Hanarita menebaskan pedangnya kearah mansion itu dan sontak itu membuat Sasuke dan Sakura terdiam bagaikan orang bodoh ketika melihat kekuatan dahsyat itu.
Seketika mansion yang megah itu langsung rata dengan tanah akibat kekuatan itu.
"Haah... Itu sangat menyenangkan"
Ucapnya dengan senyuman, melihat kehancuran yang ditimbulkan Sasuke dan Sakura hanya bisa terdiam merinding melihat bagaimana mengerikannya Sensei mereka.
"Aku ragu jika ada yang selamat dari serangan ini"
Ucap Hanarita ketika berjalan ditengah puing-puing kehancuran.
Ia melihat beberapa orang yang terluka parah namun apa pedulinya pada mereka yang terluka seperti itu?
'Hm?'
Ia melihat sosok pria pendek dengan tubuh gemuk terbaring diantara puing-puing bangunan yang hancur.
'Ternyata ini dia, Gato?'
Hanarita mendekat kearah Gato yang sekarat
"Ada kata-kata terakhir?"
Gato tak menjawab langsung, ia terbatuk beberapa kali sebelum matanya menatap kearah Hanarita dengan memohon
"To...tolong jangan bu...bunuh aku"
"Hmm... Mungkin... Tidak"
*Slash
Gato pun terbunuh bersama dengan semua pengikutnya di mansion itu. Sakura dan Sasuke hanya diam tak berani bersuara ataupun berkata apapun pada Sensei mereka, karena menurut mereka Sensei mereka ini jauh lebih menakutkan dari semua hal.
"Hm... Bagaimana caraku melaporkan masalah ini?"
Hanarita berdiri dipinggir sungai dengan segala macam pikiran memenuhi kepalanya.
Ia tidak mengharapkan jika semua pengikut Gato akan terbunuh dalam serangan itu. Jika semuanya mati dalam serangan, lantas bagaimana caranya bisa melaporkan semua kejadian menyangkut korupsi dan praktik cuci uang disini?
'Hah... Aku mungkin perlu banyak belajar mengenai cara menahan diri'
Hanarita kemudian berjalan kearah lain yang dimana timnya sudah menunggu.
Disana Sasuke seperti biasanya bersikap acuh tak acuh dibawah pohon dengan tangan terlipat di dadanya.
'Ara... Dia nampak imut sekali'
"Sensei!"
Sakura mulai merusak imajinasinya. Saat Hanarita mengalihkan pandangannya ke Sakura, Sakura menunjukkan sebuah kertas yang cukup menarik.
"Dimana kau menemukan ini, Sakura?"
"Di lemari yang hancur dekat puing-puing bangunan yang Sensei hancurkan"
'Kau tidak perlu mengatakan hal itu, Sakura-chan!'
Hanarita seperti sedang dihina oleh muridnya sendiri ketika mendengar nada retorik Sakura. Hanarita mulai mencari benda-benda yang masih bisa dijadikan barang bukti
Mereka berempat menemukan beberapa hal seperti dokumen yang disimpan dalam sebuah brangkas besi serta emas yang tercampur di puing-puing bangunan.
"Mungkin ini cukup?"
Hanarita menatap kearah tumpukan benda yang mereka temukan. Sakura kembali berpatroli sebentar bersama dengan Sasuke sebagai backup, sementara Sai, dia justru hilang entah kemana.
'Mungkin mereka masih membutuhkan banyak latihan lagi soal kekompakan tim'
Saat situasi menurut Hanarita sudah aman, mereka berkemas untuk kembali ke desa bersama dengan barang bukti serta tak lupa membereskan masalah yang ada disekitar
terutama yang berkaitan dengan jasad para bandit dan Gato.
'Kenapa harus aku yang menbereskan masalah Sensei?'
Keluh Sasuke ketika bekerja menggali lubang sedalam mungkin dengan Hanarita berdiri dibelakangnya bagaikan seorang majikan yang mengawasi budaknya.
"Ara? Apa yang kau lihat, Sasu-chan~"
Hanarita berkedip padanya dan itu langsung mendapat reaksi dingin darinya.
'Tcih!'
Sementara itu di desa Hujan, seorang remaja atau lebih tepatnya seorang pria cukup dewasa berdiri dengan seorang gadis remaja berdiri di depannya meliriknya dengan sangat tajam.
Gadis itu mengenakan pakaian Gothic Lolita dengan mata merah ruby tak memiliki cahaya apapun. Dari pandangan sekilas siapapun akan langsung menyadari jika gadis ini buta namun kenyataan berkata sebaliknya ketika gadis itu melirik kearah laki-laki yang sedang dipeluk oleh seorang gadis lain
"Baiklah, aku akan langsung bicara. Ruto-san, dia siapa?"
Nada Gadis itu terdengar bagaikan racun yang sangat mematikan ketika menatap gadis yang sedang memeluk laki-laki itu.
"Uhm... Ba...Bagaimana menjelaskannya... Dia ini..."
"kuu?... Dia ini siapa, Master?"
