Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ I hate you all ]
~Sequel~
.
.
Aku membenci mereka ketika mereka berusaha berada di dekatku dan aku tidak peduli pada mereka.
Aku membenci mereka karena mereka tidak sadar akan kepura-puraanku untuk terus bersama mereka.
Aku membenci mereka karena semua masalah di mulai dari mereka.
Dan aku membenci dia karena berusaha mengubah segalanya di dalam hidupku.
.
.
.
.
Meniup buku tahunan yang sudah berdebu itu, aku rasa ini sudah terlalu lama untuk di pajang, sebaiknya di simpan saja, membuka buku tahunan itu dan aku bisa melihat fotoku saat masih SMA dulu.
Begitu banyak kenangan yang terus membuatku ingat, banyak hal yang sulit di lupakan, dan bagaimana sikap burukku berubah karena seseorang dan karena mereka.
Ini sangat lucu, bagaimana pengaruh mereka terhadapku begitu besar, awalnya aku tidak peduli pada mereka, teman-temanku, dan pada dia, seseorang yang berusaha berada di dekatku.
Aku sudah berusaha menjauh namun mereka semakin dekat dan berbagai masalah muncul, aku tahu setiap orang punya masa lalu yang buruk, sekarang bagaimana mereka menyikapi masa lalu mereka dengan mengubah sikap mereka, termasuk aku yang perlu melakukan banyak perubahan.
Dulunya aku berusaha membohongi diriku dan berusaha menutupi fakta yang terjadi padaku, jika pintu kebohongan itu tidak aku buka, maka selamanya aku akan bersama kepalsuan seumur hidupku.
Menutup buku tahunan itu dan kembali mengatur buku yang lain, kamar ini cukup luas, bagaimana pun aku sudah dewasa dan berumur, tetap saja kamarnya terlihat luas.
"Belum bersih-bersih juga?" Tegur ibuku.
"Aku hanya akan membawa beberapa barang." Ucapku.
"Kau sungguh akan tinggal di desa itu? Kenapa tidak tinggal di kota?"
"Aku ingin hidup tenang, lagi pula semua sudah sepakat akan tinggal di sana."
"Dan Bagaimana dengan anakmu? Kau membiarkannya di sana?"
"Iya, tapi tergantung jika dia ingin sekolah kota, aku akan membiarkannya."
"Kau akan menjadi dokter di desa itu, apa keputusanmu sudah tepat?"
"Sudah, aku sudah memikirkan segalanya dan juga-" Memeluk ibuku. "Terima kasih atas segalanya, bu." Ucapku.
"Jangan berterima kasih, jika kau ingin menginap di rumah, kabari ibu."
"Tentu saja bu."
Bergegas turun dari lantai dua kamarku, membawa dua koper yang cukup berat, aku tidak ingin ibu kesulitan dan di ruang tamu aku bisa melihat ayahku bercerita dengan senangnya, aku sampai lupa jika ayah sempat marah besar padaku, dia sampai tidak ingin menerimaku dan mengusirku, sekarang dia memangku cucunya dan sibuk mengatakan kisah-kisah yang pernah di ceritakan padaku dulu, sebelumnya ayah sangat sibuk dengan pekerjaannya, sekarang dia telah pensiun namun masih akan ke kantor jika di perlukan, aku rasa itu sama saja dengan tidak pensiun.
"Apa sudah akan pergi?" Tanya ayah ketika melihatku sudah turun dengan dua koper yang sangat berat.
"Ya aku sudah siap."
"Kau sungguh akan tinggal disana?"
"Iya, jangan katakan lagi ayah, aku sudah mengatakannya pada ibu, aku sudah membeli rumah itu jauh hari dan akan menetap di sana." Ucapku.
"Selalu saja mengambil keputusan seenaknya." Sindir ayah.
"Sekarang aku juga seorang ibu, aku juga berhak memiliki pendapatku sendiri." Tegasku.
"Sudahlah, jangan bertengkar seperti itu." Ucap ibu.
"Jangan lupa sering-sering membawa anakmu." Ucap ayah.
"Iya aku akan membawanya jika sedang liburan." Ucapku.
