PSYCHO
AUTHOR : HUANG AND WU
GENRE : ROMANCE, THRILLER
LENGTH : ONESHOT
CHARACTER : PARK CHANYEOL, BYUN BAEKHYUN, and supporting casts!
POINT OF VIEW : AUTHOR
RATE : M for violence and gore
SUMMARY :
Ini hanyalah cerita singkat seorang pembunuh berdarah dingin yang takluk pada seorang pemuda polos yang secara tak sengaja melihatnya membunuh. Ketika rasa memiliki dan menjaga itu lebih besar daripada rasa menghancurkan, semuanya seakan berputar seratus delapan puluh derajat dari biasanya.
WARNING! IT'S YAOI!
HALO!
Jadi inspirasi FF ini tidak lain tidak bukan adalah lagu bonus track Baekhyun di album City Light's nya yang berjudul Psycho! Well, udah jatuh cinta sama lagu ini semenjak dinyanyiin sama Baekhyun live, and praise to God akhirnya dirilis studio versionnya.
Enjoy!
.
-PSYCHO-
.
.
-psycho-
"Berikut adalah file target kita selanjutnya. Sepasang pengusaha sukses yang menempati rumah di salah satu bilangan daerah Apgujeong, Seoul. Suami istri yang merupakan anggota sindikat mafia Scarecrow yang menguasai perdagangan Asia Timur sampai ke Uni Emirat Arab dalam hal pertambangan dan pembangkit listrik."
Seorang pemuda menyerahkan setumpuk file di hadapan seorang pemuda lain yang tengah menikmati rokok sembari menatap jendela. Pemuda tampan berkulit tan itu duduk di kursi, menunggu temannya selesai menikmati rokoknya.
"Kenapa?"tanya pemuda tinggi yang merokok itu, tanpa melihat temannya.
"Mereka akan menjadi pewaris tunggal dari hasil korupsi komplotan Scarecrow jika tidak dieliminasi. Eliminasi mereka beserta bodyguard mereka."ucap pemuda tan itu, seraya menyilangkan kakinya.
Pemuda yang merokok itu menaruk rokoknya di asbak, kemudian menghembuskan asap terakhir rokoknya. Ia menatap file-file itu, membacanya sekilas. Pemuda berkulit tan di hadapannya hanya diam menatapnya serius, menunggu respon pemuda tinggi di hadapannya.
"Kapan dan berapa?"tanya pemuda tinggi itu, kemudian menatap pemuda tan di hadapannya.
"Besok, USD $40.000,-"ucap pemuda tan di depannya, dengan smirk andalannya.
Pemuda tinggi di hadapannya menatap file di depannya lagi, kemudian menghisap rokok yang tadi ia taruh di asbak. Ia memperhatikan nama-nama itu.
"Oke."ucap pemuda tinggi itu, kemudian mematikan rokoknya di asbak berbentuk kepala harimau miliknya.
"Aku tahu kau tidak akan mengecewakan, Chanyeol!"
-psycho-
Hari sudah berganti, dan suasana kota Seoul mulai meredup akibat malam yang menyapa. Area upper class Apgujeong terlihat ramai oleh banyaknya kendaraan berlalu lalang—kebanyakan mobil pengusaha—dan banyak kedai yang mulai tutup. Sebuah mobil metalik hitam sampai, kemudian berbelok ke sebuah sudut gelap dekat lapangan basket, tak jauh dari kawasan apartemen di sana.
CKLEK
Seorang pemuda—kita mengetahuinya sebagai Chanyeol—keluar dari mobil itu, dengan pakaian serba hitam disertai trench coat hitam kelam. Ia mengenakan sebuah topi hitam, lantas berjalan pergi tanpa membawa apapun. Ia mengamati struktur bangunan di depannya, kemudian menatap sebuah foto di depannya.
Apartemen di depannya persis seperti yang ada di foto.
Ia berjalan ke sana dalam diam, dengan kepala terus ditundukkan dan mencegah terlihat oleh CCTV. Chanyeol membuka pintu apartemen dengan tangannya yang tertutup sarungtangan—tidak meninggalkan sidik jari—kemudian melenggang dengan santai. Ia menatap resepsionis yang cukup ramai, kemudian dalam diam berjalan ke tangga darurat yang ada di dekatnya. Ia langsung berjalan naik.
Ia menapaki langkahnya satu per satu, mengingat lantai yang harus ia datangi. Pemilihan tangga darurat untuk ke atas sangatlah baik, karena tidak ada yang lewat tangga darurat selagi elevator masih berjalan. Chanyeol membuka penutup saku sesuatu yang ada di pinggangnya. Penutup saku dari sebuah handgun. Sebelum memasuki lantai apartemen, ia mempersiapkan handgunnya dengan memasang silencer di ujungnya—untuk meredam suara tembakan dan tidak memicu keributan. Setelah siap, ia memasukkan handgunnya lagi dan masuk ke lantai 7, tujuannya.
