"Waktu kematian, 16 April pukul 10 lewat 20 menit."

Ruang operasi itu terbuka, menampilkan sesosok dokter wanita lengkap dengan seragam operasinya. Dokter wanita itu tertegun. Menyadari bahwa tidak ada satupun orang yang menunggu penjelasannya. Seperti yang seharusnya.

Ia melepaskan penutup kepala beraroma pekat antiseptik dari rambut cherrynya yang kini masih lembab oleh keringat. Kemudian menyandarkan punggungnya pada dinding lorong rumah sakit yang dingin.

Rasa lelah seakan berkumpul di kepalanya hingga ia hanya mampu tertunduk sambil terus menghela nafas dalam.

Lelah. Sesak.

Kelopak mata dengan bulu mata berwarna cherry itu menutup rapat, menghindari fragmen-fragmen momen menyakitkan yang bisa saja tergambar jika ia membuka mata.

"Sakura,"

Suara baritone khas itu memecah lamunannya. Ia segera mengangkat kepala, tanpa membuka mata ia menunjukkan senyum lebarnya, membuat mata yang sebenarnya sudah basah itu melengkung menyerupai bulan sabit.

"Sasuke-kun." Sakura berdeham, dengan gerakan cepat menghapus airmata yang benar jatuh tepat begitu ia membuka mata.

"Ah iya, aku hampir lupa, tadi pagi kau bilang ingin melakukan check up kan? baiklah, sekarang bisa kau tunggu di ruanganku dulu? aku sepertinya butuh mandi setelah melakukan 2 operasi berturut-turut. Oke?"

Lelaki berambut raven itu baru saja membuka mulut begitu dokter wanita itu meninggalkannya dengan lambaian tangan kaku dan senyum yang dipaksakan. Pada akhirnya ia hanya bisa menghela nafas kemudian membalikkan langkah menuju tempat yang Sakura minta.

. . . . .

Jarum panjang nyaris menunjukkan pukul 8 malam ketika pintu ruangan itu terbuka. Sakura masuk dengan kondisi lebih segar. Rambut merah mudanya masih tampak basah, ia biarkan tergerai menyentuh punggungnya yang kini telah tertutup oleh jas putih khas dokter, bukan lagi seragam berwarna kehijauan beraroma khas ruang operasi.

"Maaf lama,"

Sasuke tertegun, memandang Sakura yang kini tengah mengalungkan stetoskopnya. Gadis itu sibuk menyiapkan kain kasa, suntikan dan semacamnya begitu Sasuke tiba-tiba bangkit dari duduknya.

"Sakura," panggilan itu sontak membuat Sakura mengerjap bingung. "Aku ke sini bukan untuk itu."

"Oh." dengan penuh kekakuan, Sakura menurunkan tangannya yang tadi sedang berusaha mencari obat merah di rak paling atas. "Kau ke sini bukan untuk check up ya?"

Sakura mendekat, memutuskan untuk duduk tepat di hadapan lelaki berambut raven itu. "Ada yang ingin kau bicarakan?"

"Aku akan melanjutkan perjalananku."

Hanya butuh 1 detik untuk kalimat itu terucap, namun butuh 10 detik untuk Sakura mencernanya dengan baik.

"..melanjutkan.. perjalanan?" saat sakura sadari lidahnya mendadak kelu untuk berbicara. "Kau akan pergi lagi?"

"Hn. Penebusan dosaku belum selesai."

"Kapan kau kembali lagi?"

"Aku tidak tahu."

Sakura sontak mengatupkan bibirnya. "Aku tidak tahu." kalimat itu bergema dalam dadanya, entah seberapa kuat hingga Sakura merasa ada sesuatu yang retak di sana.

"Kau akan berangkat kapan?"

Sakura menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, reflek seakan hal itu mampu mengurangi rasa sakit yang kini -entah bagaimana- secara perlahan menjalar dari rongga dada hingga ke kepalanya. Sekarang, gadis itu merasa pusing.

"Tengah malam nanti."

