Deffend
.
Vocaloid milik Crypton Future Media dan Yamaha Corp yang punya.
.
Mengandung berbagai adegan tidak masuk akal.
.
Rating M, kalian sudah di peringatkan.
Sudah hampir setahun semenjak kepindahanku ke rumah bibiku di kota Cryton, kota asalku sebuah kota di pegunungan bernama kota Voca. Di sini aku tinggal bersama bibiku karena aku berkuliah di kota ini, daripada membayar menyewa apartemen selama aku di sini, lebih baik serumah dengan bibiku, bibiku memiliki sebuah usaha kafe dan restoran di sebuah hotel di dekat sini.
Tetapi bibiku selalu berkata kepadaku untuk hati-hati bila berkunjung ke restoran bibiku, mereka memang akan memberikan servis gratis kepadaku, tetapi daerah di sekitar hotel itu adalah sebuah daerah red district. Dan bibi tahu aku hanyalah anak baik- baik dan tidak mau aku menjadi korban di sana.
Aku memiliki seorang teman di sini, namanya Beni, Beni Sachine, aku tahu dia kehidupannya benar-benar liar, tetapi aku berusaha untuk tidak terjerumus di sana. Aku bahkan memiliki seorang pacar di sini, namanya Kaito, Kaito Shion, anak kedua dari kepala polisi kota Crypton.
"Miku, apa kau ingin ikut aku ke restoran? Sedang perayaan di sana, jadi kita bisa berpesta di sana." Kata bibiku, aku hanya menatapnya, bibiku ini senang sekali berpesta hingga terkadang dua hari tidak pulang, dan aku sudah bisa dengan kelakuannya, dia sama sekali tidak menyakitiku dia hanya menyuruhku untuk menjaga rumah selama dia pergi, apalagi bibi juga terkadang keluar kota mengurus restorannya di tempat lainnya.
"Tapi Beni-chan sedang di luar, dan aku tidak tahu kapan dia kembali." Kataku, Beni sedang ada masalah dengan keluarganya jadi dia menginap di sini, dia tidur di kamar tamu di sebelah kamarku. Tadi dia keluar entah kemana, sementara aku dari tadi fokus mengerjakan tugasku, aku dan Beni-chan satu jurusan, tetapi dia tidak pernah serius mengerjakan tugasnya.
"Tidak usah perdulikan dia Miku, bibi heran kepadamu, kenapa kau berteman dengan orang seperti itu, dia hanya memanfaatkanmu." Kata Bibi, aku hanya menggeleng.
"Tidak bibi, Beni-chan tidak memanfaatkanku, baiklah, tapi aku harus pulang sebelum jam 9 malam ya bi? Aku ada tugas yang harus aku kumpulkan besok senin." Kataku, bibi hanya mengangguk.
"Kalau begitu kau pulang sebelum petang saja, ingat di tempat hotel adalah tempat yang berbahaya." Ujar bibi, aku hanya mengangguk, sekarang sudah jam 12 siang kebetulan aku juga belum makan siang, rumah bibi di sini tidak sebesar bayangan kalian, tetapi memiliki tingkat hingga 3 lantai.
"Tentu saja bi, aku juga lapar." Ujarku, bibi kemudian menarikku untuk berdandan dan memakai pakaian terbaikku, sebuah dress berwarna hitam elegan selutut, juga memiliki pita menjuntai di salah satu pundak, rambutku di gelung dan di beri hiasan dari mutiara. Kami berjalan ke tempat itu karena lokasi nya lumayan dekat, hanya menyebrang 3 blok dan sampai.
Kondisi di restoran itu sangat megah, hotel ini memang di bangun di red district, tetapi bukan sebuah love hotel, melainkan hotal biasa, dan memang di targetkan untuk wisatawan asing yang berlibur di red district ini dan sedang meancari "fantasi" di sini. Aku bisa melihat banyak sekali makanan yang menggugah selera juga, acara itu di selenggarakan secara buffet, aku bebas mengambil kue atau makanan dari stand yang telah di sediakan.
