Stars In The Rain
Disclaimer :Inuyasha belongs to Rumiko Takahashi. But Sesshy is Mine ekkeke~
Sore ini rintik hujan menyapa dan semilir angin berhembus kencang membuat setiap tengkuk yang dilewatinya bergidik kedinginan. Kagome melekatkan sebuah syal merah muda di lehernya yang tidak juga membuat rasa dingin enyah dari tubuhnya. Hujan gerimis terdengar sangat merdu di telinga dan ia menyukainya. Langkah kaki semakin cepat untuk menuju sumur tua yang berada di sebuah gudang tua kecil di rumahnya. Ia telah absen dari tugasnya mengumpulkan pecahan shikon no tama selama tiga hari untuk mengikuti ujian di sekolahnya. Kagome sudah mendapat persetujuan dari Inuyasha dan selama ini hanyou itu tidak pernah datang untuk mengganggunya.
"Ah, hujan lagi."Ucap Kagome sambil menikmati aroma tanah basah dari hidungnya. Hujan menari dengan kasar di antara rindangnya dedaunan pohon yang berdiri tegap menahan kencangnya angin yang bertiup. Deras rintik hujan yang menyerang tanah dengan kasar menghasilkan aroma khas tanah basah yang disukainya.
"Kau menyukainya?" Suara berat dari seseorang sontak membuat pemilik mata biru menoleh kearah sumber suara.
"Kenapa? Memangnya kau tidak menyukainya?" Kagome melihat iris mata keemasan yang berada di sampingnya. Matanya benar-benar berwarna emas. Mata itu membuatnya terpana dan sungguh menawan. Mata yang terlihat sangat tajam namun cenderung sinis menurutnya. Menyiratkan sebuah keangkuhan yang tidak bisa di jelaskan dan penuh dengan tanda tanya.
"Hujan membuat bintang tidak pernah muncul setelah ia datang." Mata itu bergeser ke sampingnya dan menatap dengan nada yang berbeda.
"Bukankah setelah hujan reda bintang akan muncul satu demi satu, lalu mengapa kau tidak menyukai hujan?" Dahinya sedikit mengernyit heran dan bertanya pada hatinya yang dalam mengapa pria itu sangat membenci hujan.
"Hujan selalu berhasil membawa kita masuk ke dalam bias memori yang telah memburam. Tanpa sadar sebagian manusia berharap datangnya hujan agar mereka bisa merasakan banyak rasa yang terpendam." Pria pemilik mata berwarna emas itu menjelaskan.
"Apa yang salah dengan datangnya hujan? Bagaikan sihir dari langit, datangnya hujan selalu membawa ingatan tentang kehangatan yang dibalut oleh suara rintik airnya. Hujan itu juga tentang memori, rindu, harapan, dan guyuran kenangan yang terpercik dari setiap tetesnya." Kagome bergumam.
'Aku ingin melindunginya, aku tidak bisa bersamamu lagi Kagome. Kikyo mati karena diriku, jadi kali ini aku akan melindunginya.'
Pikirannya terbawa pada kenangan beberapa waktu silam, saat itu ia juga sangat membenci hujan. Ia selalu teringat perkataan Inuyasha yang sangat menusuk hatinya kala itu. Baginya, ia hanyalah seorang pengganggu dan tidak akan pernah bisa masuk ke dalam hati pria yang disukainya. Lalu ia terisak dan membiarkan hujan mengguncang seluruh tubuhnya hingga suara isak tangisnya menjauh. Inuyasha adalah cinta pertamanya, sifat kekanakan dan protektifnya membuat rasa suka padanya semakin besar. Namun perasaan itu luntur karena ternyata ia masih mencintai wanita yang telah dibangkitkan kembali dari kematian dan menjadi zombie dalam hubungannya dengan Inuyasha. Aku tidak menyukainya dan aku terima. Pada musim kemarau itu untuk pertama kalinya ia merindukan hujan. Hujan yang menyadarkannya bahwa dibalik tangisnya ia bisa tersenyum bahkan tertawa tanpa ada yang tahu bahwa ada tetes luka yang mengalir dari pelupuk matanya. Hujan tidak hanya meneteskan duka atau pun meretas luka, hadirnya pun bisa menyembuhkan luka bahkan menciptakan suka. Lalu ia belajar memahami semuanya dan mulai mencintai hujan.
