harap baca note dari aku, ya!
Hatchoo...
Hatchoo...
Hatchoo...
Seorang pemuda bertubuh mungil terus menerus menggosok-gosok hidungnya yang terasa gatal.
Hatchoo...
Sssrtttt...
Pemuda itu menarik ingus yang ingin keluar dari hidungnya. Sesekali ia melirik kearah jam. Waktu menunjukan pukul 8.30 malam.
Waktu akan terus berjalan jika kau hanya menatapnya Baekhyun-ah! Tapi pekerjaanmu tak akan pernah selesai jika kau hanya menatapnya, semakin bertambah malahan.
Gara-gara terserang flu parah sejak kemarin, hari ini Baekhyun merasa tubuhnya sangat lelah. Sedari tadi ia menahan sakit pada pinggangnya yang seolah akan remuk. Ia terus mencuci, dan mencuci lagi, tumpukan gelas kotor. Baekhyun bekerja di Starlight Bar dari pukul dua siang hingga pukul dua belas malam. Bar tempatnya bekerja bukanlah bar sembarangan. Suasana didalam Bar tampak begitu tenang dan selalu dikunjungi oleh kalangan menengah ke atas. Baekhyun sendiri bertugas mencuci piring dan menyajikan makanan.
"Tolong antarkan ini yah, Baekhyun."
Seorang wanita berpakaian seragam bagian dapur menyuruhnya mengantarkan pesanan ke meja pelanggan.
Baekhyun segera melepaskan sarung tangan karet yang ia pakai ketika mencuci piring dan gelas kotor. Setelah itu, Baekhyun tak lupa juga mencuci bersih tangannya, mengelapnya sampai kering barulah ia berjalan mendekati konter makanan.
"Baik."
Sahut Baekhyun.
Ia membawa pesanan itu ke meja nomor 614.
"Permisi, Apakah anda memesan Steik?"
"Ah—Ya."
Baekhyun mencocokan makanan dengan orang yang memesannya. Setelah selesai, ia memberi salam dengan sopan.
"Selamat menikmati Tuan,"
Baekhyun kembali kebelakang. Ia mencuci piring kotor yang masih tersisa.
Semakin malam Bar tempat Baekhyun bekerja semakin ramai di kunjungi oleh pelanggan. Baekhyun sudah selesai dengan acara mencuci piring kotor dan sekarang jatah Baekhyun berada di arena Bar, menyajikan makanan serta minuman kepada pelanggan dan jangan lupa ia juga bisa menjadi kasir dadakan. Kalian tahu sendiri kan Bar itu seperti apa? Hanya kerjakan apa yang bisa kau kerjakan—kurang lebih begitulah motto hidup seorang Byun Baekhyun.
Kadang ia merasa penasaran bagaimana orang-orang seperti mereka mendapatkan uang. Meskipun hidup dengan pas-pasan, Baekhyun selalu percaya kepada dirinya sendiri dan berusaha hidup dengan jujur. Kesepian hanya membuatnya sedikit tidak nyaman. Ia tidak merasa malu dengan dirinya sendiri atau dengan orang lain karena keadaannya yang seperti ini.
Ia adalah seorang—gay. Baekhyun mengakui itu. Orientasi seksualnya sudah menyimpang sejak Baekhyun duduk di bangku sekolah menengah atas. Untuk pertama kalinya—jantung Baekhyun berdetak cepat kepada seorang senior yang bernama Jung Daehyun.
Saat itu Baekhyun berada di kelas pertama, ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Daehyun. Mereka bertemu pertama kali ketika Baekhyun menjalani masa orientasi siswa—singkatnya mos. Daehyun—saat itu menjadi salah satu kakak pembimbingnya. Baekhyun dan Jung Daehyun mereka akhirnya berpacaran hingga suatu hari hubungan terlarang itu diketahui oleh kedua orang tua Baekhyun. Saat Daehyun sedang mencumbu bibir tipis berwarna merah muda milik Baekhyun dengan lembut, Nyonya Byun tiba-tiba masuk ke dalam kamar putra bungsunya.
