A/N: Ya Tuhan ... Saya harap pasangan ini akan terasa manis. Saya berusaha untuk itu! *lmao
Terimakasih untuk teman saya yang sudah memberi inspirasi berkat gambar manisnya. Hai Yuyul!/digampar

Disclaimer: Saya tidak memiliki apapun dan siapapun dalam Sengoku Basara, mereka hanya milik Capcom. Genderbender Sasuke hanya murni kelaknatan saya XD

Note: Non-Canon, SANGAT OOC, AU, Pengalihan Jenis Kelamin, Satu Tembakan.

Selamat Menikmati!


Beauty In Wet

Saat itu cuaca mendung. Hitam menggelayut di awan, siap menumpahkan jutaan liter air ke permukaan bumi. Angin kencang berhembus menambah kesan horror di sore hari. Tidak ada kilat atau guntur, namun suasana cukup mencekam. Seluruh siswa Gakuen Basara berhamburan menerjang gerbang, melafalkan gumaman tak kasat mata di hati mereka agar hujan tidak turun sampai mereka pulang dengan selamat ke rumah. Namun mereka harus menerima kenyataan bahwa gerimis mulai turun dan tidak menunggu lama guyuran air menyusul seketika. Sekarang mereka kalang kabut mencari tempat berteduh.

"Sepertinya akan berlangsung lama."

Masamune menoleh hanya untuk mendapati seorang gadis yang berjinjit menatap ke luar melewati kaca jendela. Tingginya sekitar 150, tidak cukup pendek untuk melakukan hal itu.

"Dijemput adikmu lagi, Sanada?" Masamune bersuara, melirik temannya yang sedang membenahi alat tulis di meja depan, tepat di hadapannya.

"Ya ..., Masamune-dono tahu, kan, Sasuke itu kelas satu."

"Aku pikir usianya sudah lima belas atau enam belas? Eh, tidak cukup dewasa rupanya."

"Aku empat belas." Suara kekanak-kanakan menyahut. Demi Tuhan! Sasuke sangat malas ketika mendengar dirinya digosipkan dalam ruangan yang sama. Sejujurnya, jika bukan perintah Oyakata-sama-nya, ia bisa saja pulang tanpa Sanada Yukimura di sampingnya.

"Oh-eh, bagaimana jika kita sedikit minum coklat panas di kantin. Aku pikir kantin belum tutup, pasti ada beberapa murid yang berteduh di sana." Yukimura segera bersuara, berusaha menghentikan perdebatan yang akan terjadi selanjutnya. Memang, adiknya tidak suka beradu mulut tapi Masamune entah kenapa selalu sukses membuat perempatan di dahi Sasuke muncul.

"Ide bagus," sambar Masamune lalu bangkit dari kursinya dan berjalan santai menuju pintu keluar.

Yukimura tersenyum hangat. Segera diselempangkannya tas di bahu dan berjalan menyusul Masamune. Sasuke ikut mengekor di belakang kakaknya. Gadis itu termangu ketika Yukimura menyerahkan sebuah jaket merah tanpa berbalik ke belakang. Tanpa berlama-lama Sasuke segera meraihnya dan memakainya dalam perjalanan.

Gakuen Basara memang sekolah yang cukup besar. Puluhan gedung dimilikinya. Belasan kantin bertempat di setiap pojok sekolah. Kanan-kiri kelas 10, 11, 12, di belakang kantor, di samping lab, di dekat ruang praktek, dan lainnya. Fasilitas sekolah juga cukup baik. Wajar jika sekolah ini menyandang sebagai sekolah favorit. Selain itu, sekitar 97% muridnya adalah murid yang baik serta sangat disiplin.

