Knife Master and Shield Hero bab 01

Crossovers: Naruto. Tate no Yuusha no Nariagari.

Pair: Female Naruto Uzumaki. Iwatani Naofumi. Raphtalia.

Namikaze Naruto, itulah namanya, seorang gadis barbar yang kemarahannya hampir tidak bisa ditangani oleh siapa pun, sampai pada suatu ketika ia diusir dari oleh keluarga Namikaze karena telah mencoreng nama baik keluarga. Karena ia di usir dari keluarga Namikaze, Naruto pun menggunakan Uzumaki sebagai nama keluarganya.

Sebagai Uzumaki Naruto, ia terus membuat kekacauan, benar-benar menjadi seorang gadis berandalan, ia tidak punya rumah dan berkelana dengan seragam sekolah miliknya, satu-satunya baju yang bisa ia kenakan setelah namanya dicoret dari kartu keluarga.

Banyak hal yang terjadi pada Naruto, sampai pada akhirnya ia berhadapan dengan sekelompok Yakuza yang marah padanya karena ia telah memukul anak dari bos mereka.

Naruto merasa tertantang melihat para Yakuza yang bersiap dengan katana di tangan mereka. Sedangkan Naruto hanya bersenjatakan pisau lipat yang sering ia gunakan untuk melakukan kekerasan demi mendapat uang.

"Jadi kalian adalah, orang yang dibicarakan bocah manja yang katanya akan datang membunuhku nanti?"

"Kau! Berani sekali kau mengatakkan hal itu kepada anak bos kami!"

"Memangnya kenapa? Itukan kenyataan."

Karena tanggapan dari Naruto barusan, para Yakuza itu mulai marah dan mencabut pedang mereka, orang-orang di sekitar langsung panik dan berlarian meninggalkan tempat tersebut.

Naruto hanya tersenyum dan mempersiapkan pisau lipat miliknya, Naruto berjalan pelan ke arah mereka, ia mengenakan sergam sekolah yang kumal dan tubuh yang kotor. Ya ia hanyalah gelandangan yang hidup dengan cara merampas atau memalak siapapun yang ia temui.

Lalu dengan kecepatan yang sangat tinggi Naruto sudah berada di hadapan salah satu dari mereka dan merobek perut Yakuza yang ada di hadapannya dengan pisaunya.

Keributan pun semakin menjadi, para Yakuza terus menyerang Naruto dengan membabi buta, bahkan Naruto harus rela terluka karena terkena tebasan salah satu dari mereka, meski tidak dalam karena hanya kena ujungnya saja. Namun goresan panjang dari tebasan katana tersebut pastinya akan menyisakan rasa sakit yang sangat perih.

Darah menetes dari punggungnya yang tergores membuat seragam sekolah yang sudah ia pakai berbulan-bulan itu ternodai oleh darahnya.

Namun, Naruto masih melawan, serangannya yang kuat membuat beberapa pedang atau katana mereka patah karena pukulan tendangan dan gigitannya ia juga berhasil membunuh semua Yakuza itu. Namun, ia merasa kelelahan dan membuatnya berjalan sempoyongan ke tengah jalan raya yang terlihat sepi, ia seperti orang mabuk, karena tenaganya banyak terkuras, penglihatannya menjadi buram dan berkunang-kunang dan...

Braaak!!

Tubuhnya tiba-tiba dihantam oleh sesuatu yang keras dan berkecepatan tinggi dan membuatnya terlempar dan merasa kesakitan.

"Aaarrrgh!!! Hah hah... hah... Apa yang terjadi?"

Nampak gadis berambut pirang panjang sepunggung, mengenakan pakaian yang berupa seragam sekolah yang sangat kumal dan kotor dan tubuh perempuan itu juga penuh darah dan bercak hitam. Ia melihat ke arah kiri dan kanan.

"Sungai? Syukurlah, sudah lama aku tidak mandi."

Gadis itu kemudian melepaskan seluruh pakaiannya lalu menyentuh punggungnya.

"Uch, rupanya luka bekas tebasan itu masih terasa. Sial, sebaiknya aku cepat-cepat, karena kalau tubuhku masih kotor luka ini bisa infeksi."

Gadis pirang itu mulai membersihkan diri sembari meringis merasakan perihnya luka yang terendam air, lalu setelah ia membersihkan pakaiannya dan langsung memakainya meski dalam keadaan basah.

