Kekacauan, kepanikan, kebakaran, tangisan dan keputusasaan. Itulah yang dilihat oleh Hinata saat ini. Ia bingung, sebenarnya dirinya berada dimana. Kota ini terlihat sangat kacau.
Orang-orang berlarian tanpa arah dengan penub kepanikan. Semuanya melewati Hinata dengan begitu saja, seolah-olah Hinata itu tidak ada. Merasa tidak bisa bertanya, Hinata lebih memilih berjalan menyusuri sekitar.
Ia menoleh kearah kanan dan kiri untuk melihat banyak orang yang menjadi korban dalam peristiwa ini. Sebenarnya ini ada dimana? Itulah yang berada dalam pikiran Hinata saat ini.
Wush! Boom!
"Kyaa!"
Hinata menyilangkan kedua lengannya untuk menghalau debu-debu yang terhamburan ketika ada sesuatu yang terjatuh didekatnya. Ia mencoba mengintip dan terkejut saat melihat kalau seseorang yang memakai armor naga berwarna emas sedang terbaring.
"Ugh... Cough... Cough..." pria berarmor itu memuntahkan darah dengan mudah karena helm armornya telah hancur sebagian.
Entah kenapa Hinata tidak bisa menggerakkan kedua kakinya. Padahal ia berniat untuk menolong pria itu. Lagi-lagi Hinata harus menyilangkan lengannya untuk menghalangi debu yang terhempas karena ada seseorang yang jatuh kembali.
Ia kembali mengintip dan melihat kalau pria yang berumur sekitar 17 tahun sedang terbaring dengan luka parah serta armor hitam kebiruan yang retak sana sini.
"Cough... Di-dia kuat ju-juga... Cough... " ujar pria itu diakhiri muntah darah.
"Ka-kau benar se-sekali... Wave." jawab pria berarmor emas pada Wave.
"Bah-bahkan gu-guru ninjamu, ti-tidak dapat mengalahkannya... Cough... Tatsumi... " balas Wave sambil bersusah payah bangun yang diikuti oleh Tatsumi.
'Guru Ninja? Siapa yang dimaksud?' batin Hinata penasaran dengan sosok yang dibicarakan.
Wush! Tep!
"Tatsumi! Wave!"
Jantung Hinata terasa berhenti sesaat ketika mendengar suara orang yang sangat ia kenali dan sayangi. Dengan gerakan patah-patah, Hinata melihat kearah suara itu. Mata dengan iris berwarna amethyst itu terlihat membola dan berkaca-kaca ketika melihat orang yang telah ia khianati.
Naruto segera berlari kearah Tatsumi dan Wave serta menghiraukan keberadaan Hinata yang berada dekat dengan kedua pemuda yanf ia teriakkan namanya tadi.
Jantung Hinata kembali seperti berhenti berdetak saat melihat kondisi Naruto yang berada dalam kategori [sangat buruk]. Tubuh yang dipenuhi luka parah, bahu kanan yang masih ada bekas terbakar serta mata kiri yang mengeluarkan darah dan jangan lupa tangan kiri yang terpotong hingga bahu. Hinata menatap tidak percaya sambil menutup mulut menggunakan kedua tangan.
"Tatsumi, Wave, kalian tidak apa-apa?" tanya Naruto dengan khawatir.
"Buruk sekali Naruto, aku bahkan sudah tidak merasakan kedua kakiku lagi." jawab Wave sambil mencoba menggerakkan kakinya namun tidak bisa.
"Benar Naruto-sensei, aku rasa tulang rusukku banyak yang patah." ujar Tatsumi.
Naruto mendecih mendengarnya, ia menoleh keatas dimana seseorang berambut putih panjang sedang melayang sambil menatap rendah mereka semua. Hinata sendiri sangat terkejut saat melihat rinnegan didahi orang itu.
"Bagaimana, Kitsune. Apa kau ingin menyerahkan monster yang ada didalam tubuhmu itu padaku?" tanya orang tersebut.
Naruto mengambil sebuah kunai. "Persetan dengan permintaanmu, ••••••••. Aku tidak akan pernah menyerahkan Kurama padamu!"
Orang itu menyeringai. "Sayang sekali."
Wush! Cleb!
"Kalau begitu, aku tinggal membunuhmu saja."
Baik Tatsumi, Wave dan Hinata sangat terkejut ketika secara tiba-tiba orang itu sudah muncul didepan Naruto. Terlebih lagi, dia langsung menusukkan tangannya ketempat jantung berada.
"Naruto-sensei!!/Naruto!!"
Naruto memuntahkan darah sambil menggenggam tangan orang tersebut. "Cough... Uhuk... Uhuk... Si-sialan... "
Brug!
Tubuh Naruto seketika tumbang saat orang tersebut menarik tangannya. Hinata sendiri menatap tidak percaya ketika melihat kalau suaminya telah mati.
