'Kenapa bisa begini?'

Kominato Haruichi kini sedang mencoba berpikir jernih. Memaksa otaknya untuk memproses apa yang dilakukan sahabatnya, Sawamura Eijun yang sedang berada diatasnya.

"E-eijun kun... sampai disini saja... ya."

Eijun tersenyum. Matanya menatap penuh nafsu teman mainnya.

"Belum cukup, Harucchi."


"Oyasuminasai~"

Ujar Haruichi sembari meninggalkan rekan-rekan timnya yang sedang berkumpul di kamar Kazuya. Ia izin mendahului dengan alasan kondisi tubuhnya sedang tidak baik. Sebenarnya, Haruichi bisa bertahan sedikit lagi namun karena ocehan sahabat karibnya, Eijun ーyang selalu menanyakan kondisinyaー menjadi kesal dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya.

Diperjalanan menuju kamar, Haruichi tidak henti-hentinya memikirkan betapa berisik sahabatnya itu. Ia pernah dipuji-puji saat pertandingan berlangsung sampai menanggung malu sendiri. Ingin sekali menghukum Eijun. Tapi bagaimana caranya? Apakah ia harus melumat bibir itu sampai kehabisan nafas atau menyumpalnya denganー

Kominato bungsu itu menggelengkan kepala cepat karena hal aneh tiba-tiba terbesit di otaknya. Ia menghela nafas pelan sebelum memasuki kamar.

"Tadaima modorimashita." ujarnya sembari memasuki kamar.

Haruichi berjalan menuju kasurnya. Karena terlalu lelah, ia segera merebahkan diri dan tertidur.


"Ummhh... berat..."

Baru saja akan sampai ke dunia mimpinya, Haruichi tiba-tiba tersadar kembali karena merasa ada sesuatu yang menimpanya(?). Ia tidak mengenakan apapun. Tangannya tidak bisa digerakkan. Tangannya diikat. Ia pun menolehkan pandangan ke arah seseorang yang terlihat sedang mendudukinya. Nafas orang itu terasa berat, tubuhnya pun bergetar.

"Eijun... kun?"

Yang dipanggil hanya tersenyum. Tangannya menggapai wajah Haruichi. Mengelusnya pelan.

"Harucchi..." ia menjilat pelan tangannya yang dipakai mengelus wajah pemuda bersurai merah muda itu. "Aku menginginkanmu..." bisik Eijun.

Nafas Haruichi tertahan.

"Apa maksudmu, Eijun kun?"

Eijun tertawa pelan. Entah kenapa, gerak-geriknya sangat berbeda. Tangannya mengelus sesuatu yang sudah berdiri diantara kedua paha Haruichi.

"Kau masih belum mengerti? Padahal Haruichi yang disebelah sini sudah mengerti loh. Lihat lah. Dia sudah berdiri." Goda Eijun.

Kominato Haruichi kini sedang mencoba berpikir jernih. Memaksa otaknya untuk memproses apa yang dilakukan sahabatnya, Sawamura Eijun yang sedang berada diatasnya.

"Aku mulai ya."

Wajah Eijun mendekati selangkangan Haruichi. Terkekeh pelan. Telunjuknya menyentuh ujung kejantanan yang sudah berdiri tegak. "Fufu... Haruichi kun, Konbanwa. Genki sou da na~" sapanya.

"Jangan memberinya nama!"

Haruichi mendengar Eijun menyapa kejantanannya merasa sangat kesal. Semburat merah muncul di wajahnya. Jika saja tangannya tidak diikat, mungkin ia sudah memukul pemuda brunette ini. Haruichi merasa ia akan meledak karena suara berisik di dalam dadanya. Nafasnya tertahan saat Eijun meniup pelan menggoda kejantanannya. Seakan-akan ia lupa bagaimana cara bernafas dengan benar. Tanpa disadari, si calon ace sudah telanjang.

Eijun memposisikan diri seperti semula. Pantatnya dinaikkan sedikit. Ia menggunakan tangannya untuk memposisikan kejantanan milik second baseman, memasukkan kedalam lubang analnya.

"Ittadakimasu~" ucapnya sebelum kejantanan Haruichi memasuki rektumnya.

Haruichi menggeram kenikmatan saat kejantanan masuk sempurna. Ia merasa miliknya dipijat pelan. Eijun bergerak perlahan.

"Ah... padahal ini... baru dimulai. Tapi, ahh... kenapa rasanyaah... nikmat sekaliii..." ujar Eijun.

Tangannya bergerak meraba seluruh tubuh Haruichi. Ia sempat mengelus pelan bibir sahabatnya sebelum menciumnya. Haruichi membelalakan matanya kaget. Ciuman pertamanya dicuri sahabatnya sendiri. Eijun menjauhkan wajahnya. "Harucchi... buka mulutmu." pinta Eijun.

Mulai kehilangan akal sehat, Haruichi pun menurut. Ia membuka mulutnya. Eijun menggunakan kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya. Mengajak lidah Haruichi bermain-main. Haruichi membalasnya. Mereka saling bertukar saliva. Saling melumat bibir. Namun sayang, ciuman panas itu terhenti karena mereka membutuhkan pasokan udara. Nafas pun tak beraturan.