Menyaksikan semua itu, Nyonya Byun menjerit histeris. Menarik Daehyun keluar dari kamar putra mereka, membawanya duduk di ruang tamu bersama dengan Tuan Byun, serta Baekbeom—putra pertamanya.
"Jadi—sejak kapan kalian berhubungan?"
Tuan Byun membuka pembicaraan saat tak ada seorang pun yang berani mengeluarkan suara sekecil apapun itu. Bahkan Baekhyun pun tak berani menatap mata ayahnya. Ia hanya bisa menunduk—asal kalian tahu saja kalau Tuan Byun itu menyeramkan jika sedang marah. Baekbeom saja tak berani melawannya, ibunya juga sama, apalagi dirinya yang bernyali ciut.
"Appa—"
Glup—
"Jawab pertanyaan aku Anak muda!"
"K—kami sudah berhubungan sejak Baekhyun duduk di kelas satu, Tuan Byun."
"Apa saja yang kalian lakukan selama kalian berpacaran?"
"Kami—kami hanya menghabiskan waktu bersama. Pergi ke—keluar, menonton film, dan—"
"Cukup—" bentak Tuan Byun.
Kilatan kemarahan terpancar dari binar mata sang kepala Keluarga Byun. Tuan Byun atau yang memiliki nama lengkap Byun Dongdae—merasa kecewa kepada sang putra bungsunya. Selama ini, Ia sudah membesarkan dan mendidik putranya dengan baik tapi inilah balasan yang diterimanya. Mengetahui sang putra kesayangannya Byun Baekhyun mempunyai orientasi seksual yang menyimpang. Pantas saja—sejak kecil Baekhyun tidak tertarik berteman dengan anak laki-laki sebayanya. Ia lebih tertarik berteman dengan seorang anak perempuan dan akan selalu menangis jika tidak di pinjami boneka.
"Mulai detik ini—kau bukan lagi bagian dari kami."
Tubuh mungil itu tersungkur, bersujud di depan ayahnya. Meminta sebuah pengampunan ketika ayahnya memutuskan membuangnya seperti sampah karena orientasi seksualnya.
"Ayah—maafkan aku. Ayah jangan usir aku—ayah hiks...—"
Baekhyun menjerit ketika sang ayah membuang seluruh pakaiannya di halaman rumahnya. Ibu Baekhyun hanya menatap putra bungsunya dengan tatapan iba—wanita paruh baya itu terus menangis sambil menggumamkan kata maaf kepada sang suami agar sang suami mau memaafkan kesalahan putra mereka.
"Sekarang kau pergi. Angkat kakimu dari rumahku—aku tak sudi mempunyai anak seperti dirimu."
"Ayah—"
Untuk terakhir kalinya, Baekhyun menatap wajah sang Ayah. Melihat ekspresi kesedihan yang terpancar dari wajah sang ibu. Dan melirik ke arah Hyung—Baekbeom yang menundukkan wajahnya.
"Baiklah—aku pergi. Terimakasih telah membesarkan aku, Yah... Ibu ... Hyung..."
Baekhyun menggeleng-geleng pelan. Lelaki itu sudah memutuskan untuk tidak mengingat-ingat lagi tentang masa lalunya. Sepertinya semua ini efek flu sialan itu—Baekhyun jadi teringat masa-masa menyedihkan dalam hidupnya.
"Hoaaam"
Baekhyun menguap tanpa sepengetahuan menajernya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan tiga puluh malam, sepertinya orang-orang mabuk di dalam bar mulai bertambah. Kepalanya terasa semakin berat dan matanya semakin redup. Ia ingin segera pulang supaya dapat merebahkan tubuhnya yang kesakitan. Pada saat itulah...
"Sial! Panggil pemiliknya kesini!"