"Ti-tidak mungkin... NARUTO-KUN!!!!" jerit Hinata dengan frustasi.
.
.
~AND~
.
.
DISCLAIMER: Saya tidak mengakui bahwa Naruto adalah milik saya tetapi milik om Masashi dan saya hanya meminjam karakter saja.
RATED: M
PAIR: Naruto X ?
SUMMARY: Uzumaki Naruto, Sang Nanadaime Hokage, menghilang saat melihat sesuatu yang membuatnya kecewa sehingga membuat kelima Desa besar panik saat mengetahui bahwa salah satu Pahlawan Perang telah menghilang dan tidak ada yang menyadari kalau Naruto telah berpindah dimensi.
.
.
~AND~
.
.
Kelopak mata Hinata langsung terbuka lebar, wanita yang sudah berumah tangga itu segera bangun dari acara tidurnya. Nafasnya terlihat terengah-engah dengan wajah pucat yang berkeringat dingin.
"Mimpi tadi... Apa maksudnya?" tanya Hinata entah pada siapa.
Ia segera menggelengkan jepalanya dan segera keluar dari kamarnya dimana tempat ia dan Naruto tidur seranjang. Ia harus segera membuat sarapan untuk melupakan mimpinya dan berharap semoga Naruto baik-baik saja.
.
.
~AND~
.
.
Jrash!
Satu bandit kembali tumbang ketika Bulat berhasil memotongnya menjadi dua. Ia pun menahan tebasan pedang yang mengarah kepadanya dan segera membalasnya. Bulat memutar tombaknya untuk menghilangkan darah yang menempel.
"Jumlah mereka ternyata lebih banyak dari yang kami duga." gumam Bulat sambil melihat mayat bandit yang ia bunuh.
Drap! Drap! Drap!
Ia mengalihkan pandangannya kearah bandit-bandit yang datang kembali dalam jumlah banyak. Bulat menghela nafas pendek.
"Hah... Mereka berdatangan kembali."gumamnya.
Bulat segera memutar tombaknya kembali. "Ayo maju! Para bandit!"
-- Change Scene --
Jrash!
Satu bandit kembali tumbang ketika Naruto berhasil memotong pertengahan kepalanya. Sang Hokage diam menghadap bandit-bandit yang tersisa sekitar ratusan orang.
"172, sudah 172 orang yang kubunuh dari kalian dan itu berarti sisa kalian semua ada sekitar 128 orang. Apa diantara kalian masih ada yang berani?" tanya Naruto dengan nada dingin.
Melihat kalau tidak ada yang menjawab, Naruto kembali angkat bicara.
"Apa tidak ada yang ingin maju?"
Hening...
"Kalau begitu, aku yang akan menyerang."
Katana gedoudama ditangan kanannya pun melayang perlahan keatas. Dengan perintah batin, satu bola gedoudama yang senantiasa melayang dibelakang punggung, melayang kearah telapak tangan kiri yang terbuka. Gedoudama itu mencair dan membentuk sebuah shuriken besar dengan sebuah lubang besar ditengahnya.
Naruto menatap dingin bandit dihadapannya. "Bunuh."
Katana gedoudama tadi terpecah menjadi beberapa lalu membentuk kunai. Kemudian kunai gedoudama itu melesat kearah bandit-bandit yang paling dekat jaraknya.
Jrash! Jrash! Jrash! Jrash!
Bandit yang tidak beruntung langsung mati begitu terkena kunai gedoudama. Memanfaatkan bandit yang masih syok, Naruto segera berlari kearah mereka.
Sebuah rasengan tercipta tepat ditengah lubang sehingga gedoudama yang membentuk shuriken itu ikut berputar kencang karena rotasi dari rasengan.
"Gedou Rasenshuriken!"
Wush! Syuuung!
Jutsu baru yang dibuat mendadak itu langsung melesat cepat ketika Naruto melemparnya. Rasenshuriken tersebut meluncur cepat kedepan sebelum berubah arah kesamping. Bandit yang nasibnya tidak baik, langsung terpotong menjadi dua. Bandit yang selamat hanya bersiaga sambil menatap Naruto dengan tajam.
Boom!
"Apa kalian lihat, perbedaan diantara kita. Teman-teman kalian mati karena mencoba untuk membunuhku. Namun apa kalian semua tidak sadar kalau itu adalah usaha yang sia-sia." ujar Naruto sambil membiarkan hembusan angin melewatinya yang diakibatkan ledakan Rasenshuriken yang tidak jauh darinya.
"Bangsat!"
"Kubunuh kau!"
"Matilah kau!"
Para bandit memilih kembali menyerang Naruto karena merasa diremehkan. Naruto hanya menatap dingin dari balik topeng.
"Jadi, kalian lebih memilih untuk melawan, ya? Kalau begitu..."
Sring!
"... Akan kuladeni."
