Naruto © Masashi Kishimoto

Gradually Changing © White Apple Clock

Rate: T

Genre: Hurt/Comfort

MainPairing: ChouKarui

Warning: AU, miss-typo(s), oneshot, OoC, etc.

Inspired by a Korean Song titled "Hann (Alone)" by (g)-idle

DLDR!


.

.

.

Siang berubah mendung. Kelabu awan mengitari seluruh penjuru langit, bersiap menjatuhkan rintik-rintik hujan. Ini akan menjadi hujan pertama di bulan April, mungkin ini adalah hujan terakhir yang dibawa dari sisa-sisa berakhirnya Maret–bulan terakhir pembawa hujan. Angin mulai bertandang, sayap-sayapnya seolah menyapu dataran. Begitu kuat, nampaknya akan hujan deras.

Karui menyeruput secangkir teh yang ia buat sejam yang lalu. Pelan-pelan ia menyesap, meresapi pahitnya teh hijau yang sama pahitnya dengan kisah cinta yang ia alami belakangan ini. Tangannya yang eksotis meletakkan cangkir kaca itu dengan pelan, dengan anggun. Kedua bola matanya menatap menebus jendela yang mengarah pada jalanan yang sepi. Seakan-akan ia menunggu hujan itu datang, mengajak bumi untuk menangis bersama dengan kesedihan masing-masing.

Perempuan itu duduk dalam diam, tetapi pikirannya beranjak ke masa lalu. Masa-masa yang membuatnya emosional, masa-masa yang menguras hati dan pikirannya.

"Aku rasa, kita memiliki ketertarikan yang sama. Aku rasa, kita saling melengkapi. Aku rasa, kita cocok."

Suara berat dari sosok lelaki itu melafaskan serantai kalimat yang tidak pernah Karui lupakan. Membekas dengan sangat berarti dalam ingatannya, terukir dengan dalam di hatinya. Saat itu jugalah, benteng yang Karui bangun selama lelaki itu mengejarnya runtuh. Luluh lantak dengan lembut–Karui mulai jatuh cinta dengan laki-laki itu.

Hari demi hari mereka lalui dengan bahagia. Hari demi hari mereka saling mengenal warna masing-masing. Hari demi hari mereka mulai membangun pengertian dan merencanakan sebuah komitmen.

Semuanya terlihat sederhana. Lelaki bertubuh berisi itu selalu tahu bagaimana caranya membuat Karui tersenyum–sekalipun perempuan itu sedang merasa suram. Karui menyukai apapun dari Chouji–lelaki itu–sebagaimananya dengan yang lelaki itu katakan kalau ia menyukai segalanya tentang Karui.

Mengingat itu semua, Karui mencetak senyumnya yang telah sirna setelah sekian lama ini. Kemudian, menikmati kembali teh hijau itu sebelum melanjutkan nostalgia.

Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, bulan menjadi tahun. Mereka membuat kenangan indah selama dua tahun. Maka, di saat inilah mereka dilanda cobaan. Cobaan yang tidak pernah Karui sangka sebelumnya, ia belum mempersiapkan diri untuk menghadapi cobaan itu. Bahagia membuatnya terlena, terbuai tanpa penjagaan.

Dari waktu ke waktu, kenangan menuju hubungan tiga tahun adalah sesuatu yang pahit untuk Karui telan. Chouji mulai berbohong, mulai egois, mulai cuek. Semula berdua, kini dilalui sendiri. Mereka seperti terpisah, mulai berjalan di jalannya masing-masing. Seolah-olah ikatan hubungan mereka hanyalah sebuah formalitas–hanya sebuah kata.

Contoh kasusnya biasa memang, tapi cukup mengoyak kepercayaan Karui yang sudah berikan. Tidak memberi kabar selama lima hari berturut-turut, di hari kelima kepergok tengah have fun bersama rekan kerja sejawatnya di dalam sebuah kelab malam.

Mereka coba untuk bermediasi–meskipun itu Karui yang berinisiatif. Karui mecoba membahasnya dengan tenang, tetapi pihak Chouji merasa seperti tidak bebas. Chouji berontak, berujung pada Karui yang mengalah. Di hari ketiga mereka perang dingin, Chouji melemparkan kata maaf. Mereka pun kembali bersama.

Tetapi seminggu kemudian, cekcok kembali ke mereka. Kali ini kejadiannya adalah Chouji yang telat saat mereka sudah berjanji untuk sekadar makan di kafe sejak jauh hari. Awalnya, Karui maklum. Namun, di balik keterlambatan Chouji ada perjanjian lain dengan perempuan lain yang kabar-kabarnya Chouji dekati selama menjalin hubungan dengan Karui. Sudah hampir sebulan.

Chouji main api di belakangnya.

Cinta membutakan Karui, perempuan itu masih belum bisa mempercayai kabar yang ia dapat. Tidak akan ia percaya, sampai ia yang melihat sendiri bukti itu. Maka, Karui mencoba meredam jangkauan radarnya. Ia masih mempercayai Chouji–meskipun mulai berkurang. Karui mengharapkan adanya perubahan dari lelaki itu, mengharapkan mereka kembali merasakan seminya bunga yang bermekaran seperti di awal hubungan mereka.

