HAPPY READING ALL


Lee Jeno terlahir sebagai satu-satunya penerus di keluarga Lee, keluarga yang sudah turun-temurun menyediakan kecap terbaik di kota kelahirannya. Saking terbaiknya, kecap produksi keluarga Lee ini termasyur di seluruh negeri hingga kecap ini menjadi maskot kota X. Semua wisatawan yang berkunjung ke kota X pastilah akan membawa kecap produksi Lee ini ke kota asal mereka sebagai oleh-oleh. Jadi sudah terbayang lah kalau Jeno lahir di keluarga yang berkecukupan meski bukan konglomerat bergelimang harta yang mampu membeli pesawat jet pribadi.

Tapi ada masalah di sini, masih ada hubungannya dengan status Jeno yang merupakan pewaris tunggal keluarga Lee. Sejak dulu juga seorang Lee memang hanya dianugrahi satu anak, Jeno anak tunggal, ayahnya anak tunggal, kakeknya anak tunggal, buyutnya pun anak tunggal. Bedanya adalah para pendahulunya itu memiliki niat, ambisi dan keinginan kuat dalam meneruskan tradisi keluarga untuk menyediakan sebotol kecap di setiap meja makan.

Jeno berbeda dengan para leluhurnya yang mencintai dan menghormati kecap. Untuk mencium aromanya saja, Jeno tidak sanggup. Sedari bayi ia anti kecap, bahkan untuk pertama kalinya dalam sejarah, mereka adalah keluarga Lee yang tinggal berjauhan dengan pabrik kecap kebanggaan para Lee. Jeno kecil berhasil membuat orangtuanya pindah dari rumah yang sudah diturunkan leluhur mereka karena terus mengeluh mual dan pusing setiap hari.

Kepala keluarga Lee (ayah Jeno) pada akhirnya mengerti dan menerima jika Jeno tidak akan pernah mau dan mampu meneruskan cita-cita mulia para leluhur. Ada begitu banyak opsi solusi dari masalah ini, tapi ego dan hargadirinya menolak usaha ini jatuh ke tangan orang lain. Suatu hari di saat usianya genap 35 tahun dan Jeno si begundal menuju 12 tahun, kepala keluarga Lee mendapat ide bagaimana cara pabrik kecapnya terus berjalan meski Jeno tidak dapat meneruskan. Ia bercerita kepada istrinya, sang istri menyetujui usulnya. Ia bercerita pada anaknya, sang anak pun menyanggupinya.

Kemudian keesokan harinya, ia bersama istri berkunjung ke rumah beberapa kerabat. Mencari siapa saja yang kiranya layak dan cocok untuk dapat dididik sebagai penerusnya kelak. Kepala keluarga Lee dan istrinya disambut hangat dan ramah layaknya tamu terhormat, meski mereka bukan konglomerat yang mampu membeli pesawat jet namun reputasi dan harta mereka merupakan salah satu yang teratas di kota X. Apalagi saat mereka mengemukakan niat mereka untuk mencari seorang anak yang kiranya dapat menjadi penerus bisnis keluarga Lee, bertambah sumringah lah wajah para tuan rumah yang mereka sambangi.

Tiga bulan lamanya mereka mengumpulkan anak-anak yang kiranya dapat menjadi calon penerus keluarga Lee. Sebulan kemudian, muncul sepuluh nama anak terpilih yang usianya berdekatan dengan Jeno. Kesepuluhnya akan dibiayai pendidikannya hingga ke perguruan tinggi, setiap akhir pekan dan libur sekolah mereka akan pergi ke pabrik pembuatan kecap keluarga Lee, diajari dan dilatih mengenai pembuatan kecap dari awal hingga akhir. Seluruh ilmu yang dimiliki kepala keluarga Lee mengenai manajemen industri kecap ia berikan pada kelimanya tanpa pilih kasih, namun untuk ilmu pembuatan kecap akan ia tunda hanya untuk satu orang yang pasti akan menjadi penerusnya.