Naruto secara tiba-tiba menghilang dalam kilatan kuning dan muncul tepat ditengah-tengah para bandit. Para bandit yang terkejut pun hanya bisa diam karena baru pertama kali melihat kalau ada manusia yang bisa menghilang.
Buagh!
"Guakh!"
Naas bagi bandit yang terkena pukulan keras Naruto sampai-sampai tubuhnya membungkuk. Naruto sendiri tidak berkomentar apapun ketika bandit yang ia pukul mengatakan sumpah serapah.
Naruto segera menghindar ketika bilah tombak sedang mengincar kepalanya. Lagi-lagi ia harus menghindar saat sebuah pedang mengincar lehernya. Naruto terus menghindar agar bisa memberikan dirinya ruang untuk bergerak.
Bugh! Bugh! Bugh!
Beberapa pukulan berlapis chakra Naruto berikan sehingga ruang untuk dirinya sedikit bertambah karena bandit yang ia pukul langsung terpental. Naruto terus memukul dan sesekali menendang menggunakan taijutsu khas klan Uzumaki. Kuat, cepat dan mematikan. Itulah moto dari taijutsu klan Uzumaki. Disela-sela memukul , Naruto sempat membuat insou andalannya.
"Kagebunshin No Jutsu."
Boof! Boof!
Dua kepulan asap muncul disisi Naruto sehingga mengagetkan bandit yang tersisa. Tangan yang terkepal langsung keluar dari dalam asap dan menuju kearah bandit yang ada disekitar.
Bugh! Bugh!
Dua bandit terlempar jauh dengan leher yang patah karena dipukul oleh tangan yang berlapis chakra. Kepulan asap menghilang dan terlihat dua orang yang berpenampilan sama seperti Naruto. Para bandit terkejut melihatnya.
"Tidak mungkin."
"Ba-bagaimana bisa..."
"Mo... Monster."
Spontan bandit-bandit langsung mundur untuk menjaga jarak saat melihat tiga orang yang sama. Naruto asli menoleh kearah kedua bunshinnya.
"Mari kita lakukan." ujar Naruto.
Kedua bunshin menganggul. "Baik bos!/Tentu saja!"
Bunshin pertama segera membuat heandseal dan langsung menapakkannya diatas tanah.
"Doton: Yomi Numa!"
Zruuut!
Tubuh seluruh bandit itu terhisap kedalam tanah hingga lutut. Bandit-bandit itu seketika panik dan mencoba melepaskan kakinya yang terbenam dalam tanah.
"Apa-apaan ini!"
"Kakiku tidak bisa dicabut!"
Memanfaatkan kepanikan yang terjadi, bunshin kedua segera melakukan heandseal juga dengan cepat dan memasang posisi seperti menembak.
"Suiton: Teppoudama."
Pciu! Pciu!
Dari kedua jari tangan yang tertodong, keluarlah puluhan peluru air. Peluru-peluru itu melesat dan menembus tubuh sebagian bandit. Bandit yang diperkirakan sangat sedikit itu menatap horor.
"Sekarang giliranku." Naruto asli juga segera membuat heandseal.
"Futon: Kazekiri No Jutsu!"
Angin-angin terkumpul diatas kepala Naruto dan membentuk beberapa bilah pedang. Naruto menunjuk kearah bandit yang selamat. Bagaikan punya jiwa, bilah pedang itu langsung melesat kearah bandit.
Crash! Crash! Crash!
"Arkkk!!"
"Sakit!!"
"Tolong aku!!"
Satu persatu bandit mulai tumbang begitu terkena serangan pedang yang terbuat dari angin itu. Naruto melihat kejadian itu hingga semuanya mati. Setelah menunggu beberapa saat, Naruto menoleh kearah kedua bunshinnya itu.
"Terima kasih sudah mau membantuku." ucap Naruto.
"Tenang saja bos, kami semua pasti akan selalu membantu." balas bunshin pertama.
"Betul itu, bos. Ngomong-ngomong kita apakan mayat bandit ini?" tanya bunshin kedua.
Naruto asli menghendikkan bahunya. "Kita biarkan saja, lagipula ini sebagai peringatan untuk kekaisaran."
Kedua bunshin itu mengangguk paham. Kalau begitu, kami pergi dulu, bos."
"Silahkan."
Boof! Boof!
Setelah kedua bunshin miliknya menghilang, Naruto segera melepaskan topeng yang ia kenakan dan menyimpannya didalam kantong ninja. Ia pun menoleh kebelakang sesaat untuk melihat sesuatu.
"Tinggal 5 gedoudama, ya. Sepertinya aku harus menghematnya." gumam Naruto.
"NARUTO!!!"
Merasa namanya dipanggil oleh seseorang, Naruto menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang memanggilnya. Yang memanggilnya ternyata adalah Bulat. Naruto berasumsi kalau Bulat sudah selesai membunuh Galma karena pria itu saat ini tidak menggunakan teigu armornya.
Tap!
"Bagaiman keadaan disini, Naruto?" tanya Bulat begitu sudah sampai.
