The Legend of Arendelle Kingdom and Northuldra's Secret Spirit
.
.
Frozen Universe
A Story by Carnation Berry
.
.
[Buku Northuldra]
'Di mana angin utara bertemu dengan laut, ada sungai yang penuh dengan kenangan'
Namjoon membaca kalimat terakhir dalam buku tebal sedikit berdebu yang tercetak besar dengan garis miring itu dengan kerutan dahi yang lama. Satu kali hingga tiga kali membaca pun ia tetap tak paham dengan maksud kalimat tersebut. Di hadapannya ada Jungkook yang sedang menanti penjelasan, pangeran muda yang penuh dengan rasa keingintahuan ini masih menatap Namjoon dengan mata besarnya.
"Aku- tidak begitu paham. Mungkin aku perlu membaca buku ini dulu."
"Apa itu akan lama?" yang lebih muda bertanya dengan tidak sabaran.
"Buku tua ini sangat tebal, Kook-ah. Mungkin satu atau dua hari, ku harap rangkaian tulisan didalamnya lebih mudah untuk dimengerti. Lagi pula, benarkah kau mendapatkan buku ini dihutan?"
Namjoon menutup buku tebal usang itu dan membaca judulnya.
"Northuldra?" Namjoon memandang Jungkook yang terlihat kaget saat Namjoon ternyata bisa membaca huruf kuno yang tercetak apik didepan buku.
"Apa kau mencuri buku dari daerah terlarang diperpustakaan kerajaan?"
Jungkook tersenyum kikuk, mau sepintar apa pun dia menipu Namjoon dengan dalih mendapatkan buku itu dihutan Namjoon pasti akan tau jika ia berbohong.
"Hyung, sekali ini saja. Tolong jangan laporkan aku pada nenek. Ku mohon. Aku sudah mempelajari huruf kuno mati-matian demi mencari buku itu, hyung. Aku masih saja kepikiran dengan ucapan kakek troll tua yang kita jumpai dihutan Trolltunga." Ucap yang lebih muda dengan bibir yang sedikit maju karena tertangkap basah telah berbohong.
"Tentang bangsa Northuldra yang tinggal di hutan Enchanted?"
Jungkook menganggukan kepalanya antusias.
"Kau ingat kan hyung saat si kakek troll tiba-tiba berkata 'Kebenaran harus segera ditemukan, atau Arendelle tak akan memiliki masa depan'. Kalimat itu mengganggu kepala ku, hyung."
Namjoon tersenyum melihat Jungkook mengadu padanya seperti ini, usia mereka terpaut sepuluh tahun yang membuat Jungkook selalu manja padanya. Terlepas dari status mereka yang begitu jauh karena kasta, Namjoon adalah seorang yatim-piatu yang dibesarkan di istina dan kini dijadikan sebagai pengawal utama putra mahkota. Sedangkan Jungkook adalah putra mahkota calon penerus kerajaan Arendelle.
"Kau ini terlalu berlebihan, Kook. Kau masih empat belas tahun, masa pelantikanmu sebagai raja masih tiga tahun lagi. Dari pada pusing memikirkan ucapan kepala suku troll, lebih baik kau berhenti menjadi pelanggar aturan. Bukankah yang mulia ratu sudah pernah mengatakan, jika kita semua dilarang untuk pergi apalagi membaca buku-buku di area terlarang perpustakaan kerajaan. Kau harus mematuhinya. Kau ini calon raja, Kook."
Jungkook meninju pelan bahu Namjoon sembari mem-poutkan bibirnya lagi. Ini adalah kebiasaannya jika ia tidak setuju dengan sesuatu.
"Kau tau hyung, kadang kau bisa menjadi sumber penyemangatku tapi kau juga bisa merusak mood ku seperti ini. Kau lupa ya? Aku sering bilang padamu tentang beban yang ku tanggung selama ini. Aku tidak pernah merasa mampu untuk menjadi seorang raja dikemudian hari, seperti apa yang selama ini ku miliki bukanlah milik ku. Dan lagi aku selalu khawatir dengan musim dingin, karena seberapa kuat aku mempelajari sihir dari nenek, aku tetap tak mampu mengalahkan arwah es. Banyak warga yang meninggal karena dibekukan hatinya, ini selalu terjadi tiap tahun. Aku sendiri bingung, ada dendam apa sebenarnya si arwah es itu pada Arendelle?"
