Naruto bisa mencium bau busuk orang Uchiha.
Lelaki itu selalu duduk di kursi yang sama, bangku paling belakang di bawah anak tangga. Ketika tempat itu tidak diduduki pelanggan lain, dia selalu memilih tempat duduk itu. bahkan sebenarnya, tempat duduk di bawah tangga nyaris tidak disentuh pelanggan lain kecuali dia. Bar jarang penuh sehingga tempat duduk itu tidak begitu dibutuhkan. Tempatnya kurang menarik dan seseorang harus menunduk karena tangganya rendah. Apalagi jika pengunjung berbadan jangkung. Pria itu jangkung, namun tidak keberatan dan entah alasan apa dia memilih duduk disana.
Dan pria itu adalah orang Uchiha. Naruto yakin betul.
Ada berapa banyak laki-laki berambut hitam dengan iris sehitam gagak di Jepang? Kulit putih seakan selalu mendapat perawatan kelas artis?
Teman di kampusnya Shino, punya ciri yang sama (setidaknya Naruto yakin itu hitam saat pecinta serangga itu tidak sengaja melepas kaca matanya).
Memang ciri fisik seperti itu umum, apalagi di negeri timur. Uchiha hanyalah nama keluarga, ciri fisik yang sama dengan orang-orang asia lain. Tapi Naruto punya bakat, bakat untuk mengendus bau busuk orang berdarah Uchiha itu.
Naruto ingat pertama kali saat pria itu datang ke bar nya. Penampilannya langsung menarik perhatian Naruto. Rambutnya hitam ikal berombak, seakan tidak bisa disisir rapi mirip karakter bocah penyihir kacamata milik JK Rowling. Daun telinganya menyatu dan bulu matanya terlalu panjang untuk seorang pria. Tingginya umum untuk ukuran pria Jepang. Dia tampak berusia awal tiga puluh, dan dia memakai jas hujan hitam panjang, meski di luar tidak hujan saat itu. Naruto waspada kalau orang itu Yakuza, seperti di serial Hannibal, saat Lecter beraksi, dia memakai jas untuk menghindari cipratan darah. Itu malam cerah di pertengahan April, bar masih kosong. Lelaki itu memilih tempat duduk di ujung konter, melepas mantel nya, dan dengan suara tenang memesan bir, lalu diam-diam membaca buku. Setelah setengah jam, selesai dengan bir, dia mengangkat tangannya satu atau dua inci untuk memanggil Naruto, dan memesan wiski. "Merek mana?" Naruto bertanya, tetapi pria itu tidak punya pilihan.
"Hanya Scotch biasa. Double. Tambahkan dengan takaran air yang sama dan sedikit es, Anda mau?"
Naruto menuangkan White label ke dalam gelas, menambahkan jumlah air yang sama dan dua es batu kecil. Lelaki itu menyesap, meneliti gelas itu, dan tersenyum. "Ini tidak buruk."
Dia membaca buku setengah jam lagi, lalu berdiri dan membayar tagihannya secara tunai. Dia menghitung uang kembalian dengan teliti dan pergi meninggalkan bar. Naruto menghela nafas lega begitu dia keluar dari pintu. Meski begitu, keberadaannya masih tetap ada seperti bau asap rokok membekas di ruangan tertutup. Ketika Naruto membersihkan gelas membelakangi meja konter, Naruto setengah berharap dia masih di sana, membaca buku dan memesan sesuatu.
Laki-laki Uchiha itu tersenyum setelah merasakan racikan buatannya. Itu membuat hati Naruto terasa aneh.
Pria itu datang secara teratur ke bar. Sekali, paling banyak dua kali dalam seminggu. Dia selalu minum bir dulu, membaca buku, lalu wiski. Terkedang sebelum memesan wiski, dia membaca daftar menu tetapi tetap wiski pilihannya. Pria itu seperti robot yang terprogram.
