DISCLAIMER : MASHASHI KISIMOTO
ANAK KECIL DILARANG BACA
note : hasil copas dari salah satu situs web
maaf banget kalo ada penulis aslinya disini karna gak minta izin untuk copas
cuma mau berbagi cerita
Teringat aku akan masa lalu yang menyenangkan ketika masih menjadi guru seorang kunoichi bernama shizune.
Shizune adalah gadis berwajah cantik, hidung mancung, dengan bibir merah alami. Rambutnya hitam dan dipotong pendek, kulitnya putih mulus terawat, badannya tumbuh begitu seksi. Dia berasal dari keluarga berada. Usianya baru 15 tahun, kadang sifatnya masih kekanakan saat itu.
Seminggu yang lalushizune rutin mengikuti les privat jutsu medis di rumahku, Minato, aku seorang guru yang terkenal seantero dunia shinobi di zaman ku. Aku mempunyai rumah mungil yang semua ruangan ditata artistik sehingga terasa nyaman.
Rumahku memang terkesan romantis, shizune sedang mengerjakan tugas yang baru kuperintahkan. Dia terlalu asyik mengerjakan tugas itu, tanpa sengaja penghapusnya jatuh tersenggol. Shizune berusaha menggapainya, tapi ternyata dia memegang tanganku yang telah lebih dulu mengambilnya.
Shizune kaget melihat ke arahku yang sedang tersenyum padanya. Dia berusaha tersenyum, saat tangan kirinya kupegang dan telapak tangannya kubalikkan dengan lembut, kemudian kutaruh penghapus itu ke dalam telapak tangannya.
"Arigatou, Minato-sensei.." ujarnya
Aku sebagai orang yang cukup berpengalaman dapat merasakan getaran-getaran perasaan yang tersalur melalui jari-jari gadis itu.
"Shizune, kamu tampak lebih cantik kalau tersenyum seperti itu". Kata-kataku membuat gadis itu merasa tersanjung, dengan tidak sadar dia mencubit pahaku sambil tersenyum senang.
"Udah punya pacar?", godaku sambil menatapnya.
"Belum sensei!", jawabnya malu-malu, wajahnya yang cantik itu bersemu merah.
"Kenapa, kan temen seusiamu sudah mulai punya pacar", lanjutku.
"Habis mereka maunya cuma hura-hura, caper", komentarnya sambil melanjutkan tugasnya.
"Ohh..hmm..!", aku bergumam dan beranjak mengambil minuman kaleng dari dalam kulkas.
"Minum Coca Cola apa Fanta, shizu-chan?", lanjutku.
"Apa ya! Coca Cola aja deh sensei", sahutnya sambil terus bekerja.
Aku mambawa dua kaleng minuman dan mataku terus melihat dan menelusuri tubuh shizune yang membelakangi, ternyata menarik juga gadis ini, badannya yang semampai dan bagus cukup membuatku bergairah, pikirku sambil tersenyum sendiri.
"Sudah..Mina-senseii..", suara Fanny mengagetkan lamunanku.
Kuhampiri dan kusodorkan Coca-Cola kesukaan gadis itu. Kemudian aku memeriksa hasil pekerjaan itu, ternyata benar semua.
"Ahh, ternyata selain cantik kamu juga pintar ya.", pujiku.
Aku yang sengaja duduk di sebelah kanannya, melanjutkan menerangkan pemecahan soal-soal lain, Bau wangi parfum yang kupakai sangat lembut dan terasa nikmat tercium hidung, mungkin itu yang membuatnya tanpa sadar bergeser semakin dekat padaku.
Pujian tadi membuatnya tidak dapat berkonsentrasi dan berusaha mencoba mengerti apa yang sedang dijelaskan, tapi gagal. Aku yang melihatnya tersenyum dalam hati dan sengaja duduk menyamping, agak menghadap pada gadis itu sehingga instingku mengatakan hatinya agak tergetar.
"Kamu bisa ngerti yang baru ku jelaskan shizune?", kataku sambil melihat wajahnya.
Shizune tersentak dari lamunannya dan menggeleng,
"Belum, ulang dong..!", sahutnya.
Kemudian aku mengambil kertas baru dan diletakkan di depannya, tangan kananku mulai menuliskan rumus-rumus sambil menerangkan, tangan lainnya diletakkan di sandaran kursi tempatnya duduk dan sesekali aku sengaja mengusap punggungnya dengan lembut.
Shizune semakin tidak bisa berkonsentrasi, saat merasakan usapan lembut jari tanganku, jantungnya semakin berdegup dengan keras, usapan itu kuusahakan selembut mungkin dan membuatnya semakin terlena oleh perasaannya. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi lagi.