Mizuki Silvia, Gadis muda yang menjadi rekan Naruto atau yang disebut sebagai Ruto saat ini melirik kearah gadis yang sedang lengket bagaikan lem pada Ruto.
Ruto menghela nafas berat sejenak sebelum berusaha melepaskan diri dari pelukan erat gadis ini.
"Silvia, Perkenalkan. Gadis ini adalah Kurama. Salah satu dari makhluk legendaris Th..."
"The Silver Fox Kurama. Tidak kusangka aku akan melihat wujudmu secepat ini"
Silvia memberikan tatapan tajam pada gadis bernama Kurama yang memiliki ciri-ciri sesuai dengan nickname nya. Rambut perak dengan sepasang telinga rubah berwarna sama dengan rambutnya, mengenakan pakaian yang terdiri dari celana pendek serta baju kemeja putih dilapis oleh jaket panjang. Sekilas gadis bernama Kurama ini terlihat bagaikan remaja kosplay biasa, namun sepasang pedang yang berada dipinggangnya membuatnya justru seperti seorang ahli pedang yang sangat menawan.
"Dark Eater"
Sepersekian detik, tiba-tiba saja Silvia mengeluarkan kekuatan bayangan hitamnya. Kekuatan itu langsung diarahkan ke Ruto dan Kurama
"Sangat tidak sopan sekali"
Ucap Kurama dalam nada rendah.
"Yukihira"
Tubuh Kurama langsung diselimuti energi merah pekat. Semua serangan yang menyerangnya dan Ruto hancur berkeping-keping tak dapat menembus lapisan energi yang diciptakan oleh Kurama.
Ruto terkejut melihat penampilan Kurama yang berubah. Kurama saat ini dilapisi energi putih bagaikan salju yang turun saat musim dingin.
"Humf!... The Darkness Princess. Ternyata cerita dari pria tua itu adalah kebenaran"
Ucap Kurama dengan tajam ketika mengarahkan pedangnya pada Silvia.
"Ara? Kau sepertinya mengetahui sesuatu mengenai diriku ya?"
"Legenda mengenai ras kalian yang sangat keji bukanlah sesuatu yang dapat dilupakan oleh waktu"
Silvia langsung memberikan tatapan tajam pada Kurama mengenai kalimatnya yang sangat menyinggungnya.
"Dan, apakah kau layak untuk mengatakan kami sebagai ras keji sementara kau yang terkenal sebagai makhluk buas?"
*Twich "Beraninya kau"
Kurama melesat kearah Silvia dengan kecepatan tinggi dengan pedang katana dilapisi energi yang menyelimuti tubuhnya.
*Denting
"Heh... Kau masih lemah"
Silvia menyeringai lebar ketika pedang yang akan menebasnya justru tertahan dengan satu tangan Silvia.
Kurama menjauhkan dirinya dari Silvia secepat mungkin ketika instingnya memberikan sinyal bahaya.
"Souls Reaper"
Kurama menciptakan barier energi berwarna putih ketika dari atas kepalanya bayangan hitam kelam berusaha menyelimutinya.
*Tertawa
"Fufufufu... Sangat menarik sekali"
Ucap Silvia ketika menatap kearah Kurama yang berhasil menangkis serangannya menggunakan barier yang jauh lebih kuat.
*Denting
"Ara?"
Silvia menatap kesekelilingnya yang langsung berubah menjadi seperti sebuah kota yang dilapisi cahaya berwarna putih.
"City of Destruction"
Ruto melihat pemandangan ini hanya bisa terdiam tak bisa menutupi rasa terkejutnya melihat hal ini.
'Aku bisa merasakan kekuatan yang sangat besar...'
'Jangan bilang!'
Ruto melirik ke Kurama yang masih dilapisi energi itu dan tak lama ia dapat melihat jika tubuh Kurama mulai mengalami perubahan yang aneh.
Energi yang melapisinya saat ini menyelimuti seluruh tubuh Kurama dan membentuk semacam jenis pakaian tempur.
"Aku akan mengalahkanmu"
Ucap Kurama ketika membuka kedua matanya. Matanya yang mulanya berwarna kuning saat ini berubah menjadi sepasang mata dengan warna merah tajam bagaikan predator.
"Pedang Iblis, Predator"
Pedang katananya dilapisi energi yang sangat kuat sekali. Saat Kurama melesat kearah Silvia, Silvia hanya berdiri diam dan tersenyum.
"Menarik"
*Denting
Suara benturan pedang katana terdengar sangat keras. Kurama sedikit terkejut ketika yang menahan pedangnya adalah sesosok beruang boneka kecil.
"Darkness Eater"
"Tcih!"
Kurama melompat menjauh ketika boneka beruang itu akan menyerangnya dan yang benar saja, boneka itu mengeluarkan bayangan hitam jauh lebih banyak dari Silvia.
'Aku tidak percaya kalau mereka bisa sekuat ini'
Ucap Ruto ketika memperhatikan pertarungan dari kejauhan.
'Ini gawat, jika mereka seperti ini...'
