Author : Yuta Uke
Chapter : Sixteen – Fate
Genre : Angst, Tragedy, Hurt/Comfort, Romance, Fantasy
Warning: Unbetaed fic, Semi-Canon, OOC (maybe), SUPER LONG BECAUSE THIS IS LAST CHAPTER
Words : 21,838
FFXV fanfiction for my bestie...
Ini adalah kisah sedih,
Yang digariskan demi memuaskan keegoisan sang agung…
Ini adalah kisah pedih,
Yang diberi untuk menyiksa mereka, para keturunan yang dianugrahi keistimewaan...
Mereka yang dikatakan sebagai penyelamat, namun sesungguhnya hanyalah pion dari kegagalan belaka dan diberikan kehidupan dengan jerat memilukan...
Ini...adalah kisah perih…
Yang tercipta tanpa memerbolehkan pelakonnya tersenyum bahagia…
Mereka tenggelam dalam kesengsaraan,
Mereka terjerat oleh alur kejam…
Dan...kisah ini...berakhir sampai di sini...
Gelita adalah tirai yang terjuntai menutupi bentang cakrawala. Kelam itu melapisi, menghilangkan pendar menyilaukan yang selalu didamba kehadirannya. Lapisan itu menjadikan bola raksasa agung seolah-olah seperti terseret ke dalam tidur panjang abadi sehingga ia tak lagi terlihat memancarkan binar—tak dibiarkan membagi kemolekkan.
Tak hanya mentari. Sang kawan setia, rembulan, tak juga nampak hadir di langit luas tersebut. Serupa dengan surya, tak diberikan ia kesempatan setitikpun untuk memberi bias perak cantik. Wujudnya yang bulat sempurna dibiarkan tertutupi pula oleh keruh yang bentuknya menggulung-gulung menyerupai kapas bumi di cakrawala luas.
Keruh dan kelam yang mewarnai dunia ini bukanlah kegelapan biasa; yang dulu merupakan satu sapuan warna yang kerap hadir karena dunia berputar dan siklus hari berganti. Gelapnya bukanlah malam, melainkan muncul karena sesuatu yang kumuh, yang menguap dan melapisi atmosfir hingga akhirnya menjadikan cahaya terenggut—hampir—abadi.
Itu adalah sesuatu yang memberi ketakutan panjang bagi khalayak banyak, pembawa sengsara dan pemusnahan perlahan bagi mereka yang bernapas.
Wabah. Itulah sebutannya.
Ia muncul akibat amarah salah seorang pelindung dunia. Wabah tersebut merupakan pemberi sengsara bagi mereka kaum yang tamak—dahulu kala, di era yang jauh sekali. Kotor itu hadir tak terelakkan, menjangkiti, menggelapkan akal sehat di fase pertama—membuat penderita terbutakan oleh emosi ataupun bertindak tidak sesuai akal sehat, setara hampir gila—dan merenggut nyawa-nyawa mereka yang malang saat di fase terakhir.
Kemurkaan maha agung adalah sesuatu yang begitu menyeramkan. Walau mereka yang dulu dilindunginya sudah hampir punah dan zaman telah silih berganti, amarah tersebut tetap saja ada. Ia terus menerus hadir, turut mencorengi kemurnian waktu yang kerap bergulir tanpa henti.
Begitu kejamnya wabah tesebut. Bahkan, mereka para makhluk tertinggi lain yang seharusnya melindungi pun tak dapat mengenyahkan, tak kuasa menghilangkannya dari bumi yang tetap berputar.
Berbagai upaya diusahakan agar bumi Eos yang cantik dapat kembali kepada kondisi sucinya. Akan tetapi, berusaha sebagaimanapun, mereka yang memiliki intelektual tinggi tetap tak mampu mengenyahkannya.
Mereka tak kuasa menghilangkan, mereka tak mampu untuk menghapuskan.
Hingga pada akhirnya, salah seorang dari mereka yang paling tinggi memerlihatkan kuasa. Sosok tersebut menurunkan berkat, mengalirkan kekuatannya kepada dua orang anak manusia di belahan dunia yang berbeda.
Inilah awal mulanya. Skenario hitam di atas putih tercipta dan pemberi wahyu berkata-kata kepada dua orang itu bahwa hanya garis keturunan merekalah yang mampu melawan noda di bumi yang tak kunjung menghilang. Hanya keduanya yang mampu menggunakan kekuatan cahaya murni guna memerangi kumuh yang telah dianggap selayaknya kutukan, yang akan tetap ada karena berang dan kekecewaan salah seorang maha agung tersebut.
Berikutnya, penguasa tersebut juga menurunkan bongkah cantik. Itu adalah sesuatu yang menjadi wadah jiwa milik kaum-kaum yang telah menghembuskan napas terakhir lebih dahulu.
Kedua garis keturunan yang diciptakannya diberikan benda bulat berkilau sebagai perantara lafal para dewa dan sumber kekuatan. Fleuret, itulah nama garis keturunan yang mampu untuk menerima untai kata penciptanya. Kekuatannya diwariskan hanya kepada anak perempuan di keluarga itu dan Oracle adalah sebutan mereka sang pemilik keberkatan dewa. Ia akan berdialog, menjadi perantara antara kaum fana dan juga sang abadi melalui kristal. Tak hanya hal itu saja, ia juga turut diberi kekuatan untuk menyembuhkan penderita yang terjangkiti wabah dan juga menghalau kotor agar tak menutupi sang surya.
Sedang yang satunya adalah Caelum. Sama seperti Fleuret, mereka juga turut dianugrahi kekuatan yang mampu untuk mengenyahkan makhluk malam kotor. Kemampuan mereka bersumber dari kristal pemberian dewa dan pedang-pedang yang dimiliki garis keturunan itu terlumuri cahaya yang sanggup untuk membunuh para daemon menyedihkan.
Keturunan ini adalah yang spesial dan menjadi pion utama dalam kisah yang tertulis secara rapi oleh sang agung karena di dalam garis keturunan mereka, akan hadir raja dalam ramalan yang kelak akan memusnahkan wabah sampai ke sumbernya. Stori itu mengisahkan bahwa mereka merupakan kaum yang bertugas untuk melindungi kristal pemberian dewa sampai tiba waktu raja cahaya hadir ke dunia. Mereka juga diwajibkan untuk melindungi khalayak dan mengaktifkan dinding sihir demi menghalau daemon muncul di teritori mereka.
Di awal, sebelum kisah memilukan tercipta, terdapat dua anak lelaki Caelum yang dibiarkan berjalan tak berdampingan. Mereka memiliki perbedaan yang terletak pada cara kerja kekuatan mereka.
Yang tertua diberi berkat lebih unggul oleh dewa yaitu mampu menyerap kotor wabah ke dalam diri sendiri guna menyembuhkan mereka yang terjangkiti, tetapi tetap berbeda dengan oracle. Sedang sang adik, ia memiliki kekuatan untuk menebas dengan pedang yang dilumuri kekuatan pembasmi.
Caelum bungsu tak seperti kakaknya. Ia mengayunkan bilah tajam, terus menerus mengenyahkan makhluk-makluk itu dengan senjatanya. Hal tersebut membuatnya merasa bahwa cara kerjanya berbeda jauh dari sang kakak. Perlahan-lahan, ia juga merasakan bahwa kekuatannya itu membuatnya tertinggal jauh dari sosok yang dulu selalu diekorinya.
Waktu yang bergulir tanpa henti menjadikan perbedaan tersebut kian lama kian membesar dan menciptakan jarak bagi keduanya. Ketidaksamaan mereka membuat mereka berjalan dalam masing-masing langkah yang tak beriringan. Pemuda tampan yang lebih muda dari sang kakak merasa tak puas, iri dengan kekuatan anak pertama yang sepertinya diberi lebih banyak berkah oleh dewa.
Dari balik bola kaca biru keruhnya, ia melihat bagaimana sosok kakaknya dicintai banyak orang karena mampu menghilangkan kotor dengan cara yang suci. Perasaan dengkinya muncul sebab ia pun sesungguhnya ingin menjadi seseorang yang dapat menyucikan tanpa harus mengayunkan bilah tajam—membunuh.
Hasratnya begitu kuat, kian lama kian membesar selagi ia menunggu datangnya wahyu mengenai siapakah raja pertama yang akan dipilih dewa. Di dalam penantian dan perjalanannya yang tak selaras dengan sulung Caelum, hatinya mengumandangkan keraguan. Ia yang semula merasa iri seperti menyadari hal lain bahwa apa yang dilakukan kakaknya merupakan cara hina.
Selagi ragu itu menyebar ke tiap pembuluh darahnya, ada pula ambisi besar yang hadir di dalam dada. Bahkan saking hebatnya ambisi tersebut, keinginannya yang semula murni, tercorengi oleh kecemburuan yang tak dapat dikendalikan.
Bola kacanya semakin meredup, gemuruh di dada tersebut tak lagi mengalunkan nada seperti biasanya. Sampai pada akhirnya seluruh keinginannya membawa dirinya melakukan satu perbuatan yang malah memberi kutukan hingga ribuan tahun mendatang.
Kudeta.
Di dalam gelapnya hati itu, munculah keinginan untuk melakukan perebutan kekuasaan secara paksa yang dipimpin oleh sang Caelum bungsu demi menggulingkan kakaknya. Pandangannya benar telah berubah. Ia yakin bahwa cara sang putra tertua benar cara yang hina. Pasalnya, bukanlah menghabisi wabah, sesuatu yang harusnya dihilangkan malah dimasukkan ke dalam tubuh pria bersurai merah anggur tersebut. Terlebih, sang adik mengetahui bahwa noda itu membuat kakaknya perlahan-lahan kehilangan kendali.
Apapun akan ia lakukan demi idealnya.
Dengan pemikiran itulah pada akhirnya pertempuran di depan bongkah suci milik dewa tak terelakkan. Tebas menebas di antara dua kakak beradik Caelum tak dapat dicegah. Mereka saling menghunuskan pedang ke saudara mereka. Salah satunya menyerang dan satunya melindungi diri walaupun tak memiliki keinginan untuk bertarung.
Ruang dingin di sana melengkingkan denting demi denting bilah tajam. Benda-benda mengilat tersebut saling beradu, menciptakan gema mengerikan. Bunyinya memekakkan dan semakin menjadi-jadi kala salah satu benda panjang itu terpelanting jatuh ke atas lantai dingin.
Itu adalah awal petaka yang diiringi oleh jeritan pilu milik seorang perempuan Fleuret. Sang perempuan bersurai pirang pucat yang sejak awal memandangi ngeri kedua kakak beradik di bawah jarak pandangnya seketika berlari, memosisikan diri di hadapan salah seorang pria Caelum tertua yang ia cintai. Suara merdu miliknya menggema mengerikan seiring dengan hadirnya bunyi tebasan di bagian belakang tubuhnya.
Gaduh yang tadi tak nampak mendadak menyelimuti ruang tersebut. Satu persatu dari mereka yang hadir sebagai saksi di sana meneriakkan ketakutan karena ada darah yang tumpah di pertarungan tersebut. Mereka berlarian, menjauh dari pertikaian yang menghilangkan nyawa salah seorang oracle pertama di zaman mereka.
Kaku menghampiri tubuh sang pria tertua yang dilindungi. Nanar kedua emasnya melihat sosok cantik yang disayanginya memancarkan ngilu dan memucat. Raganya bergetar menahan ribuan emosi yang menguar tanpa henti. Suaranya parau, tercekat karena pemandangan yang tak diantisipasinya.
Terhembusnya napas terakhir milik tunangannya di dalam dekapannya meradangkan sesuatu yang dahulu selalu mampu untuk ditekannya. Akibat kemalangan yang menimpa dirinya, kemurkaan hadir tanpa mampu ia cegah.
Lubang menganga di dalam hatinya yang berdarah-darah akibat kehilangan sesuatu yang berharga merupakan cikal bakal kisah menyakitkan ini tercipta. Sosok pria bersurai merah anggur tersebut tenggelam cepat ke dalam borok yang terus menerus menumpuk karena diserapnya. Ia berteriak, mengudarakan kepedihan hati seraya terus terjerat ke dalam hina yang ternyata telah begitu banyak di dalam dirinya.
Sekujur tubuh kokohnya dipenuhi oleh hitam, pertanda bahwa ia telah menjadi seorang yang hina dan tak akan lagi diterima oleh bongkah suci pemberian maha agung—pada awalnya ialah raja terpilih.
Karena rasa cintanya yang mendalam, ia gagal mengendalikan kotor itu. Ia dikuasai oleh starscourge yang menghilangkan akal sehatnya. Ia menjadi sesosok yang kumuh, keberadaannya tertolak, tak lagi menjadi pilihan sesuai dengan skenario awal.
Itulah pencetusnya, itulah yang menjadikan kisah ini ada. Melihat pion yang telah diberikan kekuatan demi menghilangkan kotor itulah yang menjadikan penyusun kisah awal murka. Berang dirinya sebab jalan yang telah ia tentukan secara absolut harus karut-marut karena emosi para pelakonnya yang tak terkontrol. Amarah membuncah meliputi hatinya dan itulah pertama kalinya ia merasakan sebuah emosi benci—pada awalnya ia merasa tak memiliki emosi.
Kenegatifan dalam hatinya tak dapat diredam kembali. Ia benar-benar dibutakan oleh kebenciannya terhadap mereka yang ia berikan anugerah. Karenanya, dengan hati yang masih dipenuhi oleh geram, ia sekali lagi menuliskan sebuah stori. Ia berikan kisah baru kepada garis-garis keturunan pilihannya tersebut. Begitu absolut, begitu rinci dan sangatlah detail agar tak boleh lagi hancur karena emosi pelakonnya. Ia gariskan takdir ini sedemikian rupa, ia kendalikan hati para pemain kisahnya agar akhir tetap berada dalam genggamannya.
Ini adalah kisah yang hadir dari rasa benci dewa terhadap mereka-mereka yang dianugerahi berkat. Stori yang dipersiapkan masak-masak sejak ribuan tahun silam dan tak memiliki celah bagi mereka yang terlibat tuk berbahagia. Isinya penuh harap tak bermakna dan berjalan menuju akhir kejam yang telah dipersiapkan sebelumnya—yang ditujukan untuk garis keturunan Caelum.
Pion baru dibutuhkannya sehingga sang pencipta membentuk satu eksistensi yang akan berperan penting untuk mengendalikan seluruh hati para pemain di kisah ini. Sosok tersebut merupakan seorang insan bersurai langka yang kehadirannya dibiarkan menjadi pembawa sengsara bagi pria abadi yang telah kotor dan tak mampu mati serta sang adik yang telah lama gugur.
Ia menginginkan hati para pelakonnya karut marut sehingga ia biarkan sang bidak baru yang tak tahu menahu mengenai kutukan kelut ini menjadi sosok pembawa kepedihan yang hakiki.
Sosok tersebut adalah Crystalcrown Leonis, atau lebih tepatnya adalah Rosea Lucis Caelum. Ialah penanggung segala murka dewa. Diberi hidup setelah seharusnya mati dalam kandungan, dibiarkan hidup demi menjadi pion utama pengendali emosi bagi sang pria terkutuk dan juga raja cahaya agar rela berkorban demi akhir dongeng yang diinginkan dewa.
Hidup perempuan itu tak lain dan tak bukan hanyalah sebagai pemberi siksa. Ia semata-mata diberikan napas demi tercekik dalam penderitaan tak berdasar karena dewa telah membenci garis keturunannya. Ia menari di atas telapak tangan sang maha agung dengan jeratan benang merah kusut yang menggoresi tiap inci kulitnya. Segalanya telah diputuskan, telah ditetapkan namun dengan dibalut beberapa harap penuh siksa guna menutupi rasa benci sang pencipta kisah.
Harap palsu tersebut tak lain dan tak bukan adalah kekuatan yang dimilikinya. Pada awalnya, diberikan kepemahaman bahwa ia juga memiliki kekuatan suci seperti ibunda karena di dalam darahnya juga mengalir darah Fleuret. Ia dinobatkan menjadi oracle, yang juga memiliki kekuatan yang mampu untuk menyembuhkan penderita kotor.
Hal tersebutlah kebohongan utama penuh harap. Kekuatan menyembuhkannya ternyata serupa oleh ayahandanya yang telah menjadi kotor. Ia dapat menyembuhkan penderita starscourge dengan cara menyerap wabah itu dan juga menyeret kepul kelam ke dalam dirinya guna mengembalikan cahaya—sesuatu yang terus menerus menyakiti dirinya tiap kali ia gunakan.
Yang membedakannya adalah ia memiliki cahaya murni milik ibunda yang meniupkan sisa-sisa ruh di akhir hidup ke dalam dirinya. Akan tetapi, sayangnya binar emas itu hanyalah sesuatu yang membantu membuatnya menekan starscourge, bukanlah penghilang ataupun pemurnian.
Terlebih, perempuan merah muda yang terlahir ke dunia setelah tertidur dalam kristal suci selama ribuan tahun tersebut ternyata juga memiliki bibit starscourge milik pria yang berbagi darah dengannya. Nyatanya, dalam tiap derasnya alir darah dalam tubuhnya, terdapat pula kutukan seperti sang Caelum terbuang.
Bibit itulah yang akan terus membesar setiap kali ia menyerap wabah ke dalam dirinya. Bibit itulah yang pada akhirnya akan membawanya menuju satu sosok mengerikan yang ditakutkannya.
Ya…
Walau diberikan kalimat-kalimat penuh pengharapan dari Draconian, sesungguhnya dalam lubuk hatinya yang terdalam ia telah mengetahui takdir apa yang menunggunya. Ia telah memahami, ia telah mengantisipasi apa yang akan terjadi pada dirinya dan bergantinya hari meradangkan gelisah tersebut.
Ketika terlelap ia akan tenggelam dalam bunga tidur yang memroyeksikan masa depan, ketika ia terpejam, keping demi keping potongan sesuatu yang akan datang kerap hadir tanpa berhasil dicegahnya. Perempuan dua puluh delapan tahun itu selalu direngkuhi oleh cemas. Sesuatu perasaan tak mengenakkan yang hadir karena dirinya telah mengetahui akhir kisah ini.
Berkali-kali ia berusaha untuk menerima segalanya, akan tetapi, setiap kali ia mencoba untuk meyakinkan diri bahwa ia dapat mengubah takdir, pastilah keteguhan hatinya hancur menjadi berkeping-keping karena selalu saja ada kenyataan pahit yang terus menerus diberikan ke dalam hidupnya.
Berkali-kali ia terjatuh, beribu kali ia telah berikrar agar menjadi lebih kuat lagi dan lagi. Namun, ia yang bangkit akan terseok, ia yang kukuh akan remuk. Selalu seperti itu, seakan-akan ia tak dibiarkan memiliki ketenangan hati sebab hal tersebut bertentangan dengan garis hidupnya—yang harus terus menderita tak henti.
Benar...ia akan dan harus tetap menderita karena itulah tujuan hidupnya.
Dibiarkan perempuan yang memiliki darah keturunan pertama kebingungan di dalam hidup, dilepaskan ia begitu saja dalam kisah penuh duri yang menyayati tiap langkah kakinya. Ditenggelamkan ia ke dalam jerat kesakitan, dibunuhlah ia perlahan dalam mimpi yang hanyalah sebuah penglihatan tanpa makna—yang sengaja diberikan terhadapnya agar kukuh di hatinya karut marut karena hal tersebut, satu garis keharusan yang telah dituliskan sedemikian rupa demi akhir kisah.
Perempuan itu adalah bentuk kebencian dari dewa yang murka karena penghianatan pelakon kisahnya. Ia yang saat ini tengah terdiam di dalam kegelitaan tanpa secercah cahaya di dalam bunga tidurnya dipermainkan sedemikian rupa untuk memenuhi hasrat negatif dalam diri maha agung tersebut.
Hanyalah kegelapan tanpa ujung yang menyambut, hanyalah hitam tanpa dasar yang mengurung kaku dirinya. Merah muda dan kelabu di kedua permatanya terkotori oleh pekat tanpa cahaya di sana. Sekelilingnya kosong, begitu hampa tanpa adanya satupun hawa keberadaan di sana.
Tubuh kurusnya yang berdiri kaku di tengah kegelapan dibiarkan terdiam. Surai-surai merah muda kusamnya menari kecil kala pemiliknya menoleh ke kanan dan kiri guna membawa kedua bola kacanya menyapu sehampar pekat tak berdasar yang sangatlah kelam, hitam tanpa ada setitikpun penerangan hadir menghampiri.
Tanpa dinginkannya, secara mendadak raganya diselimuti oleh getar halus ketika satu perasaan familiar hadir merengkuhi hatinya yang dilanda gundah. Seonggok rasa yang pernah dirasainya dahulu setelah ia menginjak usia delapan belas tahun muncul begitu saja saat otaknya dengan cepat mengatakan bahwa ini adalah satu pemandangan yang muncul sebelum petaka akan terjadi.
Ya. Dulu, setelah ulang tahunnya di bulan Maret, ia tiba-tiba saja tertarik ke dalam ruang hampa ini. dibiarkan luntang lantung tanpa arah sebelum kemudian satu persatu bunga tidurnya memroyeksikan mimpi buruk dari ketakutan tanpa akhir di dalam hatinya.
Perempuan tersebut meneguk ludah. Berusaha menggerakkan kakinya yang entah mengapa terasa begitu berat untuk dilangkahkan barang seincipun. Akal sehatnya mengucapkan kata penekanan bahwa ia harus berjalan, bahwa ia harus melangkah menyusuri tempat ini. Tetapi hatinya yang sering remuk seolah tak mengijinkannya untuk pergi dari tempatnya berpijak. Seolah dibiarkan ia terdiam di sana agar tak mengetahui sesuatu yang akan membuatnya tersiksa lagi dan lagi.
Tetapi, keinginan dirinya untuk pergi dan berjalan mengalahkan kata hatinya. Dengan langkah kecil dan begitu lambat ia pada akhirnya meninggalkan tempatnya terpaku tadi, melangkah tanpa henti di dalam kegelitaan tak berujung yang semakin lama seperti semakin menggerogoti dirinya.
Seketika tubuhnya menegang dan pergerakan kakinya terhenti sempurna kala ia dapati tak jauh dari tempatnya terdiam saat ini ada hawa familiar milik seseorang yang telah ia tetapkan untuk ia indahkan perasaannya terasa. Degup jantungnya yang tak berdetak dalam tempo yang sedikit menyesakkan dada makin menjadikan dirinya tercekik.
Surai panjangnya yang sedikit bergelombang dan dibiarkan terurai menari-nari, bergerak kasar karena ia tanpa lelahnya menoleh ke sana ke mari untuk mencari sosok pemuda yang sempat pergi meninggalkannya demi mengumpulkan kekuatan demi menghilangkan kegelapan yang menjangkiti dunia.
