Be With You
Desclaimer : Naruto milik Masashi Khisimoto
Pairing : Kiba/Ino
I wanna be with you that day where I drew our future
now where you are here so
I wanna live with you, it's a miracle that we met
Thank you Thank you I love you
Anytime Forever
I love you
Tiara ~ Be With You
5 Tahun
"Aku benci padamu, benci, benci, benci." Tangan mungil gadis kecil itu memukuli teman laki-laki seumurannya. Air mata mengaliri pipinya yang putih kemerahan. "Pergi saja dari sini, jangan suka menggangguku."
"Astaga, aku kan sudah minta maaf. Lagipula aku nggak sengaja." Bocah laki-laki kecil itu memutar bola matanya, bola sepak ditangannya nyaris lolos karena si gadis kecil tidak berhenti memukuli lengannya. "Lagipula kenapa sih kau itu cengeng sekali? Perasaan tadi tidak terlalu keras mengenai kepalamu."
"Tapi sakit." Ino, si gadis cilik memekik menimbulkan kerut jengkel di kening lawan bicaranya. "Aku benci Inuzuka Kiba, benci."
"Ya sudah benci saja, aku juga tidak merasa dirugikan." Dengan ekspresi datar ia seolah menantang tatapan biru jernih yang penuh air mata itu.
"Akan ku adukan pada ayah."
"Adukan saja, aku tidak takut." Yeah, saking seringnya melihat anak-anak yang bermasalah dengan Yamanaka cilik itu membuat Kiba hafal total kebiasaannya. Dan ia bisa menyaksikan Ino berlari pulang dengan tangisan memilukan sekaligus menjengkelkan.
Jika boleh jujur, ia justru lebih benci pada Ino karena kecengengan anak itu. Ayolah tidak semua hal perlu ditangisi kan?
10 Tahun
Kiba jengkel, serius. Ia bisa merasakan kekesalannya mengalir sepanjang urat nadi. Dan semua ini karena gadis itu. Gadis cilik sok dewasa yang suka sekali ikut campur urusan orang. Siapa lagi kalau bukan Yamanaka Ino, si tukang ngadu yang membuatnya bermasalah dengan orang tuanya.
Dengan sekali lihat, ia bisa mengenali gadis itu diantara kumpulan teman perempuannya. Tentu saja rambut pirang khasnya benar-benar mencolok. "Hei Yamanaka Ino. Berhenti mengadu pada ibuku."
Si pirang mendongakkan kepala, biru jernih matanya bergulir. Dan demi Tuhan ini bukan pertama kalinya Inuzuka Kiba yang bengal itu marah-marah padanya. "Astaga Kiba, ini kan demi kebaikanmu juga." Pertengkaran mereka adalah hal biasa, jadi tak seorang pun repot-repot memperhatikan ketika Ino mulai berdiri menghadapi si rambut coklat. "Harusnya kau tahu sendiri, bolos sekolah itu nggak baik."
"Diam nona sok bijak. Dan karena tingkah menjengkelkanmu itu ibuku tidak mau memberiku uang saku." Rasanya ingin menonjok gadis mungil itu, andai saja ia tak ingat jika Ino itu cuma gadis cengeng yang sok pemberani.
"Itu kan urusanmu, lagipula siapa suruh membolos." Dengan keberanian penuh, ia menjulurkan lidah. Bangga dengan aksinya yang mungkin saja membuat Inuzuka muda itu kapok setelah ini.
"Ku tendang wajahmu." Ketika Kiba mengayunkan kakinya, Ino sudah berteriak melarikan diri.
"Sakura, selamatkan aku!"
Ino itu tukang ngadu, makanya Kiba benci gadis itu.
12 Tahun
Untuk alasan tertentu, Kiba benci matematika. Bukan karena gurunya killer atau menjengkelkan tapi karena sang guru suka sekali menyuruhnya maju ke depan untuk mengerjakan berbagai soal yang tidak semuanya ia pahami dengan baik. Oh yang benar saja, untuk apa sih semua ini? Kalau kau sudah besar dan bekerja di sebuah restoran mewah kau tak perlu menghitung luas lingkaran atau keliling persegi panjang kan? Ia menguap, benci ketika lagi-lagi disuruh mengerjakan soal di papan karena ketahuan tidur di kelas.
