Kopi Nostalgia
Disclaimer: Hiro Mashima
Warning: OOC, typo, gaje, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, serta untuk event bulanan di grup Fanfiction Addict dengan tema, "Coffee shop!AU".
Baru-baru ini "Kopi Nostalgia" menjadi merek yang terkenal, terutama di kalangan anak muda yang memadati kafenya setiap libur. Harganya bersahabat dengan kemiskinan, tempat yang nyaman guna memanjakan letih, dan memiliki nama serta variasi rasa yang unik sudah menjadi alasan terlengkap, untuk tidak menolak eksistensinya yang bagaikan mimpi paling sempurna.
"Ya ampun! Semakin kupikirkan rasanya makin semangat!" Pemuda berambut salem yang memimpin jalan bersama pemuda lainnya itu berseru riang, kepada kedua temannya yang mengikuti di belakang. Pasalnya, Natsu Dragneel bersemangat karena mendapatkan brosur "Kopi Nostalgia" saat iseng berjalan-jalan, dan menemukan menu berunsur "natsu" sesuai namanya.
"Hanya karena namamu dijadikan salah satu menu di sana? Pffttt ... bego banget." Gray Fullbuster yang memimpin jalan bersamanya terbahak-bahak sampai memegangi perut. Mereka adalah sahabat merangkap rival. Emosi Natsu langsung memuncak, kala mendapati Gray puas mengejeknya.
"Kau ini ngajak ribut, ya? Kebetulan aku ingin pemanasan."
"Pemanasan sebelum sampai di sana oke juga. Jangan sampai kau menyesal." Ancang-ancang sihir es kebanggaannya langsung Gray pasang, diikuti Natsu yang menyelimuti kedua tangan menggunakan api. Baik Lucy Heartfilia maupun Erza Scarlet berhenti berjalan. Sebelum suasana memburuk, Lucy berinisiatif menghentikan keduanya daripada mereka menyesal.
"Hentikan, Gray, Natsu! Apa kalian lupa di sini ada–", "Lanjutkan pertarungan kalian, dan kubuat kalian tidak bisa ke sana." Aura hitam menguar dari Erza yang melotot marah. Lucy menepuk keningnya. Mereka langsung saling merangkul sambil tertawa patah-patah.
"Me-menu kopi chamomile kurasa enak." Tapi itu teh, Gray, batin Lucy heran sendiri. Sementara Erza mengangguk-angguk seolah-olah berkata, "Begini baru benar".
"Oh iya, iya. Cimol pasti enak."
Jajanan di depan guild memangnya perlu dibawa-bawa, ya? batin Lucy lagi yang sudah kedua kalinya menghela napas, tetapi begitulah Natsu yang mendapatkan otak sisa ketika pembagian. Mereka berempat adalah penyihir dari Fairy Tail, kota Magnolia, Fiore. "Tertidur" di Pulau Tenrou selama tujuh tahun membuat segala yang ada, terutama hal-hal baru terasa spesial, termasuk merek "Kopi Nostalgia" yang baru keempatnya ketahui kemarin siang.
KRINGGG ...
Perjalanan yang tidak seberapa panjang itu telah membawa mereka, menuju destinasi yang dimaksud. Bel terdengar berdenting sewaktu Natsu membuka pintu. Musik jazz mengalun lembut memperkuat latar kafe yang mengadopsi tema klasik. Pengunjungnya terbilang ramai, pada pukul satu siang yang membara ini.
"Sting, Rogue! Kalian ke sini juga ternyata," seru Natsu riang mendapati sosok mereka di pojok kafe. Gray mengikuti Natsu. Lambaian tangan yang tidak menyangka Lucy berikan kepada Yukino yang tersenyum simpul.
"Ayo kita pergi, Er–"
Kembali ke kota ini, guild–rumah mereka, dan pelukan anggota-anggota Fairy Tail tentu berarti besar, ditambah dengan fragmen-fragmen lain yang memperkuat debaran dari kenangan mereka. Melalui matanya Lucy memahami entah dikatakan maupun tidak. Berbisik "semoga beruntung" kepada Erza yang masih mematung–terpaku oleh sebuah punggung yang duduk di depan meja bar.