Jeratan yang tadi membelenggu kedua kakinya seolah sirna dan ia dapat dengan mudah berlari di dalam kegelapan tersebut sembari menggapai-gapai. Kedua permatanya bergulir, mencari-cari sosok yang namanya sejak tadi terus menerus dijeritkan hatinya.
Cantik wajah miliknya tanpa berhasil ia kendalikan terkotori oleh kegelisahan yang begitu besar. Negatif perasaan tersebut tak dapat terbendung sampai seolah menguar dari pori-pori kulitnya.
Semakin kakinya melangkah, semakin menggerakkan tubuh untuk berjalan di antara gelap yang membutakan pandangnya, semakin besar pula cemas di dalam hatinya. Ia tak tahu apa itu, ia tak mengerti apa yang tengah terjadi dalam dirinya yang tak hentinya bergetar.
Ia ingin memekik, ia ingin menjerit begitu kencang di dalam ruang hampa yang tak sedikitpun membiarkannya untuk melihat cahaya. Di tiap langkahnya yang makin melebar, rasa memuakkan yang mencorengi rongga dadanya terus menerus menghimpit batinnya. Pada akhirnya ia terhenti, meringkuk sembari meremas surai panjangnya ketika merasakan sesuatu yang kotor melesak keluar dan merambati kulit-kulitnya.
Netranya membelalak, berusaha menjerit namun hanya laung bisu yang terdengar. Kerongkongannya terasa perih seakan ia seperti tengah meluapkan seluruh kesakitan yang ada dalam hatinya. Akan tetapi, pada nyatanya ia hanya membuka katup mulutnya, berteriak tanpa suara karena rasa memilukan. Kelukur bagai hadir mencoreng tiap inci raganya dan ia hanya mampu memekik dalam diam.
Di saat yang bersamaan itupulalah kedua mutiaranya semakin terbuka lebar saat ada sesuatu yang pernah dirasainya kembali hadir di sisi salah satu bagian tubuhnya—yang pernah dirasainya sewaktu ia gagal melindungi putri Tenebrae, Lunafreya. Ia yang jatuh terduduk dan tadi sempat membungkuk menegakkan tubuh, menurunkan kepala untuk melihat cairan pekat hangat yang merembes dari sisi tubuhnya.
Getaran yang memeluknya makin lama makin kasat mata. Belum lagi dingin kian menjalari, memberi napas sang merah muda semakin tersendat-sendat.
Ini adalah sesuatu yang pernah di rasakannya, yang dulu menimbulkan raut wajah terluka teramat sangat di wajah cantiknya. Namun, alih-alih menampakkan gurat seperti itu lagi, air muka milik perempuan itu berbeda. Garis bibirnya tertarik, melengkung lemah guna memerlihatkan kecantikannya di saat-saat terakhir dirinya.
Lengannya yang kurus ia rentangkan, berusaha menggapai sosok yang entah kapan telah berada di hadapannya. Jemarinya menyapu wajah tampan pria tersebut, menarikan indera perabanya menyesapi garis-garis kedewasaan yang telah hadir di wajah kekasihnya. Sudut bibirnya semakin tertarik ke atas dan melalui celah bibir yang memucat, ia hembuskan hela napas penuh kelegaan.
Dengan hati-hati ia bawa dekat wajahnya ke wajah pria yang sejak kapan terselimuti cahaya dan bisa dipandangnya—meskipun hal yang ia lakukan ini semakin menjadikan lukanya mendalam. Sang perempuan membelai sayang, semakin tersenyum sebelum menyapu bibir yang disentuhnya dengan bibirnya.
"Noctis…"
Nama yang sejak tadi melaung dalam hatinya pada akhirnya mampu untuk diucapkan perempuan cantik itu disela kecupan penuh kepedihannya. Ia semakin memagut, semakin memerdalam sampai seluruh tenaganya menguap. Kehidupan seolah tertarik, dibiarkan terhembus pergi dari raga yang pelan-pelan terkulai lemah.
Pagutan tersebut tak lagi kuat seperti sebelumnya. Perlakuannya perlahan memudar begitupun dengan hembus napas yang perlahan-lahan samar. Rasa manis yang dikecap di bibir itu semakin ternoda oleh sesuatu yang hadir karena leleh di kedua netra milik sang merah muda yang tertutup. Derainya kian deras, tak lagi mampu terbendung sekuat apapun pemiliknya berjuang.
Pucat kian mewarnai dirinya. Kecupan itu akhirnya terlepas sempurna dan tubuh kurus tersebut dibiarkan terjatuh dalam pergerakan lambat. Akan tetapi, garis manis yang menghiasi bibir itu masihlah nampak walau derai leleh pedih yang menghiasi kedua pipi pucat perempuan tersebut belum kunjung terhenti—malah semakin menjadi-jadi.
Kelopak bertirai bulu mata merah muda milik sang surai panjang dipaksa menaik guna menatap sekali lagi pria yang kini juga melelehkan kesucian dari kedua netranya. Lengkung senyumnya berusaha ia pertahankan selagi ia angkat sebelah tangannya—yang ternyata tak kuasa dilakukannya karena tak ada lagi ruh yang tersisa di sana.
Perempuan cantik tersebut hanya mampu melafal melalui pandang, menatap dalam-dalam seraya mengutarakan afeksi yang tak pernah ia lontarkan dari bibirnya.
Ia tahu inilah akhirnya ketika ia dapati paras tampan di hadapannya kian mengabur, semakin memburam. Kesadarannya makin menghilang dan ia benar-benar memahami bahwa ini adalah sesuatu yang kemungkinan besar akan terproyeksikan walau tak ingin.
Dan ia...harus menerima walau pedih.
.
.
.
Perempuan itu tersentak. Kelopaknya yang semula rapat terbuka lebar dengan cepat menampilkan kedua permatanya yang berkilat oleh lelehan air mata. Napasnya terengah-engah beriringan dengan jatuhnya peluh yang membanjiri seluruh tubuhnya. Dadanya naik dan turun dan di dalamnya ketuk irama milik jantungnya begitu memekakkan telinga—menjelaskan betapa sulit ia bernapas saat ini.
Dalam bisu dan kaku raga kurusnya, ia menatapi langit-langit kamar yang selalu menyapanya ketika ia terjaga selama tiga tahun silam. Dahinya berkerut samar dan napasnya yang tadi sesak berubah menjadi isak tangis karena leleh kepedihannya terus menerus jatuh berderai.
Dengan tangan yang bergetar ia meremas kedua sisi kepalanya, menjambaki surai merah muda panjangnya agar sakit yang berada di hatinya berpindah. Ia pun mengigiti bibir bawahnya yang pucat hingga berdarah semata-mata karena tak kuasa menahan sakit di rongga dadanya, semata-mata karena mencoba memindahkan pedih itu ke bagian lain tubuhnya.
Isak miliknya semakin kencang, racau tertahan serta gigitan dan jambakkannya kian menguat. Kakinya tertekuk, tetapi ia terlalu lemah untuk duduk.
"Kuri...Kuri, kau baik-baik saja?"
Tubuhnya menegang kala indera pendengarannya mendapati ada suara berat familiar yang memanggil namanya dengan nada penuh kecemasan. Permata miliknya yang tak lagi berwarna sama bergerak, menoleh untuk mendapati pria bersurai hitam menatapi dirinya dengan khawatir.
"Noctis..."
Selama sepersekian detik biru dan satu merah muda di sana saling menyelam satu sama lain sebelum isak tangis sang perempuan semakin pecah dan tiba-tiba saja—entah mendapat tenaga darimana—sosok tersebut mengangkat tubuh dan memeluk pria yang memang sedikit berada di atasnya.
Lengan ringkihnya bergetar, jemari kurusnya meremas kuat surai panjang sang pria. Ia mendekap, memeluk begitu erat, sangat erat seolah ini adalah saat-saat terakhir dan ia tak ingin kehilangan pria itu.
"Aku di sini..."
Sampai kapan pria itu di sini…?
Sampai kapan mereka akan berada di sini…?
"Noctis..."
Seperti tak mampu untuk berkata-kata lain, hanya nama pria itu sajalah yang kerap diucapkan oleh sang perempuan. Bibirnya yang berdarah terbuka, memanggil pria itu lagi dan lagi dengan suara parau. Kata-kata yang tadi diberi Noctis untuknya mencoreng hatinya yang kerap hancur. Itu adalah kata-kata penguatnya, tetapi, itu adalah kelemahannya.
"Kuri..."
Pelukan yang memang masih belum dilepaskan perempuan tersebut semakin kencang ketika Noctis memanggil namanya. Crystal tanpa sadar membuka katup bibirnya saat ia rasakan ada lembap di kulit lehernya—pria itu mengecupnya.
Perlahan-lahan kekuatannya yang tadi dipaksa hadir untuk merengkuh kekasihnya hilang saat pria itu semakin bermain di lekuk lehernya. Ia merasakan bagaimana seluruh tenaganya seolah terserap habis oleh prianya dan ia yang tadi duduk, terjatuh kembali ke atas kasur lembut.
"Aku di sini..."
"Buat aku tahu kau berada di sini."
Pria itu berbisik dan perempuan itu membalas dengan nada yang lirih. Sang Caelum menempelkan dahinya dan dahi sang perempuan. Ia tautkan jemari-jemari itu dan ia dekatkan wajahnya. Bibirnya sedikit terbuka guna mengecap dan membersihkan cairan merah yang ada karena merah muda itu menyakiti diri sendiri.
Kecupannya begitu lembut, memberitahukan betapa besar cinta yang hadir di dalam hati sang pria. Akan tetapi, ketika Caelum tersebut menyadari bahwa perempuannya mengerang kecil di dalam mulutnya, lembut yang tadi mengiringi mendadak berganti oleh hasrat yang terus menerus datang tanpa henti.
Ia memulai kembali permainan yang menjadi candunya, ia dekap sekali lagi perempuan Leonis di bawah tubuhnya. Kedua insan yang dipermainkan dewa itu kembali saling membagi kehangatan. Akan tetapi kali ini bukan senyuman yang menemani melainkan gurat getir dan juga leleh mata milik sang perempuan.
Musim semi tersebut mengerang, mendesah serta meracaukan nama sembari terisak dan tiap nada miliknya memenuhi ruang tersebut.
Entah sudah berapa kali mereka saling memeluk, saling meracaukan nama masing-masing sebagai ganti afeksi yang menjerit. Dahaga tersebut seakan masih menjerat mereka, membuai dan membawa mereka pergi untuk semakin terus tenggelam ke dalam dunia yang mereka ciptakan sendiri seperti saat ini.
Kedua insan tersebut mencoba melarikan diri dari kenyataan yang kejam...karenanya mereka terus menerus membagi kehangatan sampai letih menghapuskan afeksi mereka. Mereka akan melakukannya...karena kemungkinan besar ini adalah akhir kebersamaan mereka...
xXxCrystallo FiliaxXx
Di dalam ruangan kecil yang hanya memiliki satu sumber penerangan yaitu lampu tidur berwarna keemasan, kedua sosok bersurai kontras terlihat saling tidur bersisian. Deru napas mereka berhembus harmoni dengan tiupan napas bumi yang menggelitik kulit berselimutkan selembar kain.
Di atas satu-satunya ranjang yang tak begitu besar di sana, salah seorang pria bersurai sekelam malam menyampingkan tubuhnya. Bola kacanya yang biasanya masih terpejam kini telah tampak—suatu hal langka sebab pria tersebut lebih dulu terjaga dari perempuan di sampingnya.
Biru keruh permatanya ia bawa lekat untuk melihat kekasih hatinya yang masih terlelap. Diamatinya baik-baik wajah cantik yang begitu damai dalam tidur di sampingnya. Tanpa disadari pria tersebut, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membuatnya menyunggingkan senyuman tipis sekali. Pendar di kedua bola kacanya melembut dan ia bawa jemarinya untuk menyentuh kulit pipi sang merah muda. Jari-jari panjangnya menari, membelai sayang penanda afeksinya.
"Hmm?"
Pergerakan sang raja terhenti ketika ia melihat calon ratunya membuka kedua mata sembari mengerutkan dahi. Sepertinya, sentuhannya yang dibuat selembut mungkin membuat perempuan di hadapannya terjaga.
"Selamat pagi?"
Pria itu berkata atau lebih tepatnya bertanya. Pergerakan jemari yang tadi sempat terhenti kembali hadir dan pria tersebut terus membelai wajah kekasihnya yang masih memancarkan kantuk. Dari balik bola kacanya, Noctis dapat melihat ada sedikit kurat bingung dan tak percaya yang ditampilkan oleh sang merah muda.
"Aku pasti sedang bermimpi. Noctis-ouji bangun lebih dulu dariku…"
Mendengar kata pertama yang menyambut pagi harinya membuat pria tampan di sana mendengus geli. Jemarinya yang tadi masih bergerak untuk membelai mendadak mencubit gemas pipi kekasihnya yang turut menaikkan kedua sudut bibir.
"Karena aku ingin lihat wajahmu." Ucap pria itu, menggoda.
"Ini benar mimpi. Ouji menjadi menjijikkan seperti Gladio."
"Mengataiku sembari memeluk?"
Noctis hampir tertawa melihat perlakuan Crystal yang tak sejalan dengan kata-kata perempuan tersebut. Mulut perempuannya memang mengutarakan kata yang tajam, akan tetapi pergerakan sosok tersebut menjabarkan rasa kasihnya—kebiasaan sang perempuan yang kerap ada sejak usianya masih belia.
"Karena dingin." Putri kristal tersebut memejamkan mata dan semakin membenamkan kepala ke dada sang pria, menyesapi usapan lembut Noctis di kepalanya. "Siapa yang mengajarimu kalimat menjijikkan seperti itu selama sepuluh tahun ini? Bahamut?" Tanya atau ejek Crystal.
"Seandainya iya, aku tidak akan bosan di sana."
Masih sembari memeluki kekasihnya, Crystal terkekeh kecil mendengar jawaban sang raja. Hatinya diselimuti oleh kehangatan yang didambanya dan dialog konyol seperti inilah yang membuatnya yakin bahwa salah satu pria yang selalu berada di sisinya sejak kecil tersebut benar telah kembali.
Pada akhirnya pria itu kembali...
Untuk kembali pergi...
"Lama sekali kau pergi. Kau melewatkan banyak kejadian."
"Aku sempat dengar sedikit dari Prompto. Kau merancang pesta pernikahan shogun dan Eira, kan?"
"Betul!" Mendengar topik kesukaannya diangkat, Crystal segera mengangkat wajah dan menatapi Noctis dengan mata berbinar. "Dan aku punya adik kembar! Aku yang memberi mereka nama, lho! Rei dan Reira."
"Nama apa itu sederhana sekali."
"Itu gabungan dari nama papa dan Eira, tahu!"
Mendapati rajanya mengejek nama pemberiannya membuat sang Leonis merah muda menggembungkan pipi sembari menampakkan wajah sebal. Kalimat pembelaannya tadi dilengkingkan begitu kuat—hampir saja membuat sang Caelum menutup kedua telinganya.
"Kalau begitu nanti aku saja yang akan menamai anak kita."
Tak diantisipasi. Itulah yang dirasakan Crystal saat ini ketika Noctis tiba-tiba saja mengumumkan sesuatu yang menggelitik hatinya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum kembali menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah ke dalam dada bidang pria tersebut.
"Anak kembar lucu."
Kata-kata sang perempuan mengalir begitu saja, diterbangkan lembut oleh udara lembap di dalam ruangan tersebut. Sedang, sang pria yang mendapatkan kalimat yang tak disangka-sangka oleh calon ratunya membuatnya bereaksi samar. Biru keruhnya seperti meredup sejenak, dibawa untuk melihat dinding dingin, menerawang jauh sekali karena tahu hal yang tadi ia katakan tak akan pernah terwujud.
"Apa di garis Lucis Caelum ada yang kembar?" Tanya pria itu seraya mengecup pucuk kepala merah muda sang oracle gagal.
"Tidak...?"
"Sepertinya tidak." Balas pria itu lagi dan mengeratkan dekapan ke perempuannya.
"Apa di Fleuret ada, ya?"
"Tidak tahu. Tidak pernah lihat." Jawab Noctis sembari membelai lembut kepala gadis itu.
"Kalau begitu tidak bisa."
Ada tawa yang meluncur dari bibir menggoda sang pria ketika indera pendengarannya tergelitik oleh nada desah kecewa oracle merah muda yang dipelukinya. Setitik rasa lembut datang memberi manis di rongga mulutnya, akan tetapi tetap saja getir lebih banyak hadir merengkuhinya sehingga tanpa ia sadari dekapan miliknya menguat sebagai lambang kesedihannya.
Di luar sepengetahuan Noctis, Crystal menyadari ada perubahan di dalam diri pria tersebut. Kurang lebihnya ia mengetahui bahwa sang raja kini terjerat dalam kepedihan karena topik yang ia bicarakan. Karenanya, ia merenggangkan pelukannya, menatap sang Caelum dengan senyum yang dipaksa ia hadirkan sembari ia belai lembut pipi teman sepermainannya.
"Ouji...kenapa kau menumbuhkan janggut sih?"
Itulah kata-kata pengalihan yang diberi Crystal terhadap kekasihnya. Dahinya yang semula tak berkerut mulai menampakkan gurat-gurat ketidaksukaan atas pemandangan yang tersaji di hadapan kedua bola kacanya. Jemari kurus yang tadi membelai sayang mendadak menarik sedikit rambut-rambut wajah yang tak tertata rapi milik putra Regis di depannya.
"Aduh!" Noctis meringis dan memukul lembut punggung tangan perempuan tersebut, menjadikan Crystal terkikik senang. "Biar lebih dewasa. Tampan, kan?"
"Kotor."
"Apa yang kau harapkan di alam dalam kristal, hah? Bahamut akan menyediakan pisau cukur dan cermin untukku?"
Setelah sang raja menghela napas tidak suka, tawa oracle merah muda tersebut semakin menjadi. Sungguh, ia sangat menyenangi tiap-tiap celoteh konyol yang diberikan Noctis kepada dirinya. Sebab ia sangatlah tahu bahwa masa-masa ini tak akan pernah terulang...tidak akan...
"Dipotong, ya." Semanis mungkin putri itu berkata-kata agar prianya menuruti kemauannya—
"Tidak mau."
—tetapi sang kekasih menolak dengan tegas membuatnya mengerucutkan bibir sembari menggembungkan pipi.
"Aku akan memotongnya diam-diam kalau begitu." Ucap Crystal dengan sungguh-sungguh.
"Tidak akan bisa."
"Kubuat kau pingsan lalu kucukur."
"Kau ini sejak dulu senang sekali melakukan hal yang ekstrim."
Helaan napas kalah milik Noctis menggelitik hati sang musim semi sehingga perempuan cantik itu tertawa lepas. Gelaknya berderai, menciptakan alunan melodi merdu yang sanggup menghangatkan hati raja keseratus empat belas di sana.
"Masa kau mau tampil seperti itu di hari pernikahan kita?"
Pria bersurai kelam tersebut menyeringai setelah sang perempuan menyelesaikan pertanyaannya. Ia menampilkan senyuman khas miliknya yang kini terlihat berbeda—tak lagi terlihat seperti orang mengantuk. Detik berikutnya, Noctis bawa dekat wajahnya ke wajah Crystal sebelum ia rendahkan nada suaranya—
"Saat itu aku akan tampil setampan mungkin."
Tanpa aba-aba, Crystal tersentak dan merah muda manis segera saja menghiasi wajah cantiknya. Hangat hadir menggelitik kulit wajahnya dan ia berusaha untuk menutupi rasa malu yang datang dengan menajamkan mata.
"Busutis-ouji tidak akan bisa tampan—hmmh—"
Kalimat perempuan tersebut terhenti begitu saja karena secara tiba-tiba prianya malah mengecup bibirnya. Ia yang terkejut semakin membelalak saat menyadari bahwa Noctis memerdalam perlakuannya. Lembap itu bermain, mengajaknya terbuai ke dalam permainan yang tak akan pernah mampu untuk ia lepaskan.
Sedang yang memercikkan api menyadari bahwa Crystal tak lagi berkutik di bawah kendalinya. Ia segera mengangkat tubuhnya tanpa melepaskan pagutan, memerdalam untuk mengajak perempuan itu mabuk dalam sentuhannya. Pada menit berikutnya ia menyeringai senang saat mengetahui bahwa teman kecilnya sekarang ini hanya mampu terkulai lemas, menikmati tiap jamah yang diberinya.
Hanya ingin menggoda. Itulah yang sejak awal bermain dalam benak sang raja sehingga ia mendadak melepaskan ciumannya. Biru keruhnya berkilat penuh emosi jahil saat ia melihat bagaimana kacau wajah perempuan di bawahnya. Kedua bola kaca yang terkilau oleh setitik air mata, bibir dan pipi yang memerah menggoda...
"Coba katakan sekali lagi dengan wajah itu." Titah raja cahaya di sana sembari menyeringai usil.
"Pangeran bodoh!"
Tawa pria tersebut meledak saat ia dapati Crystal memukulnya dengan bantal yang beberapa menit lalu dikenakannya. Malu yang diperlihatkan oracle di bawahnya membuat hatinya semakin tergelitiki oleh bahagia.
Ia...tak ingin hari ini berlalu...
"Aku sudah jadi raja, tahu." Ucap pria itu bangga sembari menidurkan tubuhnya kembali di samping sang merah muda yang masih saja memerah. "Dan kau ratuku."
Lagi-lagi ada kalimat yang tak terpikirkan oleh Crystal yang diberi Noctis. Perempuan dua puluh delapan tahun di sana semakin memerah dan mencubit pangkal hidung sang Caelum, menunjukkan kekalahannya.
Mengapa ia jadi tidak bisa menang dari teman kecilnya ini?!
"Baiklah raja, apa kau sudi mendengar permintaanku?" Ucap Leonis itu setelah berhasil menguasai diri.
"Apa itu? Kalau anak kembar, persentasenya kecil sekali sih. Tapi bisa kubuat terus menerus sampai berhasil."
"Hei!"
Crystal sekali lagi memukul dada pria tersebut dengan kesal. Ia merasa malu, teramat sangat malu karena Noctis bodoh yang selalu berkelahi dengannya dulu terus menerus mengucapkan kata-kata memalukan terhadapnya.
Berbanding terbalik dengan sang perempuan, raja tersebut malah mendengus geli. Reaksi yang diberi Crystal begitu segar dan ia baru menyadari bahwa ternyata ia candu menjahili kekasihnya. Jika tahu semenggemaskan ini, sudah pasti ia akan bersekongkol dengan Gladiolus sejak dulu.