Dia tidak pernah mengatakan apapun. Selalu datang saat bar baru saja buka. Pria itu membawa sebuah buku yang terselip di bawah lengannya. Setiap dia bosan membaca buku (Naruto menebak dia lelah), pria itu mengangkat kedua tangannya ke atas meja, memandangi keduanya dan membolak-balikkan seperti sedang menghangatkan tangan di depan perapian. Pria itu lama mengamati kedua tangannya sendiri lalu memesan wiski.
Keteraturan pria itu membuat Naruto nyaman. Bahkan meski dia Uchiha dan mereka hanya berdua sendirian, Naruto tidak merasakan kecanggungan aneh. Naruto tidak punya masalah diam di sekitar orang lain, tapi masih ada sisa canggung sedikit ketika itu terjadi. Ketika pria itu hadir, Naruto tidak masalah melakukan apa yang biasa dia lakukan sendiri. Mencuci piring, menyiapkan saus, memilih piringan hitam untuk dimainkan, atau membaca koran.
Naruto tidak tahu nama pria itu, meski dia tahu pria itu orang Uchiha. Dia hanya pelanggan biasa dengan rutinitas seperti robot. Dia tidak pernah mengganggu orang lain. Jadi untuk apa Naruto harus tahu banyak tentang pria itu?
1
Kembali sebelum ayahnya meninggal, Naruto gadis yang ceria. Mungkin disebabkan namanya yang aneh untuk seorang perempuan. Salah satu pelengkap ramen digunakan sebagai namanya. Ayahnya. Minato mengatakan kalau sebelum dia lahir, Kakeknya bermimpi makan ramen dengan porsi naruto kelewat banyak dan mimpi itu berulang-ulang sampai dijadikan karakter dalam novel terbarunya, meski kurang laku dibanding novel erotis yang biasa dia tulis. Suatu hari saat ibunya bunting Naruto tujuh bulan, kakek datang dan menceritakan mimpi itu. Ayahnya terkesan (dia memang selalu mudah terkesan) dan saat membaca novel kurang laku itu tiba-tiba dia langsung meminta ijin menggunakan namanya. Kekek tentu kaget (itu wajar, Naruto adalah nama paling aneh untuk anak-anak) tapi ayahnya atau ibunya tidak melihat itu aneh, jadi Kakek tidak bisa untuk tidak menolak. Dan itulah kenapa dia bernama Naruto.
Naruto sendiri tidak pernah bertemu kakeknya, Jiraya meninggal saat dia masih berusia satu tahun akibat kecelakaan. Mobilnya meluncur bebas saat menuruni turunan Gunma. Naruto tidak pernah tanya macam-macam soal kakek Jiraya, dia Cuma tahu dari mulut ayahnya jika kakeknya mengadopsi ayahnya saat kedua orang tua kandung asli ayahnya meninggal. Kakek Jiraya adalah teman kakek asli Naruto.
Minato seorang detektif swasta, dulu dia pernah bekerja di kepolisian, tapi karena alasan tertentu ayahnya keluar dan mendirikan kantor detektif sendiri. Naruto kecil, sering melihat orang-orang berwajah galak dengan jas-jas mahal datang ke ruang kerja ayahnya, kantornya berada di satu bangunan dengan rumahnya. Ayahnya juga sering keluar kota berhari-hari, meninggalkan Naruto bersama ibunya. Tapi entah kenapa, Naruto lebih dekat ayahnya ketimbang ibunya sendiri. Mungkin ini yang disebut ikatan anak perempuan dan ayah? Naruto juga tidak tahu.
Minato adalah pria yang tenang berbeda dengan ibunya, Kushina lebih meledak-ledak hingga terkesan seperti suami takut istri. Naruto perpaduan dari kedua insan itu, tapi karena tinggal lebih banyak bersama ibunya, sifat meledaknya lebih dominan. Bahkan teman-teman di sekolahnya lebih menganggap Naruto laki-laki dibanding perempuan dan Naruto sama sekali tidak keberatan, justru karena itu banyak teman perempuannya berlindung di balik punggungnya jika ada laki-laki usil mengganggu.