"Pokoknya kau harus menyukai hujan." Ucap Kagome dengan nada tegas. Ia tidak terima hujannya di hina oleh pria angkuh dan sombong di sampingnya.
"Bukankah kau pencinta hujan?" Tanya pria yang masih berdiri tegak di sampingnya dan dengan suara berat sebagai cirinya sontak membuat wanita di sampingnya menoleh tajam.
"Kau si pencinta hujan tapi saat hujan seperti ini kau mencari tempat berteduh, seakan menghindar dan enggan bermain dengannya." Bantah pria pemilik tanda crescent moon di dahinya.
Kagome terdiam dan tidak bisa mengelak. Memang benar ia menyebut dirinya pencinta hujan, namun kenyataannya ia selalu mencari perlindungan dari derainya. Hujan kali ini tidak seperti biasanya, langit sepertinya sedang berduka. Ia mengamuk hebat dengan halilintar dan kilat yang mengerikan. Ia lupa membawa payung di tasnya dan sekarang ia hanya bisa berdiri di sebuah gubuk kecil tak berpenghuni bersama pria yang entah dari mana datangnya dan bisa berada di sana bersamanya. Kagome tidak bisa berkata apa-apa dan hanya mampu menengadahkan kepalanya ke atas melihat sang hujan turun dengan deras. Ia menunggu sampai sepuluh menit, namun sang hujan masih belum juga reda. Melirik lelaki tinggi besar di sebelahnya dan terkaget saat pemilik mata emas itu menatapnya tajam penuh makna. Hanya ada dua pilihan, menunggu sampai hujan reda dengan sendirinya atau menerobos hujan lalu membuat pria itu yakin bahwa ia benar-benar sang pencinta hujan.
Kagome berlari menerobos riuh ramai yang diciptakan oleh dawai hujan dan sebelumnya ia melihat bahwa pria itu sedikit membuka matanya dengan lebar saat melihatnya berlari. Kagome terus berlari dan membiarkan tubuhnya basah sampai menembus pakaiannya yang paling dalam. Ia berhenti berlari saat tangannya dicengkram dengan keras dan merasa ada yang menariknya.
"Wanita bodoh." Mata emas itu berbicara di antara ramainya suara hujan.
"Lepas!" Kagome membentak dan merasa bahwa genggaman pria itu semakin kencang.
"Apa pedulimu? Tahu apa kau tentang diriku dan juga hujan?" Kagome merintih kesakitan karena genggaman tangan Sesshomaru yang begitu kuat dan batinnya yang merintih.
"Jika kau ingin bermain dengan hujan maka Sesshomaru ini tidak akan melarangmu." Pria itu berbicara dengan tubuhnya yang basah karena air hujan sedikit demi sedikit telah merayapinya.
Kagome menarik tangannya dari genggaman pria itu dan kembali berlari.
"Keras kepala." Ia melepas genggaman tangannya dan membiarkan gadis itu berlari dalam derasnya hujan.
Kagome berlari sejauh yang ia mampu. Sepanjang pelariannya ia menangis dan mengutuk pria itu karena telah memaksanya bercumbu dengan hujan lebat. Ada rasa sesak di dadanya saat ia melihat mata emasnya. Kenapa selalu mata itu yang terbayang indah di kepalanya, tidak mungkin ia mencintai sebuah mata berwarna emas itu. Ia berharap bisa melupakan apa yang telah terjadi hari ini dan bisa melanjutkan hari-harinya seperti biasa.
"Oi, Kagome mengapa kau basah kuyup seperti itu?" Inuyasha bertanya dengan santai saat melihat Kagome datang dengan seluruh tubuhnya yang basah.
"Tidak apa-apa Inuyasha." Jawab Kagome sedikit mengacuhkan Inuyasha dan berjalan melewatinya..