Musim semi di tahun X792 ini, masing-masing dari mereka memiliki kafeinnya sendiri dalam bentuk euforia ataukah secarik luka untuk menjaga kesadaran hati, karena tidak ada pertemuan yang sama.
"Boleh aku duduk di sini?"
Sosok tersebut tidak lain dan bukan adalah Jellal Fernandes yang matanya membulat sempurna, sewaktu agak telat menyadari kehadiran Erza. Sahabat masa kecilnya itu dipersilakan duduk. Hening di antara mereka berlangsung canggung, entah gara-gara Jellal serta Erza masih teringat ciuman tanggung yang terasa sengit pada bibir pantai, ataukah perkara lain yang timbul-tenggelam yang sesekali mengusutkan air muka Jellal.
"Aku baru tahu kau suka kopi." Perkataan Erza memecah sunyi dengan baik. Matanya menatap cairan hitam pekat pada cangkir Jellal yang habis separuh–warna itu telah menunjukkan rasa pahit yang luar biasa yang sulit Erza bayangkan.
"Kalau mampir ke Magnolia aku pasti ke sini."
"Bersama Meredy dan Ultear?" Tujuh tahun sudah berlalu. Jellal mendirikan Crime Sorciere untuk menebus dosa-dosa di masa lalu, yang pertama kali mengetahuinya pun Erza terkejut. Pemuda dengan tato di mata kanannya itu menggeleng lemah. Masih belum menatap Erza yang tidak berkomentar apa-apa.
"Biasanya. Tetapi hari ini Ultear menyuruhku pergi sendiri."
"Menyuruhmu menyegarkan pikiran, ya? Dengan wajah sekusut itu kau juga tidak akan bisa pergi."
"Memangnya kelihatan?" tanya Jellal yang spontan menatap ke arah Erza. Tawa renyah berirama ringan terdengar darinya. Padahal bukan musim panas di pasir pantai, tetapi Jellal merasa hatinya basah oleh debur ombak yang sejuk.
"Sejak dulu kau tidak pandai berbohong. Sekali lihat pun aku langsung tahu."
Ah. Erza memang benar. Rasa-rasanya Jellal semakin kalut, karena Erza masih berpura-pura bodoh akan dustanya yang berkata ia memiliki tunangan. Selagi ketua Crime Sorciere itu memandangi permukaan kopi yang memantulkan parasnya, Erza tengah melihat-lihat menu yang disuguhkan. Helaan napasnya terdengar kecewa tidak menemukan kue stroberi. Kafe ini yang mengecewakan, atau Erza hanya salah tempat sebetulnya?
"Kira-kira kopi apa yang harus kupesan?" Menu didorong pelan ke arah Jellal. Sejenak ia membacanya, lantas menunjuk moccacino yang Erza balas dengan anggukan–tidak benar-benar mengerti, namun ia percaya pada Jellal yang pasti tahu seleranya.
"Moccacino adalah perpaduan dari espresso, susu, dan cokelat. Kopinya tidak terlalu mendominasi. Cocok denganmu yang menyukai manis."
"Kurang kue stroberi sayangnya."
"Jika kau sadar di sebelah toko ini adalah bakery. Mau beli kuenya dulu di sana?" Tawaran menarik itu justru Erza tanggapi dengan gelengan. Segelas moccacino sudah dipesan. Hiruk pikuk di mana Natsu kepahitan menikmati kopi musim panas, tampaknya mengundang tawa yang meriah membuat Erza tersenyum tipis mendengarnya.
"Bergabunglah dengan mereka."
"Ada yang lebih membutuhkanku di sini, bukan?" Perdebatan sepanjang Sungai Nil pun tidak dapat membuat Jellal menang dari Erza. Wanita memang ajaib, dan Erza berkali-kali lipat lebih ajaib dengan mata, bibir, telinga, hidung, dan napas yang membuat singgah betah menjadi tinggal.
"Kau tahu? Kopi yang kupesan ini namanya kopi nostalgia. Ada tiga varian dari yang manis, sedang, atau pahit."