Sampai akhirnya saat itu tiba–saat di mana Karui melihat sendiri bukti itu.

Mungkin ini yang orang-orang bilang tentang rasanya ribuan pisau merajam dadanya–pikirnya. Karui berjarak dua meter dari kejadian. Kedua bola mata kuningnya melihat jelas bagaimana Chouji memperlakukan dengan lembut perempuan lain itu. Persis dengan apa yang ia lakukan dengan Karui di awal-awal kisah mereka dimulai.

Karui tidak pernah menyangka bahwa ia akan menyaksikan adegan memilukan itu di jalanan dekat kantornya. Awalnya ia semangat ingin mengunjungi kantor Chouji yang terletak tepat seberang kantornya. Tapi rasa itu semua berganti dengan rasa sakit yang menyerangnya tiba-tiba. Tubuh Karui hanya mematung di tengah trotoar. Waktu seakan berhenti baginya, kontras dengan orang-orang yang berjalan melewatinya tanpa peduli. Yang Karui pikirkan adalah bagaimana bisa lelaki itu–mobil Chouji melesat pergi membawa perempuan itu, entah ke mana.

Langkah kaki yang Karui tuai melemas, ia terduduk di halte bis sambil menunggu bisnya datang. Karui memutuskan untuk pulang, memporak-porandakan apartemennya dengan tangisan. Ia dalam hati memaki bis yang tidak kunjung datang, ia sudah tidak tahan membendung tangis.

Kepulangannya membuahkan kekacauan. Sesampainya di kamar apartemen, semuanya berantakan ia buat. Semua vas yang ia pecahkan ke lantai belum memuaskan kesedihannya. Semua bantal berserakan, belum melampiaskan sepenuhnya kemarahan perempuan itu. Semua kursi ia balik, kekuatannya berasal dari kekesalannya yang tidak berujung.

"Aku rasa, kita memiliki ketertarikan yang sama. Aku rasa, kita saling melengkapi. Aku rasa, kita cocok."

Cocok? Bajingan–itulah yang terngiang-ngiang selalu di kepala Karui pada saat itu.

Di kamar itu hanya ada suara tangis, teriak, dan napas yang berat. Rasa sakit itu membentuk image monster pada diri Karui. Hingga lelah itu menghampiri Karui, tenaganya habis untuk sekadar mencampakkan barang dan menangis. Satu jam kemudian ia membuat teh, duduk nelangsa di atas lantai di tengah-tengah kondisi kamarnya bak kapal pecah.

Pandangan matanya kosong. Jarum jam berdetak kencang, seperti memperingatkan Karui menit demi menit berlalu–perempuan itu tidak menggubrisnya. Dalam setiap tegukan air matanya terus mengalir. Usahanya untuk menggapai ketenangan belum maksimal, ia masih merasakan sedih itu. Sekalipun orang-orang mempercayai bahwa segelas teh mampu membawa ketenangan diri dan jiwa.

Pagi berganti ke siang, siang berganti ke malam. Selama tiga hari, selama itu juga Karui tidak bergeser sesentipun dari tempat ia minum teh. Gelasnya sudah mongering, begitu juga dengan air matanya. Posisinya selalu sama–duduk terpuruk sambil memeluk lutut, kemudian menangis sejadi-jadinya. Hingga akhirnya ia lelah menangis, ia terdiam dengan tatapan kosong. Kemudian menangis lagi–begitu seterusnya.

Ia mencintai lelaki itu, tapi ia tidak siap dihadapi kenyataan kalau tidak semua lelaki bisa setia.

Keterpurukannya berangsur-angsur menghilang seiring dengan berjalannya waktu. Dibantu dengan kerjaan kantor yang tiada habisnya dan kunjungan tema-temannya seminggu sekali–mereka memang berniat seperti itu setelah mendapat kabar betapa hancurnya Karui. Tetapi, melupakan Chouji tidak segampang mengusir kesedihannya.

Hingga sampai detik ini, di saat ia tengah menatap langit mendung dengan tenang sambil menikmati secangkir teh–ingatan itu selalu membekas. Hanya saja, hanya sebatas ingatan. Hanya sebatas kejadian yang sempat mencetak sejarah pada hidup Karui.

Memang kesimpulannya, semuanya dari mereka pelan-pelan berubah. Karui yang pertamanya tidak memperdulikan eksistensi Chouji, kini memperdulikannya dan bahkan rasa itu mengembang. Kemudian Chouji yang awalnya berniat setia menurut Karui, kini berselingkuh. Begitu juga dengan Karui, sedih itu perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang biasa saja.

Right, everything is happen to change–gradually changing.


THE END


A/N :Hello readers! Selamat beraktivitas yaa, meskipun everything from home, hehe.


Yosh, mind to review?