A/N:

An entry for NHFD 11/2020. A slice of life.

Genre: Romance

Islamic content

Suka? Terima kasih,

tidak suka? Jangan langsung tekan back. Lanjut saja, siapa tahu jadi suka.

Jangan dihina, kritisi saja!

XD


Disclaimer:

Karakter yang saya pakai dalam cerita ini adalah milik Masashi Kishimoto.


ForgetMeNot09

dengan

.

.

.

Senjang

.

.

.

Hari ini Naruto bersemangat seperti biasa. Ketika pagi datang, ia yang pertama kali bangun di tempat kosnya. Terang saja, ia tinggal sendirian. Mau bangun jam berapa pun pasti dia yang paling awal bukan? Pertama kali setelah menyelesaikan ritual pagi, bangun, mandi, sarapan, berdandan, Naruto tak pernah lupa berdoa. Cukup satu kalimat menjadi doanya setiap hendak keluar rumah.

"Ya Allah terangilah hatiku dan mudahkanlah setiap urusanku."

Itu doanya, sebelum kemudian ia keluar, menutup dan mengunci pintu. Satu kalimat doa lagi ia panjatkan, wasiat dari guru di pesantrennya dulu yang tak pernah ia lupakan.

"Bismillaahi tawakkaltu 'ala Allah."

Lantas dengan senyuman secerah cahaya matahari, ia melangkah pergi. Mengambil sepeda motor di halaman rumah kos dan mengambil sesuatu dari dalam jok motor, jaket hijau.

Sepanjang perjalanan, dia melihat ke kanan dan kiri. Kota ini selalu ramai walaupun bukan kota besar, itulah yang membuat dirinya bersyukur. Lantaran ramai, banyak orang yang memanfaatkan jasa ojek daring seperti dirinya.

Namun, Naruto memilih untuk menjadi kurir saja. Entah itu untuk mengantar makanan, atau paket. Ia menghindari pengantaran penumpang. Alasannya satu, ia tidak bisa memboncengkan perempuan bukan mahram. Silakan ejek dirinya sok alim, paling-paling hanya akan ditanggapi dengan senyuman.

Naruto menghentikan motornya di sebuah kedai yang tak cukup ramai. Kedai ini memang kedai kecil yang tak terlalu digemari manusia zaman sekarang, sebut saja para manusia yang lebih mengutamakan gaya daripada rasa. Pemuda itu turun dan memasuki kedai, mulai memesan satu gelas kopi hitam seperti biasa. Walaupun hanya memesan minuman dengan harga tiga ribu rupiah, pemilik kedai tak pernah protes, sebab Naruto adalah pelanggan tetap setiap hari. Selain itu, ada maksud tertentu kenapa pemuda jebolan pesantren itu betah nongkrong di kedai ini.

kling

Naruto nyaris tersedak ampas kopinya. Mata berwarna biru pemuda itu berbinar senang, mengundang tawa si pemilik kedai.

"Wah … wah … bahagia sekali sepertinya," ledek Pak Teuchi, pemilik kedai.

Naruto tertawa canggung. Tebakan Pak Teuchi memang tepat. Ini pesanan dari seseorang, yang entah sudah berapa lama menjadi pelanggan tetap Pak Teuchi sekaligus dirinya sebagai kurir daring.

"Apa seperti pungguk merindukan bulan, Pak?"

Teuchi geleng-geleng kepala, tak lupa ia tertawa keras, mencairkan suasana pagi yang sedikit mendung.

"Tidak juga, jadi apa pesanannya?"

"Tiga bungkus nasi rames, lauk ayam goreng. Tumben, biasanya hanya dua bungkus."

Setelah selesai dengan pesanan daring yang diterima, Naruto mulai menaiki motornya. Dalam perjalanan, ia sedikit mengingat-ingat. Kedai Teuchi memang tak terlalu ramai, tetapi rasa masakan kampung yang dijual di sana, benar-benar bisa membuat lidah "bergoyang" karena nikmat. Paduan bumbu yang sempurna selalu meresap dengan baik ke dalam masakan. Permasalahannya hanya satu, kedai itu hanyalah kedai kecil yang menyajikan makanan untuk orang-orang kalangan menengah ke bawah. Tidak cocok untuk membeli gengsi.

Jantungnya sedikit berdegup kencang saat motor tuanya memasuki gerbang sebuah perumahan. Di sisi kanan dan kiri berjajar rapi rumah-rumah dengan bervariasi tipe, tetapi yang pasti, harganya sangat mahal. Naruto pernah melihat brosur penjualannya secara tidak sengaja.