"Boleh kucoba? Rasa dari nostalgiamu?" Cangkir berukuran sedang Jellal dorong perlahan ke hadapan Erza. Tampaknya wanita perkasa itu sempat ragu, karena lebih dulu menggoyangkannya daripada langsung didekatkan ke mulut. Jellal menggeleng pelan–kata siapa dia samar-samar terkekeh? Sehingga Erza tidak perlu melotot.
"Jangan memaksakan dirimu."
"Wanita dewasa tidak takut sama kopi." Memegang kalimatnya, dan tak melepaskannya walau terbatuk-batuk cukup keras, Erza memanglah Erza yang telah memercayakan keberanian kepada Jellal. Cangkir hijau lumut itu dikembalikan. Tinggal lima tegukan lagi untuk menghabiskannya, tetapi Jellal justru menahan diri.
Setiap netra dark green miliknya memandangi genangan hitam kecokelatan pada cangkir, Jellal seolah-olah ditarik oleh pusaran masa lalu yang menggelamkan dia–menjebak Jellal dalam warna kelam yang perlahan-lahan, membasahinya dengan kenangan yang sempit sekaligus pepet–semakin lama makin menyesakkan, membuat Jellal seperti ingin meledak.
Masa lalu dan masa depan saling menjalin–takdir tersebut selalu Jellal mengerti, juga ia tahu yang mengantarkan sekaligus membentuknya pada hari ini adalah kepahitan itu. Jellal tidak dapat menghapusnya. Namun, ia bisa belajar untuk memaafkan, sehingga mengurangi penyesalan yang ada meskipun dalam beberapa hal; Jellal kesulitan menerima bahkan sekadar menyentuh serpihannya.
Adalah kenangan mereka di Menara Surga. Adalah dirinya yang pernah melupakan Erza. Adalah dia yang selalu melukai Erza, tanpa sekali pun Jellal sempat membahagiakan teman masa kecil merangkap cinta pertamanya itu–serpihan demi serpihan tersebut melumat Jellal dalam sesal. Membuat melihat dirinya sendiri sebagai kesalahan yang kehabisan jatah maaf.
Sama seperti kopi yang memiliki variasi, bagaimanapun itu akan ada rasa yang tidak melulu dapat Jellal ajak berdamai, dan walaupun terlihat sama kopi sebenarnya berbeda tiap eksistensinya–seumpama dengan luka pertama serta kedua yang tampak mirip, namun sesungguhnya berlainan yang tak bisa disandingkan apa lagi dibandingkan.
Jellal merisaukannya sejak mereka bertemu, sebelum Daimatou Enbu dimulai. Bahkan setelah Jellal takut menghadapi nyawanya, meskipun ia menolak sampai ingin membuang dirinya sendiri, Erza tetap saja membuat Jellal berdiri dengan tidak melupakan dunia, melainkan mengajaknya berlari di belakang wanita itu–seakan-akan mengandalkan Erza sebagai alasan untuk memperbaharui hasrat hidup juga benar, padahal bukankah salah sekali?
Merepotkan seseorang, yang mencintainya pun Jellal tidak boleh, dan tidak sempat membahagiakan dia sekali saja, apakah dirinya dapat menjadi orang baik yang betulan baik jika demikian?
"Aku merasa tunanganku terlalu baik. Kami adalah teman masa kecil, dan sampai sekarang diriku belum pernah membahagiakannya. Hanya saja dia selalu menerimaku."
"Kalian teman masa kecil, ya? Aku baru tahu." Sekilas Jellal melirik ke arah Erza yang mengangkat pesanannya–mencari tahu apa ia mencoba menangkap kebohongan. Erza menyesap likuid yang lebih cokelat sekaligus beraroma manis itu. Menikmati rasa suka pada tetes demi tetesnya, dibandingkan sewaktu mencoba kopi nostalgia Jellal yang pahit.
"Ya. Saat itu aku harus pergi, sehingga tidak bisa bercerita."
"Menurutku malah kau juga terlalu baik, seperti biasanya." Pegangan pada cangkirnya mengerat. Sejenak Jellal membiarkan suara kopi disaring membalas pernyataan Erza, barulah ia berkata-kata.