Ruto melesat kearah mereka berdua yang masih bertarung dengan niat membunuh satu sama lain.
Saat keduanya akan menyerang dengan kekuatan penuh, mereka berdua langsung tersungkur akibat pukulan dari belakang.
"Ouh!"
"Kyah!"
"Kalian berdua..."
Keduanya menatap kearah Ruto yang melirik keduanya dengan tatapan kesal.
"... Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian tapi..."
"Attatata..."
"Ugh!"
Keduanya mengeluh sakit ketika telinga mereka ditarik oleh Ruto.
"... Jika kalian berkelahi seperti itu lagi, aku takkan segan-segan menghukum kalian. Mengerti"
"Uhm..."
"Uhm..."
Keduanya menganggukkan kepala.
Butuh beberapa saat untuk Kurama dapat tenang dan menerima jika dia harus berdamai dengan Silvia. Ruto sendiri terpaksa harus menjadi penengah diantara keduanya
Dari apa yang Ruto lihat keduanya memiliki masalah pribadi yang cukup panjang. Hanya saja bagaimana bisa?
Dari apa yang Ruto pikirkan, Kurama sudah disegel kedalam tubuh ini saat insiden mengamuknya Kurama di desa. Dari logika, setidaknya usia Silvia berusia tak lebih dari 4 tahun lantas bagaimana bisa mereka memiliki masalah pribadi?
'Apa mungkin ini ada kaitannya dengan keluarga Silvia yang pernah ia bicarakan saat itu?'
Pikirnya sambil menatap langit malam.
'... Masih banyak hal yang tidak ku mengerti mengenai dunia ini, tapi setidaknya. Aku masih bisa hidup dengan caraku sendiri, mungkin sebuah berkah dari tuhan'
Ruto berjalan sejenak menyusuri sungai sambil menatap pantulan wajahnya yang tampak berubah. Ia terlihat seperti pria diakhir 20an dengan fitur wajah khas laki-laki dewasa
Secara fisik, tubuh ini seharusnya masih berusia 17 tahunan namun berdasarkan penjelasan Kurama siang tadi sesaat setelah pertarungan mereka berhasil ia hentikan.
Tubuh ini memiliki dua jiwa yang berbeda yang dimana Jiwa yang saat ini (Dirinya) lebih mendonimasi dibandingkan dengan jiwa satu lagi (Naruto)
Kurama berpendapat bahwa Jiwa pemilik tubuh asli ini saat ini sedang terkunci oleh suatu alasan yang tidak iq mengerti. Kurama juga bercerita padanya bahwa dulu sekali, sang pertapa pernah meramalkan suatu masa yang dimana akan ada 2 jiwa yang saling mendominasi untuk menyelamatkan umat dari kesesatan.
'Cukup absurd untuk dipikirkan secara logika'
"Apa ada yang mengganggumu, Ruto-san?"
Sebuah suara feminin menyapanya di tengah gelapnya malam.
Sesosok perempuan dengan rambut silver yang bersinar terang disinari bulan membuatnya bagaikan sebuah permata.
Sosok itu adalah Mizuki Silvia
"Silvia? Kenapa kau disini"
"Sangat tidak sopan sekali mengalihkan pembicaraan, Ruto-san"
Silvia dapat melihat dengan jelas jika ia berusaha mengalihkan pembicaraan. Hanya saja Ruto tidak berpikir jika akan ada yang percaya atau mengerti mengenai cerita hidupnya yang aneh.
*Mendesah
"Baiklah, Maafkan aku"
Silvia mendekat dan berdiri tepat disebelahnya. Keduanya menatap aliran sungai yang tenang mengalir tanpa henti.
"Kau tahu Ruto-san, Aku merasa jika ada yang berbeda darimu"
"Apa maksudmu?"
Silvia menatapnya dengan intens, matanya yang berwarna merah ruby tanpa cahaya menusuk tepat ke jiwanya, Ruto hanya bisa mendesah sekali lagi melihat bagaimana seriusnya perempuan ini.
"Jangan mencoba menghindar, Aku tahu ada yang aneh darimu sejak pertama kita bertemu"
Silvia mendekatkan wajahnya ke Ruto dengan tatapan tajam bahkan lebih tajam dari sebelumnya.
"Siapa kau sebenarnya"
Aku sudah menduga jika akan ada waktu dimana seseorang menyadari jika ada yang aneh dariku, namun aku tidak pernah menyangka jika seseorang yang menyadari itu adalah sosok yang paling dekat denganku.
Atau setidaknya paling dekat di dunia ini
Aku hanya terdiam melihat gadis keras kepala ini yang berusaha mengorek informasi mengenaiku, sejujurnya aku tidak ingin ada satu orang pun tahu mengenai masa laluku Tapi...
Aku tersenyum sambil mengelus kepalanya sedikit.
"Baiklah jika itu mau mu, biar aku ceritakan sebuah dongeng"
Kami berdua duduk dipinggir sungai dengan tatapan kami arahkan ke langit malam yang cerah.