"Jadi apa yang ingin kau minta?"
Mengambil beberapa helai surai merah muda sang perempuan dan mengecupnya, biru itu diarahkan untuk memandangi kekasihnya lekat.
"Aku ingin pernikahan yang sederhana."
"Tidak mungkin." Jawab pria itu cepat.
"Eh? Kenapa?"
"Kau pasti ingin mengenakan gaun super mewah yang berkibar-kibar."
"Kau masih ingat?!" Crystal memekik tak percaya.
"Bagaimana mungkin aku melupakan lamaran yang terus diulang ribuan kali? Bahkan aku yakin Ignis yang kau lamar waktu umurmu lima tahun itu juga masih mengingatnya."
Terselesaikan kalimat pria tersebut menjadikan keduanya tertawa bersama. Mereka terkikik geli, mengenang kembali masa-masa lalu yang manis dan terasa begitu jauh. Rindu datang mengetuk pintu hati mereka masing-masing melembutkan raut wajah mereka...betapa inginnya mereka mengulang kembali masa-masa itu.
"Aku saat itu bodoh sekali."
"Tidak ingin membiarkanku bodoh sendiri, kan?"
"Benar!"
Crystal menengadah, memertemukan bola kacanya dengan biru yang disayanginya sebelum kemudian semakin memeluk pria itu.
"Aku sedikit cemburu."
Pernyataan tanpa aba-aba sang Caelum membuat musim semi di sana hampir tersedak tawanya sendiri. Ia terkikik, melepaskan pelukannya sebelum memandangi Noctis dan berkata—
"Kau yang membahas Ignis kenapa kau yang cemburu?!"
"Aku cemburu jadi aku menginginkanmu lagi. Ijinkan aku mendekapmu."
"No-Noctis—"
Belum sempat Crystal menahan pria itu untuk menyerangnya, Noctis telah lebih dulu melumat bibirnya tanpa ampun. Jemari kokoh tersebut bergerak, bermain di tiap inci kulit dan meninggalkan rasa panas yang menjadikan desahan kecil meluncur dari bibir manis perempuan cantik di sana.
Tangan kurusnya terangkat, mengalung di belakang leher rajanya, membawa pria tersebut semakin merapat dan mendekat ke arahnya.
"...ini yang terakhir..."
Sang oracle gagal tiba-tiba saja menegang kala indera pendengarannya menangkap perkataan Noctis disela-sela kecupan mereka. Dalam sekali hentak, Crystal melepaskan pagutan mereka dan ia segera mendorong dada pria itu sebelum bangkit dari tidurnya.
Perempuan tersebut menunduk dalam duduk, berusaha menyembunyikan wajahnya yang telah berubah karena kalimat yang diucapkan kekasihnya tadi.
"Aku—"
"Ini adalah jalanku, Kuri."
Kalimat perempuan tersebut terputus. Mutiara yang tak lagi berwarna senada itu bersirobok dengan biru keruh yang menatapnya dengan penuh keteguhan. Tanpa diinginkannya, luka yang tadi tertutupi oleh hangat afeksi sang pria tiba-tiba saja kembali terbuka, menganga lebar tersayati oleh udara dingin, memberi perih.
Nanar kedua permata tersebut ketika ia dapati orang yang disayanginya telah memutuskan untuk berserah diri pada takdir. Ia menggertakkan gigi, berusaha untuk mengontrol wajahnya yang semakin terluka.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati, ouji."
Bukannya Crystal telah memiliki rencana atau mendapatkan cara agar pria tersebut tak meregang nyawa di akhir kisah ini, ia berkata seperti itu semata-mata karena ia telah bersiap untuk mengorbankan diri. Ya. Ia akan memberikan nyawanya agar Noctis tetap bisa bernapas sampai cahaya mentari kembali menyinari Eos.
"Ini jalanku."
"Tidak ada artinya aku hidup jika kau tak ada! Kau mati, aku mati. Aku mati, kau harus tetap hidup!"
"Tidak akan kubiarkan. Kau...harus mendapatkan kebahagiaanmu."
Mendadak Crystal menegang. Wajahnya yang semula terluka mendadak menampakkan rasa ketidakpercayaan yang teramat sangat. Ia seolah tahu apa yang akan dikatakan Noctis setelah ini oleh karena itu ia mendadak meringkuk, menutupi kedua telinga dengan telapak tangannya yang bergetar.
"Jangan kau katakan."
"Kuri...kembalilah ke sisi Ignis."
Perempuan yang menutupi tubuhnya dengan selimut putih di sana menegang saat Noctis menarik kedua tangannya agar telinganya tak lagi tertutupi. Kalimat penuh luka yang diberi oleh sang pria tadi menikam hatinya. Tanpa disadarinya, ada leleh yang jatuh berderai dari kelopak matanya.
"Kenapa kalian selalu seenaknya?!" Ia menampik kasar cengkeraman pria tersebut dan melantang begitu kencang. "Ignis mengatakan hal yang sama kepadaku dulu dan kini kau juga membuangku dengan kata-kata yang hampir sama?!"
Secepat yang ia mampu, Noctis segera memeluk kekasihnya kuat-kuat. Tak mampu dibendungnya, ia juga sedikit melelehkan kepedihan dari pelupuk matanya. Ada rasa sesal begitu besar di dalam dirinya ketika ia lihat perempuan yang disayanginya mendadak berteriak lantang menjadi sosok yang menyedihkan.
Dalam diam Caelum tersebut tahu bahwa ialah penyebab Crystal kehilangan kendali. Maka dari itu pelukannya menguat, dipaksa menjadi kuat walau ia tahu hal yang tadi ia minta adalah hal terbaik untuk kedua orang yang disayanginya.
Sekalipun pada akhirnya ia menyadari perasaannya, pada akhirnya ia mendapatkan Crystal—walau dengan cara memaksakan perasaannya ke perempuan tersebut—kenyataan bahwa mereka tak akan pernah bisa bersatu sepenuhnya harus benar-benar ia telan. Realita itu menghancurkan segalanya. Mereka tak akan bisa bersama. Tidak akan, karena ia harus pergi meninggalkan perempuan itu selama-lamanya.
"Aku mencintaimu..."
Ataukah memang seharusnya ia tidak pernah mengatakan hal ini kepada teman sepermainannya?
"Kalau begitu jangan lepaskan aku."
Ataukah memang seharusnya saat itu ia memukul Ignis dan meminta agar penasihatnya memeluk perempuan yang dicintainya?
"Aku mencintaimu. Berbahagialah demi aku."
Sekali lagi Crystal merasakan tubuhnya seperti terhempas ke duri-duri tajam dan membuatnya berdarah-darah saat mendengar kalimat yang dibisikkan prianya. Ia menegang sebelum kemudian dengan cepat melepas pelukan dan menatap tak percaya sosok raja yang semalam memeluknya.
Mengapa semudah itu Noctis mengucapkannya?
Mengapa mereka tak bisa bahagia walau sedetik saja?
Mengapa ia terus menerus dibuang setelah diberi kehangatan?
Tanpa membuka mulutnya kembali, sang putri kristal mendorong Noctis hingga ia benar-benar terlepas sempurna. Diturunkan tubuhnya dari ranjang hangatnya dan ia menyambar gaun yang terserak di lantai. Dengan langkah gontai sang perempuan berjalan menuju kamar mandi.
Perih itu masihlah ada di hatinya, sakit itu terus menerus membuatnya hampir berteriak. Tetapi ia paksakan diri untuk tetap bungkam. Bahkan, ia berusaha mengabaikan Caelum tiga puluh tahun yang hendak meraih pergelangan tangannya.
Bunyi berdebam pintu terdengar cukup kencang saat sang merah muda menutupnya. Dibukanya pancuran air yang selama tiga tahun ini selalu melihat kerapuhannya—seperti saat ini—dan seperti sebelum-sebelumnya, air dingin yang membasahi sekujur tubuhnya tak pernah mampu membantunya untuk menenangkan diri. Dalam dingin air yang mengucuri kepalanya, Crystal biarkan ada leleh hangat di sebelah permatanya, ia biarkan kesedihan itu hadir menenggelamkannya.
Ia terisak, melepaskan kesedihan di dalam hatinya yang kali ini hadir karena pria yang ditungguinya selama sepuluh tahun. Apakah memang ia tidak boleh bahagia? Apakah memang ia akan selamanya menderita?
Bahamut...apakah kau benar-benar membenciku?
Sang perempuan saat ini semakin tenggelam dalam kesakitan. Lagi-lagi ia merasakan perasaan memuakkan yang pernah dirasainya dulu ketika pria yang dicintainya sejak ia masih belia selama belasan tahun membuangnya begitu saja.
Mungkin memang inilah jalannya, mungkin memang ia seharusnya tak merasakan bahagia karena sampai kapanpun ia akan terhempas lagi ke dalam duri kesengsaraan.
Begitu besar kepedihan yang menggerogoti hatinya sampai Crystal tak menyadari bahwa ada kehangatan lain yang melingkari tubuhnya. Perempuan tersebut terkesiap dan deras air matanya semakin menjadi ketika ia menyadari bahwa Noctis menyusulnya.
Pria tersebut ikut membasahi diri bersamanya, memeluknya dengan erat dari belakang. Kepalanya yang semula tertunduk perlahan-lahan bergerak, mengikuti permintaan tangan Noctis yang memiringkan wajahnya—agar mereka bisa saling bertatap-tatapan.
Tenaga perempuan cantik tersebut bak hilang, terserap oleh afeksi yang sekali lagi diberikan pria di belakangnya. Meskipun hatinya penuh amarah karena kata-kata terakhir pria tersebut, tetap saja ia tak akan pernah mampu untuk mendorong kekasihnya ketika sosok tersebut menghujaninya dengan ribuan hasrat penuh kasih sayang hanya untuknya.
Di dalam kerapuhannya, ia kembali terbuai dengan seluruh permainan yang diberikan prianya di bawah derasnya pancuran air yang tak kunjung berhenti. Dingin yang tadi merabai raga berganti menjadi hangat karena menaiknya suhu tubuh keduanya.
Mereka sekali lagi terjerat ke dalam permainan dunia yang entah sudah berapa kali membuai mereka. Keduanya saling membagi kehangatan, saling mendekap seolah hanya inilah saat-saat terakhir mereka merasakan kehangatan masing-masing.
...bukan seolah...memang itulah kenyataannya...
"Noctis..."
Perempuan tersebut membuka mulutnya, melafalkan nama pria yang sekali lagi memenuhi dirinya. Ia bawa bibirnya yang memerah untuk bersatu dengan milik pria itu. Ia acak surai lembap pria Caelum di hadapannya dengan jemarinya yang bergetar. Ia tak ingin melepaskan, ia sudah berjanji kepada diri sendiri untuk mencintai pria itu seperti dulu ia mencintai pria yang ia berikan sebelah matanya.
Noctis segera mematikan pancuran air yang terus menangis. Bunyi deras air yang terjatuh itu seolah pelafal kristal kepedihan karena tak kuasa menahan simpati melihat bagaimana kejamnya takdir menjerat ia dan perempuan ini.
Ia sambar handuk yang tergantung tak jauh dari tempatnya berpijak dan ia usapkan lembut ke Leonis merah muda yang masih saja belum berhenti menangis.
Dalam hitungan detik, setelah memastikan dirinya dan calon ratunya tersebut tak lagi basah kuyup seperti tadi, ia membawa perempuan itu ke dalam kamar yang menjadi saksi bisu emosi mereka. Sepanjang jalan tersebut, raja tak melepaskan pagutannya. Malah semakin dalam dan membuat sosok di dalam dekapannya mendesah dalam mulutnya.
Ia hempaskan lembut perempuan kurus itu di atas ranjang berseprai acak sebelum kembali lagi ia jamahi tanpa lelah.
Ini adalah terakhir kalinya...karenanya ia ingin mengukirkan dirinya di dalam perempuan tersebut agar sosok itu tak melupakannya...
Meski dalam suratnya ia ingin kekasihnya melupakannya agar bahagia...
.
.
.
"Kau bisa berjalan?"
Merupakan satu kalimat bernada khawatir yang diberi oleh pria Caelum. Biru keruhnya ditumbukkan untuk menatapi perempuan bergaun hitam selutut yang kini tengah mendudukkan diri di tepi tempat tidur dengan wajah memerah dan dahi berkerut.
"Ouji, sudah lima kali kau bertanya!"
"Tapi aku khawatir karena terakhir tadi aku begitu kasar—aduh!"
"Sudah kubilang aku baik-baik saja."
Noctis yang sejak tadi menjadi seseorang yang berisik mendadak mengulum senyum saat melihat bagaimana wajah cantik kekasihnya teramat merah seperti tomat segar karena pernyataannya tadi. Padahal sesungguhnya ia benar khawatir dan tidak bermaksud untuk menggoda sama sekali. Tetapi, mendapati reaksi sang perempuan yang begitu menyenangkan, tanpa disadarinya salah satu sudut bibirnya berkedut menahan seringai.
"Aku tidak bisa menahannya—"
"Noctis!"
Caelum itu menangkis satu lagi bantal yang melayang ke hadapannya dan ia biarkan tawa meluncur dari celah katup bibirnya. Tak hanya mulutnya saja yang menghembuskan gelak, kedua birunya yang bersirobok dengan sang perempuan juga turut memancarkan sorot tawa.
"Aku jadi tahu perasaan Gladio yang senang menggodamu."
Mendengar pernyataan jujur milik Caelum tiga puluh tahun di sana menjadikan Crystal mendelik. Sepersekian detik ia biarkan tajam matanya—yang sebenarnya malah memberi gemas di dalam hati Noctis—sebelum kemudian ia mendesah kasar dan bangkit dari duduknya. Pergerakannya begitu cepat karena ia sebenarnya berusaha untuk melarikan diri dari pria yang entah mengapa jadi senang sekali menggodanya ini.
"Sampai kapan kau mau berpenampilan seperti itu? Cepat pakai bajumu—"
"Sampai kau terbiasa melihatku—ugh!"
Noctis yang telah berdiri di belakang Crystal harus merelakan kalimatnya terhenti dan berganti dengan ringis sebab perempuan yang masih memerah di sana meninju perutnya, benar-benar mengerahkan seluruh tenaga tanpa ampun.
"Aku keluar duluan!"
Diterbangkannya penyataan penuh nada jengkel di sana menjadi kalimat terakhir yang diberi Leonis merah muda. Dalam sekali hentak ia buka pintu merah yang menjadi penghalang dunianya dan dunia luar. Segera pula ia langkahkan kakinya menuju kegelapan yang telah lama sekali tak dilihatnya.
Crystal merapatkan syal hitam yang memang tersampir di bahunya saat kulit pucatnya tersapu oleh tiupan napas Eos yang kumuh. Dalam diam ia menengadah dan sebelah permatanya menyorotkan nanar karena akhirnya ia menatap lagi kegagalannya. Ya...dirinya gagal, dunia menggelap dan hal itulah yang menjadi penyebabnya terus menerus mengurung diri di dalam tempat yang telah disulap sedemikian rupa menjadi rumah kecilnya—dan juga sembari menjambaki mahkotanya.
Dengan gontai perempuan tersebut menaiki anak tangga dan melompati pagar berduri yang memang dipasang mengelilingi Hammerhead dari makhluk malam—dan juga khususnya untuk mengantisipasi jika ia kehilangan kendali.
Derak sepatunya yang bergesek dengan tangga besi serta tanah berdebu adalah pemecah hening malam dan bunyi tersebutlah pertanda bahwa saat ini ia telah mampu berdamai dengan seluruh kegagalannya—dahulu, tak sedikitpun mau melangkahkan kaki ke luar tempat persembunyiannya.
Dalam langkah yang tak begitu besar, sang musim semi terlihat berjalan menuju restoran Takka yang telah berganti alih menjadi tempat berkumpulnya para hunter. Wajahnya mengeras, sedikit kaku karena ternyata ia masihlah takut untuk bertemu orang orang lain.
"Crystal-nee!"
Mendadak perempuan yang kini telah berada di dekat bangunan terang tersebut membeku saat indera pendengarannya menangkap dua suara familiar yang melengkingkan namanya.
"Rei, Reira?!" Kalimat penuh keterkejutannya mengudara dan ia yang telah berbalik benar tak dapat menutupi wajah nanapnya saat salah satu berliannya mendapati kehadiran dua sosok anak kembar berkepala coklat yang berlari ke arahnya. "Kalian kenapa di sini?!" Tambahnya sembari memerdengarkan nada khawatir setelah berkata cukup keras.
"Ingin ketemu Crystal-nee!" Jawab seorang gadis cilik berusia tujuh tahun bersurai sepunggung dengan riang.
"Bohong. Kau cuma ingin ketemu Talcott kan, Reira?"
"Oh itu alasan utama, sih."
Gadis kecil bernama Reira di sana tersenyum lebar sembari menggelayuti lengan pemuda Hester di sampingnya—yang memang tadi ia tarik untuk turut mendekat ke kakak perempuannya. Perlakuan dan perkataan gadis itu membuat sang pemuda tertawa kecil dan kemudian ia segera menepuk-nepuk kepala anak bersurai coklat keruh yang lebih pendek darinya.
Berbanding dengan ketiga sosok di sana, Crystal selaku lawan tutur Reira hanya mampu mengerjap masih menandakan keterkejutannya. Sebelah permata merah mudanya bergantian memandangi kedua adik yang tak berbagi darah dengannya sebelum ia terhenti pada sosok Talcott. Pastilah pemuda tujuh belas tahun itu yang membawa kedua adiknya ke sini.
"Papa dan Eira bisa membunuhku jika tahu kalian di sini." Ucap Crystal dengan begitu sungguh-sungguh.
"Kami bisa bertarung! Aku bisa sihir mama dan Rei bisa teknik pedang papa seperti ajaranmu, Crystal-nee!"
"Tapi di luar sini bahaya! Banyak daemon berkeliaran dan kalian bisa celaka."
"Tapi kami bosan di Lestallum. Papa dan mama pergi ke Insomnia, kami juga mau pergi!"
"Aku ingin bertemu denganmu, Crystal-nee."
Kedua perempuan bersurai coklat keruh dan merah muda di sana secara cepat menoleh ke anak laki-laki yang tiba-tiba saja membuka mulut, melontarkan perasaannya. Pasalnya, apa yang dituturkan Rei secara tiba-tiba tadi sangat tidak berbanding selaras dengan percakapan keduanya dan hal itu menjadikan Reira sang kakak menghela napas kecil.
Menutup rapat kedua bibirnya yang sempat bercelah, gadis manis tersebut menaikkan kedua permata obsidiannya, ia hendak mengetahui reaksi apa yang diberikan kakak perempuannya setelah mendengar pengakuan jujur milik Rei yang mendadak terucapkan begitu saja.
Sejak tiga tahun kakak perempuan mereka mengurung diri, Reira paham bahwa sosok yang paling kehilangan Crystal adalah Rei sebab sang Leonis merah muda acap kali mengajak adiknya itu bermain pedang—yang sebenarnya hanyalah kamuflase belaka karena oracle tersebut mengajari adik lelakinya teknik pedang secara sembunyi-sembunyi sebab Cor tidak menginginkan kedua anaknya menyentuh pedang.
"Rei merindukanmu."
Reira yang telah melepaskan pegangannya pada pemuda Hester di sampingnya tadi semakin mendekatkan diri ke arah adik kembarnya. Bibirnya yang mungil menyunggingkan senyum dan ia elus pucuk kepala coklat anak itu. Bibirnya semakin ia paksakan menaik, mencoba tersenyum agar sang kakak merah muda yakin bahwa mereka sangat merindukannya.
Semakin lekat ia pandangi Crystal, semakin ia tersenyum karena tahu bahwa sosok merah muda yang telah berjongkok menyejajarkan tinggi tubuh dengan dirinya dan adiknya tersebut memerlihatkan kilau penuh luka...sangat terluka.
"Rei..."
Hanya itulah yang mampu diucapkan sang putri kristal untuk membalas perkataan kedua anak kecil di hadapannya. Hatinya yang selalu rapuh kini terhimpit saat mendapati bagaimana kedua adiknya mengutarakan rasa kerinduan terhadapnya.
Ya...ini adalah pertama kalinya mereka bertemu setelah tiga tahun lamanya ia mengurung diri karena terkena starscourge. Dengan ketakutan yang tak kunjung hilang, perempuan cantik tersebut tak pernah ingin bertemu siapapun karena terlalu khawatir bahwa ia akan memberikan kotor kepada siapapun yang berinteraksi dengannya—khususnya untuk dua malaikat ayahandanya yang berharga.
Crystal memutuskan untuk menjauh, menghindari kedua adik kembarnya demi melindungi mereka. Ia sangat takut, teramat cemas jika borok dalam tubuhnya sewaktu-waktu akan menggerogoti mereka. Ia tidak akan memaafkan dirinya jika sesuatu terjadi pada dua sosok manis tersebut.
Ia tidak akan memaafkan dirinya jika sesuatu mencelakakan anak-anak itu...demi apapun akan ia lakukan untuk mereka meski perlakuannya tersebut nyatanya malah memberi kesedihan begitu dalam bagi Rei dan Reira.
"Kuri?"
Oracle gagal yang tadi tenggelam dalam pikirannya terperanjat kaget ketika tiba-tiba saja ada suara pria familiar yang memanggil namanya. Tanpa ia sadari, ia telah berdiri cepat saat menyadari Noctis telah berada di sampingnya.
"Ouji..."
Reira mengerjap. Kedua bola kaca kelamnya dibawa untuk memandangi sesosok pria bersurai hitam legam yang tiba-tiba saja berada di dekat mereka. Ditliknya baik-baik pria Caelum di sana, mencoba menerka dan mencerna siapa pria asing yang tak pernah sekalipun ia temui itu.
"Oh." Gadis kecil itu membulatkan mulut. "Senang bertemu denganmu, raja. Aku Reira."
Sembari memberikan gestur penghormatan—menunduk seraya memundurkan kaki kanannya menjadi dalam posisi menyilang, menarik sedikit kedua sisi roknya dengan telunjuk dan ibu jari, menekukkan kaki untuk merendah dan menundukkan kepala—Reira memerkenalkan diri, mengabaikan Rei yang masih sibuk melongok memandangi ruangan berpintu merah yang mereka ketahui sebagai tempat perlindungan kakaknya.
Ya, alih-alih mengikuti gestur Reira sang kakak, Rei malah masih saja memandangi ruangan itu dan juga raja bergantian. Dahinya berkerut sebab ia tahu bahwa pria tinggi tersebut keluar dari 'rumah' kakaknya. Saat itu pula pendar di kedua berliannya memancarkan tatapan tak senang.