"Cepat ganti bajumu, kalau tidak kau bisa sakit." Inuyasha berbicara dengan nada sedikit kesal karena melihat Kagome berjalan tanpa meliriknya.
Yang ia tahu langit kala itu sudah begitu kelam. Malam ini sepertinya terasa dua kali lebih lama dari biasanya dan ia dilanda insomnia. Massa kelopak matanya serasa bertambah berat, tapi anehnya ia tak kunjung ingin terpejam. Apa mungkin ini karena dingin yang masih memeluknya erat, seolah menembus tiap celah pori-pori tubuhnya. Kagome memutuskan untuk menghirup udara malam yang begitu segar setelah datangnya hujan. Hari pertama saat kembalinya ia dari rumah terasa begitu berat. Ia terlalu canggung melakukan percakapan dengan Inuyasha dan lagi hari ini ia bertemu dengan pria yang tidak pernah ia sangka akan bertemu sebelumnya. Ia berjalan mengikuti arah kakinya melangkah, ia melihat di sekeliling bahwa Inuyasha tidak terlihat di tempat biasanya ia menyenderkan batang tubuhnya di atas ranting pohon.
"Sesshomaru, ada keperluan apa kau datang ke tempat ini?" Kagome sedikit merinding saat merasakan kehadiran sosok pria di belakangnya dan melihat sesosok mata emas itu lagi.
"Sesshomaru ini hanya berjalan mengikuti arah angin." Sesshomaru berkata datar dan berjalan menghampiri Kagome.
"Ah, bintang di sini terlihat sangat indah. Aku tidak bisa melihat bintang seindah ini di rumah." Ia memalingkan wajahnya dari menatap pria tampan di sampingnya dan menengadahkan kepalanya ke atas untuk melihat bintang di angkasa.
"Bintang selalu terlihat sama meskipun di lihat dari tempat lain." Sesshomaru menjawab singkat.
"Ya, kau selalu terlihat sama jika dilihat dari belahan dunia mana pun, tapi jika dibandingkan di rumahku, bintang lebih indah dan terang jika di lihat dari sini." Kagome sedikit menjelaskan mengapa ia lebih suka memandangi lagit malam hari di feudal era dibandingkan dari rumahnya sendiri.
"Apa kau pengagum bintang?" Tanya Kagome dengan melirik sedikit ke wajah pria di sampingnya. Ia setia menunggu jawaban dari pria yang mematung di sampingnya yang sedang serius memandang langit malam. Sesshomaru berujar bahwa ia menyukai bintang karena bintang setia dengan langit walaupun berkali-kali dibuat jatuh. Kagome pun menjelaskan bahwa Sesshomaru harus belajar dari hujan, karena hujan setia dengan bumi walau jelas ia tahu bagaimana rasanya berkali-kali jatuh.
Percakapan malam kala itu sangat indah, seperti sepasang dua sejoli yang sedang bercengkrama dibalut indahnya malam.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu yang indah padamu dan kita bisa melihat bintang meskipun dalam cuaca hujan." Kagome berujar dengan santainya dan menuntun Sesshomaru ke suatu tempat. Tanpa ada pertanyaan, Sesshomaru pun berjalan mengikuti gadis itu.
"Oh, kalau boleh aku tahu mengapa kau membenci hujan?" Kagome membuka pembicaraan sembari berjalan di samping pria pemilik tanda bulan sabit di dahinya.
"Mungkin menurutmu hujan itu menyebalkan. Tapi taukah kau bahwa hujan itu sebenarnya kesepian?" Kagome melanjutkan bicaranya sambil melirik ke arah Sesshomaru yang melihatnya dengan wajah penasaran.
"Jelaskan" Sesshomaru berujar.
"Hujan itu adalah sebuah partikel yang jatuh dari atas awan. Ia jatuh ke bumi karena merasa kesepian, dan ia seakan berbicara pada kita bahwa semua akan baik-baik saja. Hujan itu meneduhkan." Ucap Kagome saat dirinya menyadari bahwa ia telah sampai ke tempat yang ia tuju.
"Sampai." Kagome berbicara dengan lantang. Ia melihat Sesshomaru menatap gemerlap hiasan lampu rumah penduduk dari atas bukit tempat ia berdiri.
