamkan. Seolah-olah membuka mata adalah hal yang sulit dilakukan olehnya.

Setelah beberapa Rukh yang menemani Scheherazade bermain terbang menjauh, eksistensi Ancient Goddess ini berbalik ke Raziel.

"Kau tahu, ini sebuah kejutan melihatmu begitu antusias membaca buku."

" ..."

Raziel menutup buku yang dipegang. "Hanya mencari sesuatu, Hera."

"Sesuatu yang berhubungan dengan kau dibodohi oleh pria berwajah malas yang melemparmu ke tempat Sang Naga Sejati?"

"Termasuk itu."

Raziel menjawab dengan sedikit nada ketus terkandung. Nampaknya dia benar-benar kesal dikalahkan dengan tidak elitnya oleh pria berwajah 'hidup enggan, matinya dibikin sulit' bernama Starrk.

Bagaimana seorang Malaikat atau Malaikat Jatuh atau mungkin bukan keduanya yang memegang rahasia terbesar kehidupan ditambah pengetahuan berlimpah dikalahkan hanya dengan satu tehnik sederhana berbasis ruang dan waktu. Sungguh memalukan andaikata dunia mengetahui hal ini.

Raziel menghela nafas kemudian.

"Dibanding memusingkan kekalahanku, kita harus fokus pada Naruto Lucifer. Dengan keberadaan pria itu di sekitarnya, Naruto Lucifer akan sangat sulit didekati apalagi ditangkap atau dibunuh."

"Apakah orang itu benar-benar kuat?"

"Entahlah. Namun satu hal yang pasti dia sangat pintar, bahkan jenius. Terutama dalam pertarungan."

"Bisakah kau jelaskan secara detail pertarunganmu dengannya? Mungkin aku bisa membantu."

Raziel berkedip beberapa saat atas permintaan Scheherazade. Bukan karena permintaan itu, tapi sesuatu yang lain.

"Hmm, kenapa? Bukannya 'penguntit' sepertimu sudah melihat semuanya?"

"Muuu ..."

'Ya Tuhan! Mahluk apa di depanku ini. Kawaii!'

Raziel tak menahan diri untuk tak berucap demikian dalam batinnya melihat Scheherazade menggembungkan pipi dengan gumaman kesal. Bahkanalirandarahakanterlihat mengucur dari lubang hidungnya andai tak cepat ditutupi. Ancient Goddess dalam wujud Loli Baba di depannya ini benar-benar sesuatu sekali soal keimutan.

Satu lagi fakta terlihat untuk memantaskan Loli adalah mahluk terbaik. Bahkan Malaikat yang diketahui ahlinya menahan perasaan dan nafsu, bisa kelabakan di hadapan Loli.

Masih dengan ekspresi yang membuat hidung Raziel kembang kempis tak karuan, Scheherazade berucap.

"Kemampuanku 'mengawasi', Raziel. Bukan menguntit. Aku hanya bisa melihat, namun tak bisa mendengar."

"Aah, baik-baik. Tapi tolong hilangkan ekspresi itu."

Scheherazade memiringkan kepalanya ditambah ekspresi bertanya ke-Loli-an sangat.

"Eh, kenapa?"

'Ya Lord! Critical Hit!'

—Akhirnya Raziel pun tumban diatas genangan darah yang mengalir tanpa henti dari lubamg hidungnya. Di lain sisi Scheherazade malah semakin bingung dengan ekspresi yang juga semakin imut.

"Eh, dia kenapa sih?"

"Gaaah!"

.

.

"Hentikan, Hera. Setelah ribuan tahun, wajah imutmu dan obrolan serius bukankah hal yang bagus untuk tekanan darahku."—'Aku berani bertaruh dia lebih imut dari adik perempuan kami.'

Suara serak khas mahluk yang baru saja bangkit dari proses mati suri mengikis kesunyian di sekitaran pohon aneh dan formasi batu dataran Elysium.

"Baik."

Scheherazade merespon singkat lengkap bersama sebuah anggukan.