Sarutobi Sasuke khususnya tidak pernah tertarik pada sekolah. Meski ia orang yang bisa dibilang ... hidup dalam asuhan keluarga berada. Walau begitu, dia tetap harus bersekolah atas perintah orang tua angkatnya, Takeda Shingen. Jujur, ketika mengingat itu Sasuke hanya bisa tersenyum kecut dengan menahan luka yang menganga besar di hatinya. Dibuang ke panti hanya karena dia anak hasil hubungan terlarang. Masalah terbesarnya adalah, orang tua dari orang yang telah melahirkannya yang tidak merestui hubungan sehingga tidak ingin Sasuke hadir ditengah keluarga tersebut. Ironi memang. Sasuke bahkan tidak bisa mengakui itu adalah kisah nyata hidupnya. Sarutobi Sasuke dan Sanada Yukimura, dua kakak-beradik yang selalu mendapat pertanyaan sama dari teman-temannya; 'Kenapa marga kalian berbeda?'. Mereka hanya disuruh membungkam mulut dan mengangkat bahu jika ada orang yang berani bertanya seperti itu.

"Seperti dugaanmu, kantin masih buka," ujar Masamune basa-basi.

Sasuke menarik kursi di samping Yukimura, namun ia harus menahan tindakannya untuk duduk di kursi tersebut. "Aku akan memesan tiga coklat panas, mungkin ada tambahan?"

"Tidak girl, biar aku saja." Sasuke memperhatikan Masamune yang bangkit dari duduknya.

"Itu bagus, kurasa aku butuh ramen," ujar Sasuke. Ia dengan lega duduk di samping kakaknya. ia menarik tangannya untuk keluar dari lengan jaket yang terlalu panjang.

"Ya, tiga mangkuk ramen. Cukup bagus di cuaca seperti ini," komentar Masamune sebelum melenggang pergi.

000


Sesuatu yang mengganjal di hati Sasuke ketika melihat sorot mata sayu kakaknya setelah menerima sebuah panggilan di ponselnya. Yukimura menatap linglung pada adiknya. "Oyakata-sama dirawat." Sasuke membulatkan matanya, sedikit tidak bisa menerima kalimat Yukimura. "Aku akan ke rumah sakit dan kamu pulang lebih awal."

"Ya Tuhan! Kenapa aku tidak ikut?" ada sedikit getaran pada suaranya. Mata Sasuke berkaca-kaca, ia menggigit bibir bawah bagian dalam dan menautkan kedua alisnya. Bukannya ikut menyimak dan prihatin, Masamune malah menatap ekspresi Sasuke yang dipikirnya 'imut'.

'Persetan Masamune! Apa yang kamu pikirkan?' Batin Masamune. "Apa yang terjadi dengan orang tua itu?" Akhirnya ia menyuarakan rasa prihatinnya.

"Biasa, penyakit tua. Akhir-akhir ini Oyakata-sama sering sakit-sakitan. Tapi baru kali ini beliau dirawat."

Hujan sudah reda. Cahaya oranye juga sudah menyembul di ufuk barat. Orang-orang kembali berlalu-lalang dalam beceknya jalanan.

"Ayolah, Kak! Kita lihat Ayah sekarang!" rengek Sasuke. Ia menarik-narik lengan kokoh pemuda kelas 12 itu dengan lemah.

Wajah Yukimura terlihat bingung. Dengan lembut ia meraih pucuk kepala adiknya dan mengusap helai pendek itu dengan lembut. "Oyakata-sama bilang Sasuke tidak boleh ikut. Sasuke harus pulang, kalau Sasuke tidak menurut pasti tahu apa yang akan terjadi." Sasuke menunduk dan mengangguk lemah. Yukimura beralih menatap Masamune dan berkata, "Aku akan merepotkanmu, bisakah antar adikku pulang?"

Sasuke mendongak. "Aku bisa pulang sendiri," sambarnya.

"Jika adikmu tidak menolak," Masamune balas menyambar.

"Terimakasih. Anggap saja tidak ada penolakan. Oh, aku percayakan padamu." Ada penekanan di kalimat kedua. Yukimura melenggang pergi setelah mendaratkan tepukan lembut di pucuk kepala adiknya.