"Seperti yang kau lihat, Bulat. Semua bandit disini sudah tertidur." jawab Naruto sambil bercanda.
Bulat melihat sekeliling. "Kau sadia juga, ya."
"Sadis adalah salah satu sifatku."
Yap benar, tidak ada Shinobi yang mengetahui sisi sadis Naruto terkecuali pada anbu yang pernah ikut dalam misi bersamanya. Sisi sadis Naruto merupakan mimpi buruk bagi musuhnya. Ketika mengintrogasi tawanan, Naruto akan mempermainkan mentalnya hingga mental tawanan tersebut rusak.
Pernah satu kali Naruto mendapat misi solo untuk pertama kalinya. Misi yang dijalani oleh Naruto adalah misi pengawalan seorang putri.
Ketika diawal misi, Putri tersebut kesal karena tingkah Naruto yang berisik dan mengganggu. Pengawal pribadi Putri itu juga tergganggu karena tingkah laku Naruto. Singkat kata, ditengah perjalanan, Putri yang menjadi klien Naruto itu menolak supaya Naruto tidak kembali mengawalnya.
Mendapat penolakan itu, Naruto secara tegas menolak permintaan itu. Ia berkata kalau pengawalan ini sudah menjadi kewajibannya sejak menerima misi itu. Sang Putri dan Naruto akhirnya berdebat karena itu.
Nanun ditengah perdebatan, tiba-tiba mereka bertiga disergap oleh puluhan bandit. Sang Putri dan pengawal pribadinya takut ketika mereka akan mati saat itu. Dan saat itulab sifat asli Naruto muncul karena tidak ada Shinobi Konoha lainnya.
Naruto menghadapi bandit-bandit itu dengan membawa sebilah kunai saja. Sang Putri mengira kalau Naruto ingin bunuh diri sehingga ia melarangnya untuk maju. Namun tatapan Naruto justru membuatnya ketakutan karena tatapan mata Naruto justru menampilkan hasrat membunuh yang sangat kentara.
Hanya bermodalkab sebuah kunai yang dilapisi chakra angin. Naruto dengan cepat membantai semua bandit itu dengan cepat dan brutal. Kepala terpenggal, tubuh yang tercerai-berai, potongan tubuh berserakan, organ-organ tubuh yang tercecer. Itulah hasil dari pembantaian yang dilakukan oleh Naruto.
Sang Putri yang pertamanya merendahkan Naruto langsung berubah menjadi mengaguminya. Apalagi menurutnya, Naruto itu keren dengan raut wajah dingin sambil bajunya yang basah karena darah.
Diakhir misi, Sang Putri justru memberikan Naruto bonus karena melakukam misinya dengan baik. Naruto sendiri pertamanya bingung namun kemudian ia tidak ambil pusing.
-- Back To Story --
Bulat sendiri hanya geleng-geleng kepala saja. "Kalau begitu, ayo kita harus segera pulang dan melaporkan misi."
"Soal Galma?"
"Galma sudah kubunub. Pria bertubuh gemuk itu tidak akan bisa mengalahkanku."
Naruto terkekeh. "Kau ada benarnya juga, Bulat."
Bulat hanya tersenyum lebar, mereka berdua pun berjalan beriringan dan menjaub dari kawasan perumahan Galma.
Deg!
Langkah Naruto terhenti ketika merasakan sesuatu. Bulat juga berhenti dan menatap bingung Naruto yang saat ini sedang terdiam.
"Naruto, ada apa?" tanya Bulat.
Naruto segera melihat kearah Bulat. "Aku pergi dulu, Bulat. Kau laporkan saja misinya." Naruto pun berbalik dan segera pergi.
"Hey! Kemana emangnya!?"
"Ada urusan penting!"
Bulat menatap bingung kelakuan Naruto yang aneh, ia kembali melanjutkan jalannya untuk kembali kemarkas sendirian. Sedangkan Naruto saat ini sedanv berlari dengan cepat. Dilihat dari raut wajahnya yang serius, urusan yang dikatakan oleh Naruto memanglah penting.
'Tunggulah aku, Tatsumi. Selama aku kesana, cobalah untuk bertahan selama mungkin.' batin Naruto.
Fuus!
Tubuh Naruto seketika diselimuti oleh chakra orange yang menandakan kalau ia sudah mengaktifkan [Kyubi Chakura Mode]. Naruto membuka matanya dan memperlihatkan. mata berwarna orang dengan pupil berbentuk.
"Tunggu aku! Tatsumi!"
Wush!
.
.
~AND~
.
.
Tatsumi tidak menyangka kalau ia akan melawan penjahat yang menjadi target dari misinya itu. Zank, itulah nama penjahat yang saat ini sedang ia lawan. Awalnya ketika sedang buang air kecil, ia melihat temannya yang sudag meninggal.