Suatu malam Minato mengajak Naruto jalan-jalan keliling kota. Hanya mereka berdua mengendarai Mini clubman biru laut, sengaja tidak mengajak Kushina dan tidak ada rasa keberatan dari ibunya. Lagipula malam itu Kushina mengeluh pusing dan ingin istirahat. Pertama mereka berdua mengunjungi Jay bar, pengelolanya pria bernama Nagato bersama dua rekannya Yahiko dan Konan. Ketiganya rupanya anak angkat Jiraya, korban perdagangan manusia yang berhasil diselamatkan kakek Jiraya. Bersama si yatim Minato dan ketiga bocah lainnya, Jiraya membesarkan mereka untuk menjadi orang hebat kelak. Bar berdiri di atap hotel daerah Asakusa, interior nya kelewat mewah dan banyak dikunjungi pelanggan berdasi dan wanita-wanita berkalung berlian. Naruto yang memakai kaos bergambar rubah dengan tulisan Fu*k yeah merasa bodoh dan ayahnya justru ketawa, dia sama sekali tidak mengatakan akan mengunjungi tempat berkelas semacam ini. Nagato pria sopan mirip ayahnya, dia hampir sepenuhnya memegang kendali, membuat racikan Coktail. Yahiko asisten Nagato bila pelanggan penuh, tapi lebih sering di dapur bertugas sebagai koki. Konan perempuan anggun yang melayani langsung pelanggan. Dia kadang juga mengisi di atas panggung dan suaranya mirip Céline Dion
Naruto langsung menyukai Nagato. Dia seketika jatuh cinta dunia meracik koktail dan Nagato menawarkan privat khusus yang nanti sangat berguna baginya kelak. Keduanya minum bersama kacang kulit renyah. Naruto saat itu baru 17 tapi itu pengalaman pertama dia minum, Minato di luar lemah lembutnya tahan mabuk dan rupanya juga menurun ke Naruto. Mereka cukup lama di Jay bar, baru keluar pukul 11 malam.
Naruto tidak ingat situasi secara jelas selepas dari Jay bar. Keduanya mengendarai clubman dan jarum speedometer menunjukkan angka 80 km. Lantara itulah mobil mereka menerobos pagar taman, melindas bunga azalea, dan seingat Naruto menabrak pilar batu. Tidak ada yang cedera, jadi bisa dikatakan nasib mereka sangat beruntung. Setelah sadar dari syok. Naruto menendang pintu mobil yang penyok lalu keluar. Kap mobil mental ke depan kandang monyet yang berjarak kira-kira sepuluh meter di depan, sementara moncong mobil melesak sesuai bentuk pilar batu. Monyet-monyet murka dibangunkan secara paksa.
Sambil tetap meletakkan tangannya di kemudi, ayahnya menekuk tubuhnya, tapi tidak cedera. Entah karena apa, balon putih yang biasa keluar ketika mobil kecelakaan tidak keluar. Tapi memang ajaib mereka berdua tidak kenapa-napa. Minato hanya memuntahkan pai bercampur kacang yang dimakannya tadi di bar ke atas dasbor. Naruto merayap naik ke atap mobil lalu mengintip ke kursi pengemudi melalui sunroof.
"Ayah gak napa-napa?"
"Ya, kondisi terkendali Naru, lihat ayah sampai muntah segala."
"Bisa keluar?"
"Bantu tarik ayah."
Minato mematikan mesin mobil, memasukkan kotak rokok yang tergeletak di atas dasbor ke dalam sakunya, lalu perlahan-lahan mencengkeram lengan terjulur Naruto dan merayap naik ke atap mobil. Sambil duduk berdampingan di atas atap clubman, mereka berdua menatap langit bertabur bintang, dan mulai menghisap rokok tanpa berkata apa-apa. mereka berdua seperti pasangan kencan yang baru saja mengacau.
"Kalau ibu tanya, ayah bilang apa?" tanya Naruto lima menit kemudian.
"Dibeli sama orang. Lagian Kushina juga pingin mobil sedan jadi gak masalah."
"Padahal aku suka lo mobil ini. Seksi kaya' James bond."