Ia berjalan menyusuri lorong yang sepi itu, menatap kamar di sana satu per satu. Setelah ia sampai pada sebuah kamar, ia terdiam di depannya.
Kamar 710
TOK TOK
Chanyeol mengetuk pintu kamar itu sebanyak dua kali, cukup keras untuk menegaskan ada tamu di depan pintu. Dengan pendengaran tajamnya, ia bisa mendengar suara langkah kaki mendekati pintu itu.
CKLEK
"Ada ap—"
DOR
Tanpa aba-aba, pemiliki apartemen itu membuka pintu dan langsung mendapatkan tembakan sunyi dari Chanyeol, tepat di keningnya. Dan, BRUK! Tubuh itu ambruk begitu saja di ambang pintu.
—and the Devil shows up with coldness in his eyes—
"HEY!"
Terdengar pekikan beberapa orang, tapi Chanyeol jauh lebih sigap di sana. Dengan akurasi tingkat tinggi, ia menembaki orang-orang tersebut satu per satu, tepat di kening mereka. DOR! DOR! DOR! Satu per satu lelaki di sana—yang berpakaian seperti bodyguard—berjatuhan ke lantai, bersimbah darah dari keningnya.
"KYAAAAAAA!"
Terdengar pekikan seorang wanita, yang dengan histeris berusaha menghindar dari kejaran Chanyeol. Chanyeol berjalan ke arahnya dalam diam. Wanita itu menangis sendu, kemudian berjalan ke arah balkon—ia terjebak di sana! Chanyeol berdiri di hadapannya, angin langit Seoul mengibarkan trench coat nya, seakan menunjukkan bahwa ia berkuasa atas kondisi di sana.
"Si-siapa kau?"tanya wanita itu, takut-takut.
Chanyeol hanya diam, mengambil satu langkah mendekati wanita itu. Wanita berwajah oriental Chinese itu menangis histeris, ketakutan setengah mati. Ia menatap ke arah bawah, dimana mobil-mobil berlalu lalang di bawah sana—menyinari jalanan Apgujeong.
"Kumohon, ampuni aku..."ucap wanita itu, dengan putus asa.
Chanyeol tidak merespon apa-apa, kemudian ia mengangkat handgunnya tepat ke arah kening wanita itu. Wanita itu memejamkan mata ketakutan, tidak mau berhadapan dengan lubang silencer dari handgun Chanyeol.
—and the Devil is so merciless—
HUP
Dan—sesuai dugaan Chanyeol—wanita itu melompati balkon, membiarkan dirinya terjun bebas ke lapangan apartemen di sana. BAM! Suara tumbukan keras terdengar menghantam atap salah satu mobil yang terparkir di bawah, seiring dengan teriakan histeris orang-orang yang kebetulan lalu lalang. Chanyeol melihat ke bawah sekilas, terdiam melihat mayat hancur dari wanita tadi. Satu pekerjaannya pun selesai dengan sempurna—ia bahkan tak perlu repot membunuh wanita tadi.
Dan ketika ia berbalik, Chanyeol terdiam. Matanya berhadapan dengan sesuatu.
Seorang pemuda yang lebih mungil darinya dengan wajah yang manis—namun ketakutan setengah mati—menatap Chanyeol. Matanya bergetar, dengan genangan air mata yang tidak berhenti mengalir. Tubuhnya ikut bergetar, dengan kedua tangannya memeluk boneka beruang berukuran sedang yang terlihat sudah basah oleh air mata. Tapi, pemuda itu hanya diam saja—bibirnya bergetar hebat.
Chanyeol tidak tahu kenapa, tapi ia merasa tentram dan—anehnya—hangat di dadanya.
—and fate never lies to anyone it has been determined since, including Chanyeol, a human being nevertheless—
Chanyeol mendekati pemuda itu, dan pemuda itu hanya diam saja—dia terlalu bergetar untuk berbicara. Ia menatap Chanyeol dari atas ke bawah, kembali lagi ke atas. Bisa dilihat kalau ia mengeratkan pelukannya pada boneka beruangnya, seakan boneka itu akan melindunginya.
"Ke-kenapa kau... me-membunuh... orangtua—ku?"tanya pemuda itu, terbata-bata.
Chanyeol diam saja, tapi ia terlalu hanyut dalam mata onyx berwarna hitam kelam milik pemuda itu. Chanyeol mengangkat tangannya, menarik pelan tangan kanan pemuda itu. Pemuda itu hendak berontak, tapi dia terlalu takut.
"Ayo."ucap Chanyeol, dengan suara beratnya yang singkat.
