Nothing Else but Today who They Need to Thank and Forgive
Disclaimer: Koyoharu Gotoge.
Warning: OOC, typo, TanKana nyelip di awal, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.
Butterfly Estate pada mentari siang usai pertempuran akhir yang dimenangkan dengan titik darah penghabisan, Aoi Kanzaki bersama Sumi, Kiyo, dan Naho menyibukkan diri mengobati rekan-rekan Kisatsutai dalam musim semi April yang damai.
Kibutsuji Muzan–induk para iblis–telah dikalahkan, dan waktu sudah berlalu sebulan semenjak kemenangan Kisatsutai. Mereka bahagia bersama obat-obatan pahit yang rutin diminum tiga kali sehari. Perban putih menjadi merah oleh luka yang basah. Perjuangan meningkahi kecacatan demi melatih diri sendiri sebagai manusia normal pada umumnya–dengan seadanya rasa syukur itu masih dihadirkan, walaupun kebahagiaan ini diisi berjuta-juta lubang.
TOK ... TOK ... TOK ...
Berjuta-juta lubang yang tampak di mana-mana, bahkan pada ketukan pintu berirama ringan yang sebenarnya berat setiap dilakukan.
"Tanjiro. Ini Kanao. Aku datang membawakanmu makan siang." Semangkuk nasi, tumis bayam, dan ikan panggang menjadi menu di hari Senin itu. Pemuda yang dipanggil Tanjiro berseru "ya" dari kamar. Kanao diam sejenak menggenggam kenop. Masih menghirup dalam-dalam berusaha menata yang belum sempat diselesaikan olehnya–sendu, kah, prihatin, kata-kata tanpa kata-kata, ketika ia akan menemukan Tanjiro.
Kanao akan menemukan Tanjiro yang tersenyum untuknya, dan hari itu angin mengibarkan gorden putih polos yang sedikit mengenai bahu Tanjiro. Nampannya Kanao letakkan pada nakas. Mengatur posisi duduk senyaman mungkin, lantas mengawali obrolan yang tidak pernah panjang karena Kanao selalu saja menyerah duluan.
"Terima kasih atas kerja kerasnya, Kanao-chan. Menu hari ini ikan, ya? Sumi-chan bilang kamu ikut memasak bersama mereka."
"Uhm. Semoga rasanya enak." Apakah senyuman Kanao kaku? Kedua tangannya tetapi bergetar seolah-olah ia belum cukup baik untuk ini. Tanjiro sedikit memiringkan kepala. Kanao buru-buru menggeleng agar Tanjiro tidak telanjur cemas.
"Pasti enak, kok. Sekarang aku tidak sabar memakannya."
Tidak sabar memakannya, bukan? Kanao meletakkan makan siang Tanjiro di atas meja kayu untuk mempermudah. Nasi hangat pertama-tama ia lahap diikuti ikan yang menjadi satu dalam mulut, dan begitu terus hingga kandas yang Kanao tonton lamat-lamat, membuat air mukanya berangsur sayu.
Aoi sudah menjelaskan kondisi Tanjiro yang terus memburuk, dan Kanao tahu Tanjiro tengah memaksakan diri untuk makan apa lagi ini masakan pertama Kanao. Perutnya yang hancur lebur diabaikan. Demi Kanao pula Tanjiro menghabiskannya walau kepayahan menelan–kesakitan seorang diri menahan agar tidak muntah, dan lagi-lagi hanya Tanjiro yang berbuat sementara Kanao justru tidak berdaya.
Setidaknya Kanao ingin memasakkan masakan terenak untuk Tanjiro, supaya ia dapat menikmatinya semaksimal mungkin selama masih dikunyah. Tidak perlu ditelan andai bisa. Muntah pasti menyakitkan dengan tubuh yang remuk. Tetapi bukan berarti Kanao ingin Tanjiro tak makan. Hanya saja Tanjiro yang dipaksa mengeluarkan isi perutnya pasti lebih menderita, belum lagi ia akan meminta maaf yang kian menumpuk beban.
