Night in the Train © Jogag Busang

Haikyuu! © Furudate Haruichi

Saya tidak mengambil keuntungan finansial dari karya transformatif ini

Tsukishima Kei/Kageyama Tobio

.

.

Semesta tak pernah lelah menipu. Hujan yang menampar jendela kereta adalah salah satunya. Beberapa penumpang mengeluhkan malam yang semakin dingin dan mereka tak berhenti bertanya apa yang harus mereka lakukan saat tiba di stasiun nanti jika hujan belum juga berhenti. Sementara beberapa yang lain malah bersyukur karena dapat tidur nyenyak bagai bayi di dalam kereta sepanjang perjalanan menuju Tokyo.

Tobio menekankan keningnya pada kaca jendela. Ia harus lebih menulikan telinganya mulai dari sekarang, semata-mata agar tidak menangkap ucehan-ocehan yang tidak perlu. Gerbong yang ia tempati sebagian besar berisi perempuan paruh baya yang baru saja pulang bekerja. Meskipun mereka tampak kelelahan, tapi hal remeh itu tidak membuat perempuan-perempuan tadi berhenti mengoceh. Barangkali mereka sedang meributkan berapa nomor lotre yang akan keluar pada akhir pekan nanti dan bertaruh siapa pemenangnya.

Seorang penumpang di sebelah Tobio terbatuk singkat, sebelum kemudian tangannya yang berbonggol-bonggol menyalakan rokok. Ia adalah lelaki tua bertopi cokelat dan berwajah keriput masam. Tobio mengamati lelaki itu dari bayangan di kaca. Dagunya tampak belum dicukur. Sejak mereka duduk bersebelahan, Tobio belum pernah mendengarnya bersuara (kecuali batuk yang lebih menyerupai deheman tadi). Mungkin lelaki itu sedang malas membuka mulut.

Melihat lelaki tua itu begitu menikmati rokoknya—terbukti dengan ekspresi bahagia pada wajahnya setiap kali ia mengisap—Tobio teringat dengan kakeknya. Kazuyo juga memiliki hobi yang serupa dengan lelaki tua itu. Hampir setiap hari Tobio melihat Kazuyo merokok, tidak peduli saat beliau melatih anak-anak bertanding voli atau sedang sendirian di rumah, Kazuyo akan terus merokok setiap empat jam sekali.

Sewaktu kecil, Tobio pernah bertanya kepada kakeknya begini; mengapa kau begitu suka merokok, padahal rokok bisa mengakibatkan penyakit jantung. Kazuyo hanya tertawa. Tapi tentu saja ia tidak puas dengan jawaban sang kakek. Tatkala Tobio remaja, ia bertanya lagi; mengapa kau sangat suka merokok, padahal rokok bisa membunuhmu. Jawab Kazuyo; sebenarnya aku tidak suka merokok, Tobio, aku hanya suka memandangi asap rokok yang keluar dari mulut dan hidungku, rasanya seperti menciptakan awan. Kemudian Kazuyo terpingkal menertawakan jawabannya sendiri.

Kazuyo berkata, "Suatu saat nanti, kau juga akan menyukai rokok, Tobio. Mungkin dengan alasan yang berbeda."

"Aku lebih suka bermain voli."

"Ya, kau akan menyukai rokok sama besarnya dengan voli. Kau pasti akan menyukai keduanya."

Setelah itu, Tobio tidak menyahut lagi. Tobio berpikir, percuma saja ia membalas. Kakeknya pasti akan membungkamnya dengan pendapat yang lebih cerdas atau lebih bodoh.

Menurut Tobio, Kazuyo adalah kakek yang paling aneh. Beliau hidup tanpa pernah mengonsumsi daging dan alkohol. Beliau rutin berlari setiap pagi selama 30 menit sejak pukul lima. Dan sepanjang pengamatan Tobio, Kazuyo juga jarang sakit. Kecuali satu bulan sebelum beliau meninggal. Penyakit jantung, begitu kata dokter.

Kemudian, Tobio masuk ke SMA Karasuno dan masuk ke klub voli. Ia pun bertemu dengan Kei. Selama beberapa waktu, Tobio sangat membenci Kei. Lelaki itu benar-benar brengsek. Mulutnya bagai serigala yang sedang kepalaran. Setiap kata-kata yang keluar dari bibirnya lebih pedas daripada merica. Dan Tobio teramat benci dengan situasi di mana Kei mengolok-ngoloknya dengan kisah memalukan saat Tobio masih SMP.