Untuk memastikan dirinya sedang bukan berhalusinasi, Tatsumi mengikuti orang yang sangat mirip dengan temannya itu. Setelah memastikan kalau itu benar-benar adalah temannya, Tatsumi segera memeluknya dengan erat sambil bersyukur kalau temannya masih hidup.
Namun sedetik kemudian, temannya tersebut berubah menjadi orang tua yang aneh. Sedikit berbincang sebentar, akhirnya Tatsumi sadar kalau yang didepannya ini adalah target dari misinya. Pertarungan pun akhirnya tidak dapat terelakkan.
Trink!
"Kenapa!? Apa hanya ini kemampuanmu!?" tanya Zank.
Tatsumi menggertakkan giginya, ia menggenggam erat pedangnya dan mengayunkan pedangnya. Zank berhasil menghindari serangan-serangan itu dengan mudah. Tatsumi bingung selagi mengayunkan pedangnya, kenapa semua setangannya bisa dihindari dengan mudahnya.
"Tentu saja karena aku bisa membaca isi hatimu!"
Trank! Wush!
Brug!
Tatsumi terjatuh dengan pedangnya yang terpental, ia mengangkat kepalanya untuk melihat Zank yang saat ini sedang tersenyum meremehkan.
"Dengan teigu Spectator ini, aku bisa dengan mudah untuk mengetahui apa isi hatimu." jelas Zank.
Tatsumi mendecih. 'Gomen Naruto-sensei, sepertinya aku akan menggunakan gaya bertarung yang kau ajarkan.'
Tatsumi segera memperbaiki posisi duduknya, kedua tangannya terulur kearah kakinya dan mengambil [benda] yang terikat dikakinya. Zank mengangkat sebelah alisnya dengan raut wajah bingung.
"Apa yang kau lakukan?"
Tatsumi tidak menjawab karena saat ini ia sedang melebarkan kedua kakinya, tubuh direndahkan dengan kedua tangan yang disilangkan didepan wajah sambil memegang [benda] yang ia ambil tadi. Zank sendiri menatap tertarik dengan keringat dingin yang mengalir dipelipisnya.
'Orang ini, aku tidak tahu kenapa tapi sepertinya auranya telah berubah dari sebelumnya.' pikir Zank.
Tatsumi menatap serius Zank sebelum membuang [benda] pemberian dari Naruto dan melesat kearah Zank. Jalanan yang berbatu pun langsung retak ketika [benda] itu sudah jatuh. [Benda] itu ternyata adalah pemberat yang berisi fuin pemberat sekitar 30 kg.
Zank terkejut saat melihat hal itu, bukan terkejut karena pemberat tersebut tetapi terkejut karena Tatsumi sudah ada didepannya. Tatsumu menatap serius sebelum melakukan uppercut kearah Zank.
Wush!
Pukulan itu dengan mudah dihindari oleh Zank, Tatsumi pun segera memutar tubuhnya dan memberikan serangan sikut kearah wajah. Lagi-lagi Zank bisa menghindari serangan itu dengan cara memundurkan kepalanya, tetapi ia dikejutkan oleh pukulan Tatsumu yang secara mendadak.
Bugh!
Pukulan itu sukse bersarang diwajah Zank. Tatsumi segera menyiapkan kembali kuda-kudanya dan melakukan tiga pukulan beruntun. Tatsumi juga melakukan dua pukulan ke rahang Zank.
Bugh!
"Ugh..."
Zank meringis ketika merasakan kalau rahangnya ngilu karena pukulan itu. Tatsumi tidak berhenti begitu saja, ia mengepalkan tangannya kembali dan memukul Zank secara terus-menerus. Zank sendiri hanya mencoba untuk menahan.
Duagh!
Tendangan mendadak dari Tatsumi berhasil tepat mengenai pelipis Zank. Pemilik dari teigu curian itu bingung. Padahal ia bisa mengetahui semua serangan fisik dari Tatsumi namun ia tidak bisa bereaksi terhadap serangan fisik tersebut. Tatsumi kembali melakukan tendangan berputar sebelum melakukan dua pukulan beruntun yang bertepatan ditulang rusuk.
Zank mundur beberapa langkah sambil memegangi tempat tulang rusuknya berada. ia pun mengangkat dan melihat kalau Tatsumi sudah tidak ada ditempatnya.
Ketika merasakan hawa seseorang dibelakangnya, Zank menoleh dan melihat kalau Tatsumi saat ini sedang berjongkok dengan kedua tangan yang membentuk heandseal tiger. Zank berkeringat dingin ketika melihat kalau Tatsumi sedang menyeringai kepadanya.
"Konoha Hidden, Taijutsu Ougi: Sennen Goroshi!"
Cleb!
"Gyaaa!!!!"
Zank terlempar keatas dan jatuh ketanah dengan wajah membiru sambil memegang bokongnya. Tatsumi sendiri saat ini sedang tertawa terbahak-bahak kalau teknik nista yang diajarkan oleh Naruto ternyata berguna juga.