Memanggil gadis kecilku, dia pamit dengat sangat sopan pada ayah dan ibuku.
"Sampai jumpa lagi, kakek, nenek, kami akan datang lagi." Ucapnya dan tersenyum manis.
Dia memang sungguh manis, sekarang umurnya sudah 3 tahun dan dia begitu jenius, sangat mirip dengan seseorang.
Mulai mengendarai mobil menuju jalan raya, aku sudah bisa berkendara beberapa tahun yang lalu, agar tidak sulit saat koas dan residen dirumah sakit, dia duduk dengan tenang dan sesekali memperhatikan sekitar jalanan.
Kami melewati sekolah SMAku dan aku menunjukkannya pada gadis kecilku.
"Ibu bersekolah di sana dulu." Ucapku.
"Aku juga akan sekolah disana!" Ucapnya, bersemangat.
Aku pikir karena dia hanya anak-anak, pemikirannya masih sempit dan memikirkan apapun yang aku lakukan, dia ingin menirunya.
"Kenapa kita pergi dari kakek dan nenek?" Tanyanya, semangatnya memudar, aku tahu, ini sedikit membuatnya sedih, dia sudah cukup lengket dengan ayah dan ibu.
"Karena ibu juga sudah dewasa dan punya anak, ibu juga harus seperti kakek dan nenek, ibu harus hidup mandiri." Ucapku, aku harap dia mengerti penjelasan sederhanaku ini.
"Jadi apa jika aku sudah dewasa dan punya anak, aku tidak akan tinggal dengan ibu lagi?" Tanyanya, polos.
Kau masih sangat kecil dan menanyakan hal berat itu? Atau jangan-jangan dia sudah terlalu jenius di usia sekecil ini.
"Semuanya tergantung padamu." Ucapku dan tersenyum.
"Jika dewasa nanti, aku ingin punya rumah yang sangaaat besar dan bisa tinggal bersama, kakek, nenek, ibu, ayah, dan paman." Ucapnya, dia pun kembali bersemangat.
Kami meneruskan perjalanan kami, aku melewati beberapa tempat yang sudah sangat lama tidak aku lewati, jalanan dimana aku bertemu Kiba dan Shikamaru, bermasalah dengan Taruho dan teman-temannya, toko buku itu, NC-donald, toko laundry itu, dan memarkir mobilku sejenak.
"Kenapa berhenti disini bu?" Tanyanya.
"Kita akan melihat sesuatu terlebih dahulu." Ucapku. Semoga masih ada, aku juga penasaran, yang aku dengar umurnya akan sangat lama.
Namun.
Kembali ke dalam mobil, menghela napas dan aku tidak tahu jika kucing hitam itu sudah tidak ada, kata pemilik kafe itu, dia sempat mengalami sakit yang tak kunjung sembuh hingga mati.
"Apa kita bisa pergi toko itu lagi?" Ucapnya, dia terlihat sangat senang dan antusias, aku sempat melihatnya berentaraksi dengan beberapa kucing, aku pikir dia akan takut, tapi gadis kecilku ini sangat pemberani.
Aku sedikit salut akan kafe itu, dia masih terus bertahan bahkan hingga sekarang, tidak seperti beberapa kafe yang akan cepat tutup.
"Tentu. Ayah dulu bekerja disana." Ucapku.
"Heee! Jadi ayah bersama kucing-kucing itu? Apa kita tidak bisa memelihara satu?"
"Nanti, saat kita sudah tinggal lebih baik." Ucapku.
Kembali melanjutkan perjalanan kami, begitu banyak kenangan yang terasa ketika melihat beberapa area, dan lagi aku melewati gedung perusahan itu.
Aku tidak tahu jika direktur Mei memang sengaja memancingku dan membuatku marah, dia pikir aku wanita dengan pemikiran sempit dan akan terpancing olehnya, itu benar, aku memang sempat terpancing dan membuatku merasa bodoh, tapi aku harus bersikap lebih dewasa lagi, aku harus lebih percaya pada Sasuke, dia yang memberikanku kekuatan untuk selalu percaya padanya.
