Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[ I hate you all ]

~ Chapter 58 ~

.

.

Pagi ini, terbangun dan mendapat area tempat tidur di sebelahku telah kosong, semuanya sudah pergi bekerja, setiap pagi akan seperti ini dan aku tidak merasa masalah, masing-masing dari kami punya kesibukan setiap pagi, menatap meja yang ada di kamar kami, sebuah amplop putih yang cukup tebal dan selembar memo di atasnya.

Gunakan ini, jangan sungkan ketika kau ingin meminta uang, sekarang kau adalah istriku artinya kau adalah tanggung jawabku.

Membuka amplop itu dan isinya ada beberapa lembar uang dalam jumlah yang aku perlukan, semua ini dari Sasuke, apa dia tahu jika aku perlu uang? Apa dia melihat lembaran itu? Aku berusaha mencarinya dan lembaran itu masih aman di dalam tasku, atau Sasuke memang sudah melihatnya dan melakukan hal ini, aku jadi tidak enak padanya, mencoba mengirim pesan padanya.

Sakura :( Aku akan mengganti uangmu secepatnya )

July-24 :( Apa maksudmu? )

Sakura : ( Uangmu, maksudku, aku akan mengembalikan uangmu secepatnya )

Dreet..dreett…dreett..

Ponselku berdering.

"Halo."

"Apa kau ini bodoh? Atau kau sedang lupa ingatan? Kenapa kau menggunakan uang dariku seperti aku ini teman yang meminjamkan uang untukmu?" Nada suara Sasuke terdengar kesal.

"Aku hanya merasa tidak enak padamu."

"Kau tidak membaca baik-baik memoku? Kenapa harus bersikap seperti orang asing di dalam keluarga? Hey, istriku yang bodoh, sekali kali lagi kau bersikap seperti ini, aku akan memberimu hukuman!."

"Ma-maaf."

Aku benar-benar malu akan ucapanku sendiri, aku masih selalu bersikap seperti aku ini bukan bagian dari keluarganya, sekarang aku istri sah Sasuke, aku harus bersikap sebagai istrinya bukan sebagai teman yang di kenal atau pacar, baru saja terasa seperti sangat akrab, sekarang harus melampau batas dari akrab itu, kami adalah keluarga yang utuh.

Kembali mengetik sebuah pesan untuk Sasuke.

Sakura :( Terima kasih suamiku, aku akan menggunakan uang ini sebaik mungkin )

Mengetiknya saja membuatku sangat malu, aku sangat malu bersikap seperti ini pada Sasuke, walaupun seharusnya aku wajib membiasakan diri.

July-24 :( Luluslah dan jadilah dokter yang hebat, buktikan jika kau mampu menjadi seorang dokter)

Tersenyum membaca pesan itu, aku harus terus percaya padanya dan aku tidak boleh bersikap seperti itu lagi, dia akan marah besar padaku.

Aku sudah bertekad untuk menyelesaikan masa kuliahku dan menjadi seorang dokter, aku juga ingin buktikan pada kedua orang tuaku jika kami mampu hidup bersama meskipun dalam keadaan yang sulit.

.

.

.

.

.

Tiba masa ujian meja dan aku sedikit terkejut ketika melihat beberapa tim penguji kami, salah satunya adalah ibuku, aku bahkan tidak berani menatap matanya.

Apa ibu akan bermain adil kali ini? Atau dia sengaja datang untuk membuatku tidak lulus, keadaan di ruangan aula itu pun cukup membuatku sedikit tertekan, sesekali melirik ke arah Haku dan Haku pun ikut melirik ke arahku, suasananya begitu tegang hingga mereka selesai mengajukan pertanyaan masing-masing pada kami.

Ibu terlihat biasa saja, bahkan tidak ada perlakukan khusus darinya.

"Gila! Aku hampir tidak bisa bernapas di dalam!" Ucap Haku, dia juga merasakan perasaan yang sama setelah kami selesai dengan ujian meja

"Aku juga merasa tidak percaya diri tadi." Ucapku, walaupun semua jawaban aku jawab dengan tenang, tapi aku tidak tahu hasil dari penilaian mereka.

