NARUTO belongs to Masashi Kishimoto
A/N: AU! Typo(s), OOC!
.
.
.
.
.
Ino Yamanaka. Semenjak menikah, nama belakangnya berganti menjadi Namikaze.
Ino yang pada awalnya bekerja sebagai sekretaris di Divisi Hubungan Masyarakat kemudian naik pangkat menjadi ketua divisi tersebut. Lama berada dalam divisi yang memiliki nama lain Public Relation itu, ia pindah perusahaan karena kota tempatnya tinggal pun berpindah.
Dan kini Ino menjadi sekretaris dari teman—sekaligus mantannya—saat SMA dulu, Sasuke Uchiha.
Ino tak keberatan menjadi sekretaris yang notabene bawahan dari Sasuke. Ia menikmati pekerjaannya karena Sasuke memperlakukannya dengan begitu baik layaknya teman ... saudara.
Suaminya, Menma Namikaze, yang bekerja sebagai seorang atlit panahan yang menjadi perwakilan Jepang di ranah internasional, dengan penghasilan yang kelewat menakjubkan, membuatnya memiliki jadwal yang teratur di hari kerja.
Beruntungnya, di akhir pekan, jadwal Menma ia berikan pada keluarga kecilnya yang berisikan istri dan satu anak laki-laki.
Bocah bernama Haru Namikaze itu tidak kehilangan kasih sayangnya hanya karena kedua orangtuanya yang sibuk bekerja.
Ino selalu membawanya ke kantor dan menitipkannya di tempat penitipan anak, lalu akan mengunjunginya ketika sedang istirahat atau membawanya sesekali ke ruang kerjanya.
"Lhoo, kau sudah pulang?" tanya Ino kala melihat Menma sedang duduk di sofa ruang keluarga dengan satu cup sturbucks di meja.
"Tumben pulang tengah malam begini. Ada sesuatu?" Menma menepuk tempat kosong di sebelahnya, menyuruh Ino duduk di sana.
Sang istri menuruti. Ia berjalan mendekati Menma. Namun bukannya duduk di sebelahnya, wanita itu malah menduduki paha Menma.
"Capek," gumam Ino seraya menyenderkan kepalanya di atas dada Menma yang berbalut sweater. Jemarinya mengelus sweater tersebut di bagian pinggang sebelum akhirnya merengkuh pinggang sang suami.
"Dingin." Ino bergumam untuk kedua kalinya, mengeratkan pelukannya di pinggang si pria.
Menma balas memeluk. Tangannya membawa tubuh sang istri pada rengkuhan dalam dan hangat.
"Sweatermu hangat ..."
"Kalau begitu peluk saja."
"Aku mau pakai." Kalimat tersebut membuat Menma menukikkan alis.
"Kotor, sayang. Sebaiknya kaupeluk saja," ujar Menma dengan tangan yang kian erat mendekap Ino.
Ino menggeleng, membuat kepalanya bergesekan dengan sweater Menma, juga terasa sampai dadanya. "Berani kotor itu baik, Menma."
Sang pria semakin mengernyitkan dahi. Kalimat itu tentu tak asing baginya. "Sebaiknya kita tidur."
Mencegah istrinya kembali mengoceh, Menma menarik Ino menuju kamar.
.
.
.
.
.
Menma keluar dari kamar mandi. Ia menatap Ino yang sudah terlelap masih mengenakan pakaian kerjanya.
Ia melangkah menuju lemari, mengambil kaos lengan pendek juga celana pendek untuk kemudian dipakainya.
Menma juga mengambil piyama untuk Ino kenakan. Setelahnya ia berjalan menuju ranjang. Dengan lembut, jari telunjuknya menusuk-nusuk pipi Ino. "Hei, ganti pakaianmu."
Ino hanya melenguh dan berganti posisi menjadi memeluk guling.
"Atau kubuka bajumu dan aku yang akan menggantinya."
Oh, rupanya ancaman Menma berhasil membuat sang istri terbangun. Ino mengambil posisi duduk dan mengucek kedua matanya. "Mana?" tanyanya meminta piyama yang Menma bawa.
"Nih."
Ino beranjak dari kasur, ia masuk ke kamar mandi. Melakukan rutinitas malamnya sebelum tidur di dalam kamar mandi. Tak lupa mengganti pakaian tidurnya dengan piyama polos berwarna peach.
Kaki jenjangnya melangkah ke luar kamar mandi. Ia mendekati Menma dan menduduki kasur tepat di sebelah sang suami.
"Aku jadi tidak mengantuk lagi," ucap Ino.
"Aku sih memang tidak mengantuk." Menma mengubah posisinya menghadap Ino. "Mau main?" Ia menyeringai.
"Ya ... boleh." Ino mendekatkan wajahnya pada si pria hingga bibir mereka bersentuhan. "Yang kalah harus menuruti apa kata yang menang."
