Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

Dan di sini author akan membuat segalanya terlalu berlebihan, hehehe,

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[ My Bodyguard ]

~ chapter 3 ~

.

.

.

Tiba-tiba aku jadi ingat masa lalu dan tentang alergiku ini, aku hanya tidak ingin terlihat lemah di hadapan kak Sasori, aku juga ingin menjadi artis yang profesional tanpa ada yang tahu jika aku pun memiliki beberapa cacat.

Seharian aku marah pada Sasuke dan rasa lelah itu semakin menjadi-jadi, sudah jam 11 malam dan kami baru saja akan pulang, aku sempat istirahat beberapa menit di ruang tunggu dan Sasuke, dia terus mengawasiku, aku tidak pernah melihatnya istirahat, mungkin setelah kegiatanku selesai dan kami pulang, dia baru akan istirahat, untuk apa aku memikirkannya?

"Apa kau ingin sesuatu sebelum pulang?" Tanyanya.

Meskipun aku marah, dia tidak pernah benar-benar menganggapku marah, dia pasti mengabaikan sikapku seharian ini, sekarang dia bertanya dengan santai tanpa sadar jika aku masih marah padanya.

"Jangan berbicara padaku!" Ucapku.

"Baiklah, kita akan pulang." Ucapnya.

Dia sungguh mengabaikan aku yang sedang marah.

Setelah tiba, tidak peduli akan ucapannya, berjalan lebih cepat dan saat ini aku hanya butuh kamar, aku sangat ingin tidur, baru saja akan berada di dunia mimpi.

"Kau harus mencuci muka, tangan, dan kakimu, jangan lupa mengganti pakaianmu, seharian kau hampir bersentuhan dan berada di luar." Ucapnya.

"Aku tidak mau, keluar sana." Kesalku, apalagi yang di inginkannya? Aku sudah besar, kontak fisik dan lingkungan di luar tidak akan membuatku sekarat jika tidak mencuci wajah, kaki dan tangan, meskipun itu hanya sehari.

"Aku akan memanggil para pelayan dan melakukannya untukmu."

Menatapnya, selalu saja bersikap seakan dia ini ibuku, ibu saja tidak menegurku seperti itu.

"Bagaimana? Kau ingin melakukannya sendiri atau para pelayan yang akan melakukannya untukmu?" Ucapnya, tatapan yang dingin, aku benci akan tatapan itu.

Timbul ide jahil, aku akan membuatmu berhenti mengomel-ngomel padaku.

"Akan aku lakukan sendiri." Ucapku dan membuka pakaianku meskipun masih ada Sasuke di dalam kamarku. "Aku sudah membuka pakaian, aku akan menggantinya, ambil ini." Tambahku, melempar pakaianku padanya, sejujurnya aku sangat malu, bahkan hanya menggunakan bra dan masih menggunakan celana jinsku.

Tersentak, Sasuke menutupi tubuhku dengan sebuah selimut, berbalik dan menatapnya, dia bahkan tidak malu saat melihatku membuka pakaian di hadapannya.

"Kau adalah nona terhormat, tolong bersikaplah sebagai orang yang terhormat, jika saja ada yang melihatmu seperti ini dan aku masih berada di kamarmu, mereka tidak akan berhenti mengatakan hal buruk tentangmu, harga dirimu akan diinjak-injak mereka tanpa peduli kau adalah majikan atau orang terkenal. Tolong bersihkan dirimu dan ganti pakaianmu dengan piama, selamat malam." Ucap Sasuke, setelahnya dia beranjak dari kamarku dan keluar begitu saja.

Sementara aku, aku langsung berjongkok dan menutupi rapat tubuhku dengan selimut yang di berikan Sasuke, apa-apaan dia? apa-apaan ucapannya itu? Dia menasehatiku seakan aku ini wanita kotor, aku hanya ingin memberinya pelajaran agar dia sadar ini kamarku dan aku akan melakukan apapun yang ingin lakukan tanpa di perintahnya, sekarang dia malah membuatku sangat malu, aku malah mengingat apa yang aku lakukan seperti orang yang benar-benar bodoh dan tidak tahu malu, aku memperlihatkan sebagian tubuhku yang terlanjang pada Sasuke.

Apa yang sudah aku pikirkan!

.

.

[By:Sasuke Fans]

.

.

Esoknya, sikap dan tatapan yang seperti biasa akan aku lihat, ucapan yang akan selalu sama aku dengar, hanya ada jadwal dan jadwal, memakan sarapan yang bahkan sudah di coba oleh Sasuke, dia benar-benar mengawasi segalanya.

Semalam aku memang sudah gila dan melakukan hal konyol, aku jadi merasa sangat memalukan setiap menatap Sasuke.

"Itu adalah jadwalmu untuk minggu depan, karena hari ini tidak ada jadwal, sebaiknya kau masuk dan belajarlah selama seminggu ini." Ucapnya.

"Iya-iya, aku mengerti." Ucapku.