"Rasanya ... enak?" tanya Kanao ragu-ragu. Sebelum disuguhkan ia yakin sekali ada bagian yang gosong atau keasinan. Namun, tetap saja Tanjiro tersenyum membuat Kanao ingin menggeleng, berkata "sudah cukup" agar Tanjiro berhenti saja daripada semua semakin menyakitkan.
"Enak banget! Terima kasih, Kanao-chan. Lalu jika bisa ... bolehkah aku merepotkanmu lagi?"
"Tentu. Tanjiro ingin apa kali ini?"
"Tolong antarkan aku ke kamar Iguro-san. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan."
Mengantarnya ke kamar Iguro, lagi? Kanao tidak berkata apa-apa yang langsung memapah Tanjiro keluar kamar. Bahkan untuk berjalan pun baru satu dua langkah Tanjiro langsung ambruk. Awal-awal sendirian pun ia memang baik-baik saja, tetapi keadaan Tanjiro menurun sangat cepat yang tak terbayangkan atau hendak dibayangkan. Sebenarnya Kanao ingin menghentikan Tanjiro. Menunggu sampai dia sembuh saja, karena Tanjiro pasti pulih.
Tanjiro akan selalu bersama mereka. Merayakan ulang tahunnya pada tanggal empat belas Juli di musim panas yang mendebarkan. Kemudian bermain salju, meminum cokelat panas sambil menonton serial drama, membuat mochi bersama-sama, piknik di bawah pohon sakura, bertambah usia lagi, menikmati air laut yang sejuk, berjemur di atas pasir putih, dan mengulanginya lagi, dan demikian hingga nanti Tanjiro menikah, dan ... dan ...
Banyak lagi yang harus dilakukan, dan hati Kanao justru terdengar putus asa ketika mengandaikannya. Ia jadi ingin menangis. Sebagai salah satu temannya mengapa Kanao justru meragukan mimpi tersebut? Kenapa pula Kanao tak dapat marah kepada dirinya sendiri yang enggan percaya?
"Mau kubantu panggilkan?"
"Biar aku saja yang mengetuk. Kali ini pasti baik-baik saja."
Selama sebulan penuh dari Tanjiro yang masih mampu hingga kepayahan berjalan, ia terus menghampiri kamar Iguro dan hanya berakhir menatap lekat-lekat pintunya, sebelum pergi begitu saja atau diinterupsi oleh seseorang yang lewat. Hati Tanjiro pun berjuang keras menaklukkan keraguannya. Tetapi Kanao yang justru berdiri serta menemaninya di sini malah menunduk–pandangannya melepaskan Tanjiro, dan Kanao jadi merasa Tanjiro hilang.
TOK ... TOK ... TOK ...
"Ini Tanjiro, Iguro-san. Bolehkah aku masuk?"
Tidak ada respons. Mungkinkah Iguro tengah tidur atau malas diganggu? Tanjiro menghela napas berat. Pada akhirnya meskipun ia sudah yakin, apa memang bukan takdir Iguro dan Tanjiro untuk saling berbicara? Baik Muzan maupun Kisatsutai memang usai. Namun, Tanjiro serta Iguro bahkan beberapa teman lain mungkin belum selesai dengan masa lalu, sehingga Tanjiro harus atau ia menyesal.
"Tenang saja. Kupastikan kalian bertemu," ujar Kanao secara tiba-tiba. Pintu kamar Iguro diputar kenopnya. Ternyata tak dikunci membuat Kanao riang, dan ia langsung membawa Tanjiro supaya duduk di samping ranjang tempat Iguro berbaring.
"Iguro-san?"
"... apa?" Dijawab. Tanjiro mengangguk ke arah Kanao yang bergegas keluar, kemudian menutup pintu dan menunggu di luar. Iguro berhenti pura-pura tidur sewaktu Kanao pergi. Tubuhnya yang penuh perban dibuat setengah berbaring. Menatap ke arah Tanjiro walau tidak pernah benar-benar demikian, setelah Iguro buta permanen.