Semula memang demikian. Meskipun dalam voli mereka harus bekerja sama, kebencian itu telah mendarah daging dan tidak mudah dilupakan. Namun, mungkin karena otak Tobio yang terbentur tembok atau terganggu atau bagaimana, nyatanya dalam momen-momen tertentu, mereka bisa saling membaca hati satu sama lain hanya dengan tatapan mata. Dan kenyataan lugu yang lebih menggelisahkan, Tobio diam-diam mulai terpikat dengan Kei.

Bukan loncatan perkembangan yang menyenangkan sebenarnya. Tobio tidak bisa menampik jika ia mengagumi Kei. Entah sebab wajah cerdas dan polosnya yang keterlaluan, ataukah rupa tampan tapi nakalnya yang seperti minta dihajar, ataukah kehebatannya dalam bermain voli, ataukah kerlingan mata yang ia berikan setiap kali Tobio sembunyi-sembunyi meliriknya—atau apa pun itu—Tobio selalu dibuat terpesona.

"Kapan-kapan aku ingin mengunjungi rumahmu."

Tobio hanya diam mematung mendengarnya. Tim voli Karasuno baru saja selesai melakukan latih tanding dengan SMA Date dan tiba-tiba saja Kei mengatakan hal itu kepada Tobio sebelum ia pulang.

"Kenapa?"

"Aku harus memberimu les tambahan. Bahasa Inggris-mu masih payah, Ousama."

"Tapi kenapa tiba-tiba?"

Kei diam sebentar, seperti tengah mencari kata yang tepat untuk mengungkapkan isi pikirannya. Ia menghela napas panjang, tersenyum samar, dan menatap Tobio. Lama sekali.

"Aku sudah lelah menjaga jarak denganmu, Kageyama."

.

.

Ternyata Kei menepati ucapannya. Hal yang sungguh aneh sejatinya, mengingat biasanya ia menolak mentah-mentah ketika Hinata dan Tobio meminta bantuan kepadanya. Tobio merasa, ini seperti ada bagian dalam diri Kei yang tersembunyi, sosok yang tidak dikenalinya, yang sedang ingin menampakkan diri. Meskipun begitu, Tobio cukup senang karena ia tidak perlu lagi bersusah payah meminta tolong kepada Yachi untuk mengajarinya.

Mereka berdua belajar di kamar Tobio. Selain mengerjakan soal-soal dari Kei, Tobio hanya diam, karena ia sendiri tidak tahu harus berbicara bagaimana. Keheningan ini menciptakan keganjilan yang penuh makna, di mana keduanya saling menebak isi hati masing-masing tanpa perlu mengutarakan lewat lisan. Satu jam berlalu, dan Tobio hampir menyelesaikan seluruh soal.

Saat itulah gerimis perlahan merintik, membasahi halaman rumah Tobio. Kei yang tadinya hanya mengamati pemandangan dari jendela kamar, mendadak membuat pengakuan.

"Sebenarnya aku mempunyai rahasia." Kei merogoh saku celananya. "Jangan bilang siapa-siapa. Aku suka merokok." Ia menarik satu batang rokok dari wadah berbentuk kotak dan menyalakan pemantik.

Tobio tidak menjawab.

"Kau terkejut?"

"Tidak juga. Jika aku tidak terkejut dengan sikapmu yang berubah secara tiba-tiba, maka untuk satu hal ini, kurasa aku tidak perlu terkejut juga, 'kan?"

Kei menyelipkan satu senyuman berani. "Kau benar juga." Ia mulai mengisap rokok tersebut. "Kau tidak keberatan, 'kan, jika aku merokok di kamarmu?"

Tobio menggeleng, masih sedikit linglung. Jujur saja, perbuatan yang Kei lakukan barusan mengingatkan Tobio akan sesuatu di masa lalu yang sudah lama terlupa.

"Akiteru tidak suka aku merokok. Dan aku juga tidak suka merokok di tempat ramai. Aku butuh tempat yang damai agar bisa merokok dengan tenang."

Sesuai sekali dengan karakter Kei. Oh, ya. Ini sangat Kei.

"Terserahmu." Tobio kembali menekuni soal-soalnya, kembali kepada kenyataan. "Kakakku juga jarang ke kamarku. Kau bebas merokok di sini."

Sekarang Tobio sadar untuk apa Kei mengajarinya. Bangsat benar lelaki itu. Kei memonopoli kamarnya.

.

.

Namun, jika Tobio mengira hanya itu tujuan Kei mengajarinya, ia salah besar. Masalahnya lebih parah lagi rupanya.

Tobio sedang kedinginan. Ia tidak mengira jika musim hujan akan sebegini merepotkan. Latihan voli tetap berjalan sebagaimana biasanya tapi ia kehujanan saat pulang. Ketika Kei datang, kepala Tobio sedikit pusing.

