A / N: Hanya beberapa hal yang saya tulis di G-Doc untuk mengisi waktu liburan akibat El Corona, jadi nikmati dan terima kasih. Saya juga punya story lain, yakni Bully Fanfiction, so gimme your opinions sobat :-)!


Sangat lucu beberapa kencan yang mereka miliki dalam awal hubungan sebagai kekasih. Sejak insiden pria aneh itu dari Bulan, Naruto telah bertekad untuk menjaga Hinata dengan dirinya sendiri tetapi kemudian dia hanya melihat sekelompok orang — terutama pria di desa — selalu memandang Hinata yang entah kenapa membuatnya berkeinginan menyuarakan pikirannya tentang apa yang mereka inginkan atau mengapa mereka memandang Sang Mantan Pewaris Hyūga! Tentu saja dia tidak akan melakukannya karena satu: untuk apa, dan dua: itu hanya akan menimbulkan masalah.

Hinata masih sedikit malu ketika di dekat Naruto untuk waktu yang lama, satu-satunya kesempatan di mana Naruto memiliki waktu dengan gadis itu sebelum resmi menjadi pasangan adalah ketika mereka berada dalam sebuah misi di masa lalu. Atau misi setelah Masa Pemulihan pasca Perang (yang cukup jarang),fakta bahwa mereka kini adalah kekasih juga tidak membantu.

Si pirang bisa mengerti, bagaimana pun dia belum pernah benar-benar memperhatikan Hinata dalam cahaya apapun di luar zona Platonis. Meskipun itu berangsur-angsur bergeser ke dalam situasi yang berbeda setelah Pengakuan dari Blunette selama Pain menyerang Desa Daun, Naruto mulai berpikir apakah dirinya bisa disukai oleh seseorang. Dia bahkan tidak pernah sedikit pun mengingat atau melakukan hal baik yang bisa membuat Hinata menaruh hati padanya. Ya, dia memang, beberapa kesempatan 'menolong' dalam misi yang mereka jalani, tetapi itu pun hanya sebatas seorang rekan Ninja dan sahabat. Tidak seperti dia saat membantu Sakura karena benar-benar ingin gadis pinkette itu melihatnya.

Seperti Sakura, Naruto telah menciptakan situasi yang hampir serupa dengan Hinata.

Persamaan berhenti di sana, Sakura tahu, sementara dia TIDAK!

Dan itu tepat di pelupuk mata birunya selama ini …

Itu adalah hari sabtu cerah di Desa Daun Tersembunyi, pantulan cakrawala keunguan berpadu cahaya matahari senja di atas salju yang makin tipis menimbulkan efek beragam pada setiap dan masing-masing bangunan. Orang-orang masih ramai berlalu-lalang, sibuk bekerja atau sekedar berbicara satu sama lain. Anak-anak berlarian ke sana ke mari bersama teman mereka, gelak tawa terdengar menghiasi hirup pikuk di Desa.

Dari kejauhan, blur oranye dan Lavender mulai semakin jelas ketika akhirnya itu mendekat, di sana — seorang pria pirang tampak berjalan bersama seorang wanita Blunette. Tangan wanita itu menutupi mulutnya, tertawa pada sesuatu yang dikatakan lelaki itu.

"Serius! Guru Kakashi benar-benar menusukku di belakang dan itu sakit!"

"... Gh, hai. L-lalu, apa yang terjadi setelah itu?"

"Tentu saja aku menggunakan Kagebunshin lalu merebut lonceng dari Guru Kakashi-ttebayo!"

Naruto nampak bersemangat saat menceritakan Tes Bell pertamanya sebagai Tim 7 bersama Sakura, si teme Sasuke, dan Guru Jōnin mereka, Kakashi. Wanita di sampingnya, Hinata, mendengarkan dengan penuh perhatian. Naruto adalah orang yang memiliki ide agar mereka berdua keluar menghabiskan waktu bersama, di tengah kesibukan pria Uzumaki. Hampir terus-menerus dan tanpa henti dia diberi misi oleh Tuan Hokage ke Enam yang agung.

Hidup memang tak mudah, apalagi setelah Masa Pemulihan akibat Perang Besar, serta baru-baru ini insiden Bulan.