'Hutan ini terasa aneh, perasaan di jepang tidak ada hutan yang seluas ini.'

Setelah mengungkapkan isi pikirannya, gadis itu langsung melanjutkan perjalanannya.

'Sialan, luka tebasan itu masih terasa perih, ditambah lagi seragam ini jadi rusak dan aku tidak punya uang untuk memperbaikinya.'

Di padang rumput kemudian, terlihat gadis itu memandang ke arah rumput yang bergoyang dengan sangat cepat, ia langsung waspada karena tidak ada angin kencang yang berhembus pada saat itu.

Dan benar saja, tak lama setelahnya, sekumpulan makhluk yang terlihat seperti bola karet berwarna merah memiliki mulut seperti Pac-man melompat terbang dan melesat ke arahnya, karena kaget gadis itu langsung menebas para Pacman berwarna merah itu dengan kecepatan tinggi menggunakan pisau lipatnya. Dengan kecepatan yang dimiliknya makhluk-makhluk aneh itu meledak dan hilang tampa sisa.

Setelah mengalahkan monster yang ada di hadapannya, betapa kagetnya gadis itu ketika melihat sebuah panel pengumuman semi transparan yang bertuliskan.

Selamat anda telah naik ke Lv 2.

Tak lama setelahnya panel itu memperlihatkan statistik milik gadis itu. Gadis itu terdiam beberapa waktu.

'Level dan statistik, lalu ada juga status dan HP dan apakah itu MP. Apakah aku masuk kedalam dunia game atau semacamnya. Ini benar-benar aneh. Sejak kapan kehidupanku menjadi petualangan Isekai seperti di buku-buku dongeng.'

"Arrrg!! Pacman Sialan!"

Gadis itu sangat marah ketika baru menyadari ada satu monster Pacman mengigit bahunya hingga berdarah. Dengan tusukan pisau Naruto kembali menghancurkan monster itu.

"Argh! Berengsek! Aku tidak pernah menyangka kalau aku kehilangan fokus. Sebaiknya aku segera pergi dari sini."

Gadis itu langsung berlari dengan kecepatan 34 km/jam sembari memegangi bahunya yang berdarah saat ada monster-monster lain yang berdatangan, gadis itu langsung menyerang dengan pisau lipatnya, kadang ia memberikan tendangan yang sangat kuat dan membuat monster bola-bola terbang seperti Pacman itu terlempar dan meletus.

Namun, sekuat dan secepat apapun gadis itu, pertahanannya terhadap serangan sangatlah rendah, akibatnya setiap kali ia tergigit ia akan terluka dan darah pun keluar di setiap bagian tubuhnya yang tergigit, meski ia bisa menahan rasa sakit yang diberikan oleh sang monster. Namun tubuhnya tidak bisa, karena siapapun orangnya jika kekurangan darah meski tidak merasakan sakit pasti akan drop atau pingsan bahkan yang paling buruk adalah kematian.

Dan saat ia dalam keadaan yang benar-benar parah, ia akhirnya bertemu seseorang yang nampaknya juga sedang digerumbungi oleh para balon/monster bola bergigi/pacman.

"Onore Pacman!" seru gadis itu sembari berlari ke arah pemuda berambut hitam dengan jubah hijau yang dikelilingi monster yang paling dibenci oleh gadis itu dan dalam sekejap monster balon itu musnah. Pemuda bertameng itu kaget dengan kecepatan gadis itu lalu menatap ke arah belakang.

'Dia mengalahkan para monster balon dengan cepat.'

"Apa kau baik-baik saja?"

Tanya gadis itu pada pemuda di belakangnya padahal kondisinya yang penuh luka lebih mengkhawatirkan.

"Bukankah kau jauh lebih kondisimu jauh lebih mengkhawatirkan?"

Gadis itu terdiam dan menatap tubuhnya yang penuh darah lalu berkata. 'Heh tak aku sangka kalau ada orang yang perhtian padaku setelah semua yang aku lakukan.'

"Are, pandanganku memudar."

Gadis itu pun pingsan, pemuda itu sangat terkejut dan langsung menahan tubuh gadis itu.