"Astaga Inuzuka itu bukan rumus segita siku-siku, itu rumus segi tiga sama kaki." Yakinlah, itu bukan suara Ms. Kurenai, tapi suara si menyebalkan Yamanaka Ino.
Sial, bisa diam tidak sih?
Paling tidak Kiba berharap yang mengoreksinya adalah Shikamaru, Sasuke atau mungkin Neji, bukan Ino. Mau mengumpat tapi, yeah, mengumpat pun tak ada gunanya.
"Oke, Yamanaka Ino, kau bisa maju dan bantu Inuzuka menyelesaikan soalnya." Ms. Kurenai berujar santai, dan sepanjang yang ia tahu, Ino seolah suka sekali mempermalukan Kiba soal pengetahuannya mengenai matematika.
Kiba mematung, berhenti menuliskan angka-angka yang tadinya terekam dalam otaknya dan menunggu si pirang banyak tingkah itu mengambil alih spidolnya. Yeah, biarkan si Yamanaka sialan ini beraksi. Katanya ketika tangan ramping si gadis mulai mencoreti papan dengan angka-angka jawaban dari soal yang dikerjakannya.
Cowok itu merutuk total, astaga sampai SMP pun kenapa ia harus satu kelas dengan cewek menjengkelkan itu?
17 Tahun
Keringat di pelipisnya menetes. Kiba bisa merasakan aliran cairan itu di sepanjang tubuhnya. Dan rasa gerah membuatnya merasa lebih baik, kau tahu, semacam menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana. Tapi, ia perlu membersihkan diri dulu sebelum mengikuti pelajaran selanjutnya. Jadi, kakinya membawanya ke arah loker untuk mengambil baju ganti.
Bagi seorang cowok yang suka melakukan banyak hal-hal dengan simple tanpa ribet, ia hanya menghabiskan 5 menit untuk mandi. Dan bergegas meletakkan kembali baju olah raganya di loker. Yeah, sepertinya ia punya sekitar 3 menit lagi untuk sampai di kelas dan mengikuti pelajaran.
Ketika kaki panjangnya melewati lorong sepi yang menghubungkannya dengan kelasnya, ia mendapati Yamanaka Ino duduk sendirian di kursi panjang. Cewek itu tengah menutup wajahnya dengan dua tangan dan terisak pelan.
What, apa yang terjadi? Sosok yang selama SMA jadi sok tegar itu kini menangis menyedihkan. Tidakkah itu membuatnya merasa malu? Atau paling tidak merasa konyol di muka umum? Dan bayangan untuk kembali ke kelas mendadak terlupakan, karena satu-satunya hal yang ingin ia lakukan adalah mengolok si pirang Yamanaka. Maka langkah kakinya berubah arah menuju sosok cewek itu, berdiri tepat di hadapannya yang seolah tak sadar akan kehadirannya.
"Woy ce--" ngeng. Kiba sepenuhnya menghentikan kalimatnya ketika cewek itu mendongak, tatapan biru jernihnya menyiratkan kesedihan mendalam entah atas apapun yang menimpanya. Seolah luka disana benar-benar memohon untuk dikasihani.
"Kiba?" Dan tangisnya pecah makin menyedihkan. "Sai memutuskanku."
Yeah, lalu apa urusannya dengan itu? Giliran cowok itu yang mematung kebingungan. Karena detik berikutnya entah kenapa Yamanaka mendadak curhat banyak padanya.
Benci? Untuk pertama kalinya Kiba merasa Ino tidak semenjengkelkan opininya.
"Kib, Karin naksir padamu." Ino menghadangnya di depan pintu menuju lapangan sepak bola. Dan soal informasi itu, siapa sih yang tidak tahu. Kiba sampai jengah dikejar-kejar terus seolah ia adalah artis dadakan yang perlu punya penggemar berat.
"Penting memberi tahuku soal itu?"
"Barangkali kau nggak tahu, lagipula kenapa sih kau seperti benci sekali padanya. Sekali-kali beri perhatian pada Karin, kasihan tahu." Ino mengerjap, mengedarkan pandangan pada teman-teman Kiba yang mulai keluar dari lapangan satu-persatu.