Ia tak pernah ke kamar itu, tapi pria tersebut dengan mudah keluar masuk tempat itu.
"Aduh!"
Seketika Rei meringis kesakitan saat mengetahui bahwa kakak kembarnya menyikut ulu hatinya. Ia menoleh, berusaha untuk memrotes namun tatapan seram milik Reira yang serupa ibunya membuatnya bungkam.
"Mana tata kramamu?!"
Begitulah bisik Reira kepada Rei yang kini tengah mengerenyitkan dahi mencoba mencerna maksud sang gadis kecil. Detik berikutnya anak lelaki tersebut menghela napas sejenak sebelum kemudian mengangguk simpul dan segera menunduk mengikuti gestur kakaknya tadi.
"Aku Rei." Ucapnya dengan nada yang tidak begitu jelas.
Mendengar adanya perbedaan cukup signifikan antara kalimat kedua anak kembar tersebut menjadikan Noctis yang berada di sana bersidekap sembari mengerutkan dahi. Hatinya sedikit terusik karena mendapati adanya aura tidak bersahabat yang dimunculkan salah satu adik kekasihnya.
Apa salahnya?
"Kalian sengaja datang kesini?" Tanya sang pria berusaha untuk mengobrol meski ia bingung topik apa yang harus diperbincangan dengan kedua anak berusia tujuh tahun di bawah jarak pandangnya.
"Ya, raja. Kami ke sini untuk bertemu Crystal-nee." Ucap Reira dengan nada riang. "Ya kan, Rei?"
"Crystal-nee..." Alih-alih menjawab kalimat kakak kembarnya, Rei mendadak menengadah untuk memandangi Crystal yang kini telah berbalik menatapnya. "Apa...aku sudah boleh menyentuhmu?"
Diberikan kalimat seperti itu membawa sang perempuan seperti terhempas ke bebatuan karang yang dingin. Bola kacanya sedikit membulat terkejut sebelum akhirnya pandang itu berganti menjadi nanar karena dua pasang permata kelam di bawah jarak pandangnya memandanginya dengan tatapan penuh harap. Rei berkata, melafal melalui kedua mutiara seindah langit malam tanpa taburan bintang.
Crystal meneguk ludahnya, merasakan tubuhnya sedikit bergetar sebab codet di dalam hatinya terbentuk lagi karena kalimat pertanyaan yang dilontarkan sang adik. Di hadapannya kini ada sesosok anak laki-laki yang dulu selalu digendongnya, diajaknya bermain, disayanginya meskipun tak ada darah yang terbagi dengan anak itu.
Anak lelaki dan anak perempuan di sana adalah adik tanpa ikatan keluarga yang selalu menerima dirinya apa adanya, yang menanyakan hal menyedihkan karena kehadiran mereka sempat ia tampik selama tiga tahun lamanya karena kelemahan dirinya—Crystal terlalu takut untuk menyentuh mereka sebab ia kotor.
"Kuri..."
Ia tersentak ketika pria yang berdiri di sampingnya memanggil namanya dengan nada begitu pelan. Surai merah mudanya menari mengikuti pergerakan kepalanya. Crystal memertemukan kedua permatanya dengan biru rajanya. Tak ada satupun kalimat yang terhembus dari katup masing-masing bibir mereka. Kini, hanyalah pandang mereka yang saling bertutur kata.
Walau tanpa berbicara, sang merah muda memahami bahwa pria tersebut berusaha meyakinkannya bahwa semua baik-baik saja.
Ya...masihlah ada rasa takut yang timbul di dalam hatinya.
Bagaimana jika ia akan menularkan borok di dalam dirinya ke dua pasang malaikat ayahandanya?
Bagaimana jika ia gagal dan tak mampu meredam hitamnya kemudian mencelakakan kedua anak itu?
Perempuan tersebut sekali lagi merasakan napasnya tercekat ketika ke-negatif-an menjerat dirinya lagi dan lagi. Jantungnya bertabuh begitu keras kala memahami bahwa pikiran-pikiran buruk tersebut muncul akibat adanya borok di dalam dirinya sehingga tubuhnya semakin bergetar dan ia meneguk ludah beberapa kali.
"Crystal-nee?"
Lamunan sang musim terhenti setelah Reira memanggil namanya. Tangannya yang bergetar halus ia kepalkan dan permata merah mudanya yang tadi sempat melihat Noctis mengangguk sekilas dialihkan lagi ke kedua adiknya. Dengan gemuruh di dalam hatinya yang terus menerus menyiksa, ia bawa tubuhnya merendah dan ia paksakan senyuman tersungging di bibirnya yang sedikit pucat.
"Ke-kemarilah."
Terbangnya kata-kata persetujuan sang perempuan Leonis membuat kedua anak berusia tujuh tahun itu menoleh dan saling bertatapan selama sepersekian detik sebelum kemudian menghambur, memeluk erat kakak perempuan mereka.
"Rei! Jangan memonopoli Crystal-nee sendirian!"
Merupakan lengking sebal yang diudarakan Reira kala mendapati Rei tak memberinya tempat untuk memeluk sang kakak. Wajah cantiknya yang mirip dengan pemimpin Kingsglaive yang kini berada di Insomnia tersebut tercorengi oleh gurat kesal dan ia berkacak karena adiknya benar-benar tak bergerak seincipun untuk memberinya ruang.
Tetapi pada menit berikutnya wajahnya yang jengkel tadi melembut saat bahu dari kedua sosok berharga baginya bergetar samar. Walau tak terlihat, Reira paham bahwa baik Crystal maupun Rei tengah menitikkan air mata sedikit dalam diam.
Menjadi anak yang hidup di antara kegelapan dengan beribu pengetahuan yang didongengkan orang tua mereka menjadikan sang putri sulung kurang lebih memahami apa yang terjadi pada sosok dalam dekapan Rei—tak hanya Reira, adik kembar sosok itu juga mengetahui apa yang ia ketahui.
Diberkahi otak yang cerdas memudahkan mereka untuk mengetahui seluruh runtut kisah sedih yang tak ditutup-tutupi kedua orang tua mereka. Karenanya, mereka biarkan leleh pedih turun membahasi pipi mereka sebab mereka tahu bahwa kemungkinan saat ini adalah saat terakhir mereka bisa memeluki kakak perempuan mereka yang tengah tersenyum.
...terakhir…
"Rei? Kau mau memeluk Kuri-nee sampai kapan?"
Melepaskan pelukan singkatnya dari Crystal, Reira membuka mulut untuk menegur Rei agar adiknya tersebut tak semakin larut dalam kepedihan. Namun, putra Cor Leonis di sana tak mengindahkan pernyataan kakak kembarnya. Bukannya melepas seperti Reira, Rei malah semakin membenamkan wajahnya di dada sang kakak.
Sungguh, meski anak lelaki itu tahu perlakuannya ini akan membuat Crystal semakin bersedih, ia merasa sangat tidak ingin melepas. Ada sesuatu yang hadir di hatinya dan hal tersebutlah yang menjadikan lengannya begitu berat untuk dilepaskan dari tubuh kurus sang merah muda.
Terlebih saat ini ada rasa cemas yang menguar memenuhi rongga dada kecilnya. Ia tanpa sadar semakin mendekap begitu erat sebelum kemudian sedikit bereaksi kala merasakan ada jemari kurus mengelus kepalanya—jemari milik Crystal.
Merasa enggan, Rei pada akhirnya melepaskan pelukannya dan sedikit menengadah untuk memertemukan berliannya dengan berlian beda warna yang tak pernah gagal menenangkannya. Hati kecilnya semakin terhimpit-himpit ketika ia melihat bagaimana wajah penuh luka yang tak menutupi kecantikan sosok di sana memamerkan senyuman untuknya. Itu adalah sunggingan yang teramat disukainya...yang mungkin akan terakhir dilihatnya.
"Hei Rei, raja melihatmu tuh."
Dibisiki seperti itu oleh kakak kembarnya membuat Rei terkesiap dan mengerjap. Tanpa disadarinya, hitam mutiaranya telah terarah ke sosok pria tinggi yang ternyata tengah memandanginya lekat-lekat. Akan tetapi, alih-alih melepas, sang anak lelaki malah kembali membenamkan wajahnya di dada kakak perempuan bersurai merah mudanya. Ada perasaan tak suka ketika ia tahu ia harus melepas pelukan karena dipandangi seperti itu oleh Noctis. Karenanya, Rei tetap memeluk sebelum memiringkan kepala sedikit, melirik ke arah raja dan menaikkan satu sudut bibirnya.
Ia menang. Raja tengah menahan bibir yang berkedut karena kesal.
"Bodoh."
Sedangkan Reira yang memang melihat seluruh runtut adegan tersebut menghela napas karena kelakuan saudaranya. Ia menggelengkan kepala dengan dramatis dan lebih memilih tersenyum ketika tahu Crystal melihatnya dengan tatap bingung—bagaimana tidak bingung, Noctis sang raja memerlihatkan wajah sebal kepada anak kecil berusia tujuh tahun.
Reira melangkahkan kakinya yang tak jenjang untuk mundur sebab tak ingin terlibat dengan tingkah konyol kedua orang di depannya—ya. Menurutnya sang Caelum juga konyol karena tersulut oleh anak kecil. Gadis cilik tersebut berlari kecil menuju Talcott yang turut menderaikan tawa karena pemandangan di depannya.
"Kau tidak ikutan?" Tanya Talcott mencoba menggoda.
"Tidak mau. Biar Rei saja yang bodoh sendiri."
Pemuda Hester di sana mau tidak mau tertawa kecil mendengar perkataan Reira. Ia menepuk-nepuk pucuk kepala Leonis cilik tersebut dan tersenyum. Betapa ia rindu pemandangan konyol yang mampu membuatnya menaikkan sudut bibirnya, betapa ia rindu melihat Crystal akhirnya kembali mendapatkan senyumannya dan rajanya memamerkan wajah penuh jenaka lagi.
"Kalian sedang apa?"
Adalah satu kalimat yang diberi seorang Amicitia dan mengagetkan Talcott dan juga Reira di sana. Kedua insan tersebut menoleh ke belakang dengan cepat dan menaikkan jarak pandang mereka untuk membalas tatap Gladiolus.
Tetapi tak ada satupun dari mereka yang menjawab sebab tak paham dengan apa yang harus mereka jelaskan.
"Ada apa—oohh...raja kita dikalahkan anak kecil."
Rei yang memang belum melepaskan dekapannya mendapati suara tinggi pria Argentum yang melantangkan kemenangannya. Tanpa menjauh, ia menoleh ke belakang untuk bersitatap selama beberapa menit dengan Prompto sebelum menyeringai lebih lebar karena pria pirang tersebut memberikan ibu jari penanda dukungannya.
Leonis muda di sana menolehkan kepalanya ke arah Crystal dan ia semakin merapatkan tubuhnya ke sang kakak perempuan merah muda. Dibawa kepalanya pada perpotongan leher sosok di depannya sebagai penanda bahwa memang ia teramat sangat tak ingin menjauh.
Hatinya tetap mengulang-ulang kalimat 'jangan lepaskan' dan sekujur tubuhnya seperti memberat sebab benaknya mengatakan bahwa kedamaian lengkap seperti ini kemungkinan besar tak akan pernah kembali.
...padahal seharusnya raja datang untuk mengembalikan cahaya dan senyuman...mengapa sejak tadi ia memikirkan hal buruk seperti itu?
Menggeleng seraya merenggangkan pelukannya, Rei menghela napas kecil. Ada setitik perasaan aneh yang menggerogoti hatinya sehingga ia putuskan untuk menyudahi perlakuannya. Putra Eira Leonis di sana bergerak lambat, menjauhkan tubuhnya dari raga kurus sosok yang dirindukannya selama tiga tahun silam.
"Apa ini?"
Tiba-tiba saja ia mengerutkan dahi dan menyuarakan pertanyaan yang ada dalam kepalanya. Dalam pergerakan yang begitu cepat sang anak lelaki menyibak sedikit rambut di leher sang Leonis merah muda. Pandangnya menajam, dibawa lekat untuk melihat memar berwarna merah kehitaman di kulit putih perempuan tersebut.
"Rei?"
"Crystal-nee di lehermu ada luka!"
Rei melantang seraya membelalakkan kedua permata hitamnya. Wajahnya yang semula tenang diliputi oleh sedikit kengerian dan ia tatap kakak sulungnya dengan tatapan khawatir.
"Apa?! Coba kulihat."
"Reira, sembuhkan!"
"Tanpa kau bilang juga aku akan sembuhkan."
Pada awalnya, para pria yang baru datang—termasuk Ignis yang bergabung belakangan—hendak mendekat karena khawatir saat mengetahui bahwa salah satu sahabat mereka terluka. Akan tetapi pergerakan mereka terhenti ketika mendapati Noctis tersedak lucu setelah menyadari luka apa yang dimaksud.
Gladiolus adalah yang pertama yang menyadari. Secara susah payah ia coba untuk tidak terbahak sehingga ia katupkan bibirnya rapat-rapat. Namun usahanya itu sempat hancur karena rajanya tiba-tiba saja berdeham kecil, memalingkan wajah sembari tersenyum malu. Begitupun dengan Crystal. Sang perempuan—yang pada akhirnya menyadari—menjadi sangat merah dan berusaha mengalihkan pandang dari beberapa orang di sana menatapnya.
"Re-Rei, tidak apa-apa. nanti juga sembuh sendiri." Perempuan keturunan Caelum pertama tersebut mencoba berkata—
"Tidak bisa. Reira, ayo sembuhkan."
Tetapi adik lelakinya tetap memaksa bahkan sampai menitah tak sabar kakak kembarnya dengan suara yang cukup lantang.
"Aku sedang berusaha!"
Crystal tak berkutik. Ia ingin segera terhindar dari topik ini namun ia tahu bahwa keduanya tidak akan mendengar jika sudah fokus seperti ini. Karenanya, ia menengadah, mencoba meminta bantuan Noctis untuk mengalihkan perhatian adik-adiknya agar tidak mengurusi 'luka' yang bukanlah luka.
"Tunggu." Perempuan muda tersebut sedikit tersentak saat sang raja yang tadi memalingkan wajah tiba-tiba saja menahan tangan kecil milik Reira yang tengah bergerak untuk menggambar lingkar sihir di dekat lehernya. "Ini perintah raja, jangan dihilangkan."
Betapa Crystal sangat ingin memukul pria tersebut karena bukannya mengalihkan topik, Noctis malah menambahi dengan mengatakan sesuatu yang tak perlu—dengan suara yang direndahkan dari biasanya pula.
Ia tahu bahwa pastilah kalimat tadi akan memberi rasa penasaran lebih besar lagi bagi kedua adiknya yang cerdas. Detik berikutnya, Crystal ingin sekali melarikan diri kala indera pendengarannya menangkap suara derai tawa milik teman-temannya. Bahkan Reira dan juga Rei di hadapannya menoleh ke belakang sembari mengerutkan dahi dan makin memerlihatkan wajah kebingungan.
"Ah!" Beberapa insan di sana terperanjat kaget saat putri kecil Cor berteriak. "Rei! Itu seperti yang sering mama punya! Habis digigit papa!"
Semua orang yang berada di sana benar hampir tersedak karena perkataan salah satu anak kembar tersebut—tidak untuk Gladiolus karena ia terbahak kencang sekali.
"Siapa yang berani-beraninya menggigit Crystal-nee?!"
Aku ingin menghilang!
Batin perempuan cantik tersebut menjerit dan tanpa disadarinya ia telah menengadah, membawa permata merah mudanya yang terkilau oleh air mata malu ke arah Ignis yang ternyata tengah memandangnya.
"Tentu saja—"
"Prompto."
Sang Argentum yang hendak melanjutkan topik menyenangkan ini harus rela terhenti sebab ia telah mendengar Ignis menyebut namanya dengan nada yang begitu rendah—isyarat penuh penekanan bahwa ia harus berhenti. Meski harus menyudahi kesenangan ini, Prompto mengulum senyum karena satu lagi beban di hatinya sedikit terangkat saat melihat kedua sahabat yang disayanginya menampakkan wajah seperti dahulu kala—sebelum beban dunia berpindah ke pundak mereka.
"Jadi, kapan kalian akan pergi?"
Talcott adalah orang pertama yang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan sebab iba—Crystal menampakkan wajah yang teramat sangat memelas. Pemuda Hester di sana mendekat ke arah Reira, memegangi kedua bahu gadis kecil itu dan menariknya sedikit ke belakang, menjauh dari sang oracle.
"Kami akan pergi hari ini." Noctis setelah berdeham sekali lagi untuk menguasai dirinya.
"Pergi? Ke mana?" Tanya Rei yang ingin tahu.
"Ke Insomnia."
"Menyusul papa dan mama?"
"Benar, Rei."
Mendapatkan jawaban dari Noctis dan juga Crystal tadi tanpa sadar menjadikan kedua anak kembar tersebut saling menatap satu sama lain. Hitam berlian mereka bertutur kata, bertanya-tanya dalam diam apakah perasaan tak tenang mereka karena ini? Karena para orang dewasa tersebut akan pergi setelah baru saja kembali?
"Apakah kalian akan kembali setelah mentari bersinar?"
Berpasang-pasang mata yang berada di sana—khususnya untuk sang raja dan calon ratu Lucis sedikit membulat setelah Rei mengudarakan pertanyaannya. Tanpa siapapun inginkan, ada pedih yang hadir di tiap-tiap pasang bola kaca di sana.
"Aku pasti akan mengembalikan cahaya."
"Aku akan menghilangkan gelap ini."
Bukan itu jawaban yang mereka inginkan.
Dalam hati kedua anak kembar tersebut melantang. Ya, bukan itulah jawaban yang ingin mereka dengar dari oracle dan sang raja. Mereka menginginkan jawaban untuk melegakan hati mereka.
Tetapi baik Rei maupun Reira tidak mengucapkan kalimat apapun lagi. Otak mereka yang cerdas menjadikan keduanya paham bahwa diam dan berdoa adalah satu-satunya pilihan bijak yang mampu mereka lakukan saat ini...sampai tirai keemasan kembali memamerkan kemolekkannya.
xXxCrystallo FiliaxXx
Selepas berpamitan dengan Rei, Reira, Talcott dan beberapa orang di Hammerhead, raja dan para pengawalnya segera mengemudikan kendaraan hitam milik sang Leonis merah muda ke Insomnia. Mereka memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan waktu lebih lama lagi sehingga setelah menyelesaikan percakapan kecil mereka, empat pria beserta satu perempuan itu mengemasi perkakas yang mereka anggap perlu untuk dibawa dan berpamitan.
Deru napas mobil yang melaju dalam kelamnya dunia yang menerbangkan abu-abu kumuh bukanlah satu-satunya bunyi yang terdengar. Di luar, eraman beberapa daemon bertubuh besar terdengar sampai ke dalam kabin mobil. Berpasang-pasang mata di sana—terkecuali Scientia sang pengemudi—menatapi pemandangan tersebut dengan tatapan yang sulit untuk ditafsirkan dalam kata-kata.
Khususnya untuk sang merah muda. Ada pahit yang menguar di dalam rongga mulutnya setiap kali pemandangan tersebut terpampang di hadapan maniknya. Eos benar-benar menggelap sempurna, hilang tertelan oleh keputusasaan sebab dirinya tak lagi mampu menyerap kotor tersebut. Bahkan, lampu-lampu jalan meredup seperti kehilangan ketegarannya dan hanyalah binar terang milik mobilnya saja yang mampu menyinari jalanan yang mereka lalui.
Semua adalah salah dirinya...
"Ignis." Keempat orang yang berada di sana sedikit terkesiap ketika suara pria Caelum memecah keheningan di dalam kendaraan tersebut. "Apakah kita bisa berhenti di haven terdekat?"
Pria tiga puluh dua tahun yang dipanggil sang raja tadi melirik melalui spion mobil untuk memertemukan satu pandangnya dengan biru yang tak menatapnya. Masih bungkam, Scientia itu membetulkan letak kacamatanya yang telah sempurna.
"Noct—kita baru beberapa puluh menit—"
"Aku ingin berkemah." Ucap putra Regis tersebut memotong perkataan Ignis. "Aku ingin makan masakanmu."
Tidak...
Ada sesuatu yang ingin disampaikan Noctis...
Merupakan untai kata yang dilafalkan Ignis di dalam hatinya yang sedikit terhimpit. Ia melirik Gladiolus dari kaca tengah mobil hitam tersebut sebelum kemudian memejamkan mata sejenak karena Amicitia di sana memberikannya anggukan kecil, gestur penanda ia menyetujui permintaan sang raja.
Tanpa membuka mulutnya kembali, pria pirang kusam di sana melajukan mobil yang dikemudikannya cepat, menghidupkan tanda bahwa ia akan berbelok ke kanan dan menekan pedal kuat-kuat di atas jalanan berbatu kecil guna mencapai tempat yang ingin Noctis datangi.
Sang raja tersenyum, melafalkan kata terima kasih di dalam hati tanpa ia terbangkan ke sahabatnya. Ia menggenggam beberapa carik surat yang berada di dalam saku celananya, berusaha menetralkan wajahnya agar tak ada satupun orang yang mengetahui betapa hatinya saat ini sangat berkecamuk tak tertahankan.
Ia memejamkan mata, menyesapi sentuh lembut yang diberi perempuan merah muda di sampingnya. Ia tak ingin memandang sosok tersayangnya itu saat ini sebab ia tahu seluruh luka di balik bola kacanya akan terpampang jelas dan hal tersebut pastilah akan membuat Crystal bersedih.
Ia tahu di luar sana, di Insomnia, ada orang-orang yang masih bertarung untuk mengenyahkan musuh mereka, tetapi, ia memang ingin sekali mengulang kembali kegiatan yang dulu tidak sedikitpun disukainya. Ia ingin melihat kayu yang dilahap lidah api, ia ingin mendudukkan tubuhnya di kursi tak empuk sembari bersisian dengan para rekan-rekannya sekali lagi, mengucapkan 'selamat tidur' dan 'sampai besok' untuk yang terakhir kalinya.
Sungguh, selama sepuluh tahun berada di alam kristal, beribu keping pecahan masa lalu bagai terproyeksikan dalam benaknya hingga rasa rindu sangat-sangat menggerogoti jiwanya. Di ruang biru yang membuatnya melayang-layang tersebut, bayang demi bayang wajah para sahabat yang selalu menyokongnya tanpa lelah terus menerus terputarkan dalam kepalanya. Karenanya, setelah kembali ke dunianya ini, walau hanya sebentar saja, ia ingin sekali menghabiskan sedikit waktu bersama mereka.
...karena...inilah saatnya ia mengucapkan selamat tinggal...
