Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[ I hate you all ]

~ Chapter 60 ~

.

.

Setelah kelulusanku, tidak lama, Shion, Temari, dan Ino akhirnya lulus, mereka mulai sibuk menjalankan bisnis keluarga mereka masing-masing dan masa-masa berkumpul itu semakin sulit, aku tahu akan hal ini, sebelumnya kami juga mulai jarang kumpul hanya karena kesibukan kuliah dan beberapa masalah sempat terjadi.

Aku dengar ayah Temari menuntut Shikamaru untuk segera menikahi putri mereka dan akan menjadi salah satu penerus di keluarga Yakuza itu, aku yakin Shikamaru akan bersaing dengan kakak-kakak Temari.

Shion dan Taruho mengadakan pesta pertunangan mereka, kedua orang tua Shion sangat menyukai Taruho, andai saja kedua orang tuaku seperti mereka, aku sangat iri, aku tidak tahu kenapa mereka tidak begitu peduli pada Sasuke? Padahal Sasuke adalah pria jenius yang bahkan di incar oleh banyak perusahaan tapi dia tetap bekerja di perusaahan dengan direktur yang menor itu, selalu memakai pakaian seksi dan terus menggoda Sasuke.

Sekarang, aku pun harus kembali kuliah untuk menyelesaikan studiku dan mengambil gelarku, Sasuke tetap saja mendorongku untuk tetap kuliah, aku sudah mengatakannya berkali-kali jika kuliah dokter itu sangat mahal, tapi dia tetap keras kepala dan kak Itachi juga mendukungku untuk terus lanjut, mereka memang kakak adik yang kompak.

Aku malas kuliah lagi, sekarang aku benar-benar sendirian, Haku telah pergi bersama Zabusa ke kota Kiri, Haku tidak tinggal lagi disini, dan akhir-akhir ini.

Menatap perutku di cermin, apa aku semakin buncit? Apa aku terlalu bersemangat dengan makanan yang di masak kak Itachi? Aku tidak percaya ini, berat badanku pun semakin naik atau jangan-jangan.

Aku lupa! Ini sudah bulan keberapa! Kenapa aku tidak sadar juga!

Menatap tespack, ada dua garis terang di sana dan aku sama sekali tidak kontrol ke dokter, beberapa hari ini aku sibuk dengan kuliah dan tidak memikirkan keadaanku sendiri.

Saat malam hari, dimana semuanya berada di meja makan, bahkan hidangan lengkap ala kak Itachi tidak pernah absen, kenapa kak Itachi begitu suka memasak? Aku rasa dia perlu membuka restoran sendiri, makanannya selalu enak.

"Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian." Ucapku, sedikit gugup dan malu.

"Jika kau perlu uang, kau bisa katakan langsung, jangan sungkan seperti itu, berapa kali harus aku katakan padamu." Tegur Sasuke.

"Ini bukan tentang uang!" Protesku, apa dia tidak bisa mendengarnya terlebih dahulu?

"Apa kau perlu pakaian baru Sakura? Kita bisa berbelanja bersama." Ucap kak Itachi.

"Bu-bukan kak, aku tidak butuh." Ucapku, kak Itachi pun sama.

Keduanya tenang dan menatapku, aku jadi semakin malu memperlihatkan tespackku, mengambilnya dari saku dan menaruhnya di atas meja. Kak Itachi segera menyambar tespack itu dan melihatnya baik-baik.

"Aku akan menjadi paman!" Teriak senang kak Itachi.

"Apa maksud kakak?" Ucap Sasuke, bingung.

"Kau lihat ini, Sakura sedang hamil." Ucap kak Itachi.

"Su-sungguh? Kapan?" Ucap Sasuke dan menatapku.

"Aku tidak tahu, tapi ini sudah cukup besar, aku bahkan tidak menyadarinya." Ucapku, menarik tangan Sasuke dan menempelkannya pada perutku.

"Bagaimana kau tidak bisa menyadarinya dan selama ini kau sibuk? Kau harus istirahat!" Tegur Sasuke.

