"Halu" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Warn : AU, HalYi, slight TauYa, OOC (parah), gaje, mengandung kpop, dll.

Day 4 #dailydrabblechallenge Prompt : Jungkook dari Furene Anderson

Selamat membaca~

.

.

.

"Eh? Aku di mana?"

Dahi Ying mengerut dalam kala kedua netranya terbuka, menemukan hamparan ombak di depan matanya yang bergelung pelan. Angin berhembus menerbangkan beberapa helai rambut hitamnya, di atas langit tampak burung-burung berterbangan membentuk farmasi yang sangat indah. Nun jauh di sana, terlihat matahari mulai membenamkan setengah badannya.

Ying benar-benar bingung mengapa ia ada di sini. Gadis itu mengambil langkah, namun terhenti saat menyadari kakinya tidak terbalut apa-apa, sehingga pasir pantai terasa sangat kasar menyentuh kulit. Pandangan Ying mengarah ke bawah untuk memastikan kakinya benar-benar telanjang. Dan pada saat itulah, ia mendapati pakaiannya pun berbeda.

Gaun putih selutut yang agak kebesaran terpasang di tubuhnya. Kebingungan Ying semakin bertambah. Tangannya menggaruk kepalanya, dan lagi-lagi ia dikejutkan sesuatu. Ternyata di kepalanya terpasang sebuah flower crown, dengan hiasan bunga yang disusun dengan apik. Ying terus meraba kepalanya, mengetahui bahwa rambut yang biasa ia kuncir, berubah digerai sampai ujung surainya menyentuh pinggang. Aneh, sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya?

"Ying!"

Bersamaan dengan itu, suara berat namun lembut terdengar menyapanya. Ying menengok, mendapati sosok pemuda tinggi berjalan dari arah selatan, dengan pakaian putih seperti dirinya. Senyumnya sangat menawan. Rambut tebalnya melambai-lambai tertiup angin, wajahnya bercahaya seperti malaikat.

Kayak kenal? Batin Ying bertanya. Matanya menyipit untuk melihat lebih jelas siapa sosok itu.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Kedua mata Ying melebar terkejut.

"JUNGKOOK?!" Saking terkejutnya, Ying sampai berteriak. Mulutnya menganga lebar bersama matanya yang kian membulat tak percaya. Sosok itu, sosok yang ia idolakan selama ini, berjalan mendekatinya dengan senyum lebar seolah mengabaikan keterkejutannya.

Ying shock karena Jungkook. Jungshook.

Kaki pemuda itu kemudian berhenti tepat di depannya. Ying masih sibuk bergelut dengan pikirannya, antara benar atau tidak sosoknya di depannya adalah Jungkook. Ya, Jungkook. Salah satu member boyband KorSel yang sedang naik daun, MENGHAMPIRINYA?!

Rasanya Ying ingin pingsan sekarang juga.

"Ying? Kamu sudah menunggu lama, ya?"

Ying mendongak dan menemukan sepasang mata itu menatapnya lembut serta teduh. Astaga, jadi seperti ini rasanya dipandang bias sendiri? Ying ingin teriak sekarang juga, namun ia tahu dirinya harus bersikap normal atau Jungkook akan menatapnya ilfeel.

"Ah, ng-nggak kok." jawab Ying gagap. Sedetik kemudiam, ia baru tersadar Jungkook mengajaknya bicara menggunakan bahasa Malaysia. "Lho? Kamu... bi-bisa bahasa Malay?"

Jungkook–atau sosok yang mirip Jungkook, karena Ying masih ragu mengakuinya–mengangkat sebelah alisnya. Ying hampir saja megap-megap kayak ikan kehabisan napas melihat pemandangan itu.

Ganteng banget, MasyaAllah.

"Bisa dong, 'kan gara-gara kamu,"

Hah?

Ngomong naon?

Ying menggaruk pipinya, antara bingung dan gugup. Laki-laki di depannya memang mirip biasnya, tapi di sisi lain Ying masih belum percaya. Masa' iya sih, ini nyata? Kalau nyata, bagaimana ceritanya mereka bisa di sini? Jungkook sudah pasti di Korea, negaranya, 'kan? Nggak mungkin langsung 'tadaaa~' nongol di pantai, 'kan? Lagian, Ying sama sekali tidak tahu di mana pantai ini.

"Yuk, kita pergi." Tiba-tiba saja Jungkook sudah mengamit tangannya, sebelum ditarik pelan untuk dibawa entah ke mana. Ying yang belum siap jiwa dan raga nyaris meleleh di tempat, apalagi saat rasa hangat tangan besar Jungkook mulai menjalar ke tangan mungilnya.

Tolong...

Ying mau teriak.

HUWAAAAAAAAA!

ASDFGHJKLLLLLL–!

"J-jungkook-sshi?" panggil Ying ragu. Ia sengaja menambahkan kata 'sshi' di akhirnya, sebab yang ia tahu 'sshi' adalah sebutan untuk berbicara formal dalam bahasa Korea.

Ying tentu tidak ingin langsung memanggil Jungkook dengan bahasa informal, meskipun kelihatannya Jungkook tidak keberatan dengan itu.

"Apa, Ying?" sahutnya, terus melangkah dengan tangan masih mengamit tangan Ying.