Namjoon ikut termenung, segala ucapan Jungkook benar-benar telak memukul kesadarannya. Terkadang anak ini memiliki cara berpikir yang sama dengannya, terlalu kritis. Namjoon sendiri terlalu sibuk mengumpulkan serpihan-serpihan informasi yang bisa ia dapatkan tentang keluarganya hingga ia kadang tak berminat dengan masalah yang selama ini Arendelle alami. Selama dua puluh empat tahun hidupnya, ia tak pernah tahu dari mana ia berasal. Hanya cerita dari mulut-kemulut tentang ia yang dibuang dihalaman istana lah yang ia dengar selama ini.
"Aku akan membaca buku ini dengan serius, jika aku sudah menemukan jawabannya aku akan memberitaumu secepatnya. Sementara waktu patuhilah peraturan, kau bisa dikurung lagi oleh yang mulia ratu dimenara istana jika beliau mengetahui cucunya pergi ke tempat terlarang di istana. Aku tidak akan melaporkanmu karena kau pasti akan sangat menderita disana. Jadilah anak baik dan kau akan mendapatkan hadiahmu."
Senyum dari telinga ke telinga itu Jungkook berikan pada Namjoon, tak lupa pelukan hangat dengan tepukan tiga kali dipunggung lebar Namjoon.
"Kau yang terbaik, hyung."
Sang calon raja pun pergi dari tempat itu dengan senandung riang, membuat beberapa mata penghuni kerajaan bingung melihatnya.
.
.
.
.
Kakinya terasa dingin dan mati rasa, tapi tubuhnya tak membeku. Matanya menatap langit-langit yang dipenuhi dengan kristal es, bersinar, terpahat indah, dan tajam. Namjoon yakin, sekali tertusuk maka nyawa akan meninggalkan raga.
Entah dimana ia berada, aroma asing menguar begitu kuat. Perpaduan aroma asin air laut dan pohon pinus basah.
Tiba-tiba Namjoon mendengar suara erangan kuat, seperti seseorang yang menahan kesakitan. Saat suara erangan itu menjadi begitu kuat, sebuah cahaya muncul dihadapan Namjoon. Butiran kristal salju yang melayang diudara dengan cahaya yang terang, menari-nari dihadapan Namjoon mengajak pria itu untuk mengikutinya.
Namjoon melangkah dengan pasti mengikuti cahaya tersebut, masuk ke tempat terdalan digua es. Semakin dalam Namjoon melangkah, semakin terdengar pilu erangan yang ia dengar.
Setibanya diujung jalan yang berbatasan langsung dengan jurang gelap, Namjoon berhenti dan melihat cahaya yang menuntunnya turun kedasar jurang.
Perlahan terlihat seseorang pria yang terantai es, kulitnya pucat, namun rambutnya hitam legam kontras sekali dengan warna kulitnya.
"AAARGH!"
Setelah erangan pilu itu menyapa telinga Namjoon lagi, terlihat cairan merah membasahi lantai dimana pria itu bersimpuh. Pria itu menangis, seperti menahan kesakitan yang luar biasa. Pria itu mendongak ke atas, Namjoon dapat melihat wajah indahnya yang sarat akan kesakitan. Mata itu sebiru air laut, namun pipi tirusnya terlihat retak. Pria itu menatap Namjoon pilu, lalu tersenyum sesaat membuat Namjoon membeku ditempatnya.
"Kebenaran harus segera ditemukan."
Cahaya pun menghilang dan menuntun Namjoon untuk membuka matanya.
Keringat dingin membanjiri tubuhnya, ia bisa merasakan baju tidurnya basah. Ia tertidur setelah membaca buku dari Jungkook. Rasanya aneh sekali, ia masih bisa merasakan kepiluan pria yang tadi ia temui dalam mimpi, namun seketika ia lupa rupa sang pria yang mengatakan hal yang sama seperti si kakek troll.
Diraihnya buku tebal 'Northuldra' dan membaca lagi halaman terakhir yang ia baca.
'Masa lalu tak seperti yang terlihat, sesuatu yang salah harus diluruskan. Sihir yang jahat telah mengurung kemurnian salju, musim dingin Panjang membekukan hati manusia'
.
.
.
.
TBC