"Kupikir kamu tidur."
"Tidak juga."
"Bagaimana lukamu? Sudah lebih baik?"
"..."
"Atau Iguro-san masih kesulitan menggerakkan mulutmu? Di wajahmu banyak luka soalnya." Suara Tanjiro melemah di akhir kalimat, dengan kepala tertunduk yang menontoni kedua tangannya bergetar. Muka Iguro pun dipenuhi perban. Meskipun Aoi baru menggantinya, darah merembes lagi membuatnya kembali berwarna merah yang terasa memilukan.
"Pergilah."
"Kenapa? Apa Iguro-san tak ingin diganggu?"
"Pergi, ya, pergi. Aku ingin tahu apa kau bisa melakukannya."
Tanjiro tidak mungkin bisa, karena pertama; ia memutuskan untuk berhenti terhenti yang berarti mengungkapkan segala-galanya, sedangkan kedua Tanjiro mustahil berdiri apa lagi berjalan, tanpa bantuan Kanao. Diusir pun Tanjiro sebatas bisa duduk di sini. Dengan tak tahu dirinya pula berharap Iguro mengizinkan, dan Tanjiro hanya akan berdiam–mungkin hingga ditinggalkan oleh Iguro, apabila ia masih menolak.
"Kau yang bahkan tidak bisa pergi sendiri buat apa menemuiku? Berdiri saja kesulitan. Lebih baik kau terus berbaring di ranjang, daripada terlihat memalukan begini."
Bukan salah Tanjiro ketika dia berakhir terbaring, tetapi menjadi kekeliruannya apabila Tanjiro memaksakan diri seperti sekarang. Iguro terus menahan keinginannya untuk menggigit bibir. Rasa-rasanya ia tak tahan terhadap Tanjiro yang "kenapa jadi begini?", usai mati-matian melawan Muzan.
"Ada yang harus kita bicarakan, dan setelah ini terserah Iguro-san ingin mengobrol denganku lagi atau tidak."
"Maksudmu apa?"
"Aku masih ingin membicarakan soal masa lalu denganmu, lalu untuk masa depan nanti Iguro-san yang putuskan sendiri kita akan mengobrol lagi atau tidak." Yang mengapa pula terdengar seperti perpisahan abadi tanpa sampai jumpa, membuat esok hanya bagaikan kemungkinan tak kasatmata yang tak sampai kepada roda dunia?
"Pertama-tama aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Iguro-san, karena–", "Jika kau ingin berterima kasih karena aku sudah menyelematkanmu, maka lupakan saja. Kita ini rekan sesama Kisatsutai. Tolong-menolong sangat wajar," potong Iguro ketus. Sekujur wajahnya yang ditutup perban telah berhenti menemui Tanjiro. Dialihkan begitu saja ke arah jendela yang sengaja dibuka separuh.
"Kalau begitu biarkan aku meminta maaf, karena–", Iguro menarik selimut sampai menutupi wajah, lantas berbaring menunjukkan gestur menolak Tanjiro mentah-mentah, "Minta maaf juga buang-buang waktu. Mataku buta, ya, buta. Kau pikir aku mempermasalahkannya apa? Dalam pertarungan itu juga wajar terjadi."
Lagi-lagi Iguro memotong ucapan Tanjiro, dan mendengarnya tuntas juga sia-sia karena amat basi. Kegelapan abadi tidak membuat Iguro takut. Lebih ngeri lagi jika Iguro membiarkan kata-kata Tanjiro memeluknya, dan tahu-tahu ia sudah tak nyata–bagaimana jika itu menjadi yang terakhir untuk Tanjiro? Kalau setelah ini memang tiada yang berikutnya bagi mereka, maka bagaimanapun caranya Iguro akan melawan waktu.