"Dulu sekali, disebuah kerajaan yang sejahtera hiduplah seorang anak yatim disebuah panti asuhan"
"Anak itu tidak memiliki apapun ataupun kekuatan apapun untuk bertahan hidup selain Sister yang ada di gereja yang selalu merawatnya"
Silvia hanya diam mendengarkan ceritaku yang aku ubah sedikit.
"Pada suatu hari ketika usia anak itu menginjak 13 tahun..."
Disuatu tempat jauh di Utara dari ibu kota Kerajaan Alforia.
"Apa kau yakin soal keputusanmu?"
"Aku sangat yakin, Sister. Sudah saatnya aku membalas budi padamu yang merawatku selama ini"
Anak berusia 13 tahun itu menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
Saat anak itu berangkat dengan dikawal oleh beberapa prajurit, Sister itu hanya bisa menatap dari kejauhan bagaimana sosok anak kecil yang ia rawat saat ini berusaha untuk berubah.
"Tolong, pulanglah saat kau ingin dan tetap hiduplah disaat kau jatuh"
Doa Sister itu padanya
Anak kecil itu memulai perjalanannya sebagai calon militer dengan penuh rintangan.
Saat beberapa tahun berlalu, perasaan rindunya akan tempat yang ia sebut sebagai rumah mulai menggerogoti hati dan jiwanya.
Anak itu yang sudah berusia 16 tahun dan selama 3 tahun ia berada dibawah pendidikan calon militer saat ia sendiri, ia selalu meluangkan waktunya pada malam hari menatap langit malam yang penuh dengan bintang.
Tatapannya ia arahkan pada bintang yang bersinar paling terang dengan membayangkan sosok yang paling berharga baginya.
'Aku akan pulang'
Pelatihannya berlanjut hingga ia mencapai usia 18 tahun. Saat itu adalah saat yang paling membahagiakan yang dimana untuk pertama kalinya sosok Sister itu menjadi saksi dimana ia berhasil meraih impiannya.
Menjadi prajurit kerajaan yang terhormat dan paling disegani.
"Gilbert, Selamat atas kelulusanmu. Aku sangat bahagia sekali melihatmu tumbuh dan berhasil menggapai impianmu"
Sister memeluknya dengan air mata kebahagiaan yang tidak bisa ditahankan.
Ia hanya membalas pelukan itu dengan senyuman.
"Terima kasih"
Sister dan Anak yang bernama Gilbert saling tukar pandangan dan senyuman sebelum sebuah rona kemerahan mulai tampak di wajahnya yang mulai dewasa.
"U..uhm... SisterClaire..."
"Hm? Ada apa, Gilbert?"
Anak itu mulai gelisah akan sesuatu namun wajah innocent SisterClaire justru membuat rona kemerahan di wajah Gilbert semakin terlihat jelas.
"... U...uhm... M...Maukah kau menikahiku!"
Kedua tangannya yang memegang bahu Sister itu mulai sedikit bergetar ketika melihat wajah Dia yang terdiam tak bisa berkata apapun hingga wajahnya yang cantik dengan pakaian Biarawati itu mulai tersenyum lembut padanya.
"Gilbert... Kau adalah sosok keluargaku yang sangat berharga, sama seperti anak-anak yang lain. Perasaanku padamu tak lebih dari sekedar orang tua yang melihat anaknya tumbuh aku ..."
"Tapi aku benar-benar mencintaimu! Aku tidak melihatmu sebagai orang yang menyelamatkanku! Tapi..."
"Aku tahu"
Jawabnya dengan tersenyum
"Aku selalu tahu"
Sister Claire mulai memberikannya sebuah pelukan hangat disela pembicaraan yang serius ini.
"Tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa membalas perasaanmu, perbedaan usia kita terlalu jauh. Gilbert"
"Tolong, jangan buang waktumu hanya untuk seseorang sepertiku"
Ucap Sister dengan sedih
"Eh?"
Gilbert mengelus kepalanya dengan lembut disela pelukan keduanya.
"Aku tidak peduli, Bahkan jika tuhan sekalipun yang melarang. Aku akan selalu mencintaimu, aku tidak akan bisa membohongi perasaanku. Jadi, bisakah katakan padaku apa perasaanmu yang sebenarnya. Claire"
Ketika keduanya bertatapan sekali lagi, ekspresi Sister itu sangat mengejutkannya. Sister itu tersenyum bahagia
"B...Baiklah... Aku terima"
Perjalanan hidup keduanya berlanjut hingga mereka menikah. Gereja dan panti asuhan yang dulu dalam kondisi menyedihkan perlahan mulai diperbaiki dan mendapat perhatian dari Kerajaan.
Hingga keadaan damai itu mulai berubah
"Claire! Cepat mengungsi dari sini!"
"... Kau mau kemana"
Suasana damai mulai hancur ketika pecahnya perang dunia pertama yang dipicu perselisihan antar kerajaan di Eropa.
"Aku akan kembali ke Istana"
Sister Claire yang mulanya sibuk mulai diam menatap kearah suaminya yang menatap dengan serius kearah istana yang berada di kejauhan.