Surai kelamnya berayun kecil saat ia turunkan tubuhnya dari kendaraan berpenerangan menyilaukan di sampingnya. Birunya menari, melekat ke satu batu tinggi yang kuratnya tak lagi memancarkan cahaya cantik—telah benar-benar redup termakan kegelapan.
Ia bawa kakinya melangkah menuju batu dingin tersebut dan sudut bibirnya sedikit menaik menampilkan utas perih saat memori masa lalu terulang di benaknya, tanpa ia inginkan. Akan tetapi, pria tersebut tetap memaksakan wajahnya kaku seperti biasa. Ia tidak boleh berlarut sebab ia tidak ingin membuat mereka yang berada di sisinya terluka karena kepedihannya...belum waktunya.
"Biar kubantu."
Noctis yang sejak tadi membisu tiba-tiba saja membuka mulutnya seraya berjalan mendekati sang perisai yang tengah sibuk berkutat dengan mendirikan tempat berlindung mereka. Ada tatap bingung yang kemudian berganti dengan sorot usil yang diberi salah seorang sahabat bersurai coklatnya. Tentu saja. Biasanya, Noctis akan menyerahkan seluruh tanggung jawab mendirikan tenda kepada sang Amicitia. Karenanya, raja tersebut terkekeh dan menerima ejekan pria tersebut terhadapnya.
Tawanya semakin terdengar menyenangkan saat pria Argentum tiba-tiba saja berlari mendekat dan memotret dirinya. Selepas membantu Gladiolus, ia bangkit untuk memiting leher sahabat cerahnya karena pria itu baru saja membuatnya buta sejenak karena kilatan cahaya kamera. Tingkah konyol dan menyenangkan milik Prompto membuatnya seperti kembali ke hari-hari damai tanpa adanya luka yang hadir. Ia menggelakkan tawa saat mendapati wajahnya yang tadi dipotret oleh kekasih Aranea tersebut teramat sangat buruk.
"Noct, Prompto, lebih baik kalian nyalakan api."
"Kalian ini sudah tiga puluh tahun tapi masih seperti anak-anak."
Protes yang diberikan Scientia dan juga Leonis merah muda secara mendadak menghentikan aktivitas konyol kedua sahabat bersurai kontras tersebut. Noctis tersenyum simpul sebelum memukul punggung Argentum untuk mengisyaratkannya agar mereka melakukan apa yang dititahkan Ignis tadi jika tidak ingin diamuki panjang lebar.
Ia membagi tugas. Ia menata kursi dan meminta Prompto untuk menghidupkan api. Sesekali celoteh konyol tetap dihadirkan oleh dirinya dan pria berjanggut tersebut. Hatinya diliputi oleh hangat sebab sahabatnya ini memang benar tak pernah berubah. Iapun merasa bersyukur karena hal itu membuatnya merasa kembali ke rumah.
"Begini cukup?"
Noctis bertanya, menunjuk lidah api yang menari-nari sembari memandangi Ignis yang menoleh ke arahnya. Mendapati anggukkan dari penasihatnya, pria tersebut tersenyum puas dan turut mengangguk simpul. Ia bawa netranya bergerak untuk menyapu persiapan apa lagi yang dapat dibantunya. Tetapi, seluruhnya telah siap dan yang tersisa adalah menunggu hidangan disajikan.
Surai panjangnya yang tak lagi tertata kaku sekali lagi bergerak mengikuti arah kepala pemiliknya. Ia menatap kedua orang yang bertugas untuk memasak dan memutuskan untuk membantu meski ia tahu akan mengacaukannya. Namun, saat kakinya hendak melangkah menuju meja yang menadahi perlengkapan memasak di sana, tiba-tiba saja kakinya seperti membeku sempurna dan tak mampu untuk digerakkan. Biru yang tadi sempat menampakkan kilau riang seketika meredup saat ia dapati interaksi antara kekasihnya dan juga sahabat Scientianya.
Katup bibirnya yang sempat bercelah merapat dan ia menyerah untuk berjalan karena tahu bahwa kakinya tak akan mau bergerak sesuai keinginannya. Menghela napas kecil, Noctis dudukkan tubuhnya di salah satu kursi kemah di belakangnya. Beberapa menit ia pandangi api yang bergerak terhembus napas bumi, menit berikutnya jarak pandangnya menaik karena permatanya ia bawa untuk melihat kedua teman teman sepermainannya—selalu seperti itu pola netranya.
Tetapi, ada berbeda dari dirinya saat ini. Walau binar dalam bola kacanya meredup, tak ada percik rasa memuakkan di dalam hatinya. Jika dulu ia yang berumur dua puluh tahun akan tersulut rasa cemburu, kali ini di usianya yang ketiga puluh, pemandangan di depannya malah memberikannya sebuah sentimen lain.
Ia rendahkan tubuhnya sedikit, menopang dagu dengan tangan yang ditumpukan di paha sembari menikmati lansekap yang dulu akan selalu membuatnya mengerucutkan bibir. Ia perhatikan lekat-lekat baik Crystal maupun Ignis yang berada beberapa langkah di hadapannya. Tanpa disadarinya, saat ini ia tengah tersenyum lemah sekali.
Mengapa tak dari dulu perasaan ini ada?
Jika sejak dulu seperti ini, kedua orang di sana pasti—
"Ouji, kesukaanmu!"
Pria tersebut mengerjap dan menegakkan tubuh. Ia mengerutkan dahi dan menatapi mangkuk serta perempuran bersurai senada bunga musim semi secara bergantian sembari menampilkan raut bingung. Pasalnya, sepertinya baru tadi ia perhatikan lekat wajah kedua teman bersurai kusamnya, baru tadi ia lihat keduanya memecahkan telur dan mengaduk. Sekarang, di hadapannya, Crystal telah memamerkan senyuman bangga sembari menyodorkan makanan yang ternyata telah selesai dibuat.
Apakah ia melamun sebegitu lamanya sampai tak sadar bahwa pemandangan di hadapannya telah bergerak cepat?
"Telur menambah energi. Kau harus makan yang banyak, Noct."
"Aku yang memilih menunya lho, ouji!"
Mendengarkan tutur demi tutur yang diberi kedua teman kecilnya tadi menambah pedih hadir menyayati hati yang diupayakannya tetap tegar. Perkataan Ignis dan juga Crystal, senyuman keduanya membuat hatinya terhimpit-himpit sehingga tanpa diinginkannya, ia mengeratkan pegangan pada mangkuk yang telah berpindah tangan kepadanya.
"Kukira kau lupa."
"Mana mungkin kami lupa, bodoh."
Noctis tertawa kecil saat mendapati perempuan cantik yang telah duduk di sampingnya menjulurkan lidahnya. Ia menyendok santapan kesukaannya dengan semangat dan semakin tersenyum saat indera pengecapnya merasakan bagaimana telur itu meleleh di dalam mulutnya. Begitu enak, teramat sangat enak. Itulah yang terus terngiang dalam kepalanya. Entah karena sudah sepuluh tahun ia tidak menyantap masakan penasihatnya atau karena ia tahu ini terakhir kalinya ia akan memakannya.
Dikawani oleh bunyi derak kayu yang terlahap api, suasana santap hari itu diiringi oleh gelak tawa dan juga lelucon mengenai apa yang telah terjadi selama sepuluh tahun silam ini. Pemberi cerita tentu saja adalah sang merah muda dan sang pria pirang cerah. Mereka berbagi kisah, menceritakan bagaimana konyolnya Prompto saat tahu bahwa Cidney dan juga Gladiolus memutuskan untuk bersama, bagaimana gugupnya pria itu saat meminta Aranea menjadi kekasihnya, bagaimana Cor yang selalu mengayunkan pedang menjadi sosok ayah yang sangat memanjakan si kembar.
Dengan riang, Crystal juga menceritakan mengenai asal usul kalung berbandul warna warni yang diberi mendiang Dino di hari pernikahan Cor dan Eira. Gelak milik Prompto terdengar membahana saat ia ulang kejadian masa itu di mana ia dan para sahabatnya memakaikan seluruh kalung mereka ke leher Crystal.
Setelahnya, dengan bangga Argentum tiga puluh tahun tersebut memamerkan bahwa kalungnya telah melingkar manis di leher kekasihnya yang kini berada di Niflheim. Gladioluspun menambahi, mengatakan bahwa miliknya juga ia berikan kepada Cidney.
Berpasang-pasang mata di sanapun secara serempak menatap Ignis yang mengerutkan dahi. Pria tersebut masih mengalungkan miliknya di lehernya sendiri, pertanda bahwa belum ada orang lain yang ia putuskan untuk ia berikan kalung itu.
Kisah demi kisah yang diperdengarkan para kawannya seperti membawa Noctis melayang jauh sekali ke dalam masa sepuluh tahun yang ternyata telah begitu lama berlalu. Ia yang telah menyelesaikan santapnya menurunkan kelopak mata, menyesapi segala perubahan dan sisa-sisa waktu terakhir yang akan dirasakannya sampai dengan hari ini.
"Rasanya sudah lama sekali tidak berkemah berlima seperti ini."
Noctis yang telah memantapkan diri pada akhirnya memutuskan untuk membuka mulutnya. Ia menghirup dalam-dalam udara yang tak lagi murni seperti dulu untuk memenuhi rongga parunya. Perlakuannya tadi adalah satu bentuk upaya agar ia bisa menyelesaikan kalimatnya. Kalimat terima kasih serta perpisahannya.
"Benar."
Ignis adalah satu-satunya orang yang menanggapi. Pria tampan tersebut menundukkan tubuhnya sedikit sembari menumpukan lengan pada pahanya. Ia bawa hijau teduhnya ke api hangat di depannya, menatapi lekat-lekat setelah mengatupkan bibirnya kembali.
Dari ekor matanya, ia tahu bahwa Prompto dan juga Gladiolus memberikan reaksi kasat mata saat rajanya membuka mulut. Tentu saja...mereka paham bahwa Noctis akan mengucapkan kalimat perpisahan saat ini.
"Aku—" Noctis tercekat. Wajahnya yang semula ia buat tenang perlahan-lahan sedikit berkerut sebab seluruh runtut kata yang seharusnya telah berhasil ia susun tak kunjung terlontar dari mulutnya. "Itu—" Ia berusaha kembali, namun tak ada satupun kata mampu ia tuturkan.
"Ada apa?"
Suara lembut yang tak pernah diperdengarkan Gladiolus kepadanya menjadikan sang Caelum sedikit bereaksi. Ia menoleh simpul sebelum kembali mengalihkan wajah saat mendapati sang Amicitia dan sang Argentum menoleh ke arahnya.
Bersirobok dengan kedua biru dan kuning cerah milik kawan-kawannya itu, Noctis tahu, ya, ia menjadi paham benar bahwa teman-temannya tersebut telah memahami apa yang hendak ia katakan. Dan ia sedikit bergetar kala pemikirannya berkata bahwa orang-orang itu mungkin juga telah mengetahui akhir kisah hidupnya yang menyedihkan.
Mereka tahu...
"Aku—" Nafasnya sekali lagi tercekat ketika benaknya melantangkan kata bahwa orang-orang tersebut tahu apa yang akan terjadi padanya jika ia mengembalikan cahaya. "Sial...mengapa aku tidak bisa mengatakannya."
"Ouji..."
Mendapati prianya kesulitan untuk mengungkapkan apa yang ingin dikatakan membawa Crystal mendekat ke arah sosok tersebut. Ia sentuh lembut tangan sang raja, mencoba melafal melalui sentuhan bahwa segalanya baik-baik saja...mereka akan mendengarnya.
Sedang yang mendapatkan sentuhan menoleh, mengerutkan dahi pertanda bahwa ia memahami bahwa ia harus menyelesaikan kalimatnya. Tetapi, sulit. Sangatlah sulit seolah apa yang ada di ujung indera pengecapnya tak dapat terlafalkan dengan baik.
Menghirup dan menghembuskan napas secara tak kasat mata, Noctis membalas genggaman perempuan yang mendudukkan diri di sampingnya. Ia...harus berkata-kata kepada para sahabatnya.
"Aku kembali dengan keteguhan hati. Tapi, ketika aku melihat wajah kalian seperti ini—" Akhirnya ia bisa menyuarakan isi hatinya, walaupun kalimatnya kembali terputus seiring dengan menyerak suaranya. Ia mengigiti bibir bawahnya saat melihat bagaimana orang-orang yang sangat disayanginya tersebut tahu bahwa ia tengah berjuang untuk bertutur kata. "Maaf. Ternyata memang sulit." Tambahnya sembari menunduk.
Noctis semakin yakin bshwa hatinya saat ini tengah terjepit-jepit ketika ia merasai Crystal meremas lembut tangannya. Sentuhan demi sentuhan yang diberi perempuan tersebut seolah berkata bahwa ia ada untuknya—tidak...teman-temannya ada untuknya.
"Tentu saja sulit."
Sang malam terkesiap simpul saat mendengar Prompto tiba-tiba saja membuka mulutnya.
"Akhirnya kau bisa mengatakannya, kan." Tambah perisainya dengan nada yang masih sangat lembut.
"Aku senang bisa mendengarnya."
Selepas Ignis menyelesaikan kalimatnya, Noctis benar-benar memahami bahwa mereka, para rekan, para saudaranya telah mengetahui takdir apa yang menunggui.
Karenanya ia mengeraskan rahang, mengepalkan tangan sebelum bangkit dari duduknya. Meskipun begitu sulit, ia tatapi satu persatu wajah temannya yang kini tengah mengalirkan air mata untuknya, mereka, orang-orang yang setia menanti dirinya bahkan hingga sepuluh tahun lamanya.
"Terima kasih ya." Dengan tangan terkepal dan senyum pedih yang ditampilkan, Noctis kembali membuka mulutnya. "Aku sangat menyayangi kalian semua."
Tak ada satupun dari para pengawal raja yang mampu membalas kalimat tersebut. Mereka menunduk, merasakan otot-otot tubuh mereka melemas setelah indera pendengaran mereka dirambati kalimat yang tak pernah sekalipun mereka sangka akan meluncur dari bibir sahabat Caelum mereka.
Prompto adalah sosok pertama yang bangkit. Ia yang tidak mampu menghentikan tangisnya—yang berubah menjadi sesengukkan—memohon ijin untuk memasuki tenda terlebih dahulu. Sekalipun tak mendapatkan jawaban atas ijinnya, pria Argentum tersebut berlari, pergi menjauh dari tempat tersebut karena menurutnya itu adalah yang terbaik.
"Prompto!"
Berlarinya pria secerah mentari demi menghapuskan air matanya menjadikan sang Leonis merah muda dan Amicitia bangkit dari duduk mereka. Keduanya secara refleks berdiri sebelum mengejar Prompto yang telah menghilang memasuki tenda.
Ada sesuatu yang menjadikan Noctis turut mengalirkan air mata tanpa henti. Yang pertama adalah karena pada akhirnya ia mampu mengucapkan perasaannya kepada orang-orang tersayangnya dan yang kedua adalah karena ia membuat keempat sahabatnya menangis—khususnya Prompto.
Noctis mengusap air matanya, merasa pahit terus menerus memenuhi rongga mulutnya. Ia bawa kedua tangannya untuk menghilangkan jejak leleh kepedihannya, ia paksa dirinya untuk mengumpulkan kembali pecahan hatinya yang berserak.
"Noct?"
Nama itu meluncur begitu saja dari bibir sang pria Scientia saat sebelah permatanya menangkap ada pergerakan dari rajanya. Ia yang sejak tadi menundukkan tubuh sembari menekuk wajah segera saja mengangkat jarak pandangnya. Hijau dan kelabu miliknya bergulir mengikuti Caelum tiga puluh tahun yang telah menjauh dari tempatnya duduk.
Dalam ragu ia bangkit, mengayunkan kaki jenjangnya untuk mengikuti Noctis yang tengah berjalan ke ujung bebatuan, memandangi keruh di langit yang menggelap sempurna. Hatinya berkata, mengutarakan bahwa ia harus mengikuti sosok tersebut sebab ada sesuatu yang akan dikatakan rajanya kepadanya.
"Banyak hal yang terjadi...tapi semuanya menyenangkan."
Ignis sedikit menegang, menatapi punggung sang pria yang tiba-tiba saja menghembuskan sepatah dua patah kata tanpa permulaan terhadapnya. Ada sesuatu yang mengetuki hatinya dan pria tersebut tahu bahwa bukanlah hal tersebut jauh dari kata tenang.
"Aku juga merasakan hal yang sama."
Ia berusaha membalas perkataan sang pria sekelam malam di hadapannya setelah berdeham, menguasai dirinya kembali.
"Karenanya, aku akan melaksanakan panggilanku. Karena aku memiliki sesuatu yang ingin kulindungi, aku bisa sampai di sini."
Ignis tidak dapat menutupi reaksi yang ada di wajah tampannya ketika ia dengar apa yang dituturkan Noctis terhadapnya. Ia merendahkan jarak pandang, memerhatikan lekat bebatuan kecil yang terpijak di bawah sepatunya.
"Ignis. Terima kasih."
Ia berusaha mengabaikan luka yang tertoreh di hati rapuhnya. Pria tersebut masih menunduk, masih berusaha untuk menguasai dirinya. Sungguh, sejujurnya ia telah mengantisipasi kata-kata yang diberi oleh Noctis kepadanya, akan tetapi, mengetahui apa yang ada di dalam benaknya benar terlontarkan membuat pria berkacama di sana terhenyak.
"Noct, aku—"
"Kutitipkan Kuri padamu."
Benar...Noctis pastilah akan meminta ini kepadanya.
"Tolong jangan menyakitinya."
"Aku tahu. Saat di Altissia dulu. Kau memaksanya untuk bersamaku, kan?"
"Crystal mencintaimu. Itu adalah kenyataan."
"Dan aku memaksakan perasaanku padanya juga kenyataan."
Ignis yang telah menaikkan wajah mengatupkan bibirnya kembali. Ada luka yang hadir di bola kaca pria tersebut—dan juga di dalam pendarnya. Bukan ini yang ia inginkan terjadi pada dua orang yang disayanginya, bukan seperti ini akhir yang sudah susah payah ia berikan kepada keduanya.
Ia merelakan perempuan itu demi sang raja. Ya...yang harus berkorban adalah dirinya...bukan rajanya...
"Noct. Dengarkan aku."
"Kau...sudah tahu tentang akhir kisah ini kan?" Noctis, pria tersebut memotong perkataan penasihatnya. Ia alihkan birunya ke cakrawala yang kehilangan cahayanya selama sepersekian detik sebelum ia tumbukkan kembali kepada lawan tuturnya. "Ada janji yang telah diberikan dewa padaku." Ucapnya. "Aku mendoakan kebahagiaan kalian."
Betapa Ignis sangat ingin menyanggah kata-kata itu, betapa ia sangat terpukul dengan sesuatu yang telah dipinta Noctis kepada dewa. Pria tersebut merelakan dirinya demi orang yang dicintainya dan mendoakan agar ia dapat menambal celah itu nanti setelah dirinya tiada.
Bukan ini!
Bukan seperti ini yang ia inginkan!
"Noct—"
"Ouji? Ignis?"
Bagai tersengat listrik, kedua pria yang saling bertatap-tatap dengan serius di sana terperanjat kaget saat mendengar suara khas milik teman kecil mereka. Secara kompak keduanya menoleh, mendapati wajah sembab di sana memancarkan aura kehawatiran.
"Hei, Kuri."
Hanya sepatah kata itu saja yang mampu untuk diucapkan Noctis dan perempuan tersebut tahu bahwa ada duri yang menancap ditenggorokan kekasihnya—ada sesuatu di antara kedua orang tersebut.
Mengepalkan tangan, ia berikan celah kembali pada bibirnya. Merah muda netranya sekali lagi memancarkan cahaya pedih, teramat pedih karena ia melihat sesuatu menodai kedua orang terpentingnya.
"Mengapa kalian menangis?"
Crystal tahu bahwa kedua orang tersebut tak menyadari bahwa mereka tengah melelehkan air mata sehingga ia paksa untuk membeberkan kenyataan tersebut walau ia tersakiti karenanya.
Baik Ignis maupun Noctis segera menyentuh wajah mereka masing-masing seraya menampakkan wajah terkejut. Mereka menyeka, membawa jemari mereka yang telah basah ke hadapan kedua bola kaca mereka. Ditatapnya baik-baik leleh suci itu dan yang pertama kali terisak adalah sang pria Caelum.
"Maaf."
Dengan suara serak ia yang telah merengkuh kedua temannya dengan kedua lengannya—menjadikan Crystal dan Ignis nanap—berkata, memohon maaf atas ketidakberhasilannya untuk membendung perasaannya.
Bahu milik pria Scientia dan perempuan Leonis tersebut ia remas kencang, memberitahukan tanpa vokal bahwa ia sangat tidak ingin kehilangan keduanya.
Tapi inilah selamat tinggal...
"Aku di sini, Noctis..." Noctis mengigit bibir bawahnya ketika indera pendengarannya dimanjakan oleh suara yang dibuat sehalus mungkin milik kekasihnya. "Kami di sini..."
Noctis melepaskan pelukannya, menyeka sedikit air mata yang terus mengalir tanpa henti sebelum meraih kedua tangan temannya. Ia genggam tangan yang terus menuntun dan membantunya, ia meremas jemari yang selalu menguarkan kehangatan baginya.
Terima kasih...
Itulah kata yang terus menerus dilafalkan sang pria teruntuk kedua sahabat tercintanya. Akan tetapi ia tak mampu berkata-kata, napasnya masihlah tercekat bahkan mungkin lebih sulit untuk dihirupnya karena ia tahu dua orang di hadapannya juga menangis bersamanya.
Ia...lemah...tapi biarkan ia melemah di hadapan kedua orang terkasihnya untuk saat ini saja.
"Bagaimana kalau kita tunda perjalanan ini?" Crystal memecah keheningan di antara mereka karena merasa bahwa tak baik berlarut seperti ini. "Aku tidak yakin Prompto bisa melanjutkan perjalanan."
"Gladio bersamanya?"
"Ya."
"Aku setuju."
Noctis yang telah menguasai dirinya kembali mengangguk. Menurutnya, memang lebih baik menetap di batu dingin ini selama satu hari untuk menyusun serpihan-serpihan hati yang berserak di sembarang tempat. Ia tak ingin pergi ke Insomnia dengan hati yang hancur lebur. Ia ingin pergi dengan ringan, ia tidak ingin meninggalkan dunia ini dengan perasaan yang mengganjal.
"Kalau begitu istirahatlah. Aku akan membereskan perlengkapan makan."
"Aku akan bantu."