Setidaknya aku bisa bertemu teman-temanku di sekolah.

.

.

[SMA K]

"Kami sangat merindukanmu, Sakura." Ucap mereka, aku masih memiliki orang-orang yang tidak hanya memandangiku sebagai orang terkenal, mereka adalah teman-teman yang bisa aku andalkan.

Tapi, mereka kadang akan sedikit iri.

"Kau melakukan pemotretan dengan salah model dan penyanyi solo terkenal itu?" Ucap Rin, Nohara Rin, kami sudah berteman sejak SMP, dan dia pun cukup menyukai kak Sasori.

"Ah gila! Aku sungguh iri padamu Sakura, biarkan kami mendapat foto dan tanda tangannya, kau bisa membantu kami 'kan?" Ucap Tenten, dia pun tidak jauh beda dengan Rin

"Berhenti kalian berdua, seharusnya kalian memberikan catatan pelajaran yang lengkap untuk Sakura, bagaimana kalian bisa menyusahkan Sakura seperti itu? Teman macam apa kalian?" Ucap Temari, dia bahkan menepuk kepala mereka dengan sebuah buku catatan.

"Ma-maafkan kami." Ucap Rin dan Tenten.

Aku bahkan tidak tahu jika mereka ngefans pada kak Sasori.

"Kami hanya kebetulan menjadi partner, hal ini akan sangat jarang datang, tapi jika kami bertemu kembali, aku akan meminta tanda tangannya untuk kalian." Ucapku.

"Kau memang yang terbaik Sakura." Ucap Rin da Tenten, namun mereka kembali mendapat sebuah hadiah di kepala mereka, Temari terlihat kesal akan sikap mereka.

"Jangan memanjakan mereka Sakura, semakin hari mereka akan semakin banyak meminta padamu." Nasehat Temari.

"Hanya kali ini saja, sungguh, kami berjanji." Ucap Rin dan juga Tenten, mereka sampai memasang wajah berharap mereka.

Teman-teman di kelasku pun cukup ramah, mereka juga ikut membicarakan apa yang terjadi padaku dan kak Sasori, kak Sasori memang memiliki banya fans.

Di saat seperti ini, aku jadi bisa melupakan dunia itu, ini adalah kehidupan yang semestinya aku jalani, aku hanya anak SMA yang bahkan masih kelas 1 dan selalu ijin karena pekerjaanku, kepala sekolah memaklumi dan para guru mengijinkan, bagaimana pun juga aku sudah melakukan hal ini sejak berumur 7 tahun, semuanya menjadi wajar-wajar saja.

"Bagaimana dengan bodyguardmu itu? Apa kau masih sering bertengkar dengannya?" Tanya Rin padaku.

Saat jam istirahat seperti ini, kami bisa berkumpul dan makan siang bersama, di atap terlalu panas, kami hanya duduk di tangga. Di saat seperti ini aku tidak ingin mengingat Sasuke, tapi Rin malah menanyakannya, aku tidak bisa cerita pada ibu, jadi aku selalu cerita pada mereka.

"Bagaimana kau selalu marah akan pekerjaannya yang sempurna?" Tanya Temari padaku.

"Dia cukup tampan yaa." Ucap Tenten.

"Aku tidak mau membahasnya, kemarin kami bertengkar lagi, aku sampai menampar wajahnya, dia membuatku malu di hadapan kak Sasori, dia benar-benar tidak bisa menjaga sikap sebagai seorang bodyguard dan manajer." Ucapku.

"Kau memukulnya lagi? Apa kau tidak sedikit kerterlaluan Sakura? Kau sudah memukulnya beberapa kali." Ucap Rin.

Aku bahkan tidak ingat sudah berapa kali aku memukulnya, apa benar aku sudah sering memukulnya? Aku memang selalu menceritakan apapun pada mereka, bahkan tidak ada hal yang aku tutupi dari mereka.

"Apa dia akan baik-baik saja?" Ucap Tenten.

"Sudahlah! Kenapa kalian malah peduli padanya, dia membuatku malu di hadapan kak Sasori, seharusnya kalian lebih peduli padaku." Kesalku.

"Hal apa yang membuat kau sampai memukulnya?" Ucap Temari, aku sedikit tidak suka setiap berbicara pada Temari, dia seakan menyalahkanku.

"Dia mencegahku meminum minuman yang katanya membuatku alergi, minuman itu bahkan di berikan oleh kak Sasori, aku tidak ada alergi." Ucapku.

"Kami tidak bisa menanggapi apa-apa, tapi yang tahu segalanya tentangmu hanya dia, dia mencoba melindungimu dan kau menyalahkannya." Ucap Temari.

"Jika kalian lebih peduli pada Sasuke, kalian berteman saja dengannya." Ucapku dan bergegas pergi, mereka benar-benar buruk, aku tidak tahu kenapa mereka mulai peduli pada Sasuke.

Aku tidak pernah salah.

.

.

TBC

.

.


update...~

.

.

See you next chapter!