"Kurasa aku tidak bisa mengerjakan satu soal pun hari ini. Maaf."

"Artinya kunjunganku tidak berguna. Sial."

"Kau bisa pulang sekarang jika kau mau." Tobio bergerak menuju ranjang. "Aku ingin tidur sekarang."

Kei membenarkan posisi kacamatanya. "Kau memang sebaiknya beristirahat." Tak disangka, Kei duduk di ujung ranjang. "Tapi aku tidak mau ke sini hanya untuk menontonmu tidur, Kageyama."

"Apa yang—"

"Aku juga ingin tidur, bolehkah?"

Senyum manis itu, rasa-rasanya Tobio ingin memotretnya. Senyum yang lugu, tapi juga menggoda. Tobio merasa dadanya berdetak kencang saat kulit mereka bersentuhan. Tak nyaman, tapi ia tetap bertahan. Sentuhan dari kulit Kei membuat Tobio menginginkan sentuhan yang lain. Akan tetapi, Kei justru lebih dulu menyentuh pipinya, membelainya.

"Tsukishima, apa yang kau—"

"Jangan bergerak, Kageyama." Kei menahan kedua bahu Tobio. Ia tampak menjulang di atas Tobio. "Maaf, aku tidak bisa menahan diriku lebih lama."

Kemudian, Kei memeluk tubuh Tobio dan mengecup bibirnya, bahkan sebelum ia sempat memberi jawaban. Kecupan yang pelan, lembut, dan penuh desakan.

Tak ada logika yang bermain di sini. Kei sepenuhnya membiarkan nafsu merasuki dirinya. Tobio juga tidak bisa menghindar. Sungguh aneh. Ia menyukai cara Kei menciumnya. Hangat dan sesak. Liar dan nakal. Tobio megap-megap di bawahnya, tapi ia tidak ingin berhenti. Ia sedang panas. Mungkin tubuhnya mulai demam.

Kei meraba tengkuk Tobio, mengusapnya lembut sebelum turut mengusap lehernya. Sementara Tobio susah payah meremas kaos Kei, memberinya kekuatan untuk bertahan. Ia tahu ia kuat. Namun, dalam hal ini, Tobio merasa dirinya sangat lemah begitu berhadapan dengan Kei. Kesendirian yang sering ia rasakan atau kebekuan yang selama ini mendekam di antara mereka berdua, terbayarkan hanya dengan satu tindakan ini.

"Aku mencintaimu, Kageyama."

Lain kali, Tobio-lah yang mengecup bibir Kei lebih dulu.

.

.

Malam di dalam kereta sungguh dingin. Tobio mendekap jersey biru muda pemberian dari Kei sebelum mereka berpisah, merasakan kehangatan dan wangi parfum beraroma bunga mawar serta konsentrat lemon yang bercampur menjadi satu. Ada juga aroma dari tubuh Kei dan aroma rokok yang Tobio kenali, yang selama ini bersemayam di dalam kamarnya, menjadi bagian aroma dari hidup Tobio sendiri yang tidak bisa ia lepaskan begitu saja. Kakeknya benar, sekarang ia mencintai aroma rokok ini sebagaimana ia mencintai aroma permainan voli.

Tobio kemudian membenamkan wajahnya pada jersey tersebut dan membiarkan air matanya merebak.

Mana peduli jika jersey itu nanti basah. Mana peduli jika kecengengannya ini membuatnya tampak lemah. Mana peduli jika lelaki tua yang duduk di sebelahnya memandanginya. Pada detik-detik ini, yang paling Tobio inginkan hanyalah pelukan dari Kei.

Mungkin benar jika jalan hidup yang mereka berdua pilih berbeda, tapi pada intinya, tujuan mereka masihlah sama: demi mewujudkan impian. Bukan salah Kei jika ia ingin berhenti bermain voli sesudah lulus SMA dan melanjutkan ke jenjang kuliah. Dan bukan salah Tobio jika ia sendiri gigih meniti setapak demi setapak menuju karirnya dalam bidang olahraga. Apa pun itu, voli bagaikan sebuah jembatan yang telah menyatukan pemikiran mereka berdua yang cenderung berseberangan.

Ah, sudah berapa tahun waktu yang Tobio lewati sejak ciuman pertama yang membuatnya ketagihan itu? Sudah berapa puluh kali Kei mengecupnya untuk menghilangkan kegelisahan? Sudah berapa kali Kei memeluknya?

Tapi sungguh, Tobio memaki dalam batin, bangsat benar. Meskipun jarak di antara mereka kini terbentang sangat jauh, tidak terpungkiri jika Tobio merindukan ciuman membara dari Kei lagi.

[fin]

Saturday—April, 4th 2020