Sakura and The Handsome Doctor

Naruto (C) Masashi Kishimoto

.

Mobil keluarga Yamanaka telah sampai di depan rumah sakit kecil yang dimaksud Sakura. Inoichi menghentikan laju mobilnya. Sebelum beranjak ke luar, Sakura mengucapkan terima kasih. Dari balik kaca jendela yang sedikit diturunkan, Ino dan sang ayah melambai kecil pada Sakura, sembari berpesan padanya agar hati-hati saat berjalan dan semoga cepat sembuh. Sakura juga ikut melambai dengan senyum di wajahnya yang sudah pucat.

Sakura menunggu di depan sebuah bangunan di samping rumah sakit kecil itu—di depan sebuah ruko yang sedang tutup, menunggu kalau-kalau sang dokter idola menampakkan batang hidungnya. Ia sudah tahu bahwa jam segini adalah saat-saat pemuda itu ke luar dan berdiri di depan teras rumah sakit untuk sekadar cari angin atau bahkan bersiap untuk pulang. Hasrat ingin bertemu dengannya masih berada pada level yang sama, berharap kebahagiaannya saat bisa menatap sang dokter dapat meredakan denyut di kepala serta panas dalam tubuhnya. Namun, rasa sakit itu semakin tak tertahankan. Dokter muda itu tak kunjung muncul pula. Sakura dilema, harus pulang atau tetap menunggu. Di samping itu, ia sendiri khawatir akan tubuhnya yang bisa oleng saat menyeberang di jalan raya yang ramai kendaraan lalu-lalang tersebut.

"Hmph... Belum muncul juga, ya," keluhnya, dengan wajah memerah akibat demam juga energi yang semakin terkuras. "Kalau begini, lebih baik pulang saja..." gumamnya lemah dan lesu, melangkah pelan menuju bagian depan rumah sakit—Sengaja. Mana tahu berkesempatan untuk melihat sang dokter yang bisa saja tiba-tiba muncul.

Terhuyung-huyung gadis bersurai merah muda itu berjalan. Sudah melewati sisi teras rumah sakit, sedikit lagi sampai di bagian depan teras untuk menunggu jalan raya sepi agar kemudian bisa menyeberang. Kendaraan yang berlalu-lalang membuat bola matanya bergerak-gerak ke kiri dan kanan. Niatnya ingin memperhatikan sampai ada celah untuk menyeberang, tetapi malah menimbulkan dan menambah rasa pusing di kepala. Fokusnya pecah, mengakibatkan koordinasi tubuh perlahan menghilang.

Tubuh Sakura semakin tak seimbang untuk sekadar berdiri tegak. Tak ingin pingsan di saat seperti ini. Tidak ada pula seorang pun di meja pos jaga dekat pintu kaca rumah sakit di belakangnya itu. Siapa yang akan menolongnya nanti? Jatuh di jalan berbatu cukup membuatnya malu. Tapi sudah tak tertahan lagi. Ia ingin menjatuhkan diri saja, berharap material keras di bawahnya tiba-tiba berubah empuk.

"O-Oi!"

Suara itu tak cukup kuat untuk menambah energi Sakura. Meskipun ia tahu betul siapa si pemilik suara. Namun yang pasti, tubuhnya telah berada dalam posisi aman. Lengan yang menahan bagian punggung atasnya membuat dirinya merasa terselamatkan dari marabahaya besar. Sekuat tenaga ia mencoba untuk sadar sepenuhnya, sekalipun denyut hebat di kepala menolak untuk itu.

"Kau baik-baik saja?!"

Telinga Sakura bahagia mendengarnya. "Hm," Ia mengangguk pelan, menatap wajah pemuda yang hampir tak berjarak dari wajahnya sendiri. "Tapi aku tidak bisa menyeberang... Kepalaku sakit sekali..." Matanya berair, ingin menangis bukan karena sedih namun kesal. Tubuh kuatnya selama ini sedang dirundung kemalangan. Sakura mau tak mau harus menerimanya.