—when the rage is turned over into compassion, when the feeling of protecting is stronger than destroying the art of God—
Pemuda manis itu ketakutan, dia tidak tahu apa maksud Chanyeol padanya. Chanyeol menarik lagi tangan itu, dan membawanya melangkah pelan untuk keluar dari ruangan. Pemuda manis itu menangis semakin deras ketika melihat mayat ayahnya dan bodyguardnya yang tergeletak begitu saja di lantai.
SRET
Chanyeol menutup mata pemuda itu dengan satu tangannya, membantunya untuk terus berjalan keluar dari apartemen itu. Setelah sampai di lorong yang masih sepi, Chanyeol menariknya bersama, meninggalkan apartemen orangtua pemuda itu. Pemuda itu tentu tidak mau pergi, tapi dirinya terlalu takut dan Chanyeol sendiri sangatlah kuat.
Mereka pun meninggalkan apartemen itu dalam sunyi.
-psycho-
Mereka telah sampai di sebuah rumah besar yang luas, tapi pemuda manis itu tidak tahu dimana mereka sekarang—Chanyeol memberinya penutup mata agar ia tidak tahu arah yang dilewati mereka untuk sampai ke bangunan megah itu. Chanyeol keluar dari mobilnya, kemudian membuka pintu penumpang pemuda itu.
"A-apa yang kau mau dariku?"tanya pemuda itu, putus asa—tentu Chanyeol akan membunuhnya seperti yang dia lakukan pada orangtuanya kan?
Chanyeol diam saja, kemudian berjalan lebih dulu masuk ke bangunan megah dua lantai itu. Pemuda manis tadi meraih boneka beruangnya, kemudian mengikutinya di belakang—masih menunduk takut.
Ketika pemuda itu sampai di pintu depan bangunan itu, Chanyeol sudah menghampirinya dengan membawa secangkir teh hangat. Chanyeol menuntunnya untuk duduk di sebuah sofa empuk, dan membiarkannya menikmati teh hangat itu.
"Kenapa kau tidak membunuhku?"tanya pemuda itu, tanpa menyentuh cangkir teh di hadapannya—dan ia masih memeluk boneka beruangnya.
Chanyeol duduk di sofa jauh di hadapannya, menatapnya dalam diam. Ia sudah membuka topinya, dan membiarkan pemuda itu melihat wajahnya secara keseluruhan. Chanyeol menyilangkan kakinya, tidak menjawab pertanyaan itu.
"Aku—aku tidak mengerti."ucap pemuda manis itu.
"Diam dan minum tehmu, Byun Baekhyun."ucap Chanyeol, setengah berbisik.
Pemuda manis bernama Byun Baekhyun itu terdiam, merasakan getaran aneh ketika mendengar suara perintah Chanyeol. Chanyeol menatapnya intens, mengamati struktur wajah pemuda Byun yang duduk di hadapannya ini. Baekhyun menunduk, kemudian tangan bergetarnya meraih cangkir teh di hadapannya. Ia menatap Chanyeol takut-takut, namun Chanyeol tidak bereaksi apa-apa.
—the time when Baekhyun has no idea how he had turned Chanyeol so badly into something far from an assassination machine—
Baekhyun menyeruput tehnya perlahan, entah kenapa rasa manisnya sangat pas dengan lidahnya dan itu membuatnya menjadi lebih tenang. Baekhyun menatap Chanyeol yang masih mengamatinya dalam diam, kemudian segera menaruh cangkir itu kembali ke meja di depannya.
"Ma-maaf, a-aku... takut denganmu."ucap Baekhyun, dengan nada berbisik yang lirih.
Tatapan Chanyeol melembut, kemudian ia bangkit dan berjalan ke arahnya. Ia menyodorkan tangan kanannya, menunggu Baekhyun mau menerima tangannya. Dengan memaksakan keyakinan, Baekhyun meraih tangan itu dan menggenggamnya erat—sampai ia melupakan bonekanya. Chanyeol membantunya berdiri, dan menuntunnya pelan ke lantai dua.
Sesampainya di lantai dua, Chanyeol membawanya ke sebuah pintu cokelat cukup besar di sana. Ia menatap Baekhyun beberapa kali, memastikan pemuda itu sudah lebih tenang sekarang. Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan tidak mengerti. Chanyeol membuka pintu itu, kemudian membiarkan Baekhyun masuk lebih dulu.
"A-aku... bonekaku di bawah."ucap Baekhyun, yang berbalik ke arah Chanyeol.
Dan di situlah, ia mendapati Chanyeol yang mengunci pintu ruangan itu, dan menatap Baekhyun intens. Sebelum Baekhyun bisa memundurkan tubuhnya, tangan kekarnya sudah menariknya mendekat, kemudian menolaknya ke dinding dengan lembut. Baekhyun ketakutan—terlihat dari matanya yang bergetar—tapi ia merasakan hal yang lain.