"Mengapa ... mengapa Iguro-san tidak membiarkanku menyelesaikan kata-kataku?!" Tanjiro marah. Suaranya merendah dan meninggi menyebabkan Iguro getir. Darah kembali merembes membasahi perban, walau ia sekadar meremas selimut. Mungkin Iguro harus mengusir Tanjiro secara kasar. Mendorong dia keluar, meski di mana itu pintu Iguro saja tak tahu.
"Sudah kubilang itu sia-sia. Aku paham maksudmu, dan jika kau ingin mengatakannya lagi maka hanya membuang-buang waktu."
"Beda, Iguro-san! Bukan itu saja yang ingin kukatakan padamu. Jika kau tidak membiarkanku mengatakannya, bagaimana kau bisa tahu?!"
"Maka pertama-tama beritahu aku, kenapa kau sangat ingin mengatakannya?!" Membuat semua ini seolah-olah menjadi yang terakhir yang dapat Kamado Tanjiro berikan, padahal Iguro masih mau melakukan sesuatu untuk Tanjiro supaya ia tidak begini?
"Setelah pertarungan melawan Muzan. Ini adalah hal pertama yang kutemukan, dan ingin kulakukan untuk Iguro-san. Memang tidak seberapa dengan pengorbananmu. Namun, tolong biarkan aku mengatakannya, karena ..."
Karena ini bisa saja menjadi yang terakhir yang tetapi; hanya Tanjiro simpan rapat kata-kata itu di sudut ingatannya, ketika ia sudah terlalu sadar tidak lagi mampu melukai diri sendiri, maupun Iguro. Ia memilih untuk peduli, dan setelah semua yang Iguro tanggung untuk menggantikan Tanjiro, mendengar pesimisme sejenis itu sama saja mengembalikan Iguro pada masa mengakhiri Muzan–terluka, tersakiti, terluka, dan tersakiti lagi.
"..."
"Terima kasih karena sudah menyelematkanku, sehingga aku bisa hidup bersama Nezuko." Terus, apa? Lagi pula Iguro telah menduganya, dan menganggap abai penuturan Tanjiro agar ia mengulanginya lain kali–ini bukan yang terakhir. Masih ada waktu untuk menghentikannya–Iguro bisa mengatasi ini sendirian.
"Juga ... kupikir jika aku tidak diselamatkan oleh Iguro-san, aku akan menyesalinya. Kita tak bisa mengobrol seperti sekarang. Aku enggak bisa mengenal Iguro-san lebih jauh, dan bukankah sangat disayangkan?"
"Cara bicara Iguro-san memang ketus sekaligus kasar, juga kau itu terkesan cuek. Namun, saat Iguro-san menyelamatkanku akhirnya aku tahu kau juga sama pedulinya dengan Giyuu-san, dan bukan sebatas kewajiban sesama rekan harus tolong-menolong."
"Hatimu memang baik, Iguro-san. Sikap ketusmu hanyalah cara memperhatikan orang lain secara tidak langsung, bukan?"
Sesaat Iguro sempat menoleh, tetapi buru-buru menjaga pandangannya lagi agar fokus ke jendela. Tanjiro telah menyentuh hati Iguro yang bersembunyi dari dunia. Gigih dalam petualangannya mengajak Iguro menetap daripada singgah untuk pamit lagi, sehingga di sanalah Iguro ketika Tanjiro diserang Muzan–melindungi depannya agar Tanjiro masih bisa melihat ke depan.
"Di masa lalu kita sebatas rekan kerja, dan di masa kini serta ke depannya aku ingin menjadi temanmu, kalau Iguro-san tak keberatan. Membicarakan lebih banyak hal menyenangkan ke depannya yang tidak melulu iblis bukankah bagus? Iguro-san akan terus belajar mencintai manusia juga."