Ying menggigit bibirnya. Ditatapnya ragu sosok yang sangat tinggi itu, bahkan tinggi Ying hanya sebatas bahunya saja. Perbandingan tinggi mereka yang sangat beda membuat Ying yakin, mereka akan terlihat seperti bapak dan anak.

"K-kita... mau ke mana?" tanya Ying patah-patah. Ia merutuki dirinya karena kemampuan komunikasi selancar jalan tol miliknya mendadak lenyap saat berhadapan dengan Jungkook.

"Jalan-jalan,"

"Ke... mana?"

Jungkook tiba-tiba berhenti, membuat Ying juga ikut rem mendadak. Wajahnya nyaris menabrak punggung lebar Jungkook. Sedetik setelahnya, Ying menyesal kenapa ia tidak sekalian saja menubruk tempat paling nyaman untuk bersandar itu. 'Kan bisa modus. Ehe.

"Kamu maunya ke mana?" tanya Jungkook, kini kedua tangan Ying digenggam hangat.

Ying tenggelam dalam tatapan intens Jungkook. Ia terdiam mematung, sampai tidak menyadari jari jemari Jungkook sudah menyentuh helai rambutnya yang berterbangan, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Tangan Jungkook kemudian turun perlahan, mengelus pipi chubby-nya pelan sebelum dicubit lembut.

"Kamu cantik."

...

...

...

HNNNGGGGG. Oksigen, mana oksigen?!

"A-ah..." Ying tak sanggup berkata-kata. Ia melipat bibirnya dalam, seberusaha mungkin agar teriakannya tidak keluar. Ya ampun, kuatkanlah Ying dari cobaan ini.

Belum berhenti sampai di situ, Ying kembali diterbangkan sampai langit ke tujuh. Mungkin tidak akan pernah bisa turun saking tingginya ia terbang.

"Kamu mau jadi teman hidup aku?"

Pandangan Ying berubah menjadi gelap.

"Hal."

"Hm?"

"Kau yakin, Ying tidak apa-apa?"

Tiga pasang mata menatap nanar seorang gadis yang setengah jam yang lalu duduk dengan kepala berbaring di atas meja, tersenyum bak orang gila pada foto yang digenggamnya. Foto itu berisi pemuda tampan memakai kemeja putih dengan dipadu jeans biru langit. Duduk di sebuah bangku tinggi bernuansa cokelat.

"Ya. Ini wajar sekali," sahut Halilintar, membuat Taufan yang berada di sampingnya meringis mendengar nada putus asa itu.

Mereka–Halilintar, Taufan, dan Yaya–sedari tadi menatap Ying bingung sejak gadis itu mulai senyam-senyum sendiri bak orang gila sambil memandangi foto biasnya. Dipanggil pun tidak menyahut, malah ketawa-tawa sendiri sambil meracau tidak jelas.

"Aku rasa..." Yaya meringis dengan mata menatap sahabatnya prihatin. "Ying tidak baik-baik saja," katanya khawatir.

Jelas lah. Siapa sih, yang tidak panik melihat temannya sendiri tersenyum sambil ngomong nggak jelas hanya karena foto idol korea?

Namun, hanya Halilintar yang bersikap biasa saja. Pasalnya, ia sudah sering mendapati Ying seperti itu. Alias halu.

"Sudahlah," Halilintar menghela napas. "Kalian duluan saja. Nanti kami menyusul." ujar Halilintar akhirnya, merasa tak enak membuat Yaya dan Taufan menunggu Ying yang masih sibuk berimajinasi.

Meskipun masih dilanda rasa penasaran mengapa Ying bisa seperti itu, Taufan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Cafe tempat mereka makan siang seraya menarik tangan Yaya yang masih menatap Ying khawatir. Taufan tahu ia tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya Halilintar yang mampu menghadapi Ying.

Setelah Taufan dan Yaya pergi, Halilintar mengehela napas lagi dan berlutut di samping Ying untuk menyadarkan kekasihnya itu.

"Ying, ayo pergi. Udah, udah, halunya ditunda dulu." ucap Halilintar sesabar mungkin.

Ying tetap mengabaikannya. Gadis itu masih tertawa-tawa tidak jelas macam orang sakit jiwa.

"Ying, astaga. Nanti aku berubah jadi Jungkuk deh, atau siapapun itu namanya. Udah dong, plis, jangan kayak gini." Halilintar mulai putus asa.

Tidak diduga, Ying menghadapkan tubuhnya ke Halilintar, meletakkan kedua tangannya di pundak pemuda itu.

"Hali mau jadi Jungkook?" tanyanya antusias.

Halilintar mengerjap. Dipegangnya lengan kecil sang kekasih yang mendarat di pundaknya. "I-iya, iya. Nanti aku jadi Jungkuk."

"Bener yaaaa?"

"Iya, Ying," Halilintar tidak bisa tidak mengatakan iya. Biar cepet, batinnya.

"Yeaaayyy~"

"Yaudah, ayo pergi."

"Oke, Jungkook."

Halilintar mengusap dadanya tabah.

.

.

.

.

Finizh

a/n :

Maafin kalo gaje, wkwk. Yingnya halu banget ya, sampe capek aku ngadepinnya. Duh :")

Moga kak Fur sukak uwu~

Repiw?