Setelah mengantar Yukimura masuk ke sebuah angkutan umum melalui pandangannya, tanpa basa-basi Sasuke langsung mengambil langkah cepat meninggalkan area gerbang sekolah. Tanpa dilirik pun ia tahu kalau pria di belakangnya mencoba menyamakan langkah mereka. Berhasil. Pria dengan penutup sebelah mata itu sekarang ada di samping kanannya tanpa berkata apapun.

"Jalan menuju rumahku melalui jembatan dangkal."

"Ya, aku tahu." Masamune melirik sekilas gadis yang lebih pendek darinya. "Bukan masalah, tubuhku tidak seberat itu untuk merobohkan sebuah jembatan reyot."

"Yah, jembatannya kokoh, hanya saja sehabis hujan air akan meluap. Tahu sendiri efeknya, kan?"

'Gadis ini asyik juga,' pikir Masamune. "Berharap airnya tidak terlalu besar agar tubuh kecilmu tidak terbawa arus?"

Sekilas menunduk untuk melihat jaket yang membungkus tubuh kecilnya, Sasuke tersenyum kecil. Ia memang kurus, tapi saat ini cukup terlihat baik dibandingkan saat ia masih tinggal di panti. "Kurasa, iya."

Cukup lama berjalan santai, setelah 15 menit akhirnya jembatan yang dibicarakan sudah menghadang di depan mata. Seperti yang ditakutkan Sasuke, arusnya sangat besar dan air itu mengalir melalui permukaan jembatan. Sejenak Sasuke terdiam dan hanya meneguk salivanya sendiri. Sangat, ia sangat tidak ingin terlihat memalukan di hadapan pria lain selain kakaknya dan ayah angkatnya. Dengan kemantapan hati, Sasuke berjongkok untuk melepas sepatunya. Masamune mengerutkan kening dan sempat akan berkata-kata sebelum gadis itu berdiri dan berjalan gugup menuju jembatan.

"Hei, aku pikir kamu takut." Dengan cepat Masamune melepas sepatunya dan menjinjing benda tersebut. Ia berjalan cepat menyusul Sasuke yang sudah berjalan seperempat dari jembatan. Air itu cukup menghantarkan arus yang kuat. Bagi Masamune itu tidak masasalah, tapi untuk Sasuke ...

"AAA–"

"HEI!"

Tubuh kecil itu tidak bisa menahan seretan air. Ia jatuh terbawa arus. Sebelum semakin jauh, sebuah tangan kekar menarik pergelangan tangannya. Setelah berhasil naik kembali ke jembatan, Sasuke terbatuk-batuk. Tidak sedikit air yang terminum dan masuk ke paru-paru melalui hidungnya saat ia jatuh tadi. Itu salahnya karena terlalu panik.

"Dasar bodoh! Apa yang sudah kau lakukan! Kamu mau membuatku serangan jantung, hah?!"

Tidak ada balasan, yang lainnya hanya menundukkan kepala dan masih sedikit terbatuk-batuk. Sasuke merutuki dirinya sendiri. Ya, dia memang bodoh. Ini lebih memalukan. Wajahnya tiba-tiba terasa panas, mengalihkan rasa dingin air yang seperti es.

"Aku tidak yakin kamu masih bisa berdiri dengan benar." Pria itu terus mengoceh. Ia masih sama terkejutnya. Tanpa persetujuan Masamune mengangkat tubuh Sasuke ke pangkuannya, membawanya melewati jembatan. Walau jembatan sudah dilalui, entah kenapa Masamune enggan untuk menurunkan sosok kurus di pangkuannya. Lagipula, Sasuke sendiri tidak memberontak dan itu keuntungan bagi Masamune.

000


Masamune mengeringkan rambutnya dengan malas. Setelah dirasa cukup, ia melempar handuk yang sudah menyeka air pada rambutnya itu ke sembarang arah. Memang tidak sopan mengetahui ia bukan tuan rumah tempat itu. Masamune hanya tidak mau ambil pusing. Setelah itu ia menyambar sebuah kaos dan celana santai di atas kasur dan segera memakainya.