"Kalau kau saja yang ku perhatikan bagaimana?"
What? Ino mendongak terkejut. Sementara tangan Kiba sudah mengalungi pundaknya. Astaga, kalau sampai Karin lihat bisa gawat.
Mata biru yang mengingatkannya akan langit musim semi, hidung mancung mungil yang cantik, bibir kecil yang imut, kulit putih bersih serupa boneka porselen. Harusnya Kiba tahu dari awal jika pesona Ino benar-benar mengagumkan. Tapi kenapa ia baru sadar sekarang, kenapa ia harus sadar ketika mereka berdua tengah duduk berdekatan di perpustakaan kota untuk belajar bersama.
"Astaga, Kiba kau dengar penjelasanku nggak sih?"
Oh, sama sekali tidak.
"Aku ngantuk, oke." Kiba mengalihkan tatapan ke arah buku-buku yang ditata rapi di sepanjang rak. Berusaha mengalihkan pikirannya.
"Hei, aku bertanggung jawab jadi tutormu sampai ujian sekolah selesai. Jadi, kau harus mendengarkan penjelasanku." Ino menajamkan tatapan, berusaha mengintimidasi lawan bicaranya. Namun Kiba pikir itu malah membuat cewek pirang itu makin imut.
"Yeah, aku tahu." Dia memutar bola mata. "Lagipula kau kenapa sih mau saja disuruh ibuku jadi tutorku?"
Ino agak tersentak mendengar pertanyaan itu, ia bahkan tidak tahu atas dasar apa ia menerima permintaan itu? "Uhm, karena aku menghormati harapan ibumu agar kau lulus dengan nilai yang bagus." Alibi, ah, ia tidak tahu harus merespon bagaimana.
Cowok itu mencebikkan bibirnya. "Oh, yeah. Dan tenang saja soal itu, aku nggak akan mengecewakanmu."
"Ku harap begitu." Sembari menggangguk ia tersenyum, senyum reflek yang penuh dengan semangat.
Kau tanya Kiba apa ia masih benci Ino? Entahlah, ia diambang perasaan aneh yang membuatnya seolah ingin terus tersenyum melihat cewek Yamanaka itu.
Barangkali kau tahu terik matahari musim panas benar-benar membuat gerah, dan Kiba tidak habis pikir kenapa Ino malah pakai pakaian semini itu? Roknya beberapa centi diatas lutut, dan atasannya tak sampai menutupi seluruh lengannya.
"Buat apa sih pakai baju sependek itu? Kau mau memamerkan kulit putihmu itu?" Inuzuka mensejajarkan wajahnya dengan Ino, dan yakin bahwa ia sempat melihat rona merah di pipi cewek itu. "Sama sekali nggak keren." Dengan cekatan ia melepas jaketnya, memakaikannya pada tubuh mungil Yamanaka.
"Eh?" Astaga, demi Tuhan tidakkah Kiba sedikit err... memuji, ia sudah dandan cantik-cantik begini dibilang "nggak keren". Tapi mau marah jadi urung gara-gara tindakan sok gentle cowok itu yang bikin jantung gelagapan.
"Lain kali jangan berpakaian seperti ini lagi, aku nggak suka."
"Ish, memang aku peduli kau suka atau tidak suka." Ino memutar bola matanya, bersedekap dan merengut menatap si lawan bicara. "Aku pulang saja kalau begitu, hari ini aku nggak mau pergi ke perpustakaan dan mengajarimu rumus kalkulus."
Kiba mendengus, melangkah lebih lebar untuk menyamakan langkah cepat Ino. "Jangan ngambek dong." Tangannya melepas topi basseballnya dan memakainnya di kepala si pirang. "Sayang, kalau kulit putihmu gosong."
Aish, jangan perhatian berlebihan kenapa sih Kib, bikin aksi ngambek gagal aja. "Lalu kau yang gosong jadi makin gosong."
"Yeah, nggak apa-apa. Aku kan cowok, makin gosong makin eksotis." Dia mengakhiri kalimatnya dengan tawa.
Ino menahan senyum, dan mendadak postur tubuh Kiba yang tinggi dan terbungkus kaos abu-abu dan jeans biru tua membuat paru-parunya seolah berhenti bernapas. "Percaya diri sekali kau."
Untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, kebenciannya pada Ino tak lagi tersisa. Cuma ada 2 kemungkinan jika rasa bencimu pada lawan jenismu tidak lagi parah. Pertama, barangkali kau sudah melupakan dia. Dan yang kedua, kau jatuh cinta padanya. Demi Tuhan, rasanya Kiba ada dibagian yang kedua.
"Hah, otakmu itu konslet ya."
Kiba menyandarkan tubuhnya di sofa, memutar bola matanya sebelum fokus ke langit-langit kamarnya. Oh yeah, otaknya mungkin sudah konslet sekarang. "Terserah lah. Yang jelas aku masuk Todai berkat cewek itu. Well, bukankah itu bagus Man?"
"Tentu saja." Sepertinya Kiba tidak paham ke arah mana pembicaraannya ini. "Tapi serius Bro, kau suka Yamanaka Ino? Yang benar saja lah, itu kan rival abadimu."
Kiba diam, astaga ia bahkan tidak tahu bagaimana takdir membawanya sampai kesini. "Serius aku nggak tahu, tapi kurasa dia benar-benar menarik."
Sembari meraih komik di meja belajar Inuzuka, ia berujar. "Benci dan cinta itu beda tipis ternyata."
Nah tuh tahu.
"Jadi kau akan pindah ke Tokyo setelah ini?" Ada sorot kecewa ketika ia menatap cowok di hadapannya. Yeah, acara malam ini agak menganggunya gara-gara informasi itu.
"Bagitulah, aku diterima di kedokteran Todai." Senyum simpulnya terlihat, dan ia mengalihkan pandangan pada bianglala raksasa yang berputar indah tidak jauh dari mereka. "Semua ini berkat kau. Well, thanks untuk semua bantuannya. Kau tutor terhebat yang pernah kumiliki."
Ino memukul pelan lengan Kiba. "Terlalu puitis, sama sekali bukan style Kiba."
Cowok itu tertawa, meski sisa-sisa ketidak relaan menggantung di ekspresi wajahnya. "Ino." Langkahnya berhenti tepat dibawah lampu jalanan.
"Ya?" Keningnya mengernyit ketika mendongak menatap ekspresi ragu dari si lawan bicara, jadi dia memutuskan untuk berhenti juga.
"Aku mencintaimu." Mungkin bukan waktu yang tepat untuk menyatakan cinta. Ayolah mereka berada di tempat umum, lalu-lalang orang menyeberang jalan, deru mesin kendaraan yang beradu dengan hiruk-pikuk karnaval bercampur aduk, bikin pusing.
Dan Ino sukses melongo dengan pernyataan itu.
20 Tahun
Menjalin hubungan LDR itu susah-susah gampang. Banyak kendala yang harus dihadapi seperti kesibukan yang menyita waktu sampai lupa memberi kabar. Tak jarang juga video call sampai ketiduran karena terlalu lelah mengerjakan tugas. Setidaknya itulah yang dirasakan Kiba maupun Ino. Well jarak Tokyo dan Kyoto lumayan jauh, dan karenanya mereka jarang benar-benar bertemu untuk sekedar saling melepas rindu.
"Bagaimana harimu?" Dari layar ponselnya Ino bisa melihat sedikit kamar kos Kiba yang berantakan total. Buku anatomi dan farmakologi berserakan di meja, sementara laptopnya terbuka terabaikan. Sepertinya cowok itu baru saja menyelesaikan tugasnya.
"Yeah, nggak buruk. Kau tahu praktikum yang kulakukan hari ini?"
Ino menggeleng, merasa ekspresi tak berminat Kiba terlihat makin parah tiap detiknya.
"Menguliti mayat untuk melihat jaringan-jaringan tubuhnya." Katanya santai, sepenuhnya mengabaikan ekspresi jijik lawan bicaranya. "Bagaimana denganmu?"
Berusaha menyingkirkan ekspresi jijiknya, Ino berujar. "Masih sampai pengujian antibiotik pada bakteri. Dan kau tahu, aku gagal 4 kali sewaktu membuat media bakterinya. Konyol bukan?"
Ada tawa yang terlontar dari cowok itu. "Ku tebak kau pasti menangis gara-gara itu." Melihat ekspresi merengut si cewek ia menambahkan. "Harusnya aku ada disana supaya bisa membantumu."
