Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[ I hate you all ]

~ Chapter 59

.

.

Hari wisuda.

Ini bukan akhir dari perjalananku untuk mencapai apa yang aku impikan sejak dulu, setelah lulus aku harus kembali mengambil bagian spesialis agar bisa menyamai ibu, aku tidak berharap banyak dari apa yang aku bisa, tapi aku juga perlu banyak biaya untuk hal ini, tapi Sasuke, dia terus mendorong untuk melakukan apapun yang aku mau.

Hari ini pun kembali menjadi salah satu mahasiswa terbaik dengan peroleh nilai lulus yang sempurna, aku sedikit gugup akan pencapianku ini, tapi aku sudah terbiasa, terbiasa berdiri lebih ke depan dari pada anak-anak lainnya.

Sejak kecil aku terus mendapat posisi pertama dan menjadi kebanggakan tersendiri untuk kedua orang tuaku, namun kali ini aku tidak bersama mereka lagi, setelah kasus kawin lari, ya aku rasa saat itu kami seperti kawin lari, aku tidak tahu bagaimana pikiran ibu setelah bertemu denganku saat ujian meja itu, dan ayah, aku yakin dia jauh lebih kecewa hingga tidak ingin memperlihatkan dirinya di hadapanku, aku sudah harus menerima konsekuensi ini.

"Ada apa? Kau tegang?" Ucap Haku.

"Sedikit." Ucapku, menatap Haku, dia terlihat lebih berbeda, meskipun wajah cantiknya itu sulit tertutupi. Mau bagaimana pun dia harus berpenampilan sebagai seorang pria untuk hari wisudah kami.

"Aku yakin kau bisa mengatasinya." Ucap Haku dan tersenyum padaku.

Melirik ke arah kursi tamu undangan, aku mengajak kak Itachi dan Sasuke, saat ini hanya mereka keluargaku, dan di samping mereka ada teman-temanku, mereka merasa wajar ketika aku jauh lebih dulu lulus, lagi pula mereka juga akan lulus sebentar lagi, aku dengar Ino, Shion, dan Temari berusaha keras untuk kelulusan mereka, apalagi Temari sering bersama Shikamaru, pacarnya itu ingin dia cepat lulus. Taruho tidak bersama kami, dia memiliki jadwal wisudah yang sama, dia pun sangat pintar dan mendapat posisi terbaik, itu yang di ceritakan Shion, dia sangat iri akan kepintaran pacarnya, dari dereten kursi lainnya, aku bisa melihat Zabusa disana, kata Haku dia melakukan penerbangan dan tiba jam 3 pagi hanya untuk melihat Haku wisuda, suami yang begitu pengertian.

Sebentar lagi acara ini akan selesai dan acara yang sebenarnya sedang menunggu, Haku benar-benar membuat pesta untuk acara wisuda kami, tamu-tamunya hanya orang-orang dekat kami saja dan tentunya untuk saling lebih akrab.

.

.

.

.

.

Di sebuah resort yang di reservasi khusus, ini resort milik Zabusa, salah satu resort yang di kelolahnya di Konoha, semua sudah di persiapkan jauh hari oleh Haku, dia bahkan memilih dekorasi dan juga menu makanannya, resortnya di tutup sementara waktu untuk kepentingan pribadi, Zabusa ingin pesta ini hanya khusus untuk kami dan dia tidak mengundang siapapun termasuk rekan kerjanya.

Aku bisa melihat semuanya, mereka berbicara dan sesekali ada tawa di sana, aku tidak menyangka jika kak Hana akan datang.

"Aku belum benar-benar mengatakan terima kasih pada kakak." Ucapku padanya.

"Tidak perlu, lagi pula aku senang membuat masalah dengan pria bertato Ai itu." Ucapnya dan membuatku bingung. Membuat masalah? Apa sejak awal kak Hana sengaja menyerang kak Gaara? Dia bahkan tidak peduli jika terjadi perang antaramereka.

"Kakak jangan seperti itu, disini ada Temari, kau harus menghargainya." Tegur Kiba.

"Aku juga tidak peduli pada psikopat itu." Ucap Temari, kau sedikit keterlaluan Temari, meskipun begitu, dia adalah kakakmu.