Keramaian kota perlahan-lahan menghilang, gedung-gedung tinggi mulai tak terlihat dan kendaraan yang ramai pun mulai sepi, aku sudah memikirkan ini, memilih tinggal jauh dari kota.
Bagaimana kabar-kabar teman-temanku, aku cukup merindukan mereka dan sempat bertemu mereka secara dadakan.
Haku kembali ke Konoha bersama Zabusa, mereka membawa seorang anak laki-laki yang manis, katanya mereka mulai mengangkat anak itu sejak dia masih bayi, mereka sungguh pasangan yang manis meskipun memiliki kekurangan.
Ino berpacaran dengan seorang mahasiswa dari fakultas seni, tapi hubungan pacaran itu tidak berlangsung lama, setelah Ino lulus, pria bernama Shimura Sai itu melamarnya.
Shikamaru dan Temari juga sudah menikah, Shikamaru mulai sibuk dengan kegiatannya sebagai kepala keluarga Yakuza, dia benar-benar sangat terbiasa akan golongan keluarga yang tidak biasa itu, anak laki-laki mereka juga sangat mirip ayahnya.
Kabar Shion dan Taruho yang paling sulit aku dapatkan, katanya Taruho sibuk di didik oleh keluarga Shion, Taruho menerimanya dan mereka mungkin sudah menikah, tapi aku sempat mendapat masalah saat hari pernikahan mereka dan belum mengetahui kabar selanjutnya dari mereka, aku doakan semoga mereka terus bahagia bersama.
Aku melupakan seorang pria lagi, dia masih sibuk dengan perusahaan keluarganya dan sekarang dia mengikuti jejak kakaknya, kak Hana dan Kiba sibuk berkeliling di luar negeri, melakukan bisnis di sana dan disini, kapan anak itu memikirkan pasangannya? Dia sudah tidak muda lagi.
Dan terakhir, seseorang tidak aku sangka akan bertemu, kak Gaara, kami bertemu, dia datang hanya untuk meminta maaf dan akan menerima hukumannya, dia membuat masalah yang jauh lebih buruk, aku sampai tidak ingin mengingatnya lagi, aku yakin saat itu dia kecewa dengan rencananya yang sangat jahat.
Aku tidak ingin mengingatnya lagi.
.
.
.
.
.
Perjalanan kami semakin jauh, gadis kecilku telah tertidur nyenyak, dia sangat manis, sangat mirip dengan ayahnya, namanya Sarada, nama yang di berikan oleh pamannya.
Tentang kak Itachi, dia tidak memikirkan pasangan lagi hingga sekarang, aku sempat membuat rencana kencan buta untuknya dan dia memarahiku, Sasuke sudah memperingatiku untuk tidak melakukan hal itu, aku hanya tidak percaya dan mencoba membuktikannya.
Kak Itachi memikirkan jika dia seperti tidak di pedulikan lagi dalam keluarga ini hingga harus pergi dengan wanita lain, aku yakin ada yang salah dalam pemikiran kak Itachi, dia lebih ingin hidup bersama keluarga kecilnya, itu mungkin sedikit kekurangan dari pria sempurna seperti kak Itachi.
Menghentikan mobilku, aku hanya bisa memarkirnya disini, jalan menuju rumah itu seperti sebuah lorong dan tidak bisa masuk, aku bekerja di sebuah klinik yang sudah di bangun di desa.
Sudah sangat lama aku tidak kesini, sebelumnya karena ajakan Sasuke, dan aku masih ingat jika disini adalah pertama kali Sasuke menyatakan perasaannya.
"Sarada." Membangunkan gadis kecilku.
"Apa sudah sampai?" Ucapnya, membuka mata dan menguap dengan begitu lebar
"Ya, kita sudah sampai." Ucapku.
Sadara mulai turun dari mobil, tapi tingkahnya sangat menggemaskan, dia masih terlihat mengantuk dan sempoyongan, menahan tubuh gadis kecil itu dan menatapnya.
"Apa kau bisa jalan?" Tanyaku, dia mengangguk dan sesekali menguap.