"Kenapa tidak besok saja?!" Sakura memekik tanpa bisa ditahan. Ia sontak menutup mulutnya sendiri, saat menyadari Sasuke juga turut melebarkan mata karena melihat reaksinya.

"Ma-maksudku, sekarang kondisi cuaca sedang buruk. Bisa saja tengah malam nanti ada badai." Suaranya menciut di akhir kalimat. Untuk kedua kalinya, ia menggigit bibir bawahnya sendiri, sebelum kemudian ia meneruskan kalimatnya. "Ini.. terlalu mendadak."

"Tsunade memberiku misi kali ini." Seperti biasa, Sasuke memberi penjelasan tanpa diminta.

"Tsunade-sama?" Sakura membeo.

"Dia menunggumu di ruangannya. Ada yang ingin dia bicarakan, katanya."

"Kenapa.. tiba-tiba aku?"

Entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu, Sasuke sempat mengangkat satu alisnya dengan sejentik rasa heran di mata onyxnya itu, sebelum ia berkata dengan wajah datarnya, "aku tidak tahu."

"Kapan dia menyuruhmu memanggilku?"

"Tadi, sebelum kita bertemu di depan ruang operasi."

"Aish!" Sakura menepuk dahinya sendiri, menyadari kesalahan yang baru saja diperbuatnya tanpa sadar.

Tau seperti itu, aku tidak mandi dulu tadi.

Lupakan berita Sasuke yang ingin pergi. Lupakan sakit hati yang baru saja menjalarinya. Lupakan pusing yang kini mendera kepalanya hingga terasa ingin pecah.

7 tahun menjadi murid dari shisou yang kelewat disiplin seperti Tsunade membuat Sakura tau betul bagaimana karakter wanita yang sekarang menjabat jadi hokage kelima itu. Apa saja yang disukainya, apa saja yang bisa membuatnya marah.. Atau tepatnya apa saja yang dibencinya. Salah satunya keterlambatan.

Tidak peduli apapun alasannya, wanita itu sangat tidak suka orang yang terlambat. Bahkan sekadar janjian minum soju pun harus tepat waktu.

"Aku akan ke ruangannya sekarang. Bisa kau di sini dulu?" Dengan airmuka yang masih panik, ia menoleh ke arah Sasuke dengan tangan sudah membuka kenop pintu.

"Tidak." Tanpa di duga, Sasuke ikut berdiri, ia melangkah mendekati pintu. "Aku juga akan ke sana."

"Untuk apa?"

"Aku hanya ingin menemanimu."

Sederhana, sebenarnya itu kalimat biasa-biasa saja yang diucapkan dengan nada serta ekspresi yang datar pula. Namun entah kenapa Sakura merasa diistimewakan.

"Baiklah."

. . .

Sasuke benci menunggu. Namun entah kenapa, untuk gadis itu ia rela melakukannya tanpa sedikitpun merasa keberatan. Tadi, 1 jam menunggunya selesai membersihkan diri. Dan sekarang, sudah hampir setengah jam ia bersandar di dinding, tepat di samping pintu dengan lambang desa terpatri di daunnya, menunggu gadis musim semi-nya menyelesaikan pembicaraan dengan shishou-nya. Pembicaraan yang Sasuke tahu dengan jelas apa isinya.

Sasuke baru melangkah sisi lain lorong, -berniat untuk duduk saat ia mulai merasakan pegal menjalari kakinya- saat pintu itu terbuka.

Sakura sempat membungkuk sekali lagi kepada orang yang berada di dalam ruangan itu -yaitu Tsunade- sebelum akhirnya menutup pintu kemudian berbalik ke arahnya.

Kondisi wajah gadis itu sesuai dengan dugaannya -bayangannya sejak tadi. Matanya bengkak dan hidungnya memerah, tampak berair. Kentara sekali bahwa ia habis menangis meski gadis itu tampak berusaha mengeringkannya.

Sakura tidak menghampirinya. Sasuke pun juga tidak berniat untuk mendekati Sakura, lebih berminat menatap lekat gadis musim seminya dari sekian jarak langkah yang tercipta.

Setelah sekian detik, hanya saling bertukar kata lewat mata, Sasuke mengulurkan satu tangannya.