Orang lua bisa menikmati pesta ini dengan harga tiket yang telah di tentukan, dan karena ini ulang tahun restoran yang ke 10 tahun, maka harga tiketnya telah mengalami diskon 10% dari harga buffet normal. Aku mencoba roti di sana dan beberapa snack spesial di sini seperti daun maple dan takoyaki, ada taiyaki juga. Hotel ini sebenarnya juga merupakan hotel bintang 5, bahkan restoran ini sudah meraih penghargaan michelin.
Astaga kelihatannya setelah pulang dari sini aku tidak perlu makan malam, sayangnya Kaito tidak bisa ikutan datang karena tugas yang membunuhnya, aku ingin tertawa dengan nasib Kaito, dia mengambil jurusan hukum, sementara aku hanya mengambil jurusan bisnis.
'Micchan, kau berhati-hatilah di sana, ada beberapa laporan pemerkosaan dari distrik itu, berhati-hati lah.' Pesan Kaito yang di kirimkan kepadaku.
'Tenang saja Kai-kun, aku akan pulang ketika matahari akan terbenam.' Kirimku. Aku kembali memuaskan mulutku, bahkan ada olahan negi juga di salah satu stand, aku benar-benar tidak memerlukan makan malam setelah ini.
'Kalau ada apa-apa kau bisa menelponku, aku akan segera ke tempatmu secepatnya.' Pesan Kaito, aku hanya tersenyum memandangi pesan Kaito, aku kembali menikmati pesta, banyak juga tersedia minuman keras, tetapi aku tidak ingin minum apalagi tugasku masih banyak yang harus di kerjakan. Suasana di sini sangat hingar bingar, aku hanya memandangi panggung yang sedang ada orang bernyanyi di sana dari pojok restoran, aku tidak ingin tersenggol orang kesana-kemari.
"Miku, sudah hampir malam, sebaiknya kau pulang." Ujar seseorang aku menengok, ternyata bibi, aku kemudian melihat ke arah kaca, matahari telah bersiap pulang ke tempatnya. "Mau bibi panggilkan seorang pegawai untuk mengantarmu pulang?" tawar bibi, aku hanya menggeleng.
"Tidak usah bibi, jarak ke rumah sungguh dekat, aku akan berjalan saja." Ujarku sambil mengenakan jubah bulu ku dan bersiap untuk pulang.
"Baiklah hati-hati di jalan, bila ada apa-apa jangan ragu-ragu untuk menelpon tombol darurat," kata Bibi aku hanya mengangguk dan meninggalkan restoran itu, aku melihat ada orang merangkul dua orang perempuan sedang mendaftar untuk kamar. Aku hanya berlalu melewatinya berusaha untuk tidak terlalu menarik pehatian. Aku berjalan keluar sambil beberapa orang menyapaku, tentunya pegawai hotel yang kenal denganku. Aku berjalan berusaha tidak menarik perhatian siapapun, dan akhirnya aku bisa melewati distrik itu dengan aman.
"Hei gadis manis, mau temani kami sebentar." Kata seseorang, oh tidak, padahal aku sudah keluar dari red district.
"Ah, maafkan aku, aku tidak punya waktu." Kataku sambil melangkah pergi. Tetapi seseorang memegangi lenganku.
"Kemarilah sebentar, kami akan memuaskanmu." Kata orang yang memegani lenganku.
"Tidak," kataku menghentakkan tanganku dan langsung lari pulang.
Akhirnya aku sampai di rumah dan kelihatannya Beni-chan belum pulang, tetapi aku telah lelah, toh dia memiliki kunci rumah ini, asalkan dia tidak memakai kamar itu sebagai pesta seks-nya dia lagi. Aku bisa-bisa di marahi habis-habisan oleh bibi, dia terkadang memakai kamar di sebelahku dan beralasan menginap agar dia bisa melakukan seks ketika orangtuanya di rumah, aku hanya membiarkannya saja, asalkan dia tidak membuat kekacauan di sini.