"Hahahaha! Bagaiman rasanya terkena teknik itu?! Naruto-sensei bilang kalau itu adalah salah satu teknik terkuat yang berasal dari desa ia berasal! Hahahaha!" tawa Tatsumi.
Zank perlahan berdiri dan menatap Tatsumi dengan wajah merah yang menandakan kalau ia sudah marah. Harga dirinya sudah dilecehkan karena terkena teknik nista yang sangat menyakitkan itu. Tatsumi langsung menghentikan tawanya dan memasang kuda-kuda kembali ketika melihat kalau Zank sedang marah.
"Beraninya... Beraninya... BERANINYA! AKAN KUPENGGAL KEPALAMU DAN KUCINCANG TUBUHMU!!"
Tatsumi menatap serius kearah Zank yang saat ini sedang berlari kearahnya. Ia menghirup nafas sambil mengeratkan genggamannya.
Bugh!
"Tat."
Zank memuncratkan air liur begitu Tatsumi memukul ulu hatinya dengan sangat keras. Saking kerasnya pukulan itu, gelombang kejut terlihat menembus tubuh Zank.
"Su."
Kali ini Tatsumi melakukan uppercut kearah dagu Zank sehingga pria itu memuntahkan darah karena pukulan tersebut.
"Mi."
Tidak hanya itu, Tatsumi segera memegang belakang kepala Zank lalu menariknya dan mempertemukan wajah Zank dengan lututnya.
"Rendan!"
Tatsumi mendorong Zank kebelakang dan akan segera melakukan serangan penghabisan tanpa mengetahui kalau Zank sedang menyeringai.
Cras!
Mereka berdua terdiam sambil berdiri membelakangi. Baik Tatsumi dan Zank sama-sama menundukkan kepalanya. Terlihat segari darah muncul dipipi kanan Zank sedangkan darah dalam volume banyak muncrat dari dada Tatsumi.
Kaki Tatsumi bergetar sebelum ia terduduk dan berakhir jatuh terbaring dengan raut wajah kesakitan. Ia mencoba mendongakkan kepalanya dan melihat kalau Zank saat ini sedang menatapnya sambil menyeringai.
Zank menghapus darah yang keluar dari hidungnya. "Bagus... Bagus... Aku harus mengakui kalau gaya bertarungmu itu unik dan hebat sekali. Tetapi sayang sekali kalau itu saja tidak cukup untuk mengalahkanku."
"se-setidaknya ugh... Kau tidak bisa memenggal ugh... Kepalaku." Tatsumi menjawab sambil menahan sakit.
Zank terdiam sebelum menyadari kalau yang dikatakan oleh Tatsumi itu benar. Ia menggertakkan giginya sebelum berlari kearah Tatsumi dengan ekspresi marah.
"BRENGSEK! KALI INI KUPENGGAL KEPALAMU!!"
Jleb!
Langkah Zank terhenti ketika secara tiba-tiba sebuah katana tertancap tepat dihadapannya. Baik Tatsumi dan Zank sama-sama mendongak keatas dan melihat kalau ada seseorang yang sedang terjun mengikuti gravitasi.
Tap! Wush!
"Gaya bertarung yang menakjubkan dan kau masih bisa bertahan hingga aku datang. Kerja bagus, Tatsumu dan sekarang serahkan sisanya padaku."
Tatsumi melirik kedepan dan melihat kalau orang itu sedang memasang kuda-kuda dengan katana yang diacungkan kedepan. Tatsumi pun memasang senyum lemah begitu mengetahui siapa orang tersebut.
"A... Akame, kah? Ka... Kalau begitu a... Aku serahkan dia pa... Padamu." ujar Tatsumi sebelum ia pingsan.
Akame mengangguk. "Tentu saja dan beristirahatlah, Tatsumi."
Zank terdiam sebelum menyeringai. "Tidak kusangka kalau aku akan bertemu denganmu ditempat ini, Akame-chan. Bagus... Bagus..."
"Aku tidak pernah ingat kalau pernah bertemu dengan orang tua mesum sepertimu."
"Ucapanmu itu sangat menyakitkan, Akame-chan. Entah kenapa aku justru semakin bersemangat untuk memenggal kepalamu."
"Kalau begitu." tatapan Akame menjadi tajam. "Kenapa tidak dicoba, apa kau mampu untuk memenggal kepalaku, sebelum aku membunuhmu."
Zank menyeringai. "Bagus... Bagus... Sepertinya menyenangkan."
.
.
~AND~
.
.
Disebuah tempat yang tidak diketahui dimana keberadaannya. Terdapat sebuah kastil besar yang megah dengan dipolesi cat berwarna putih. Diruang utama kastil itu terdapat 3 orang yang memakai pakaian berwarna putih.
"••••••••, bagaimana pembuatan pil-pil itu?" tanya sosok pertama.