Tanpa terasa matanya terpejam menikmati belaian tangan dan bau parfum yang lembut. Dia berusaha melirikku, tapi aku cuek saja. Dia mencoba menarik perhatianku. Dia memberanikan diri meletakkan tangan di atas pahaku. Jantungnya semakin berdegup.
Selesai menerangkan aku menatapnya, perasaannya menjadi tak karuan, tubuhnya serasa menggigil saat melihat senyumku, tanpa sadar tangan kirinya meremas pahaku karena tidak kuat menahan gejolak didadanya. Aku tahu apa yang dirasakan gadis itu dengan instingku.
"Kamu sakit?", tanyaku berbasa basi.
Shizune menggelengkan kepala, tapi tanganku tetap meraba dahinya dengan lembut, dia hanya diam saja. Aku genggam lembut jari tangan kirinya. Udara hangat menerpa telinganya dari hidungku.
"Kamu gadis yang cantik dan telah tumbuh dewasa shizu-chan..", gumamku lirih.
Pujian itu membuat dirinya makin bangga, tubuhnya bergetar dan shizune ternyata tak kuasa untuk menahan keinginannya meletakkan kepalanya di dadaku,.
"Ahh..sensei..", dia mendesah kecil tanpa disadari.
Aku sadar gadis ini mulai menyukaiku, dan berhasil membangkitkan perasaan romantisnya. Tanganku bergerak mengusap lembut telinga gadis itu, kemudian turun ke leher beberapa kali. Shizune pasrah saja saat aku mengangkat dagunya, mungkin terselip perasaan ingin terus menikmatinya.
"Kamu cantik dan aku yakin jalan pikiranmu sangat dewasa, Aku kagum!", kataku merayu.
Udara hangat terasa menerpa wajahya yang cantik, disusul bibirku menyentuh keningnya, lalu turun pelan ke telinga, hangat dan lembut, perasaan nikmat seperti ini pasti belum pernah dialaminya. Anehnya dia menjadi ketagihan, dan merasa tidak rela untuk cepat-cepat mengakhiri semua kejadian itu.
"Ja.., jangan sensei..", pintanya untuk menolak.
Tapi dia tidak berusaha untuk mengelak saat bibirku dengan lembut menyusuri pipinya dan berlanjut mengulum bibirnya yang merah merekah, aku yakin baru pertama kali ini dia merasakan nikmatnya dicium bibir laki-laki.
Eullmmh eummlh..
Jantungnya berdegup makin keras, perasaan nikmat semakin membuatnya melambung.
"Uuhh..!", desahnya dan mulai membalas kulumanku.
"Aaahh..UUmmh ach", dia mendesah merasakan remasanku lembut di payudara, seakan tak kuasa melarang.
"Dadamu sangat indah shizune", pujiku.
Tangannya kini memegang tanganku, tidak untuk melarangnya, tapi ikut menekan dan mengikuti irama remasan di tanganku. Dia benar-benar semakin menikmatinya. Serdadukupun mulai menegang.
"Aaahh", dia mendesah kembali dan pahanya bergerak-gerak merasakan geli di vaginanya yang mulai basah oleh lendir yang keluar akibat rangsangan yang dialaminya.
Dia semakin terlena diantara degup-degup jantung dan keinginannya untuk mencapai puncak kenikmatan. Diimbanginya kuluman bibir dan remasan lembut di atas buah dadanya.
Ummmh eullmffh aaasshh..
Saat tanganku mulai membuka kancing baju seragamnya, tangannya mencoba menahannya.
"Jangan nanti dilihat orang", pintanya.
Tidak kupedulikan. Kulanjutkan membuka satu persatu, dadanya yang putih mulus mulai terlihat, buah dadanya tertutup bra warna coklat.
Seakan dia sudah tidak peduli lagi dengan keadaannya, hanya kenikmatan yang ingin dicapainya, dia pasrah saat kugendong dan merebahkannya di atas tempat tidur yang bersprei putih. Di tempat tidur ini aku merasa lebih nyaman, semakin bisa menikmati cumbuan, dibiarkannya dada yang putih mulus itu makin terbuka.
"Auuuhh..Auuffh..Eumph..", bibirku mulai bergeser pelan mengusap dan mencium hangat di lehernya yang putih mulus.
"Aaaahh", dia makin mendesah dan merasakan kegelian lain yang lebih nikmat.
Aku semakin senang dengan bau wangi di tubuhnya.
"Tubuhmu wangi sekali", kembali rayuan itu membuatnya makin besar kepala.