Aku mengunci kamarku dan untung saja dinding ini meredam suara dari luar jadi aku tidak perlu tahu apa yang Beni-chan lakukan, asalkan aku tidak ikut-ikutan ber-'pesta' bersama Beni-chan.
Hoaaahhmm.. ku menguap yang kesekian kalinya, lalu menutup buku-buku di hadapanku juga laptop di sana, aku lalu menyimpan laptopku ke lemari, ini jarang sekali aku lakukan kecuali aku hendak pergi jauh dalam jangka waktu yang lama, tetapi biarlah, malam ini. Setelah tadi mengerjakan tugas sembari di temani dengan telepon dari Kaito. Ponselku langsung kehabisan baterai dan aku mengisi daya nya. Sambil berangkat tidur, tentunya aku sudah berganti pakaian dan rambutku aku gerai, aku mendengar Beni-chan kelihatannya sudah kembali, dan beberapa derap langkah kaki lainnya, aku hanya menggela nafas besok aku harus membereskan kekacauan dia, lagi.
..
.
Alaram ku berbunyi, aku mematikannya dan mencoba bangun, rasanya kasur ini sungguh nyaman sekali.
Aku keluar dari kamar dan melihat Beni-chan bersama dengan 4 orang laki-laki, dia sungguh gila, apalagi kamarnya tidak di tutup.
"Beni-chan, lebih baik kau pulangkan mereka sebelum bibi datang, dan bisakah kau berhenti melakukan seks di sini." Kataku dan Beni-chan hanya terkikik. Aku menuju lantai satu tempat dapur untuk memasak sarapan, rasanya mengantuk sekali. Aku masih memakai piyama ku yang berupa kaos dan celana pendek, aku mendengarkan langkah menuju dapur. "Beni-chan, apa kau menyukai sereal? Maafkan aku aku terlalu capek untuk memasak hal yang lebih kompleks daripada ini." Kataku tanpa menoleh ke belakang, sebuah tangan kemudian memelukku dari belakang. "Beni-chan, tumben kau memeluk." Kataku kemudian menoleh, tidak, itu bukan Beni-chan.
"Kena kau gadis manis," kata orang berambut pirang itu, aku secara refleks melepaskan diri. Mereka, orang-orang yang sama dengan yang semalam memegangi tanganku.
"Beni-chan!" kataku mencoba protes kepada Beni-chan.
"Gadis itu sudah pergi, dia berkata kami akan bisa lebih di puaskan denganmu gadis manis, ternyata kau menolak kami tapi kenyataannya kau benar-benar ahli soal ini ya?" kata orang itu berusaha mendekat, aku terus mundur hingga menempel ke dinding. Akhirnya aku melihat celah dan mencoba untuk kabur, aku mencoba meraih gagang telepon untuk memanggil polisi. Tetapi seseorang merusakkan telepon rumah itu.
"Mencoba bermain sulit ya? Menarik." Kata orang berambut cokelat itu.
"Tidak jangan dekati aku!" teriakku, mereka hanya memakai celana tanpa pakaian atasan, bahkan celana mereka tidak terkancing dan resletingnya terbuka, aku mencoba lari menuju lantai atas dimana telepon lainnya berada. Aku merasakan kakiku di pegangi dan di tarik, otomatis aku terjatuh ke tangga dengan pantat mendarat terlebih dahulu. Aku melihat siapa yang memegangi tanganku, ternyata orang berambut hitam dan aku berada di tengah-tengah tangga.
Mereka dengan cepat mengerubungiku di tangga itu dan tangan mereka ada yang meraba buah dadaku. Tidak! Aku mencoba melepaskan diri dengan menendang wajah orang yang memegangi kaki ku itu dan menendang sisanya. Aku melanjutkan lari ku menuju lantai dua, tetapi ternyata di sana telepon-nya juga telah hancur.