Kata-kata itu, mata, tatapan, kurva meteor di bibir, napasnya–bahkan setelah terpuruk tanpa dasar, Tanjiro tetap tidak ke mana-mana–masih di sampingnya yang kemudian memperhatikan Iguro dengan senyuman tak berbatas waktu. Sejak dulu Iguro tidak pernah mengerti, kenapa seorang matahari senantiasa menyorotinya, dan mengapa pula Iguro dipilih oleh jam takdir untuk menyimpan salah satu kepingan yang bersinar, cemerlang, sekaligus benderang tersebut?
Ditemukan oleh Tanjiro seperti sekarang, Iguro pun diam-diam akan menaruh seulas kangen kepada Kanroji Mitsuri yang sudah menyusul Rengoku Kyoujuro–mereka sama-sama tewas saat pertempuran membasmi iblis. Dalam kegelapan ini Iguro lebih merasa dapat melihat, ketika cahaya rindu itu memancarkan tentang Kanroji dan Rengoku, tetapi Tanjiro juga berpendar-pendar sekaligus berpijar di dalam kerlipan tersebut.
Terkadang, saat sendirian seperti sebelum Tanjiro bertamu Iguro pun akan merangkai pertanyaan itu, meletakkannya di atas kepala seolah-olah memasang mahkota, yang juga seakan-akan penting sekali dan memang demikian. Apakah mereka dapat terhubung lagi? Akankah Tanjiro menemukannya? Iguro menerima kehadiran Tanjiro untuk seterusnya, sampai jam kehidupan Iguro tiba pada angka dua belas–habis?
"Kemudian aku minta maaf. Karenaku Iguro-san jadi buta, bahkan kehilangan separuh wajahmu."
"..." Tetapi tidak bisa untuk sekarang, selama Iguro enggan menerima Tanjiro yang berterima kasih sekaligus meminta maaf, dan ia kurang menyukai Tanjiro yang menemukannya dengan cara terakhir itu. Sebentar saja mereka harus kembali asing. Tak perlu Tanjiro untuk mendekatinya, karena Iguro pun bisa melakukannya walau belum terpikirkan.
"Kalau kuingat-ingat Iguro-san memiliki mata yang indah. Emas dan torquise. Namanya heterochromia, ya? Keren sekali, lho."
"Dengan matamu Iguro-san pasti melihat lebih banyak warna dibandingkan kami. Meskipun yang kau lihat kebanyakan menyakitkan, melukaimu, menyedihkan ... tetapi matamu berbagi beban, bukan?"
"Seperti jika yang emas meredup maka yang torquise membantunya terang kembali, begitu pun sebaliknya. Itu luar biasa. Saat Iguro-san menyelematkanku juga sebenarnya aku berdoa, bahwa Muzan boleh saja melukaimu di mana pun asalkan jangan membutakan matamu."
"Rasa-rasanya ketika melihat Iguro-san seperti sekarang, aku jadi rindu pada matamu juga sangat menyesalinya ..."
Menggunakan matanya yang terpejam abadi pun Iguro dapat menggambarkan cara kerja senyuman Kanroji. Ekspresi marahnya yang menggemaskan. Ketika Kanroji makan dengan lahap. Kanroji yang serius, tertawa riang, kebingungan, membuat iris hijau daunnya melebar, bahagia lalu mengajak Iguro, sendu yang menyayat hati, terkejut–memperlihatkan seberapa besar netra-nya bisa melebar ...
Semua itu terpahat di keningnya, dan dapat Iguro lihat seolah-olah ia masih bersama matanya, serta seakan-akan Kanroji hidup, lalu mereka bertemu kemarin–memperbaharui ingatan. Senyuman Rengoku yang teguh pun. Wajah bersemangatnya. Keseriusan setiap ia melawan iblis–Iguro juga ingat, padahal sudah lama keduanya berpisah tanpa "selamat tinggal" yang membuat kehilangan begitu nyata.