"Kau.. mau ikut denganku?"

Entah untuk keberapakalinya di hari ini, gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri. Kali ini bukan untuk menyembunyikan rasa gugup atau sakit hatinya, melainkan tawa yang kemudian pecah seiring dengan airmata yang kembali turun ke pipinya.

Tanpa menjawab, Sakura mendekat, lalu mendekap laki-laki itu erat.

Sasuke tidak berkata apapun saat menyadari Sakura malah semakin terisak di dadanya.

Percakapan antara dirinya dengan Tsunade beberapa jam lalu, kembali membayanginya.

.

.

3 jam lalu..

"Seperti yang kau tahu, Sunagakure kini sedang dilanda wabah penyakit. Wilayah pusat dan sekitarnya masih bisa terkendali tapi tidak dengan wilayah pinggiran. Jadi Gaara memintaku untuk mengirim beberapa tenaga medis tambahan ke sana. Beberapa ninja medis yang kukirimkan ke sana sudah sampai sekitar seminggu yang lalu dan sekarang mereka sudah mulai kehabisan obat-obatan."

"Jadi misiku, hanya mengantarkan obat-obatan itu?" Tanya Sasuke, ia kembali menggulung dokumen yang berisi nama obat-obatan yang harus dibawanya nanti. "Atau aku harus mengawal seorang ninja medis yang akan membawa obat-obatan itu sendiri?"

Pertanyaan itu menciptakan seringai di wajah sang hokage kelima. "Kau harus mengawal ninja medis yang akan membawa obat-obatan itu sendiri."

"Apa.. dia Sakura?"

"Apa kau menolaknya, Uchiha?"

"Tidak," jawab Sasuke lugas dengan wajah datarnya. "Aku menerimanya."

"Kalau begitu aku permisi."

"Sakura.." Ucapan Tsunade menahan niat Sasuke untuk segera melangkah keluar dari ruangan itu. "Dia terlalu memaksakan diri akhir-akhir ini."

"Aku tau itu."

"Aku dengar kau tinggal bersamanya selama di desa?"

"Ya."

Tsunade baru saja membuka mulutnya, ingin menanggapi pengakuan tak terduga itu, namun ia mengurungkan niatnya. "Katsumi.. kau pasti tau siapa dia?"

"Ya."

Iya, dia tahu. Meski Sakura tidak pernah memceritakannya secara jelas, Sasuke cukup familiar dengan nama itu setelah selama beberapa malam terakhir gadis itu menyebut nama itu sambil menangis dalam tidurnya.

Katsumi adalah seorang gadis berusia 15 tahun. Entah bagaimana, ia menjadi salah satu orang terdekat Sakura dalam kurun 1 tahun terakhir. Katsumi adalah seorang gadis biasa, benar-benar manusia biasa, bukan ninja dengan aliran chakra mengalir dalam tubuhnya.

Katsumi menderita sakit parah, sayangnya bukan jenis penyakit yang bisa disembuhkan dengan mudah bahkan oleh ninja medis seberbakat Sakura. Penyakit yang dideritanya adalah jenis penyakit yang hanya mampu direda oleh butir kapsul obat-obatan, bukan aliran chakra berwarna hijau yang dikendalikan sedemikian rupa.

Mungkin itu yang menjadi alasan kenapa Sasuke sering kali menemukan Sakura jatuh tertidur di atas tumpukan buku medis berbahasa asing.

Gadis itu berusaha dengan begitu keras, belajar dengan sangat giat di waktu luangnya yang sempit, demi menemukan cara agar Katsumi bisa sembuh.

Walau akhirnya ia gagal. Katsumi tetap meninggal karena penyakitnya tepat seminggu yang lalu.

Awalnya Tsunade berniat untuk berbicara tentang Katsumi dan Sakura, namun melihat Sasuke yang sempat tenggelam dalam lamunannya, ia membatalkan niatnya.