Seiring berjalannya waktu, kepala keluarga Lee memiliki calon penerus favoritnya, begitupun dengan istrinya yang mempunyai nama favorit. Favorit tidak favorit, mereka mengenal kesepuluh anak ini sejak usia 12 tahun, mengikuti perkembangan dan pertumbuhan layaknya orangtua mereka. Bahkan mungkin kepala keluarga Lee lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka dibanding dengan anaknya sendiri.

Terkecuali Jeno, ia tidak peduli dan tidak mau tahu mengenai calon penerus bisnis keluarganya. Menginjakan kaki ke pabrik kecap pun dia tidak pernah. Ia hanya tidak ingin mengingat keputusan tidak manusiawi yang dibuat oleh ayahnya saat berusia 12 tahun, yang mana ia dapat meninggalkan tanggungjawab sebagai penerus keluarga Lee asal ia menerima siapa saja yang akan dinikahi dengannya. Bodohnya ia saat itu menyanggupinya. Jangan heran jika Jeno menikmati masa mudanya menjadi seorang playboy, karena entah pasangan hidup seperti apa yang akan diberikan ayahnya.

Hubungan Jeno dan kepala keluarga Lee tidak baik, memang tidak pernah baik. Sejak dulu mereka selalu bertentangan, Jeno selalu memiliki ide sendiri dan ayahnya selalu sudah menyiapkan rencana untuk anaknya. Selera dan hobi mereka sangat berbeda, yang sama dari mereka adalah sifat keras kepalanya. Jadi sudah pasti mereka tidak pernah akur sampai pada tahap mereka malas untuk berada di ruangan yang sama.



Jeno memperhatikan tanggal hari ini di penanggalan jam tangannya, 23 Maret. Sebulan lagi adalah ulang tahunnya yang ke 23. Akhirnya hari yang Jeno takutkan selama 11 tahun hidupnya terjadi, hari di mana sang ayah akan mengenalkan calon pasangan hidupnya yang sekaligus menjadi penerus bisnis. Ia tidak bisa menunda dan tidak bisa mengelak lagi karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia pun tidak ingin menjadi tersangka penutupan usaha kecap keluarganya. Jeno tidak akan berani menghadapi leluhurnya jika kelak mereka bertemu di alam baka.

Anak tunggal keluarga Lee tersebut keluar dari kamar begitu memastikan penampilannya sudah baik, berjalan ke ruang tengah di mana sudah terdengar obrolan kedua orangtuanya. Jeno menguatkan tiap langkahnya, masadepannya akan ditentukan hari ini oleh orangtuanya, coret, oleh ayahnya. Tapi ini lah hidup dengan segala warna-warni kehidupan.

"Mana penerus keluarga Lee yang selalu ayah bangga-banggakan itu?" Tanya Jeno dingin sembari mengambil posisi duduk di tempat duduk paling jauh dari orangtuanya yang duduk berdampingan.

Ayahnya menatap tajam penuh ketidaksukaan, berbeda dengan mata sang ibu yang berbinar jenaka melihat putra tunggalnya yang berpenampilan all out. "Ya ampun, kenapa kau berdandan setampan ini? Sudah sebegitu tidak sabarnya untuk bertemu calon menantuku dan menarik hatinya yah?"

Jeno menggelengkan kepalanya dan mendengus tajam, "cih, yang benar saja. Meskipun aku buruk rupa, calon menantu ibu akan menganggapku pria paling tampan karena aku adalah satu-satunya tiket untuk mendapatkan bisnis kecap ini."

Kini giliran kepala keluarga Lee yang mendengus setelah mendengar ucapan sang putra yang untuk kesekian kali berani merendahkan bisnis kecap turun-temurun ini di hadapannya. "Bisnis kecap ini lah yang membiayai hidupmu dari lahir, bahkan jika kau tetap menjadi manusia tidak berguna seperti sekarang, bisnis kecap ini juga yang akan menopang hidupmu sampai mati."

Kedua pria Lee beda generasi tersebut saling melempar tatapan sinis penuh rasa tidak suka. Sedikit hinaan pada kecap akan membuat sang ayah tersinggung, sedikit hinaan pada pilihan hidupnya membuat Jeno tersinggung. Bukankah mereka sama? Sama-sama menjaga hargadiri dari pilihan hidup masing-masing.

