Warning : Mature Content

Oneshoot

Ino Yamanaka X Itachi Uchiha


Tek... tek... tek... Tangan Ino dengan terampil dan hati-hati tengah memotong sayuran di depannya. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sebentar lagi 'dia' pulang. Ino harus cepat menyelesaikan masakannya.

"Ino... Aku pulang.." suara bariton terdengar dari ruang tamu. Mendengarnya, Ino mematikan kompor dan terburu menuju si sumber suara.

"Ah, Itachi. Maaf, makan malammu belum siap. Tak akan lama. Tadi aku sempat tertidur, maaf." Ino menghampiri Itachi yang sedang terduduk di sofa. Itachi tak menjawab hanya memperhatikan Ino yang saat ini berjongkok di depannya tengah membuka sepatu dan kaos kakinya.

"Ino, duduk disini." Itachi menepuk tempat di sebelahnya. Ino yang baru meletakkan sepatu Itachi di rak pun, menoleh.

"Tapi aku harus segera kembali ke dapur." Walaupun Ino berkata demikian, ia tetap menuruti perkataan Itachi.

Itachi menatap lekat Ino. Menyentuh dagu wanitanya. Ino Yamanaka. Wanita yang dikencaninya semenjak dua tahun silam.

Itachi mendekatkan wajahnya. Hendak mencium Ino. Melihat gerakan Itachi, Ino buru-buru menahan dada pria itu. Menolak.

"Itachi. Aku harus memasak. Kau harus makan malam." Ino menolak bukan berarti tak mau disentuh oleh pria di depannya. Ino tahu pasti, apabila ia menerima ciuman Itachi, pria itu tidak akan melepasnya dan mereka akan berakhir di ranjang sampai esok, dan setelahnya Itachi merengek seharian karna maagnya kambuh.

"Tapi aku tidak lapar, Ino." Itachi cemberut. Berlagak merajuk namun dengan cara yang imut (hehe). Melihatnya, Ino menghela nafas jengkel. Ino menangkup wajah Itachi dan memagut bibir laki-laki itu. Baru saja Itachi hendak membalas ciuman wanitanya, Ino melepasnya, dan kemudian berdiri akan melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Itachi dengan kecewa mengekor di belakang Ino.

Itachi berdiri di belakang Ino yang tengah melanjutkan masakannya. Melingkarkan tangan kekarnya di perut Ino. Memeluknya dari belakang. Itachi menyenderkan kepalanya di bahu Ino. Menghirup dalam-dalam aroma bunga yang menguar dari tubuh Ino. Wanita ini benar-benar telah menjadi candu baginya. Itachi mengecup leher mulus Ino. Dilihatnya masih banyak bekas-bekas kissmark di sana. Ino berbalik, menghadap Itachi.

Ino menggeleng-gelengkan kepalanya, memberi isyarat Itachi bahwa ia tidak ingin kegiatannya diganggu. Itachi menyerah. Dengan malas melepaskan pelukannya dan menuju meja makan.

Tak butuh waktu lama, semangkuk nasi dan sup ayam tersaji di depannya. Dengan hati-hati Itachi menyendok dan meniupnya karena benar-benar masih panas. Bukan memakannya, Itachi malah menyodorkan sendoknya pada Ino. Hendak menyuapi wanita itu.

"Tidak, Itachi. Kau harus makan. Kau tahu kan aku tidak terbiasa makan malam." Ino mengambil sendok Itachi dan menyuapkannya kepada laki-laki itu.

"Emm.. Inhi enhawk..." seperti biasa, masakan Ino sangat lezat. Ino hendak menyuapi Itachi lagi, namun Itachi menahan tangannya.

"Ayolah rasakan masakanmu, Ino. Ini benar-benar lezat. Tubuhmu sudah sangat sempurna. Lagi pula, aku tak masalah jika kau bertambah berat. Kau tahu kan otot-ototku bukan main?"

"Baiklah-baiklah tuan cerewet." Ino pun menyerah.

ooooo

"Itachi. Aku sudah mengisi bak mandimu. Kau bisa mandi sekarang." Itachi merentangkan tangannya. Mengerti, Ino membuka kancing demi kancing kemeja Itachi. Memperlihatkan dada bidang dan otot-otot tubuh yang terpahat sempurna. Ino sudah sering melihat tubuh polos Itachi, namun entahlah, ia selalu merasa pipinya panas dan gugup.

Ino membuka ikat pinggang Itachi perlahan, lalu membuka celana Itachi selanjutnya. Ino menahan napas. Ia yakin wajahnya sangat merah sekarang. Ino harus berterima kasih kepada lampu kamar Itachi yang remang-remang, membuat rona merah di wajahnya tak terlihat jelas.