Tetapi Tanjiro ... hanya segelintir yang Iguro bisa tuliskan, setelah ia buta seperti ini. Sebatas ekspresi marahnya saja yang terekam. Tanjiro yang fokus sekali mempertahankan teknik pernapasan. Mengernyit menahan perih. Penuh kebencian kepada Muzan. Cemas akibat Iguro menolongnya. Terus berpikir untuk mencari celah membuat Tanjiro macam pemuda tua ... Iguro tidak sedikit pun tahu mengenai senyumannya, atau cara seorang Tanjiro berbahagia.
Lalu menggunakan matanya yang sudah tertinggal, Iguro hanya menatap orang-orang penuh kebencian, kedengkian tanpa ujung, pandangannya selalu berkilat tidak suka–Iguro hampir tak pernah membuat netra-nya memaafkan semua itu, selain mengutuk segala yang tampak serta tertangkap supaya membusuk saja.
Tanjiro terlalu tinggi membayangkannya. Mata Iguro sama busuknya dengan darah penjahat yang mengalir dalam raganya, dan dia benci namun suka di waktu bersamaan.
Benci, karena ia memang busuk hingga ke akar-akarnya.
Suka, karena Tanjiro memuji matanya ketika bisik-bisik di luar sana memburuk-burukkan netra-nya kelewat aneh.
"Jangan bersikap lemah, karena kau juga seseorang yang mengalahkan Muzan." Kalimat pertama Iguro keluar di tengah-tengah isakan Tanjiro yang bisu. Yang Iguro perbuat–mengabaikan Tanjiro terus-menerus–tidaklah berarti apa-apa. Kenapa ia harus marah terhadap Tanjiro yang sekadar ingin mengungkapkan ketulusannya?
"Tetap saja itu ... matamu ... hiks ..."
"Syukurlah aku buta kalau begitu." Iguro sudah berhenti bersembunyi termasuk berpura-pura mengabaikannya. Bahkan seingin apa pun ia menjadikannya bukan yang terakhir, Tanjiro yang menangis begitu saja jauh lebih penting dibandingkan memikirkan; apakah mereka selesai atau bagaimana.
"Eh? Kenapa?"
"Jadinya aku tidak bisa melihatmu menangis." Kepala Tanjiro diusap oleh Iguro yang tersenyum tipis. Gara-gara itu air mata Tanjiro malah melebar. Ia berhenti menahannya, sehingga tak lagi terdengar sesak membuat Iguro lega.
"Kau telah melakukannya dengan baik, karena itu ada beberapa yang hilang dan bertahan. Terima kasih."
Berkat Tanjiro pula Iguro hidup, dan dapat menyaksikan senja yang terdiri dari waktu serta narasi. Bundaran jingganya meletupkan warna lembayung yang manja. Perasaan mereka pun basah, sebelum tenggelam dalam hening yang mengajak keduanya memimpikan sebuah aksara untuk satu masa depan.
"Ternyata kita tidak perlu masa lalu atau masa depan, Kamado. Begini pun lebih dari cukup."
Cukup hari ini di mana Tanjiro menangis, sedangkan Iguro menenangkannya supaya baik-baik saja.
Tamat.
A/N: kuyakin di sini ada yang sama2 sadar, kalo IguTan (atau ObaTan?) mendominasi chapter akhir KnY. Iguro yang nolongin tanjiro, bahkan dia juga ngelindungin tanjiro biar ga dimakan, itu indah banget. Beruntung banget aku bisa nemu fanart IguTan di mana kira2 iguro ngemeng, "you doing great" dan tanjro lagi nahan nangis ketika kepalanya dielus ama iguro yang udah buta. Berkat fanart itu juga aku jadi kepikiran bikin fic ini, dah karena iguro husbuku aku kehilangan banget ama matanya yang indah nian, sehingga aku banyak bahas mata, hehehe.
Oke thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Aku menghargai apa pun yang kalian berikan padaku~ semoga next aku bisa nulis IguTan lagi. Mereka terlalu disayangkan buat dilewatkan gitu aja.