Kak Itachi terlihat bahagia akan kehamilanku dan Sasuke terlihat marah karena aku tidak menyadari apapun hingga masuk bulan ke 4, aku tidak tahu mereka akan memiliki tanggapan yang berbeda, tapi aku merasa sangat senang akan hal ini.

.

.

.

.

.

Aku mengalami masa yang normal selama jadi ibu hamil, tidak banyak hal yang terjadi padaku dan aku bisa menyelesaikan studiku, tapi mungkin akan sedikit tersendak jika sebentar lagi aku akan melahirkan, aku meminta cuti kuliah selama masa kehamilan memasuki bulan ke 8, terlalu besar dan terlalu berat untuk di bawa, anak ini makan cukup banyak, kak Itachi sampai repot memasak banyak hanya untukku.

Dreet…dreet…dreett..

Ponsel Sasuke bergetar, sebuah panggilan dari direkturnya, menatap kamar mandi, Sasuke masih belum keluar dan ponselnya terus bergetar.

"Ah, akhirnya kau menganggkatnya juga Sasuke, tolong hari kenakan baju yang lebih bagus yaa, atau kau ingin kita butik bersama? Aku bisa membeli pakaian yang sangat bagus untukmu, ada sedikit lembur saat malam hari, kau tahu 'kan, beberapa wanita senang saat melihatmu dan kita bisa lebih mudah membuat mereka menandatangi kontrak."

Sejak awal aku tidak suka akan wanita ini, dia terlalu tua untuk mengganggu Sasuke, kenapa Sasuke begitu betah bekerja bersamanya? Apa yang membuat Sasuke tidak begitu risih padanya? Aku sungguh penasaran.

"Maaf nyonya, suamiku sedang mandi, apa kau bisa meninggalkan pesan saja?" Ucapku dan hening cukup lama, aku yakin dia syok mendengar suaraku, sadarlah wahai wanita tua pengganggu! Kapan kau menjadi direktur yang sebenarnya! Sasuke telah memiliki istri.

"Ah, maaf, jika tidak sengaja berbicara padamu."

"Tidak masalah jika tidak sengaja atau pun sengaja, aku harap nyonya bersikap seperti bos sebagaimana mestinya." Ucapku, dan ini cukup membuatku kesal.

"Apa aku tidak bersikap seperti seorang bos? Sasuke tidak pernah menegur sikapku. Dia selalu baik dan menurut padaku, itu tidak berlebihan 'kan? Seorang pria baik pada banyak wanita adalah hal yang wajar."

Aku tidak tahu apa yang membuat wanita tua ini menjadi berani berbicara seperti itu padaku.

"Kau terlalu banyak bicara seperti mengenal suamiku, dia tidak seperti itu nyonya, dan tolong jaga sikap anda, hanya itu yang aku inginkan." Ucapku.

"Aku akan menjaga sikap dan juga menjaga Sasuke, dia adalah bawahan terbaikku, aku sampai sulit menjauh darinya." Ucapnya dan aku semakin kesal, nada suaranya terdengar dia berani menantangkan.

"Baiklah jika tidak ada yang di sampaikan lagi." Ucapku, segera mematikan ponsel Sasuke tanpa menunggu balasan wanita itu, aku sungguh kesal akan cara bicaranya itu.

Sasuke baru saja keluar dari kamar mandi, dia menatapku bingung, ya aku sedang marah, sangat marah.

"Aku yakin ada banyak perusahaan yang bisa menerimamu." Ucapku.

"Hn? Ada apa?"

"Bukan ada apa? Kau bisa bekerja di mana saja."

"Kau masih mempermasalahkan direkturku? Aku sudah katakan padamu jika dia tidak menggangguku."

"Aku tidak bisa melihatnya, bagaimana aku percaya dia tidak mengganggumu!" Marahku, kenapa Sasuke jadi lebih membela wanita tua itu!

"Jika kau ingin aku resign, hari ini akan aku lakukan, apa itu membuatmu senang?" Ucap Sasuke, tapi tatapannya itu terlihat tenang, apa dia berbalik marah padaku? Apa aku sedikit egois? Aku hanya ingin melindunginya.