Kamar yang cukup sederhana, itu komentar Masamune ketika mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ini adalah kamar Yukimura. Masamune berjalan ke luar kamar. Pandangannya langsung terpaku pada sosok kecil yang meringkuk di atas sofa dengan selimut tebal menutupi sebagian tubuhnya. Masamune segera menghampirinya. Ia menghela nafas ketika melihat gadis yang sedang tertidur menggigil itu terlihat basah di bagian rambut.

"Setidaknya keringkan rambutmu dulu, sweet."

Sasuke membuka matanya perlahan. Ia segera bangkit terduduk. "Uh ... aku terlalu lelah dan kedinginan," ujarnya tanpa berbohong. Sasuke beranjak pergi ke kamarnya untuk mengeringkan rambutnya.

Tidak lama Sasuke kembali bergabung dengan Masamune yang sedang duduk menggantikan tempatnya. Tentu dengan rambut kering dan disisir.

"Hm, baiklah, dan sekarang aku harus pulang."

"Eh, tidak mau ikut makan malam? Atau menginap?" tawar Sasuke basa-basi. Ia tidak sepenuhnya menawarkan itu dan sangat berharap jika Masamune tidak menganggapnya serius.

Sedikit keheningan hingga Masamune memahat seringai kecil. "Menginap? Ide yang bagus, sepertinya akan menyenangkan."

Sasuke tersentak dan tergagap. "Eh, itu, anu, aku akan meminta izin Kakak." Gadis itu berdiri dan hendak melangkah pergi. Ketakutannya bertambah saat suara yang lain bangkit dari duduknya. Sasuke bersiap melangkah cepat, namun sebuah tangan besar menahan pergelangan tangannya. Tubuh kurusnya dibanting dengan lembut ke sofa terdekat. Sasuke memejamkan matanya ketika punggungnya mendarat di atas sofa dan kembali melotot setelahnya. Sasuke hendak berteriak, namun empat jari membungkam bibir kecilnya dengan lembut. Selain itu, ia menghentikan niatnya untuk berteriak karena terlalu terpana melihat raut tampan pria di atasnya.

Masamune menurunkan badannya, membuat posisi lebih canggung. Ia menyingkirkan tangan Sasuke yang berusaha menahan tubuhnya agar tidak mendekat. "Lain kali jangan pernah ajak pria lain menginap jika tidak ada siapa-siapa di rumahmu, ya, sweety," bisik Masamune tepat di telinga Sasuke.

Sasuke memejamkan matanya erat. Jujur ia ketakutan. Ia membuka matanya ketika merasa beban di atasnya hilang. Segera ia duduk dan menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah bak kepiting rebus. "Maaf," ia berkata lirih.

Masamune kembali duduk dan memperhatikan Sasuke dengan lekat. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. "Ha ha ha ...," ia menertawakan tindakannya tadi. "Baiklah, mungkin tawaran untuk makan malam aku terima. Sebelumnya, terimakasih."

Sasuke mengangkat pandangannya sedikit. Ia tersenyum lembut dan mengangguk. "Ya, sama-sama."

FIN


Eh apa iniiiiii? Sangat OOC? Yash, saya pun yang menulisnya merasa begitu. Ah, maaf ... sudah lama tidak berbaur dengan fandom ini, dan hasilnya seperti ini (ToT)

Akhirnya FanFic ini sudah lunas. Tahu apa yang sempat direncanakan? Tadinya saya mau mengambil latar Canon dan Shounen-Ai, tapi karena sudah lama enggak pernah nonton ulang, saya sedikit enggak PD. Dan masalah genderben, uhuk, jangan ditanya/plak.

Saat menulis ini, saya tertawa tidak jelas dan sangat pegal ingin mengakhirinya, dan bodohnya lagi saya tertarik ingin menambah sekuel untuk cerita ini. Sangat tergoda membuat YukiSasu dengan latar seperti itu. Sepertinya menyenangkan :D
Bisa dipikirkan nanti hahahahahaha.

Terimakasih sudah membaca!

Sabtu, 28 Maret 2020