Sadarlah, Tanjirou.
Rate; T (biar aman)
Kimetsu no Yaiba milik Koyoharu Gotoge-sensei.
Author pinjam karakternya demi asupan.
WARNING! Spoiler manga chapter 201. Yaoi [BxB, GiyuuTan], OOC, Gaje, Typo bertebaran.
.
.
.
Happy Reading!
Mentari pagi telah hadir, membawa kehangatan sekaligus kemenangan. Walau pada akhirnya pertarungan melawan Kibutsuji Muzan memakan banyak korban dan menimbulkan banyak kerusakan.
Pahlawan telah gugur. Pilar-pilar sudah tidak lagi utuh dan sanggup bertarung. Obanai Iguro bahkan sudah kehilangan pengelihatannya dan Kanroji Mitsuri sudah tidak lagi sanggup berdiri. Himejima juga sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Tomioka Giyuu berjalan tertatih, tidak peduli akan rasa sakit yang mendera tubuh. Tidak peduli akan tangan kanannya yang menghilang. Tidak ingin diobati.
Karena melihat keadaan Kamado Tanjirou lebih penting dari itu semua.
Kata-katanya tercekat di tenggorokkan, menolak untuk keluar. Dadanya sesak hanya karena melihat keadaan tubuh pemuda yang disukainya. Matanya panas dan butiran itu tumpah begitu saja karena Tanjirou, bahkan sampai akhir masih memegang erat pedangnya.
Ia meninggalkan raganya dengan posisi duduk dan memegang erat pedangnya yang telah patah. Persis seorang pahlawan. Yang pada nyatanya ia memanglah seorang pahlawan yang telah mengalahkan Muzan demi balas dendam dan sang adik, Nezuko.
Kakinya lemas seolah semua ulangnya remuk, ia jatuh berlutut didepan Tanjirou. Gemetar tangannya menunjukkan ia begitu takut akan kenyataan yang sebenarnya nyata.
"Tan.. ji.. rou..." ia berbisik, sungguh hatinya ngilu dan ia memeluk erat tubuh hangat Tanjirou yang sudah tidak lagi bernafas maupun berdetak.
Kakaknya, Sabito, lalu sekarang Tanjirou pun meninggalkannya. Sebenarnya apa ini setimpal?
Ia kehilangan banyak orang yang ia kenal. Bahkan orang yang ia cintai juga sekarang meninggalkannya.
Maka apakah Giyuu mulai berhalusinasi, ketika jemari Tanjirou mulai bergerak melepas pedengnya? Apakah Giyuu mulai gila, ketika mendengar suara nafas pemuda didepannya?
Kelopak mata Tanjirou yang tertutup mulai bergerak, bongkahan daging yang disebabkan oleh Muzan perlahan terserap oleh tubuhnya sendiri. Lalu saat ia membuka matanya, ia memperlihatkan maniknya yang telah berubah.
... menjadi seorang iblis.
Tangan kirinya yang telah tiada mendadak tumbuh, disertai dengan liur yang menetes dari sela-sela gigi yang runcing.
"Apa?" ia bertanya dengan suara yang sama sekali lain dari dirinya sendiri. Tanda di kepalanya mulai menjalar dan muncul di pipinya. Detik itu Giyuu sadar kalau ia tetap harus menguasai diri dan mempersiapkan dirinya untuk bertarung melawan Tanjirou.
"SEMUANYA PERSIAPKAN DIRI KALIAN! TANJIROU BERUBAH MENJADI IBLIS! BAWA DIA KEARAH SINAR MATAHARI DAN BUNUH DIA SEBELUM DIA MEMBUNUH SESEORANG!"
Giyuu merasakan amarah di hatinya. Tubuhnya panas karena amarah yang meluap. Beraninya Muzan mengubah Tanjirou menjadi iblis!
"Kumohon, Tanjirou, matilah seperti manusia!" bisik Giyuu sendu. Tangannya bergetar karena ia sendiri tidak yakin akan sanggup memenggal kepala Tanjirou.
Inosuke dan Zenitsu yang mendengarnya langsung mengambil pedang. Tidak peduli akan kondisi mereka yang masih saja berdarah-darah.
Tanjirou mulai bangun dan mengusap liurnya yang menetes, matanya menunjukkan kegilaan yang sama seperti Muzan sebelumnya.
"Kita adalah teman baik bahkan seperti saudara. Jika seseorang dari kita salah jalan, kita harus menghentikannya. Tidak peduli betapa sakitnya maupun sulitnya itu. Kita harus berjalan di jalan yang benar."
Suara Tanjirou sebelumnya bergema di telinga Inosuke. Ia akan menghentikannya. "Aku akan menghentikannya. Aku akan membunuhnya."
Jadi saat Tanjirou menyerangnya, ia dengan sigap mengincar leher Tanjirou.
Namun saat ujung pedang itu menyentuh leher Tanjirou, ia berhenti, ia tidak sanggup membunuh temannya. "Aku tidak bisa melakukannya."
Tanjirou mundur dan terkena cahaya matahari yang mulai tinggi. Ia berteriak saat kulitnya terbakar. "Arrrghhh!"
Giyuu langsung sigap menghalangi Tanjirou yang ingin bersembunyi, ia benar-benar memohon dalam hatinya. Setidaknya Tanjirou harus mati sebagai manusia pada umumnya. "SIAPAPUN YANG MASIH BISA BERGERAK, ANGKAT SENJATA KALIAN DAN SERANG DIA!"
Tanjirou menyerang Giyuu dan mencoba kembali bersembunyi. Tapi Giyuu lagi-lagi berhasil menghalanginya. "Aku tidak akan membiarkan dirimu bersembunyi!"