"Yang benar saja deh Kib." Ia memutar bola mata. "Kau kelihatannya kelelahan parah, mata pandamu makin jelas. Kurasa sebaiknya kau tidur."
"Tapi aku masih mau berlama-lama menatap wajahmu." Ada cengiran khas yang membuat Ino seolah ingin menjitaknya.
Well, barangkali cara pacaran mereka tak seromantis gaya pacaran pasangan lain. Karena demi Tuhan, hal yang mereka bahas hanya berkisar mengenai ilmu kedokteran dan obat-obatan. Tapi jauh dilubuk hatinya Kiba tahu jika alasannya berubah dari bocah bengal ke pemuda yang menyukai ilmu-ilmu medis adalah cewek itu. Si pirang yang tak pernah absen mengingatkannya makan dan selalu menjaga kesehatan.
21 Tahun
"Sudah coba minum analgesik?" Ino prihatin melihat Kiba yang sejak tadi menelungkupkan kepala ke meja. Astaga kencan yang harusnya romantis malah jadi berantakan gara-gara Kiba mengeluh sakit kepala.
"Aku nggak suka minum obat." Jawabnya pelan.
"Ya Tuhan Kiba. Yang benar saja." Cewek itu mendengus, jus alpukat di hadapannya mendadak membuatnya mual parah. "Lagipula kenapa sih ngotot datang ke Kyoto kalau sakit begini."
"Aku merindukanmu."
Yamanaka memutar bola matanya. "Kita bisa saling telfon, Baby. Kau tak perlu memaksakan diri begini. Ku adukan kau pada ibumu."
Reflek Kiba mengangkat kepalanya. Well, serius?
"Pokoknya aku nggak mau tahu, sekarang kita ke apotek dan membeli analgesik untuk meredakan nyeri kepalamu." Memang sih tatapannya lumayan tajam, tapi dibalik semua itu ada gurat kasih sayang yang seolah terbentang dalam kubangan biru jernihnya.
Kiba menghela napas panjang. Sikap suka mengadu dan tukang paksa Ino kambuh. Kalau sudah begini ia pasti tidak memiliki celah untuk menolak ataupun menghindar.
24 Tahun
Musim berganti, pohon-pohon maple di halaman rumah terpangkas dan lebat lagi, bangunan-bangunan baru mulai memenuhi lahan yang awalnya kosong, harapan yang tak lagi sama, dan yeah... segalanya berubah, tak lagi seperti ketika ia masih berumur 5 tahun. Tapi ada yang tidak pernah berubah, yaitu kecengengen Ino. Well, rasanya sampai jadi nenek-nenek pun cewek itu masih saja jadi sosok yang cengeng.
"Sudahlah nggak apa-apa, lagipula ada ayah dan ibu kok." Kiba malah bingung harus mengucapkan apa ketika si lawan bicara malah mengucapka maaf berkali-kali karena tidak bisa datang ke acara wisudanya. "Dapat ucapan selamat darimu saja aku sudah bersyukur."
"Kiba aku serius."
Ekspresi memberengutnya malah membuat cowok itu gemas. "Tentu saja aku juga serius, Baby." Dari layar ponsel ia bisa melihat ruang bercat putih yang kelihatannya kosong melompong. "Kau ini dimana sih?" Sembari menunggu jawaban si lawan bicara ia membenarkan tatanan rambutnya. Mengabaikan hiruk pikuk di bealakang yang seolah merayakan hari bahagia itu.
"Di toilet." Ino meletakkan telunjuknya di bibir, seolah memberi isyarat 'jangan keras-keras'. "Astaga Kib, apoteker senior benar-benar galak, jadi aku harus izin sebentar ke toilet untuk menghubungimu." Ada penyesalan mendalam yang seolah mengganjal hatinya.
Oh ya Tuhan, sudah mirip hubungan tak direstui saja. Tapi ketimbang prihatin dengan nasib pacarnya, ia justru tertawa mendengar curhatan cewek itu. "Wahai apoteker senior, juniormu yang nakal ini sedang diam-diam bermain ponsel di toilet."
"Kenapa kau malah meledekku sih."