—the compassion he sees in Chanyeol's eyes is no joke—
"Park Chanyeol."ucap Chanyeol, berbisik di telinga kanan Baekhyun.
Baekhyun terdiam, sedikit memproses. Sekarang ia baru mengetahui nama pemuda misterius di depannya. Chanyeol mengunci Baekhyun dengan menempatkan kedua tangannya di masing-masing dinding di sisi tubuh Baekhyun, mencegahnya bergerak kemana-mana. Baekhyun menunduk takut, selain karena posisi mereka terlalu dekat, Chanyeol jelas adalah pembunuh berdarah dingin.
"To-tolong, aku ti-tidak mengerti."ucap Baekhyun, berusaha memahami situasinya dengan Chanyeol sekarang.
CHU
Chanyeol mengecup kilat bibir bergetar Baekhyun, menimbulkan kekagetan luar biasa dari empunya. Chanyeol menatap mata onyx itu dengan intens, seakan tidak membiarkannya lolos. Baekhyun masih mencerna situasi di sana, dan dia sudah terlalu kaget dengan segala perlakuan Chanyeol padanya.
"Aku jatuh cinta padamu. Maukah kau bersamaku?"
—and the Devil has turned over, by a single sight from the beauty of Baekhyun's eyes—
Baekhyun mengernyit heran, kaget, campur aduk lah seluruh perasaan itu. Chanyeol mengatakan hal itu padanya, bahkan masih dengan suara dinginnya. Baekhyun menatap mata itu, menyelami obsidian kelam Chanyeol yang sangat dingin. Tapi, entah kenapa, Baekhyun melihat kejujuran di sana.
"Apa—kau terbiasa jujur begini?"tanya Baekhyun, berusaha memahami kata-kata Chanyeol.
"Biasanya."jawab Chanyeol.
Chanyeol merengkuh Baekhyun dalam pelukannya, memberi kehangatan yang aneh. Baekhyun tidak membalas pelukan itu, masih mencerna segalanya. Dia ingin percaya, namun kepercayaan itu menimbulkan kontradiksi dalam hatinya dan itu membuatnya tidak nyaman. Chanyeol menghirup lamat-lamat wangi rambut Baekhyun, seakan terobsesi oleh makhluk di hadapannya.
"Aku akan melindungimu, Byun Baekhyun. You can keep my words."
—and Chanyeol always keeps his words—
Baekhyun terdiam, mendengar bisikan rendah Chanyeol. Chanyeol mengeratkan pelukan Baekhyun, menikmati momen yang intim itu bersama. Dia tidak pernah sekalipun merasa ingin memiliki dan menjaga sesuatu sekeras apa yang ia alami pada Baekhyun saat ini, tapi ia suka sensasi itu. Sensasi menjaga, bukan menghancurkan sesuatu seperti yang selama ini biasa ia hadapi.
"And I'm sorry."
Baekhyun semakin kaget, ketika Chanyeol meminta maaf. Suara itu dalam, dingin, namun ada kejujuran di sana. Kejujuran akan apa yang Chanyeol rasakan, dan Baekhyun sangat bisa merasakannya. Air mata mulai mengalir dari mata Baekhyun, mengingat bagaimana singkatnya waktu ketika ia harus menyaksikan orangtua dan bodyguardnya terbunuh secara cepat dan tiba-tiba di apartemennya. Baekhyun baru saja keluar dari toilet ketika ia sudah melihat ayahnya terkapar mati di lantai, dan ibunya yang memohon lirih pada Chanyeol. Baekhyun bahkan tidak pernah mengenal Chanyeol sebelumnya.
"Jangan tinggalkan aku, Baekhyun."
—and the Devil is so desperate of love—
Baekhyun terdiam mendengarkan ucapan itu. Chanyeol masih setia memeluknya erat, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan manusiawi seorang manusia seperti Byun Baekhyun. Baekhyun menghela nafas pelan, dan—masih dengan air mata yang mengalir—ia mengangkat kedua tangannya.
Ia pun mendekap balik Chanyeol.
THE END
Well, I know this is so short! Huang and Wu juga gak ada niat untuk bikin sequel untuk FF ini, biarlah dia cliffhanger seperti ini hahaha! I personally like the way of this FF becomes such poetic in the end LOL.
Btw, jangan lupa pantengin project baru Huang and Wu ya yang berjudul The Golden Chrysoberyl!
Untuk If You Could See Me Now, HAW masih kena author's block untuk ngelanjutin, jadi gak tau kapan dilanjutnya. Berdoa saja semoga ada inspirasi untuk ngelanjutin.
Akhir kata, mind to Review and Favourite my story?
HUANG AND WU