"Masih ingin kabur?" kata mereka saling berdiri berdampingan menghalangi tangga turun maupun naik. Mereka perlahan ke arahku dan membuat tidak ada jalan keluar.
"Aku tidak akan menyerah!" teriakku, salah seorang dari mereka berhasil memegangi tanganku dan membantingku ke lantai, aku jatuh dalam keadaan telungkup dan mereka langsung ada di atasku, aku bisa merasakan kejantanan mereka menempel di pantatku.
"Menyerahlah saja nak, kau akan kami puaskan sama seperti temanmu itu." Kata orang berambut pirang yang berjongkok di hadapanku. Beni-chan sengaja mengumpankanku kepada mereka? Aku tidak bisa percaya ini! Setelah sekian lama berteman dia langsung mengumpankanku kepada mereka?!
"Nah begitu jadi gadis penurut." Kata orang berambut abu-abu. Aku bisa merasakan celanaku di lepas perlahan, tidak! Aku tidak boleh menyerah! Aku harus ke lantai 3! Aku berguling paksa dan menendang orang yang menindihku tepat di kejantanannya dan orang itu meringis kesakitan, yang lainnya mencoba menangkapku agar tidak kabur. Aku menggigi tangan mereka yang memegangiku dan akhirnya aku sampai di lantai 3.
"Percuma saja, semua telepon di rumah ini telah kami hancurkan, kau tidak akan kami biarkan lolos sebelum memuaskan kami." Aku mendengar derap kaki mereka dan suara mereka menuju atas, sementara aku telah di lantai atas, aku mencoba mendorong pintu untuk pemisah ruangan lantai 3 tempat kamarku dan tangga. Tetapi mereka telah menahan pintu dari sisi lainnya dan mendorongnya dengan keras hingga terkena kepalaku, kepalaku terasa pusing. Aku jatuh terduduk sambil memegangi kepalaku, apa ini darah?
Kepalaku terasa sangat pusing, mungkin hasil dari benturan tadi. Tanpa aku sadari, mereka telah mengelilingiku.
"Dia telah lemah sekarang, tidak akan bisa melawan lagi." Kata orang berambut cokelat itu, mereka perlahan menurunkan celana mereka dan milik mereka yang telah menegang. Aku harus kuat, aku tidak boleh sampai jatuh jadi santapan mereka. Aku mencoba berdiri sambil bersandar di tembok sebagai tumpuanku, tetapi karena pusing ku, aku jatuh terduduk lagi.
"Tenanglah, saat kita selesai kau tinggal berkata kepada yang menemukanmu bahwa kau telah bersenang-senang sampai sedikit menghancurkan properti rumah." Kata orang berambut pirang itu. Ini tidak boleh seperti ini, aku harus mencari cara lain.
"Ah, tidakkah kalian dengar itu?! Sepertinya suara polisi menggedor pintu." Kataku, mereka memasang kembali celana mereka dan sebagian dari mereka turun, ini bagus. Ketika aku mendengar mereka telah menjauh, aku mendorong salah satu dari mereka hingga jatuh dan membentur pinggiran meja lalu pingsan, salah satunya lagi yang berambut hitam mencoba meraihku tetapi aku dengan gesit menghindarinya dan memasuki kamarku lalu mengunci pintu di belakangku.
Bahkan kamarku di obrak abrik seperti ini, aku terduduk kembali. Tidak, ini bukan saatnya duduk dan menghela nafas, aku bisa mendengar gedoran di pintu kamarku. Aku menyeret kursi untuk mengganjal pintu, aku melihat kesana kemari hingga ekor mataku menangkap sesuatu. Ponselku masih utuh! Akhirnya aku menelpon seseorang.
"Kai-kun! Tolong aku!" Teriakku ketika panggilanku di angkat.
"Ada apa?! Apa yang terjadi Micchan!" Kata Kaito di seberang.