"Nggak, aku bercanda." Kiba tersenyum. "Semangat, aku tahu kau bisa."
Yeah, tentu saja ia harus selalu bisa. Ino menghela napas panjang. "Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti. Dan sekali lagi, selamat untuk kelulusannya Baby."
"Yeah, I love you."
Sejak kapan ungkapan I Love You menjadi sesuatu yang wajib ia ucapkan pada Ino?
25 Tahun
Osaka dan Tokyo, benar-benar bukan jarak yang dekat. Kiba mendesah berat ketika mengetahui kenyataan bahwa apa yang sejak awal ia harapkan tak berjalan sesuai rencananya.
"Ku bilang apa, nggak usah mencoba daftar di Osaka aku bisa membantumu mencari lowongan apoteker di Tokyo. Kita bisa tinggal di satu flat yang sama, dengan begitu kita bisa lebih berhemat." Cowok itu menghela napas, ekspresi jengkel menggantung di tiap jengkal wajahnya yang mulai menunjukkan sisi dewasa.
"Oh, please deh Kib. Kau seolah meremehkan aku. Aku bisa hidup mandiri, aku juga bisa mencari kerja sendiri. Nggak semua hal yang akan ku lakukan harus menunggu persetujuan darimu kan?" Dan what, apa tadi yang dia katakan? Tinggal dalam satu flat. "Dan perlu kau ingat kita belum menikah, bukan hal bagus untuk tinggal dalam satu flat."
"Ino dengar, bukan waktunya untuk keras kepala. Aku mengkhawatirkanmu--"
"Sejak kapan sih kau jadi seprotektif ini? Sejak kita kuliah kita tinggal berjauhan Kiba, kau di Tokyo dan aku di Kyoto. Tapi semua tetap baik-baik saja kan? Aku bukan lagi sosok cewek mungil yang lemah, aku sudah dewasa, aku bisa hidup mandiri." Sorot matanya tajam, bahkan ia sepenuhnya mendongakkan wajah untuk menantang ekspresi kaku Inuzuka muda.
"Oh, jadi sekarang perhatianku kau anggap beban? Ayolah Yamanaka--"
"Berhenti menyebutku begitu." Ino membentak, dia benci disebut begitu, seolah mereka tidak pernah akrab sebelumnya. "Aku benci kau Kiba." Dia berbalik, sepenuhnya mengabaikan si cowok yang menghela napas panjang dan bingung dengan apa yang akan dia lakukan.
"Hei." Tapi cewek itu tidak mau berbalik, mantel coklat musim gugurnya melambai karena semilir angin. Dan untuk beberapa alasan yang sulit dijelaskan, Kiba tak menghentikan cewek itu. Dia lelah, dia jengah, dia perlu waktu untuk menenangkan diri dari hubungan lama yang mulai membosankan ini.
"Yeah, aku tahu kok. Aku paham bagaimana menjemukannya hubungan yang sudah lama dibangun. Tapi bukan itu masalahnya Bro." Sasori menarik napas panjang. Ia mengibaskan sedikit debu di jas dokternya yang putih bersih. "Kadang-kadang jangan egois hanya karena kau ingin melindunginya, itu bisa disalah artikan sebagai kekangan. Hargai pilihannya, dan jika bisa dukung dia, bantu dia untuk bisa mencapai mimpinya. Lagipula keinginannyakan nggak muluk-muluk, pacarmu itu cuma ingin mandiri. Dan tidak merepotkanmu." Dokter muda yang beberapa bulan terakhir menjadi teman dekatnya itu memberikan tatapan simpati.
"Ku rasa kau benar." Kiba memperhatikan pantulan wajahnya di cermin wastafel. Lingkaran hitam di matanya makin jelas karena kurang tidur, dan ia mulai memikirkan Ino. Astaga sudah berapa hari ia tak menghubungi cewek itu? Masihkan Ino marah padanya?
"Hubungi dia, minta maaflah. Well, sebaik apapun dirimu kau pasti pernah melakukan kesalahan dan itu bukan hal buruk Bung. Aku menyebutnya kewajaran yang perlu dimaklumi." Tangannya menepuk pundak si lawan bicara, dan ia seolah bisa merasakan gelenyar putus asa dalam diri pemuda itu. "Ayolah Man, kau itu dokter muda yang multitalent--maksudku, bisa mengatasi banyak hal tanpa kendala, masa menghadapi pacarmu yang sedang sedang ngambek saja nggak bisa." Tawanya mengalun memenuhi toilet, untungnya hanya ada mereka berdua disana.
