"Sialan, ko aku yang kenaaa!"
"HAHAHAHA."
Untuk kesekian kali video itu diputar, Fang tertawa dibuatnya. Di sana ada Gopal, Taufan dan dirinya sendiri tengah melakukan face tracking challenge pada aplikasi yang tengah viral, yaitu Tiktok.
Hal pertama yang dilakukan adalah menghadap kamera dengan menutup seluruh muka, kemudian mengikuti alunan musik sampai memberi aba-aba, yang selanjutnya membuat mereka bertiga membuka tangan dan mata secara bersamaan. Filter face tracking mulai bekerja, sehingga terlihat wajah siapa yang terkena zoom lebih dulu. Hasilnya, Gopal harus melaksanakan dare yang telah disepakati: menelpon gebetan.
"Aaaaaaa!" Teriaknya frustasi.
Durasi habis, Fang menggeser layar pada video selanjutnya.
Kini mereka bertiga duduk melingkari meja bundar dengan ponsel Gopal sebagai hidangan. Benda itu bergetar seiring dengan suara memanggil, yang di-loudspeak begitu kencang.
"Halo?"
Panggilan diangkat, itu suara Nana. mereka terkejut bukan main, apalagi Gopal yang refleks melempar ponselnya ke lantai.
"Tolol!" Kepala bulatnya terkena dua jitakan langsung dari Fang dan Taufan. Gopal terkekeh, Taufan cengengesan, pemuda landak sweatdrop.
Kembali, Fang tertawa melihatnya.
Idiot calling
Tampilan layar berganti warna dengan hijau mendominasi. Tertera gambar Taufan sedang tersenyum di sana, dengan nama kontak yang serasi.
Fang beranjak berdiri, dan icon telepon berlatar senada, menjadi pilihan untuk kemudian ia tekan.
"Halo?"
Ada jeda sebelum pria di seberang sana menjawab. "Jenazah udah dikuburin. Bentar lagi aku live."
Genggaman pada smartphone Fang mengerat di telinga, walau sambungan telah dimatikan oleh Taufan. Fang bergeming di tempat.
Ini nyeri, ia pun menangis.
0o0
Aplikasi itu membolehkan pengguna membuat video musik pendek sendiri. Tapi bagiku, itu lebih dari sekedar menekan tombol mulai untuk membuat konten. Di sana, kami membuat memori.
Prompt: tiktok
0o0
Enam bulan sudah Gopal berjuang dengan kanker. Namun hari ini, sakitnya hilang, walau mengharuskan ia sendiri pergi. Ke alam sana, melanjutkan hidup kekal dan bertemu Tuhan.
Di bulan keempat pemuda India itu hampir terluka karena mencoba loncat dari lantai dua rumah sakit. Beruntung Fang dan Taufan menemukannya tepat waktu. Ia bilang, tak ada masa depan bila tiap detiknya penyakit itu bertambah parah. Jadi mungkin, menyudahinya lebih dulu adalah pilihan terbaik.
Fang dan Taufan tahu, Gopal tersiksa. Namun selebihnya mereka tidak bisa membantu untuk mengurangi rasa sakit itu. Jadi yang mereka lakukan hanyalah untuk selalu ada di sampingnya.
Melihat pantulan diri pada cermin, Fang memakai pakaian serba hitam yang terbaik. Bersih, harum, rapih.
Suara notifikasi mengalihkan atensinya, bersumber dari benda kotak yang tergeletak di atas nakas.
Rupanya grup ramai oleh teman-teman satu kelas yang saling mengingatkan.
Yu, cepet liat akun tiktok Gopal. Taufan live dari pemakaman
Melakukan hal sesuai instruksi, Fang menaruh smartphone-nya pada meja belajar dengan posisi berdiri.
Akibat virus corona yang mengharuskan warga untuk diam di rumah, menyebabkan ia tidak bisa datang kesana. Namun satu kelas sepakat alih-alih agar bisa menjadi pengantar jenazah walaupun tak langsung, membiarkan Taufan yang keras kepala menjadi wakil untuk menghadiri acara pemakaman. Dan melewati akun tiktok Gopal yang sekarang di buka olehnya, membuat para pengikut artis aplikasi tersebut melihatnya untuk yang terakhir kali.
Karena tidak bagi Fang saja, untuk para pejuang yang melawan penyakit di luar sana, Gopal lebih dari sekedar pembuat konten penyemangat. Ia, harapan.
End
thought about bunch of humor for this prompt. but i wanna make somethin different, so here is it
w love, blacklist name