"Kenapa kau tidak mengajak kak Kankuro?" Tanyaku pada Temari.

"Dia sibuk bersama kak Gaara, aku rasa dia tidak akan bisa kemana-mana, sekarang ayah dan ibu ingin kak Kankuro mengawasi kak Gaara." Ucap Temari.

Aku mendapat alasan kenapa akhir-akhir ini aku tidak melihat kak Gaara, dia di pindahkan ke perusahaan cabang lain untuk mengurusnya dan kak Kankuro akan mengawasinya.

Temari menceritakan sedikit apa yang kedua orang tuanya lakukan dan Temari pun sudah menceritakan segalanya, termasuk sikap anek kak Gaara padaku, aku merasa tidak enak pada kedua orangnya, lagi-lagi aku terlibat masalah, tidak cukup saat aku mengganggu pertunangan Kiba dan Temari, tapi itu rencana Kiba, sepertinya aku semakin terlihat buruk dihadapan kedua orang tua Temari.

"Jangan di pikirkan, lagi pula ini salah kakak, dia yang tiba-tiba menyeretmu hingga menjadi masalah seperti ini, kedua orang tuaku meminta maaf padamu dan meminta maaf pada kedua orang tuamu, tapi aku rasa kedua orang tuamu cukup syok setelah melihatmu kabur, aku juga merasa sedikit bersalah, hanya saja aku tidak menyesal menyelamatkanmu dari kakakku." Ucap Temari.

"Aku juga, aku tidak menyesal, kau dan Sasuke harus bersama." Ucap Kiba.

Mereka kembali menceritakan bagaimana mereka bertemu Haku dan memintanya menyamar, sebelumnya aku pernah membawa Haku dan mengenalkannya pada Temari.

Lalu, sesuatu yang membuatku merasa tidak enak, aku sempat curiga pada Haku dan Zabusa tentang kebohongan mereka.

"Kakakku itu pandai mengarang cerita, jadi jangan dengarkan dia." Ucap Temari.

Aku meminta maaf pada Haku dan Zabusa, sejak awal Zabusa tidak tahu apapun, dia hanya bersama kak Gaara karena persoalan bisnis.

"Aku minta maaf." Ucapku, aku sudah curiga dan mencap Zabusa itu pembohong.

"Itu adalah hal wajar, mengingat aku dan Gaara cukup dekat." Ucap Zabusa.

"Bagaimana jika kau bekerja sama denganku? Aku punya banyak penawaran." Ucap kak Hana.

Dimana-mana mereka tetap berbicara bisnis.

Menghentikan pembicaraan yang berat ini dan mendengar ucapan Taruho.

"Setelah aku mendapat kerja, aku akan melamar Shion." Ucap Taruho, dia jadi sangat berubah, aku masih mengingatnya, sekarang dia jadi pria yang lebih dewasa.

Shion jadi terlihat sangat malu.

"Selamat! Itu kabar yang baik." Ucap Ino.

"Kau tidak membawa pacarmu?" Goda Shion.

"Ka-kami belum pacaran, hanya dekat saja." Ucap Ino dan terlihat malu, aku masih penasaran akan pria yang mereka ceritakan dulu.

"Sampai kapan kalian terus dekat? Padahal sering menghabiskan akhir pekan bersama." Ucap Shion, dia terus mengganggu Ino.

"Hentikan itu!" Ucap Ino dan dia semakin malu.

"Maaf mengganggu pembicaraan kalian, aku berterima kasih kalian sudah hadir di acara wisudaku dan Sakura dan juga pria yang bernama Taruho, selamat juga untukmu, tidak lupa ini adalah pesta kecil pernikahanku dan Zabusa." Ucap Haku.

Sebelumnya semuanya tidak percaya jika mereka akan menikah, tapi melihat kemesraan mereka berdua, kami harus merasa wajar saja, lagi pula Haku terlihat cantik dengan pakaian yang di kenakannya.

Pesta kecil ini menjadi cukup ramai dan mereka sibuk melakukan permainan, disini ada set karaoke juga dan semua heboh untuk bernyanyi dan bersorak.

Apa-apaan ini? Aku merasa tidak ada bedanya saat kami lulus sekolah maupun wisuda, semua masa-masa yang berlalu sekarang terulang kembali.