"Laki-laki itu, setelah kuberitahu tentang keberadaan Naruto Lucifer sebagai eksistensi tanpa takdir yang bisa merusak apapun. Dia mengatakan bahwa tak perlu khawatir Naruto Lucifer akan merusak banyak hal—"

"Tentu saja itu tak bisa kau percayai begitu saja, Raziel."

"Dan aku tidak."

Voila. Scheherazade menghela nafas lega Raziel tak bertindak diluar dari apa yang dia takuti. Lagipula siapa juga yang mau mempercayai orang yang melindungi buronan? Itu adalah tindakan paling bodoh, bahkan diantara para orang bodoh.

"—Aku justru berpikir orang ini memiliki motif tersembunyi kenapa melindungi Naruto Lucifer. Itulah sekarang ingin kucari tahu. Hanya saja orang ini ..."

"Dia kenapa?"

"Hmmn, ini benar-benar menyusahkan. Tanpa mengetahui namanya, aku kesulitan mencari informasi apapun tentangnya. Azriel pun tak bisa banyak membantu karena ketidakjelasan identitas."

Melihat Raziel mengalami kebuntuan. Scheherazade segera melakukan sesuatu untuk keluar dari jalan buntu tersebut. Sayangnya, dia juga sama tak berdayanya dengan Raziel dan Azriel tanpa mengetahui nama pria misterius itu. Dia memang memiliki kemampuan spesial mengawasi beberapa keberadaan di dunia dari Elysium, namun orang yang dilawan Raziel berada di luar status keberadaan yang bisa diawasi.

Naruto Lucifer? Well, sejak ditarik dari Elysium menggunakan Sepiroth Graal dan mendapatkan status Fate Breaker, dia tak terikat lagi pada apapun di dunia.

Membuat situasi menjadi semakin ruyam sampai Scheherazade dibuat tak bisa berbuat banyak.

Dari sini bisa ditarik satu kesimpulan. Bahkan seorang Ancient Goddes yang belum pasti sekuat apa, masih tetap bisa dibuat tak berdaya pada satu dua masalah.

Kembali ke pria gondrong berwajah tak niat hidup, Scheherazade juga baru mengetahui ada orang seperti itu. Bisa membodohi Raziel yang memiliki dua gelar masuk kategori superior. Dimana dari salah satu gelar tersebut memungkinkan Raziel mengetahui hampir semua kemampuan di dunia yang terekam dalam sejarah manapun.

"Aah, itu dia. Kenapa tak memakai kemampuan yang dia pakai ketika melawamu. Salah satunya pasti ada di perpustakaan Menara Surga, Raziel."

Malaikat tapi bukan Malaikat namun tak bisa disebut Malaikat jatuh menoleh ke Scheherazade. Ekspresi Raziel seperti mengatakan 'apa kau melupakan sesuatu?' kepada gadis—atau wanita imut yang tengah memperlihatkan wajah penuh harap.

"Dia hanya memakai katana dan tehnik berpedang sederhana melawanku, Hera. Sudah kubilang dia adalah jenius dalam pertempuran. Dia seperti sudah tahu karena tak memberitahukan namanya, kita akan memakai kemampuan yang dia pakai untuk mencari tahu tentangnya. Hanya saja kekuatan yang dia pakai dan kemampuan ruang dan waktu bernama Descorrer yang kudapat... "

"Lalu?"

"Tak informasi tentang kemampuan itu. Lalu, kekuatan yang mengalir dalam tubuhnya, hanyalah kekuatan spiritual biasa yang dimiliki manusia dengan tingkatan sebagai pembeda. Apakah dia ini manusia yang menyembunyikan keberadaannya sejak lahir sampai kemampuan teleport miliknya sama sekali tak tercatat."

Pupus sudah harapan Scheherazade. Kerutan kecil pun menghiasi wajah imut SS-Rank miliknya. Seandainya dia bukan Dewi dengan status mulia, sebuah umpatan sudah pasti terlontar dari mulutnya.

Sayangnya Scheherazade bukan Dewi sembarangan. Selain kerutan, hanya helaan nafas kecewa yang selanjutnya dia ambil sebagai respon.