Ia menepikan motor, tepat di depan rumah minimalis bernuansa putih. Tak bisa dipungkiri, ia gugup setengah mati.

"Asalamualaikum," ucapnya.

Saking gugupnya, ia tidak sempat merapikan rambut di depan kaca spion.

"Waalaikumussalaam warahmatullaah."

Kecepatan detak nadi pemuda itu menjadi berkali lipat. Akhirnya hanya istigfar yang berulang-ulang ia ucapkan. Gadis itu keluar, seperti biasa dengan jilbab lebar membalut wajah putih ayu yang merona merah. Oh rasanya ingin Naruto panggil dengan khumairoh. Bolehkah?

Ketika tersadar, Naruto menundukkan pandangannya, kembali mengucap istigfar dalam hati karena takut gadis itu tersinggung. Gadis itu juga tampaknya tidak bisa, atau tidak mau menatapnya.

"Ini pesanannya Neng Hinata."

Naruto menggantungkan bungkusan plastik hitam ke pagar. Sudah biasa, memang begini setiap pagi. Ia mengantar pesanan untuk rumah ini dan meletakkannya di pagar, lalu gadis itu akan mengambilnya.

"Te … rima kasih Kak, pembayarannya sudah dengan A-pay ya?"

Naruto mengangguk. Setelah itu ia berpamitan hendak pergi.

"Naruto? Kau Naruto kan?"

Pemuda itu menoleh, matanya terbelalak mendapati sosok yang sepertinya ia kenal.

"Neji?"

Pemuda yang memakai sarung dan baju koko putih itu tersenyum, dan melambai kepadanya.

"Mampirlah! lama tidak bertemu."

Naruto menurut, meskipun sebenarnya ia agak risi. Neji adalah teman di pondok pesantren dulu. Namun, nasibnya cukup baik karena diterima di Universitas Al-Azhar Mesir. Bukan berarti Naruto merasa tidak bernasib baik, tidak. Pemuda Uzumaki itu selalu bersyukur dengan apa yang dimilikinya saat ini.

Mereka berbincang ringan, menceritakan bagaimana pengalaman masing-masing selama terpisah. Sampai saat sang gadis yang dikagumi Naruto muncul dengan membawa nampan berisi teh dan kue lumpur. Meski berusaha terus menundukkan pandangan, Naruto tak mampu juga menghalau setan. Sedikit-sedikit diliriknya gadis manis itu, dan membuat jantungnya kembali berdegup kencang.

"Ehem."

Naruto terkejut. Saking gugupnya ia tidak sadar kalau Hinata sudah masuk lagi, dan sekarang Neji menatapnya datar.

"Kalau kau berminat dengan adikku, kenapa tidak dilamar saja?"

jegeeerrrrrr

Naruto nyaris terjungkal dengan pernyataan frontal Neji. Pemuda itu tertawa salah tingkah dan menggaruk-garuk belakang kepala.

"Kau dan Hinata sama-sama sudah dalam umur yang diizinkan menikah. Kau juga punya penghasilan yang aku yakin halal."

"Ta … tapi, aku belum punya rumah Neji."

"Kalian bisa sewa kamar atau sewa rumah, aku yakin adikku tidak akan keberatan, kami terbiasa hidup sederhana Naruto."

"Penghasilanku …."

"Cukup untuk sewa rumah dan makan? Aku yakin rezeki kalian akan Allah cukupkan, apalagi kau tipe orang yang gigih. Hinata juga bukan orang yang banyak menuntut."

"A … apakah ayahmu akan merestui?"

"Ayah sudah meninggal, sekarang aku wali Hinata."

"A … apakah adikmu mau?"

"Kalau dia tidak mau, untuk apa aku menekanmu seperti ini?"

"Hah?"

"Dia memang tidak mengenal Naruto, tapi dia kenal putra pengasuh pesantren di kota sebelah."

Naruto tertawa. Ya, memang fisiknya yang terlalu mirip sang ayah membuatnya akan selalu dikenali, sekuat apa pun ia menyembunyikan identitas. Ia hanya ingin mandiri, terlepas dari pengaruh ayah dan segala lingkungan kehidupannya. Itu juga alasan ia hidup mandiri di kota ini.

Ketika Neji memanggil Hinata dan menanyakan hal yang sama dengan apa yang ditanyakan padanya, Hinata mengangguk pelan. Wajahnya yang merona merah terlihat meski ia tengah menunduk.

Sekarang, giliran Naruto yang seperti lupa caranya bernapas.

Jadi, rupanya benar, doa di saat tahajud, bagaikan anak panah yang melesat tepat mengenai sasaran.

.

.

.

TAMAT