"Cih! Kalau saja reportasiku tidak seburuk ini, aku akan segera membawanya ke kota. Sebaiknya aku membawanya menjauh dari sini dan mengobatinya terlebih dahulu."

Pemuda dengan perisai itu mulai mengambil obat herbal di dalam tasnya lalu mengoleskannya ke luka-luka dari gadis berambut pirang itu, setelah selesai ia mengajak gadis itu kemanapun ia pergi dan membaringkannya di pepohonan, sembari ia menyerang para monster balon dengan tinjunya.

Tak lama setelahnya gadis itu kembali terbangun dan mengarahkan pandangannya ke sumber suara yang ia dengar pertama kali.

"Hyaaaaaa!!!"

Gadis itu terdim melihat pemuda yang barusan ia tolong telah berjuang mati-matian melawan Monster balon yang seenak jidatnya ia panggil Pacman.

"Haaah haaah haaah. Akhirnya aku naik level."

"Hebat! Bagaimana bisa kau tidak terluka saat para Pacman itu mengigitmu?"

Mendengar pertanyaan dari gadis itu, pemuda dengan perisai itu langsung menatap ke arah gadis yang barusan bertanya. Gadis itu sekarang berada di sampingnya.

"Pacman? Ah maksudmu monster balon itu."

Gadis itu hanya mengangguk pelan, pemuda itu diam ketika melihat tatapan gadis itu yang penuh dengan ketertarikan ketika melihat ia menyerap monster ke dalam perisainya.

"Kau juga, aku tidak menyangka kau bisa bergerak dengan sangat cepat."

"Itu karena aku terus melatih kemampuanku Bahkan ayah dan ibuku sampai merasa malu karena kelakuanku yang terus membuat masalah."

Mereka berdua saling menatap satu sama lain, tak ada satupun dari keduanya yang mau bicara. Sampai akhirnya pemuda itu memutuskan untuk pergi meninggalkan gadis itu.

"Tunggu!"

Pemuda itu terdiam dan menatap ke arah gadis yang memanggilnya.

"Apa?"

Mendengar pemuda itu bertanya dengan nada sinis, gadis itu hanya menghela nafas dan kemudian bertanya.

"Namaku Uzumaki Naruto, kau?"

Pemuda itu terdiam dari wajahnya ia terlihat sedang berpikir atau memikirkan sesuatu. Ia nampak cukup dewasa dari penampilannya diperkirakan usianya adalah 20 tahun, sedangkan gadis itu nampak sangat muda, meski terlihat penuh luka dan dekil sebenarnya ia sangat cantik usianya kisaran 18-19 tahun.

"Naofumi. Iwatani Naofumi dan aku adalah pahlawan perisai."

"Pahlawan Perisai? Tunggu ... tunggu dulu Pahlawan? Eh? Kok bisa?"

Pemuda yang memperkenalkan diri sebagai pahlawan perisai atau Iwatani Naofumi tersebut langsung kesal sendiri.

"Apa hanya karena aku perisai kau menganggapku tidak pantai sebagai Pahlawan!"

"Eh? Apa aku menyinggungmu? Aku hanya kaget mendengarnya kau tahu? Rasanya sangat aneh kalau tiba-tiba aku ada di masa lalu dan bertemu seorang pahlawan, bahkan jika kau benar-benar seorang pahlawan tak ada satupun dalam buku sejarah yang mencatat seorang pahlawan perisai. Apakah kau salah satu orang kepercayaan Nobunaga, ataukah kau itu anak buahnya Imagawa?"

"Tunggu apakah kau orang jepang?"

"Ya aku orang jepang, lagian kita kan tadi saling berbicara masa kau tidak tahu bahasa yang aku gunakan sih?"

"Dan bagaimana bisa kau ada di Melromack?"

"Hah? Negara mana lagi itu?"

"Ah sudahlah, intinya sekarang kau ada di dunia lain!"

"Haaah! Kalau begini aku harus bagaimana?"

Naofumi yang melihat gadis itu tiba-tiba menjadi panik, sedikit terdiam hingga akhirnya karena kasian, Naofumi pun menawarkan diri agar Naruto mau masuk ke dalam partynya.

"Aku tahu waktunya kurang tepat, tapi ... maukah kau bergabung di partyku, jika kau mau aku akan membelikanmu armor dan senjata."

Bersambung