Kain terakhir yang membungkus tubuh Itachi terlepas sudah. Pandangan Ino otomatis terpaku pada bagian bawah pria itu. Ah, Ino jadi teringat bagaimana rasanya setiap kali Itachi memasukinya.

'Ino bodoh! Apa yang kau pikirkan!' Ino mengomel dalam hati. Sadar akan arah pandang Ino, Itachi menyeringai.

"Ingin bermain dengannya, Ino?" Ino otomatis mendongak. Merasa malu akan ucapan bar-bar Itachi.

Melihat ekspresi Itachi yang seolah ingin menertawainya, membuat Ino jengkel. Ino menarik tengkuk Itachi mengecup singkat bibir tebal laki-laki itu.

"Siapa takut?" Ino menggerakkan tangannya mengelus dada Itachi. Dan jangan lupakan, senyum menggodanya itu. Tanpa berlama-lama Itachi membopong Ino menuju kamar mandinya. Dan acara mandi itu berlangsung lebih lama dari biasanya.

ooooo

Ino mengerjapkan matanya. Terganggu dengan cahaya matahari yang menerobos gorden merah anggur Itachi. Ino sudah protes pada ltachi untum mengganti warna tirai jendelainya itu, tapi Itachi bersikukuh ingin memakai warna itu dengan alasan menjadikan suasana kamarnya erotis saat terkena cahaya matahari. Dasar pria mesum!

Ketika Ino hendak bangkit dari posisinya, lengan Itachi malah mengeratkan pelukannya. Semakin menempelkan tubuh polos mereka. Ino menyerah, membalas pelukan Itachi. Namun, ada sesuatu yang aneh menekan perutnya.

"Rutinitas pagi, Ino." Ucap Itachi dengan mata masih terpejam. Ya, ya, Ino paham apa maksud perkataan Itachi. Setiap pagi memang seperti ini. Dan nantinya, Itachi akan terus merengek melakukan 'itu'.

Ino sangat sangat paham sifat, watak, dan kepribadian Itachi. Pada awalnya, Ino sempat ragu dengan perasaan Itachi. Apakah laki-laki itu benar mencintainya atau hanya ingin menikmati tubuhnya. Namun dengan waktu dua tahun dengan Itachi, melewati segalanya bersama Ino menjadi yakin dengan pria itu. Bukan hiperbola. Namun memang hanya Itachi satu-satunya orang yang Ino miliki, semenjak orang tuanya meninggal saat Ino remaja.

Itachi menyentuh dagu Ino. Mempertemukan bibir mereka. Sungguh, bibir Ino seolah mengundang untuk dikulum. Itachi menggigit-gigit kecil bibir Ino meminta akses untuk masuk. Dengan senang hati, Ino membuka mulutnya, memberi izin Itachi untuk mengeksplorasi mulutnya. Ciuman mereka semakin panas. Itachi mengubah posisinya, menindih Ino. Benang saliva panjang menghubungkan bibir mereka, tatkala Itachi melepas ciumannya.

Ino terengah, membuat dadanya ikut naik-turun ketika ia berusaha meraup oksigen. Melihatnya, membuat Itachi tak tahan untuk segera mengulum nipple pink Ino. Tangan kiri Itachi tak mau tinggal diam untuk tak meremas-remas gemas dada besar Ino yang menganggur.

"Aaahh..." Kuluman Itachi di dadanya membuat Ino benar-benar basah. Di tambah saat ini, Itachi tengah menggesekkan ereksinya di selangkangan Ino. Itachi benar-benar tahu cara merangsangnya. Ino ingin Itachi segera 'menusuknya' dengan kasar. Ino benar-benar suka bagaimana ganas dan kasarnya serangan Itachi.

Ino adalah wanita muda yang suka dengan hal-hal menantang. Apalagi dengan kekasih tampan dan seksinya itu. Jujur, Ino lebih menyukai seks yang kasar dan bergairah dibandingkan dengan seks yang lembut.

Ino merasakan penis Itachi semakin keras dan besar. Bagaimana Ino bisa pergi ke laki-laki lain, apabila laki-laki yang saat ini tengah menindihnya itu sudah cukup membuat hati dan tubuhnya porak poranda. Yang Ino tahu, Ino sangat mencintai Itachi, dan Itachi pun demikian.

"Ughhh... Itachihh... Kumohon..." Ino sudah tak dapat menahan hasratnya.