"Terserah, aku tidak peduli kau hari ini resign atau tidak." Ucapku.

"Kau benar-benar mudah terbaca jika sedang marah, ada masalah apa? Kau bisa katakan padaku." Ucap Sasuke, dia terus menatapku, seakan aku ini bisa luluh jika di tatapnya.

"Tidak ada."

"Jangan katakan kau masih salah paham terhadapnya, direktur Mei selalu berbicara apapun yang di sukanya tanpa di saring, dia bahkan akan bersikap seenaknya, tapi aku tetap tidak peduli akan semua tindakannya, aku disana murni untuk bekerja, dan tidak ada perusahaan lain yang memandang latar belakangku, hanya direktur Mei yang tidak mempermasalahkannya."

Apa ini alasan Sasuke tetap bertahan? Direktur itu seperti tahu masa lalu Sasuke, hanya saja aku tidak tenang jika Sasuke bersamanya.

"Aku bisa lakukan apapun jika kau mau." Ucap Sasuke dan menatapku sangat dekat. "Setiap kau dalam masalah, kakakku yang akan menghajarku." Tambah Sasuke dan tatapannya terlihat takut memikirkan kak Itachi yang siap memukulnya kapan saja.

Tertawa pelan mendengar ucapan Sasuke, aku tahu, saat ini kak Itachi yang jauh lebih melindungiku.

"Kakak sangat menyayangimu, jadi tolong jangan adukan apapun padanya." Ucap Sasuke.

"Maaf sudah berbicara yang tidak-tidak padamu, aku percaya padamu." Ucapku, berusaha merangkul Sasuke, Sasuke memintaku untuk tetap diam dan dia yang akan bergerak, perut ini sedikit memberi jarak, Sasuke mengecup perutku perlahan dan memelukku.

.

.

.

.

.

Bersantai di rumah dan tidak melakukan apapun itu tidak menyenangkan, aku selalu sibuk melakukan apapun dan sekarang hanya duduk seperti orang yang sakit parah, padahal perut ini tidak mengganggu, Sasuke saja yang repot memintaku untuk tetap cuti kuliah dan tinggal saja di rumah, ponselku berdering, sebuah pesan dari Sasuke.

( Aku lupa membawa dokumen penting yang ada di atas meja, apa kau bisa mengirimnya? Gunakan saja jasa antar barang. )

Dokumen? Berjalan ke arah kamar dan menemukan lembaran dokumen dalam map coklat, jika ini penting kenapa harus di antar menggunakan jasa pengantar? Sebaiknya aku yang membawanya langsung, Sasuke benar-benar teledor kali ini.

Apa dia pikir aku tidak berjalan? Aku masih berjalan dengan membawa perut besar ini, jika bertemu dengannya mungkin bisa makan siang bersama, aku jadi ingin bertemu dengannya segera, padahal kami sudah bertemu tadi pagi.

Aku masih sangat hapal jalan menuju kantor Sasuke dan seorang wanita pada bagian resepionis terus menatap ke arahku.

"Kau gadis yang waktu itu." Ucapnya dan mencoba menebak.

"Selamat siang, anda masih mengenalku?" Ucapku, aku tidak percaya, ingatan wanita ini sangat tahan, dia masih mengingatku.

"Apa mencari Sasuke lagi? Tunggu, apa kau adalah istri Sasuke?" Tanyanya, ada tatapan seakan iri padaku disana.

"Iya, aku adalah istrinya." Ucapku dan berusaha tersenyum senang.

"Aku tidak percaya ini, seperti baru kemarin kau mencari Sasuke dan sekarang sudah menjadi istrinya, aku sungguh iri, tapi selamat yaa, dan selamat atas kehamilanmu, suamimu memiliki banyak penggemar di kantor, hampir semua staf wanita menyukainya dan sibuk mengganggunya." Ucapnya, dia bahkan menceritakan hal yang aku sudah pikirkan jauh hari, aku tidak percaya jika tidak ada yang mengganggu Sasuke meskipun dia telah menikah

"Aku datang ke sini untuk mengantar dokumen milik Sasuke, apa aku bisa bertemu dengannya?" Ucapku.