Tanganku itu dibiarkan menelusuri dadanya yang terbuka. Shizune sendiri tidak kuasa menolak, seakan ada perasaan bangga tubuhnya dilihat dan kunikmati. Tanganku kini menelusuri perutnya dengan lembut, membuatnya menggelinjang kegelian. Bibir hangatku beralih menelusuri dadanya.
Tanganku menarik bajunya ke atas, kemudian melepas kancing bajunya, kini dada dan perutnya terlihat putih, mulus dan halus hanya tertutup bra coklat muda yang lembut. . Dia menarik kepalaku dan mengimbagi kuluman, seperti caraku mengulum bibirnya. Serdaduku terasa makin tegang
Emmh auuumh..
"Ooohh", terdengar desah shizune yang semakin terlena
Aku terus mempermainkan tubuh gadis itu, kuperlakukannya dengan lembut dan tidak terburu-buru, hal ini membuat shizune makin penasaran dan makin bernafsu, mungkin itu yang membuat gadis itu pasrah saat tanganku menyusup ke belakang, dan membuka kancing branya.
Tanganku menyusup ke dada yang menonjol di bawah bra gadis itu, terasa kenyal dan padat.
"Aaahh.. Uuuhh. ooohh", shizune menggelinjang gelinjang geli dan nikmat,
Jemariku mengusap lembut buah dadanya yang mulai berkembang, seraya terus berpagutan. Jariku mempermainkan puting susunya yang masih kecil dan kemerahan itu dengan sangat hati-hati.
"Mina-sensei.. Aaahh.. uuhh.. ahh". desahnya.
Shizune mulai menunjukkan tanda-tanda terangsang hingga berusaha ikut membuka kancing bajuku. Tangannya menyusup kebalik baju dan mengelus dadaku, sementara birahinya makin memuncak. Shizune menurut ketika badannya diangkat sedikit, dibiarkannya baju dan branya kutanggalkan.
Sekarang tubuh bagian atasnya tidak tertutup apapun. Mataku menelusuri lekuk tubuhnya. Dua gunung indah yang masih perawan yang menyembul di atas dadanya, belum pernah terjamah oleh siapapun selain dirinya sendiri kini terpampang indah didepanku. Aku tertegun, birahiku bergejolak kembali.
Auumffh eumpph aooomffh..
Aku mengulum buah dada membusung lembut putih dan kenyal gadis itu perlahan.
"Ahh.. uuuhh.. aaahh". desahnya sambil menggelinjang.
Pengalaman pertamanya ini membuat angan-angannya terbang tinggi. Buah dadanya terasa nikmat kuhisap lembut, tarian lidah diputing susunya yang kecil kemerahan itu mulai berdiri dan mengeras.
"Senseei.. ahh, terus ahh..", rintihnya saat merasakan geli sambil makin mendekap kepalaku
Aku terus mempermainkan buah dada gadis, sambil membuka kancing bajuku sendiri satu persatu, kemudian baju itu kutanggalkan, terlihat dadaku yang bidang dan atletis.
"UUUh.. ahh, teruskan.. ahh.. ", dia merintih, sesekali kakinya menekuk ke atas, hingga roknya tersingkap.
Sambil terus mempermainkan buah dada gadis itu. Aku melirik ke paha mulus di antara rok yang tersingkap. Kupindahkan tanganku mengelus-elus pangkal paha putih mulus. Birahi shizune pun semakin memuncak. Aku terus mempermainkan buah dada gadis itu.
"Mina-sensei.. ahh, terus akhh.. ahh.. uhh", terdengar gadis itu merintih panjang.
Dengan pelan aku mulai membuka menurunkan retsleting rok itu, seakan shizune tidak peduli dengan tindakanku itu. Rangsangan yang membuat birahinya memuncak membuatnya bertekuk lutut.
"Jangan senseii.. aahh", desahnya seakan menolak tapi malah mengangkat pantatnya sehingga memudahkanku untuk menurunkan roknya.
Aku tertegun sejenak melihat tubuh putih mulus dan indah itu. Kemudian badan gadis itu kubalikkan sehingga posisinya tengkurap, bibirku merayap ke leher belakang dan punggung.
Ketika membalikkan badan, Shizune melihat sesuatu yang menonjol di balik celana dalamku. Dia kaget dan merapatkan kakinya, ada perasaan risih sesaat, kemudian hilang kalah oleh nafsu birahi yang telah menyelimuti perasaannya.
