"Gemes juga ya."
"Siapa?"
"Ying."
Pemuda berambut violet yang sedang men-dribble bola teralihkan fokus, membuat pantulan benda bundar tersebut tidak sekuat sebelumnya pada tanah. Karena mendengar percakapan sekilas tadi, membuat orang lain dengan mudah merebut bola basket dari kendalinya.
(0o0)
Blacklist Name Present:
Ponytail
Boboiboy c to Monsta
Now playing: Nobody Compares To You - Gryffin, Katie Pearlman
(0o0)
"Kenapa Fang? Fokus hey."
Yang ditegur kembali pada sadarnya. "Sorry, sorry."
Mengambil posisi siaga untuk melanjutkan latihan lagi, namun selanjutnya Fang malah berubah haluan dengan pergi ke kursi penonton. Ia rasa, ia butuh air.
Latihan rutin seperti ini memang melelahkan, tapi tidak hanya bagi ekstrakulikuler basket saja, karena ekstrakulikuler yang lain seperti atletik pun mengambil jadwal yang sama di hari sabtu. Dan kebetulan, karena kali ini basket mengambil tempat di lapangan outdoor, jadilah bersebelahan dengan mayoritas gadis dari cabang olahraga atletik. Yang salah satunya, ada Ying yang menjadi buah bibir akhir-akhir ini. Padahal baru saja beberapa bulan mereka resmi menjadi siswa kelas sepuluh, para pemuda khususnya di kalangan anak basket dan futsal, sering membicarakan sahabat Fang tersebut.
Terpikirkan lagi, membuatnya memandang ke arah gadis dengan rambut dikuncir asal sehingga membuat gulungan lucu di puncak kepalanya, yang memakai kaos putih pas dan sangat kontras dengan kulitnya. Fang tahu, sahabatnya itu tidak sengaja, ada alasan mengapa Ying tidak memakai atribut karena baju olahraganya masih basah. Setidaknya itu yang Fang tahu saat berangkat bersamanya dan Yaya pagi tadi.
Biasanya juga Ying memakai kacamata sehari-hari, tapi tidak setiap olahraga seperti sekarang. Ia menggantinya menggunakan lensa kotak. Dan dengan Ying yang begitu, membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Cantik kan?"
"Iya."
"Tapi dia deket sama Stanley."
"Wah, anak futsal itu?"
Fang tidak tuli untuk mendengar percakapan dari para kakak kelasnya yang sedang berjalan kemari. Tampaknya latihan sudah usai.
Ekor matanya bermain, mengikuti sampai dua orang yang sedari tadi membicarakan Ying duduk agak jauh di sebelahnya.
"Pacarnya?"
"Gak tau."
Ya bukan lah! Batin Fang berteriak. Lama-lama malah telinganya yang panas setiap kali bahasan orang-orang adalah Ying.
Mengemas barangnya menjadi satu, dengan hati yang gondok, Fang akan pamit terlebih dahulu, tidak peduli dengan penutupan latihan kali ini. Toh pelatihnya juga tidak hadir.
"Udah beres?"
"DONAT LOBAK PELANGI!"
Ying tertawa. Demi kue Yaya yang masih tak karuan rasanya, Fang kaget bukan main. Melihat sosok yang kini dihadapannya, hanya tersenyum lebar yang membuat kedua matanya menyipit seperti tidak berdosa dengan apa yang sudah dilakukannya. Jantung Fang hampir copot.
"Kau-
Geram, namun amarahnya hilang seketika setelah menyadari ada yang berbeda sejak Ying kemari dari sebelum Fang terakhir melihatnya.
Rambut yang tadi digelung tinggi, menjadi tergerai, dengan bando biru yang Fang tahu adalah kesangan Ying, bertengger manis di atas kepalanya.
"Kaget ya? Hahaha!"
Sederhana, tapi...
"Cantik." Ucap semua lelaki yang ada di sana, terkecuali Fang. Ia hanya menyebutkan kata itu dalam hati.
(0o0)
Ying menghela napas. Cukup keras, setelah beberapa menit tadi tak bersuara karena masing-masing dari mereka sibuk dengan ponsel.
"Yaya udah pulang duluan ternyata, ada urusan. Boboiboy lupa kalo ada jadwal eskul."
"Gopal?"
"Jangan ditanya, males."
Fang mengangguk paham. "Oke, oke, ngerti."
"Yu berdua aja pulangnya."
Ying mengambil langkah lebih dulu dari pos satpam, tempat ia menunggu yang lain. Diikuti Fang yang sempat terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja Ying ucapkan.
Berdua... Berdua... Berdua...
"Eh!? Tunggu, Ying!" Sial, memikirkannya malah membuat ia tertinggal.
Menyamakan langkah, Fang lihat Ying kembali berkutat dengan benda kotak di tangannya. Sesekali ia tersenyum, menunjukkan gambar lucu pada Fang, lalu kembali serius.
Menatapnya dari dekat seperti ini, ternyata lebih nyaman ketimbang di sekolah. Tidak bising, bahkan suara kendaraan yang lewat seakan-akan menjadi musik lo-fi yang menenangkan.
Beralih pada rambut hitamnya yang tergerai, Fang menyadari sesuatu. Ternyata rambutnya sudah lebih panjang. Terlepas dari tomboyish vibes yang menjadi kesan ketika seseorang mengenal Ying, semakin bertambah umur, ternyata Ying semakin cantik. Atau ini yang selalu orang bilang the glow up ketika perempuan atau lelaki menginjak masa pubertasnya?
Ying menggeram tiba-tiba, dengan menengadahkan kepalanya ke atas. "Panas!" Teriaknya frustasi.
Menyimpan ponselnya ke dalam saku celana, ia mengubah bandana kainnya menjadi ikatan rambut.
Dengan telaten, dua tangannya mengunci setiap helai rambut pada satu titik, kemudian mengikatnya kuat.
Demi Tuhan, Fang menegak ludah ketika melihat anak rambut belakang Ying.
"Rapih ga?"
Menggoyangkan kepala dengan menoleh ke arah Fang, Ying bertanya.
"Cantik."
"Hah?"
Keceplosan sialan
End
A/N:
First fic dari projek 'highschool vibes' series. Tunggu cerita selanjutnya ya UwU
Bisa dibaca versi wattp*dnya, di: blacklistname
Dan ada lockscreennya juga loh untuk projekku kali ini heuheu. Boleh kepo-in di ig, ada di profile ku.
okay, see ya!
with love, blacklist name