"Salah satu dokter dari tim penguji itu adalah ibumu 'kan? Aku pernah melihatnya waktu acara pernikahan yang kacau itu." Ucap Haku dan menatapku khawatir.

"Iya, dia adalah ibuku." Ucapku dan sedikit murung.

"Masih merasa bersalah?" Ucap Haku padaku.

Sejujurnya ya, aku terus merasa bersalah setiap mengingat mereka, tapi aku tidak bisa katakan ini pada Haku, aku harus menyembunyikan perasaan ini terus menerus, lagi pula, aku terfokus akan penampilan yang berbeda dari Haku hari ini.

"Aku tidak percaya kau akan berhenti menggunakan pakaian wanita dan berpakaian pria hari ini." Ucapku, mengalihkan topik pembicaraan kami.

Haku datang menggunakan wig pendek pria dan setelan jas pria untuk ujian kali ini, wajahnya masih tetap cantik, dia jadi pria cantik hari ini.

"Aku tidak ingin mendapat omelan dari para dosen dan dekan lagi, cukup hari ini saja aku menyamar." Ucapnya.

"Bagaimana dengan suamimu?" Godaku.

"Dia akan pulang demi melihatku wisuda." Ucapnya bersemangat.

"Akhirnya kalian akan bertemu kembali."

"Iya, aku sangat mengharapkan itu, dan kata Zabusa, setelah aku lulus, dia ingin mengajakku ke kota Kiri." Ucap Haku, mereka sudah punya rencana kedepannya, itu sangat bagus.

"Aku senang mendengarnya, apa kita perlu membuat acara perpisahan?"

"Ide yang bagus, aku akan membuat pesta dan mengundang teman-temanmu saja."

"Kau mengenal mereka?"

"Akibat misi membawa kabur pengantin waktu itu, aku jadi kenal dengan teman-teman sekolahmu, mereka sangat baik dan sangat peduli padamu." Ucap Haku.

Aku harus mendengar bagaimana mereka menyusun rencana itu, aku sangat penasaran akan ide mereka.

"Sakura." Menghentikan pembicaraan kami dan menoleh setelah mendengar panggilan itu. "Aku ingin bicara denganmu." Ucap Ibu.

Menatap Haku dan dia menyuruhku untuk cepat pergi, aku tidak tahu harus berbicara apa pada ibu, menghampirinya dan ibu mengajakku di area yang tidak begitu ramai.

"Selamat atas ujian mejamu." Ucap ibu, itu terdengar seperti basa-basi.

"Apa ibu datang untuk mengejek keadaanku?" Ucapku, aku sangat gugup berbicara pada ibu seperti ini, aku tahu, aku sudah menjadi anak yang jahat baginya.

"Aku tidak ada niat untuk mengejekmu, kau sudah menjadi wanita dewasa sekarang, ibu hanya sedang melihat pencapaianmu hingga saat ini meskipun kau telah bersama pria itu. Kau cukup kurus sekarang, apa keadaanmu baik-baik saja? Apa dia mengurusmu dengan baik? Apa dia memberimu kehidupan yang layak? Ibu tidak mau dia menyusahkan hidupmu." Ucap ibu dengan segala pertanyaan yang bertubi-tubi.

Terdiam dan hanya menatapnya, ibu adalah wanita jenius yang memiliki segudang pemikiran sebagai seorang wanita berpikiran lebih kritis, bagaimana pun aku berbicara padanya, dia memiliki banyak balasan dari setiap ucapanku, aku akan sulit mengalahkan ibu.

"Terima kasih jika ibu sudah repot-repot mengkhawatirkan keadaanku, sampai detik ini aku dan suamiku baik-baik saja, aku juga berharap ibu dan ayah baik-baik saja, aku ingin minta maaf jika selama ini aku menjadi anak yang buruk bagi kalian." Ucapku, aku ingin segera pergi dari sini, aku tidak tahan melihat ibu dan merasa sangat sedih.

"Baiklah, ibu juga harus pergi." Ucap ibu, dia berbalik dan terus berjalan menjauh tanpa melihatku kembali.

Aku merasa sedikit lega walaupun tak sepenuhnya, mereka tidak menyeretku pulang, itu hal yang tidak ingin aku harapkan, aku merasa ini akan baik-baik saja.