"Nanti saja ceritanya, kumohon Kai-kun, aku tidak tahu seberapa lama lagi pintuku menahan mereka!" kataku sambil sedikit menangis.
"Tenang saja Micchan, aku akan sampai di sana sebelum kau sempat di sentuh oleh mereka!" Sambungan pun terputus.
"Tetapi mereka telah merabaiku." Ujarku sambil menangis, gedoran di pintu semakin menjadi-jadi engsel di pintu mulai rusak. Kumohon Kaito datanglah sebelum mereka kemari. Dan akhirnya engsel pintu kamarku rusak, dan mereka bisa masuk, mereka bertiga, karena yang keempat pingsan.
"Berani sekali kau ya melukai kami, padahal kami hanya ingin memuaskanmu." Kata orang berambut abu-abu itu.
"Tidak! Aku tidak butuh seks dari kalian! Tidak butuh juga kalian puaskan!" teriakku sambil menangis, aku sudah tidak memiliki tempat untuk lari. Laki-laki berambut pirang itu berjongkok ke depanku sementara aku mencoba menghindari kontak dengan mereka. Tangan orang itu meraih wajahku, aku benar-benar ketakuan karena tidak ada tempat untukku lari lagi. Di belakangku hanyalah tembok.
"Tidak usah menangis, karena setelah ini desahan yang keluar dari mulut manismu ini." kata orang itu sambil ibu jarinya menyusuri bibirku. "Lihatlah kau bahkan berdarah seperti ini." Kata orang itu sambil mengusapkan jarinya ke lukaku.
"Lepaskan aku." Mohonku, tetapi mereka hanya tersenyum. Kedua orang itu berhasil memegangi kedua tanganku. "Lepaskan aku." Ulangku.
"Tidak secepat itu, hahaha," katanya, dia mencoba melepas celanaku dan aku tidak bisa menahannya, bagaimana ini, Kai-kun, cepatlah datang.
"Tidak! Jangan!" Teriakku. Aku memejamkan mata dan merasakan seseorang jatuh ke kaki ku, dengan perlahan aku membuka mata dan aku bisa melihat Kai-kun.
"Singkirkan tangan kotor kalian dari gadisku." Kata Kai-kun, dan kedua orang itu seperti bukan tandingannya dan langsung tumbang begitu saja kena hantaman tinju Kai-kun. Bahkan orang yang terkapar di kaki ku dengan mudahnya di singkirkan oleh Kai-kun. "Micchan, darah apa ini?" kata Kai-kun sambil berlutut di hadapanku dia melepas jaketnya dan menyelimutkannya kepadaku, lalu mengambil saputangan nya untuk menekan luka di dahiku.
"Hiks, Kai-kun.." tangisku tak terbedung lagi.
"Tenanglah Micchan aku ada di sini." Kata Kai-kun.
Dan akhirnya keempat orang itu adalah buronan mereka yang menjadi pelaku pemerkosaan akhir-akhir ini, Beni-chan ternyata salah satu dari komplotan mereka. Bibi yang datang dari hotel benar-benar marah kepada Beni-chan. Aku sendiri bahkan tidak mau menatap matanya yang memelas, selama ini dia selalu aku bela di hadapan bibi, tetapi sekarang aku tidak mau lagi.
Tidak sekarang, tidak nanti, aku sudah capek dengan kelakuannya selama ini. Kai-kun hanya mendekapku yang menangis sambil di mintai keterangan oleh kepolisian, bibi benar, aku tidak seharusnya berteman dengan Beni-chan.
.
.
.
End
A/N : Red Distric. Distrik/lokasi biasanya satu blok berisi tempat berjudi, klub malam, hingga di jalanan berkeliaran geisha penghibur.
Hollaa, kembali lagi dengan Clara-desu!
Maaf Clara kembali dengan fic seperti ini-desu, doakan saja boku wa exorcist akan rilis dalam waktu dekat-desu, terima kasih telah membaca sampai akhir.