Hanya si nyonya rumah keluarga Lee yang masih dapat tersenyum di saat seperti ini. Dengan santainya ia meminum teh dari cangkir porselen putih dengan hiasan bunga mawar yang indah. Ia biarkan saja ayah dan anak itu hingga lelah sendiri beradu mata. Setelahnya ia ambil sebuah amplop coklat besar yang di permukaannya tertera nama sebuah studio foto untuk kemudian diserahkan kepada sang putra.

"Apa ini?" Tanya Jeno tidak ramah.

Kepala keluarga Lee sudah siap membuka mulut untuk menjawab, namun sayang "Ayahmu tidak sejahat itu dalam menentukan sendiri pasanganmu. Toh kau sendiri yang akan menjalani. Ini adalah foto kelima anak didik ayahmu, awalnya ada sepuluh, seiring waktu terlihat mana yang benar-benar dan sungguh-sungguh. Pilihlah satu, Jeno. Pilih dengan baik, dia yang akan menjadi pendampingmu dan memimpin usaha ini."

Jeno menggeleng tidak setuju, ia menaruh kembali amplop tersebut di atas meja tanpa membukanya. "Aku ingin bertemu langsung dengan mereka, baru aku dapat memilih dengan benar."

Lee senior tergelak mendengar penolakan sang anak, tertawa meremehkan yang sangat tidak nyaman di telinga orang yang mendengar. Setelah tawa jahat itu memudar, wajahnya menjadi semakin tajam. "Kau melewatkan kesempatan itu. Kemana saja sebelas tahun belakangan ini? Sudah bagus aku masih memberikanmu pilihan."

Lagi-lagi nyonya Lee lebih memilih tidak ikut campur, ia membuka amplop tersebut dan menjejerkan lima foto tersebut. "Jangan khawatir putraku, mereka yang terbaik. 11 tahun kami mengenal mereka, separuh hidup mereka. Tidak perlu banyak berdebat lagi, penuhi janjimu."

Jeno memicingkan matanya pada sang ayah.

Sejak 11 tahun lalu ia mengutuk hari ini, ia kira akan langsung dipilihkan ternyata ia masih memiliki kesempatan memilih. Sialan. Sekarang orangtuanya berlaga bahwa Jeno adalah anak tidak tahu diuntung bagaikan dikasih hati minta jantung. Benar-benar menyebalkan dua orangtua ini.

Matanya menajam ke setiap wajah asing di sana, memperhatikan mana yang paling baik untuk masa depannya. Entahlah, Jeno sakit kepala. Kepalanya terlalu sesak dengan rasa muak hingga ia tidak dapat berfikir apa-apa. Akhirnya pilihannya jatuh pada seorang pemuda yang terlihat paling polos dan kekanakan dibandingkan dengan kandidat lain. "Yang ini." Ucapnya malas sembari menyerahkan foto tersebut kepada ibunya.

"Hahaahahhahahaha." Sekali lagi ayahnya tergelak karena sang putera, tapi kali ini bukan tertawa meremehkan. Kepala keluarga Lee itu benar-benar tertawa penuh homor, sejujurnya itu malah membuat Jeno semakin khawatir, ditambah sang ibu yang tersenyum penuh misteri. Beragam pikiran negatif memenuhi kepala Jeno, seburuk apa orang yang ia pilih hingga kedua orangtuanya begitu bahagia menertawakannya?

"Huang Renjun." Ucap ayahnya bangga di sela tawanya. Ini pertama kalinya sang ayah terlihat senang atas keputusan Jeno. Tidakkah seharusnya ia merasa senang? Tapi yang ia rasakan malah was-was, gelisah dan menyesal.

"Pergilah membeli hadiah untuknya Jeno. Kebetulan hari ini Renjun berulangtahun. Lihat? Sepertinya kalian memang benar-benar ditakdirkan untuk bersama."


tbc


AKU SUKA BANGET NOREN :'D

aku yakin yg mampir disini juga noren sih haha. ini cuma mini chapter karena mendekati ultah mereka.