Aku kembali bertemu Haku dan Haku mengatakan sesuatu padaku.

"Bagaimana pun juga dia adalah ibumu, aku melihat raut wajahnya yang sangat sedih hingga meneteskan air mata saat masuk ke dalam mobil." Ucap Haku dan hal itu membuat dadaku terasa sakit, aku tidak bisa menahannya dan menangis begitu saja.

Aku minta maaf ibu.

Pulang ke rumah dengan perasaan yang sangat kacau, perasaanku jadi campur aduk.

"Kau sudah pulang?" Ucap Sasuke, dia pulang jauh lebih cepat. "Bagaimana ujianmu? Aku harap-" Ucapan Sasuke terputus, aku berlari ke arahnya dan memeluknya erat, lagi-lagi aku menangis seperti ini, Sasuke sampai kebingungan akan sikapku hari ini.

"Aku pulang." Aku mendengar suara kak Itachi dan dia melihat kami berdua. "Apa yang kau lakukan pada adik iparku! Apa kau membuat masalah lagi!" Teriak marah kak Itachi, dia seperti sedang memarahi Sasuke.

"A-aku tidak melakukan apa-apa padanya! Kenapa kakak menyalahkanku!" Protes Sasuke.

"Maaf, aku tidak apa-apa, ini bukan salah Sasuke, kakak jangan memarahinya." Ucapku dan menyeka wajahku.

"Sungguh? Kau baik-baik saja? Apa perlu sesuatu? Kau bisa katakan padaku Sakura." Ucap kak Itachi, dia terlihat sangat khawatir, selama ini aku tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini, aku tidak punya kakak, dan sekarang kak Itachi sangat memperhatikanku sebagai adiknya.

"Aku masih bisa mengatasinya, kakak jangan khawatir." Ucap Sasuke.

"Aku masih tidak percaya padamu jika kau membuat Sakura menangis."

"Ha? Apa kakak pikir aku tega pada istriku sendiri?"

"Ya, siapa tahu saja kau tega pada adik perempuanku."

Aku jadi merasa bingung, tapi keduanya membuatku merasa tenang, mereka sama-sama menganggapku sangat penting dalam keluarga kecil ini.

"Terima kasih, aku senang kak Itachi dan Sasuke sangat memperhatikanku, aku hanya bertemu ibu tadi, jadi aku merasa sedikit kepikiran." Ucapku.

"Begitu yaa, maaf jika kami terlalu ikut campur." Ucap kak Itachi.

"Eh? Kakak jangan mengatakan seperti itu, kalian sudah menjadi keluarga bagiku, semuanya juga sudah menjadi keputusanku." Ucapku, seharusnya tidak mengatakan hal tadi dan membuat kak Itachi menjadi merasa bersalah. "Aku tidak akan membahasnya lagi, maaf." Ucapku.

"Tidak masalah Sakura, semua juga perlu kami ketahui, katakan saja jika kau ada masalah." Ucap Sasuke.

Aku sangat beruntung bersama keluarga kecil ini, meskipun aku meninggalkan segala yang aku miliki dulu, tapi itu adalah milik kedua orang tuaku, sekarang aku bisa belajar banyak hal selama bersama kak Itachi dan Sasuke.

"Ceritakan bagaimana ujianmu hari ini?" Tanya Sasuke padaku.

"Aku menjawab apapun dengan lancar." Ucapku dan tersenyum senang, aku juga lega akan semua hal yang aku lakukan hari ini.

"Kita harus membuat pesta kecil untuk Sakura yang telah selsai ujian. Aku akan memasak enak buat kalian." Ucap kak Itachi.

"Aku akan membantu kakak." Ucapku.

"Tidak, sebaiknya kau istirahat, Sasuke kau yang harus membantuku." Ucap kak Itachi.

Aku mendapat kehangatan tersendiri dari keluarga kecil ini.

.

.

TBC

.

.


update...~

ya author masih batuk dan begitu lah, hehehe, nanti hilang sendiri, :) bagaimana mau hilang kalau minum es mulu, ehehehehe.

.

.

See you next chapter!