"Jangan pergi! Kumohon"
Claire menahannya dengan penuh ketakutan.
Gilbert melihat kearah Claire yang sangat mengkhawatirkannya hanya bisa tersenyum lembut.
"Jangan khawatir, Aku pasti akan pulang. Demi kalian berdua"
Ia mengelus kepalanya dan perut Claire dengan sangat lembut.
"Apa kau janji"
"Aku janji"
Sebuah janji yang dipegang oleh seorang prajurit pada sosok yang dikasihinya sangatlah mustahil untuk dapat dipercaya namun Claire tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan yang diberikannya pada sosok yang sangat ia cintai
'Aku akan menunggumu, tak peduli berapa lama pun itu aku akan disini'
Ucapnya sambil menatap dikejauhan.
Begitu menyedihkan ketika kerajaan itu hancur ditelan ganasnya perang dan kekejian dari era-era kelam itu.
Walaupun begitu, Ia sebagai seorang kesatria yang sudah disumpah hanya bisa meyakini satu hal.
Ia berjuang demi mereka yang ia kasihi dan apa yang benar.
Hanya saja jika bisa
"Aku ingin melihatnya sekali lagi"
Dua hari berlalu sejak aku berhasil mengalahkan iblis yang berada di dalam tubuhku. Iblis itu dikenal sebagai Siluman Rubah Kurama
Berdasarkan penjelasan Ford-san, Kurama merupakan Siluman Rubah yang kesembilan dari 9 Siluman yang ada di Dunia ini. Ford-san juga mengatakan padaku alasan mengapa wajahku mengalami perubahan itu disebabkan karena penuaan dini akibat dari perubahan struktural saraf dan otot tubuh dari proses ekstraksi Siluman itu.
Akibatnya, Kondisi fisik dari orang tersebut akan mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Saat ini, aku dan Silvia berjalan menuju arah barat daya yang dimana menurut Ford-san, ia mengetahui sesuatu tentang Siluman yang ke-3
Masih belum jelas alasan mengapa siluman-siluman ini ada di dunia hanya saja Ford-san yakin jika jawaban itu akan ia temui jika aku berhasil mengumpulkan mereka semua.
Silvia sejak awal keberangkatan kami dari Desa Hujan tidak bersuara sedikitpun. Semenjak aku menjelaskan siapa diriku yang sebenarnya melalui cerita yang aku rubah sedikit, Silvia lebih banyak diam dan menghindariku.
Kurama sendiri, ia merubah wujudnya menjadi sosok rubah kecil dan tidur diatas kepalaku.
"Mungkin kita bisa mencapai kota berikutnya besok pagi"
Aku menebak dengan melihat peta dan kondisi wilayah. Beruntung Ford-san cukup baik pada kami dengan memberikan kami peta untuk perjalanan yang akan kami tempuh
Mataku sedikit melirik kearah Silvia yang masih diam tak bersuara.
"Kenapa?"
Aku sedikit khawatir dengannya yang selalu diam seperti itu.
"huum"
Silvia hanya menggeleng sebagai balasan dari pertanyaan ku.
Perjalanan kami terus berlanjut hingga melewati sebuah bukit yang menurut peta merupakan perbatasan antara dua negara
'Mungkin sebaiknya kami bermalam disini'
Mataku menatap kearah langit senja yang perlahan mulai gelap sebagai tanda jika malam akan tiba sebentr lagi.
Selesai aku menyiapkan tenda dan perapian, Kami berdua duduk diam sambil menyaksikan langit malam yang sangat cerah.
Melihat langit yang sangat cerah seperti ini, cukup besar kemungkinan akan hujan keesokan harinya.
'Pada akhirnya aku tidak bisa melakukan apapun mengenai Gato itu'
Rasa takutku akan efek yang akan berkelanjutan membuatku tidak bisa melakukan apapun selain diam dan menyaksikan hal itu terjadi.
Aku hanya bisa berharap jika suatu saat penguasa seperti itu digantikan, semoga bisa merubah hal-hal yang tidak benar.
"Apa kau mau makan malam, Silvia?"
Aku memberikannya makanan yang sudah kusiapkan sebelum kami melakukan perjalanan namun bukannya diterima, Silvia justru diam dengan mata tanpa cahaya menatap kearah perapian.
'Melamun?'
"Silvia, Kau kenapa?"
Silvia masih menatap perapian dengan tenang sebelum ia melirik kearahku dengan wajah.
"Aku hanya bingung"
"Bingung?"
Silvia tersenyum sambil kembali menatap perapian dengan matanya yang buta.
"Aku tidak tahu jika ada takdir yang seperti itu..."
"... Aku kira jika kita adalah teman yang dekat namun nyatanya aku tidak tahu apapun mengenaimu..."
Mendengar jawabannya aku hanya bisa diam sambil duduk disebelahnya dengan mata aku arahkan ke langit malam.