Pemuda itu, dokter tampan yang selama ini diperhatikan oleh Sakura, menurunkan sedikit tubuhnya tanpa melepaskan topangan lengan di punggung Sakura. Ia menyamakan tinggi mereka berdua untuk menempelkan punggung tangan satunya di dahi Sakura. "Panas sekali," Intonasinya datar tapi terdapat aura khawatir di dalamnya. Ini gawat, pikirnya. "Aku akan membawamu ke dalam." Tangan hebatnya dengan cekatan melepas ransel Sakura dan mengalungkan salah satu talinya di bahu kiri.

Sasuke—nama pemuda itu—kemudian mengangkat tubuh Sakura yang tak terlalu mungil ala bridal. Wajah gadis itu sudah memerah, napasnya tersengal-sengal—mungkin menahan sakit di kepala dan rasa panas di dalam tubuhnya. Berjalan dengan cepat menuju meja resepsionis dan menanyakan kamar kosong di dekat situ, di lantai satu. Kakinya segera menuju ruangan yang dimaksud.

Berbelok ke kanan dari meja resepsionis, berjalan lurus sekitar sepuluh meter, berbelok ke kiri, lalu sampai di pintu kamar dengan papan penanda nama "Ceri" di atas pintunya. Sasuke meminta seorang perawat yang kebetulan sedang lewat untuk membukakan pintu cokelat di hadapannya. Setelah mengucapkan terima kasih, pelan-pelan dirinya masuk dan membaringkan Sakura di atas sebuah kasur kosong.

Kamar kelas ekonomi itu sedang kosong saat ini. Jadi, hanya ada Sakura sebagai pasien mendadak dan Sasuke sebagai (calon) dokter penolong di dalamnya. Tak lupa Uchiha itu menutup pintu kembali. Lalu, ia mengambil remote pendingin ruangan di atas meja tempat menaruh obat-obatan di sebelah kasur Sakura, menyalakannya dengan suhu yang tak terlalu rendah. Tangannya bergerak untuk menyelimuti Sakura sampai bahu.

"Kak Dokter..." panggil Sakura pelan, menolehkan kepala sedikit ke kiri. "Terima kasih... Tapi siapa yang membayar biaya kamarnya nanti?" Kepalanya berdenyut kencang, tapi pikirannya masih jernih untuk mengingat hal penting seperti itu.

"Aku," jawab Sasuke cepat, tak terdengar nada ragu dalam suaranya. "Istirahat dulu saja. Tapi sebentar, aku ambilkan obat dulu." Berbalik badan, meletakkan ransel Sakura di salah satu sofa, lalu ke luar ruangan.

Di kasur, Sakura hanya bisa pasrah. Keinginannya untuk bertemu langsung dengan dokter tampan itu memang sudah terwujud. Tetapi, haruskah ia mengalami keadaan seperti ini dulu baru bisa berinteraksi langsung dengannya? Bagaimana kalau sebelum-sebelumnya Sakura coba memberanikan diri untuk menyapa duluan? Bagaimana kalau ini semua hanya kebetulan? Masih lebih baik. Bagaimana kalau ini semua hanya mimpi?

Tidak, tidak. Jelas ini bukan mimpi. Kemarin itu Sakura benar-benar berjalan pulang di bawah rintik hujan tipis. Ia jadi takut dengan keadaan hujan seperti itu mulai saat ini. Pasalnya, beberapa kali ia terguyur hujan deras sampai basah kuyup—tidak mandi dan keramas pula—, tubuhnya baik-baik saja. Hanya mengalami menggigil akibat kedinginan, lalu esok hari sudah kembali pada suhu tubuh normal.

Pintu terbuka, lalu ditutup kembali. Tangan kanan Sasuke memegang sepapan parasetamol, tangan kirinya membawa segelas air hangat—terlihat dari asap tipis yang mengepul di permukaan air dalam gelas bening tersebut. Ia mendekati Sakura dan memintanya bangkit dengan posisi duduk untuk menelan sebutir pil obat penurun demam dan penghilang nyeri tersebut. Juga meminta gadis bersurai merah muda sebahu itu untuk meneguk air sampai habis.