Meskipun masih setengah sadar, gadis kecilku tetap saja ingin berjalan. Menggenggam tangannya dan menuntunnya ke suatu tempat.
"Kita akan ke makam terlebih dahulu." Ucapku.
Dia kembali mengangguk dan mengucek-ngucek matanya, aku sedikit kasian padanya, dia masih ingin tidur dan aku sudah membangunkannya.
Tidak beberapa lama kami sudah tiba di sebuah makam, Sarada sudah sadar sepenuhnya, tapi masih terlihat tenang, dia baru saja datang ke sini, suasana yang masih asing dan mencoba menyesuaikan diri.
"Ini makam siapa, bu?" Tanyanya.
"Kakek buyut dan nenek buyut." Ucapku.
"Lalu, kakek dan nenekku yang lain mana? Jika ibu punya kakek dan nenek di Konoha, apa ayah tidak punya kakek dan nenek?" Tanyanya.
Terdiam sejenak, Sarada tidak pernah melihat kakek dan neneknya dari pihak ayahnya, dia mulai mempertanyakan hal ini dan aku tidak tahu harus mengatakannya bagaimana.
"Mereka tidak di makamkan disini, makam mereka sangat jauh hingga sulit untuk di kunjungi." Ucap sebuah suara.
Gadis kecil ini menoleh dan terlihat sangat senang, dia sampai berlari girang ke arah pria itu.
"Ayaaah!" Teriaknya.
Tersenyum menatapnya, dia sampai menggendong gadis kecil itu.
"Sungguh? Ayah dan ibu ayah sangat jauh dari sini?" Tanyanya, polos.
"Uhm, sangat jauh dan sulit di temukan, jadi datang saja di makam kakek dan nenek buyut, itu bisa mewakilinya." Ucap Sasuke.
Bagaimana dia bisa mengarang cerita seperti itu? Setidaknya ini jauh lebih baik, mungkin jika Sarada bertanya lagi dan dalam keadaan dia sudah bisa mengerti akan apapun, aku dan Sasuke mungkin harus menjelaskan segalanya.
"Sebaiknya kau istirahat, aku yakin kau lelah berkendara dari rumahmu hingga ke sini. Bagaimana kabar kedua orang tuamu?" Tanyanya padaku.
"Kakek dan nenek sangat baik dan sehat, kakek memintaku datang kembali dan harus membawa ayah." Gadis kecilku yang menjawabnya. Aku bahkan tidak tahu jika itu adalah hal yang di bicarakannya dengan ayah. Perlahan-lahan ayah mulai menerima Sasuke.
Tersenyum menatapnya dan Sasuke menatapku.
"Sarada sudah mewakili ucapanku." Ucapku.
"Baiklah, dimana koper kalian?" Ucap Sasuke, menggandeng tanganku dan mengajakku pergi, dia masih menggendong Sarada.
Kami tiba di tempat parkir mobilku, disana sudah ada kak Itachi, Sarada kembali berteriak girang dan tidak sabaran untuk di gendong oleh pamannya.
"Huaaa, kau semakin besar." Ucap kak Itachi.
"Aku rindu masakan paman." Ucapnya. Bagaimana anak kecil itu bisa mengatakan hal seperti itu? Apa dia sudah memahami arti dari merindukan makanan?
"Paman akan mengantarmu ke rumah dan kita makan siang bersama." Ucap kak Itachi, mereka berdua pergi begitu saja.
Sejak kecil Sarada selalu lengket dengan kak Itachi, itu terjadi ketika Sasuke terus berada di rumah sakit.
"Setelah ini aku harus mengecek keadaanmu lagi." Ucapku.
"Kau dokter yang cukup cerewet." Ucapnya.
"A-apa? Kenapa kau mengejekku cerewet!" Kesalku, ingat umurmu Sasuke! Kau bahkan jauh lebih tua dariku!
"Iya-iya, aku mengerti, kesehatanku ada di tanganmu." Ucap Sasuke, memelukku erat.
"Ja-jangan lakukan disini, jika ada yang melihat kita bagaimana?" Panikku.
"Hoaa! Bukannya dia-"
Segera melepaskan pelukan Sasuke melihat dua orang gadis yang menatap ke arah kami.
