•Π• N O M I N •Π•
The KING
••nananuguya••
Present
2020
A NOMIN FANFICTION
I TOLD YOU! THIS IS NOMIN and RENLE AREA!!!
DON'T LIKE DON'T READ BITCH!!! SHUT UP YOU FREAKING MOUTH! SO, HONEY GO AWAY~
LEGGO~
Baden-Wurttemberg
Na Jaemin usia dua puluh tahun ini, status saat ini adalah seorang Asia yang menjadi gelandangan di Jerman. Berbekal sebuah pamflet usang yang digunakan untuk alas ubi kukus, Jaemin melangkah menuju alamat yang tertera dibagian bawah-kiri kertas usang tersebut. Alamat sebuah mansion mewah yang membutuhkan seorang pelayan tambahan.
Jaemin menekan uang terakhirnya dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Enggan memberikan pada supir taxi, pria tua didepannya mulai jengah. Dengan sekali hentak uang lusuh itu berpindah tangan, tubuh kurus Jaemin terjerembab ke samping.
Jaemin bangkit berdiri, mulutnya mengeluarkan sumpah serapah saat dilihatnya taxi tersebut menghilang di tikungan.
"Orang tua sialan!"
Tubuh kurus berbalut sweater hitam itu memandang gerbang tinggi didepannya dengan pandangan bingung. Pasalnya gerbang didepannya seperti gambaran film hantu. Terlihat berkarat, tampak tua dan menyeramkan. Jaemin bergidik.
Langkah kecilnya membawanya kedepan sebuah flat besi tertutup lumut. Matanya membaca sekali lagi alamat yang tertera, pemuda itu tak salah alamat. Hanya saja, gambaran awalnya tak sesuai imajinasi pemuda ceroboh itu. Jaemin kira, dia akan berhadapan dengan gerbang tinggi menjulang, terkesan sombong dan mungkin sedikit kesan mahal. Tapi itu hanya ada didalam otak kecilnya yang penuh adegan drama picisan.
Jaemin menarik nafas, lalu ibu jarinya menekan bel usang yang tertutup tumbuhan rambat. Sekali tekan, dua kali tekan hingga tekanan ke tiga barulah terdengar suara seseorang disebrang sana.
"Ada keperluan apa anda kemari?"
Jaemin berdehem sebentar sebelum menjawab. Merapihkan sedikit rambut pirangnya yang berantakan tertiup angin.
"Ehem, aku Na Jaemin--"
"Saya tidak bertanya nama anda, ada keperluan apa anda kemari?"
Jaemin mendengus sebal, dia paling tak suka jika omongannya terpotong. Apalagi, suara dibalik intercom tersebut seperti membentaknya dan sangat arogan. Sialan!
"S-saya ke sini untuk menerima penawaran pamflet yang anda sebarkan. Disini tertulis jelas alamat dan no rumah ini, serta tugas apa yang perlu saya kerjakan," Jaemin menjeda sedikit kalimatnya. Menarik nafas. "Saya menerima tawaran anda."
Ada jeda yang lumayan panjang sebelum suara besi bergeser membuyarkan lamunannya. Saat kakinya melangkah melewati gerbang, tak lama gerbang besar itu kembali tertutup. Menimbulkan suara yang sedikit keras, Jaemin berjengkit kaget.
"Wattahole!" umpatnya sambil mengusap dadanya pelan.
Jaemin kembali melangkah sembari menyeret koper kumalnya, matanya tak henti membulat dan dari bibir pecah-pecah nya terus berseru pelan. Woah, daebak, dan sebangsanya keluar dengan lancar dari belah kering itu. Betapa Jaemin mengagumi pemandangan yang tersembunyi dibalik gerbang jelek didepan sana. Jaemin bisa melihat hamparan luas rumput hijau seperti dilapangan golf, dengan pembatas beberapa pohon lebat dan tinggi yang menjulang disisi kiri-kanan jalan yang saat ini pemuda kurus itu lewati. Matahari seolah-olah tak mampu menembus celah-celah ranting pohon dengan daun hijau lebat tersebut. Susana yang sepi, sedikit remang membuat perjalanan terasa lama.
Matanya memandang lurus kedepan, sudah tak tertarik menatap kanan-kiri. "Aku yang terlalu malas berjalan, atau memang jalan ini sangat panjang…" Jaemin membuang kasar nafasnya, pemuda itu lelah dan juga lapar.
Butuh beberapa menit hingga pemuda Asia itu melihat sebuah bangunan. Satu-satunya, berdiri tegak seolah-olah menegaskan bahwa dirinya yang berkuasa. Namun, dahi Jaemin berkerut heran bangunan didepannya sungguh jauh dari harapan. Mewah dan megah. Yang didapatinya hanya sebuah mansion tua dengan cat memudar dan terkelupas dibeberapa bagian. Jaemin menurunkan bahunya lesu, hilang semuanya. Khayalan dan imajinasi meluap entah kemana.
"Semangat! Meskipun, mungkin bangunan didepan tak sesuai imajinasi ku semoga pekerjaan bisa membuatku nyaman. Hwaiting Na Jaemin!"
Jaemin mengepalkan tangannya dengan wajah yang ia paksa tersenyum penuh semangat.
Na Jaemin~~~
Jaemin berhenti melangkah padahal tinggal beberapa langkah lagi ia sampai didepan pintu utama. Berbarengan dengan angin yang menerpa tubuhnya, seolah bisikan itu berlalu bersama angin Jaemin mengernyitkan dahinya. Suara anginkah?
Jaemin kembali fokus, kakinya menapak di anak tangga kecil dengan teras yang tak terlalu luas. Sungguh tak mencerminkan sebuah mansion yang sering pemuda Na lihat di drama-drama picisan. Angin pelan kembali menyapa tubuhnya saat hendak menekan bel.
Na Jaemin. Mine. My Bride.
Jaemin berbalik, kali ini tidak seperti bisikan melainkan seolah-olah suara itu berasal dari balik punggung nya. Bahkan tubuhnya seolah-olah dipeluk seseorang dari belakang. Bulu kuduknya meremang. Jaemin parno dengan cepat menekan bel hingga berkali-kali, matanya menjelaskan ketakutan. Ia takut hantu, please!!!!
Klek
"WOAHHHHHHHHH!"
Jaemin berteriak, saat pintu terbuka lalu tiba-tiba pandangannya gelap.
Brukkkk
((Tanpa edit-edit kleb))
Mohon maaf jika banyak kekurangan dan typo berserakan
TINGGALKAN JEJAK JUCEYOO~~
SIDERS BISULAN
regards
•nananuguya••
5:20am 11 Januari 2020
