Summary: Hari ke-2 karantina. Taufan, kembar paling receh, ada tebak-tebakan garing. Keenam saudaranya memiliki reaksi yang menarik. [No pairings. Humor. #eduficentry #covid19]

.

.

.

BoBoiBoy milik Animonsta Studios

Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari sini.

.

- Drabble Series -

"Tebakan"

.

.

.

Taufan bosan.

Dia seorang ekstrovert. Ia senang bermain di alam terbuka bersama teman-temannya. Semakin ramai yang ikut, semakin bersemangat ia. Taufan hidup dalam interaksi sosial dan ia gembira memiliki banyak teman serta banyak kegiatan.

Sayangnya karena ada karantina massal akibat pandemik virus corona baru, ia dan enam saudara kembarnya harus libur dan tak boleh ke mana-mana. Harus di rumah saja. Baru hari kedua karantina, Taufan sudah hampir mati kebosanan.

Tiba-tiba terlintas ide menarik di kepalanya. Daripada bosan lebih baik ia bermain permainan kesukaannya sejak dahulu—yaitu tebak-tebakan!

.

.

Pertama Taufan mendatangi Halilintar di halaman belakang. Kakak satu-satunya itu sedang berlatih nunchaku. Taufan agak berjengit melihat kecepatan fantastis Halilintar mengayunkan senjata itu.

"Kak Hali! Aku ada tebakan!"

"Gak mau," jawab Halilintar datar.

"Dengerin dulu!"

"Gak!"

"Kepiting kalau digunting jadi apa hayooo?"

Halilintar langsung menghentikan latihannya dan menatap Taufan dengan sangat datar.

"Fan, mending kamu cari kegiatan. Kamu pasti belum ngerjain tugas harian 'kan?"

Setelah itu Halilintar kembali latihan tanpa memedulikan Taufan lagi. Adiknya cemberut hanya dilempar kacang oleh Halilintar.

"Gak asyik ah," gerutu Taufan.

.

.

"Gempaaaaa!" suara mendayu panggilan Taufan mengejutkan Gempa yang tengah mengerjakan tugas di ruang tengah. Gempa menoleh dan melihat Taufan sudah duduk di sebelahnya.

"Kenapa Kak?" tanyanya.

"Gem, aku ada tebakan! Kepiting kalo digunting jadi apa hayooo?"

Taufan nyengir kuda sambil mengacungkan telunjuknya. Gempa salah fokus ke jari kakaknya itu.

"Kak Upan, kenapa gak gunting kuku? Itu kukunya panjang banget, percuma Kakak sering-sering cuci tangan dan pake hand sanitizer kalau kukunya masih panjang. Virus dan bakteri bersembunyi di dalamnya, gak ikut terbasuh air."

Wajah Gempa tampak prihatin sekali sampai Taufan tidak tega. Ia langsung berdiri dari duduknya.

"Iya Gem, aku gunting kuku nih..."

.

.

Usai potong kuku dan memperlihatkan hasilnya pada Gempa, Taufan lalu mendatangi kembaran paling asyik diajak berbuat onar.

"Blaaaze! Aku ada tebakan!"

Blaze saat itu sedang asyik mengoper bola di halaman belakang. Ia sendirian saja di sana, rupanya Halilintar sudah selesai latihan.

"Tebakan apa Kak?"

"Dengerin, kepiting kalau dipotong jadi apa hayoo?"

Wajah Blaze tampak keheranan.

"Emang bisa kepiting digunting? 'Kan keras banget."

Taufan mulai tak sabar.

"Ya udah sih, tebak aja!"

"Gak mau ikutan ah, gak masuk akal..."

"Dih!" seru Taufan aneh bin kaget. Sejak kapan Blaze jadi kritis?

.

.

Gagal di Blaze, sasaran selanjutnya adalah Ice. Kembar paling kalem itu sedang mengambil air es di kulkas. Dengan bersemangat, Taufan langsung menghampirinya.

"Ice, Ice! Tebak! Kepiting kalo digunting jadi apa?"

Ice menatap Taufan dengan tanpa emosi—namun sedetik kemudian wajahnya tiba-tiba berubah menjadi marah. Taufan sampai terkejut sekaligus was-was.

"Kak Upan, Kakak tau kehidupan makhluk laut itu sudah banyak menderita akibat sampah plastik dan styrofoam? Habitat mereka kian menipis dan tercemar. Belum lagi tumpahan limbah minyak dan limbah pabrik, belum lagi rusaknya terumbu karang yang perlu waktu ratusan tahun agar tumbuh. Apa faedahnya makhluk laut yang sudah menderita harus disiksa lagi dengan digunting hidup-hidup?"

Taufan mengerut ketakutan. Ia lupa kalau Ice itu pendukung aktivis kelestarian laut dan senang sekali dengan subjek marine life/kehidupan makhluk laut. Tebakannya barusan rupanya membuat Ice yang pendiam jadi terpelatuk. Taufan lupa Ice yang perasa itu sangat benci pada kerusakan di laut.