"Astaga, kau meremehkanku?"
Panggilan ke seratus, masih ditolak. Kiba merebahkan tubuhnya di ranjang. Rasanya Ino tidak akan mengangkat telfonnya sampai ia menemui cewek itu sendiri. Tapi bagaimana mungkin ia bisa ke Kyoto dan menemui si pirang itu? Jadwalnya padat, dan sebagai dokter muda yang belum lama kerja di rumah sakit tersebut rasanya tidak mungkin minta cuti.
Satu lagi, ia akan mencoba menghubunginya sekali lagi. Mengabaikan jam dinding yang mulai menunjuk pukul 1 malam. Dan panggilan ke 101 diterima.
"Oh hai, Baby. Kau tahu, aku minta maaf." Kiba bisa melihat kamar Ino yang remang-remang, bahkan layarnya hanya menunjukkan atap kamar tanpa menunjukkan paras cewek itu. "Oke, kau mungkin masih marah. Aku benar-benar minta maaf. Serius." Masih belum ada tanda-tanda bahwa Ino bakal bicara. Jadi rasanya percuma minta maaf lewat video call. "Kau benar-benar marah padaku?"
Ketimbang mendapat dampratan ia malah mendengar sayup-sayup suara isakan. Astaga, Ino menangis?
"Kau menyebalkan, kenapa nggak minta maaf dari kemarin-kemarin?"
Entah untuk keberapa kali Kiba menghela napas panjang hari ini, ada selip senyum diantara bibirnya. Ino cuma kecewa, dan sebenarnya cewek itu hanya menunggunya minta maaf. "Sorry Baby, aku benar-benar minta maaf. Aku perlu mengumpulkan banyak keberanian untuk minta maaf padamu karena ku pikir kau bakal menceramahiku panjang kali lebar, kali tinggi."
Cewek itu mendengus, ish ini bukan waktunya bercanda. Ia mulai berani menunjukkan wajahnya, dan tidak peduli betapa mengerikan penampilannya. Sudah beberapa hari ini ia insomnia dan Kiba adalah penyebab dari semua ini.
Ekspresi wajah Ino sama berantakannya dengan ekspresi wajahnya, pastinya begitu. Kantung matanya terlihat jelas, dan lingakaran hitam samar membuat cewek itu terliaht begitu menyedihkan. "Jadi apa aku mendapatkan maaf sekarang?" Tak ada jawaban, cewek di seberang telfon masih saja menangis. "Oke, aku memang cowok payah yang nggak bisa paham apa maumu. Itu karena aku cuma khawatir, karena aku mencintaimu. Aku nggak bermaksud terlalu protektif atau terlalu ikut campur urusanmu. Dan karenanya aku sungguh-sungguh minta maaf."
"Dan kau tahu? Aku diterima di rumah sakit pusat." Katanya pelan, susah payah menghentikan tangisnya hanya untuk mengucapkan kalimat tidak jelas itu.
"Apa?"
"Sebenarnya aku belum benar-benar mengirim lamaran kerja ke Osaka karena aku masih menunggu hasil dari Tokyo. Dan aku diterima disana." Ia menyudahi kalimatnya dengan tangisan yang mulai mereda.
"What? Kau benar-benar membuatku merasa, oh ya Tuhan yang benar saja, kau menyembunyikan ini dariku?" Melihat lawan bicaranya yang memutar bola mata, ia paham jika reaksinya mulai berlebihan. "Oh, selamat untuk itu."
Ino hanya mengangguk pelan. Lalu setelahnya tak ada yang mulai bicara, suasana canggung mengisi celah yang tersisa.
"Ino."
"Kiba."
Hampir bersamaan. Ini nyaris tak pernah terjadi sepanjang tahun-tahun yang selalu mereka lewati. Namun hari ini segalanya terkesan aneh, entahlah jika bisa disebut begitu.
"Kau duluan." Ino yang berinisiatif menghentikan kecanggungan itu.