"Biasanya orang kalau sedang banyak masalah jadi tidak fokus dalam pekerjaan, tapi Sakura malah sebaliknya. Dia tipe orang yang semakin gila kerja saat ada beban di pikirannya." Tanpa bisa dicegah, Tsunade menghela nafas begitu sebersit wajah pucat mengenaskan Sakura yang sedang tersenyum terlintas di benaknya.

"Intinya, aku ingin membuatnya rehat dari rumah sakit sejenak. Aku tidak mau muridku itu mati konyol karena kelelahan." Simpul Tsunade.

"Baik aku mengerti."

. .

Sasuke memutuskan untuk menggerakkan tangannya mengusap punggung gadis itu lembut saat benang kejadian masa lalu itu selesai terputar di benaknya. Sakura tidak lagi menangis, namun gadis itu masih menenggelamkan wajahnya dalam dekapan.

Sasuke membiarkannya. Bahkan jika gadis musim semi itu ingin menangis lebih lama ia tidak akan keberatan. Meski Sakura selalu menangis dalam tidurnya, akhir-akhir ini akibat kematian Katsumi, namun gadis itu tidak pernah menunjukkan kesedihannya begitu ia bangun. Tetap ceria seperti biasa. Sasuke tahu Sakura menahan perasaannya selama ini, dan baru pecah sekarang.

Dan juga, Sasuke sadari, sudah sangat lama Sakura tidak memeluknya seperti ini. Sakura tidak pernah lagi bersikap agresif seperti saat dirinya berumur 12 tahun. Gadis itu tampak menahan diri untuk tidak lagi bersikap seperti itu. Meski Sakura tetap sesekali berkata padanya bahwa gadis itu mencintainya, namun Sakura tidak lagi melakukan kontak fisik untuk menunjukkan perasaannya.

Tanpa sadar satu tangannya yang tinggal setengah itu ikut bergerak, membawa Sakura semakin tenggelam dalam dekapannya. Selama beberapa detik, ia menjatuhkan penciumannya di puncak kepala dengan untaian rambut berwarna merah muda itu. Menghirup aromanya yang entah bagaimana terasa lebih segar dari kuncup sakura yang baru mekar.

"Sasuke-kun." Suara Sakura terdengar serak. Jeda cukup lama, membuat Sasuke berpikir mungkin terlalu banyak hal yang gadis itu mau katakan hingga tak tahu harus mulai dari mana.

Hingga akhirnya, Sakura membuka mulut, bibir pucatnya menyuratkan satu kata yang membuat dunia laki-laki itu seakan berhenti berputar dalam sekian detik.

Satu kata yang tak pernah Sasuke sangka akan ia dengar dari gadis yang rasanya terlalu sering merasa tersakiti karenanya.

"Terima kasih."

. . .

Setangkai bunga mawar biru ia letakkan di atas gundukan tanah yang terletak di atas bukit itu. Meski tak bernisan orang-orang akan cukup paham bahwa itu adalah sebuah makam jika dilihat dari bagaimana bentukannya. Angin menjelang tengah malam itu berhembus keras, membuat Sakura mengernyit sambil menunduk saat merasakan dinginnya menusuk keras tengkuk dan lehernya.

Sakura tersenyum lebar begitu Sasuke berdiri tepat di sampingnya, seperti sengaja menghalau arah angin yang berhembus agar tidak mengenai dirinya.

"Terima kasih."

Sasuke tak menjawab, namun ia membungkuk untuk menaruh setangkai bunga yang sama di atas makam tak bernama itu.

Laki-laki itu nyaris tidak pernah berkata manis pada Sakura. Tapi semua bahasa tubuhnya sering kali berkebalikan dengan ekspresi tak sarat rasa yang sering kali laki-laki itu tunjukkan. Sakura merasa tak perlu menuntut pengakuan cinta dari mulut Sasuke secara langsung, karena ia tahu, Sasuke memang payah dalam segala hal yang berurusan dengan verbal, terutama urusan mengungkapkan perasaan. Meski begitu, laki-laki itu tetap selalu punya caranya sendiri untuk membuat Sakura merasa dihargai dan dicintai sebagaimana semestinya.