"-Kakak tampan!" Teriak mereka bersamaan.
Aku seperti tidak asing mendengar ucapan mereka dan tingkah mereka.
"Kakak kenapa ada disini? Waah, kakak semakin tua semakin tampan yaa." Ucap mereka, aku sudah ingat mereka, dua gadis yang di kedai dango waktu itu, mereka sudah terlihat sangat dewasa.
"Aku dan istriku akan tinggal di sini, di rumah itu." Ucap Sasuke, merangkulku dan menunjuk rumah beratap coklat itu.
"Sungguh! Wah, kami akan sering liburan di sini jika kakak tinggal disini, hehehe, kami akan berkunjung, dah-dah." Ucap mereka, aku yakin mereka tidak peduli jika kami telah menikah mereka dan hanya fokus mendengar Sasuke tinggal di rumah itu, mereka akhirnya pergi setelah begitu heboh melihat Sasuke kembali.
"Kenapa kau jadi meladeni mereka?" Ucapku, risih.
"Kau cemburu pada kedua gadis itu?" Ucanya dan seperti tengah mengejekku lagi.
"Aku tidak cemburu! Sekarang cepat bantu aku angkat koper-koper ini." Ucapku.
Kedua gadis itu akan sering datang untuk membersihkan makam neneknya dan yang aku dengar, mereka mendapat amanah untuk membersihkan juga makam nenek dan kakek Sasuke, sekarang kami telah tinggal disini dan aku merasa mereka tidak perlu repot lagi, kecuali kunjungan mereka ke rumah kami dan begitu berisik, mereka bahkan begitu senang melihat Sarada dan mengatakan gadis kecilku adalah copy wajah dari Sasuke, jika dia anak laki-laki mungkin akan sangat tampan seperti ayahnya.
Jika aku tidak sabar, aku bisa mengusir mereka, setidaknya mereka sudah punya pacar di kota, tapi tetap mengganggu suamiku.
Rumah yang kami tempati adalah bekas rumah milik nenek Sasuke, aku membelinya setelah pemilik terakhir dari rumah ini tidak ingin tinggal lagi, aku dan Sasuke merombak segalanya dan memperbaiki bagian bangunan yang rusak, sekarang rumah ini jauh lebih bagus dan sangat luas, Sarada bebas berlari dimana pun dan dia sangat senang tinggal disini, katanya ada beberapa anak kecil di sekitar rumah dan mereka mau bermain dengannya.
Hingga malam tiba dan akhirnya istirahat, seharian kami gunakan untuk beres-beres beberapa barang.
"Dimana Sarada?" Tanyaku pada Sasuke, gadis kecil kami tidak berada dikamar kami.
"Dia jauh lebih senang jika bersama pamannya." Ucap Sasuke dan terlihat cemburu, meskipun Sarada sangat menyayangi Sasuke, tapi orang yang rajin di temuinya adalah pamannya.
"Dia akan datang padamu setelah puas bermain dengan kak Itachi." Ucapku dan terkekeh.
Kak Itachi sangat pandai mengambil hati anak-anak, itu wajar jika Sarada dekat padanya, aku rasa itu juga karena dulunya Sasuke butuh waktu lama untuk sembuh, keluarga Sabaku itu sampai menanggung segala pengobatan Sasuke hingga membawanya keluar negeri untuk masa pemulihan, selama itu Sarada hanya melihat kak Itachi.
Setelah dia besar, ibu sempat melihatku bersamanya dan memintaku untuk tinggal di rumah, ibu dan ayah memaafkanku walaupun saat itu aku merasa sangat kecewa dan marah, bagaimana mungkin mereka akhirnya menerima Sasuke dalam keadaan sakit seperti itu, mereka peduli pada kami setelah masalah datang pada kami. Aku juga tidak bisa tinggal bersama kak Itachi terus menerus, rasanya sedikit berbeda apalagi pandangan para tetangga, Sasuke saat itu masih berada di luar negeri untuk masa pemulihan.