Dia diam saja saat aku kembali mencium bibirnya, membimbing tangannya ke bawah di antara pangkal paha, dia kini memegang serdadu yang keras dan panjang di balik celanaku, sejenak shizune sejenak mengelus-elus benda yang membuat hatinya penasaran, tapi kemudian dia kaget dan menarik tangannya.
Dia tak kuberikan kesempatan untuk berfikir lain, mulutku kembali memainkan puting susu mungil yang berdiri tegak dengan indahnya di atas tonjolan dada.
Ummh ellmh euumffh
"Ahh.. ahh.. teruuus.. ahh.. uhh", desahnya kenikmatan.
Sambil terus memainkan buah dadanya, tanganku mengelus-elus pangkal pahanya.
Tanpa disadarinya, karena nikmat, tanganku mulai menyusup di bawah celana dalamnya dan mengusap-usap lembut bawah pusar yang mulai ditumbuhi rambut, pangkal paha, dan pantatnya yang kenyal terbentuk dengan indahnya bergantian.
"Teruuuss.. aaahh.. uuuhh", desahnya kenikmatan dan mulai membuka kakinya.
Jari-jariku menyusup dan mengelus vaginanya dari bagian luar celana, birahinya memuncak sampai kepala.
"Ahh.. terus.. ahh.. ohh", gadis itu kaget sejenak, kemudian kembali merintih keenakan.
Melihatnya menggelinjang kenikmatan, tanganku mencoba mulai menyusup di balik celana melalui pangkal paha dan mengelus-elus dengan lembut vaginanya yang basah lembut dan hangat. Shizune makin menggelinjang dan birahinya makin membara.
"Ahh.. teruusss ooh yah enaak aach", Shizune merintih rintih kenikmatan.
Aku tahu gadis itu hampir mencapai puncak birahi, dengan mudah tanganku mulai beraksi menurunkan celana dalam gadis itu perlahan. Benar saja, dia membiarkannya, sudah tidak peduli lagi bahkan mengangkat pantat dan kakinya, sehingga celana itu terlepas tanpa halangan.
Tubuh gadis itu kini tergolek bugil di depan mataku, tampak semakin indah dan merangsang. Pangkal pahanya yang sangat bagus itu dihiasi bulu-bulu lembut yang mulai tumbuh halus. Vaginanya tampak kemerahan dan basah dengan puting vagina mungil di tengahnya. Aku terus memainkan puting susu yang sekarang berdiri tegak sambil terus mengelus bibir vagina makin membanjir.
"Owwh.. ahh, terus sensei.. ahh.. uhh mmh ah".
Vagina yang basah terasa geli dan gatal, nikmat sampai ujung kepala.
"Uchh sensei.. aahh", Shizune tak tahan lagi dan tangannya menyusup di bawah celana dalamku dan memegang serdadu yang keras bulat dan panjang itu. Shizune tidak merasa malu lagi, bahkan mulai mengimbangi gerakanku.
Aku tersenyum penuh kemenangan melihat tindakan gadis itu, secara tidak langsung gadis itu meminta untuk bertindak lebih jauh lagi. Aku melepas celana dalamku, melihat serdaduku yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, mata gadis itu terbelalak kagum.
Sekarang kami tidak memakai penutup sama sekali. Shizune kagum sampai mulutnya menganga melihat serdadu yang besar dan keras berdiri tegak dengan gagahnya, baru pertama kali dia melihat benda itu. Vaginanya pasti sudah sangat geli dan gatal, dia tidak peduli lagi kalau masih perawan, kemudian telentang dan pelan-pelan membuka leber-lebar pahanya.
Sejenak aku tertegun melihat vagina yang bersih kemerahan dan dihisi bulu-bulu yang baru tumbuh, lubang vaginanya tampak masih tertutup selaput perawan dengan lubang kecil di tengahnya.
Gadis itu hanya tertegun saat aku berada di atasnya dengan serdadu yang tegak berdiri. Sambil bertumpu pada lutut dan siku, bibirku melumat, mencium, dan kadang menggigit kecil menjelajahi seluruh tubuhnya. Kuluman di puting susu yang disertai dengan gesekan-gesekan ujung burung ke bibir vaginanya kulakukan dengan hati-hati, makin membasah dan nikmat tersendiri.
"Mina-sensei.. ahh, terus ssts.. ahh.. uhh", birahinya memuncak bisa-bisa sampai kepalanya terasa kesemutan, dipegangnya serdaduku.
"Ahh" terasa hangat dan kencang.
"Ah.. ahh!", dia tak dapat lagi menahan gejolak biraninya, membimbing serdaduku ke lubang vaginanya, dia mulai menginginkan serdaduku menyerang ke lubang dan merojok vaginanya yang terasa sangat geli dan gatal.