"Ah, maaf, aku jadi berbicara banyak hal padamu, silahkan tunggu di sana, aku akan memanggilnya untukmu." Ucap wanita itu, dia terlihat sangat ramah.

Setelah aku duduk di ruang tunggu, dia tidak segera menghubungi Sasuke dan malah sibuk berbicara pada teman-temannya dan sesekali mereka melirik ke arahku, aku bahkan bisa melihat tatapan terkejut itu, apa dia sedang mengatakan jika aku adalah istrinya Sasuke? Dia seperti sedang mengumumankan keberadaanku, aku ingin segera menemui Sasuke.

Akhirnya dia menghubungi Sasuke, namun sebelum itu, terdengar suara ribut-ribut dari arah lif, beberapa orang berjalan dan aku melihat kembali wanita itu, dia adalah ibu direkturnya Sasuke, apa yang mereka ributkan?

"Aku tidak mengerti bagaimana dia bisa bersikap seperti itu padaku, kita batalkan saja kontrak ini Mei." Ucap seorang wanita lainnya dengan tampilan glamor dan beberapa pria berjas hitam mengikutinya.

"Tunggu, kau salah paham! Sasuke tidak seperti itu, dia akan bersikap baik." Ucap wanita bernama Mei itu.

Suara mereka cukup keras, direktur Mei berusaha menahan wanita berdandan glamor itu, dia pun memintanya menunggu dan akhirnya aku bisa melihat Sasuke, namun dengan keadaan yang tidak terlihat baik, direktur Mei menarik Sasuke dan seakan memintanya untuk meminta maaf pada wanita berdandan glamor itu.

Apa yang terjadi?

Aku bisa melihat tatapan Sasuke, dia terlihat kesal dan mengunci rapat mulutnya, Sasuke adalah tipe keras kepala, apa dia akan mendengar ucapan direkturnya?

"Jangan membuang waktuku, cepat minta maaf." Ucap wanita glamor itu.

"Tidak, aku tidak salah dan tidak akan minta maaf." Ucap Sasuke, tegas seperti biasanya, itulah suamiku! Aku jadi sangat bangga padanya, meskipun aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka.

"Apa yang kau katakan Sasuke! Cepat minta maaf!" Teriak marah direktur Mei.

Apa-apaan dia, dia tidak boleh memarahi suamiku seenaknya, beranjak dari tempat dudukku dan berjalan lebih cepat, aku harus melindungi suamiku, aku sudah katakan pada Sasuke untuk segera berhenti dari tempat itu, meskipun direktur Mei tahu masa lalunya, tetap saja, aku tidak terima jika dia memarahi Sasuke.

Plaak!

Tersentak akan apa yang di lakukan wanita glamor itu, dia menampar Sasuke?

.

.

TBC

.

.


update...

akhirnya ending, eh? belum thor! itu masih ada TBC ! heheeh.

jadi ini adalah chapter penyelesaian yang author janjikan, tapi kenapa akhirnya malah kek ada konflik lagi? =w= iya sih, tapi konflik ini tidak akan berlarut-larut kek sinteron, emang udah janji bakalan tamat di 60 chapter, tapi author harus tutup dengan epilog dan sequel, nantinya kebanyakan penjelasan dari Sakura pov sih =w=, author tidak bisa membuat banyak pov lagi dan tidak bisa menambah scene lain lagi, kali ini khusus untuk Sakura hingga habis, soalnya emang dari pertama kisah ini merujuk pada Sakura dan orang-orang di sekitarnya dan masalah yang terjadi padanya.

di chapter ini hanya untuk menyelesaikan masalah Sasuke sih, soalnya akan menggantung jika author tidak bahas sedikit masalah Sasuke dengan direkturnya sempat muncul di chapter, uhmmm. chapter..uhmmm... lupa, author lupa awal munculnya mei =w= ya kira-kira begitu dan apa para reader masih ingat dengan prolog di awal? itu adalah clue untuk ending nanti, silahkan tebak-tebak saja. hohohoh.

.

.

See you final chapter!