"Eijun... kun..."

"Ya?"

"Bisakah kau... bergerak sedikit lebih cepat?"

Eijun terkekeh mendengarnya. Sekali lagi, ia mengecup pelan bibir Haruichi.

"Harucchi. Ternyata tidak sabaran juga ya. Tentu saja. Aku akan bergerak lebih cepat." ucapnya. Ia pun menyempitkan rektumnya dan bergerak lebih cepat sehingga menimbulkan suara basah dan desahan-desahan.

"Shhh... Eijun kun!"

"Aahh! Harucchi! Bagaimanaa?"

"Kau menjepitku... Rasanya nikmat sekalii!"

"Mmhh... Aku juga. Ah! Sampai kedalam... Harucchi!"

Haruichi merasa sebentar lagi ia akan tiba. Karena tidak sabar, ia menggerakkan pinggulnya keatas. Eijun kaget akan hal itu.

"Aahh! Haruichi... kalau kau ikut bergerak... aku... aku akan... muncrat! Harucchiiihh!!!"

"Aku juga... Eijun kun!"

Eijun mendekatkan wajahnya ke Haruichi. Ia berbisik. "Kalau begitu... keluarkan semuaah.. di dalamku..."

Haruichi tersenyum miring. Matanya menatap Eijun seperti saat dipertandingan. Ia menggerakkan pinggul semakin cepat. Hingga mereka mencapai klimaks bersama.

Eijun merasa dirinya penuh di dalam sana. Tubuhnya bergetar saat merasakan hangat di rektumnya. Kejantanan Haruichi berkedut disana.

"Harucchi."

Mereka kembali berciuman. Namun hanya sebentar karena mereka baru saja seperti kehabisan nafas.

Pemuda yang dibawah menyeringai melihat ekspresi rekan diatasnya.

Saat Haruichi ingin melepas diri, tiba-tiba Eijun menjepitnya di dalam sana. Haruichi pun menggeram tertahan.

"E-eijun kun... sampai disini saja... ya."

Eijun tersenyum. Matanya menatap penuh nafsu teman mainnya.

"Belum cukup, Harucchi."


"KOMINATO HARUICHI SAN!"

Merasa terganggu dengan teriakan itu, ia pun membuka matanya. Dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.

"Eijun kun? Eh? Bukannya tadi?" ia terlihat kebingungan. Kepalanya terasa sakit.

"Harucchi. Kau kenapa sih? Boss menyuruhku menemuimu karena kau terus-terusan memanggil namaku. Ada apa? Kau mimpi buruk? Atau jangan-jangan kau bermimpi aku berhasil menjadi ace dan kau senang sampai kau memanggil-manggil namaku?!" tanya Eijun bertubi-tubi.

Sedangkan yang ditanya memegangi kepalanya. Ia mencoba mengembalikan kesadarannya. Dirasa kesadaran sudah kembali, Haruichi menatap Eijun dan menjewer pipinya.

"A, ini nyata."

"Swakitt... Harucchii.."

Haruichi menjauhkan tangannya dari pipi Eijun. Ia menghela nafas pelan sebelum menjawab pertanyaan Eijun.

"Aku baik-baik saja kok." balasnya.

Mendengar hal itu, Eijun tertawa. "Hahaha... Yokatta ne. Kalau begitu, ayo kita jogging. Ini sudah pukul 5 pagi loh!"

Haruichi mengangguk. Ia beranjak dari kasurnya dan berjalan mendekati pintu.

"Ayo Eijun kun."

Saat pintu terbuka, sosok sang kapten muncul. Kazuya memandangi dua pemuda dihadapannya. Ia menyeringai saat pandangannya tertuju pada Haruichi.

"Mimpi indah ya?"

Haruichi tersentak. Ia menunduk dan tersadar kalau miliknya masih berdiri. Menutupi selangkangan. Wajahnya pun memerah sempurna.

"E... Eijun kun, kau duluan saja. Aku... aku masih ada urusan penting." Ujarnya panik. Tanpa menunggu balasan Eijun, ia berlari menuju toilet.

"HARUCCHI!" teriak Eijun.

Kazuya mendekati kouhainya yang tengah kebingungan. Ia merangkul bahu Eijun.

"Ayo Sawamura. Kita duluan saja."

Eijun menggerakkan bahunya protes. "Lepaskan aku. Kau terlalu dekat Bakazuya!"

"Apa-apaan itu? Panggilan sayang untukku?" godanya.

"HAAH?!"

.

.

.

.

.

.

.

OSHI, OSHI, OOOSHIII! AKU BALIK LAGI :v

Entah kenapa aku bisa kepikiran bikin HaruSawa ditengah-tengah terlaksananya tugas onlen :v

(katanya sih Belajar onlen, tapi yang ngasi materi cuma beberapa dosen doang :"( )

Jangan lupa review dan sharenya minna... eh?

Yah... Intinya jangan jadi Sider :v

Sankyuu ω

Mohon maap ya kalo adegan itu cuma mimpinya Haruichi :v

Buat Haruichi, juga moonmaap :3

/dibacok Haruichi/