"Besok Naru bisa beli yang lebih seksi, sekalian sama James bond nya," Minato tertawa. "Sudah punya gambaran buat kuliah tahun depan?"
"Hukum atau sastra?"
"Kenapa pilih sastra?"
Naruto tidak langsung menjawab, berpikir. "Aku pingin nulis seperti kakek. Gak tahu sejak liburan bareng Sakura-chan dan anak-anak lain ke rumah Tenten di Tottori kemarin, pingin sekali nulis."
"Jadi penulis gak mesti masuk sastra. Kakek Jiraya saja malah lulusan akademi militer dan pensiun dini baru jadi novelis. Tapi kalau Naru pingin masuk sastra atau hukum ayah dukung-dukung aja. Yang penting kamu enak di pilihanmu. Naru sudah nyoba nulis?"
"Baru dua puluh halaman. Gak tahu mau lanjut atau enggak."
"Ayah nanti baca ya?"
"Boleh."
Keduanya lalu membeli setengah lusin kaleng bir di mesin jual otomatis yang letaknya tak jauh dari situ, berjalan ke arah taman kota, tidur-tiduran di atas hamparan rumput, meminum semua bir sampai habis, dan berlomba siapa yang paling tepat memasukkan kaleng kosong ke dalam tong sampah. Tidak ada yang menang, keduanya tidak berhasil memasukkan satupun kaleng. Tanpa sadar keduanya tertidur.
Ketika bangun, Naruto merasakan semangat baru. Dia seperti baru saja lahir dan melihat dunia tempat dia berada. Tiba-tiba saja tangan Naruto gatal dan begitu ingin menulis.
"Ayah, aku pingin melanjut menulis."
"Bagus, kita pulang sekarang."
Tapi hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan. Minato wajib membayar biaya denda perbaikan dan untungnya tidak banyak dituntut. Rupanya ayahnya memanfaatkan kenalan di kepolisian kota.
2
Kematian Minato merubah hidup Naruto jungkir balik. Untuk pertama kali Naruto menyadari dia tidak bisa lagi bersama Kushina. Minato seperti jembatan penghubung kedua wanita, hal itu sebelumnya tidak disadarinya, tapi ketika melihat dupa dibakar untuk mendiang ayahnya di gedung kremasi kota Naruto tahu seperti apa sosok Minato di depan matanya. Bukan sebagai sosok ayah, tapi sahabat. Dia memang selalu memanggilnya ayah, itu wajar anak memanggil orang tuanya demikian. Tapi apa dia juga sama melihatnya sebagai ayah seperti pandangan umum lainnya? Naruto membutuhkan waktu lama untuk memproses ini dan membutuhkan banyak hari untuk memahami artinya.
Mungkin Kushina yang paling terpukul atas kematian Minato. Naruto tahu jika dulu Kushina adalah korban pemerkosaan dan itu nyaris membuat wanita berambut merah itu bunuh diri, ibunya terlahir dari keluarga terhormat dan hal semacam itu adalah aib. Siapa yang memperkosa dan bagaimana itu bisa terjadi Naruto tidak tahu. Tapi saat Kushina di ujung semangat hidupnya, ayahnya datang seperti kesatria untuk putri terkurung di dalam menara. Ibunya menemukan kembali alasan hidup dan beruntung dari aksi biadab itu, Kushina tidak sampai hamil jadinya.
Kini sosok itu lenyap. Sama di mata Naruto yang melihat Minato sebagai sahabat, Kushina melihat Minato sebagai kesatria. Keduanya kehilangan orang yang begitu penting.
Sepeninggal Minato, Kushina memutuskan untuk menjual mobil sedan yang baru saja dibeli. Dia juga menjual rumah warisan dari orang tuanya di Hokaido dan mendapat uang cukup banyak untuk membiayai kelak urusan kuliah Naruto. Naruto sendiri secara sadar paham betul dia tidak bisa mengandalkan hasil penjual rumah. Meski Kushina kini bekerja di rumah sakit milik keluarga kaya Uchiha sebagai perawat dan menghasilkan cukup banyak uang, Naruto memutuskan untuk membiayai sendiri kebutuhan hidupnya.