Tentu saja Sakura tak bisa menghabiskannya sekaligus. Ia belum mencapai usia dewasa, jadi masih ada sensor menolak dari tubuhnya untuk meneguk sekaligus sampai habis. Apa boleh buat, ia diminta kembali oleh Sasuke untuk berbaring dan beristirahat. "Kak..." panggilnya lagi, masih dengan nada lemah.

"Hm?" Sasuke meletakkan gelas dan papan obat itu di meja sebelah kiri kepala Sakura.

"Aku tidak sedang bermimpi, 'kan?" tanya Sakura, masih ingin memastikan.

Alis Sasuke bertaut. Dia sempat berpikir bahwa Sakura tengah mengigau sebagai efek sakit di kepalanya. Namun ia tak ingin beranggapan tidak jelas seperti itu. "Jelas tidak," balasnya dengan nada datar. "Kenapa bertanya seperti itu?"

"Karena... Akhirnya aku bisa bertemu langsung denganmu." Kemudian Sakura menceritakan segala hal tentang dirinya yang sering memperhatikan Sasuke berdiri di depan pintu kaca rumah sakit. Baik siang maupun sore. "Wajahmu tampan, sih. Mataku tak bosan melihatnya." Ia akhiri dengan tawa canggung, takut kalau-kalau lelaki itu tidak suka mendengarnya. Mengingat Sakura juga sering membaca cerita-cerita fiksi remaja di mana tokoh-tokoh tampan menanggapi pujian-pujian penggemarnya dengan dingin.

Tidak dengan Sasuke. Bahunya terangkat sedikit setelah mendengar pengakuan itu. "Bicara apa? Memangnya aku artis?" Ia tertawa singkat, terdengar seperti meremehkan—ya, dia meremehkan dirinya sendiri yang merasa tak punya karisma seperti artis-artis terkenal di luar sana.

"Idola tidak harus seorang artis. Dokter juga pekerjaan yang berat, lho."

Seumur hidup, baru kali ini Sasuke mendengar ungkapan perasaan yang ditujukan padanya sepolos dan sejujur itu. Ia malu-malu bahagia, tapi emosinya masih terkontrol dengan baik sehingga tak terlihat lewat ekspresi di wajahnya. "Terima kasih, ya," ucapnya, memutuskan untuk melayangkan senyum tipis. "Namamu siapa?"

"Ruangan ini, Kak." Yah... Sakura sempat mendengar ucapan petugas resepsionis tadi. Tapi satu hal, kau masih saja sempat berteka-teki, ya, Sakura.

Jawaban itu sekali lagi membuat Sasuke berpikir, sampai memiringkan kepala. "Ceri?" Kata itu terdengar asing untuk nama orang Jepang. Tapi, apa yang berhubungan dengan ceri di Jepang? "Tunggu..., Sakura?"

"Benar. Hehehe."

"Ah, kalau aku, Sasuke. Sasuke Uchiha."

Sakura mengangguk dalam posisi berbaringnya. "Sudah tahu. Ada di tanda pengenalmu." Tatapannya bergerak ke arah dada kiri atas Sasuke. Pada saku kemeja biru terang bergaris putih yang dikenakannya terjepit sebuah tanda pengenal.

Baru ingat. Sasuke ingin menepuk dahi atas kecerobohannya itu. Tapi ia malah hanya mengusap belakang lehernya sebagai bentuk salah tingkah. "Ya, sudah. Istirahatlah dulu," perintahnya, mengalihkan pandangan menuju tirai pembatas di sebelah kanan kasur Sakura. "Tunggu sampai demammu turun, baru boleh pulang."