"Kau tahu, Silvia"
"Jujur, aku pun tidak percaya jika aku sekarang ada disini dengan kehidupan baru yang aku tidak pernah inginkan. Sebelum aku berjumpa denganmu, semua yang aku pikirkan adalah bagaimana caraku bertahan hidup dan jika bisa aku sangat ingin sekali kembali kesana bersama dengan mereka yang aku cintai... hanya saja..."
"Apa kau merindukan mereka?"
Aku tersenyum sedih mendengar pertanyaan itu bahkan mulutku pun tidak bisa meneluarkan suara apapun selain menganggukkan kepalaku sebagai jawaban yang ia inginkan.
"Kau tahu, selama ini aku tidak pernah menceritakan mengenai hal ini pada siapapun selain kau"
Aku sedikit menghela nafas ketika aku teringat akan sesuatu.
"Demo, moshi umarekawattara..."
"sonotoki wa sagasukara ne.'"
"Son'na kanashī koto iwanaide"
" raise de' nante nozomanai yo"
"ijiwaruna sono egao mo"
daijina toko de kamu kuse mo
itsu made mo
itsu made mo kawaranai mama
tÅ ku ni itte shimau nda ne
taisetsu ni omoeru hito
mitsukaruto Ä« ne
seimei-sen sono tochū de
deaeta koto sayonara o shita koto
tadashī toka machigaida toka
sÅ janakute kimi ni arigatÅ
demo, moshi mata deaerunara
moshi tsugi ga aru nonara
kondo wa mÅ shitsu kusa nai yÅ ni uso mo tsukanaikara
kodomo mitai ni niyakeru toko mo urei o fukunda yokogao mo
itsu made mo itsu made mo kawaranai mama
tada kimi no sono kimochi ga hanarete itte shimatta boku wa tada tachitsukushite ita
seimei-sen sono tochūde
mata doko ka de gūzen deattara
munewohatte ano Ni~Tsu no yÅ ni umaku waratte koewokakeru ne
sonotoki wa kimi wa nanite iu no ka na...
Seimei-sen sono tochū de
mayotte shimau yÅ na hi ga kite mo
furikaereba soko ni kimi ga ite
waratte i rareru ki ga shita yo
seimei-sen sono tochū de
deaeta koto sayonara o shita koto
waratta hi mo kizutsuke atta hibi mo
tsutaetai kimi ni arigatÅ tsutaetai kimi ni arigatÅ
demo, moshi umarekawattara
sonotoki wa sagasukara ne
anogoro to onajiyÅ ni
umaku waratte hoshī
Aku menyanyikan lagu itu lagi. Lagu yang dimana mewakilkan janjiku padanya dan pada dunia yang sudah aku tinggalkan
Jika saja aku bisa diberikan kesempatan lagi, Aku ingin sekali melihatnya lagi.
"Silvia?"
Aku terkejut ketika melihat Silvia yang menangis untuk pertama kalinya. Wajahnya membeku namun air mata mengalir dari kedua matanya membuatku terkejut luar biasa.
"... A... Aku tidak..."
Butuh beberapa saat untuk Silvia dapat menenangkan diri.
Kami berdua pun jatuh dalam diam sekali lagi ketika ia sepenuhnya sudah tenang.
Silvia berusaha mengatakan sesuatu ketika melihat wajahku namunaku bisa tahu jika ia tidak bisa mengatakan apapun, mungkin ia tidak tahu lagi harus bicara apa ketika mata kami bertemu.
"Kau tahu"
Aku memutuskan untuk membuka pembicaraan untuk memecahkan keheningan ini.
"... Istriku di kehidupan sebelumnya selalu menyanyikan lagu ini padaku sebelum aku memutuskan untuk melamarnya"
"Setiap kali ia menyanyikan ini aku selalu teringat apa yang ia ingin katakan padaku"
"Jika suatu saat kau bertemu dengan orang yang lebih berharga di kehidupan berikutnya. Tolong lupakan saja aku dan carilah kebahagiaanmu"
Aku kembali melihat air mata di wajah Silvia sesaat setelah aku mengatakan itu.
"Tapi... Kurasa itu sangat mustahil untuk ku terima. Aku sudah berjanji padanya untuk tetap bersama dengannya, maka aku akan selalu mencari cara untuk kembali lagi padanya"
"... Apa itu artinya kau berniat untuk kembali ke dunia lamamu"
"... Silvia?"
Silvia menatapku dengan ekspresi sangat rumit.
Aku mendesah sebelum memukul pelan dahinya.
"Kyah..."
Perjalanan kami terus berlanjut hingga kami sampai di Negara Iblis. Butuh waktu sekitar 1 minggu bagi kami untuk mencapai negara ini
Perjalanan kali ini berusaha menyelidiki mengenai rumor kebangkitan salah satu jenderal tinggi Iblis yang tersegel disebuah gunung api.
Rumor mengenai kebangkitan itu kami dengar ketika kami berhenti disebuah pedesaan yang terkena serangan prajurit misterius.
"Bagaimana menurutmu, Silvia?"
Tanyaku ketika menatap kesebuah kastil dengan gaya Shogun Jepang.
