Warna mawar yang menghiasi masa SMA, aku tidak pernah mengira hal itu akan terjadi padaku.
Segalanya tentang dirinya. Wajahnya yang rupawan, tatapan mata yang membuat kedua lututku melemah, suara yang membuat merinding—kesempurnaan dalam dirinya adalah mutlak. Akashi Seijuurou.
Semena-mena membawaku ke langit, dan membuatku jatuh jadi berkeping-keping. Setelahnya kembali merasakan surga, lalu membawaku ke neraka.
Apa maumu? Apa maksudmu mempermainkanku seperti ini?
Kuroko no Basket by Fujimaki Tadatoshi
WARN : AkashixOC. OOC. Typos. PG 15 or Older. Terdapat beberapa bahasa informal.
Aku tidak nyaman orang itu duduk di hadapanku, bahkan saat dia terdiam dan tak melakukan apapun.
Kenapa? Ada puluhan bangku kosong dalam perpustakaan yang luas ini, yang ia pilih adalah bangku yang di hadapanku. Kakiku kembali berdansa mengikuti ritme yang terbuat dalam imajinasi, tempo nafasku mulai cepat dan debaran jatung tak terkendali.
"Apa jawabanmu?"
"Aku tidak akan jadi budakmu,"
"Naif. Kau akan. Dan segera."
Hey, pemuda berambut merah. Apa kau pernah belajar bagaimana cara menyatakan perasaan kepada orang lain, dengan baik dan benar?
.
.
.
Kejadian hari ini adalah buah dari bibit yang ia tanam sejak pertama kali berbagi pandangan. Aku tak suka dengan bagaimana Akashi selalu menjadi simbol diktator—bagaimana ia bersikap seolah-olah ia kaisar dan rekan seangkatannya adalah sosok yang melayaninya. Memang sosok Akashi selalu terlihat berwibawa. Auranya sangat kuat dan hanya dia yang bisa memimpin. Aku akui juga, ia tak terkalahkan dalam bidang apapun—mutlak, katanya.
Tapi itu omong kosong bagiku. Sesempurna apapun dirinya, Akashi takkan bisa membuatku tunduk dan 'melayani' dirinya.
Maka berulang kali aku terus membantahnya. Aku katakan bahwa aku tidak suka dengan sikapnya yang seakan-akan ia duduk di level yang lebih tinggi dari rekannya. Ia tidak pantas untuk mengatakan hal-hal yang tidak perlu—ia tidak selalu benar dan tak usah memaksa untuk selalu menang. Dengan begitu aku dapat menyulut amarahnya dan memusatkan perhatiannya padaku.
Jenius, bukan?
Hal itu membawanya kepada aku dan dirinya yang sedang duduk di ketenangan perpustakaan kali ini. Aku paham—ia sudah mengerahkan segala perhatiannya padaku.
"Seberapa besar kau ingin aku melayanimu, tuan muda?"
"Sangat. Sangat besar."
"Kenapa?"
Manik dwiwarna alaminya tersebut memandangku—tatapan kali itu terasa lebih lembut dan hangat dari sebelumnya. Ukiran senyum kecil dan helaan nafas yang membuat aku bergidik. Tak ada jawaban spesifik, tapi aku tahu apa yang ia utarakan hanya dari senyuman itu—
Hanya aku. Hanya. Aku. Hanya milikku. Kau hanya milikku. Jangan palingkan pandanganmu pada yang lain, hanya aku yang dapat kau lihat.
.
.
.
Aku tak bisa membohongi diri lebih lama lagi—memang benar, jantungku berdebar lebih cepat. Benakku jadi tidak nyaman. Aku tidak ingin lama-lama berada dengan Akashi dalam radius kurang dari lima meter. Bukankah itu yang namanya benci? Aku sangat tidak menyukai waktu dimana aku berada dekat dengannya.
Tapi rasanya Tuhan menginginkan aku untuk berjuang menghadapi ketakutanku sendiri. Menghadapi Akashi itu bagai melawan monster dalam game. kalau kau kalah maka kau mati. Kalau kau menang maka kau dapat penghargaan. Tapi cerita takkan berlanjut jika kau terus kalah—yang jadi ketakutanku adalah ketahanan mentalku tidak sekuat yang orang lain bayangkan.
Banyak orang mengira hatiku sekuat baja karena tak bosan-bosannya berseteru dan berdebat dengan Akashi. Tapi sebenarnya, aku tidak sehebat itu. Aku tetap manusia yang bisa terluka perasaannya—tak jarang aku menangis di kamar karena tekanan yang ia bebankan terlalu besar untukku. Kembali lagi, di hadapannya, aku sebisa mungkin bersikap tegar dan kuat. Ia tak tau apapun tentangku.
Kenapa aku terus meladeninya? Mohon maaf saja. Aku tidak ingin harga diriku diinjak-injak lebih dari sekarang. Soalnya aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya—tak bisa kugapai.
"Seperti biasa, wajah masam,"
Suara itu menyapaku—Mayuzumi Chihiro, baru lulus dari Rakuzan tahun ini dan sekarang melanjutkan studinya di salah satu universitas sebagai mahasiswa jurusan fisika. Aku sendiri sedang berjalan di sebuah pusat perbelanjaan karena ibu memintaku untuk membeli beberapa bahan makanan untuk kedai ramen keluarga kami.
"Eh, Chihiro,"
"Huh, kenapa lagi kau dengan Akashi? Jangan bilang selama aku pergi, kau jadi lebih rapuh dan sering nangis,"
Chihiro memang tetanggaku. Keluarganya pindah di samping rumah kami sejak aku masih menginjak kelas dua SMP—berarti saat dia baru masuk SMA Rakuzan. Ayahnya adalah seorang karyawan swasta dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Chihiro itu anak satu-satunya—makanya bibi Mayuzumi kadang mengundangku untuk makan malam, hanya dengan alasan untuk meramaikan keluarga Mayuzumi, saking inginnya punya anak perempuan. Bahkan yang parah, aku disuruh untuk menikah dengan Chihiro—apa pantas mengatakan hal pernikahan kepada bocah SMP? Mengelap ingus saja masih belum becus. Karena hubungan keluarga kami sedekat itu, ia juga tak masalah kalau aku memanggil dengan nama belakangnya saja.
Masalah Akashi, pemuda bersurai uban ini sama denganku. Ia juga kurang suka dengan sikapnya—tapi tetap saja Chihiro berada dibawah kontrol Akashi, mau tidak mau karena si merah itu adalah kapten klub basket. Chihiro yang bermain basket, itupun direkrut oleh Akashi.
"Kenapasih. Aku malas membahas tentangnya,"
"Tapi kalau kau terus-terusan melukai diri sendiri, tidak baik. Lebih baik kau menyerah,"
"Kalau aku menyerah artinya aku membiarkannya menyiksaku lebih leluasa,"
"Loh, kan memang hobi. Kau suka kalau dirimu tersiksa secara mental, kan?"
Aku diam dan menghentikan langkahku, lalu menatap tatapan blank Chihiro yang menjengkelkan—"Aku masih manusia normal. Aku tidak menikmati siksaan, Chihiro,"
Kau menganggap dirimu normal, tapi kau terus menerima luka yang bisa kau hindari. Kau sebut itu normal? Aku menyebutnya abnormal.