Kali ini kak Itachi yang bernyanyi, aku belum pernah mendengar suaranya saat bernyanyi, apa sebagus suara Sasuke? Semuanya menjadi tenang, setelah suaranya keluar, mereka menjadi heboh, apa kalian ini anak sekolahan yang tidak bisa tenang? Mereka sangat berisik bersorak untuk kak Itachi.

"Aku tidak tahu jika kak Itachi bisa bernyanyi." Ucapku pada Sasuke.

"Kakak memang sangat pandai dalam segala hal." Ucap Sasuke, dia pun memuji kakaknya itu.

Aku rasa dia kakak yang sempurna, tampan, jenius, pintar masak, punya selera humor yang tinggi, penyayang, apalagi yaa? Semuanya! Tapi aku tidak pernah melihatnya dekat dengan seorang wanita.

"Hey, apa kak Itachi tidak memiliki pacar?" Bisikku pada Sasuke.

"Aku tidak pernah melihatnya bersama seorang wanita." Ucapnya. Sasuke menceritakan bagaimana kak Itachi dulu, saat mereka begitu sulit, semua perhatian kak Itachi hanya tertuju pada Sasuke, dia tidak pernah memikirkan hal lain selain adiknya. Aku jadi sangat tersentuh akan sikap saudara kak Itachi, aku jadi sangat beruntung menjadi adiknya, walaupun hanya adik ipar.

"Apa kau tidak berencana mencarikan seorang wanita untuknya?" Ucapku.

"Tidak, dia akan sangat marah padaku dan menganggap aku tidak peduli padanya lagi, aku tidak mengerti akan sikap kakak." Ucap Sasuke.

Kak Itachi tipe pria yang rumit juga, aku tidak menyangka dia lebih memilih hidup sendirian dari pada harus memiliki pasangan, apa di tempat kerjanya tidak ada yang meliriknya? Bagaimana kak Itachi bekerja? Atau dia tipe seperti Sasuke, cuek pada semua wanita.

"Kenapa menatapku?" Ucap Sasuke, aku terus memperhatikannya, mungkin saja kakak-adik ini memiliki sikap yang sama.

"Tidak, hanya penasaran saja." Ucapku.

"Penasaran, apa?" Ucap Sasuke dan memicingkan mata ke arahku.

"Ti-tidak ada." Panikku, aku jadi gugup saat dia menatapku seperti itu.

Sasuke mendekat perlahan, lebih tepat ke arah telingaku dan berbisik.

"Kau tidak lelah? Aku ingin segera tidur." Bisik Sasuke, kenapa aku jadi merinding saat dia berbisik seperti ini!

"Hey, yang disana! Ini pesta umum tidak boleh bermesraan!" Teriak Kiba, dia bahkan menggunakan mic sambil teriak.

"Kecilkan suaramu Kiba!" Protes yang lainnya.

Sasuke sudah menjauh dan aku hanya tertawa melihat mereka protes pada kami.

Aku rasa Kiba pun perlu seseorang yang bisa mendampinginya, tapi mungkin wanita itu harus tidak takut pada latar belakang keluarganya, berbeda dengan Shikamaru yang menerima bagaimana pun latar belakang keluarga Temari.

Pestanya terus berlanjut jika mereka tidak segera berhenti, mereka bahkan adu minum hingga mabuk, suara nyanyian mereka tidak jelas dan beberapa dari kami harus sadar.

.

.

.

.

.

Terbangun di pagi, selimut tebal, ranjang yang empuk dan oh tidak! Dimana pakaianku? Semalam aku hanya minum sedikit dan sudah membuatku mabuk, pelukan erat ini, menatap wajahnya, Sasuke masih tertidur, acaranya tidak terkendali lagi setelah mereka mabuk, aku rasa Sasuke tidak minum banyak dan bisa mengantarku ke kamar, semuanya pasti sedang tidur.

Tunggu, apa aku tidak membuat masalah semalam? Ini sangat memalukan! Meskipun Sasuke suamiku, tetap saja aku tidak boleh menjadi wanita yang agresif.