"Aku merasakan kehadiran ratusan tentara dibalik gerbang itu"
Ucap Kurama dalam bentuk Rubah kecil dikepalaku. Sejak awal perjalanan Kurama memilih untuk tidak berubah bentuk dan diam mengikuti kemanapun kami pergi.
"Fufufu... Menarik sekali"
"Silvia?"
Aku melirik kearah Gadis Gothic itu yang saat ini tertawa dengan senyum gelap.
Aku menatap kearah langit yang dimana terdapat ratusan anak panah yang mengarah ke kami, dengan cepat aku menangkis setiap panah itu dengan pedangku. Serangan-serangan itu masih aku anggap sebagai serangan lemah dibandingkan harus menghentikan peluru yang ditembakkan secara langsung.
"Impresif, tapi masih kurang menarik. Master"
"Aku tersanjung dengan pujianmu"
Ucapku dengan tulus pada rubah kecil ini.
"Nampaknya mereka sangat waspada sekali ya?"
"Mengenai itu, mereka nampaknya Siaga tempur daripada dikatakan waspada, Master"
"Menurutmu apa itu ada kaitannya dengan Rumor itu?"
"Mungkin, oh ya Master. Silvia-san sudah pergi"
Sesaat setelah Kurama bicara aku langsung menatap kearah dimana Silvia tadi berdiri dan yang benar saja
"Anak itu"
Aku mulai kesal ketika dibalik gerbang itu aku bisa mendengar beragam suara teriakan dari para tentara.
*poof
Sosok Rubah kecil yang ada di kepalaku langsung berubah wujud menjadi sosok wanita remaja dengan sepasang telinga rubah memiliki warna sama seperti rambutnya yaitu Perak berkilau.
"Master, Ijinkan saya untuk masuk kedalam secara paksa"
"Silahkan, tapi aku melarangmu untuk melukai mereka"
The Silver Fox Kurama saat ini menyeringai padaku sesaat setelah kuberi ijin untuk masuk kedalam kastil secara paksa.
Pedang katananya mulai dilapisi energi murni.
"Hyaaah!"
Tebasan pedang katana yang dilapisi energi itu langsung menghancurkan gerbang seketika kami disambut oleh pemandangan tidak menyenangkan.
"Ara? Kalian lama"
Silvia menyeringai kejam dengan pemandangan sekitar yang berantakan. Para tentara yang mulanya menyerang kami sekarang mereka semua terbaring tak berdaya di tanah.
"Kau tahu..."
"Ittai!"
Aku langsung mendaratkan sebuah pukulan cukup kuat tepat dikepala Silvia.
"Kenapa kau memukulku!"
Protesnya sambil mengeluh sakit dikepalanya karena pukulanku
"Hah... Cobalah sesekali belajar untuk menahan diri"
Aku hanya bisa mengeluh melihat bagaimana kerusakan-kerusakan yang dilakukan Silvia.
"Fufu... Kekuatan yang sangat menarik"
Aku langsung merinding ketika sebuah tawa datang dari belakangku. Sesaat setelah aku berbalik badan, sesosok wanita muda dengan pakaian Miko berdiri dengan senyuman padaku.
"Apa kalian datang untuk membunuhku?"
'Sejak kapan dia?!'
Tubuhku mati rasa ketika aku ingin menarik pedangku.
"Fufufu... Sebaiknya kita bicara dengan damai dulu ya, Tuan"
Ucap Miko itu dengan santai
Miko itu berjalan mendekat kearahku, dari penampilannya aku bisa menebak jika Miko ini mungkin berusia antara 20/21 Tahun.
"Lama tidak berjumpa, Silvia-sama. Sangat jarang aku melihatmu mau berkelana dengan orang lain"
Ucap Sang Miko pada Silvia yang berada di belakangku.
*Berdiri Sambil membersihkan beberapa debu yang menempel dibajunya
"Dari suara itu, kau pasti Miko Shion!"
Wanita dengan pakaian Miko itu tersenyum ketika Silvia memeluknya dengan erat seolah mereka adalah sahabat lama.
Aku tidak tahu kenapa, tapi perasaanku mengatakan jika Miko itu memiliki sesuatu yang berbahaya tersembunyi di dalam dirinya
"Master"
"Kurama, Apa kau baik-baik saja?"
*Mengangguk "Aku tidak terluka sedikitpun. Ngomong-ngomong Master, Apa kau tahu mengenai Miko itu?"
"Tidak, Apa kau tahu sesuatu?"
*Mengangguk "Beberapa tahun sebelum aku ditangkap, aku pernah mendengar kabar jika penerus Miko dari Benua Iblis sudah lahir. Romornya, Penerus itu mewarisi kekuatan legendaris yaitu Demon Slayer yang dapat membunuh segala kekuatan negatif"
"Aku pernah mendengar juga jika Dia dikabarkan pernah mengalahkan salah satu petinggi Raja Iblis yang namanya aku lupa siapa"
Mendengar kata Raja Iblis rasa ketertarikan ku mulai terpancing.