"Tapi, rumahku di ujung perempatan ke dua, lho. Aku bisa istirahat di rumah." Sakura mulai merasa tidak enak telah merepotkan Sasuke. Apalagi ia tidak akan membayar sepeser pun untuk bantuan dari Sasuke ini. "Ehm... Bagaimana kalau Kakak berbuat sesuatu padaku saat aku tidur?" Hanya bercanda sebenarnya. Sakura punya firasat baik dari aura hangat yang dipancarkan oleh Sasuke saat tubuhnya diangkat tadi.

"Kau mau nama kampusku tercoreng karena kasus menjijikkan seperti itu, ya?"

Terdengar seperti Sakura yang menginginkan hal itu terjadi. Tapi, benar juga. Sepasang zamrud itu bisa melihat, di bawah nama Sasuke tertera tulisan 'koass' yang diantarai oleh garis tebal. Sasuke masih calon dokter. Berarti, Uchiha itu masih dalam masa semacam magang di rumah sakit ini. Ia harus hati-hati dalam bekerja agar terlatih saat sudah menyandang gelar dokter setelah lulus nanti.

"Maaf, maaf," Sakura panik mendengar intonasi dan air muka datar Sasuke. Mata hitamnya memang tak menatap tajam seperti mengancam, tapi Sakura tetap merasa bersalah. "Baik, aku akan istirahat seperti yang Kakak bilang," Ia menurut. "Tapi jangan lihat! Aku malu!"

Sasuke mendengus. "Kukira kau mau aku mengelus-elus kepalamu agar bisa tertidur dengan segera." Eh?—Ia kaget dengan ucapannya sendiri. Baiklah, kali ini semburat merah muncul di kulit putih pipinya. Sebenarnya, tadi ia hanya teringat oleh sang kakak yang sering melakukan hal itu padanya saat kecil. "M-Maaf, aku akan duduk di sofa saja." Berbalik, duduk di salah satu sofa di samping pintu ruangan, di mana sofa satunya di sebelah kanannya tergeletak ransel merah marun kesayangan Sakura. Ia menopang dagu dan membelokkan wajah sampai keluar dari zona pandang Sakura.

Sakura tertawa kecil mendengarnya. Ia coba memejamkan mata, lalu benar-benar terlelap meski denyut di kepalanya masih terasa.

Melihat si "Ceri" sudah terlelap, Sasuke meluruskan kepalanya lagi menghadap langsung ke arah kasur Sakura. Kemudian perhatiannya teralih pada ransel Sakura. Ia coba mengangkat tas sekolah gadis itu. 'Beratnya melebihi normal...' batinnya, lalu meletakkan ransel itu lagi seperti sedia kala.

Dalam hening Ruang Ceri, Sasuke teringat akan sang kakak yang selalu memperhatikannya dalam keadaan apapun, terkhusus di kala ia menderita sakit seperti gadis di kasur itu. Pikirannya melayang pada Itachi yang tak lelah memberinya perhatian penuh ketika merawat dan menjaga dirinya yang terbaring di kamar saat usianya masih terbilang belia. Sang kakak yang kini tengah bekerja di luar negeri akan selalu menemaninya dengan duduk di sebelah kasur sampai Sasuke membaik. Hal itu membuatnya terkenang kembali pada keinginan lamanya ketika masih seusia Sakura; ingin memiliki adik, agar bisa membalas rasa sayang dan peduli kakaknya pada sang adik khayalan.

Kini, Sasuke memandang lama Sakura dari jarak tiga meter di kasurnya, membayangkan bagaimana jika siswi SMP itu menjadi adik angkatnya. Membuat raganya bangkit dan melangkah menuju kasur Sakura—mumpung dara itu juga sudah terlelap, ia memberanikan diri untuk datang mendekat padanya.

Sasuke menarik salah satu bangku. Duduk di pinggir tempat tidur, di sebelah kanan Sakura, menunggu gadis itu sampai terjaga. Suhu napas yang keluar dari hidung Sakura terasa hangat. Sasuke meletakkan punggung tangannya di dahi Sakura. Masih hangat, tapi tidak sepanas tadi. Rona merah pun masih terlukis di wajah pucat Sakura, pertanda ia sedang berjuang menahan rasa sakit di kepala dalam lelap.