"—Lebih parahnya, setelah jejak Sepiroth Graal menghilang, tak ada lagi cara melacak mereka selain muncul dalam sebuah pertarungan. Sepertinya kali ini aku butuh bantuan Michael untuk mengejar bocah nakal pengacau rencana ini."

Kepada Raziel, Scheherazade mulai merasa prihatin. Ribuan tahun bersama, Scheherazade tahu bahwa hubungan Raziel dan Ten Seraph ataupun Malaikat di Surga kecuali Azriel cukup buruk.

"Raziel."

"Ya, Hera?"

Suara lemah tak bertenaga Raziel sedikit memberi cubitan pada hati Scheherazade. Dia bahkan berani bertaruh wajah Raziel sekarang memperlihatkan kesedihan yang berusaha disembunyikan andai kata dia berani untuk melihatnya.

Garis penglihatan Scheherazade kini tertuju pada Rukh hitam yang melambai-lambaikan sayap dibalik lindungan Borg kecil di atas telapak tangannya. Rukh hitam yang seharusnya menjadi tempat semua hal tentang serangga kecil penggangu rencana bernama Naruto Lucifer setelah kematiannya.

"Bagaimana jika rencana cadangan dipakai untuk mengurus Naruto Lucifer?"

Raziel langsung tersentak ketika mendengar ucapan tak terduga Scheherazade. Mata Raziel melebar dan berucap dengan nada penolakan mutlak.

"Aku tak akan menyetujuinya, Hera! Kau sudah tahu itu."

"Tapi ... Kembali ke Surga dan mememui saudara-saudaramu—"

"Aku sudah berjanji akan membawa keturunan kakakku itu kesini apapun caranya. Jika memang kembali ke sana menemui saudara-saudaraku dan meminta bantuan mereka bisa memudahkanku menepati janjiku. Akan kulakukan!"

"Tapi aku tak mau kau kesana, Raziel! Mereka membuangmu. Kau dianggap penghianat lebih dari para Iblis dan Malaikat Jatuh. Aku berani bertaruh mereka pasti menekan semua perasaannya agar tak 'jatuh' ketika melihatmu. Aku tak percaya hanya karena satu anak nakal, kau harus kembali ke sana."

Raziel membeku. Tak pernah terlintas dalam pikirannya Scheherazade akan mengatakan semua itu.

Tapi, yang dikatakan memang ada benarnya. Agak sulit dipercaya hanya karena satu anak keturunan kakaknya, dia harus kembali ke tingkat selain tempat Azriel di Surga yang tak pernah diinjak selama ribuan tahun.

Mungkinkah riak kecil mulai tercipta setelah Fate Breaker telah muncul kembali?

Setelah memenangkan diri, Raziel menghela nafas, menaruh buka yang berada di tangannya kemudian berjalan ke Scheherazade.

Menepuk pelan kepala Scheherazade, Raziel tersenyum kecil ketika Dewi itu mendongak ke arahnya dengan kelopak yang sudah terbuka. Mata hijau bersih penuh kekhawatiran mengarah langsung ke wajahnya.

"Tak apa ... Kau tahu, aku entah kenapa merasa lebih baik dikhawatirkan olehmu, Hera. Itu cukup membantu, dan aku sangat menghargainya."

Merasa bahwa Dewi yang sudah menjadi sahabatnya ratusan tahun mulai tenang, Raziel berhenti mengelus rambut pirang itu dan berjalan keluar dari formasi batu.

Dia berbalik dan kembali melempar senyum.

"Lagipula, dibanding diriku. Kaulah disini yang perlu dikhawatirkan. Percayalah, kau lebih membutuhkannya karena menganggung banyak beban dari masa lalu untuk ditebus."

Lingkaran sihir muncul pada permukaan tanah dibawah kaki Raziel. Sebelum berpindah ke Surga, satu pesan dia berikan kepada Scheherazade.

"Seperti biasa, jika ada jiwa lain yang tiba. Kirimkan saja pesan mumpung setelah ini aku berada di Surga. Sampai nanti, Dewi dan maaf sudah membuatmu khawatir."