"Bisa jelaskan padaku soal Raja Iblis itu"
Kurama sekali lagi mengangguk. Kami berdua memutuskan mencari tempat yang jauh lebih nyaman untuk berbicara, sementara itu Silvia dan Miko Shion kembali ke kastil dengan bahagia seolah-olah keberadaan kami tidak dianggap.
Tak butuh waktu lama untuk kami berdua menemukan tempat yang cukup bagus untuk beristirahat sambil berbincang sejenak.
"Jadi, bagaimana mengenai Raja Iblis yang kau maksudkan itu. Kurama"
Kurama menatap langit biru yang cerah sesaat.
"Hal itu terjadi 8 Abad yang lalu dimana Ras Demi-Human dan Manusia hidup berdampingan"
'Demi-Human?'
"Pada era itu Dunia masih dilanda beragam ketakutan akan kekuatan gelap dari monster-monster jahat atau yang kalian para Manusia sebut sebagai Iblis"
"Demi menjaga kestabilan dan perdamaian antar ras, Untuk pertama kalinya Ras Iblis mengangkat seorang pemimpin."
"Beberapa tahun setelah Raja dari Ras Iblis diangkat, Manusia dan Demi-Human mulanya ragu hingga ditanda tangani sebuah perjanjian damai abadi"
"Mulanya semua berjalan lancar hingga..."
"... Para Bajingan yang memanfaatkan keadaan dan menyulut perang"
"Aku sudah bersumpah atas nama pedangku jika aku tidak akan pernah memaafkan mereka"
Diruangan utama kastil.
"Senang bisa melihatmu lagi, Silvia"
"Ara? Apa begitu"
"Fufu... Seperti biasanya, kau sangat santai sekali ya"
Silvia dan Miko Shion duduk berhadapan dengan suasana cukup hangat hingga tak lama suasana keduanya berubah dengan sangat cepat.
"Apa dia orang pilihan yang kau maksudkan dulu?"
Silvia meminum tehnya sejenak sebelum menatap balik ke Shion.
"Entah, siapa yang tahu"
Jawabnya dengan santai namun respon santai dari Silvia justru mendapat lirikan tajam dari Shion.
"Silvia, Aku sedang tidak bercanda. Aku yakin kau sudah merasakan mengenai pasukan Iblis, bukan?"
"Iya"
"Lalu kenapa kau masih menganggap remeh soal itu!"
Shion menaikkan nadanya pada Silvia yang masih menunjukkan kesan tidak tertarik soal topik pembicaraan ini.
"Silvia, Aku ingin kau menganggap serius soal posisimu saat ini"
"Kau adalah Pengawal dari Pahlawan terpilih, aku tidak ingin kau menghabiskan waktumu hanya untuk berkelana ke semua tempat dengan pria yang bukan pilihan ramalan itu"
Tegas Shion pada Silvia yang masih meminum teh nya dengan tenang. Sesaat setelah Silvia menyelesaikan minum teh, sepasang mata tanpa cahaya melirik kearah Shion tepat dimatanya. Tatapan itu sangat tajam seolah-olah menusuk langsung ke jiwanya yang terdalam.
"Aku masih membutuhkan waktu mengenai Pahlawan ramalan yang dimaksud itu"
Shion terdiam sejenak sambil meminum tehnya menunggu Silvia melanjutkan ucapannya.
"Ne Shion, Apa kau percaya soal Kesempatan Kedua dalam hidup?"
"Apa kau berusaha mengatakan soal kepercayaan Budha soal Reinkarnasi?"
"Jangan mulai membual sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu, Silvia"
Balasnya dengan retorik pada Silvia.
"Fufufu, Kurasa umur membuat pola pikirmu sedikit tajam ya"
"Hentikan basa-basimu! Kita tidak punya banyak waktu lagi Silvia! Apa kau sadar kalau saat ini pasukan iblis sedang mengarah kesini!"
"Jika mereka berhasil menerobos pertahan kami, maka semua nyawa yang ada di Kota akan terancam! Bisakah kau sedikit serius soal ini!"
"Apa kau berpikir jika aku sedang bercanda?"
Suasana diantara keduanya mulai tegang ketika pembicaraan mereka tidak menunjukkan kemajuan sama sekali hingga Shion mulai menatap Silvia dengan penuh keraguan.
"Apa kau berusaha mengatakan padaku jika, Laki-laki itu adalah sosok terpilih?!"
"Ya"
Untuk sesaat Shion terdiam hingga ia mulai menceritakan semua yang ia ketahui mengenai Laki-laki bernama Naruto itu pada Shion.
Aku tidak bisa membayangkan betapa kacaunya dunia ini hanya persoalan Rasisme yang merembet menjadi perang.
Mendengarkan sedikit informasi yang diberikan Kurama, aku sudah bisa menangkap gambaran besar yang sebenarnya terjadi saat ini.
"Perang antara Manusia melawan Iblis, ya?"
Aku menatap kearah bawah tebing dimana aku melihat kastil dari kejauhan.
