10.30 am.

Aula rumah Hyuuga terlihat ramai oleh para tamu undangan. Acara pernikahan Hyuuga Hinata dengan Uzumaki Naruto tengah berlangsung. Para sahabat dari dua pengantin juga ikut serta meramaikan acara saklar itu. Tapi, ada sedikit pandangan yang kurang mengenakan dari pesta tersebut.

"Selamat, ya, Naruto. Akhirnya kau menikah juga. Jangan sia-siakan dia," ucap Kiba, menyalami pengantin pria.

"Terima kasih, Kiba. Kau juga, semoga kau menemukan tambatan hatimu," balas Naruto.

"Kau menyindirku?"

"Ah, tidak. Aku hanya--"

"Tidak apa-apa, aku bercanda."

Hinata melihat percakapan mereka. Merasa kasihan pada Kiba, karena dia sendiri yang belum menikah hingga saat ini. Temen-temen mereka sudah membangun rumah tangga. Beberapa sudah memiliki anak. Ia mendatangi suaminya.

"Naruto-kun, kau tidak merasa kasihan pada Kiba-kun?" tanya Hinata.

"Sebetulnya, aku iba dengannya," jawab Naruto.

"Dia sahabatmu. Bagaimana jika kita membantunya sedikit," usul Hinata.

"Dengan cara apa?"

"Setelah pesta ini selesai. Kau bujuk dia agar tidak meninggalkan aula."

"Baiklah."

.

.

.

( . Y . )

.

.

.

9.45 pm.

Hari sudah malam. Pesta pun usai. Hanya maid-maid keluarga Hyuuga yang sibuk membersihkan tempat itu.

Kamar Hinata.

"Hinata, apa maksudnya ini?"

"Aku kasihan padanya, Naruto-kun. Bukankah kau setuju membantunya?"

"Aku memang setuju membantunya, tapi--"

"Naruto-kun, dia sahabatmu. Tidak ada salahnya kau membantunya. Untuk malam ini saja. Bukankah kau sendiri yang iba padanya?"

"Ayolah, Naruto. Bantulah aku. Untuk malam ini saja."

"..."

"..."

"Baiklah, untuk malam ini saja."

"Kau sangat baik, suamiku. Sekarang, persiapkan dirimu."

Naruto melepas semua pakainnya, seharusnya ini menjadi malam yang indah untuknya. Ia menggantungkan semua yang menempel di tubuhnya, sementara ia melihat Kiba mencium bibir Hinata di depan matanya. Lihatlah, tangannya mulai menyingkap gaun pengantin Hinata, meremas bokong sintal itu. Sesekali menamparnya. Payudara Hinata juga tidak tidak ketinggalan, ia lepas kain kimono itu. Kiba meremas juga menghisap payudara itu. Naruto entah kenapa tidak bisa berbuat apa-apa, melihat wanita yang ia nikahi sedang bercumbu dengan sahaatnya di depan mata, membuatnya sangat marah, tapi juga membuatnya bergairah, birahinya terpancing. Penisnya menegang. Rasa kesal bercampur nafsu. Naruto melampiaskannya dengan mengocok batang penisnya.

Hinata menuntun Kiba dan Naruto ke kasur yang sudah disiapkan. Naruto merebahkan diri, penisnya dikulum Hinata. Ia menghisap batang itu sampai ke pangkalnya. Kiba menjilati vagina Hinata agar cairannya keluar, ia juga menambahkan dua jari ke lubang itu. Hinata mulai mengerang dalam kulumannya. Naruto mendesah merasakan batangnya dihisap istrinya. Kiba merasa vagina Hinata sudah cukup basah, ia mempersiapkan batang penisnya memasuki lubang itu.

"Ahh..."

Penis Kiba sudah di dalam lubang vagina Hinata. Wanita itu menghentikan kulumannya sebentar, ia melihat Naruto dengan wajah memerah penuh nafsu. Kiba mulai menggerakan penisnya menyodok-nyodok vagina Hinata. Tubuh Hinata berguncang karena hentakan tusukan Kiba. Naruto melihat payudara Hinata memantul. Kiba mempercepat sodokannya, kali ini ia meremas payudara Hinata. Terdengar suara tabrakkan selangkangan Kiba dengan pantat Hinata.

"Ahn... Kiba-kun, sodok terus! Enak! Ahn.."