Teriakkan yang tiba-tiba terdengar dari suatu tempat membuat Baekhyun tersadar dari rasa kantuknya. Laki-laki setengah mabuk yang tadi dilayani olehnya berteriak-teriak dengan keras. Mereka yang keluar masuk cafe berkelas seperti ini adalah orang-orang terkenal dan berstatus sosial tinggi. Karena orang-orang itu memiliki status yang tinggi, bahkan suasana di bar pun di buat tenang dan nyaman. Namun, gara-gara hari ini kedatangan tamu yang aneh, ketenangan di dalam bar seketika menghilang. Baekhyun terperanjat. Ia lalu bergegas berjalan keluar menuju sumber keributan.
"Maaf, apakah terjadi masalah?"
"Apa-apaan ini! Kenapa besar sekali jumlahnya, hah? Kalian sengaja memberi harga lebih mahal, ya? Panggil manajernya kemari!"
"Maaf. Tapi, tagihannya memang sudah benar."
Baekhyun menjawab dengan percaya diri karena ia yakin telah menghitungnya dengan benar. Ia bahkan telah menghitungnya lebih dari tiga kali.
"Siapa kau? Apa kau manajer di sini?"
"Bukan. Saya hanya pelayan di sini?"
"Siapa yang berani mengabaikanku? Aku suruh memanggil manajer, bukan pelayan sepertimu?"
"Tuan, jangan seperti ini—hmp!"
Baekhyun tak bisa menyelesaikan kata-katanya karena laki-laki itu menyiramnya dengan segelas bir yang ia ambil dari meja. Minuman dingin itu mengenai wajah Baekhyun, kemudian mengalir ke bahu dan punggung pria itu sehingga membuat bulu romanya berdiri. Seketika aroma khas bir tersebut menguar dari tubuh Baekhyun. Pria itu memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya.
Tahan Baekhyun... Kau harus bisa menahannya. Besok waktunya gajian dan lusa kau harus membayar biaya kuliah.
"Steik sapi dua porsi, buah-buahan sebagai makanan pembuka, makanan ringan, daging sapi goreng, wine dua botol, dan bir delapan botol. Semuanya 537.000 won."
"Lelaki sialan! Kau pikir kau sedang berhadapan dengan siapa, hah! Apa kau tuli? Panggil manajermu ke sini!"
Laki-laki itu berdiri dari kursinya. Ia meletakkan kedua tangan di pinggangnya dan berkata pada Baekhyun. Laki-laki itu lalu memegang dagu Baekhyun dan mengangkat wajah Baekhyun hingga mereka bertatap muka. Ia lalu menatap Baekhyun sambil memicingkan mata. Tatapan buas laki-laki itu pelan-pelan menghilang. Pandangannya kini berkilat, dipenuhi dengan nafsu.
"Hei, wajahmu ternyata cantik. Mau menemaniku minum? Aku akan melepaskanmu kali ini. Anggap saja itu sebagai bayarannya."
Laki-laki itu mengelus dagu Baekhyun. Merasa di permainkan, Baekhyun segera menyingkirkan tangan laki-laki itu dengan kasar.
"Kalau kau ingin minum, minumlah dengan manis. Dasar tidak waras!"
"Apa? Kau... Kau mengatakan apa tadi?"
"Aku mengatakan kalau kau tidak waras. Kenapa? Kau tuli? Kalau tuli, jangan membuat masalah seperti ini! Aku tidak sudi diajak pergi oleh orang seperti sampah dan gila sepertimu?"
"Kau ingin mati, ya!"
Laki-laki itu mengangkat tangannya seolah akan menampar pipi Baekhyun. Namun, tangannya terhenti dan turun kembali. Sebagai gantinya, ia melemparkan gelas dan piring berisi makanan dari meja.
PRANG!
Bahkan orang-orang yang sedang duduk di sudut ruangan terperanjat mendengar kekacauan yang sedang terjadi. Saat itulah sang manajer datang.
"Apakah ada masalah, Tuan?"