Sosok kedua merunduk hormat. "Prajurit-prajurit kita saat ini sedang diubah menjadi pil-pil itu, •••••••••--••••"
"Bagus, lalu bagaimana pencarian keberadaan binatang berekor itu, ••••••••?" tanya sosok pertama kepada sosok ketiga.
"Yah... Mencari keberadaan binatang-binatang itu ternyata susah juga. Jadi, aku belum menemukan tempat binatang itu berada." jawab sosok ketiga.
"Teruskan pencariannya."
"Baiklah-baiklah."
Sosok pertama memandang lurus kedepan sambil menyeringai. 'Dunia dari Rikudou-sennin akan kamu binasakan dan dengan begitu impian Kaguya Hime-sama untuk memiliki seluruh chakra akan terwujud.'
.
.
~AND~
.
.
Trink! Trink! Trink!
Akame menahan tebasan Zank yang lagi-lagi mengarah kelehernya. Tidak hanya itu, entah kenapa semua serangan yang ia arahkan kepada Zank selalu dihindari dengan mudah.
"Tentu saja karena aku memiliki teigu ini!"
Akame melompat kebelakang untuk menghindari tebasan pedang Zank. Ia mengatur nafasnya dan mengobservasi Zank.
"Bagus... Bagus... Meski tubuhmu kecil tapi ternyata kau punya tenaga yang kuat, Akame-chan." ujar Zank sambil menyeringai.
Akame terlihat masih mengatur nafasnya. 'Karena dia bisa membaca isi hatiku sehingga kami berdua imbang. Kalau begitu.'
Akame menghirup nafas dan menghembuskannya perlahan, ia pun menutup matanya untuk berkonsentrasi. Zank menatap diam sebelum menyeringai kembali saat sudah tidak merasakan niat apapun dari Akame.
"Bagus... Bagus... Ternyata kau sudab berhasil sampai pada titik hampa. Tapi, itu tidak akan berguna karena teigu Spectator ini bisa melihat masa depan hanya dari pergerakan otot saja." jelas Zank.
Dash! Dash!
Mereka berdua melesat kearah satu sama lain dengan cepat. Akame segera mengayunkan katana miliknya namun berhasil ditahan oleh Zank. Zank juga segera melakukan beberapa gerakan menusuk namun Akame berhasil menahan semua tusukan itu.
Trank! Trank! Trank!
Percikan-percikan api terus berhamburan ketika kedua logam itu saling berbentura. Suara dentingan logam juga menjadi musik pengiring pertarungan itu. Baik Akame maupun Zank terlihat tidak ada yang mau mengalah.
Trank! Trank! Trank!
Mereka berdua terus mengayunkan pedangnya masing-masing hingga bebatuan jalanan retak. Naruto yang kebetulan baru samapi hanya memilih untuk menonton terlebih dahulu.
Trank! Trank! Wush! Sraat!
"Hah... Hah... Hah... Hah..."
"Haaaah... Haaaaah... Haaaaah..."
Mereka berdua terlihat terengah-engah dan saling memandangi dalam jarak 10 meter. Naruto sendiri hanya menyipitkan matanya sambil melihat kearah Akame.
"Akame terluka?" gumam Naruto sambil melihat adanya segaris darah dipaha rekannya itu.
Zank sendiri segera menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya. "Hebat sekali, Akame-chan. Kau memang pantas berada dalam Night Raid, tetapi bagaimana caranya kau menghadapi suara-suara itu?"
"Suara?"
"Suara itu, suara orang yang telah kau bunuh. Aku sering mendengarnya. Mereka berteriak dari dalam Neraka dan terus berteriak agar aku menyusul mereka. Suara itu terdengar sangat memuakkan, Akame-chan. Aku ingin tahu, apakah suara it-"
"Tidak ada."
"Apa?"
Mata Akame menjadi dingin. "Seperti yang aku bilang barusan, aku tidak mendengar suara-suara yang kau maksudkan tadi."
Zank terdiam beberapa saat sebelum tubuhnya bergetar hebat. "Hehehe... Hehehe... Hehehe... Gyahahahaha... Oh Akame-chan, ternyata kau orang yang mengecewakan."
Akame menjadi siaga saat melihat kalau Zank sedang menyilangkan kedua tangannya didepan kepala.
"Sekarang, rasakan kematianmu, Akame-chan." teigu berbentuk mata yang ada didahi Zank langsung terbuka dan mengeluarkan cahaya hijau, dalam hitungan detik kemudian.
Deg!
Tubuh Akame seketika membeku saat melihat sesuatu, bukan karena langit yang menjadi merah tetapi apa yang dilihatnya didepanlah yang membuatnya membeku. Naruto pun heran saat melihat kalau Akame hanya berdiam diri saja.
'Kurama, apa yang terjadi dengan Akame-chan? Kenapa dia hanya diam saja?'
'Gadis itu terjebak dalam genjutsu.'
'Terjebak?! Kalau begitu, Akame-chan bisa dalam bahaya!'