"Kenapa kau bangun sangat pagi? Hari ini kau harus banyak istirahat, kau sudah lulus dan tidak perlu ada yang di urus lagi." Ucap Sasuke. Aku membuatnya terbangun, pelukannya mengerat.

"Aku harus mengurus ijasahku!" Tegasku.

"Kau bisa mengurusnya nanti, apa kau tidak peduli pada suamimu? Sedikit saja berikan waktu untuknya hari ini." Ucap Sasuke,

Jangan bertingkah menggemaskan seperti itu! Kenapa aku yang malu mendengarnya berbicara!

"Apa kau masih mabuk?" Ucapku, aku curiga jika dia mabuk.

"Aku tidak minum." Ucap Sasuke.

"Aku tidak percaya padamu." Ucapku dan melepaskan pelukan Sasuke, sayangnya pelukan itu semakin mengerat dan aku kesulitan.

"Kau bisa menciumku dan rasakan sendiri apa aku minum?"

bluusht!

"Ba-baik! Aku perca-hmpp!" Aku tidak bisa berbicara apa-apa lagi, Sasuke segera menciummu seperti apa yang di katakannya, ciuman yang menuntut di pagi hari dan harus segera aku akhiri, aku kesulitan bernapas dan Sasuke santai-santai saja, sampai detik ini aku tidak pandai melakukan ciuman seperti yang Sasuke lakukan.

Kecupan ringan dan kembali sebuah pelukan erat.

"Selamat atas kelulusanmu." Ucap Sasuke padaku.

"Uhm, terima kasih, terima kasih atas segalanya." Ucapku, ya aku rasa perlu berterima kasih padanya, aku hampir pada batasku untuk bertahan kuliah dengan segala yang aku pikirkan.

"Kau ingin menemui orang tuamu?" Tanya Sasuke tiba-tiba.

Menjauh darinya dan menatap Sasuke, apa yang di pikirkannya?

"Kenapa? Kenapa aku harus menemui mereka?" Tanyaku, bingung.

"Mereka kedua orang tuamu, jangan lupa kau masih memiliki mereka." Ucap Sasuke.

Sejenak aku merasa tidak senang akan ucapannya, kenapa harus membahas mereka? Jika mereka peduli padaku, mereka akan segera mencariku dan datang padaku, tapi aku rasa itu tidak mungkin, ayah tidak menyukai Sasuke, begitu juga ibu, jika mereka tidak menyukai suamiku, maka mereka juga tidak menyukaiku.

"Maaf jika ini membuatmu kepikiran." Ucap Sasuke, menarikku pelan ke arahnya dan memelukku kembali.

Aku hanya bingung untuk menghadapi kedua orang tuaku, seperti apa yang aku katakan pada Haku, aku tetap saja merasa bersalah jika melihat mereka.

"Aku ingin ayah dan ibu menerimamu terlebih dahulu." Ucapku.

"Seharusnya aku mencobanya, tapi tidak aku lakukan juga." Ucap Sasuke.

"Ini bukan salahmu, kenapa kau harus menyalahkan diri sendiri."

"Baiklah, kalau begitu aku akan menyalahkanmu, kau tidak bersikap baik pada kedua orang tuamu." Ucap Sasuke.

"Kenapa menyalahkanku!" Kesalku dan memukul-mukul bahu Sasuke, dia hanya tertawa dan menahan kedua tanganku.

"Aku pikir kita bisa melakukannya lagi pagi ini." Ucapnya.

"Melakukan apa?" Ucapku, bingung.

Sebuah seringai di wajah Sasuke, apa maksudnya? Apa dia meminta jatah lagi? Bukannya semalam kita sudah melakukannya?

"A-aku rasa aku tidak bisa, aku harus mandi dan menemui yang lainnya." Ucapku, panik.

"Ini hadiah dariku." Ucap Sasuke.

"Aku tidak butuh hadiah itu!"

.

.

TBC

.

.


update...~

di akhir chapter nggak perlu pakai warning yaa, rate M sudah menandakan, dan author tidak akan buat Lemon, =w= faktor malas eehehehe. mari nikmat soft-soft ini saja, tapi tetap manis _

terus, terima kasih tegurannya =w=, ya author emang bandel meskipun masih batuk, (uhuk"uhuk")

.

.

see you next chapter!