Janji adalah janji. Harus ditepati. Sesuai dengan perkataannya, Sasuke akan menunggu Sakura beristirahat sampai ia bangun lagi, bahkan jika malam telah datang sekalipun. Baru kali ini ia menghadapi situasi seperti ini, membuat keputusan sendiri, dan tak ada rasa sesal barang sedikit yang muncul dalam dirinya. Malah lega yang ia dapatkan. Entah kenapa, ada rasa puas tersendiri jika dirinya memberi bantuan tanpa pamrih. 'Apakah ini yang dinamakan pengabdian?' batinnya, mulai meletakkan kepala di pinggiran kasur. Pipi kirinya menempel pada sprei agar ia bisa melihat Sakura.

Hari ini cukup melelahkan baginya. Hari ini pula untuk pertama kalinya ia dipulangkan siang bolong begini. Biasanya saat petang atau larut malam. Meski begitu, rasa kantuk tetap menyerang oleh karena waktu istirahatnya pun tak teratur. Sudah menjalani masa koass, tapi harus tetap membuat laporan berkala serta tugas-tugas sisa perkuliahan. Hembusan angin pendingin ruangan yang tak terlalu rendah suhunya membuat mata Sasuke terasa berat. Beberapa kali ia coba untuk bertahan agar tidak tertidur dengan memukul-mukul pipinya.

"Mhm..." Kelopak mata Sakura bergerak-gerak.

Membuat Sasuke refleks berdiri—Masa' dia ikutan tidur-tiduran? Nanti Sakura malah kecewa melihatnya tidak profesional sebagai seorang calon dokter. Tapi sepasang kelopak mungil itu tak kunjung terbuka. Kelihatannya Sakura sedang bermimpi sesuatu yang bergerak-gerak aneh, menaik-turunkan sudut pandang matanya; efek sakit kepala.

Melihat Sakura sudah tenang, Sasuke duduk kembali. Matanya sudah merah dan sangat berat. Kepalanya juga. Lengan kirinya telah menjelma jadi bantal, sebagai alas untuk pelipis sampai pipi kirinya. Netranya kembali memandang Sakura sejenak, lalu tangan kirinya terselip ke balik selimut yang menaungi hampir seluruh tangan kiri Sakura. Diraihnya telapak tangan Sakura yang tak terlalu mungil namun lebih kecil dari miliknya itu. Menggenggamnya pelan, memejamkan mata, sembari memutar kembali memori ketika ia masih kecil dan dalam keadaan sakit seperti Sakura; Tertidur di kasur, lalu terbangun dengan tangan kiri dalam genggaman sang kakak.

Dan kali ini si Uchiha terlelap sungguhan. Larut dalam mimpinya yang semoga saja tak terhubung dengan mimpi Sakura. Bisa merepotkan nanti.

Setengah jam berlalu. Sakura menguak mata perlahan karena masih terasa berat. Kepalanya juga, namun tidak dibarengi rasa sakit yang luar biasa seperti sebelumnya. Tubuhnya juga terasa hangat, terlihat dari bulir-bulir peluh di dahi serta lehernya. Mungkin efek obat. Harusnya pendingin ruangan bisa menghilangkan itu, bukan?

Masih dalam posisi berbaring, Sakura merasa tangan kirinya bersentuhan dengan sesuatu. Ia sibak selimut untuk memastikan hal itu adalah sebuah kebenaran—Ya, tangan mungilnya tenggelam dalam genggaman tangan sang calon dokter. Pelan-pelan ia tarik agar tidak membangunkan pemuda tampan itu. Mengubah posisi menjadi duduk, mengibarkan selimut dan menempelkannya pada daerah punggung Sasuke.