Setelah Raziel hilang tertelan lingkaran sihir meninggalkan Elysium, Scheherazade agak lama menatap tempat pria tadi berada sebelum pindah ke barisan Rukh di hamparan padang bunga di depan sana.

Di tengah keheningan malam abadi Realm tak diketahui ini yang bernama Elysium, gumaman rendah Scheherazade mengikisnya.

"Aku benar-benar berharap ini cepat berakhir ... Tapi kepada siapa aku harus tujukan harapan ini?"


"Haaah, aku benar-benar tak tahu lagi harus mengatakan apa, Starrk."

"Itulah kenapa aku tak ingin mengatakannya dua kali, bocah..."

Sama halnya Naruto, Starrk juga melepas satu helaan nafas panjang dari mulut.

"Tapi, itu tiga tahun lalu. Sekarang, kau sudah tak memilikinya. Tujuan untuk kembali dan menggapai Putri Gremory."

"—Ugh."

Naruto meringis pelan. Entah kenapa setiap kali membahas topik yang berhubungan dengan masalahnya dengan Rias Gremory di masa lalu selalu memberikan sedikit rasa sakit di dada dan kepalanya.

Bukti bahwa Naruto menyesal sudah menjadi Bucin-nya Rias Gremory yang rela membuang semua miliknya. Well, fuck!

"Sekarang, seperti yang kukatakan kemarin. Kau sudah banyak berubah. Setelah membuang tujuan sebelumnya, apa yang akan selanjutnya ingin kau lakukan? Capai? Tergantung jawabanmu, keputusanku bisa berubah."

"Tujuanku sekarang ya?"

Naruto membuang nafas berat dan mulai merenungi perkataan Starrk barusan. Bukan merenungi jawabannya, dia sudah memilikinya.

Di Perbatasan Hidup dan Mati tepatnya dia mendapatkan jawaban. Jika memang dia bisa kembali hidup—dan itu terkabulkan, Naruto membulatkan tekad tak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi. Mengingkari janji yang telah dia buat.

Kemudian di pertemuan dengan Irina sekitar setengah jam yang lalu Naruto menemukan tujuan lain. Tujuan yang masih terhubung dengan yang pertama tadi. Tak ingin ingkar janji kedua kalinya.

Di atas ranjang, Starrk dengan sabar menunggu Naruto selesai merenung dalam keadaan duduk bersandar pada pinggiran kamar.

"Bagaimana, bocah? Kau sudah selesai?"

Naruto mengangguk singkat. "Ya."

"Terus?"

"Bagaimana menurutmu jika salah satunya adalah membayar semua usaha yang kalian lakukan untuk membawaku kembali dari alam kematian? Memberiku kesempatan kedua ketika sudah berpikir hidupku sudah berakhir? Apakah itu aneh?"

Starrk terkekeh pelan lebih dulu sebuah jawaban sehingga membuat Naruto memberinya pelototan tajam. Ketika terhenti, dia memberi satu jawaban ringan.

"Jika itu tiga tahun lalu, pastinya aneh. Namun, sekarang tidak lagi, bukan?"

Naruto akan berbohong jika menyangkal itu tak benar. Sebelum bertemu adiknya Yuki, dia orang yang sangat berbeda. Tersenyum miris, Naruto balik bertanya.

"Waktu itu aku benar-benar brengsek, bukan?"

"Aslinya."

Starrk kembali terkekeh. Kali ini agak keras seolah puas membawa Naruto pada situasi ini hanya dengan permainan kata sederhana.

"Bajingan, kau menikmatinya."

"Tentu saja."

Naruto mendengus kesal. "Malam itu, kau tahu aku benar-benar berpikir mati adalah pilihan terbaik untuk melarikan diri dari rasa sakit—"

Kekehan Starrk berhenti ketika Naruto sudah menghilangkan wajah kesal disana. Keturunan Lucifer sudah serius, ini bagian yang Starrk tunggu.

"—Menyusuri kembali ingatanku yang hilang. Aku mengutuk siapapun yang melakukannya. Sengaja menaruh ingatan sialan berisikan pemandangan bocah kecil membantai klan Iblis yang disaat-saat terakhir sebelum kematian masing-masing dari mereka mengutuknya."