'Jangan terlalu paranoid, gaki.'
'Tapi...'
Naruto tidak berhasil menyelesaikan kata-katanya saat melihat kalau Akame sudah berhasil bergerak dan hampir saja membunuh Zank.
'Lihat hasilnya sendiri, gaki.'
'Kau benar, Kurama.'
Zank menatap tidak percaya. "Kenapa! Kenapa kau bisa tanpa ragu mengayunkan pedangmu pada orang yang kau sayangi, AKAME!?"
"Karena aku menyayanginya sehingga aku ingin membunuhnya." jawab Akame dengan nada dingin.
Jawaban dari Akame merupakan hal yang tidak dapat diduga oleh Zank sehingga ia hanya bisa menatap Akame dengan pandangan tidak percaya. Akame mengacungkan Katana Murasame miliknya kearah Zank.
"Musnahkan."
Greb!
"Tunggu dulu."
Lari Akame tertahan ketika ada yang menarik kerah belakang bajunya. Ia pun menoleh untuk melihat siapa orang itu.
"Naruto?"
Ternyata orang yang menarik kerah Akame adalah Sang Nanadaime. Naruto sendiri hanya tersenyum lebar dan melepaskan tangannya dari baju Akame.
"Kenapa kau menghentikanku?" tanya Akame.
"Soal dia biar aku saja yang mengurusnya dan lebih bauk kau segera beristirahat dan menyembuhkan luka Tatsumi." ujar Naruto.
"Tidak, biar aku yang menghabisi orang itu."
"Jangan membantah, Akame-chan. Meski seperti tidak terjadi apa-apa tetapi aku tahu kalau kau sedang tertekan. Itu bisa kulihat dari raut wajahmu."
"Apa maksudmu?"
"Kau pasti melihat sesuatu yang membuat mentalmu jatuh tadi."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Karena kau sudah sering melihat orang yang mentalnya jatuh."
Akame langsung terdiam saat mendengar pernyataan dari Naruto. Naruto sendiri hanya tersenyum kecil sebelum mengambil sesuatu didalam kantong rompinya dan memberikannya pada Akame.
"Apa ini?" tanya Akame saat menerima dua buah pil coklat yang seukuran kelereng.
"Zouketsugan, berfungsi mempercepat fungsi sumsum dalam pembentukan darah beberapa kali lipat. Makanlah dan berikan satu pada Tatsumi. Biar orang ini aku yang lawan." ujar Naruto sambil memegang puncak kepala Akame.
Akame mengangguk dengan sedikit rona merah diwajah cantiknya. "Baiklah dan berhati-hatilah, dia bisa membaca isi hatimu."
Naruto tidak menjawab namun hanya melambaikan tangannya. Akame memperhatikan sebentar sebelum berjalan kearah Tatsumi yang sedang terbaring.
Naruto tersenyum sambil melirik kebelakang sebelum pandangannya melihat kedepan dimana Zank sudah berdiri kembali.
"Jadi, inikah Kubikiri Zank?" tanya Naruto.
Zank seketika menyeringai kembali ketika melihat orang dihadapannya ini. "Bagus... Bagus... Sepertinya kau cukup berani juga, ya. Siapa namamu?"
"Aku adalah Kitsune, anggota Night Raid dan aku adalah kematianmu." jawab Naruto sambil memakai kembali topengnya dan menatap Zank dengan mata yang bersinar biru didalam topeng.
-To Be Continued -
Note: Akhirnya selesai juga!!!!! Bagaimana dengan chapter 6 ini. Menghibur apa tidak. Silahkan komentar dan bisa memberi saran melalui PM dan kotak review. Ane selalu siap menerima saran apapun.
Ada yang bertanya tentang Boruto dichapter 5, kenapa Boruto masih membenci Naruto padahal sudah mengetahui permasalahannya? Jawaban ane sih, Boruto itu belum tahu tentang permasalahan diantara Naruto dan Hinata. Yang ia tahu kalau Naruto sudah pergi dan membuat Hinata menangis serta Himawari sakit. Jadi, Boruto itu belum tahu sama sekali titik masalahnya.
Disini juga sudah terlihat 3 orang yang kemungkinan sudah pasti banyak yang tahu siapa mereka bertiga ini. Dan juga dichapter ini adalah penampilan perdana Tatsumi menggunakan taijutsu klan Uzumaki yang diajarkan oleh Naruto.
Mungkin itu saja yang bisa saya katakan karena harus segera bersiap-siap untuk kembali ke Asrama Ponpes. Selama diasrama, akan saya usahakan untuk membuat chapter 7 dan 8 dibuku sebelum memindahkannya dihp ketika pulkam kembali.
Silahkan follow, favorite, dan review jika ingin. Mohon maaf jika masih ada salah penulisan kata-kata. Akhir kata...
Assalamuallaikum Wr. Wb.
[Ichizan Hissatsu Out]