"I-iya Ice, maaf, maaf," ujar Taufan.

"Gak papa Kak, tebakan selanjutnya gak usah pake hewan dimutilasi lagi," kata Ice kembali kalem. Taufan mangut-mangut kikuk.

"Iya, iya."

.

.

Meski gagal sampai empat kali, bak salesman, Taufan tetap semangat membawakan tebakan nirfaedah itu. Kali ini ia mendatangi Thorn di lantai dua. Taufan melihat Thorn sedang di balkon merawat bunga-bunga di potnya. Sampai penuh balkon mereka dengan puluhan pot anggrek bergantung bak lampion aneka warna.

"Thooornieeee, Kakak ada tebakan lho!"

Thorn terlonjak kaget mendengar suara nyaring Taufan. Ia menoleh ke belakang dan tahu-tahu Taufan sudah ada di dekatnya.

"Tebakan apa Kak?" tanyanya antusias.

"Fufufu, dengerin nih! Kepiting kalau digunting jadi apa hayooo?"

Tanpa disangka Taufan, wajah Thorn langsung mencelos horor. Tak lama berselang, air matanya menggenang dan pipinya memerah. Taufan mulai kelabakan.

"Lho, Thornie kok—"

"Kasiaan, hiks... kasian kepitingnya digunting..."

Taufan berusaha menenangkan adiknya sebelum yang lain datang.

"Cup, cup Thornie, gak digunting kok kepitingnya! Udah, jangan nangis ya? Nanti Kakak diamuk Solar, Kak Hali dan Gempa..."

Thorn langsung mengelap air matanya meski pipinya masih memerah. Taufan langsung lega.

"Kepitingnya gak papa 'kan Kak?" tanya Thorn.

"Iya, enggak papa..."

.

.

Taufan mulai malas rasanya tebak-tebakan lagi. Maksudnya bercanda, tapi malah drama. Mungkin memang tebakannya agak sadis—kepiting buat apa digunting? Sebesar apa guntingnya? Kepala Taufan mulai pusing.

Taufan lewat di depan ruang tamu. Tanpa sengaja ia melihat Solar di sana—di sekitarnya penuh buku berserakan. Taufan langsung menghampirinya, semangatnya kembali lagi.

"Lar, aku ada tebakan!"

Solar memandang Taufan sekilas lalu kembali membaca.

"Tebakan apa?"

"Dengerin ya! Kepiting kalo digunting jadi apa?"

"Kepotong."

"HEEEE?!" Taufan kaget. Sedetik kemudian dia sewot. "Kok kamu tau sih?!"

Solar mengedikkan bahu.

"Lain kali, kalau cari tebakan jangan yang populer," ujar Solar sambil terus baca buku.

"Ah, gak asyik!" raung Taufan. Solar lalu mengangkat pandangannya dari buku.

"Mumpung banyak waktu luang selama karantina, isi dengan hal yang bermanfaat. Tambah ilmu, baca pengetahuan atau apa. Produktif. Boleh olahraga seperti Hali atau Blaze, berkebun seperti Thorn atau belajar seperti Kak Gem, aku dan Ice. Daritadi kamu aja yang pengangguran cuma main handphone aja," kata Solar agak menusuk.

Taufan tertohok mendengarnya.

"Iya, aku juga mau belajar! Cuman Gempa aja yang sibuk jadi gak bisa ngajarin," sahut Taufan membela diri.

Solar menjentikkan jari.

"Kamu pintar bikin kue dan manisan, 'kan. Kenapa gak isi waktu buat itu? Katanya mau jualan?"

Mendengar itu, wajah Taufan yang daritadi kusut akibat bosan langsung ceria lagi.

"Bener juga kamu Lar! Aku emang mau cobain bikin chiffoncake dan kue kering, sekalian buat jualan! Duh, kok gak kepikiran ke sana ya?"

Tanpa menunggu tanggapan Solar, Taufan langsung lari ke rak mencari buku resep. Otaknya riuh memuntahkan ide mengenai adonan serta keuntungan hasil jual. Rencananya akan dijual di kedai Tok Aba yang sementara waktu hanya melayani takeaway alias bungkusan, bukan santap di tempat seperti biasanya—agar tidak ada acara berkumpul dan menyuburkan penyebaran virus.

Solar menggelengkan kepala sedikit dan kembali membaca.

.

.

Fin.

.

[Glosarium] nunchaku itu double-stick. Senjata yang terdiri dari dua batang logam/kayu dan ada rantai yang menyambungkan.

Yosh, pas 1000 words. Kawan-kawan, tetap jaga kebersihan ya! Masalah potong kuku itu beneran lho. Gak tau kapan wabah selesai, mohon tetap berdoa dan berhati-hati.

Silakan reviewnya~