"Tak kusangka bisa benar-benar bertemu langsung denganmu," ucapnya pelan, menggeleng heran atas takdir baik yang menghampirinya siang ini. "Kakak istirahat dulu, ya. Pasti capek bekerja seharian." Nadanya prihatin, teringat akan dirinya sendiri yang sejak kecil menolak mentah-mentah untuk bercita-cita menjadi dokter. Kemudian Sakura turun dari kasur—dari sisi kanan, pastinya—untuk membasuh muka, merapikan seragam, dan bersiap-siap kembali. Tapi, tunggu sampai Sasuke bangun, dong. Hahaha.

Ruang perawatan yang kecil dan kedap suara membuat bunyi air mengalir dan berjatuhan ke lantai terdengar oleh Sasuke. Spontan ia sadar dari lelap, mendapati sang pasien sudah tidak pada posisinya. Terasa ada sesuatu di punggung dan kemudian menyadari bahwa itu selimut. 'Oh? Dia menyelimutiku?' batinnya dalam hati. Meraih selimut itu, berdiri untuk melipatnya, dan kemudian diletakkan kembali di atas kasur seperti semula. Mengucek mata beberapa kali, kemudian duduk dan bersandar di bangku.

Terdengar suara pintu terbuka. Kemudian bunyi saklar ditekan. "Wah! Kakak sudah bangun?" ceplos Sakura dari belakang Sasuke. Ia mendekati meja di dekat kasur tempat ia berbaring tadi untuk mengambil beberapa helai tisu guna mengeringkan wajah basahnya. "Cepat sekali bangunnya. Kakak tidak capek?" tanyanya masih sambil menyeka beberapa sudut wajah yang masih tertempel butir air.

Dengan senyum hangat tapi wajah mengantuk, Sasuke mengangguk. "Sudah, sudah cukup tidurnya," timpalnya sok berwibawa. "Nanti di rumah disambung lagi." sambungnya, tetap berkata jujur sesuai situasi dan kondisi fisiknya yang sedikit memprihatinkan.

Sakura mengangguk-angguk polos. Padahal dalam hatinya ia lega. Pasti waktu istirahatnya sangat sedikit, pikirnya. Gumpalan tisu bekas ia pakai telah berpindah ke tempat sampah di dekat toilet. "Kalau begitu, Kakak sudah boleh pulang sekarang."

"Tidak bisa."

"Eh?" Sakura menoleh dengan ekspresi heran campur bingung. "Kenapa?! Mau lanjut tidur, 'kan? Besok harus kerja lagi. Pasti capek," Celotehannya mulai terdengar sok tahu, tapi Sasuke terenyuh bagai dihujam ribuan jarum. "Kakak harus istirahat yang cukup!" Baik, Sakura mulai terdengar seperti kakak dan ibunya sekarang, hanya saja dengan tubuh lebih mungil dan gaya berbicara yang tidak terlalu dewasa.

"Aku harus mengantarmu. Sampai depan rumah."

Rona merah di wajah Sakura muncul lagi. Kali ini pipinya terasa panas bukan karena sakit, tapi malu. Alisnya bertaut, mulutnya menganga seakan ingin mengatakan sesuatu tapi malah tercekat karena terlalu syok.

Tawa Sasuke terdengar mengejek sekaligus menggoda. Takkan ia biarkan Sakura mematung di depan toilet lebih lama lagi. Gadis itu harus bereaksi. Kalau tidak, Sakura akan semakin lama untuk kembali ke rumah. "Mau digendong atau naik taksi?" tawarnya. Berjalan mendekati Sakura dan mengulurkan tangan kanannya yang setengah telanjang karena lengan panjang kemejanya telah tergulung sampai siku. "Bagaimana, Tuan Putri?"

"K-Kak! Berhenti!" Kepala Sakura berasap. Muka dan telinganya benar-benar merah sekarang. "Aku malu!" Ia bukan seorang gadis tsundere. Apapun itu, ia akan menyampaikan perasaan secara frontal.

"Ahahaha~ Bercanda."

Bahu Sakura naik-turun seperti orang dengan penyakit pernapasan. Ia mengatur sirkulasi udara dalam jantung dan paru-parunya agar bisa berpikir normal kembali. Menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Baik, sudah kembali seperti sedia kala.