"Aku menyebutnya bukit bintang." Ucap Kagome pelan. Hawa dingin menyelimutinya kala itu. Ia melihat Sesshomaru masih terdiam.
"Jangan membenci hujan. Di sini kamu akan tetap melihat bintang walaupun hujan datang." Kagome berkata dengan senyum kecil di wajahnya. Ah, lagi-lagi mata itu membuatnya melayang. Kagome seakan tersihir dan tak mau lepas dari tatapan mata emas itu.
"Miko, apakah kau sudah siap pergi?" Sesshomaru akhirnya membuka suara dan melihat Kagome yang menoleh kaget.
"Maksudmu?" Kagome setengah kaget, dan dia menoleh. "Kita kan baru saja sampai." Jawabnya lagi.
"Apa kau sudah siap pergi dari masa lalu?" Sesshomaru seakan mengerti apa yang gadis itu sedang rasakan.
"Entahlah, apa aku bisa." Kagome berkata lirih. Apakah ia bisa berdamai dengan orang yang telah mengecewakannya. Semilir angin yang berhembus diiringi hawa yang dingin pertanda hujan akan segera datang. Semesta sepertinya tahu kalau ia masih saja terluka.
"Lupakanlah, dia bukan untukmu." Sesshomaru menatap Kagome tajam dan ia melihat gadis itu terisak.
Sesshomaru menarik lengan Kagome dan membiarkannya menangis di pelukannya. Kagome terus menangis dalam pelukan sang daiyokai dan mengeluarkan apa yang selama ini ia pendam. Rasa sakit dan kecewa. Ia bisa merasakan hembusan napas hangat di atas kepalanya.
"Apa kau mendengar sesuatu?" Tanya Sesshomaru yang masih membiarkan Kagome di pelukannya.
"Ya, aku mendengarnya. Itu suara hujan." Kagome melepas pelukan Sesshomaru dan ia memejamkan mata sambil merasakan rintik hujan membasahi tubuhnya.
Sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya. Kagome membuka mata pelan dengan sedikit terhenyak. Tatapannya kosong dan masih belum bisa mencerna apa yang telah terjadi padanya.
"Mulai sekarang Sesshomaru ini akan menyukai hujan." Sesshomaru berbisik di telinga Kagome. Ia melihat Kagome menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Sesshomaru menatap bintang dan menikmati rintik hujan yang menghujani tubuhnya.
Hujan menghadirkan aroma-aroma menyegarkan. Ini adalah hujan kedua mereka. Namun ini adalah hujan pertama di mana Sesshomaru bisa melihat bintang tetap bersinar terang ketika diterpa tetesan air yang jatuh dari langit. Hujan kali ini sangat rupawan. Bagai berlian-berlian kecil berjatuhan dan menyenangkan. Kami pun berjalan beriringan hingga hujan pun menjadi segan dan berhenti meninggalkan genangan yang nanti akan mereka sebut kenangan.
"Terima kasih," Ucap Kagome yang telah tiba di tempat ia bermalam bersama Sango, Miroku, dan Shippo. Sesshomaru mengantarnya dan malam ini Kagome sangat bahagia. Sampai-sampai ia tidak ingin berpisah dengan pemilik mata emas yang sedari tadi menatapnya.
"Tidurlah, sampai jumpa esok." Seru Sesshomaru dan ia beranjak pergi.
Biarlah semua seperti ini. Biarlah semua mengalir seperti ini. Biarlah seribu bintang tertutup awan yang nyatanya cahaya itu berpindah pada sepasang mata yang menawan. Ya, aku jatuh cinta pada pria bermata tampan.
~ THE END ~
Hanya sepenggal kisah antara si pencinta hujan dan pengagum bintang. Fic intermezzo setelah sekian tahun hiatus. AAAH~ otak ini sudah beku. Oia, minna san~ Ohayoo genki desu? Aku telah bersemedi sekian lama dari hingar bingar fic yg sudah menjadikanku author newbie. Make sure you all stay at home and stay healthy. Thanks so much for all support and still with me ^.^