"Tidak, Iggu. Kau istirahatlah. Kita masih harus melanjutkan perjalanan sekitar lima jam lagi ke Insomnia besok. Tidur dan jangan membantah—"
"Bagaimana...kalau kita tidur bertiga?" Perkataan Crystal terputus begitu saja saat ia dengar kalimat ajakan yang dituturkan Caelum tadi. Dengan tatapan tak percaya ia melihati Noctis yang menunduk dan memerlihatkan pandangan yang tak akan pernah bisa ia abaikan. "Sudah lama kita tidak melakukannya." Tambah pria itu.
Noctis ingin mengulang kembali masa kecil mereka dan sang merah muda segera menyadari hal tersebut. Ia mengigit bibirnya, mencoba menenangkan hati yang berkecamuk karena tahu bahwa prianya tersebut benar-benar telah mengukuhkan hati untuk mengorbankan diri.
Crystal tak mau, sangat tak ingin karena dengan mengabulkannya, itu berarti ia akan memenuhi 'permintaan terakhir' rajanya. Ia sangat tidak mau melakukannya.
Namun...mendapati salah satu teman sepermainannya di sana menatapinya dengan tatapan yang tak bisa ia sanggah, Crystal tahu penolakannya akan memberi luka lain di hati sang raja.
"Tidak mau." Ia terkesiap saat kalimat keberatannya terluncur tanpa aba-aba dan ia merutuki diri sendiri saat mendapati bagaimana Noctis menampilkan wajah terluka. "Kau pasti akan menendangku!" Ucapnya tiba-tiba demi menjaga hati pria itu.
Terkutuklah aku yang terlalu memanjakanmu...
Crystal merapal dalam hati ketika menyadari bagaimana pria bersurai hitam di sana menampakkan wajah sumringah yang membuat hatinya terhimpit rasa gemas. Pria tersebut tersenyum, menampilkan wajah kekanakkannya yang ternyata tak akan pernah bisa hilang walau sosok itu telah tiga puluh tahun.
"Ignis yang di tengah kalau begitu." Ucap Noctis sembari mengangguk.
"Tidak...lebih baik kau yang di tengah, Noct." Ignis menolak sembari menaikkan kacamatanya yang turun. "Karena aku tidak ingin ditendangi sendirian." Tambahnya lagi, mengejutkan sang merah muda.
"Ignis! Jadi kau ingin aku juga ditendangi si bodoh ini?!"
"Tentu saja."
Melihat kedua orang di hadapannya beradu mulut seperti dulu kala membuat Noctis mau tak mau terkekeh kecil. Ia menderaikan tawa dan memerlihatkan betapa bahagianya ia saat ini. Hatinya diliputi oleh hangat...teramat sangat hangat dan ia tahu betapa ia akan merindukan kedamaian semu ini—di mana mereka bisa tertawa bertiga.
Terima kasih...
Berbahagialah...
"Bersiaplah menerima tendanganku."
"Iggu, lindungi tanganmu agar besok kau bisa menyetir."
"Tentu saja aku akan melakukannya."
xXxCrystallo FiliaxXx
"Aku ingat saat kau digoda oleh perempuan!"
"Ya. Dan kau meninggalkanku."
Di dalam kegelapan dan suasana suram milik pusat kota kerajaan Lucis yang terbengkalai, satu lengking suara dan tanggapan kesal memecah ketenangan. Selepas kalimat-kalimat tersebut terselesaikan, ada kikik geli dan gelak tawa milik perempuan merah muda dan pria coklat yang mengiringi.
"Aku ingat wajah ouji waktu itu."
Sang perempuan yang membiarkan surai merah muda sepunggungnya terurai menutup mulutnya yang ingin tertawa kencang ketika ingatan masa lalu bermain dalam benaknya. Dengan penuh jenaka di sebelah permatanya, ia mengerling, membuat pria bersurai sekelam malam di sana semakin mengerutkan dahi tanda tak senang.
Kelima sekawan di sana saat ini tengah berjalan menuruni anak tangga, mengikuti Ignis yang memang memutuskan untuk menuntun ke tempat persembunyian Glaives. Beberapa kali mereka saling bertukar kata dan tertawa, menceritakan hal-hal konyol pada masa lalu yang tak akan pernah kembali terulang.
Akan tetapi beberapa kali tawa manis itu memudar dan berganti menjadi teriakan. Dengan wajah yang menegang, mereka saling memberi perintah kepada para rekan mereka, saling bergerak dalam harmoni untuk menebas menebas monster-monster yang hadir menutupi jalan mereka. Tak luput ada napas yang terengah-engah karena begitu banyaknya makhluk hina yang menghalangi dan saat itu pula ada getir yang muncul menghantui hati para insan tersebut: Insomnia telah benar-benar menjadi sarang makhluk malam dan mereka tahu apa yang menunggu di depan mereka akan lebih keji lagi.
"Masih baru."
Noctis menghentikan langkah ketika mendengar teman pirang cerahnya membuka mulut dan menghembuskan untai kata yang pedih. Seketika aura yang mengelilingi mereka meredup dan terasa memberat karena lansekap menyedihkan yang tersaji.
Di hadapan mereka, ada tiga mayat segar yang terbujur kaku dan hal tersebut membuat raja di sana mengepalkan tangan. Ia mengigit bibirnya, berusaha meredam rasa memuakkan yang hadir menghancurkan hatinya lagi dan lagi.
Berapa banyak pengorbanan yang harus ia lihat...?
"Ahh!"
Mendengar ada lengking jeritan perempuan yang familiar menjadikan kelima sekawan di sana tersentak. Mereka menoleh dan setelah mengangguk kecil, kelimanya segera berlari menuju tangga yang akan membawa mereka ke tempat teriakan tersebut terdengar. Wajah mereka yang sebelumnya sempat sendu berubah kusut, lebih-lebih sang merah muda.
Tanpa memerdulikan rekan-rekannya yang tertinggal, sang oracle gagal berlari secepat yang ia mampu sebab hatinya benar-benar merasa tak tenang. Ada yang berbeda dari degup di dalam rongga dadanya dan peluh pun turut mengalir membasahi pelipisnya. Ia mengenal suara itu. Tapi ia tidak ingin mengindahkan pemikirannya sehingga yang mampu dilakukannya adalah berdoa agar firasat buruknya tak benar.
"Papa! Eira!"
Sayangnya apa yang tersaji di depan kedua matanya membuat Crystal harus menelan pahit karena firasat buruknya benar nyata. Langkah yang sempat terhenti itu kembali dipercepat. Sang Leonis merah muda memanggil bilahnya, menghunus untuk mengenyahkan para daemon dengan membabi buta. Ada rasa kesal di hatinya saat mengetahui bahwa para makhluk kumuh tersebut hendak mencelakai dua orang terpentingnya.
"Crystal?!"
Crystal tak menghiraukan teriakan ayahandanya dan ia tetap berpusat ke musuh-musuhnya. Pedang yang telah berumur hampir lima belas tahun tersebut dibiarkan menari, merenggut nyawa-nyawa dari makhluk malam menjijikan yang membuat darahnya mendidih. Perempuan tersebut menajamkan mata, dengan begitu lekat dan dengan cekatan merobek tubuh lawannya.
Temponya cepat, bak dewi kematian yang tengah merebut ruh tanpa belas kasih. Ia sengaja melakukannya sebab ia tahu bahwa ibundanya terluka dan ia tidak ingin kondisi wanita bersurai sekelam arang tersebut semakin parah—lebih-lebih mendapatkan luka lain.
Tidak akan ia biarkan!
"Ei! Biar kulihat!"
Lantang sang merah muda setelah ia melihat dua makhluk tersisa dikalahkan begitu saja oleh Noctis dan juga Gladiolus. Ia yang tadi berdiri di samping Prompto berlari, mendekat sang wanita manis sembari berwajah ngeri karena melihat ada darah segar mengalir di lengan wanita tersebut.
"Aku tidak apa-apa."
"Biar kusembuhkan." Ucap Crystal seraya merentangkan tangan guna mengambil luka itu ke tubuhnya.
"Sudah kubilang aku tidak apa-apa."
"Aduh!"
"Dengarkan kalau orang bicara."
Crystal mengerucutkan bibir seraya mengusap-usap dahinya yang sedikit merah karena disentil oleh sang ibunda. Ia menunduk, tak berani menatap wanita yang telah menjadi Leonis tersebut karena lagi-lagi ia baru saja bertindak tak dengan kepala dingin—yang acap kali diprotes oleh wanita tersebut.
Merasa malu karena kebiasaan buruknya tak berubah, oracle gagal di sana mendesah pelan, melemaskan otot-otot tubuhnya yang sejak tadi tegang. Merah mudanya ia bawa untuk menetapi ritual penyembuhan penyihir tersebut. Netranya terkilaukan oleh cahaya putih dari lingkaran sihir yang dikeluarkan wanita yang telah menjadi Leonis tersebut dan hatinya yang sempat diliputi cemas perlahan menjadi tenang.
"Maafkan aku."
Crystal mencicit, menundukkan kepala di hadapan sang wanita yang tiga tahun lebih tua darinya. Sedang yang diberi permintaan maaf turut menghela napas panjang. Ia yang telah selesai menyembuhkan lukanya menengadah, menyejajarkan tatapan dengan putrinya.
"Kami baru kembali dari luar dan ternyata jalan menuju tempat ini dipenuhi oleh banyak daemon. Kami tidak bisa masuk sebelum membereskan mereka terlebih dahulu." Tanpa diminta, Eira telah menjelaskan kronologi yang memang ditunggu-tunggu oleh raja dan para pengawalnya tersebut. "Akan lebih berbahaya untuk yang lain jika kami tidak menyelesaikannya."
"Dan seharusnya kau bisa membereskannya dengan sihirmu, Eira." Prompto membuka mulut sembari menatap dengan penuh penasaran.
"Jika Cor tidak begitu melindungiku, aku sudah mengenyahkan mereka semua tanpa susah dan terluka."
"Maaf."
"Tapi syukurlah kalian baik-baik saja."
Mendengar pernyataan Gladiolus tadi membuat Eira menyunggingkan senyuman simpulnya. Ia berdiri, menepuk-tepuk bagian belakang celananya dan mengangguk.
"Selamat datang kembali, Raja. Kami menunggumu."
Noctis yang sejak tadi hanya menunjukkan wajah datarnya sedikit bereaksi. Ia menggulirkan biru tak cerahnya untuk bertemu dengan berlian sekelam malam di hadapannya. Kedua orang tersebut saling bertatap-tatap selama beberapa menit sebelum sang raja menaikkan sedikit kedua sudut bibirnya.
"Maaf membuat kalian menunggu."
Ada senyuman tipis yang terkembang di wajah suami istri Leonis saat mendengar perkataan Noctis tadi. Mereka mengangguk kecil, menunjukkan gestur penghormatan kepada seseorang yang telah kembali menjadi raja mereka.
Di sisi lain, sang raja yang melihat adanya kilau penuh harapan di balik bola kaca masing-masing sosok tersebut tanpa sadar mengepalkan tangan. Bahkan cengkeramannya semakin kuat ketika ia mengikuti langkah orang-orang itu ke dalam ruang yang berisikan sisa-sisa Glaives yang telah berjuang selama sepuluh tahun dalam kegelapan, mengharapkan kembalinya ia, menanti tanpa lelah.
Bohong jika pria tersebut tak memiliki perasaan pahit saat ia menguatkan hati untuk memberikan sepatah dua patah kata kepada para pengikutnya. Bohong jika ia tak merasakan pedih di dalam hatinya ketika ia dapati orang-orang itu mengerumuninya dengan wajah yang begitu bahagia.
Ia pergi terlalu lama sampai-sampai membuat mereka tersenyum dalam tangis, karenanya, hati yang berkelukur tersebut kembali merapalkan ikrar, ia berjanji akan membawa cahaya walau ia tak akan bisa melihat dengan mata kepalanya.
Menghirup dalam-dalam udara lembap di tempat cukup luas tersebut, Noctis menaiki eskalator mati yang berada di samping mesin otomatis. Kakinya melangkah tanpa ada keraguan sedikitpun, berjalan mengikuti sosok wanita yang tengah mengenakan busana Glaives dan celana jeans lusuh.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan?"
Wanita itu berkata dengan menyelidik, merasa heran karena Noctis tiba-tiba saja meminta waktunya sebentar. Tetapi, alih-alih membuka mulut, pria tersebut malah terlihat merogoh saku celana sebelum kemudian menyodorkan lima carik benda tipis kepadanya.
"Tolong berikan ini kepada teman-temanku setelah mentari kembali."
"Kau—"
"Crystal mungkin akan membuang itu. Karenanya, tolong bacakan untuknya."
Eira tak mampu lagi untuk membuka katup mulutnya. Ada getar halus yang terlihat di sekujur tubuhnya dan dengan susah payah ibunda Rei dan juga Reira di sana mengambil surat yang diarahkan kepadanya.
Ia merendahkan pandang, menyapu benda-benda tipis tersebut dalam diam. Walau ringan, ada beban luar biasa yang merengkuhi tubuhnya dan ia mengigit bibir bawahnya.
"Kau—memberiku tugas yang sulit."
"Tak ada yang bisa kumintai selain dirimu. Shogun...dia tidak bisa."
Benar. Suaminya pastilah akan begitu terkejut dan kemudian akan melakukan sesuatu untuk sang raja jika mengetahui hal ini. Hanya ialah yang mampu melakukannya dan Noctis tahu benar akan hal tersebut.
"Tapi aku berharap aku tidak akan menyerahkan surat ini kepada mereka."
Noctis terkekeh pelan. Ia ingin mengatakan 'tidak mungkin' kepada wanita di hadapannya tetapi dengan bijak ia hanya mengulum senyum.
"Jagalah Crystal, mama."
"Kau...harus secara resmi memanggilku mama."
Sang raja tersenyum pedih, mengetahui bahwa apa yang dipinta 'calon ibunda'nya tak akan pernah terwujud. Ia tak akan bisa menyematkan mahkota ratu untuk sosok yang dicintainya. Karena ia telah menetapkan...bukan ia yang akan menjadi pria tersebut.
.
.
.
Tak ada lagi suara-suara kendaraan maupun bising riuh dari para pejalan kaki yang berlalu lalang. Tak ada pula suara-suara sepatu yang menandakan kesibukan pusat kota. Segalanya telah pudar, tergantikan oleh derap yang bergesek dengan aspal sembari melantangkan keburu-buruan antara hidup dan mati.
Tak ada pula suara-suara gelak tawa yang terkadang terdengar dari sebagian orang yang saling bercengkrama, segalanya terganti oleh eraman dari pada makhluk-makhluk malam yang terus menerus hadir walau berkali-kali dienyahkan.
Tak ada kedamaian ataupun hembusan angin lembut di dalam kota tercinta ini karena seluruhnya telah berubah. Sekeliling menjadi kumuh, napas Eos memanas sebab banyak api yang tercipta di tiap-tiap sisi kota.
"Crystal, pergilah."
"Tidak, papa! Kau—kau terluka!"
Sungguh tak ada suara-suara lembut yang mengalun memecah cakrawala. Yang ada hanyalah teriakan dan jeritan yang melantangkan keputusasaan karena keinginan melindungi menggerogoti begitu kuat.
"Ingatlah, kau adalah seorang Crownsguard, seorang Oracle yang harus bersama dengan rajamu."
"Tapi aku—"
"Aku ada di sini, Crystal. Tenanglah. Aku akan menyembuhkan dan menemani Cor."
"Eira—"
Merupakan percakapan ketiga anggota keluarga yang tengah terengah-engah di hadapan makhluk berkepala tiga yang telah tergeletak tak bernyawa. Sang merah muda menampakkan wajah ngeri melihat luka bakar yang didapatkan sang ayahanda. Guratnya sangatlah tak tenang dan bahkan dapat dikatakan begitu kacau.
Rasa takut, marah, dan keinginan ingin melindungi kuat terpampang jelas di wajah cantik tersebut dan beberapa orang yang berada di sana dapat melihatnya secara kasat mata.
Nyalang tatapan perempuan dua puluh delapan tahun tersebut kepada makhluk mengerikan yang tak lagi bernyawa di depan mereka. Ia telah memasang ancang-ancang, memanggil bilah panjang berukiran bunga musim semi yang ia dapatkan dari sang ayah dan hendak menerjang ke arah sosok tersebut karena terbutakan oleh kebencian.
"Hentikan! Dia sudah mati."
Cor melantang, menarik pergelangan tangan putrinya yang kini terlihat dikuasai oleh sesuatu yang tak ingin ia indahkan berada di dalam raga kurus tersebut. Biru cantik milik pria lima puluh lima tahun di sana ia paksakan bersirobok dengan milik sang putri, berbicara melalui sorot mata, berharap agar Crystal dapat menjadi sosok yang kembali tenang.
"Crystalcrown, pergilah. Bawa cahaya mentari untuk Rei dan Reira."
Perempuan cantik tersebut melutut, memegangi tangan ayahandanya yang masih meringis karena luka yang didapat.
Noctis yang berada di hadapan ayahanda kekasihnya mengerutkan dahi, tak menyukai pemandangan di mana ada satu orang lagi yang terluka karena dirinya. Detik berikutnya ia sedikit membulatkan mata saat Cor mengambil tangannya, menyatukan dengan tangan pria tersebut dan kekasihnya.
"Kita akan bertemu lagi saat mentari terbit."
Luput dari sang pria Leonis, baik Crystal maupun Noctis menelan kepahitan yang teramat sangat kala indera pendengaran mereka mendapatkan kalimat tersebut dari sang abadi. Keduanya menegang, tetapi mencoba untuk tetap berwajah tenang.
"Pergilah."
Eira, yang telah memegangi Cor yang telah berdiri, mengangguk mengisyaratkan bahwa ia dan pria tersebut akan baik-baik saja. Tak diketahui siapapun, ia menjatuhkan tatapan selama sepersekian detik kepada Noctis sebelum kemudian mengepalkan tangan dan memutuskan melangkahkan kaki, pergi meninggalkan kelima sekawan tersebut.
Dalam nanar, Crystal memandangi punggung kedua orang tua tirinya. Ia tahu bahwa kedua orang tersebut kuat tetapi tetap saja kabut menutupi akal sehatnya sehingga masihlah raga itu terguncang karena sang ayahanda terluka begitu parah.
"Mereka akan baik-baik saja."
Crystal menoleh, mendapati Prompto yang tersenyum lebar untuk menenangkan hatinya. Sekalipun ia tahu batinnya tak akan pernah bisa tenang sampai segalanya berakhir, sang merah muda mencoba untuk menghadirkan senyum di wajahnya yang kalut.
Ia tak menjawab apapun, tetapi ia mengangguk dan melangkahkan kaki kembali untuk mencapai ke depan jeruji besi yang terselimuti oleh cahaya merah milik pria yang berbagi darah dengannya.
"Dinding itu sangat kuat." Sang Argentum sekali lagi membuka mulutnya sembari melihat betapa kuat pertahanan yang diberikan raja gagal Lucis di depan mereka. "Dan mereka banyak sekali!"
Tutur yang diberi pria cerah tersebut menjadikan keempat kawannya menoleh ke belakang, menatap ngeri segerombolan daemon yang hadir begitu banyak.
"Tapi kita tidak boleh menyerah."
Noctis mengepalkan tangan kala bayang-bayang para orang yang telah gugur datang menghampiri benaknya. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan demi menghilangkan daemon-daemon serta dinding sihir tersebut, akan tetapi yang ia tahu adalah ia harus tetap berpegang kukuh pada ketidakingin menyerahnya.
"Biar kutangani." Sang oracle gagal mendadak memajukan tubuhnya, menengadahkan kepala ke cakrawala yang sangat kelam dan memejamkan mata. "Wahai para dewa, pinjamkanlah kekuatan kalian demi membantu raja terpilih menghilangkan kegelapan."
Setelah terhembuskannya untai kata dari bibir sang merah muda, tanpa aba-aba ada pendar keemasan yang menguar menyelimuti raga kurus tersebut. Tak sedikitpun ada cahaya merah muda yang hadir sehingga hal itu menciptakan kerut-kerut nampak di dahi Crystal.
"Lu-Lunafreya-sama?!"
Berpasang-pasang mata di sana—terkhususnya untuk sang merah muda dan raja cahaya—membulatkan bola kaca mereka. Di hadapan kelima sekawan tersebut, sembari bercaya keemasan cantik seperti mentari, sosok yang telah gugur di kota air hadir sembari tersenyum begitu tipis.
Tak ada yang diucapkan sosok tersebut melainkan ia menyentakkan trident perak yang digenggamnya ke aspal kasar. Seketika itu pula satu persatu dewa hadir memerlihatkan kuasa mereka.
Gerombol daemon-daemon yang berada di belakang mereka satu persatu gugur tersengat guntur yang hadir berkat sang Fulgurian, dinding sihir merah yang tak dapat dipenetrasi mereka dibekukan dan kemudian dilingkari hingga retak oleh Glacian dan Hydraean. Archaean menggeram, menghantam dinding yang telah rapuh itu dengan kekuatan tinjunya dan Draconian menghancurkan tembok raksasa tersebut dalam sekali tembakan.
"Sang oracle sebelumnya meniupkan sisa ruhnya demi hal ini...demi membantu kalian jika ada hal genting terjadi."
Kembali ke wujud semula, Gentiana menampakkan diri di samping Crystal seraya membawa hijau cerahnya ke wujud cantik yang saat ini masih menampilkan senyum kepada rajanya. Senyum cantik di bibir merah sang messenger terkembang kala ia dapati oracle-nya saat ini hendak menahan tangis dikarenakan interaksi sang Caelum dan juga Fleuret.
Kedua keturunan yang diberi berkah dewa di sana saling bertatap-tatap, merasakan hati mereka terkoyak karena pada akhirnya mereka dapat bertemu meskipun dalam kondisi yang tak dapat membuat mereka tertawa.
"Luna..." Noctis merasakan kerongkongannya seperti kering sehingga suara yang mampu diperdengarkannya teramat sangat serak. "Terima kasih."
Raja tersebut berjalan, mencoba menggapai sosok yang akan selalu menjadi kakak perempuan terkasihnya. Ia ingin meminta maaf, ia ingin berterima kasih, ia ingin mencurahkan segala sesuatu yang ada di dalam hatinya teruntuk Fleuret cantik itu. Namun, belum sempat ia menyentuh Lunafreya, sosok tersebut menghilang menjadi pecahan kerlap kerlip emas yang cantik.
Betapa sulit bagi Crystal untuk melihat lansekap yang tersaji di antara kekasihnya dan sang mendiang oracle. Seharusnya kedua orang tersebut berjalan beriringan, seharusnya keduanya tertawa bersama, akan tetapi karena kegagalannya, ia biarkan Lunafreya meregang nyawa.
Salahnya...
Selalu menjadi salahnya...
"Crystal..."