"Cuma mau bilang, cepat tidur kau besok harus kerja lagi kan? Berkomunikasi dengan pasien kadang bisa sangat melelahkan. Dan matamu tidak bisa menyembunyikan kantukmu." Katanya lembut, berharap lawan bicaranya paham kalau rasa khawatirnya benar-benar tulus.
"Oke." Dengan wajah sembab dan jejak air mata yang sedikit mengering ia mencoba mengukir senyuman.
"Ya sudah, ku matikan panggilannya ya."
"Tunggu sebentar." Ino menarik napas dalam-dalam. "Cuma mau bilang, i love you, i love you, i love you dan i love you."
Dan layar mendadak gelap. Kiba tertawa sendiri dalam kamarnya. Ah, sudah 25 tahun tapi cewek itu tetap saja menggemaskan. "I love you too." Gumamnya pelan.
26 Tahun
Dulu Ino selalu bertanya hal romantis apa yang akan ia dapatkan ketika pujaan hatinya melamarnya. Apakah ia akan mendapatkan cincin yang cantik di geladak kapal yang telah didekorasi sedemian rupa? Atau ia akan dilamar dibawah guyuran hujan ketika sang pacar berhasil memenangkan piala dunia? Atau ia akan dilamar di antara ribuan kunang-kunang di taman bunga yang indah? Atau lagi ia akan di lamar di bandara karena pacarnya seorang pilot, dan mereka disaksikan oleh banyak turis yang akan melakukan penerbangan? Tapi rasanya semua itu tidak akan pernah sama dengan realita yang menimpanya hari ini. Karena entah sejak kapan acara bertemu Kiba malam ini malah jadi sesuatu yang mengharukan.
Dalam suasana kafe yang awalnya biasa saja mendadak riuh akibat aksi lampu yang tiba-tiba mati. Namun, beberapa detik kemudian lampu menyala dengan cahaya berbeda. Kuning redup, bercampur hijau, biru, dan merah muda. Ino sempat tak paham apa yang terjadi, fokusnya hanya pada perbedaan suasana dan redupnya penerangan saat itu. Hingga alunan pelan lagu Beautiful in White milik Shane Filan terputar dan bergema di sepanjang ruangan, ia melihat Kiba yang sejak tadi mengenakan kemeja biru tua berjongkok di hadapannya.
Oh astaga, apa-apaan ini?
"Will you marry me?"
"Kiba?"
"Will you marry me?" Ulangnya dan tangannya mengulurkan kotak berisi cincin berlian putih mengkilap. Sorak sorai pengunjung kafe terdengar, sebagian lagi ternganga dengan aksi mengejutkan pemuda itu.
Ino tidak tahu harus mengatakan apa? Terkejut? Pasti. Dan ketimbang menjawab air matanya justru mengaliri pipinya.
"Will you marry me, Ino?"
"Yeah, ya Kiba." Anggukannya mantap dan bersamaan dengan itu Inuzuka muda mulai memakaikan cincin itu ke jari manis pujaan hatinya.
Seolah tak mampu lagi menahan luapan kebahagiaannya, dia berdiri, memeluk Ino dan mengangkatnya sembari berputar sebentar. "Well, i love you."
"I love you too." Seolah sudah lama sekali ia tak tertawa selepas ini. Ino merasa bebannya seperti terangkat, dan berharap kebahagiaan singkat ini tak cepat berlalu.
Aku Inuzuka Kiba, di umur 26 tahun menikahi wanita yang selalu ku pikir bakal jadi rivalku selamanya. Well, aku tak lagi meragukan kuasa Tuhan sekarang. Karena astaga, bagaimana mungkin kau bisa menghindar dari apapun yang Dia kehendaki. Tapi terlepas dari semuanya, aku merasa menjadi pria paling bahagia di muka bumi.
Terima kasih Tuhan.
end
Well, entah bisa kerasa atau nggak feelnya. Ide awalnya muncul gara-gara nggak sengaja lihat ada obat analgesik di atas meja makan, lalu kepikiran bikin cerita ini. What, nggak ada hubungannya kali. Yeah, kadang ide muncul dari hal-hal yang sepele dan nggak terduga.
Dan Thanks buat yg udah mau mampir.
~Lin
30 Maret 2020