Hinata sangat memakluminya, dia sendiri pun kerap sibuk dengan misi bersama Tim 8 dan kadang-kadang menjadi Tenaga Medis tambahan di Rumah Sakit Konoha bersama dengan Sakura. Banyak hal yang telah ia peroleh dari Kunoichi Medis terbaik, seperti ilmu tingkat lanjut Medical Ninjutsu, lebih mengenal fluktuasi Chakra, dan merepresentasikannya pada Teknik Tinju Lembut 八卦 双 獅子 崩 撃. Sebagai sesama rekan Shinobi dan seorang teman, Sakura memberinya dorongan untuk lebih percaya diri ketika itu datang pada Naruto, Hinata bahkan tidak gugup lagi di dekat si pirang yang bersemangat.

"Ohh … Tapi Sakura-san memberitahuku kalau Naruto-kun terkena jebakan tali dan harus diikat di batang kayu. Apakah itu benar …?" Hinata bertanya secara retoris, sedikit terkikik.

Senyum bangga di wajah Naruto seketika terbang ke udara tipis. "... Yahh, itu …" Si rambut pirang tertawa gugup saat menyadari bahwa dia tidak memiliki apa pun untuk dijadikan argumen. "Sakura-Chan …! Setidaknya katakan satu saja hal baik tentangku padanya." gumam Naruto, cukup pelan agar Hinata tidak mendengarnya. Hinata akhirnya berhenti dari menahan tawanya saat keduanya menyusuri Jalan Konoha yang sibuk.

Ya, mereka resmi sekarang. Ke mana pun pergi, mereka disambut oleh senyum lebar dari beberapa warga Desa, Teuchi dan Ayane adalah salah satunya. Berbanding lurus, tatapan tajam pun tak bisa dipungkiri akan tetap ada — sebagian besar berasal dari para Gadis Penggemar — Namun Naruto tidak terlalu memperhatikan. Dia sangat senang, perasaan memiliki seseorang yang mencintainya dengan tulus di sisinya belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan ini … dia tidak pernah ingin ini berakhir.

Mereka masih bercakap-cakap, meskipun Naruto yang paling sering bicara. Hinata di sisi lain masih sulit untuk percaya bahwa naksir masa kecilnya akan pernah membalas perasaannya sejak lama.

Naruto melihat sekelompok pria sedang asyik mengobrol satu sama lain sambil berjalan. Dia mengangkat bahu dan bertanya pada gadis Hyuga ke mana dia ingin pergi.

Hinata menjawabnya, tetapi perhatian Naruto ada di tempat lain. Dia melihat ketika salah satu pria melirik ke arahnya dan menyikut pria lain di sebelahnya. Sebagai balasan, pria itu menyeringai saat menatap Hinata dari atas ke bawah! Beraninya bajingan itu!! Apakah mereka ... apakah mereka berencana untuk -!? Segera Naruto masuk ke posisi bertahan dan menahan Hinata dengan lengan kirinya saat memelototi kelompok laki-laki yang gemetar ketakutan ketika mereka melihat tatapannya yang berbadai.

"Naruto-kun, ada masalah?" Si Blunette sedikit khawatir ketika dia melihat Naruto hendak menuju sekelompok pria yang meringkup di kejauhan, rasa takut menghiasi wajah mereka.

Naruto menggeram dengan berbahaya, "Orang mesum itu melirikmu, sama seperti Netori!" tatapannya ia arahkan ke langit ungu senja di mana Bulan mulai muncul, kemudian kembali memberi sekelompok pria yang malang tatapan kematian sekali lagi. Sekarang dia tahu bagaimana seseorang bisa begitu marah ketika orang mesum. Aku senang aku tidak pernah mendengarkan Ero Sennin ...! Dia menggigil saat membayangkan Guru yang sangat dihormatinya melompat-lompat kegirangan, tebak apa, Naruto akan menjadi pria Gentle terbaik.

"... Netori? Maksudmu, Toneri?" Hinata bertanya dengan hati-hati, dan dia hanya mengangguk cepat sebagai respon. "... Naruto-kun, tidak!" Gadis itu tersentak, jika bukan karena dia menahan lengan si pirang, Naruto nyaris meluncur ke arah para pria yang sekarang berlari untuk hidup mereka.

Butuh waktu berjam-jam penjelasan dari Hinata yang malu tapi diam-diam senang, Sakura yang benar-benar kesal, dan Kakashi yang hanya geli sendiri melihat muridnya tidak mengerti bahwa ia tidak boleh menghajar setiap pria hanya karena mereka melirik Hinata.