"Terlalu baik bagaimana?"
"Kau menyalahkan dirimu sendiri, karena tidak bisa membahagiakannya sejak kecil. Namun, bukankah dia juga salah, karena tak dapat membuat dirinya sendiri bahagia agar kau juga senang?"
"Benarkah?"
"Itu hanya pendapatku. Lagi pula bukan cuma kau yang harus membahagiakannya, dia pun memiliki kewajiban yang sama. Apa artinya jika hanya kau yang bertindak, Jellal? Bukankah sangat kesepian? Sama seperti kopimu."
Berdua yang terasa sendirian memang kesepian, ya? Tetapi, apa maksud dari menyerupai kopi terpahit pada dunia mereka berdua? Untuk selanjutnya Erza mengambil alih pembicaraan, dengan memuji mocchiato yang Jellal sarankan–cokelatnya berpadu baik dalam rasa khas kopi yang masih tertinggal di lidah, namun tidak menyengsarakan. Jellal jadi melupakan minumannya. Mendapati kesempatan datang, sesendok creamer begitu saja Erza tuangkan.
"Erza? Kau tidak salah memasukkan?" Putih manisnya mulai meluruh dengan hitam yang pahit, menciptakan warna baru pada kopi pesanan Jellal. Ternyata baik hari ini, esok, maupun di waktu yang lebih nanti, Jellal memang tak pernah bisa menebak Erza, tetapi senang Erza ada sebagai Erza.
"Cobalah. Krim di kue stroberi adalah salah satu yang terbaik. Kopimu pun pasti bisa menjadi sesuatu yang lebih baik." Ketika cairannya menyentuh pangkal lidah, bukan lagi pahit yang menghadirkan Jellal di tempat ini, melainkan pula seulas manis yang kecil yang berarti besar. Senyuman Erza lebar–terkadang membuat Jellal penasaran, bagaimana rasanya merakit tenda di sana, di sebuah kurva komet.
"Enak."
"Tentu aku tahu nostalgia dan rasa kopimu sangat berkaitan. Tapi, kau salah jika terpaku pada pahitnya." Sendok teh di tangan kanannya Erza arahkan pada Jellal yang berkedip-kedip. Kaget sang pemuda berambut biru bukanlah sandiwara idiot. Rasa-rasanya Erza memang seperti detektif yang mengubah enigma jadi makna.
"Kalau direnungkan, masa laluku selanjutnya memang lebih baik daripada dirimu. Aku bertemu Natsu, Gray, Master Makarov, dan teman-teman yang lain yang baik hati."
"Keberadaan mereka membuat masa laluku lebih manis, asal kau tahu," sambung Erza yang lagi-lagi mencicip kopi Jellal. Walaupun pahitnya masih mendominasi, tetapi jauh lebih baik daripada sebelumnya.
"Mengingat mereka ketika kau teringat masa lalumu yang membuatnya demikian?"
"Kesimpulan yang bagus, Jellal. Awalnya aku canggung dan malu, untuk bergantung kepada keberadaan mereka. Namun, tanpa gula tersebut hidupku jadi pahit, dan hanya seperti berputar-putar di masa lalu. Padahal aku sudah menemukan yang baru."
"Tidak apa-apa untuk bergantung pada gula tersebut, dan sama seperti kau yang berpikir aku serta kata-kataku adalah alasan hidupmu. Meskipun ditambah gula kau tetap meminum kopi. Makanya jangan risau lagi."
"Kata-kata yang bagus. Kau benar-benar merenungkan kopimu, ya."
"Membantu sahabat masa kecilku yang cemas, karena tidak pernah membahagiakan tunangannya di masa lalu maupun sekarang bukanlah tugas yang sulit."
"Apa sekarang kau bahagia?" Tiba-tiba menanyakannya, apakah Jellal ingin membalas dendam kepada Erza yang sembarangan menuangkan creamer? Ia mengangguk cepat. Garis lengkung yang tidak lebih lebar dari senyuman Erza merekah di bibir Jellal. Tampaknya sudah tahu, bergantung kepada kata-kata Erza pun ia tetap mampu menjadi orang baik seutuhnya.