"Kalau digendong, Kak Dokter akan kelelahan. Kalau naik taksi, terlalu boros, karena rumahku tak jauh lagi dari sini. Kalau berjalan..." Sakura menopang dagu dengan punggung tangan kanannya. Sekejap kemudian, ia menjentikkan jari. "Ya! Jalan kaki adalah pilihan terbaik!" simpulnya, berair muka puas layaknya baru memecahkan sebuah persoalan yang sulit.

Sasuke tertawa mendengarnya. Selain cerdas, anak ini baik perangainya. Andai setiap anak di dunia bisa seperti Sakura—tapi itu tidak mungkin. Paling tidak, kehangatan menelusup dalam hatinya. Melayani pasien dengan tulus, lalu mendapat balasan yang menyenangkan seperti ini, merupakan kepuasan tersendiri bagi dirinya yang mengabdikan diri sebagai calon pekerja di bidang kesehatan.

Ransel merah Sakura yang cukup berat itu telah berpindah dari sofa lewat tangan Sasuke, dan saat ini sudah menempel di punggung Sakura. "Apakah setiap hari memang seberat itu?" tanyanya, khawatir pada pertumbuhan tinggi Sakura di masa depan.

"Ini tidak berat," sanggah Sakura, menarik tali pengerat ranselnya agar tidak terlalu ke bawah. "Biasanya hari Senin yang berat."

Hanya bisa menghela napas heran. Seingatnya, Sasuke dulu tak pernah membawa tas seberat itu. Yah... Mau bagaimanapun, otaknya yang encer tak perlu terlalu keras belajar karena daya tangkapnya yang cepat diikuti daya ingat yang kuat. Hal itu yang menjadi alasannya tak perlu membawa terlalu banyak buku pelajaran dan buku tulis.

Sakura mendongak, memandang Sasuke untuk memberi komando. "Yuk?" ajaknya.

Yang kemudian dibalas dengan anggukan kecil dari Sasuke. Berdua mereka meninggalkan ruangan. Pamit pada beberapa dokter dan perawat yang lewat—Sakura juga ikut membungkuk-bungkuk. Membuat bisikan-bisikan seperti mereka terlihat seperti kakak dan adik, atau ayah dan anak, atau bahkan sepasang kekasih. Uchiha itu hanya bisa tertawa renyah menanggapinya. Sakura pun tak terlalu acuh sehingga senyum canggungnya juga tercipta seiring dengan gerakan tangan yang menggaruk-garuk kepala.

Hembusan pendingin ruangan telah hilang. Mereka sudah di luar area rumah sakit, hendak menyeberang jalan. Biasanya, Sakura bisa menyeberang dengan aman sentosa. Tapi Sasuke khawatir karena gadis itu baru saja melewati masa pemulihan. Ia beranggapan bahwa sistem koordinasi Sakura belum stabil, bisa-bisa pusingnya muncul kembali. "Jangan lepaskan tanganku," pesannya, langsung menggenggam erat tangan mungil Sakura. Melihat kanan-kiri, memastikan sampai jalanan benar-benar kosong atau meskipun ramai tapi dalam keadaan aman untuk menyeberang. "Ayo!" komandonya, berusaha melangkah tak terlalu panjang seperti biasa agar Sakura dapat menyeimbangkan kecepatan kaki mereka.

"Terima kasih, ya, Kak," ucap Sakura, menoleh dan memiringkan kepala ke atas sampai sekian derajat agar bisa melihat wajah Sasuke. "Bukan hanya untuk menyeberang tadi. Tapi semuanya. Aku berutang banyak padamu!"

Tanpa membalas tatapan Sakura, ia menjawab, "Tidak perlu berutang," Nadanya tegas, setara dengan tatapannya yang lurus ke depan seakan fokus pada target yang sudah pasti. "Raih saja impianmu. Itu sudah menjadi balasan terbaik untukku." pesannya, tetap tak ingin tinggi hati.