Naruto layaknya patung, tidak bergeming sama sekali. Hinata kembali menghisap penis Naruto. Kulumannya sangat kuat, sampai pipi Hinata mengempis. Kiba menahan kaki kanan Hinata, tusukkannya melambat. Ia merasakan batang penisnya bergesekan dengan daging panas nan licin. Jepitannya sangat lembut, Kiba ketagihan dengan sensasi yang ia rasakan pada penisnya. Keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk dengan bebasnya. Kiba mencabut penisnya dari vagina Hinata.

Hinata memutar tubuhnya. Ia menghisap penis Kiba. Ia mengarahkan penis Naruto ke dalam vaginanya. Ia menaikturunkan pinggulnya, menjepit penis Naruto. Kiba memegang kepala Hinata, ia sodok mulut itu seperti menyodok vaginanya. Naruto pasrah, ia kenikmatan penisnya bersatu dengan vagina Hinata. Walapun ia kesal, setidaknya ia juga dapat bersetubuh dengan istrinya.

Kiba tiba-tiba rebahan di samping dirinya, Hinata melepas penyatuan. Ia pindah ke atas tubuh Kiba sambil memasukan penisnya ke dalam vaginanya. Kiba mulai menyodok-nyodok vagina Hinata dengan cepat. Hinata mendengakkan kepalanya, tusukkan Kiba lebih dalam dari sebelumnya. Ia tidak lupa suaminya sendiri, Hinata mengocok penisnya selagi ia disetubuhi oleh sahabatnya. Erangan Hinata semakin keras. Kiba menambah kecepatan menusuknya, ia seperti menahan sesuatu, sebelum akhirnya ia menancapkan dalam-dalam penisnya dan menyemprotkan pejuhnya di dalam vagina Hinata. Hinata juga mengalami orgasmenya. Naruto pun menyemburkan spermanya, membasahi tangan Hinata.

Hinata melepas penyatuan kelaminnya dengan Kiba. Ia memeluk Naruto.

"Terima kasih, kau mau mendengarkanku, Naruto-kun," ucap Hinata, tersenyum.

"Apa pun untukmu, Hinata."

Kiba langsung jatuh dalam tidurnya. Naruto masih kesal, dia ingin menendang Kiba, tapi dicegah istrinya.

"Biarlah, dia lelah. Apa salahnya dia tidur di sini?"

"Walaupu dia sahabatku, aku masih kesal dengannya."

"Sudah. Sekarang, kita tidur."

"Tapi, jangan kasih dia selimut."

"Baiklah."

.

.

.

( . Y . )

.

.

.

7.00 am.

Sinar mentari masuk melalui jendela yang terbuka, menyinari wajah Naruto. Ia terbangun, silaunya mengganggu tidurnya. Ia meraba-raba sampingnya, tidak menemukan istrinya di sana. Naruto langsung membuka mata lebar-lebar.

"Hinata, kau di mana?" teriak Naruto, melihat ke sekelilingnya.

"Hinata?"

"Sayang?"

"Ahhn... Kiba-kun, sodok terus! Enak! Sodok terus dengan penismu, Kiba-kun! Ahhnn..."

"Akan kusodok kau sampai ini selesai, Hinata! Ahh... Vaginamu sangat enak! Penisku tidak bisa berhenti menyodok-nyodok dirimu, Hinata!"

"Ahhn... Sodok! Tusuk aku yang kuat, yang dalam, Kiba-kun! Ahh... Enak!"

Naruto mendegar erangan Hinata di dalam kamar mandi. Ia buru-buru menuju ke sana, namun pintu terkunci.

"Kiba, kau sentuh Hinata lagi, akan kubunuh kau!" Naruto menggedor-gedor pintu.

Naruto melihat dari pintu kaca yang blur Hinata tengah bersetubuh dengan Kiba. Posisi menungging itu jelas sekali, sahabatnya menyodok-nyodok istrinya di sana.

"Kiba, buka pintunya!"

"Ahhn... Sodok lagi, Kiba-kun."

"Kiba, buka!"

"Vaginamu enak sekali, Hinata!"

"Kiba!"

"Aaa... Aku keluar! Aku keluar di dalammu, Hinata!

"Aaa... Kiba-kun, aku keluar!"

"Kiba!"

Pagi hari yang indah dengan suara Naruto memekakkan telinga di rumah Hyuuga.

"Akan kubunuh kau!"

.

.

.

( . Y . )

.

.

.

END.