Teriakan Tanjirou perlahan mereda, tubuhnya menyesuaikan diri dan tidak terbakar.
"GAWAT! BUNUH TANJIROU SEBELUM DIA MEMBUNUH SESEORANG!" Giyuu berteriak memerintah dan disaat bersamaan Tanjirou menyerangnya.
Inosuke melindungi Giyuu dan berteriak pada Tanjirou yang seolah sudah kehilangan dirinya sendiri. "Apa yang kau lakukan, GOPPANCHIRO!"
"Tanjirou." Sebuah suara memanggilnya, mencoba membangunkannya. "Kamado Tanjirou, bangunlah."
Tanjirou membuka mata, namun hanya gelap yang ada.
"Kendalikanlah dirimu! Kau tidak boleh membunuh manusia!"
Giyuu mengeratkan peganggan pada pedang Tanjirou yang tadi diambilnya, dengan cepat memenggal kepala orang yang dicintainya dan memeluk tubuhnya yang mulai berontak.
"Gi..yuu-san..." bibir dari kepala yang sudah terpenggal mengucap sebuah nama. Ia sudah tersadar. Tubuhnya yang berkepala buntung mulai melemas didalam pelukan Giyuu, kepala itu sendiri jatuh tidak jauh dari mereka.
"Tanjirou... Tanjirou, kau sudah sadar?" demi apapun yang sudah terjadi, Giyuu tidak dapat menahan sesaknya lagi. Ia memeluk tubuh Tanjirou erat. "Kau sudah sadar..." air matanya berlinangan dan jatuh membasahi Tanjirou.
Tanjirou tersenyum, sekalipun kepalanya telah terlepas dari tubuhnya, ia belum berubah menjadi asap. Ia cukup bersyukur karena masih bisa hidup walau hanya untuk beberapa menit lagi.
Inosuke jatuh terduduk, air matanya sudah berlinangan. "Goppanchiro, kau sudah sadar?"
"Namaku Tanjirou, Inosuke. Tolong berikan aku pada Giyuu-san. Aku harus berbicara.. dengannya.."
Giyuu tanpa diperintah sudah langsung mengambil kepala Tanjirou dan memasangkannya kembali pada tubuhnya. "Tanjirou. Tanjirou. Tanjirou." Bisiknya gemetar.
"Ini aku, Giyuu-san." Giyuu tidak bisa menahan tubuhnya untuk tidak menerjang Tanjirou saat kekasihnya itu merentangkan tangan. "Aku kembali."
Pemuda yang dipeluk ikut menangis bahagia saat kekasihnya mencari perpotongan lehernya untuk menumpahkan tangis. "Aku kembali, Giyuu-san." Tanjirou sedikit tersentak saat punggungnya berat, "Aku kembali, Inosuke."
"Tanjirou..."
"Aku tahu kau masih hidup, Goppanchiro!"
Sorakan terdengar disekitar mereka, bersamaan dengan Zenitsu yang terseok-seok berlari mendekat sambil menangis.
Ya, mereka telah menang dan Muzan telah tiada. Selnya ada di tubuh Tanjirou, tapi buktinya pemuda dengan marga Kamado itu dapat mengatasinya. Sama seperti adiknya.
Kali ini, Giyuu merasa bahwa pengorbanan mereka tidak sia-sia.
.
.
.
Tamat.
A/n;
Jangan diam saja kalian. Aku tau kalian ingin menghujatku karena ini sangat gaje.
Maafkan aku karena membuat karakter mereka jadi super OOC.
Aku tidak bisa tidak teriak karena demi apapun, Muzan sangatlah sialan.
U DAMN BICTH MUZAN! HOW DARE U HURT MY CUTIE TANJIROU?!
Ah, gatau lagi mau bilang apa. Terimakasih sudah membaca sampai disini.
Ada sedikit omake untuk kalian, enjoy!
.
.
.
Seminggu telah berlalu sejak kejadian berdarah itu.
Iblis sudah dibantai habis dan semua pilar yang masih tersisa (Sanemi, Giyuu, dan Tengen.) dibebaskan dari tugas. Begitupun mereka yang tingkatannya ada dibawah pilar. Walaupun ada beberapa dari mereka yang masih ingin mengabdi pada Oyakata.
Sanemi sendiri memilih untuk tetap mengabdi pada Oyakata karena tidak ada lagi keluarganya yang tersisa. Sedangkan Giyuu melamar Tanjirou dan akan tinggal bersama di sebuah desa kecil.
Nezuko memilih untuk tetap di kediaman kupu-kupu dan membantu Kanao dan Aoi sebagai balas budi. Toh ia juga ingin belajar obat-obatan. Inosuke memilih menjadi penggembara dan Zenitsu akan membantu di kediaman kupu-kupu.
Sekarang, Tanjirou tengah duduk menyandar pada Giyuu di teras.
Pemuda itu sudah kembali menjadi manusia dengan bantuan obat yang dibuat oleh Tamayo.
"Na, Giyuu-san." Panggil Tanjirou pada suaminya. "Aku sangat bahagia karena bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
Giyuu hanya diam mendengarkan. Ia mengeratkan pelukannya pada pinggang Tanjirou.
Tanjirou mendongak, menyentuh pipi suaminya dengan lembut. "Aku mencintai Giyuu-san. Terimakasih sudah menyadarkanku. Terimakasih sudah memilihku. Terimakasih sudah menyelamatkanku."
Tanpa diduga Giyuu merunduk, mencuri ciuman manis. "Aku juga sangat mencintaimu."
Lalu mereka tersenyum dan Giyuu mengangkat Tanjirou untuk membawa mereka pada aktivitas suami-suami yang baru saja menikah itu.