"Deal."
Ino menjauhkan wajahnya. Ia mengedipkan matanya pada Menma. "Aku tak sabar untuk mengajukan perintah padamu," ucapnya.
"Tak akan ada yang bisa mengalahkanku dalam permainan ini, cantik. Dan kau tahu pasti." Menma beranjak, tangan nakalnya ia jatuhkan di paha Ino dan dengan sengaja menggelitik paha yang tertutupi kain piyama.
Pria itu berjalan ke arah laci yang berada di sebelah lemari. Mengeluarkan benda yang Ino tatap dengan takjub.
Papan catur yang menjadi kesukaan Menma sekaligus benda yang Ino anggap tidak boleh ia sentuh kala Menma tak ada.
"Siap untuk kalah, dear?" Menma menyeringai. Membuka papan catur dan mengeluarkan bidak-bidak hitam dan putih, kemudian mengatur posisi para bidak tersebut.
.
.
.
.
.
Beberapa menit mereka bermain, akhirnya selesai dengan Menma keluar sebagai pemenanh. Ia tersenyum kecil melihat kini bidak-bidak milik istrinya tersebut sudah tergeletak di wilayahmya.
"Sudah kubilang, kan." Menma mulai membereskan catur yang dibantu Ino. "Aku tak akan pernah kalah, sayang."
Ino membantu Menma dengan menukik wajahnya. "Kita batalkan perjanjiannya," tukasnya tiba-tiba.
"Mana boleh begitu?"
"Boleh!" Ino berdiri. Ia menghentakkan kakinya sebelum menghempaskan diri ke kasur, membenamkan wajahnya pada bantal.
Menma yang sudah menaruh papan catur itu mendekati Ino. Ia mengelus punggung sang istri. "Ino ...," panggilnya lembut. Ino tak memberi jawaban.
"Permintaanku mudah, sayang. Dan akan selalu mudah." Pria itu berbaring di sebelahnya dengan posisi menyamping menghadap Ino. Jemarinya beralih mengelus surai pirang di hadapannya.
Dengan perlahan, Ino menjauhkan wajahnya dari bantal. Ia mulai berani menghadap Menma.
"Apa itu?" Ino bergumam. "Apa aku harus menjaga anak Kak Hana, atau aku harus merawat kura-kuramu, atau aku harus ... harus apa?"
Menma tersenyum manis. "Karena permintaanku cuma satu," ujarnya seraya berpindah ke atas Ino dan membalikkan tubuh wanita tersebut. "Dan kau tahu betul apa itu."
Menma menatap dalam pada iris aqua di hadapannya. Ia mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya pada milik si wanita. Membasahi bibir tersebut dengan lidahnya. Membawanya hanyut dalam pagutan panjang dua pasang bibir.
Ino membawa jemarinya menyentuh dada Menma. Meremas kaos yang dipakainya, seolah meminta sang empu untuk menanggalkan kain yang menghalangi itu.
Menma memisahkan bibir keduanya, hendak melepas kaos sebagai awal dari permainan.
Namun baru saja tangannya menarik ujung kaos, telinga keduanya menangkap suara pintu yang dibuka.
Mereka menoleh cepat ke sumber suara dan mendapati seorang anak lelaki bersurai hitam tengah berdiri di ambang pintu.
Dengan sigap Ino mendorong Menma dan langsung duduk, tak lupa merapikan rambut. Tipikal orang-orang yang ketahuan sedang berbuat sesuatu.
"Haru?" Ino membeo.
"Haru takut," gumam bocah tersebut. Ia berjalan mendekati kedua orangtuanya.
Ino tersenyum manis dan menggendong sang buah hati untuk naik ke kasur. "Haru pasti mimpi buruk."
"Ngantuk." Haru membaringkan dirinya di antara Ino dan Menma. Ia menarik guling di sebelah ayahnya, juga menarik selimut hingga menutupi tubuhnya hingga leher.
Ino tersenyum geli melihatnya. Kemudian ia ikut berbaring di sebelah Haru. Matanya menatap Menma dan mengedipkan sebelah matanya kala melihat wajah pria itu yang menunjukkan raut kesal.
"Papa ayo tiduuur~" Ino menggoda Menma dan langsung menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Melihatnya, Menma tak kuasa menahan senyum. Pria itu akhirnya ikut berbaring dan menyusul keduanya ke alam mimpi.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
.
Hai wkwkwk tadinya mau aku bikin oneshoot aja tapi ternyata gak cukup dan yah mungkin akan jadi twoshoot wkwkwkw.
MenmaIno huhu kebayang gak si Menma jadi atlit panahan sedangkan istrinya kerja kantoran yang suka bawa bawa anaknya ke kantor?
Semoga suka ya hehehehe! Jangan lupa review dan berikan pendapat kalian! Kritik juga boleeeee! :D