Memikirkan saja membuatku tidak bisa memaafkan sikap kedua orang tuaku, tapi mereka tulus untuk menerimaku, bahkan putri kecilku, aku rasa sudah saatnya untuk berhenti bersikap egois seperti ini, aku selalu mengingat ucapan Sasuke untuk berhenti bersikap seperti itu, aku merasa malu setiap mengingat sikapku yang dulu.
"Sebaiknya aku memeriksamu sebelum Sarada datang." Ucapku.
Sasuke hanya mengangguk dan membuka pakaiannya, disana ada beberapa bekas operasi, merabanya dan Sasuke tidak merasakan sakit lagi atau mati rasa di setiap sendinya.
"Aku rasa berkat pengobatan itu tulangmu sudah tumbuh lebih baik, apa ada hal lainnya? Semacam keram pada bagian tertentu?" Tanyaku.
"Tidak, aku rasa sudah sangat sembuh." Ucap Sasuke.
Bersandar pada punggung Sasuke, aku juga hampir merasakan mati saat itu.
"Aku sudah sehat, jadi jangan terlalu khawatir." Ucap Sasuke.
Aku tahu, aku hanya masih memikirkannya. Kejadian itu, saat aku masih mengandung Sarada, Sasuke mengalami kecelakaan tepat di depan mataku, bukan hanya dia, tapi beberapa orang yang menyeberang bersama Sasuke.
Aku tidak bisa melakukan apapun dan di hari yang sama aku mengalami kontraksi hingga harus di bawa ke rumah sakit. Kak Itachi sampai meninggalkan kantornya, dia mendapat dua kabar buruk, aku yang kesulitan melahirkan dan Sasuke yang hampir tidak selamat.
Sasuke mengalami beberapa patah tulang dan dia sempat koma dalam beberapa bulan, aku sampai putus asa setelah berhasil melahirkan dan sempat mengalami trauma dan depresi saat mengingat kecelakaan itu. Selama itu dengan bantuan kak Itachi dan teman-temanku, mereka datang untuk terus mendukungku, membuatku terus bertahan dan tetap berpikir positif, Sasuke akan tetap hidup dia tidak akan kemana-mana, dia akan tetap bersamaku.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Ucap Sasuke, dia sudah mengenakan kembali baju kaosnya, menatapku dan sebuah usapan lembut pada pipiku.
"Aku sedikit mengingat hal yang sudah lewat." Ucapku.
"Ya, aku rasa sudah begitu banyak hal yang kita lewati bersama selama ini." Ucap Sasuke." Mengajakku berbaring dan menjadikan lengan atasnya sebagai bantal.
Terasa sangat nyaman dan lelahku mulai berkurang, aku harus berpikir untuk kedepannya dan tidak perlu mengingat hal yang sudah berlalu.
"Aku akan mencoba mencari pekerjaan." Ucap Sasuke.
"Sebaiknya kau istirahat selama beberapa tahun, aku masih bisa mengatasinya." Ucapku.
"Aku tidak bisa mengandalkan istriku saja." Ucapnya.
"Tolong jangan beradu argumen denganku lagi, kau harus istirahat selama beberapa tahun demi masa pemulihanmu, jangan membuatku khawatir terus menerus atau aku perlu sampaikan ini pada kak Itachi, aku yakin dia akan sangat marah padamu." Ucapku.
"Kenapa harus mengaduh pada kakak? Aku tidak tahu jika kakak masih akan memarahiku di umur seperti ini."
Tertawa pelan, aku yakin kak Itachi akan melakukannya, dia tidak pernah berpikiran jika Sasuke itu sudah tua dan terlalu aneh untuk di marahi.
"Ayah ibu!" Teriak cempreng gadis kecilku, anak itu begitu lincah, tiba-tiba saja masuk dan sudah berada di tengah-tengah kami, membaringkan dirinya dan membiarkan kami mengapitnya. "Aku sangat merindukan ayah." Ucapnya dan berbalik ke arah Sasuke, tubuhnya cukup kecil untuk memeluk ayahnya.
"Kenapa merindukan ayah? Ayah pikir kau hanya rindu pamanmu" Ucap Sasuke, ucapannya ingin membuatku tertawa, masih cemburu juga pada kak Itachi?