"Apa yang kau inginkan, sayang?" Itachi tengah menjilati belakang telinga Ino.

"B-berhenti... mempermainkankuu..." Tangan Ino merambat turun, hendak memasukkan sendiri ereksi Itachi ke selangkangannya. Melihatnya, Itachi langsung menahan tangan Ino diatas kepalanya. Mengunci kedua tangan Ino dengan satu tangan besarnya.

"Itachiii... Cepatttth." Ino berteriak frustasi. Bagian bawahnya benar-benar sudah ingin diisi. Namun, nampaknya Itachi masih ingin bermain-main dengan tubuh Ino.

Tangan Itachi membuka laci meja yang ada di dekatnya. Mengeluarkan sebuah dasi kerjanya dan mengikat tangan Ino.

"Itachii... tolong lepaskan ini." Ino menggerak-gerakkan tangannya berupaya melepas ikatan dasi Itachi di tangannya.

"No, Ino. Aku tidak ingin kamu menggangguku." Itachi meyingkap selimut yang menutupi sebagian badan mereka. Membuka lebar kaki Ino. Itachi mendekatkan wajahnya ke selangkangan Ino yang sudah sangat basah.

"Ummhhh..." Ino mendesah ketika lidah Itachi menjilat vaginanya. Itachi mengecup vagina Ino seakan mencium bibir Ino. Menusukkan lidahnya ke lubang sempit favoritnya.

"Ahhhh... Itachi... Ohhh..." Ino tak hentinya mendesah. Itachi benar-benar membuatnya gila. Tubuh Ino menggeliat. Ino sudah tak ingat berapa kali dia orgasme pagi ini.

"Itachihh... Kumohon..." pinta Ino tak sabar. Itachi menghentikan aksinya dan menatap Ino.

Ino benar-benar berantakan sekarang. Rambutnya acak-acakan, bibirnya yang bengkak, dan ekspresi terangsang Ino.

'Shit!' Itachi mengumpat dalam hati. Pria itu berniat mengerjai Ino, namun melihat Ino yang tak berdaya di bawah kungkungannya kini dengan ekspresi memohon untuk disetubuhi membuatnya lepas kendali. Ino adalah kelemahannya. Wanita ini, tak akan pernah ia lepas sampai kapanpun.

"Katakan Ino. Katakan padaku, apa yang kau ingin aku lakukan." Itachi berbisik di telinga Ino. Suara serak dan berat Itachi membuat Ino semakin terangsang.

"Aku ingin kau cepat memasuki ku, Itachi. Aku ingin penismu yang besar itu merusakku. Menusukku dalam dan keras."

Runtuh sudah pertahanan Itachi. Ia menyerah. Tak ada lagi niat mempermainkan Ino. Tubuhnya sudah sangat ingin bersatu dengan Ino.

Jlebbb... Itachi memasukkan penisnya ke vagina Ino dalam sekali hentakan..

"Aghhh... Itachihh..." Ya, ini yang sejak tadi Ino inginkan. Dengan kasar dan tempo yang cepat, Itachi meng-in-outkan penisnya. Vagina Ino benar-benar menjepitnya dengan ketat. Tak peduli sudah berapa kali mereka melakukan seks.

"Ahhh... ahhh.. Ahhh.." Ino melingkarkan kedua kakinya di pinggul Itachi. Mereka bergerak seirama.

"Ino... Ah... Aku..." Itachi bergerak semakin cepat menandakan ia akan segera klimaks.

"Yeahh... Itachi...Keluarkan semuanyaaaahh.."

"Aghhhh..." Itachi dan Ino mendesah bersamaan. Itachi sepenuhnya menindih tubuh Ino. Wanita itu menangkup wajah Itachi dan menciumnya.

"Emhhh.. " Ino mendesah, ketika ia merasakan penis Itachi yang masih di dalam tubuhnya kembali mengeras.

"Kau tahu kan, Ino. Aku tak cukup hanya dengan satu permainan?" Itachi menyeringai.

Desahan dan erangan kembali menggema di ruangan itu disertai dengan deritan-deritan ranjang yang menandakan kegiatan panas seperti sebelumnya kembali dimulai.

.

.

FIN

.

.


Holaa... Aku kembali dengan oneshoot.

Mencoba memberikan sedikit hiburan supaya gak bosan di rumah yaaa...

Semoga sedikit imajinasi yadongku ini mengurangi penat kalian. ihihihi :'D

Aku akan berusaha sering mengupdate cerita-cerita oneshoot jikalau sedang tak ada tugas kuliah yaa :"

Stay safe readersku terseyeng!!