"Uh... Sudah tampan, pintar, baik pula! Apakah aku boleh menjadi perawat pribadimu di masa depan, Kak?" Sakura berandai-andai, membayangkan drama-drama di televisi yang pernah ia tonton beberapa kali. Terdengar suaranya memekik tiga detik kemudian.

"Tanggung sekali. Kenapa tidak jadi adikku saja?" Karena ia anak bungsu, terbesit di pikiran untuk memiliki adik seperti gadis yang berjalan bersamanya itu.

"Tanggung? Kalau begitu, jadi istri saja sekalian! Kyaaa!"

Tawa Sasuke pecah, tapi tak sampai menggelegar. Pikirnya, tidakkah Sakura malu saat mengucapkannya? Apakah dirinya hanya dianggap sebatas idola para gadis remaja atau serius ingin menjadikan dirinya sebagai suami di masa depan? Pasalnya, aura yang keluar dari Sakura berbeda dengan teman-teman semasa sekolah dan kuliahnya dulu yang berusaha mengejar dan menggodanya dengan keinginan untuk menjadi pendamping hidup.

"Tidak boleh," tolak Sasuke halus. "Kau harus mencari orang yang jauh lebih baik dari padaku," tekannya, memberi nasihat secara asal tanpa berpikir dulu. "Lagipula, jarak usia kita terlalu jauh. Akan menyulitkan nanti."

"Heee? Yang lebih baik darimu? Pasti akan sangat sulit menemukannya!" Nada Sakura terdengar merengek.

"Tetap tidak boleh."

Hening sejenak. Bibir Sakura meruncing dalam beberapa detik. Menunggu Sasuke mengucapkan kata-kata semacam 'Bercanda~ Ayo kita menikah!'. Namun otaknya menendang kognisi itu jauh-jauh. Kepalanya menggeleng-geleng. "Baiklah, baiklah~" Ia menyerah. Menghela napas, tersenyum lega di bawah langit sore yang masih belum berubah jingga.

Sakura menghentikan langkahnya ketika mereka telah tiba di depan pagar kecil rumah si Haruno itu. Melihatnya, Sasuke ikut berhenti melangkah. Kini mereka berhadapan. Sakura berdiri di depan pagar, Sasuke berdiri menatap bocah bersurai merah muda itu dengan senyum manisnya.

Sang dokter membungkukkan tubuh sampai puncak kepalanya berada pada posisi yang sama dengan puncak kepala Sakura. Kepalanya bergerak mendekati wajah Sakura sampai onyx-nya dan zamrud gadis itu bertemu. Perlahan, tangan kanan Sasuke berpindah dari samping pinggang menuju dahi Sakura. Ia luruskan dan rapatkan telunjuk serta jari tengahnya, mengetuk pelan dahi mulus Sakura. "Jangan lupa belajar." pesannya setelah terdengar bunyi 'tuk', dengan suara yang sungguh menyejukkan hati manusia di hadapannya itu.

Bahu Sakura terangkat. Senyumnya merekah. Wajahnya pun menampilkan semburat merah, campuran rasa malu namun juga bahagia. "Baik!" Ia mengangguk mantap sembari mendongak karena Sasuke sudah kembali tegak. Suaranya sebisa mungkin dibuat untuk meyakinkan Sasuke.

"Aku pamit." Sasuke berbalik. Angin sepoi menerbangkan beberapa dedaunan dan meliuk-liukkan rambutnya, juga rambut Sakura.

Menambah kesan dramatis sampai-sampai manik zamrud Sakura berbinar-binar, tak lelah memandanginya. Bahkan melihat dia berjalan dari belakang saja membuatnya begitu terpesona. Gejolak kagumnya masih menetap dalam diri sampai Sasuke benar-benar hilang dari pandangan.

"Sampai ketemu lagi di lain waktu." bisik Sakura, memasuki rumah dengan hati berbunga-bunga.

Selesai

Dah lah. Ga ngerti lagi, heuheu :')

Semoga suka, ya, semua~ Selamat ulang tahun untuk Sakura Haruno~