Dia menghubungi Nagato dan berhutang banyak pada trio itu mau menerima Naruto yang tidak tahu apa-apa soal bisnis bar. Dia berjuang keras menjawab kepercayaan itu. adapan kuliah, Naruto mengejar beasiswa dan berkat jenius temannya Shikamaru, dia dijamin empat tahun bebas biaya di universitas Waseda. Dia masuk jurusan sastra seperti yang diimpikannya.
Hubungan Naruto dan Kushina memburuk ketika mendapati ibunya tengah bercumbu dengan atasannya, Dokter Fugaku di kamar yang tempat Minato dan Kushina menghabiskan waktu bersama sebagai suami istri. Sejak kuliah, Naruto menghabiskan lebih banyak waktu di kegiatan UKM. Dia kadang juga sering menginap di rumah Nagato belajar meracik koktail dan tanpa sepengetahuan Kushina, Naruto sedang mengumpulkan uang sendiri untuk sewa apartemen. Naruto bukan tipe yang mudah menangkap petunjuk. Dia pikir semuanya baik-baik saja dengan kondisi ibunya. Dokter Fugaku termasuk dokter yang disegani di Jepang, sebagai spesialis kanker tumor dia telah menyelamatkan jutaan pasien kanker. Bahkan Naruto tidak terkejut jika dia kelak mendapat hadiah Nobel. Fugaku bersama istrinya, sering berkunjung ke rumah dan Naruto cuma melihat itu sebagai bentuk perhatian bos kepada anak buahnya. Naruto sendiri mengenal anak-anak Fugaku. Si sulung Itachi broker saham jenius yang masih muda tapi mampu membeli mansion mewah di kawasan elit Roppongi, yang secara aneh menyukai tulisan Naruto. Meski Naruto belum mencoba membuat novel hanya sekumpulan cerpen dan terbilang cukup sukses, Itachi secara terang-terangan memuji kepandaiannya merangkai makna dan kata. Adiknya Sasuke, bisa dibilang riak. Keduanya tidak pernah akur. Seumuran dan satu sekolah SMA. Sasuke yang ketua OSIS selalu dibuat repot Naruto yang berjuluk Yanke. Adik Itachi itu punya obsesi tidak sehat untuk membuat hidup Naruto tidak tenang meski kurang berhasil. Nyatanya pacarnya, Sakura justru selalu minta nasihat ke Naruto bagaimana cara menaklukkan hati beku sang ketua OSIS.
Jika saja waktu itu Naruto tidak pulang dari kegiatan UKM sehari lebih awal, dia mungkin tidak akan pernah tahu apa yang sedang terjadi.
Ketika dia kembali ke rumah hari itu, dia langsung menuju kamar orang tuannya. Maksudnya ingin melihat keadaan Kushina yang tidak menjawab telepon atau membalas chat, Naruto khawatir ibunya sakit karena sejak kematian Minato, Kushina sering mengeluh pusing. Tapi bukannya menemukan ibunya tertidur seperti dugaannya. Dia menemukan Kushina dan Fugaku telanjang dan terjalin di kamar orang tuannya. Kushina ada di atas, dan ketika Naruto membuka pintu, dia berhadapan muka dengannya dan payudara yang indah memantul ke atas dan ke bawah. Usia ibunya meski sudah nyaris menginjak kepala empat, masih mewarisi kecantikan seorang gadis yang tampak tidak akan termakan usia. Kedua payudaranya membulat sempurna tidak menunjukkan penuaan, begitu juga kulit putih mulus tanpa keriput yang tampak. Secara fisik, Naruto mewarisi kecantikan Kushina.
Naruto melihat kedua insan itu bercumbu dengan peluh keringat dan desahan seolah dunia milik mereka berdua. Dia langsung menundukkan kepalanya, menutup pintu kamar, meninggalkan rumah, dan tidak pernah kembali.