"Aku juga rindu ayah dan juga rindu paman. Selama tinggal dengan kakek dan nenek ayah tidak pernah datang." Ucapnya lagi.
Aku yakin Sasuke bingung menjawabnya, selama ini meskipun kedua orang tuaku mulai menerima Sasuke, namun Sasuke masih sulit untuk mengakrabkan diri dengan mereka, jika bertemu ayah, dia akan sangat canggung.
"Ayah sangat sibuk dengan paman." Alasan Sasuke dan mengusap-ngusap perlahan puncuk kepala Sarada.
"Tapi janji yaa, ayah dan ibu akan datang bersama ke rumah kakek dan nenek." Ucapnya, dia benar-benar cerewet dan menggemaskan.
"Tentu saja, kita akan datang bersama." Ucapku.
Sarada terlihat sangat senang, kami mulai mengatur posisi tidur kami dan gadis kecil itu sudah siap dengan posisinya di bagian tengah-tengah kami, sebuah kecupan di pipinya dari Sasuke dan tak lupa sebuah kecupan dariku.
.
.
.
TAMAT
.
.
.
pertama-tama author bakalan berterima kasih banyak untuk semua dukung dan review dan apapun yang di berikan oleh para reader, terima kasih banyak, seperti biasa selalu dan selalu author akan berterima kasih, untuk siapa lagi author akan membuat fic dan untuk apa lagi author buat fic jika masih ada yang setia mau membaca fanfic dengan fandom naruto hingga sekarang.
para reader kalian the best lah.
akhirnya fic "i hate you all" udah kelar, author membuat sequelnya di karena sering terjadi ada yang minta seqeule dan author kepikiran :D serius, jadi author cantumkan hingga sequel, author tahu pasti ada beberapa reader yang kadang kurang suka dengan alur seperti ini atau merasa bosan untuk di baca =w= tapi author tetap ketik aja karena pengen di kelarin dan author anti terhadap fic yang menggantung, (sudah sering ngomong begini)
baiklah, kita bahas sequel ini, tak banyak hal yang terjadi disini, dan disini lebih banyak penjelasan untuk semua hal yang perlu di selesaikan, mungkin beberapa chapter yang lalu harus udah tamat, tapi author ingin benar-benar semua hal di selesaikan walaupun emang alurnya jadi kemana-mana dan berputar-putar hingga bikin gemes sendiri, hehehe.
semua hal udah di jelaskan, tidak ada yang di buat penasaran lagi kan? ya endingnya begini aja sih, author tidak bisa membuat banyak alur lagi -_-" bukan buru-buru di kelarin, tapi emang fic ini udah harus kelar.
jadi kemarin emang sad ending dan di sequel ini sebagai penawarnya,
akhirnya kata, semoga puas dengan fic "i hate you all" reader senang author juga senang. kalian yang terbaik lah! *kasih jempol*
jika ada kiritk dan saran yang membangun silahkan, meskipun fic ini dah tamat, biasanya author tetap rajin baca review reader yang bahkan baru baca, bahkan fic-fic lain yang udah tamat, author tetap baca review kalian, soalnya notifnya masuk ke dalam email, jadi author masih akan tetap membaca review kalian, terima kasih banyak, dan selamat datang untuk reader baru yang mampir di akun fic Sasuke fans, *senang*
selanjutnya author akan menyelesaikan fic "gadis mimpi" itu update hari ini *promosi* dan author udah punya rencana fic baru, tapi masih bingung, mau di buat dalam bentuk oneshoot atau chapter dan author ingin minta maaf untuk fanfic request yang author udah sulit realisasikan =_= maaf, mungkin jika ada waktu lagi author akan kerjakan, tapi tetap nggak bisa janji.
apalagi ya. mungkin itu saja, hampir setiap tamat suka mengulang-ngulang kalimat yang sama, cuma bingung mau ngomong apa, hehehe.
akhir kata, sekali lagi, terima kasih banyaaak! author sayang kalian(para reader) dan tetap jaga kesehatan yaa...
.
.
Sasuke Fans