Seperti saat ini, ketika laki-laki itu tiba-tiba menyampirkan jubah panjangnya pada lengan telanjang Sakura, mengikatkanya erat di leher gadis itu, lalu menaikkan kupluknya agar menutupi rambut merah muda yang kini sudah abstrak bentuknya akibat angin.

"Apa kita jadi berangkat tengah malam nanti?"

"Tidak, tapi besok sore."

Jawaban Sasuke kontan membuat Sakura melebarkan mata. "Kenapa begitu?"

"Memang aslinya begitu."

Sakura menatap lekat wajah datar laki-laki raven itu dengan dahi mengernyit dalam, sebelum akhirnya tersadar apa maksud perkataannya.

"Aku ingin kembali, di sini dingin."

Sasuke berkata datar sambil memasukkan satu tangannya ke dalam kantong celana, ia baru berbalik berniat melangkah duluan saat Sakura menahan lengannya.

"Jadi, kau menipuku?"

"Tidak."

Sakura kembali melipat dahinya tak mengerti.

"Tsunade memang menyuruhku untuk berangkat besok sore. Tapi kalau rencananya meleset aku akan berangkat malam ini."

"Rencananya meleset?" Sakura berpikir sejenak. "Maksudmu, jika aku tidak mau ikut, kau akan berangkat langsung malam ini?"

Sasuke mengangguk sekali.

"Kenapa?"

Pertanyaan Sakura membuat Sasuke tak tahan untuk tidak mengangkat sebelah alisnya.

"Kenapa begitu?" Sakura mengulangnya. "Kau pasti tidak tahan ya lama-lama bersamaku, jadi kau buru-buru pergi."

Tawa tertahan yang terdengar membuat atensi gadis yang sedang menunduk itu teralihkan. Ia mendongak, hanya untuk mendapati Sasuke yang membuang wajahnya ke sisi lain dengan satu genggaman tangan menutup mulutnya.

Meski tindakan laki-laki itu sia-sia. Tetap saja tawanya pecah, menunjukkan ekspresi wajah yang tak pernah Sakura sangka akan ia lihat sepanjang hidupnya. Laki-laki itu tersenyum hingga kedua matanya membentuk bulan sabit.

Kalau Naruto yang menertawakannya seperti ini, sudah bisa dipastikan wajah bocah itu akan ia buat lebih kacau dari ramen ichiraku yang diaduk. Lain halnya kalau Sasuke yang begitu, seperti sekarang ini, rasanya Sakura ingin mengabadikannya dalam bentuk foto yang akan dia pajang di seluruh permukaan dinding rumahnya.

"Kenapa tertawa?" Sakura cemberut, ia tetap mempertanyakannya.

Sasuke menghentikan tawanya, kemudian berdeham pelan. Sadar mungkin reaksinya terlalu berlebihan buat gadis itu.

"Aku hanya ingin cepat kembali."

Sasuke mengatakannya dengan cukup cepat. Kemudian melangkah duluan meninggalkan Sakura yang kini masih mematung, sibuk mencerna perkataannya barusan.

Entah efek lelah, atau memang karena dia belum makan, otaknya berjalan lebih lambat dari tadi.

"Aku hanya ingin cepat kembali."

Perkataan laki-laki yang kini sudah berada di kaki bukit kecil itu jauh di depannya kembali bergema. Kali ini gemaan itu tidak menimbulkan retak, namun justru memunculkan perasaan senang asing yang masih ia belum pahami penyebabnya apa.

"Sakura!"

Panggilan Sasuke memecahkan lamunan gadis itu. Laki-laki itu sudah berada di bawah bukit, memandang ke arahnya dengan rambut ravennya yang berantakan tertiup angin. Meski dari kejauhan, Sakura dapat merasakan betapa hangatnya tatapan laki-laki itu padanya.

"Tunggu aku.."

Sakura berlari kecil menuruni bukit, langkahnya kian riang seiring ia menyadari apa maksud perkataan yang diucapkan Sasuke.

Laki-laki itu ingin cepat pergi, agar bisa cepat kembali padanya.

Sasuke sudah menganggapnya sebagai tempat untuk pulang.

. . . .