Suara 'aah' pelan adalah respon singkat Starrk yang sepertinya sudah tahu akan mengarah kemana cerita Naruto akan berakhir. Dia agak kesal sebenarnya tak datang tepat waktu di dimensi buatan Artificial Sacred Gear Azazel untuk menyelamatkan Naruto sehingga tak perlu repot membawanya kembali dari alam kematian.

Ya, Starrk hadir sebagai tamu tak diundang dan tak terdeteksi dalam konferensi tempo hari. Sebagian besar yang terjadi dia tahu kecuali pertarungan Naruto melawan pemimpin tiga fraksi dalam dimensi Azazel. Dia setidaknya benar-benar kerepotan memecahkan konsep ruang dan waktu Artificial Sacred Gear tak bernama itu untuk menyusup masuk. Sekalipun berhasil, dia terlambat karena tubuh Naruto sudah tertembus tombak berbasis cahaya Michael.

Beruntungnya tindakan terakhir Naruto mengeluarkan massa api bisa dia pakai sebagai jalur pengambilan tubuh Naruto.

Tidak hanya di Konferensi.

Beberapa bulan setelah berpisah dan dihabiskan berpikir, dia memutuskan mengawasi Naruto dan secara tak langsung memberikan bantuan.

Jangan lupa bahwa di insiden Toothy-kun Rias dan Sona meminta bantuan pihak Dunia Bawah. Bantuan yang diminta tidak terlambat, melainkan dihabisi oleh Starrk di luar area kota Kouh.

—Dan beberapa bantuan kecil lain yang tak terlalu penting untuk disebut.

'Ya, tak menghitung kematiannya yang diluar dugaan. Semua berjalan baik, bahkan lebih baik.'

Sekarang, sekarang. Dia hanya ingin tahu alasan kenapa Naruto memilih pertempuran berakhir kematian daripada berusuha merebut kubuh Azazel.

'Jika itu untuk menciptakan situasi aliansi akan menjauhkan tangan mereka dari Madara dan yang lain. Bocah ini benar-benar sesuatu sekali melebihi ekspektasiku...'

Ketika Starrk asik dengan pikiran sendiri, cerita Naruto kembali berlanjut.

"—Entah kebetulan atau tidak. Kutukan yang arahkan padaku terhubung pada beberapa kejadian, paling berdampak adalah penyerangan Konoha yang menewaskan Tobirama, Izuna, Hina dan penduduk desa. Semua seolah diatur oleh takdir agar aku berpikir bahwa mati adalah pilihan terbaik. Aku putus asa malam itu, melebihi keputusasaan tak bisa kembali ke Mekai."

Itupun membawa Starrk pada satu kesimpulan bahwa apa yang dia pikirkan sebelumnya melenceng.

'Salah ternyata.'

Selain daripada itu, ada satu hal yang menggelitik Starrk.

'Betap ironis jika takdir menginginkannya mati malam itu. Orang yang berhubungan dengannya justru membawa Naruto kembali dan menjadikannya seorang Fate Breaker yang bangkit untuk pertama kali. Sekarang dia bisa merusak seenak udel sesuatu bernama takdir itu, yang sudah tak adil miliknya tak seindah diinginkan... Ini benar-benar menarik.'

"Kau benar-benar bodoh, kau tahu, bocah—Tak peduli apapun situasinya, pasti selalu ada pilihan kedua. Hanya saja, seperti yang kubilang, kau benar-benar bodoh karena mengambil pilihan tanpa menyadari kau tak sendirian di dunia ini."

"Heh, diceramahi begitu dari seorang penyendiri garis keras sesuatu sekali rasanya." Kata Naruto mencibir.

"Menjadi begini pilihan keduaku karena yang pertama adalah bunuh diri."

"Gya gya gya gya ... Kau dan segala macam alasan omong kosongmu untuk selalu menang."

"Heh, kau tahu aku, bocah." Starrk mengukir seringai yang terlihat sedikit menyombongkan diri. "... Lanjutkan!"