"Tujuanku selama ini adalah membuat tunanganku bahagia. Karena sekarang Erza bahagia, kau resmi jadi tunanganku."
"Tu-tunggu sebentar, Jellal. Bukankah kau terlalu curang? Creamer yang kumasukkan dalam kopimu itu sedikit banget, lho." Sembari protes Erza menggaruk tengkuk lehernya. Sepasang mata Erza membuang pandang ke arah lain–berlari-lari untuk menemukan ornamen, speaker, atau musik Chopin yang seolah-olah menggodanya.
"Selama ini Erza tahu, bukan, tunanganku itu bohong belaka?"
"Y-ya, b-be ... begitulah. Terus?"
"Berbohong menundaku menjadi orang baik. Lagi pula sejak awal memang niatku untuk mengajakmu bertunangan, dan kata-katamu meyakinkanku."
Beberapa keping masa lalunya merupakan variasi kopi yang meskipun tidak melulu dapat Jellal terima, namun Erza mengajarkan bahwa ia tinggal menambahkan gula yang setidaknya membuat Jellal lebih bisa menikmatinya. Kecupan singkat di bibir Jellal tinggalkan untuk Erza yang mematung. Meredy dan Ultear menunggu di depan toko. Kemudian entah sejak kapan, jingga mulai berpijar di ufuk barat menggantikan langit biru.
"Sampai akhir pun kau terlalu baik, karena mengikuti kebohonganku. Terima kasih untuk itu, Erza."
"Karena kebohonganmu jadi nyata ... aku harus berbahagia untuk sahabat, sekaligus calon suamiku. Juga minta maaf, telah membuatmu merasa seperti tadi." Lamaran diterima seratus persen. Harusnya Jellal tahu, dan paham sekali. Namun, bagaimanapun itu ia belum mampu mengendalikan merah pada wajahnya yang justru menjadi-jadi.
"Kalau begitu biarkan aku sedikit memperbaikinya. Sejak kita bertemu untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, aku sudah senang kau tampak baik-baik saja."
"Biarkan aku meralatnya juga, kalau begitu. Maaf, karena menasihatimu seperti kau benar-benar memiliki tunangan, Jellal. Ku-kurasa …. aku terlalu terbawa suasana." Sepasang telunjuk milik Erza saling bertemu yang tampak menggemaskan. Jellal langsung membuang muka–tidak tahan terhadap Erza yang benar-benar selalu curang–sekalinya keren, Jellal merasa Erza menjelma pangeran. Jika wanita scarlet itu dalam mode imut-imut, Jellal akan kepanasan gara-gara geregetan.
Sungguh. Erza pun mana menyangka Jellal bisa sebegitu mengejutkannya. Tawa mereka buncah bersamaan, sebelum pintu ditutup memperdengarkan bunyi bel. Cincinnya menyusul, ucap Jellal. Tentang hari ini akan mereka seduh dengan cara yang berbeda, di mana Jellal membawakan sekotak cincin untuk mengikat Erza.
Atau tidak perlu, karena tanpa cincin hati mereka sudah terikat sejak dunia belum memulai waktu.
Tamat.
A/N: Hai. Aku author baru (balik) di sini. Jadi entah gerangan apa, keknya cuma pengen nostalgia doang, jadilah aku bikin fic jerza. Kebetulan banget tema bulan ini enggak terlalu berat, makanya bikin ini lumayan enjoy meski sempet kesusahan juga. Susahnya di diksi, sama meski aku pernah demen banget ama ini pairing, kok rasa-rasanya jadi susah lagi yak mau bikin mereka wkwkw. Aku udah lama banget ga ngikut FT, tapi aku inget banget ama ini ide yang pengen bikin jellal bilang kalo tunangannya erza. Satu-satunya adegan yang kuinget tentang mereka juga cuma adegan batal ciuman. Makanya setting-nya dibikin abis adegan nanggung ngeselin itu wkwkw.
Oke cukup sampe di sini aja. Maafkeun kalo OOC parah. Thx buat yuang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Review yang masuk bakal aku SS dan kumasukin ke status WA kok (tapi fandom ini pasti dah sepi).