Gladiolus yang memang menyadari perubahan calon ratunya memundurkan tubuh, menaikkan tangan dan menepuk pucuk kepala merah muda tersebut. Tak lupa ia acak sedikit surai panjang sosok yang kehadirannya seperti adik, mencoba memberi semangat.
Berusaha menetralkan kepedihannya, Crystal mengangguk kecil, mengucapkan terima kasih kepada Gladiolus dan menyatakan bahwa ia telah baik-baik saja.
Mereka kembali melangkah, melanjutkan perjalanan menuju Citadel yang masih berdiri kokoh walaupun telah diabaikan selama sepuluh tahun lamanya.
"Awas!"
Tetapi, langkah mereka kembali tersendat kala munculnya salah seorang dewa yang telah jatuh ke dalam pengaruh Ardyn Lucis Caelum. Itu adalah sang Infernian, dewa yang menjadi awal mula starscourge hadir menggilakan seluruh manusia karena meteor yang dipanggilnya atas dasar kemurkaannya terhadap para makluk tak abadi tersebut. Matanya menatap tajam dan jika tatapan dapat membunuh, mungkin mereka telah tercabik-cabik begitu saja.
Sosok raksasa tersebut bangkit dari duduk, memanggil apinya untuk menghanguskan makhluk-makhluk yang berada di bawah jarak pandangnya.
"Ia terinfeksi starscourge!"
Crystal adalah orang pertama yang melantang sembari berlari menghindari serangan Ifrit. Ia mendekat ke arah Noctis, berusaha untuk memberitahukan strateginya agar ia bisa menyerap kotor di dalam raga sang agung.
"Bukankah kau—"
"Demi Shiva aku akan menyembuhkannya! Kumohon, ouji."
Noctis merapatkan bibirnya, tak mampu berkata apapun lagi. Ia memejamkan mata sejenak, menghela napas karena tahu bahwa dilarang bagaimanapun, Crystal tak akan mendengarnya. Karenanya ia mengangguk, menyetujui apa yang baru saja dititahkan sang kekasih.
Menit berikutnya, sang raja melantang, meminta Gladiolus dan juga Ignis untuk memotong otot-otot kaki sang dewa api agar sosok tersebut terjatuh. Perisai dan penasihat raja segera mengangguk, melesat ke belakang tubuh raksasa tersebut guna mengikuti perintah Noctis tadi. Sedang Prompto, ia diminta untuk mengeluarkan bola gravitasi hitam yang ditujukan untuk menghentikan pergerakan sang infernian selagi Amicitia dan Scientia melakukan tugas mereka.
Terjatuhnya Ifrit menjadikan Noctis mengembangkan senyuman dan ia memanggil dua buah senjatanya untuk ia tancapkan ke kedua tangan sang dewa agar sosok tersebut tak dapat bergerak selama sepersekian menit.
"Sekarang, Kuril!"
Noctis meneriaki kekasihnya dan pada detik yang sama merah muda tersebut telah melesat, mendekati kekasih Glacian dan menyentuh tangan kiri raksasa dewa tersebut.
"Crystalcrown, tidak!"
Terlambat. Shiva yang berada dalam wujud aslinya mendekatkan tubuhnya ke Crystal yang kini tengah menjerit-jerit menahan perih sebab hitam itu mengalir ke dalam tubuhnya. Permata ungu milik sang dewi bergerak ngeri, mendapati perempuan Leonis tersebut dipenuhi hitam hampir disekujur tubuhnya.
Raut wajah cantik nan pucat milik Glacian semakin menampakkan kengerian yang begitu besar dan ia segera menaikkan kedua tangannya, memanggil es-nya agar dapat menyelimuti raga yang perlahan-lahan tercorengi wabah.
"Aku baik-baik saja, Shiva."
"Kau tidak baik-baik, saja."
Dengan senyuman lemah, Crystal memegangi tangan dewa api dan dewi es tersebut, tersenyum lemah sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya.
"Crystal!"
Keempat pria yang sejak tadi tak berani mendekat, berlarian, menuju perempuan yang kehilangan kesadarannya. Ia adalah perempuan yang baru saja melakukan pengorbanan cukup besar demi menyelamatkan Ifrit.
Dengan rasa gelisah yang luar biasa, sang Caelum sekelam malam merengkuh raga beku sang kekasih. Biru kelamnya terkilaukan oleh cahaya redup emas merah muda yang berkilau cantik, bukti bahwa perempuan tersebut tengah melakukan penekanan hitam.
"Tenanglah, Noctis. Aku menekan penyebaran starscourge di dalam tubuhnya dengan membekukan. Sekarang Crystal tengah menekannya dan membutuhkan waktu."
Mendapati penjelasan Shiva, Noctis secara tak sengaja menghembuskan napas lega. Ia menyeka surai panjang tersebut penuh rasa kasih, menampilkan kelegaan luar biasa karena sang dewi mengatakan bahwa kekasihnya ini baik-baik saja.
"Aku akan membawanya ke kamarnya."
Tanpa menunggu persetujuan siapapun, Noctis segera mengangkat tubuh tersebut ke dalam dekapannya dan melangkah memasuki Citadel. Ia paham benar bahwa yang menunggu di hadapannya adalah sesuatu yang tak diantisipasi. Entah akan membawa keburukan, entah akan membuatnya dengan mudah menuju kamar perempuan tersebut. Namun, sang raja berpikir. Daripada meninggalkan kekasihnya di luar sana, lebih baik ia bawa sosok tersebut masuk ke dalam Citadel yang aman—entah aman atau tidak.
"Noct."
Tubuh pria tersebut menegang, mendengar Ignis melafalkan namanya dengan nada yang pelan. Di dalam lobi masuk rumahnya, suara demi suara milik sang pria culas membahana. Pria tersebut mengalunkan nada suaranya, menambah muak di dalam dada para tiap-tiap insan yang mendengarnya.
"Ignis, tolong lindungi Kuri."
Setelah menghembuskan kalimat terakhirnya, sang raja bersama perisai dan sahabat cerahnya mengayunkan kaki, memanggil senjata-senjata mereka sebelum dengan membabi buta melawan the fierce yang termanipulasi oleh pria bersurai anggur yang tak menampakkan wujud.
Ignis, yang diberi tanggung jawab untuk menjaga calon ratunya mendekap sembari membelakangi tubuh saat beberapa serpihan retak lantai marmer di bawah pijakannya berterbangan karena senjata kuat sang mendiang raja.
Masih sembari membelakangi para orang-orang yang bertarung, pria berkacamata tersebut menolehkan kepala, melirik para temannya yang tak berhenti melayangkan serangan sampai musuh mereka ditumbangkan oleh sang Amicitia.
'Maafkan aku...aku tidak menjadi diriku sendiri...'
Merupakan kalimat yang dituturkan oleh sang mendiang sebelum sosoknya menghilang dari hadapan mereka. Menghela napas karena tak ada satupun yang cidera, Ignis berdiri sembari mendekap teman kecilnya dengan kedua lengan kokohnya.
Ia hendak menyerahkan perempuan tersebut kepada rajanya akan tetapi Noctis tak menanggapi dan malah berlari menuju elevator yang mengejutkannya masih berfungsi sempurna—Ardyn pasti bosan dan merawat tempat tersebut dengan baik.
Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk mencapai kamar Crystal dan sang Scientia dengan hati-hati merebahkan tubuh yang perlahan-lahan tak diliputi oleh hitam—tetapi masih membeku.
"Gentiana, tetaplah berada di sisinya."
Noctis memberi titah dan kembali menghambur ke luar kamar setelah memastikan bahwa tak ada ancaman yang ada di dalam maupun luar kamar kekasihnya. Ia berlari, memasuki elevator sekali lagi untuk mencapai ruang tahta; ruang yang seharusnya terdapat sosok Ardyn.
Tetapi, seperti tak lelah menyiapkan 'mainan' untuknya, lagi-lagi ia dan ketiga kawannya harus berhadapan dengan mendiang ratu Lucis yang juga dimanipulasi oleh Ardyn.
Bunyi denting demi denting mengudara dan mereka bertarung tanpa mengenal rasa lelah. Mereka tak boleh lelah, tak boleh merasa capai sebab selepasnya melawan the rouge, mereka harus dihadapkan oleh the mystic yang kekuatannya berbeda dari dua lawan yang baru saja mereka lawan.
Dikalahkan sekali, sosok tersebut menjadi sangat kuat, begitu kuat bahkan mampu membawa mereka ke dimensi lain demi bertarung tanpa merusak Citadel. Beberapa kali tebasan demi tebasan dilancarkan, beberapa kali tembakan diluncurkan. Raja pertama Lucis di sana begitu tangguh, teramat sangat tangguh sampai mereka pada akhirnya harus melakukan perlawanan beruntun demi mengalahkan adik Ardyn tersebut.
"Dengar aku wahai raja terpilih...ini adalah waktu di mana kau akan mengenyahkan kegelapan." Begitulah yang mampu dikatakan Somnus sembari bertekuk lutut menerima kekalahannya. Dari balik zirah besinya ia berkata, menatap keturunannya yang telah begitu lama ia nanti kehadirannya. "Pergilah, kembalikan cahaya dan bebaskan kakakku dari kutukannya."
"Kau...adik Ardyn? Paman Kuri?"
"Kuri?" Pria Caelum di sana membalas. "Ah...anak itu..." Ucapnya lagi dengan nada lemah. "Bahkan sampai akhirpun aku tak bisa bertemu dengannya..."
Itulah kata terakhir yang diperdengarkan Somnus kepada keempat sekawan di sana sebelum benar-benar menghilang dari hadapan mereka. Noctis menunduk, merasakan kesakitan luar biasa saat kepalanya mengiangkan kalimat terakhir raja pertama yang baru saja dikalahkannya.
Ia yang sempat tertidur di dalam kristal selama sepuluh tahun sempat melihat penglihatan di mana adik Ardyn tersebut berulang kali mengunjungi bongkah cantik merah muda yang terdapat bayi di dalamnya. Sekali melihat ia paham bahwa itu adalah sosok seseorang keturunannya yang menunggu-nunggu kelahiran Crystal dari dalam kristal.
Ada rasa sesal di hatinya ketika ia tahu bahwa yang membuat Crystal tak sadarkan diri seperti saat ini adalah karena ia menyetujui permintaan kekasihnya tersebut. Andai ia menentang, Somnus pasti bisa bertemu dengan sosok yang selama ini ingin ditemuinya.
"Noct?"
Dipanggil oleh sang pirang cerah membuat Noctis kembali pada kesadarannya. Ia menoleh, mendapati kawannya menatapnya dengan berlian yang berkilat penuh kecemasan. Senyumnya ia paksakan merekah dan ia langkahkan kembali kakinya menuju pintu ruang terakhir yang dituju mereka.
Namun, langkahnya kembali terhenti dan ia terdiam selama sepersekian detik—
"Prompto, boleh aku lihat foto-fotomu?"
Sebelum berkata seperti itu dengan nada lembut. Benar. Untuk terakhir kalinya ia ingin melihat foto-foto kenangan mereka. Mungkin saja dalam sepuluh tahun hilang dirinya, ada foto menyenangkan yang dapat membuat hatinya diliputi rasa bahagia.
"Ah! Itu foto saat pernikahan Eira dan shogun." Prompto yang memang berada di dekat pria Caelum tersebut mendadak membuka mulutnya, berkata dengan nada riang dan bangga karena pesta kejutan yang ia bantu rancang berakhir sukses. "Dan ini foto yang kuminta dari Vyv untuk membuatmu cemburu." Tambahnya sembari terkikik.
"Aku cemburu. Karenanya aku ambil foto ini."
"Silahkan. Memang itu tujuanku dan Crystal."
Cengiran lebar itu mau tak mau membawa Noctis terkekeh kecil. Ia bawa pandangnya jatuh ke secarik foto yang begitu menghangatkan hatinya. Ia berbohong. Ia tidak sama sekali merasa cemburu saat melihat bagaimana kekasihnya dengan wajah cerah tersenyum bahagia seraya memegangi tangan sang Argentum dan juga Scientia.
Kebalikannya, ia malah semakin merasa lega saat melihat foto tersebut...
Tanpanya...mereka akan baik-baik saja...
Memasukkan foto tersebut ke saku dalam jubah yang dibuat Iris atas perintah sang merah muda—jubah dari jubah mendiang raja Regis—, Noctis merentangkan kedua tangannya, memegang handel dingin tersebut sebelum membukanya dalam sekali dorongan.
Betapa terkejutnya ia saat menengadah dan mendapati empat orang tergantung di atas sana—mayat-mayat para orang yang tak bisa diselamatkannya berserta juga Iedolas. Wajahnya yang semula datar memancarkan murka, menatap nyalang ke sosok yang semena-mena duduk di kursi tahtanya.
"Arrgghh!"
Jantung pria tersebut seolah berhenti berdetak kala ia dapati ada hitam yang meluncur, merasuk ke dalam tubuh para sahabat-sahabatnya di sana. Berliannya membeliak, menatap ngeri ketiga kawannya yang telah terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Apa yang kau lakukan?!"
Noctis berteriak begitu kencang, tak memerdulikan kerongkongannya akan terluka karena ia baru saja menghabiskan pasokan udara di paru-parunya. Biru kelamnya masih menatapi Ardyn yang tertawa-tawa dan mengatakan bahwa ia tidak ingin ada yang mengganggu pertarungan mereka.
Mengepalkan tangan kuat-kuat, Noctis mau tak mau pergi mengikuti pria tersebut, melawan demi mengembalikan sinar mentari bagi orang-orang terkasihnya.
.
.
.
Peluh hadir membanjiri wajah cantik milik perempuan merah muda yang terbaring lemah di atas ranjang kamarnya. Sosok tersebut terengah, mengerang sembari membalikkan tubuh ke kanan dan kiri sebelum kemudian membuka mata secara tiba-tiba.
Ia terdiam, menatapi lansekap familiar yang dirindukannya—langit-langit yang telah sepuluh tahun tak menyapanya. Dada perempuan tersebut naik dan turun dalam tempo yang cepat dan sekali hentak ia bawa tubuhnya untuk bangkit.
"Gentiana, di mana ouji dan yang lain!?"
"Menemui Ardyn."
"Mengapa kau tidak membangunkanku?"
Secara kasar Crystal bangkit dari tidurnya sebelum ia terjatuh saat merasakan tubuh-tubuhnya bergetar halus dan terasa berat.
"Kau baru saja menyerap kotor di dalam tubuh Ifrit. Melakukan itu lagi akan membuatmu—"
Gentiana yang memang berada di sana mengatupkan mulut dan membuka kelopaknya untuk memandangi Crystal yang menatapnya dengan tatap nanar. Perempuan bersurai merah muda yang telah acak tersebut menunduk, membiarkan wajahnya tertekuk, menyembunyikan kalutnya.
Sesungguhnya, putri Cor Leonis di sana memahami apa yang hendak diucapkan Gentiana. Ia paham. Ia sangat paham. Tetapi, ia tetap membuka mata dan berhasil menekan borok itu, bukan?
"Aku akan menyusul mereka."
Tak menunggu jawaban Gentiana, perempuan tersebut segera melesat, menuju elevator dan menaiki benda tersebut untuk menuju ruang tahta. Ia tahu Ardyn berada di sana, karenanya ia yakin Noctis dan juga rekan-rekannya berada di sana.
Langkahnya begitu cepat, dibawa sangat cepat sampai-sampai ia tak menghiraukan betapa sulit dirinya melangkah sebab tubuhnya belum pulih benar.
"Ignis! Pom! Gladio!"
Ruang yang telah hancur tersebut menggemakan suara lengking sang merah muda yang begitu kencang. Getar yang berada di kakinya seketika sirna dan ia berlari begitu kencang sebelum menjatuhkan tubuhnya tepat di sebelah Prompto.
Wajah cantiknya semakin dihiasi oleh peluh, dipenuhi kehawatiran. Belum lagi, degup jantungnya bertabuh sangat kencang sebab spekulasi-spekulasi bermain, mengejek dan tertawa-tawa dalam benaknya.
"Crystalcrown, kau tak akan bisa selamat lebih dari ini!"
"Aku tidak peduli! Mereka akan mati jika tidak ku selamatkan!"
Dengan seluruh emosi yang menyelimuti diri, Crystal meneriakkan ketidaksetujuan Gentiana yang melarangnya untuk menyerap scourge di dalam tubuh ketiga orang terkasihnya. Bibir perempuan tersebut bergetar seiring dengan terserapnya kotor itu ke dalam dirinya.
Ada yang berbeda dari dirinya. Jantungnya berdebar begitu kencang, teramat sangat kencang sampai-sampai menurutnya sesuatu di dalam rongga dadanya itu bisa meletup begitu saja. Teriakannya semakin kencang, begitu hebat sampai-sampai mungkin saja biar terdengar hampir ke seluruh Citadel.
"Crystalcrown!"
Kali ini, suara khas sang dewi es membahana saat ia dapati sosok merah muda tersebut perlahan-lahan terserap oleh borok yang tak mampu lagi ditekannya lagi.
Benar-benar terlambat, ia sangat terlambat.
Apa yang ditakutkannya benarlah menjadi nyata.
Perempuan yang terus menerus berada di sisinya saat ini perlahan-lahan berubah menjadi sosok menyeramkan, yang melelehkan hitam dari kedua mata dan mulutnya. Shiva yang seharusnya tak memiliki emosi dan juga empati terhadap manusia menangis, melelehkan kristal kepedihannya saat mengetahui bahwa ia gagal mencegah Crystal berubah menjadi daemon.
"Crystal?!"
Ketiga pria yang telah disembuhkan oleh perempuan tersebut membelalak, memundurkan langkah mereka sedikit saat mendapati ada perubahan di sahabat merah muda mereka.
"Crystal, hentikan!"
Prompto berteriak, mencoba menyadarkan sahabatnya saat sosok tersebut tiba-tiba saja berlari menerjang ke arah Ignis dan juga Gladiolus. Dengan raut yang sangat ketakutan, Argentum di sana mengeluarkan senjatanya, membidik sosok tersebut dengan tangan bergetar.
Tetapi ia tak dapat meletuskan senjata apinya. Selain karena Crystal bergerak begitu cepat, ia pun tak kuasa mencelakai sahabatnya.
Tidak!
Apa yang harus ia lakukan?!
"IGNIS!"
Gladiolus yang memuntahkan darah dari mulutnya meneriakkan nama salah seorang sahabatnya saat mendapati perempuan yang telah sepenuhnya kehilangan kesadaran terpental begitu jauh hingga terjatuh ke bawah Citadel.
"Ignis?!"
Noctis yang memang berada di sana begitu terkejut saat mendapati penasihatnya tiba-tiba saja jatuh dari ketinggian yang begitu menyeramkan. Ia segera berlari, mendekati Ignis yang mengalirkan darah dari sela bibirnya.
Detik berikutnya jantungnya seolah terhenti ketika ia dapati perempuan yang seharusnya masih tertidur di kamarnya melayang dengan dipenuhi oleh kegelapan di sekujur tubuhnya.
Biru keruhnya terbelalak, menatap ngeri pemandangan di depannya.
...Crystal...menjadi seperti Ardyn...
Mana janjimu, Bahamut?!
"AHAHAHAHAHAHA!" Tubuh pria tersebut menegang ketika ia dapati pria yang sejak tadi menjadi lawan bertarungnya mendadak terbahak-bahak. "Menyenangkan! Sangat menyenangkan! Kau akan mati demi membunuhku, Noctis! Dan anakku akan mati ditanganmu dengan wujud sepertiku!"
Gemuruh dalam dadanya begitu menyeramkan dan Noctis tahu bahwa ia harus mengerahkan seluruh kekuatannya demi mengalahkan kedua sosok di depannya.
Walau ia tak ingin...
Crystal...
Menidurkan kembali sang pirang kusam yang semakin lama semakin memucat dan melemah, Noctis mengeluarkan armiger -nya, mengomandokan agar senjata-senjata bercahaya putih kebiruan tersebut ke arah kedua Caelum di hadapannya.
Tetapi mereka begitu lihai, lebih-lebih Crystal yang mendadak telah berada di belakang tubuhnya dan menendangnya hingga ia terjatuh ke tanah aspal di bawah sana.
Noctis terbatuk, meringis saat menyadari ada beberapa tulang rusuknya yang patah akibat terpentalnya ia tadi. Dengan lemah ia menengadah, menatap ke arah sang kekasih yang menjadi begitu menyeramkan sebelum ia lelehkan kepedihan dari sudut matanya.
"Kuri..."
Tak disangka-sangka sang Caelum, Crystal yang tadi menukik tajam ke arahnya—hendak menghabisinya—terhenti. Perempuan tersebut mundur, sembari terbelalak ngeri. Lengking jerit pilu seketika itu mengudara begitu lantang dan kemungkinan sanggup mencoreng hati siapapun yang mendengarnya.
Sembari menjambaki surai acaknya, sang merah muda menangis, melelehkan hitam dari kedua permatanya sembari berteriak-teriak pilu.
Noctis yang menyadari mencoba mendekat, menyentuh sosok yang terlihat begitu menyedihkan di hadapannya. Akan tetapi sang perempuan menolak dan sembari menangis sosok tersebut melesat ke arah Ardyn, menghunuskan pedang ke pria tersebut.
"Oohh..jadi kau sudah setengah sadar?" Ardyn yang mendapati ada robek di perutnya menyeringai menyeramkan menatap putrinya yang menatap nyalang dirinya dengan permata merah muda yang telah kembali. "Tapi kau tidak akan bisa membunuhku!"
"Kuri!"
"Arrgghh!"
Perempuan tersebut terbelalak, merasakan pedang yang seharusnya menancap di perut pria yang berbagi darah dengannya itu malah berganti ke perutnya.
"Ardyn!"
Noctis sekali lagi mengeluarkan armiger-nya, membabi buta menusuki pria di hadapannya dengan kekuatannya. Ia tak memerdulikan bagaimana napasnya terengah, ia tak mengindahkan rasa terbakar di dalam dadanya karena terlalu memforsir kekuatannya.
Dalam benaknya hanyalah satu. Yaitu membunuh, ia harus membunuh pria tersebut. Demi orang terkasihnya, demi dunia.
Kedua pria Caelum yang tadi melayang dengan kekuatan magis mereka terjerembab jatuh ke aspal dingin. Mereka mengerang, merasakan bagaimana sekujur tubuh mereka memberat sebab mereka telah mengerahkan seluruh kekuatan mereka tadi.
Tetapi Noctis tidak ingin menyerah. Ia memanggil bilahnya, menancapkan pedangnya ke aspal tersebut guna membantunya berdiri. Dengan kekuatan yang tersisa ia panggil satu demi satu royal arms yang bertugas untuk menghancurkan kegelapan dan ia tebasi tubuh pria merah anggur tersebut tanpa belas kasih.