Sesuai perintah Starrk, Naruto melanjutkan ceritanya. Kali ini yang dia ceritakan adalah kejadian di alam Perbatasan Hidup dan Mati. Semuanya diberitahu begitu detail tanpa kebohongan mengingat Starrk sendiri sudah menjadi penguntit pribadinya selama hampir 2 tahun sehingga menyembunyikan sesuatu takkan berguna.

Starrk sendiri hanya menganggukkan-anggukan kepala.

Kemudian, Naruto memberitahukan beberapa ingatan yang dia dapatkan selama masa pemulihan tubuhnya. Dia perlu melakukan itu untuk menemukan jawaban dibalik tindakan Madara dan Vali. Naruto sudah tahu kalau keduanya melakukan sandiwara. Dia juga sudah mendapat cara menyelesaikannya.

Hanya saja yang sama sekali tak Naruto sangka adalah bagaimana Madara dan Vali agar dia mau melakukan apa yang mereka minta.

Hey ayolah? Sampai mengatakan ingin membunuhnya? Bukankah itu sangat berlebihan?

Adik kandung dan guru sekaligus figur kakaknya ituloh.

Lihatlah bagaimana akibatnya. Setelah tindakan kedua bangsat itu di penghujung konferensi. Keputusasaan mendatangi Naruto, beruntung Kurama datang sebagai penyelamat.

Sayangnya ketika Naruto menelusuri kembali alam bawah sadarnya mencari ingatan tentang ibu dan kehidupannya bersama Vali, yang didapat adalah ingatan buruk sehingga Naruto yang sudah mulai bangkit dari jurang keputusasaan malah terjatuh lagi, bahkan lebih dalam. Saking dalamnya sampai Naruto tak bisa memikirkan cara selain mati untuk menyelesaikan semuanya.

Sekarang sangat jelas. Tsundere Madara adalah sumber sakit kepala bagi Naruto dan kelompoknya.

"... Dan begitulah. Jika Madara dan Vali ingin aku melakukan ini hanya untuk mencari tahu apa yang terjadi sebelum bertemu Ero-Sennin dan sesudah berpisah dari Vali, lalu memastikan siapa sebenarnya aku ini. Cukup meminta saja, pasti akan kulakukan. Tak perlu sampai membuatku berpikir hanya satu jalan keluar ... Bah, dua bajingan itu benar-benar memberi rasa sakit di pantat sampai kepalaku."

Starrk mendesah. Punggungnya sedikit didorong kebelakang. "Untuk satu ini, aku tak akan ikut campur. Ini urusan kalian bertiga." Katanya sambil menggaruk kepala belakang malas.

"Aku tak akan memulai sebelum menyelesaikan masalah ini. Aku sudah memiliki beberapa ... Tapi, tak bisa dilakukan jika tak kembali. Sungguh merepotkan."

"Kalian benar-benar kelompok yang menyusahkan."

"Mau bagaimana lagi. Kau tahu, mendapatkan kepercayaan Uchiha keparat itu benar-benar sulit." Sangat jelas bahwa ada nada kesal terselip disana ketika Naruto menyebut klan Madara yang dilengkapi sindiran.

Nampaknya lama berlatih di bawah bimbingan Madara juga telah membuat Naruto mengenal pria itu seperti Hashirama. Seperti pada masalahnya dengan Rias, Madara baru percaya telah selesai ketika Naruto meluluhlantakkan kelompok Gremory dalam insiden Kokabiel.

"Lalu, bagaimana caramu mendapatkan kepercayaan Uchiha kembali?"

"Tentu melakukan apa yang dia ingin aku lakukan. Lalu buktikan dengan cara lama."

"Cara lama?" Alis kiri Starrk terangkat beberapa senti. "Apa itu?"

Naruto mendongak ke langit-langit. Hembusan nafas berat dia keluarkan. Dia benci melakukan ini, tapi dari siapa dia dapatkan mendapatkan kepercayaan memaksanya untuk melakukan ini.

"Bertukar tarian."


TBC!

[TrouBlesome Cut!]