"Uuuhh.. aaahh", tapi aku malah memainkan topi baja serdaduku sampai menyenggol-nyenggol selaput daranya.
"Ooohh masukkan ahh", gadis itu sampai merintih rintih dan meminta-minta dengan penuh kenikmatan.
Dengan hati-hati dan pelan-pelan aku terus mempermainkan gadis itu dengan serdaduku yang keras, hangat tapi lembut itu menyusuri bibir vagina.
"Ooohh sensei.. masukkan aaahh", di sela rintihan nikmat gadis itu, setelah kulihat puting susunya mengeras dan gerakannya mulai agak lemas, serdadu mulai menyerang masuk dan menembus selaput daranya, Sreetts..Breeetzz..
"Aduuhh.. aahh", tangannya mencengkeram bahuku.
Dengan begitu, shizune hanya merasa lubang vaginanya seperti digigit nyamuk, tidak begitu sakit, saat selaput dara itu robek, ditembus serdaduku yang besar dan keras. Burungku yang terpercik darah perawan bercampur lendir vaginanya terus masuk perlahan sampai setengahnya, ditarik lagi pelan-pelan dan hati-hati..Cluup...clup..
"Ahh", dia merintih kenikmatan.
Aku tidak mau terburu-buru, aku tidak ingin lubang vagina yang masih agak seret itu menjadi sakit karena belum terbiasa dan belum elastis. Burung itu masuk lagi setengahnya dan..
Sreeets..
"Ohh..", kali ini tidak ada rasa sakit, shizune hanya merasakan geli saat dirasakan burung itu keluar masuk merojok vaginanya.
Dia menggelinjang dan mengimbangi gerakan dan mendekap pinggangnya.
"Sensei.. ahh, terus aach uuoh.. ohh.. uhh", serdaduku terus menghunjam semakin dalam. Ditarik lagi,
"Aaahh", masuk lagi.
"Ahh, terus… ahh.. uhh", lubang vagina itu makin lama makin mengembang, hingga burung itu bisa masuk sampai mencapai pangkalnya beberapa kali. Shizune merasakan nikmat birahinya memuncak di kepala, perasaannya melayang di awan-awan, badannya mulai bergeter getar dan mengejang, dan tak tertahankan lagi.
"Aaahh, ooohh, aaahh" vaginanya berdenyut-denyut melepas nikmat.
Dia telah mencapai puncak orgasme, kemudian terlihat lega yang menyelimuti dirinya.
Melihat dia sudah mencapai orgasme, aku kini melepas seluruh rasa birahi yang tertahan sejak tadi dan makin cepat merojok keluar masuk lubang vagina shizune.
"Uhh..sempit aach yes.." desahku
"Mina-sensei.. ahh.. ssst.. ahh.. uhh", dia merintih dan merasakan nikmat birahinya memuncak kembali. Badannya kembali bergetar dan mengejang, begitu juga denganku.
"Ahh.. oohh.. ohh.. aaaahh!", kami merintih rintih panjang menuju puncak kenikmatan.
Crooooooot,croot..
Dan mereka mencapai orgasme hampir bersamaan, terasa serdadu menyemburkan air mani hangat ke dalam vagina gadis itu yang masih berdenyut nikmat.
Aku mengeluarkan serdadu yang terpercik darah perawan itu pelan-pelan, berbaring di sebelah shizune dan memeluknya supaya dia merasa aman, dia tampak merasa sangat puas dengan pelajaran tahap awal yang kuberikan.
"Bagaimana kalau aku hamil sensei?", katanya sambil sudut matanya mengeluarkan air mata.
Sesaat kemudian aku dengan sabar menjelaskan bahwa dia tidak mungkin hamil, karena tidak dalam masa siklus subur, berkat pengalamanku menganalisa kekentalan lendir yang keluar dari vagina dan siklus menstruasinya.
Shizune semakin merasa lega, aman, merasa disayang. Kejadian tadi bisa berlangsung karena merupakan keinginan dan kerelaannya juga. Diapun bisa tersenyum puas dan menitikkan air mata bahagia, kemudian tertidur pulas dipelukanku yang telah menjadikannya seorang perempuan.
Bangun tidur, dia membersihkan badan di kamar mandi. Selesai mandi dia kembali ke kamar, dilepasnya handuk yang melilit tubuhnya, begitu indah dan menggairahkan sampai-sampai aku tak berkedip memandangnya. Diambilnya pakaian yang berserakan dan dikenakannya kembali satu persatu. Kemudian dia pamit pulang dan mencium pipiku yang masih berbaring di tempat tidur.
--
END