"Kau siapa? Apa kau manajarnya? Kalau begitu ajari anak buahmu dengan benar! Kau tahu apa yang dia katakan kepadaku? Dia mengatakan aku seperti sampah dan tidak waras! Apa itu yang dilakukan pelayan kepada seorang pelanggan?"
"Hei, kau! Kau tidak ingat apa yang kau katakan kepadaku tadi?"
Baekhyun tak mau kalah dan membalas perkataan laki-laki itu.
"Byun Baekhyun! Bagaimana kau bersikap seperti itu kepada pelanggan. Cepat minta maaf!"
"..."
"Cepat!"
Baekhyun menatap menajernya yang tetlihat marah. Ia lalu memalingkan pandangannya kepada laki-laki itu. Laki-laki tersebut tersenyum mengejek dengan wajah yang dipenuhi ekspresi kemenangan.
Tiba-tiba kemarahan di dalam hati Baekhyun muncul dan meledak keluar.
"Aku tidak akan meminta maaf. Tidak ada alasan untuk minta maaf kepadanya."
"Byun Baekhyun! Kau tahu apa maksud perkataanmu itu, kan?"
Aku tahu. Kau akan memecatku,kan? Meski memikirkan hal ini sekali lagi, Baekhyun tidak menemukan titik kesalahan yang dilakukannya, yang membuatnya harus meminta maaf kepada preman itu.
"Aku tahu. Aku akan berhenti bekerja."
•••
"Meski pelanggan tadi salah, kau seharusnya tidak bersikap seperti itu. Lihat akibatnya, kau terpaksa berhenti dari pekerjaan mu ini, kan? Ini upah selama kau bekerja. Karena tidak sampai satu bulan, aku tidak memotongnya. Sekarang pergilah—"
"Terima kasih"
Baekhyun memberikan salam dan segera keluar dari ruangan itu. Namun, ia merasa amplop yang di pegang di dadanya terasa berisi.
Meski merasa kecewa, Baekhyun tidak merasa menyesal berhenti dari pekerjaannya. Yang ia khawatirkan sebab ia harus mulai mencari pekerjaan baru.
Baekhyun memutuskan pergi ke sebuah toko dan membeli dua botol soju lalu berjalan menuju tepi Sungai Han. Udara malam terasa dingin. Namun, Baekhyun tak memedulikannya dan duduk di rerumputan. Ia lalu membuka tutup botol minuman dan meminumnya tanpa henti. Meski—sejujurnya ia tak kuat meminum minuman seperti itu. Untuk kali ini adalab pengecualian.
Baekhyun butuh mabuk untuk melupakan sejenak semua beban berat yang berada di bahunya.
Ia kembali meneguk semua minuman yang ada di dalam botol. Seluruh tubuhnya terasa panas, ia pun mulai mabuk.
"Apa-apaan ini? Apa kalian senang hidup bertiga saja? Sial... Kalian membuangku. Aku, sebenarnya merasa kesepian... Daehyun telah meninggalkanku... Aku lelah... Huhuhu,"
Pada akhirnya, Baekhyun teringat orang tua serta hyungnya dan mulai menangis meraung.
"Aku rindu kalian... Aku sangat merindukan kalian... Huu, aku kesepian, aku gila... Karena begitu kesepian. Kalian dengar itu? Aku bilang dengar tidak! Ya sudahlah... Kalau kalian tidak mendengarnya..."
selamat siang~ ciyee yang abis ngerayaain 8tahun debut EXO siapa coba angkat kaki~ hahaha!
Sejujurnya ini bukan hasil karya aku... Ini remake Novel I'll be Your Wife, udah pernah di garap sama salah satu author di ffn juga, cuma judulnya di ubah tapi keseluruhan sama. Disini aku juga niat mau ngeremake novel ini tapi di gabungin sama drama big gong yoo ahjussi, dalam drama itu dia juga ketuker cuma yang satu lagi kayaknya meninggal deh...
Jangan lupa, fav, follow, juga tinggalkan jejak! Terimakasih!