Terengah-engah napasnya, begitu sakit sekujur tubuhnya dan tetesan air mata langit yang tak pernah turun sebelumnya membasahi dirinya dan wajahnya. Pria tersebut tak menangis, pria tersebut tak menggertakkan gigi.
Ia hanya jatuh terduduk, memandangi pemandangan mengerikan yang tak pernah sekalipun ia harapkan berada di kedua permatanya.
"Kau mengatakan akan melindunginya...KAU BILANG DENGAN MERELAKAN NYAWAKU, AKU BISA MEMBUAT MEREKA TERSENYUM?! BAHAMUT! JAWAB AKU!"
Caelum tersebut menjerit, menengadah sembari meluapkan seluruh kesakitan yang memeras hatinya. Darah memang tak mengalir, tetapi ia tahu bahwa hatinya telah terkoyak-koyak dan mengucurkan cairan pekat kehidupan itu.
"Noctis..."
"Kuri?!"
Tubuhnya yang seolah kehilangan ruhnya tiba-tiba saja menegang saat ia dapati ada suara lemah memanggil namanya. Sembari terseok ia bergerak, berusaha menggapai sang perempuan yang menolehkan kepala sembari memberikan senyuman tipis baginya. Dipeganginya tangan sang perempuan, digenggamnya erat seolah tangan itulah pegangan hidupnya.
"Aku ingin melihat pedang Regis-sama."
Noctis mengerutkan dahinya dan ia menyanggupi permintaan tersebut. Dipanggilnya pedang sang ayahanda dan ia bawa di depan sang merah muda. Akan tetapi, yang terjadi setelahnya membuat Noctis menjerit begitu keras.
"TIDAK! KURI!"
Crystal secara sadar menancapkan pedang pusaka tersebut ke perutnya. Ia tersenyum, mengalirkan air matanya sembari membelai sayang wajah sang pria. Dengan lemah ia mendekat, membawa wajahnya untuk menghapus jarak antara dirinya dan sang Caelum.
"Noctis...Berikan cincin itu untukku, aku yang akan menggantikanmu."
Betapa terkejutnya Noctis saat mendapati Crystal mengatakan kalimat tersebut disela-sela kecupan mereka. Ia mengerutkan dahi, menggeleng.
"Tidak."
Tetapi ia lengah. Sang perempuan iba-tiba saja menyambar cincin sang raja dan mencoba merangkak menuju ke ruang tahta. Sayangnya, luka fatal yang didapatkannya dari Ardyn dan pedang regis membuatnya sulit untuk bergerak sehingga dengan mudah Noctis menghentikannya—pria tersebut memeluknya.
"Lepaskan aku, Noctis." Ucap sang oracle gagal dengan nada yang lemah.
"Aku tidak akan membiarkanmu."
"Aku sudah sekarat, nyawaku ini akan hilang sebentar lagi. Akulah yang lebih pantas melakukannya. Para raja terdahulu pasti bisa memahami karena aku juga keturunan Caelum, putri Ardyn."
"Sembuhkanlah Ignis disisa-sisa hidupmu, Kuri."
Tubuh sang perempuan menegang dan sesuatu seperti menghentikan detak jantungnya saat ia dengar kalimat tersebut. Crystal menoleh, menatap rajanya dengan tatapan tak percaya.
Mengapa pria ini malah memintanya untuk menyembuhkan pria lain?
Tetapi tanpa disadarinya permata merah mudanya menoleh ke arah Scientia yang tak lagi bergerak dan di luar kendalinya, air matanya meleleh begitu saja. Ia terisak, menangis dalam dekapan Noctis yang juga turut menangis bersamanya.
"Tidak, Noctis." Perempuan tersebut menggeleng.
"Kau harus menyembuhkannya. Berbahagialah dengannya."
"Tidak!"
"Crystalcrown!" Perempuan itu terkesiap saat diteriaki. "Ini adalah jalanku...kumohon—"
Crystal tak dapat lagi membendung tangisnya. Ia meraung, menyadari bahwa akhir kejam sampai akhirpun akan tetap datang menghampirinya. Iapun tahu bahwa sebagaimanapun ia menolak, Noctis tidak akan pernah mendengarnya...begitupun dengan dewa.
Bagaimanapun ia menolak...
Bagaimanapun ia ingin mengubah...
Segalanya telah absolut dan tak akan pernah bisa putarkan...
"Jika kau mati, aku akan mati." Crystal berusaha bertutur sembari menangis. "Karenanya aku akan menukar nyawaku untuknya. Tunggulah aku di dunia sana."
Noctis mengigit bibir bawahnya. Ia belai penuh kasih pipi itu dan mendekatkan wajah guna mengecup; satu hal terakhir yang akan ia rasai. Ada yang berbeda dalam dirinya. Sekalipun ia mendengar pernyataan perempuan itu tadi, ia tidak lagi merasa tersulut ataupun merasa bersedih. Sebab, di sudut hatinya, ada yang mengatakan bahwa sang kekasih tak akan kehilangan nyawanya, di sudut hatinya itu pulalah ia yakin bahwa Bahamut akan menepati janjinya.
"Prompto, Gladio, aku titipkan Crystal pada kalian." Ucap sang raja yang telah berdiri dan membawa tubuh penuh darah tersebut mendekat ke Ignis yang tak lagi bergerak. "Busungkan dada kalian, kawan-kawanku."
Membalikkan tubuh, raja ke seratus empat belas di sana mulai berjalan meninggalkan teman-temannya. Dari sudut matanya, ia melihat ada cahaya indah yang ia ketahui milik sang kekasih. Sudut bibirnya menaik, mengukirkan senyuman penuh rasa cinta dan bersyukur atas apa yang telah ia lalui.
Sepanjang jalannya, langkah kakinya seolah menyerakkan pecahan-pecahan masa lalu. Celoteh, gelak tawa tampak hadir mengiri langkahnya, berdengung manis di telinganya seolah kini ia tengah menonton kisah masa lalunya yang tak akan pernah kembali lagi.
Ia tahu ini adalah akhirnya, tetapi ia tak merasakan ada satupun rasa yang memberatkan langkahnya. Malah, semakin mendekati ruang tempatnya akan meregang nyawa, semakin ringan hatinya. Tak ada yang tertinggal. Ia telah menitipkan orang tersayangnya kepada dewa yang memiliki kisah ini, ia telah meninggalkan sepucuk surat berisikan curahan hatinya teruntuk kawan-kawan tersayangnya.
Didudukkan tubuhnya di kursi kesayangan ayahandanya dan tiba-tiba saja pria tersebut terkekeh kecil karena mengingat bagaimana dulu ia dan Crystal acap kali duduk di kursi tersebut memperebutkan peran raja.
Dengan tangan yang bergetar ia memanggil bilah panjangnya, menancapkan pedang tersebut. Birunya terkilau oleh serpihan-serpihan kristal yang datang, berkerlap-kerlip cantik seperti peneman dirinya.
Ia menengadah, membiarkan leleh hangat mengalir membasahi wajahnya yang telah dewasa. Senyumannya tak pernah pudar, ia menutup mata, menyesapi akhir yang akan menemuinya sebentar lagi.
Bayang-bayang mereka yang hadir dalam hidupnya terputarkan satu demi satu, memberi hangat memeluk raganya.
"Selamat tinggal..."
xXxCrystallo FiliaxXx
Ini adalah kisah sedih yang telah dituliskan sejak ribuan tahun silam. Ini adalah kisah yang telah sedemikian rupa dipersiapkan sang maha agung demi memuaskan egonya. Ini adalah kisah yang tak akan pernah bahagia, tak akan pernah membiarkan senyuman terkembang pada bibir para pelakonnya.
Jauh dari satu realm milik sang petinggi Astral, sesosok berzirah biru dengan beberapa ornamen emas di sana menggerakkan mata. Ia mengatupkan bibir, membisu sembari melayang-layang di dalam antara ruang hampa yang terkilaukan serpihan-serpihan kristal cantik.
Dari balik topeng dinginnya, dewa membiarkan permatanya bergulir, menatapi pergerakan salah seorang pria pirang cerah yang ditinggalkan, yang kini tengah menggenggam sebuket bunga cantik berwarna-warni yang melambangkan warna para sahabatnya. Wajah manisnya tak seperti biasanya sebab tak ada senyuman yang terkembang di bibirnya. Langkahnya yang biasa terayun penuh keceriaan kini terlihat seperti terseok dengan beribu-ribu serpihan hati terserak di tempat ia melangkah.
Tak mampu lagi ia menjadi cerah seperti sebelumnya, tak mampu lagi ia menjadi sosok yang selalu berusaha terlihat tegar. Hal tersebut karena, para kawan-kawan yang disayanginyapun juga tak lagi mampu untuk menampilkan senyuman untuknya.
Mereka tak lagi tertawa...
Dari tahtanya, sang Draconian memandangi seksama lansekap yang tersaji di hadapannya. Masih membisu, sosok raksasa tersebut memerhatikan dengan baik bagaimana sang Argentum yang telah sampai di tempat tujuannya meneteskan air mata sembari menyentuh kurat-kurat nama milik sosok yang telah pergi meninggalkan dunia.
Entah sudah berapa kali pemandangan ini dilihatnya, entah sudah berapa kali anak manusia itu menjadi rapuh di depan batu nisan kawannya.
Bahamut menutup kedua berliannya, berusaha menghilangkan pemandangan yang tadi terproyeksi di depan dirinya. Dalam gestur tubuhnya yang kaku, sosok tersebut sedikit merendahkan kepala kala ia rasakan ada sesuatu menekan-tekan di daerah dekat rongga dadanya. Sesuatu tersebut begitu perih, teramat menyakitkan hingga dapat membuat wajahnya yang selalu datar mengerutkan dahi.
Tak diketahui, tak pernah disadarinya bahwa sesuatu itu adalah empati yang tumbuh di dalam 'hati'nya. Ia, sosok yang menciptakan skenario keji dua ribu tahun silam ini pada akhirnya mememiliki sesuatu bernama simpati kepada sosok-sosok yang tak lagi bisa tertawa karena stori kebanggaannya.
Ya...jauh dari pengetahuannya, telah ada bibit-bibit bernama emosi dalam hatinya kepada sosok yang sejujurnya ia paksakan untuk bersatu dengan pionnya...pion yang ia paksakan tetap hidup, yang ia permainkan dengan ditumbuhkannya perasaan terhadap raja cahaya. Semuanya ia kendalikan, semua telah ia gariskan sedemikian rupa. Semata-mata agar menjauhkan sang pion dari pergerakan yang berujung di luar kendalinya seperti keturunan pertama Caelum, semata-mata agar sosok itu merelakan diri mati demi sang Caelum sekelam malam.
Ia menyiapkan skenarionya, memainkan hati para pelakon yang seharusnya tak terbelenggu dalam jerat tali merah yang dibiarkan menjadi bercabang dan bersimpul tak dapat diurai. Dan kini ia menyesal dengan akhir yang didambakannya dahulu karena jauh sekali tanpa ia ketahui...ternyata ia sebenarnya menyayangi keturunan yang ia berikan kekuatan.
Ia menyayangi mereka...sangat menyayangi mereka...
"Hei, aku datang."
Sosok tersebut membuka mata ketika indera pendengarannya mendapati sang Argentum membuka bibir dan memaksakan tertawa. Pria tersebut berjalan, meletakkan bunga di tempat dingin yang selalu menjadi saksi bisu kesakitannya.
Ia...sang maha agung tahu bahwa pria yang tengah diperhatikannya ini meneteskan air mata lagi dan lagi sembari merasa sesak. Ia tahu perasaan pria tersebut...pada akhirnya ia memahaminya...
"Terima kasih telah datang setiap hari, Prompto."
"Tidak, Eira. Ini adalah kewajibanku...sebagai sahabatnya."
Ucap pria tersebut lirih seraya bersusah payah menghentikan linangan air matanya. Entah sudah berapa puluh kalinya ia mendatangi tempat ini dan entah sudah berapa ratus kali ia menangis seperti tak pernah bisa melangkah maju dari insiden satu bulan silam.
"Hei Crystal, apa kabarmu?"
Pria tersebut membuka mulutnya yang bergetar, berusaha menetralkan suaranya yang masihlah serak karena ia tidak akan pernah bisa merasa biasa saja dengan pemandangan di hadapannya.
Dalam keheningan tempat tersebut, hanyalah hembus angin yang menjawab tuturannya. Ia sudah biasa berbicara dengan tiupan napas bumi yang tak lagi kumuh, ia sudah biasa terdiam sembari menikmati bagaimana hembusan tersebut menggelitik surai pirangnya.
Detik berikutnya pria tersebut terkesiap kala bunyi derak besi terdengar memecah keheningan pagi itu. Ia menoleh, berusaha menyunggingkan senyum kepada sosok bersurai pirang kusam yang tak lagi memiliki cahaya di salah satu bola kacanya.
"Hei, Ignis. Duduklah."
Ia berdiri, memersihlahkan penasihat mendiang raja tersebut untuk menduduki bangku yang tadi menopang tubuhnya. Tetapi pria tersebut tak mengindahkan, ia hanya terpaku di ambang tempatnya berdiri sembari menatap nanar ke sosok yang benar-benar kehilangan senyumannya.
"Sebentar lagi Gladio datang." Sang wanita Heallint membuka mulutnya, entah berkata-kata kepada siapa. "Dan...ada yang ingin kuberitahukan kepada kalian."
Prompto bukanlah satu-satunya sosok yang menyadari nada serak pada suara sang wanita bersurai sekelam arang. Ignis yang sejak tadi berdiri kaku pada tempatnya berpijak juga mengetahui hal tersebut. Terulang kembali, ada sesuatu mengenai mendiang rajanya yang hendak disampaikan melalui istri Cor Leonis itu dan karenanya, ia harus datang ke tempat yang meremukkan hatinya lagi dan lagi.
Ya...ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di tempat ini. Dahulu, ia yang terlalu rapuh bahkan tak kuasa untuk menurunkan tubuh dari ranjang yang menopang tubuh terlukanya. Ia terus menerus bertahan di ranjang itu, menangisi tanpa air mata akhir yang diceritakan oleh Prompto secara hati-hati.
Ia berdarah, merasa pedih karena mengetahui bahwa dirinya selamat dengan keajaiban yang diberi oleh sahabat merah mudanya. Ia merasa hancur ketika mengetahui bahwa raja yang mengembalikan cahaya terbujur kaku di atas kursi tahta.
Kedua sahabatnya tak lagi mampu memerlihatkan senyuman kepadanya, kedua sahabatnya tak lagi mampu mampu membuatnya menderaikan tawa. Yang terganti adalah bibir yang bergetar, menahan tangis yang terus menerus pecah karena akhir kisah menyedihkan.
"Jadi, apa yang hendak kau katakan, Eira?"
Ignis terkesiap, seperti tersentak sadar setelah terjerat dalam lubang kegelapan yang menyedihkan. Ia naikkan sebelah permatanya untuk menatap Gladiolus yang entah kapan sampai di tempat tersebut.
"Ini. Noctis menitipkan ini padaku."
Dengan enggan dan tangan yang bergetar, ketiga pria di sana merentangkan tangan, meraih secarik amplop putih yang berada di tangan sang medis.
Mereka tahu bahwa mereka harus memersiapkan diri membaca surat peninggalan raja mereka tersebut. Dan orang pertama yang tak mampu menahan tangisnya adalah Prompto. Ia menangis tersedu-sedu, membuat dua orang pria lain yang berusaha tegar turut melelehkan air mata mereka.
Eira yang melihat pemandangan tersebut mengigit bibir bawahnya, tak tahan melihat bagaimana orang-orang yang dahulu selalu dikelilingi mentari kini direngkuhi oleh kabut dan entah sampai kapan akan selalu seperti itu.
Ia mengepalkan tangan, menjatuhkan obsidiannya ke salah satu surat yang masih berada di tangannya. Surat yang sepertinya harus ia bacakan ke orang tujuannya.
"Kau...tak mau membacanya?"
Di sana, di atas ranjang putih dalam ruangan berpenerangan minim tersebut, sesosok perempuan bersurai merah muda tampak menatap kosong ke jendela bertirai kelam di hadapannya. Perempuan tersebut tak melirik, tak pula membuka katup bibirnya sehingga mau tak mau Eira membuka surat tersebut, berusaha membacakan walau hanya hembus napas tercekat yang dikeluarkannya setelah membaca isi surat itu.
Noctis...
"Eira! Aku membawakan hasil Crystal!" Tiba-tiba saja suara berat milik pria lima puluh lima tahun terdengar memecah suasana pedih di dalam ruangan tersebut. "Eira—"
Eira Leonis terkesiap saat mendapati suaminya tiba-tiba saja tercekat dan kemudian menangis di sampingnya. Ia segera menghambur ke pria tersebut, menyentuh wajah pria yang disayanginya sebelum mengambil secarik kertas berisikan laporan mengenai putrinya.
Dengan seksama ia membaca runtut demi runtut hitam di atas putih dalam genggamannya. Jantungnya seketika berhenti berdetak selama sepersekian detik dan ia mengigit bibir bawahnya, mengupayakan agar dirinya juga tidak menangis dan memerkeruh suasana yang telah menyakitkan ini.
Tapi...ia tak bisa.
Sembari bergetar, ia mendekati putrinya yang masih saja terduduk kaku dengan mata yang meredup. Ia belai pipi kurus sosok yang selama sebulan ini tak mengucapkan sepatah katapun dan hanya termenung seperti hanya raganya saja yang tertinggal di sana.
"Crystal..." Eira berusaha memanggil nama putrinya sembari menahan tangis dengan susah payah. "...ada kehidupan di dalam perutmu."
Ini adalah pertama kalinya sang merah muda menunjukkan reaksi kasat mata dalam sebulan ini. satu permata merah mudanya yang begitu redup mendadak terkilaukan oleh kilau tak percaya. Ia yang sejak tadi termenung menatap jendela yang tertutupi tirai membelalakkan mata, menoleh lemah ke arah ibundanya yang baru saja mengatakan kalimat yang tak pernah diantisipasinya.
"Ei...ra?"
"Crystal..." Eira tak mampu lagi membendung tangisannya. Maka ia menangis, merengkuh putrinya ke dalam dekapannya. "Ada bayi di dalam perutmu..."
Di dalam kesengsaraan yang terus menerus menyakiti dirinya, Crystal tanpa sadar meloloskan air matanya. Perempuan tersebut menangis, mengalirkan kepedihan yang entah mengapa terus menerus menikam hatinya.
Ia mengandung...
Mengandung keturunan Caelum...
Cor tak mampu menahan kepedihannya. Ia mengepalkan tangan, mendekat ke arah istri dan putri tersayangnya sebelum ia rengkuh kedua sosok tersebut.
Sedang ketiga pria yang berada di sana merasakan tubuh mereka membeku dan lidah merekapun kelu tak mampu untuk digerakkan. Pemberitahuan yang baru saja diucapkan Eira tadi membuat perasaan mereka terkoyak. Detik berikutnya, mereka harus mengigit bibir bawah mereka ketika sahabat merah muda mereka yang tak pernah berkata-kata selama sebulan ini tiba-tiba saja menjerit, melaungkan tangisan yang begitu memilukan di dalam dekapan kedua orang tuanya.
Perempuan tersebut menangis, begitu pilu, begitu sedih seolah ia akan membunuh dirinya dengan kesakitan yang selalu ia rasakan di dalam hidupnya ini.
Tubuhnya bergetar, pemaparan milik ibundanya mengguncang dirinya.
Di dalam perutnya, di dalam dirinya, ada sesosok makhluk tak berdosa yang merupakan anugrah terakhir yang diberikan kekasihnya padanya.
Tanpa disadarinya perempuan tersebut mencengkram sang ayahanda dan ibunda, begitu erat seolah hanya merekalah pegangan hidupnya, hanya merekalah yang akan tetap membuatnya berdiri tegak dan tak terjerembab ke tanah berduri.
"Ei...raa...anakku..."
"Ya, Crystal. Dia anakmu. Kau tengah mengandung."
Perempuan merah muda tersebut melepas pelukannya, mengarahkan kedua tangannya kepada perutnya yang rata. Ia meremas bajunya, merunduk sembari terus meluapkan kesedihannya.
Apakah ini arti hidupnya? Apakah ini mengapa ibunda kandungnya mendatanginya dan memberikan nyawa sekali lagi untuknya yang seharusnya mati? Apakah Bahamut mengetahui hal ini hingga akhirnya membiarkannya tetap hidup seperti dua ribu tahun lalu?
Seluruh pertanyaan tersebut terus menerus menjerit dalam benaknya, ia ingin melantang, ia ingin meluapkan kesakitannya.
"Noc...tis..."
Akan tetapi hanya itulah yang mampu terhembus dari sela bibirnya. Perempuan tersebut menangis, mengigit bibirnya begitu kuat hingga berdarah. Hatinya perih, teramat perih dan ia tak pernah mengetahui bahwa hidupnya akan sepahit ini.
Ia terus meringkuk, membawa tubuh kurusnya untuk memerlihatkan betapa sakit hatinya.
Menangislah...
Menangislah, lepaskanlah beban yang ada di dalam hatimu.
Sampai segala kesakitan itu pergi, sampai kau tak lagi mampu menangis dan menggantinya menjadi tawa.
Tubuhnya seketika menegang dan tanpa disadarinya ia telah kembali tegak. Ia buka tirai yang memang selalu ia titahkan untuk tertutup, ia biarkan cahaya mentari yang dahulu menyakitinya, menyilaukan permatanya.
Masih sembari meloloskan kepedihannya, ia menengadah, membawa permatanya menatap surya yang dikembalikan oleh orang terkasihnya.
Tersenyumlah...
Ia tahu apa yang didengarnya hanyalah sesuatu yang terproyeksi dari dalam hatinya yang terdalam, ia tahu Noctis telah bersatu bersama cahaya mentari yang menghangatkan dan memberi masa depan bagi Eos.
Ia mengigit bibir bawahnya, tetap mengalirkan leleh pedihnya. Akan terus ia lelehkan...hari ini saja...sampai ia akan kembali tertawa menuju masa depan.
xXxFINxXx
AKHIRNYA TAMAT YA TUHAAANN
Fyi ini chapter tersulit yang kubuat. Begitu pedih, begitu perih, dan aku selalu menangis tiap buatnya. Well, meski scene bawahnya ga ada feeling dan sooooo rushed, kuharap kalian memakluminya karena aku sudah tidak kuat untuk mem-beta-nya.
Akhir kata, terima kasih telah membaca Crystallo Filia!
Mudah-mudahan bisa bertemu lagi di lain kesempatan!
